Tampilkan postingan dengan label Fanfic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fanfic. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

[Fanfic] Accidentally In Love (chapter 11)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Eleven
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG - 13
Starring : all HSB member (Takaki Yuya, Yabu Kota, Yaotome Hikaru, Arioka Daiki, Inoo Kei), Takahashi Nu (OC), Ikuta Din (OC), Yamashita Opi (OC), Yoshitaka Py (OC), Misaki Miyuy (OC), Akanishi Jin as Takaki Jin, and other character… ^^
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Akanishi Jin are belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~ maap lamaaaaaaa~ XP


Accidentally In Love
~Chapter 11~

Siang yang tak begitu panas, namun Opi merasa dirinya cukup berkeringat di cuaca seperti ini. Alasannya karena ia ada di depan rumah Inoo. Ia memang tak sendiri, tapi tetap saja ia merasa gugup. Layaknya seseorang mau bertemu Ibu mertua.

“Arigatou ya Opi-chan, sudah mau menemaniku bertemu orang tuaku..” kata Inoo sambil tersenyum ke arah Opi.

Opi membalas senyum itu dengan canggung, ia tak yakin mentalnya siap untuk menghadapi ini. Tapi bagaimanapun ia sudah berjanji pada Inoo, maka ia tak bisa mengelak sama sekali.

Rumah itu cukup besar, dengan dekorasi klasik Jepang. Ia bisa membayangkan orang tua Inoo memakai kimono ketika di rumah, mungkin juga Inoo seperti itu jika di rumah. Entahlah, ia mulai memikirkan hal – hal aneh ketika ia gugup.
“Ayo…” ajak Inoo menarik sedikit tangan Opi yang sejak tadi ia genggam.

“Hmm.. ayo..”, jawab Opi melangkahkan kaki masuk ke pekarangan rumah itu bersama Inoo di sampingnya.

Inoo menunduk pada beberapa pekerja yang ada di depan rumahnya.

“Tuan muda…” seru seorang wanita yang cukup renta ketika pintu terbuka.

“Mayo-chan!!” kata Inoo seraya memeluk wanita tua itu.

“Kemana saja kau? Berani – beraninya tidak pulang setahun lamanya..” kata wanita itu masih menepuk – nepuk punggung Inoo.

“Ah iya… ini Yamashita Opi…” kata Inoo setelah melepaskan pelukan itu.

“Yamashita Opi desu… yoroshiku onegaishimasu..”

Wanita itu tersenyum, “Panggil saja Mayo…. Aku pengasuh Kei-chan sejak ia baru lahir..” jelasnya.

Opi balas tersenyum. Mereka pun masuk dan diminta menunggu di sebuah ruangan. Tak lama, seseorang masuk yang Opi tebak sebagai Ibunya Inoo.

“Akhirnya kau datang Kei-chan..” kata Ibunya lalu duduk di hadapan Inoo dan Opi.

Dugaan Opi benar, wanita yang kini duduk di hadapannya memang memakai kimono, terlihat anggun, hasil didikan sejak muda menjadi nyonya rumah yang sejati. Opi memandang blouse sederhana yang ia pakai, dan sedikit menyesal tak mempersiapkan diri lebih banyak.

“Bukankah memang Okaa-chan yang meminta aku pulang?” tanya Inoo.

“Iya… karena Otou-san ingin bicara denganmu..” kata Ibunya, “Kau??” ia melihat Opi dengan padangan penuh tanda tanya.

“Yamashita Opi desu… yoroshiku onegaishimasu…” Opi menunduk sedikit.

Selang beberapa detik kemudian seorang laki – laki paruh baya yang terlihat gusar dengan kedatangan Inoo pun masuk. Tak perlu ditanya, itu pasti Ayahnya Inoo.

Wajah Inoo menegang, rahangnya terkatup rapat seolah ia akan marah. Opi merasakan tangan Inoo meraih tangannya dibawah meja, meremas tangan Opi dengan kuat seakan meminta kekuatan dari Opi.

“Kau pulang untuk apa?!” seru laki – laki itu.

Inoo tak menjawab.

“Anata~ bicara baik – baik…” tegur Ibunya Inoo lembut.

“Aku ingin ayah menerima keputusanku…” kata Inoo to-the-point.

“Ayah akan menerima pilihanmu untuk jadi arsitek, asal dengan satu syarat…” kata Ayahnya tenang.

“Apa?” Inoo menggenggam tangan Opi lebih erat.

“Kau harus ikut omiai minggu depan… setidaknya kau akan menikah dengan gadis yang ayah inginkan..” mata pria paruh baya itu mendelik ke arah Opi.

“Aku menolak…dan akan selalu menolak…” Inoo berdiri menarik Opi, “Aku pulang dulu Okaa-chan…” katanya terlihat sangat emosi.

“Cih~ melarikan diri lagi? Apa karena gadis itu kau tak mau?” tanya Ayahnya tanpa sedikitpun menoleh menatap anak laki – laki yang dulu selalu jadi kebanggannya itu.

“Iya… Ayah memang tak pernah memikirkan perasaanku kan?” Inoo menarik Opi menjauh dari ruangan itu.

“Ini demi kebaikanmu!!” seru Ayahnya.

Inoo tak ingin mendengar apa – apa lagi dan membawa Opi keluar dari rumah itu dengan tergesa – gesa.



“Inoo-kun…” panggil Opi setelah mereka naik bis, tujuan mereka kali ini tentu saja rumah Opi.

“Sebenarnya apa mau orang tua itu?!” umpatnya kesal.

Opi mencoba menenangkan Inoo yang terlihat emosi.

“Harusnya Inoo-ku jangan emosi dulu… ne?” kata Opi tenang.

Inoo menoleh menatap Opi, “Gak bisa gitu…dia seenaknya bilang bahwa aku harus omiai dengan orang lain? Ffuh~ bercanda nya keterlaluan…” kata Inoo lagi.

“Kenapa memang?” Opi sendiri was – was menantikan jawaban Inoo.

“Umurku baru berapa? Sudah harus omiai??!!” seru Inoo lagi.

“Mungkin sekarang tahap perkenalan dulu saj…”

Omongan Opi terpotong karena tatapan Inoo yang tiba – tiba marah, “Kita pacaran kan? Kenapa kau bilang seperti itu?” tanya Inoo gusar.

“Hah? Kita apa?” Opi mencoba mencerna semua kata – kata Inoo tadi.

Ia memang mendengar kata itu, tapi ia tak yakin Inoo seratus persen sadar saat mengatakannya.

“Maksudku..hubungan kita tak sekedar teman kan? Iya kan?” kini nada bicara Inoo seperti menuntut kejelasan dari Opi.

“Itu…aku…” mata Opi bergerak – gerak bingung.

“Entah apa yang kau rasakan… tapi buatku kau tak pernah hanya jadi sekedar teman…”

Bibirnya kelu, ia tak tahu harus mengucapkan kata apa. Opi menemukan dirinya ingin berkata yang sama, namun hatinya sendiri masih takut mengungkapnya.

=========

Yabu melambaikan tangannya pada Miyuy, “Ya sudah…hati – hati ya Miyuy-chan..” serunya.

“Aku kan cuma mau ke kelas…” cibir Miyuy pada Yabu.

“Hehehe… iya…” suasana hati Yabu akhir – akhir ini membaik dengan membaiknya hubungannya dengan Miyuy.

Mereka baru saja makan siang di dekat taman sekolah, hanya berduaan karena mereka merasa ingin begitu. Akhir – akhir ini mereka memang sering menghabiskan waktu berduaan, seakan mereka ingin hubungan mereka tak renggang lagi.

“Kou-chan!!” panggil seseorang padanya ketika ia baru saja menginjakkan kaki di kelas.

“Kenapa kau?” ternyata itu Taiyou yang memanggilnya.

“Ini…maaf kelamaan minjemnya..” Taiyou menyerahkan sebuah buku.

“Ah… iya… jangan – jangan aku kena denda lagi…” keluh Yabu, karena ia meminjamnya dari perpustakaan.

“Tidak!! Aku sudah mengechecknya… sampai hari ini batas waktunya..” sambar Taiyou.

“Baiklah…aku ke perpus dulu deh..” kata Yabu akhirnya.

Sialnya buku ini dipinjam atas namanya, sehingga ia sendiri yang harus mengembalikannya.

“Yabu-kun…” suara itu, Yabu hapal benar karena baru beberapa hari ini orang itu memanggilnya seperti itu.

“Ayame…” ucapnya lirih.

Yabu di daulat untuk mengembalikkan buku itu ke raknya seorang diri, tak sangka ia malah bertemu dengan Ayame.

“Kenapa waktu itu tak datang?” tanya Ayame dengan raut wajah sedih.

“Eh? Apa maksudmu?” Yabu benar – benar tak ingat apapun.

“Hidoi!! Yabu-kun lupa janji kita…” kini mata Ayame terlihat berkaca – kaca, tampaknya tangisnya akan segera tumpah.

“Eh? Chotto… aku benar – benar…”

Yabu memang lupa, beberapa hari lalu Ayame memang mengirimkan sebuah pesan padanya, memintanya bertemu di perpustakaan pada jam istirahat. Namun ia lupa dan tanpa sengaja menghapus pesan itu.

“Etto… gomen na Ayame… aku lupa…” elak Yabu lalu menyimpan buku yang ia pegang karena kebetulan ia sudah menemukan tempat yang benar.

“Padahal Yabu-kun menjawab dengan kata ok saat itu…” mata Ayame kian berkaca – kaca, membuat Yabu tambah bingung.

“Aduh…maaf…” Yabu sekali lagi meminta maaf pada Ayame.

Ayame tertunduk, “Ya sudahlah… tak apa jika Yabu-kun tak mau berbicara denganku lagi..” kata Ayame lalu berbalik meninggalkan Yabu.

Secara refleks Yabu menahan lengan Ayame, “Memangnya ada apa?” tanya Yabu.

“Apa Yabu-kun sudah tidak punya perasaan apa – apa padaku?” tanya Ayame yang masih saja memunggungi Yabu.

“Hah?” demi Tuhan ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud gadis itu.

“Karena aku masih suka pada Yabu-kun…” kini gadis itu berbalik dan tanpa aba – aba memeluk Yabu, melingkakan tangannya di badan Yabu.

“Eh? Ayame… itu… aku…” ia laki – laki, sebagaimanapun hatinya menolak, tapi dipeluk begini tentu saja membuatnya sedikit kaget.

BRAKK!

Buku – buku berhamburan di lantai. Baik Ayame maupun Yabu menoleh, dan mendapati Py tengah melihat mereka berdua.

“Sumimasen..” Py segera berlari keluar perpustakaan, ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, sementara ia tadi melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.

“Kenapa?” tanya Miyuy ketika Py masuk dan melihatnya dengan tatapan aneh.

Py menggeleng, hatinya dilema antara itu bukan urusannya, tapi juga Miyuy sahabatnya, harusnya ia memberi tahu hal ini.

“Hmm… sudah mengerjakan PR matematika?” tanya Miyuy pada Py.

Kali ini ia mengagguk.

“Kau terlihat tegang sekali… ada apa?” tanya Miyuy lagi.

“Itu…aku…itu…” Py melihat Miyuy menimbang – nimbang apakah bijaksana memberi tahu Miyuy hal yang tadi ia lihat.

Tapi di sisi lain itu kan urusan antara Yabu dan Miyuy? Ia takut malah nanti kesalahan bicara bisa menimbulkan presepsi yang berbeda dari Miyuy sendiri.

“Py? Daijoubu?” tanya Miyuy sambil melihat wajah Py yang terlihat mengerenyit, “Wajahmu aneh sekali… ada masalah?”, tanya Miyuy lagi.

“Tidak ada apa – apa…” jawab Py akhirnya.

========

Praktis sudah seminggu ini Py tidak melihat Hikaru. Ia bahkan tak menangkap bayangan Hikaru jika ia berjalan di depan kelas Hikaru.

Kemana ya dia?

Py sungguh ingin bertanya pada Yabu atau Shoon, tapi ia yang jarang sekali berinteraksi dengan laki – laki itu juga tak berani bertanya pada ketiga teman Hikaru.

Kali ini pun begitu. Ia berada di depan kelas Hikaru, 3C. Niatnya ingin bertanya pada Yabu, perihal Hikaru yang juga tak terlihat di sekolah ini.

“Py!” Yabu menghampirinya, benar – benar menghampirinya.

“Anou… Yabu-san…”

“Yoshitaka-san…maksudku… itu…masalah yang kau lihat di perpus..” Yabu sepertinya mencoba menjelaskan kesalah pahaman yang py lihat di perpustakaan.

Seketika Py diam, menyimak apa yang akan Yabu katakan.

“Itu.. hanya salah paham… aku tak ada apa – apa dengan Ayame…” jelas Yabu.

Py mengangguk, “Aku kesini bukan untuk menanyakan itu..” katanya pelan.

“Yokatta… maksudku… aku dan dia benar – benar tak ada apa – apa..” kata Yabu lagi.

“Un… wakatta… lebih baik Yabu-san katakan itu langsung pada Miyuy-chan saja…” jawab Py.

Yabu tersenyum, ia beruntung Py ternyata tidak ingin ikut campur urusan ini.

“Tadi kau bilang…kau kesini bukan untuk itu? Lalu?” Yabu menatap Py yang terlihat semakin malu – malu.

“Err… itu…” Py mengedarkan pandangannya sekilas, “Aku mencari Hika.. Yaotome-kun maksudku…” kata Py sambil tertunduk malu.

“Eh? Kau belum tahu?” Yabu mengerenyitkan dahinya, sekilas tak percaya bahwa Hikaru sama sekali tak memberi tahu Py masalah ini.

“Tahu apa?” tanya Py heran.

“Hmmm.. lebih baik kau ikut aku sepulang sekolah… bagaimana?”

“Eh?” Py menebak – nebak apa yang terjadi sebenarnya.

===========

Koridor itu tampak lengang, tentu saja karena sekarang sudah masuk jam pelajaran. Tapi Miyuy berjalan menuju ruang guru karena di tugasi mengambil buku tugas yang Jun sensei lupa membawanya.

Ugh!

Miyuy mencibir, di hadapannya seorang Ayame baru saja keluar dari ruang guru. Sejak kejadian Inoo memukul Yabu di taman bermain tempo hari, membuatnya kehilangan respek terhadap sekretaris OSIS itu.

Ayame berjalan ke arahnya, lalu tersenyum formil pada Miyuy, khas anak bangsawan dan populer seperti dirinya.

“Misaki-san” panggil Ayame pelan setelah Miyuy melewatinya, “Iya kan?” tanyanya tanpa berbalik sedikitpun.

Langkah Miyuy terhenti, ia juga enggan berbalik.

“Zannen… tapi Yabu-kun akan tetap jadi milikku..” kata Ayame dengan nada bicara yang sama sekali tidak menyenangkan. Terlalu menyebalkan terdengar di telinga Miyuy.

Miyuy tak bergeming, tapi seolah ia menunggu apa yang Ayame katakan.

“Lihat saja… kencan minggu ini, Yabu-kun akan jadi milikku lagi…”

“Kencan?” gumam Miyuy kaget.

“Gadis malang~ kau tak tahu kalau kau hanya pelarian Yabu-kun saja?” tanyanya masih dengan nada sangat menyebalkan.

Ayame bergerak meninggalkan tempat itu tepat ketika Miyuy berbalik ingin meminta penjelasan.

Miyuy terdiam sesaat. Apa yang dimaksud Ayame dengan kencan bersama Yabu? Ia tak mau percaya, tapi gelagat Yabu yang akhir – akhir ini sedikit aneh membuatnya mau tak mau menjadi khawatir.

==========

Sore ini akhirnya Yabu mengajak Py juga Miyuy ke apartemen Hikaru. Miyuy ikut karena memang Yabu akan pergi dengan Miyuy setelahnya.

Sepanjang perjalanan itu Py berfikir hal yang macam – macam. Kenapa Yabu tak mau memberi tahunya langsung saja? Kenapa harus sampai membawanya ke apartemen Hikaru?

Pikiran Py kacau, jika begini ia ingin menangis rasanya.

Sementara di bangku lain di bis ini, Miyuy dan Yabu juga merasakan atmosfir ketidak nyamanan di antara mereka berdua. Yabu merasa ada yang salah dengan sikap gadisnya itu sejak tadi ia ajak pulang bersama. Tapi ia terlalu takut untuk bertanya ada apa?

“Miyuy-chan..” panggil Yabu pelan.

“Hmmm…”

“Daijoubu?” tanya Yabu.

“Daijoubu…” jawab Miyuy sambil mengarahkan pandangan ke jendela luar.

Mulut Yabu terkunci. Selama beberapa bulan berpacaran dengan Miyuy, setidaknya ia tahu kebiasaan Miyuy jika marah, ia akan diam tanpa memberi penjelasan apapun padanya, dan itu tak bisa di ganggu gugat hingga Miyuy sendiri yang memutuskan mau berbicara dengannya atau tidak.

“Ada sesuatu yang harusnya kau katakan tapi tidak kau katakan?” tanya Miyuy tanpa menoleh melihat Yabu.

Yabu tersentak, apa sebenarnya yang ada di pikiran Miyuy?

“Apa maksudmu?” Yabu bersumpah ia tak suka main tebak – tebakan begini.

Miyuy harusnya tahu, ia laki – laki. Terlebih dia mahluk Tuhan yang diciptakan tidak sensitif. Bagaimana caranya ia bisa membaca pikiran Miyuy? Ia bukan cenayang, ia tak punya kekuatan supranatural untuk membaca apa yang gadis itu pikirkan.

“Benar tidak ada?” tanya Miyuy lagi.

“Aku kira…. Tidak ada…” jawab Yabu takut – takut.

“Souka…” Miyuy mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Yabu benar – benar berniat membohonginya berarti.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di halte yang cukup dekat dengan apartemen Hikaru. Py dapat merasakan kejanggalan diantara Yabu dan Miyuy, namun tentu saja tak mungkin ia menanyakannya pada mereka.

Yabu membuka pintu apartemen itu dengan hati – hati setelah meminta kuncinya pada pemilik apartemen.

Pemandangan itu tak sama dengan apa yang biasa Py lihat disitu. Tak ada lagi buku berserakan, atau baju – baju tak tertata di tempat itu. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan tempat itu sekarang, Kosong, tapi Py menangkap Bass milik Hikaru masih ada disitu.

“Yabu-san… maksudnya apa?” Py tak tahan lagi, ia kini menangis dan terisak pelan.

“Hikaru sudah pulang ke Sendai..” jelasnya.

Py melangkah masuk dan mendekati Bass milik Hikaru. Ia tertarik karena ada sebuah kertas disitu.



Dear Py-chan…

Genki desu ka? Aku harap kau sedang tersenyum ketika membaca surat ini.
Aku tahu kau pasti mencariku, maka aku meninggalkan surat ini disini. Kalaupun surat ini di temukan orang lain, aku sudah menuliskan alamatmu di amplopnya. Mudah – mudahan ia mengirimkannya padamu.
Maaf aku pergi tanpa pesan sama sekali.
Ini mendadak sekali, dan aku juga tak tahu harus berkata apa pada Py-chan. Mungkin aku hanya terlalu pengecut untuk mengatakan selamat tinggal padamu. Karena aku tak rela, itu saja.
Aku harus pulang ke Sendai. Ayahku sakit keras, dan sebagai anak tertua aku harus menggantikan ayahku bekerja di tokonya. Yah, Toko ini akan jadi milikku pada akhirnya.
Maka kutinggalkan bass itu. Sederhana saja, aku tak mungkin menjadi musisi seperti keinginanku. Sejak lahir, takdirku di toko ini, dan akan terus di toko ini. Terima Kasih karena Py tidak pernah menertawakan mimpiku. Karena Py aku terus bisa bermimpi, dan yakin jika aku bisa meraihnya. Namun jawabannya tidak, aku meninggalkan mimpiku di Tokyo, kembali pada takdirku sendiri.
Py-chan…
Aku yakin kau bisa jadi mangaka hebat. Aku percaya itu, jika aku tak bisa meraih mimpiku, aku ingin Py bisa melakukan itu. Aku percaya Py bisa.
Sekali lagi, maaf aku tak berpamitan, mungkin setelah semuanya tenang, aku bisa menghubungi Py.
Baik – baik disana. Aku sudah merindukanmu bahkan ketika menuliskan surat ini saja. Haha.

Hikaru

Dan kini air mata Py yang sedari terus mengalir tak dapat dibendung lagi. Py meraih Bass itu, memeluknya karena tak percaya Hikaru tak berpamitan dengannya.

“Sudah Py…tenang~” kata Miyuy sambil memeluk Py.

===========

Terduduk sendiri. Menyesap secangkir black coffee di sebuah café tepi jalan. Yuya Takaki memfokuskan pandang pada tabloid dalam genggaman, namun tidak pikirannya. Seluruh otaknya berkonsentrasi mengingat kejadian beberapa malam yang lalu.



-Flashback-



“Dinchan, aku ingin mengatakan sesuatu…”

“Jinjin…”

“Aku akan pergi ke New York, tinggal disana. Baik-baiklah bersama Yuya disini, oke?”

Deg

“Kenapa?” selaput bening sudah bisa dipastikan menghias iris coklat tua si gadis belia.

“Ini memang rencana lama. Aku, sebagai penerus keluarga Takaki, punya tanggung jawab meneruskan perusahaan keluarga. Aku akan kuliah bisnis, lalu mengurusi cabang perusahaan yang ada disana…”

“Ah, bukankah sejak dulu impian Jinjin adalah menjadi…model?”

Jin tak bisa membalas.

“Aku tahu aku tak punya hak melarang. Tapi aku ingin Jinjin tetap disini…” mencengkram lapisan tebal mantel musim dingin, likuid hangat mengaliri pipi.

“Tolong jangan menangis. Kau punya Yuya disini. Berbahagialah kalian, demi kalian sendiri... dan demi aku...“ mengusap bagian atas kepala Din dengan sayang.

“Jinjin...“ isakan pelan keluar dari mulut Din, ia tak percaya harus merelakan Jin benar – benar pergi dari hidupnya.

“Hh... aku memang tak pintar mengucapkan selamat tinggal...” Jin menarik si gadis kedalam pelukan. Menghalau dingin malam dalam dekap penuh proteksi. Berharap isak akan terhenti.

Aroma maskulin Jin begitu lekat dengan penciumannya. Pelukan itu selalu terasa nyaman. Peduli apa dengan status Din yang merupakan pacar dari Yuya.

“Jangan pergi...”

Sejak kecil, sosok Takaki Jin memang seperti kakak baginya. Terlalu nyaman bersama. Selalu dimanja. Cinta pertamanya.

“Hmm, Dinchan. Ada satu rahasia yang aku akan beritahu.“

“Rahasia?“

“Ya. Kau harus janji tak akan memberitahu siapapun,” tanpa si gadis berambut ikal menyadari, kelingkingnya sudah bertaut dengan milik sang pemuda yang lebih tua.

“A...Aku janji...” ucap Din lirih.

“Hanya antara kau, dan aku...  tak ada lagi yang boleh tahu...”

“Oke...”

Din masih menanti. Tapi bukan kata yang menjadi jawab. Melainkan bibir tipis Jin yang menempel lembut dibibirnya. Hangat, begitu kontras dengan udara sekitar yang mungkin sebentar lagi akan ditaburi warna putih salju.

Din memejamkan matanya. Menikmati beberapa detik yang begitu dinanti selama belasan tahun hidupnya. Jenis berbeda dengan yang biasa, yaitu kecupan di kening yang didaratkan penuh sayang oleh kakak laki-laki, melainkan ciuman romantis yang dianugerahkan pada kekasih hati.

“Aku menyukaimu. Sejak lama. Mungkin sejak saat kau masih kecil hingga terlalu polos untuk menyadari apa-apa. Dinchan, kau cinta pertamaku...” ucap Jin pelan, tepat di telinga Din.

“Bohong! Kalau suka aku, kenapa tak bilang sejak dulu?!”

“Karena aku tahu, tempatku adalah sebagai seorang kakak untukmu...”

“Jinjin bukan kakakku! Sejak dulu aku selalu menyukai Jinjin. Berulang kali patah hati ketika Jinjin kencan dengan perempuan yang mungkin setiap minggu berganti... hingga jadi terbiasa sendiri..” air mata Din terus mengalir, ia begitu menyesal, tapi ia juga tak tahu harus berbuat apa.

“Tak ada yang seperti dirimu...” kalimat sederhana yang begitu menentramkan jiwa.

“Hh... aku yakin, Naomi-neechan berbeda…” ujar Din.

Menjawab dengan senyuman sederhana namun penuh makna.

“Jinjin...”

“Aku akan berbahagia untuk kalian, kedua adikku,” Ia tersenyum mengisyaratkan janji yang pasti ditepati, sebelum kembali mendekap hangat untuk yang terakhir kali.

Tak lagi membalas, Din hanya membiarkan diri tenggelam dalam pelukan si Takaki yang lebih tua. Setengah mati meyakini hati akan belajar merelakan dirinya yang menjadi sosok ditinggal pergi dengan perasaan yang baru diketahui bukan tak berbalas.

Jin telah menjadi sahabatnya.

Kakaknya.

Pelindungnya.

Cintanya.

Sejak dulu, saat ini dan seterusnya.

Obsesinya –ya, kata obsesi dengan presisi mengganti definisi cinta.

Kini sang obsesi harus pergi. Membawa semua perasaan yang direlakan namun tersampaikan dengan pasti.

Segalanya.

Yang membuatnya merasakan indah jatuh cinta sekaligus sakit karna tak bisa memiliki.

Terlalu ingin menikmati hingga baru sadar sebuah kata membuyar lamunan, “Dinchan?”

“A, ah. Hai.”

“Salju mulai turun. Ayo pulang…” ajak Jin sambil menarik lengan Din.

Din enggan, “Biarkan saja begini. Ini kan terakhir kali aku bisa egois sama Jinjin…”

“Ahaha, baiklah…” tawa Jin kali ini terasa menyakitkan.

Mereka tak menyadari ada eksistensi lain yang tak kalah tersakiti.

Yuya hanya menatap dan kemudian memutuskan pergi. Semua yang dikatakan Jin ketika mabuk tempo hari memang terbukti. Tapi ia terlalu malas mengurusi, terlalu terbiasa sakit hati.



-Flashback End-



Meninggalkan beberapa kepingan sebelum beranjak diatas meja. Membiarkan leher dirangkul lebih erat oleh lembar sewarna karamel. Udara telah menjadi semakin dingin hingga ia melihat kepulan embun dari mulutnya saat menghembuskan napas berat, mengirim sinyal putus asa ke langit kelabu yang tak pernah mau tahu.

Ia tak tahu apa yang terbaik untuknya atau untuk Din. Selama hidupnya, hanya satu gadis yang ia cintai, dan ia yakin dan punya percaya diri bisa mencintainya sampai akhir hayatnya.

Tapi rasanya lain jika ternyata gadis itu masih mencintai kakaknya. Segalanya terlalu rumit, Jin yang selama ini ia fikir adalah kakak laki-laki egois, ternyata sangat memikirkan dirinya.

Mereka saling mencintai.

Keduanya orang yang penting bagi dirinya.

Yuya meneruskan langkahnya gamang, fikirannya melantur kemana – mana.

========

Menginap. Untuk sebagian orang hanyalah suatu hal biasa, tapi untuk seorang Daiki Arioka, itu adalah kemajuan pesat, terlebih bila tempatnya adalah di flat kecil milik gadis corettsunderecoret yang belakangan ini didekatinya. Lebih spesifik, kamar tidurnya. Lebih sfesifik lagi, tempat tidur empuk berbalut kain putih yang sering dijadikan alasan oleh Daiki untuk menghabiskan malam.

“Nuchan…” panggil Daiki

“Hmm?” Nu menjawab tanpa sedikitpun menoleh pada sang pemuda.

“Terimakasih sudah membantuku kerjakan PR sains…” ucap Daiki manis.

“Tak masalah…”

Kadang hanya untuk memulai sebuah konversasi jadi suatu hal yang sangat sulit. Nu selalu menjawab Daiki seadanya, tak menggubris bagaimana pun Daiki berusaha mendekati Nu.

Daiki menghela napas. Menerawang. Memikirkan berbagai macam hal. Kemajuan hubungan mereka memang diluar ekspektasi.

Semenjak Nu memberinya kunci duplikat, mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Bangun tidur, ke sekolah, malam, hingga pagi lagi. Tetap, Daiki merasakan suatu hal yang berbeda.

“Dai, lepas bajumu sekarang!”  gerakan menggigit roti Daiki tiba-tiba terhenti.

“Hah?” pikirannya masih coba mencerna

“Cepat. Kalau tidak, kita bisa terlambat ke sekolah!” kali ini dengan tatapan tegas.

“U, un...” melepas jas sekolah dengan ragu, “Sudah?”

“Ng, maksudku kemejamu. Cepatlah...” seru Nu lagi, mulai tak sabaran.

“Disini? Apa Nuchan ingin...” semburat merah muncul di pipi Daiki.

“Ayolah…” kalimat diserobot gerakan tak sabaran si gadis, kini sweater pastel milik si pemuda sudah tak lagi di tempat semula.

“A, ano…” untuk beberapa alasan, wajah Daiki berubah memerah, menerka apa yang akan terjadi. Kenapa disini –diruang makan sempit ini? Kenapa waktunya tak tepat begini –saat bel tanda masuk sekolah tak bisa menunggu lebih dari 15 menit untuk berbunyi?

Tanpa kata. Nu mulai menarik kerah baju Daiki, melepas dasi yang beberapa lalu susah payah dirapikan.

“Sekarang apa lagi?” ucap Daiki hanya dalam hati, ketika jemari gadis itu mulai membredel kancing demi kancing kemejanya dengan tergesa.

Katanya –seorang tsundere lebih banyak bicara dengan tindakan daripada kata. Kata-kata itu melintas di pikiran Daiki tanpa perlu memikirkan suatu sumber kredibel. Apa lagi berikutnya? Apa ia akan didorong ke meja makan dan ditindih hingga ada adegan berlabel minimal R-18?

Daiki memejamkan mata. Menanti kelanjutan cerita, ketika tak ada lagi yang menutup tubuh bagian atasnya.

“Tunggu sebentar,” dua kata, dan si gadis menghilang dibalik pintu.

Si pemuda manis membatu, mengabaikan tubuhnya yang diterpa angin dingin penghujung tahun.

“Selesai. Noda dibajumu sudah hilang. Sekarang pakailah kembali,” ucap Nu santai, kembali menyampirkan kemeja itu di tubuh Daiki.

“Hah? Jadi, tadi itu...” otaknya semakin mengerti apa yang sejak tadi terjadi.

"Ya. Ada noda di kemejamu, aku sudah bersihkan,” jawaban dari Nu sungguh polos.

“Tapi, ng...” Daiki hanya merutuki diri –dan pikiran nakalnya “...aku pikir Nuchan, ng...”

“Sarapannya sudah habis, kan? Sekarang ayo berangkat. Kita harus cepat,” dan Nu pun menarik lengan Daiki.

“Ah, Nuchan jadi seperti ma...”

“Cepat!” lagi-lagi perkataan Daiki dipotong oleh Nu.




Seperti malam ini juga, keadaan tak jauh berbeda dari biasanya.

“Hh...” menghela napas untuk kesekian kali “...Nuchan...?”

“Apa lagi? Tak bisa tidur, hmm?“

“Apa Nuchan suka aku?“

“Yah, tak benci, sih...“

Membuatkan bentou. Mengerjakan tugas sekolah bersama. Menemani ber-pillow talk atau menghitung domba. Semuanya. Daiki merasa Nu memberikan perhatian dengan cara yang berbeda. Ia merasa dimanjakan. Dan memanjakan lain dengan mencintai.

“Aku suka yang lebih tua, yang dewasa…” kata-kata itu begitu menusuk bila diingat kembali, menyadari diri sendiri tidak termasuk dalam kriteria. Daiki memang tidak lebih tua, tidak juga lebih dewasa, suka merengek, suka bermanja.

“Dia itu…hm, aku tak bisa tidak menyukainya,” cerita tentang seorang bernama Kyo Niimura memang selalu membuat Daiki penasaran sekaligus cemburu.

Ia menginginkan itu, tatapan merindu dari seorang Takahashi Nu ketika bercerita tentang sang mantan yang beberapa waktu lalu menyebabkannya tersedu. Bukan yang biasa dialamatkan padanya, tatapan penuh perhatian pada adik atau anak lelaki. Ia juga lelaki, perasaannya benar tulus, perlu apalagi?

“Kenapa…Nuchan selalu memperlakukan aku seperti…” menelan ludah “…anak kecil?”

“Ah, sou ka? Kenapa berpikir seperti itu?” tanya Nu bingung.

“Nuchan selalu membantuku melakukan semuanya, tapi tak pernah bilang menyukaiku...” kata – kata yang selama ini selalu ingin ia katakan pada Nu.

“Dai, mungkin terlalu lama belajar membuatmu sedikit stress. Tunggu sebentar, aku akan buatkan segelas susu hangat, supaya kau bisa tidur lebih nyenyak...“ alih-alih menjawab, si gadis berkaus biru itu justru beranjak dari tempat berbaringnya, berjalan menuju pintu kamar.

“Jangan kabur...” tangan si pemuda lebih dahulu mencapai kenop pintu, menghasilkan bunyi ‘ceklek’ sebagai pemasti bahwa pintu telah terkunci.

“Dai, ada apa?”

“Berhenti berlagak seolah kau adalah ibuku...” demi apapun, Nu tak pernah merasa sebegitu terintimidasi, mendengar suara tegas Daiki yang jauh dari biasa. Dibisikkan tepat di telinga. Punggung bertemu dada bidang si pemuda. Dengan kata lain, Daiki memepetnya.

“Apa maksudnya...?” Nu mulai takut, ia tahu dan sadar betul Daiki bukan sekedar pemuda belasan tahun yang tak mengerti apapun. Ia sudah dewasa, seperti juga dirinya.

“Selama ini kau selalu menganggapku seperti anak kecil, seperti adik manja yang perlu di-babysit!” Daiki memutar paksa tubuh gadis didepannya

“Ah, tapi...” coklat madu bertemu hitam jelaga, tatapan mata Daiki tak bisa lebih mengintimidasi.

“Itu benar, kan? Kau tidak bisa melihatku seperti melihat Kyo-san, melihat seorang lelaki, bukan seorang adik kecil! Benar, kan?!” bentakan itu keluar dari mulut Daiki, begitu tegas.

“Ya, itu benar,” jawab Nu.

Jika tatapan bisa membunuh, harusnya Nu sudah mati sejak tadi. Kata ‘seram’ pun tak cukup mendefinisi.

Katakan selamat tinggal pada pemuda yang biasanya dipuji dengan ‘kawaii’, sekarang hanya tinggal sisi gelapnya. Menarik paksa tangan gadisnya dan menghempaskan tubuh si gadis ke tempat tidur.

“Dai, berhenti!” suara yang terdengar panik.

“Aku akan buktikan...”

Pemuda manis juga lelaki. Bisa mendominasi. Membatas semua anggota gerak gadis yang tengah berada dalam disposisi –dibawahnya.

“Lepas...!“ berontak Nu.

Juga ciuman paksa sebagai pemblokir kata-kata.

Terbelalak. Demi apa Daiki benar melepas t-shirt longgar yang semula dikenakannya. Apa yang dimaksud dengan membuktikan itu?? ...ah, situasi jadi berbahaya.

“Aku bukan anak kecil, aku juga lelaki...” ucap sesaat sebelum kembali mengambil alih bibir gadis yang tengah menyesali ketidakberdayaannya sendiri, mengerang pelan saat bagian disekitar lehernya dieksplorasi, dengan paksa yang pasti –bibir, lidah, gigi.

Tak bisa lagi berkata, hanya menitikan air mata ketika katun biru prusia tak lagi membalut tubuhnya.

 =========

TBC lagi yaaaa~ saia harap chapter selanjutnya gak lebih dari beberapa minggu.. hehehe.. ^^

Sabtu, 20 Agustus 2011

[DRABBLE] 21 Words

Title : 21 Words –DRABBLE-

Author : Nu Niimura

Pairing : Daiki Arioka (Hey! Say! JUMP)xOC

Genre/Rating : FAIL Romance-Comedy/PG-13

Warning : Unbeta-ed, karakter dibuat OOC demi kelangsungan cerita, semi-PWP, gaje-ness, abal-ness, etc.

Disclaimer : I don’t own Daiki. OC Saifu Suzuki belongs to Saya Fukuzawa.

Summary : Saifu Suzuki datang dari Kyoto untuk sekolah di Tokyo. Tinggal di flat milik sang kakak membuatnya bertemu Daiki, pemuda manis yang hobi numpang main, numpang makan, numpang tidur dan numpang yang lainnya.

B/A : Dedicated to Saya Fukuzawa. My first drabble. Hahaha, ternyata bikin drabble susah juga, tapi lebih susah bikin rabucon. Fail sangat. Fuu, maapkan saya karna fic nya jadi abal begini ya, mon cher XD #sogokpakepockytsubusubu

Song (lagu)

“La la la la la…la la la la la…,” Daiki bersenandung

We Can Make It!” tebak Saifu penuh kemenangan “Yatta!”

“Huh, aku beri tebakan yang terlalu mudah…Oke, sekarang giliranku,” berfikir sejenak “La la…la la la…”

Giliran Saifu yang berpikir “Ng…Would You Marry Me?”

I do,” bersama senyum 1000 watt

RPG –Role-Playing Game (Permainan Peran)

“Tapi Dai-niichan, aku kurang pintar main game…” ujar si gadis yang lebih muda

“Ah, tinggal ikut intruksi. Nah, sekarang buat avatar-mu”

“Hai, kalau ini aku lumayan mengerti...“ berpikir lama “Tapi aku bingung akan pakai username apa...“ Saifu bergumam lirih

Mengintip ke sebelah. Eh? Demi apa Daiki membuat avatar yang begitu moe. Gadis imut berrambut hitam dengan aksesoris pita merah muda di kepala. Dan, apa-apaan username itu, kawaiiprincess?! Apa mahasiswa di Tokyo memang punya selera yang sebegini unik?

“Sudah?” tanya Daiki

“A, ano…belum…ng”

“Sini, tukar joystick-nya…” kedua input device telah berpindah posisi tanpa disetujui

Social Network (Jejaring Sosial)

“Fu-chan, punya account Facebook?” Daiki menoleh sesaat, kemudian meneruskan ketikan di keyboard macbook barunya

“Ng, ada…” jawab Saifu dengan nada malu-malu yang kentara

Yosh, aku akan kirim friend request. Nanti accept request-ku, okay?”

Okay…” sedikit ragu

“Saifu Suzuki. Resultnya banyak sekali. Fu-chan punya banyak account, ya?”

“Bukan. Itu bukan aku…!” wajah mulai bersemu “Sebenarnya…aku sudah menduga kalau yang pakai username Saifu Suzuki itu banyak, jadi aku pakai nama lain yang lebih mudah dicari…”

Wakatta! Jadi, apa username-nya?” tanya Daiki antusias

“.fuuuchann..ChaiiankPenguinCellaluuwh:.,” wajah sewarna apel Fuji itu memang pantas disembunyikan –dan melarikan diri adalah cara yang paling efektif

“Fu..E? Matte. Kenapa pergi?”

Sekitar dua puluh menit kemudian.

“A, ah. Kenapa…” giliran si pemuda manis yang wajahnya diwarna gradasi serupa likopen “…kenapa…aku begitu…lambat?” rutuknya pada diri sendiri

Dialec (Logat)

“Hmm, apa Fu-chan tahu, aku ini hero, lho? Aku yang selalu membela Icchi waktu pertama kali datang ke Tokyo?“ ucap Daiki penuh bangga

“E? Memangnya dulu neechan sering di-bully?“ Saifu membelalakkan mata

“Bukan, bukan. Hanya kadang ditertawakan karena Kansai-ben’nya yang kental…”

Sou…” tak bisa berkomentar lebih lanjut, mengingat keadaan diri yang tak jauh berbeda

“Ternyata Fu-chan malah lebih parah. Ha ha ha...“ tawa puas seraya mengacak rambut si gadis yang lebih muda

Objek penderita jelas tak terima “Dasar orang Kantou tak berperasaan! Lihat saja nanti, kalau kalian studi tur ke Kyoto, aku akan ijime cara bicara kalian!”

Saa, coba katakan ‘Atashi wa kinou oishii na yudofu wo tabeta’...”

Atashi wa kinou oishii na yudofu wo tabeta

Daiki tak bisa menahan tawa gelinya. Ditambah menyaksikan ekspresi wajah Saifu yang sangat menghibur –tak ada yang lebih menyenangkan lagi.

“Dai-niichan, cukup!”

“Sekarang katakan ‘Daisuki’...”

Daisuki!

“Tak terdengar berbeda. Yang terpenting, aku senang mendengarnya...”

Towel (handuk)

“Ne, terimakasih. Aku sudah selesai pakai kamar mandinya...” ucap Daiki lega. Handuk putih bertengger setia, menggosok helaian coklat dikepala. Sementara yang satu terposisikan dengan strategis melingkar pinggannya.

Ano...Dai-niichan, kenapa...” ucapan terbata dipadu raut merona –tipikal drama dengan target penonton remaja

Tapi. Lupakan yang tadi –yang soal strategis. Buktinya, sang lembaran katun lebih senang terjun bebas ke lantai daripada melindungi tubuh bagian bawah si pemuda

“Kyaaaaaa…!” Saifu menjerit kontan menutup mukanya dengan kedua telapak tangan

“Maaf, maaf…Sekarang sudah beres,” ucap Daiki setelah menutup apa yang seharusnya ditutupi

“Be…nar?” mengintip ragu dari sela jari

“Iya. Hmm, apa tadi Fu-chan lihat?”

“Tidak. Aku tak lihat...!“

“Apa Fu-chan mau lihat?“

Dream (mimpi)

Sewaktu masih tinggal bersama di rumah orang tua, sejak kecil Saifu selalu menyelinap ke tempat tidur kakak perempuannya tiap kali mendapat mimpi buruk –sekedar mencari pelukan hangat penuh proteksi atau mendengar tentang domba yang jumlahnya tak pernah habis dikalkulasi.

Juga kali ini. Walaupun bukan rumah yang sama, tapi sang kakak ada. Setelah sekian tahun, akhirnya Saifu bisa melanjutkan kebiasaan lama. Sekarang, mereka kembali tinggal bersama. Disebuah flat kecil yang disewa sang kakak sejak melanjutkan kuliah di Tokyo.

Nee-chan...“ mendekati daun pintu yang sedikit terbuka

Tanpa kata-kata. Saifu hanya bisa membelalakkan mata. Bukan sang kakak yang dahulu biasa ditemukan terlelap dibalut selimut, bila tidak, pasti sedang membaca weekly Jump dan menyapanya ‚‘Nemurenai no desuka?‘, melainkan seorang yang membagi tempat tidur –dengan si pemuda manis berrambut coklat yang kini tengah memepetnya ke dinding dengan ah, Saifu bahkan tak bisa teruskan

“Ah!“ Saifu terbangun dari tidurnya “...Cuma mimpi. Ng, tapi...“

Apa itu yang melingkar di pinggangnya? Oh, hanya tangan yang berasal dari tubuh si pemuda yang baru saja dimimpikan. Terlelap disampingnya.

“Apa aku masih mimpi...?”

Gift (hadiah)

“Dai, apa-apaan outfit maling macam itu?” tanya Ichika berbisik

“Pssst, aku akan menyelinap ke kamar Fu-chan untuk cari tahu hadiah apa yang ia inginkan dari Santa. Kau sendiri yang bilang kalau Fu-chan sejak kecil menyimpan suratnya di laci kamar...”

“Hh, terserah lah...” balas Suzuki yang lebih tua

Beberapa menit kemudian.

“Aha! Ternyata mudah sekali...” Daiki tersenyum bangga

“Siapa itu?!” suara Saifu benar mengagetkannya –bukannya tadi tertidur pulas? Setidaknya begitu pikir Daiki

“A, aku...hadiah yang dikirim Santa untukmu...“ kalimat spontan tak pernah mengenal konsep

“Hmm, aku pasti mimpi...“ kembali merebah

Eco-friendly (Ramah Lingkungan)

“Aku cuma menebak, sih. Tapi semoga Fu-chan suka topping mapple. Topping strawberrynya pilihanku…”

“Eh?”

Saifu sama sekali tak pernah menyangka, akan menikmati Couple Yogurt –yang biasa dipesan oleh pasangan muda-mudi bersama Daiki.

Ano, Dai-niichan…”

“Ini tindakan ramah lingkungan. Makan satu cup yogurt berdua bisa mengurangi jumlah sampah,” terangnya penuh percaya diri.

Agak aneh, memang. Tapi yang pasti, Saifu menyukai apapun yang ramah lingkungan.

Word (kata)

“Tiga huruf untuk ‘bukan depan‘...“ meletakkan bolpoin di dagu, Saifu nampak berfikir

“U-R-A, belakang. Saat kupejamkan mata, kau selalu ada di belakang pelupuk ini.“

“Dai-niichan...! Aku kan sedang isi teka teki silang, bukan membuat kalimat...“

Salahkah bila ada yang mengira dia sedang merayu?

Doll (boneka)

Daiki sudah menghabiskan 225 yen untuk 3 kesempatan mengambil boneka di Doll Catching Machine yang gagal.

Daiki bilang, akan ambil untuk Saifu.

Saifu bilang, Daiki sebaiknya berhenti.

Setelah beberapa hari.

Saifu bilang, ada boneka baru di tempat tidurnya. Mirip dengan yang pernah dilihatnya, di permainan Doll Catching.

Ichika bilang, Daiki yang menitipkannya. Dan ia bilang, harganya 3600 yen.

Way (cara)

“Akan makan apa kita sekarang?” tanya Daiki

“Mmm...” berpikir lama “Dai-niichan saja yang putuskan...”

“Pilih angka dari satu 1 sampai 26!”

“21...!“

“-O, P, Q, R, S, T, U!“

Si gadis hanya menatap bingung, bahkan saat tangannya digandeng.

“Warung Udon, kami datang!“

Tersenyum- Daiki memang selalu punya cara.

Number (angka)

“Fu-chan...“ colek “…aku tahu apa yang lebih lucu dari 21”

“Apa itu?”

“22”

“Hi hi hi…”

Ichika tak pernah mengerti apa yang mereka tertawakan.

Idol (idola)

“Say! and JUMP. Mereka keren, kan? Sudah begitu populer di usia muda...” si gadis menatap halaman majalah dengan penuh minat

“Huh...” pemuda di hadapannya tak berkomentar

“Banggalah sedikit Dai-niichan. Membernya ada yang punya nama sama persis dengan Dai-niichan. Daiki Arioka”

“Apa Fu-chan suka Daiki Arioka?”

“Tentu. Aku suka Daiki Arioka. Selain imut, kepribadiannya menarik, suara dan performance-nya juga keren...”

“Duh, malunya kalau ditembak langsung begini...”

“E...?“

Flash back (kilas balik)

“Permisi...“ menekan bel di pintu flat berlabel nama ‘Suzuki Ichika‘. Tempat yang mulai hari ini akan jadi tempat tinggal Saifu selama menempuh pendidikan SMA-nya di Tokyo

“Icchi, sudah pulang, ya. Okaeri...“

Tapi yang membukakan bintu bukanlah yang diduga. Bukan kakak berrambut hitam sebahu, melainkan pemuda manis lengkap dengan apron pink-nya yang nampak sangat unyu.

Sumimasen! Mungkin aku salah tempat...“ membungkuk penuh penyesalan

“Kamu...adiknya Icchi, ya? Perkenalkan, Daiki Arioka desu. Aku temannya Icchi...“

Saat menjabat tangannya, membalas senyum manisnya, Saifu yakin bahwa kehidupan remajanya tak akan lagi berjalan sama.

Cellphone (Telepon Seluler)

Kata mitos –kalau menyimpan foto orang foto disukai di ponsel tanpa ketahuan, cintamu padanya akan terwujud.

Untuk beberapa alasan, Saifu coretdiam-diamcoret menyimpan foto Daiki di ponselnya.

“Fu-chan, aku pinjam ponselmu. Bosan, nih...“

A, ano...“ tentu saja sang empunya tak bisa melawan ketika barang elektronik itu pindah posisi

Menit demi menit, sungguh mimik wajah ekspresif itu mengundang sejuta persepsi dan prasangka dihati. Bahasa non-puitisnya, Saifu cemas.

“Terimakasih, ya. Ini aku kembalikan“

Tak ada komentar tentang foto rahasia –cek.

Tak ada bekas history yang dibuka pada browser –cek.

Tak ada perubahan pada wallpaper –cek.

Hal yang berubah hanya satu. Nama kontak Daiki Arioka berubah menjadi Daiki Arioka ♥.

Counting (Hitungan)

Hitsugi ga yonjuusan-biki...“ suara mengalun lembut “Fu, sudah tidur, ya...?“

Neechan!“

“Hah!“ sedikit terkaget

“Bagaimana kalau dombanya dirubah jadi penguin?“

Alih-alih membalas, sang kakak justru menenggelamkan wajah di bantal, bersama suara cekikikan yang terredam.

Eco-friendly II

“Dingiiiin…” mereka tengah berada didalam rumah, tapi si gadis bisa-bisanya menggigil “Ano..Dai-niichan, kenapa penghangat ruangannya dimatikan?”

“Kita harus ramah lingkungan. Kurangi penggunaan listrik sebisanya…”

“Tapi, Dai-niichan…”

“Begini saja. Jadi hangat, kan?”

Tak ada lagi kata, semua keluhan hanya bisa diam dihati, dihalau tembok hangat bernama dekapan –dari seorang Daiki.

Diet (Diet)

Program Diet Saifu Suzuki

Sarapan pagi. Makan dengan menu minim kalori, menolak susu hangat buatan sang kakak dengan alasan diet.

Makan siang. Merelakan nugget dan puding coklat yang biasa jadi favorit dengan alasan diet.

Pulang sekolah. Hanya bisa ngiler sambil berjalan menatap berbagai cake di etalase toko dengan alasan diet.

Santai sore. Daiki mengajak ber-Pocky Game, disambut –walau malu-malu tapi tak perlu alasan.

Flavour (Rasa)

“Mmm, lagi-lagi bawa chupa strawberry dan coklat. Kita kan sama-sama suka rasa strawberry…” Saifu agak cemberut

Ne, daijoubu. Aku jadi terbiasa makan yang rasa coklat…” Daiki membalas dengan tersenyum

Fate (Takdir)

“Dai-niichan mencoba kuliah ke luar negeri?!“

“Un, un. Sebelum aku gagal…”

Sou da na...“

“Ah, itu sih tak masalah...“

“….”

“Kalau aku pergi kesana, mungkin aku tak bisa bersama Fu-chan seperti saat ini…”

“Eh?”

Eco-friendly III

“Ng, sudah sore. Aku mau mandi…” si gadis berrambut ikal berdiri, hendak melangkahkan kaki

“Fu-chan, tunggu!”

Ne, doushite?”

“Menghemat air juga tindakan yang ramah lingkungan, ne.“

“Tapi Dai-niichan, aku butuh mandi...“

“Kita bisa mandi bersama untuk menghemat air...“

Wajah yang berubah warna bisa lebih berarti sebagai jawaban daripada kata-kata. Juga sandal rumah yang terbang dari arah lain, dengan mulus menggetak kepala si pemuda.


-End-


Comments are L.O.V.E :3

Flame diterima dengan lapang hati~

Minggu, 31 Juli 2011

[FANFIC] Pocky Story ~sebuah PWP dengan berbagai rasa~

Title : Pocky Story

Author : Nu Niimura

Type : Oneshoot

Genre : Romance-Fluff

Rating : T (standar ffn)

Pairing : BESTxOC’s

Warning : PWP, lameness, OOC, bahasa aneh, panjang, non-akurasi, typo (semoga gak ada)

Disclaimer : Semua hal –kecuali sebagian cerita- yang disebutkan di fic ini bukan milik saya. Hey! Say! BEST milik Johnny’s Entertainment, Pocky milik Glyco. Kalau Pocky punya saya, rasa yubari melon pasti paling banyak dipasok ke Bandung.

[STRAWBERRY] Fresh and Sweet

“Ah, tunggu!,” jeritnya frustasi. Terlambat, langkah kakinya kalah cepat dari bus yang (tadinya) akan dijadikan tumpangan pulang.

Bertengkar dengan Yuya membuat Din nekat pulang seorang diri, tapi ketinggalan bus justru membuat moodnya semakin buruk.

“Ah, ketinggalan bus, ya?” tak bisakah jadi lebih buruk lagi? Bahkan sekarang sang perusak suasana hati tengah berdiri dibelakangnya

“Yuya, untuk apa mengikutiku, hah?! Belum cukupkah…”

“Sudah, jangan cerewet, aku hanya memastikanmu tidak tersesat,” potong si honey blond sebelum lawan bicara menyelesaikan kalimatnya

Menyandarkan punggung dikursi keras halte. Menunggu jelas bukan sesuatu yang disukai Din. Yah, untuk sekedar killing time, mengecek ameblo untuk melihat PETA-PETA[1] yang baru melalui ponsel bukan hal yang buruk. Abaikan Yuya yang duduk disampinya –anggap saja perpaduan antara tampang sensual dan tubuh proporsional penarik kerling setiap hawa yang melintas itu hanya sebatang pohon tua tanpa makna- sudah dibilang, kan, Din sedang kesal padanya.

Kenapa pula, di halte bus cuma ada mereka?

Satu batang, stik biskuit berlapis strawberry itu terselip diantara kedua bibirnya –manis, Pocky strawberry –favoritnya- yang dibelinya beberapa saat lalu di konbini terdekat. Yuya juga masuk ke konbini tadi, tapi peduli amat apa yang dibelinya.

Dua batang, cekikikan kecil terdengar –mungkinkah sekarang fanfiction tentang idolanya, hasil karya fangirl yang kelewat kreatif.

Tiga batang, tangan kanannya beradu dengan tangan lain, milik sang pemuda yang duduk tenang disebelah. Hey, sejak kapan Yuya juga menikmati strawberry Pocky miliknya? Cobalah abaikan dan kembali pada hal-hal menarik di layar ponsel.

Enam batang, demi apa Yuya terus mengambil batang merah muda itu dan menggigitnya dengan uh—tidak, sama sekali tidak seksi!

Sembilan batang, Din melempar pelototan aku-sedang-bete-padamu ketika tangan mereka kembali beradu. Hanya iris sewarna tanah menatapnya tanpa dosa, tersenyum sekilas dan kembali mengalihkan pandangan pada jalan dimana busnya akan datang. Dasar tak tahu malu!

Batang-batang berikutnya, silih berganti keluar dari kotak berkat tarikan dua orang yang duduk disebelah kanan dan kirinya.

Satu batang terakhir, Din penasaran dengan apa yang akan Yuya lakukan.

“Hm?” ujung sebelah digigitnya, mengarah mendekat ke si gadis berrambut ikal.

“Jangan kurang ajar!” bentakan bisa lebih mewakili dari pada motif lima jari berwarna merah dipipi sang sukebee –itu terlalu tipikal.

“Oke…,” Yuya mematahkan Pocky terakhir, memberikan potongan yang seutuhnya berlapis strawberry pada Din

“Hh…!” dengusan kesal

Tak ada jemari telulur atau cekikikan manis khas serial cantik pemancing ‘moe-moe’ pembaca yang didominasi gadis muda, hanya wajah cemberut yang dialamatkan untuk sang pemuda sebaya.

Tepat sekali, pak sopir. Bus berhenti didepan mereka dan Din segera melangkahkan kakinya kedalam.

‘Daah, Yuya. Terimakasih untuk hari ini, nanti kirim e-mail, ya!,’ jangan mimpi Din akan mengatakan itu.

“Hati-hati, jangan sampai tersesat!” seru Yuya diluar sana

“Bodoh, apa? Mana mungkin aku tersesat,” masih bersungut-sungut ketika duduk di kursi bus

Musik saat perjalanan, tepat sekali. Din membuka tas kecilnya untuk mengambil player, dan-

“Ah!”

Kotak pink apa itu yang ada di tasnya? Apalagi kalau bukan Pocky strawberry. Bukan hanya utuh, tapi lengkap dengan kantung plastik dari konbini.

“Jadi…yang tadi, Yuya…ah…!” harga-diri-orang-ngambeknya hancur tak bersisa.



[CHOCOLATE ORANGE] Funky and Flavorful

Opi membelakakkan mata.

Kenapa tembakan three point-nya harus meleset sedetik sebelum terdengar peluit panjang tanda pertandingan berakhir?

Sorakan penuh euforia terdengar dari kubu lawan.

Apa-apaan ini?

Kalah dengan ketinggalan sebanyak 2 point sama sekali tidak menyenangkan.

Masih membeku.

Daijoubu ne, Senpai…,” sebuah lengan datang untuk merangkul

“Tapi...,“ tertunduk

“Kita sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa...,“ si lawan bicara hanya menuntun kearah bangku pemain

“Opichi...,“ itu suara Din yang menyapa

Tidak. Opi tidak ingin melihatnya. Menghadap ketiga –bukan, keempat temannya dengan wajah-setelah-kalah bukanlah seperi yang direncanakan diawal.

“Opichi main dengan sangat keren tadi...,“ tanpa disadari, dirinya sudah berada dalam pelukan sang sahabat karib

Un!” ditambah senyuman dari ketiga lainnya

Dan satu lagi, tunggu! Inoo-kun?

“I, Inoo-kun juga nonton tadi?”

Hanya dibalas senyuman

“Nocchi...”

Dan, sejak kapan Din menggiring ketiga temannya menjauh sambil mengedip sebelah matanya kearah Inoo diam-diam “Sebentar ya, kami harus bantu Daiki-kun yang terkunci di gudang peralatan...” alasan macam apa itu?

Disini mereka sekarang, duduk ditangga darurat menuju atap sekolah.

“Ng, ano… Inoo-kun, sebenarnya…kita…”

Situasi diwarna kekakuan

“Temani aku sebentar disini...“

Opi beranjak pergi “Sudah sore, maaf, aku harus pulang...“

“Aku tak akan membiarkanmu pulang dengan suasana hati seperti itu,“ tatapan tegas dari wajah yang tetap menawan, versi maskulin dari Yamato Nadeshiko

“Tapi, aku...“

Please stay awhile and have some Pocky[2],“ mengeluarkan kotak oranye dari tas pinggangnya

“Kenapa Pocky?”

Please stay awhile…,” diulang “Kalau hanya untuk mengangis, pundakku ada untukmu…”

Tak ada lagi jarak. Tubuh berbalut jaket team itu sekejap tenggelam dalam pelukan pemuda cantik dihadapannya.

“Aku tahu, pertandingan tadi adalah pertandinganmu yang terakhir di SMA sebelum mempersiapkan diri untuk ujian dan universitas…”

Dari mana Inoo tahu? Tapi Opi tak mau pikirkan.

Tak butuh waktu lama hingga Inoo bisa merasakan cairan hangat merembes melalui kain di pundaknya.

Sekarang, duduk bersebelahan.

“Ng, kenapa Pocky, sih?” menyeka sisa air mata, menggigit sebatang

Orange Pocky…Kau butuh itu, supaya kembali ceria”

“Eh?”

“Menurutku, Nocchi seperti Orange Pocky…,” oh, tidak –kata-kata pengundang sejuta persepsi, dan kenapa juga harus diucap sambil meletakkanya dibibir “…ceria dan enerjik”

“Be, benarkah?” menyembunyikan wajah sewarna tomat

“Tentu…”

“Ah, langitnya indah…” bukan mengada-ngada untuk mengalihkan pembicaraan. Memang indah. Sore hari, bersama dia –si pencuri hati bermata sendu menawan

Saa...,“ Inoo meletakkan sesuatu pada telinga kiri gadis disebelah, pasangannya sudah bertengger di telinga kanannya, earphone

E? Number 3 Opus 30[3]...?“ tebak Opi, mengenali melodi yang melantun di pendengarannya

Inoo hanya tersenyum

“Rach 3,“ ucap keduanya bersamaan

“Hahaha, aku bahkan belum bisa percaya diri untuk memainkannya. Aku iri pada Nocchi yang selalu bersemangat dan berusaha dengan keras“

“Aku yakin Inoo-kun bisa! Malah, saat ini aku ingin dengar Inoo-kun yang mainkan pianonya...” ucap si gadis menerawang, membayangkan pemuda berrambut legam itu duduk dihadapan tuts-tuts piano, bermain dengan piawai bagai Racmaninoff sesaat pinjamkan jemari.

“Tapi, kalau aku yang main, mana bisa begini...” tersenyum malu seraya genggaman tangannya merapat

Eh?! Sejak kapan jemari lentik itu ada disitu? Menyilang simetris dengan milik si gadis.

Karna ada kalanya jemari ini tinggal, untuk menggengam milikmu. Menyampaikan pesan dari hatiku melalui sela jari. Membuatmu merasakan kehangatan venus[4] diujungnya.

Opi bahkan tak menyadarinya. Biarlah, ia bisa menyandarkan kepalanya di bahu Inoo, menikmati nada yang mengalun –sedamai concerto hati mereka berdua.

[CHOCOLATE BANANA] Fun and Lighthearted

“Nuchan, mandinya sudah selesai, kan. Sekarang ayo tidur!” senyuman dari telinga ke telinga terkembang di wajah si pemuda manis.

“Tidurlah duluan, aku masih punya banyak yang harus dikerjakan,“ balas lawan bicaranya dingin sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk.

“Tapi aku ingin sama Nuchan...,“ alis bertaut dan bibir mengerucut beberapa milimeter kedepan, perlu kata “kawaii” dan lusinan derivatnya untuk jadi deskripsi

“Jangan manja!” tanpa menatap, hanya mengeluarkan buku Geometri dari sarangnya. Kerja sambilan membuat Nu menelantarkan tugas-tugas sekolahnya, walaupun terkadang babysitting (-begitu menurutnya) Daiki yang berkontribusi lebih banyak.

“Tapi, Nuchan…,” menarik-narik kaus katun putih. PR Geometri menjerit-jerit minta diisi, si anak manis merengek minta ditemani –atau dininabobokan?

“Jangan ganggu…”

“Ayolah…aku ingin pillow talk, kemarin kan aku ketiduran sebelum Nuchan pulang…”

Serius –secara harfiah, pembicaraan yang melibatkan bantal, diatas single bed yang ditiduri paksa oleh berdua.

“Itu salahmu”

“Kalau begitu, aku akan bantu supaya lebih cepat selesai!” ucap Daiki ceria

“Tak perlu,” memberi Daiki izin untuk ‘membantu’ justru akan menghasilkan idiosinkrasi –tanpa perlu penjelasan lebih terperinci.

“Oke, aku akan tunggu…”

Beberapa menit berlalu. “Jangan sandaran di bahuku, berat!“

“Kalau di...“

“Tidak boleh! Jangan ganggu!“

Merengut

“Ini, makanlah Pocky dan tunggu dengan tenang diujung sana!“ Nu menarik kotak hijau dari tasnya

Greentea? Tapi aku suka tsubu tsubu ichi…,” gagal mengeluarkan isi hati karna diblokir tatapan mengintimidasi “O, oke. Nuchan makan juga, ya?”

“Aku tak suka makanan manis,” stoik

“Jadi, sengaja beli untukku?,” wajah anak Scottish Fold yang baru dapat mainan baru jelas kalah manis. Yang ini jauh lebih imut, lebih menggemaskan, minta dikec—ah, anggap saja penulis tak pernah menyebutkan yang terakhir itu.

“Tidak, aku hanya belanja biasa lalu ada kembalian”

“Begitu…,” Daiki mutlak butuh Kamus Penterjemah Bahasa Tsundere[5]. Lihat, bahkan diseluruh ruangan tak ada kantung belanjaan tapi ia tetap mengamini.

“Hmm, selamat makan…”

Hening. Suasana hanya diisi suara nyaris unaudible dari ujung bolpoin bergesek dengan kertas, biskuit yang digigit patah dan hmm…aroma greentea, mungkin perpaduan disebelah akan lebih adorable jika yang digigitnya adalah rasa strawberry, manis dan ceria –seperti anak itu.

Colek, “Apa Nuchan tak punya rasa Pocky favorit? Bitter misalnya…”

“Rasa monyet!”

“Ahahahaha, lucu sekali!,” tak salah dengar?

“Sudah kubilang, jangan ganggu aku…”

“Tapi cobalah dulu, satuuu saja“

“Tidak“

“Coba!“

“Tidak“

“Cobaaa“

“Tidak!“

“Cobaaaaa“

“Berisik,” si gadis berkulit pucat menggigit sebatang

BRUK! Tubuh si pemuda yang lebih besar memepetnya, hingga punggungnya mengecup dingin tembok kamar. Menggigit sebelah ujung Pocky? Jangan bercanda, itu terlalu klasik. Dalam kasus ini, bahkan si biskuit rasa teh hijau jatuh terlempar ke lantai.





[MILK] Caring and Charming

Biskuit renyah berlapis susu untuk temani waktu di sore hari. Sempurna, Py selalu suka itu. Tapi, ketika hampir setengah yang bersisa, semua tak lagi sama. Ini menyebalkan, Py baru saja menyelesaikan tiga lembar manga. Menatap kosong pada lembar putih yang nyaris polos.

Diam

Hey, Fude-pen[6]-nya menertawakanmu, tuh...

Diam

Screentone[7] yang tergolek tanpa daya mulai mengejek "Tempel saja aku diwajahmu, bisa jamuran kalau tiduran terus begini..."

Masih diam

"Aaaaaahhh!,"

Demi lusinan gradasi pada copic yang dibeli setelah merengek pada Mama, kemana perginya semua inspirasi yang mengalir deras saat dirinya berada diatap sekolah, dimana ia terus asyik dengan dunianya -kertas, pena, imaji, visual.

Ketika jemari lembut sang angin membelai rambut hitamnya dan playlist masih memutar irama yang sama, akan terdengar sapa dari seorang Hika—

Hikaru

Nah, itu dia! Bocah dengan cengiran ceria, manis –meski dengan gigi yang kurang presisi. Sang sumber inspirasi. Kalau boleh mengarang puisi, judulnya pasti “Cerah matahari pukul dua belas siang di senyummu”. Ah, lupakan.

Tapi Hikaru keterlaluan, beraninya pergi tanpa pesan, sok dramatis! Payah!

"Kimi..," bahkan si kotak bergambar sapi mengantar memori pada pemuda itu

'Jaman dahulu, hiduplah 3 batang Pocky kecil. Yang tertua bernama Megi, berikutnya Kimi dan Kairi[8]...,' mengangkat masing-masing sebatang Pocky coklat, susu dan jeruk -Tuan Yaotome, sang ahli cerita memainkan wayang bonekanya

Saat itu Py tertawa, ia tahu cerita itu. Bukan Kimi, tapi Kimmy. Bukan Kairi, tapi Kai Li -dasar Hikaru. Dan, biarlah...justru saat itulah Py ingin mendengar, sebuah cerita versi Hikaru dimana dari satu sisi terasa lebih istimewa—istimewa dihatinya tentu.

Yang Maha Memberi Inspirasi memang ada –Py yakin itu. Tapi salahkah bila mengharapkan si gingsul menemaninya?

Rrrrr… -ponsel bergetar

Moshi-moshi, Py desu…”

“Py-chan, ini aku, Hikaru. Aku menelepon dari rumah…”

Voila!

A, ano…Hikka, rumah…”

“Iya, aku di Sendai sekarang. Maaf ya, karena tak bilang dulu sebelum pergi…”

AnoUn, tak masalah,” jadi siapa yang beberapa waktu lalu mengatainya ‘payah’?

“Hey, sedang apa kau disana?” tanya Hikaru

‘Sedang memikirkanmu…,’ tentu saja hanya di dalam hati

Belum juga dijawab

“Biar aku tebak! Sedang memikirkanku, kan?“ Bingo! “Haha, ayo mengaku! Hikaru Yaotome memang pantas dirindukan!“

“Ng, aku sedang...ngemil Pocky, Milk Pocky...,“ tanpa disertai ‘sambil memikirkanmu‘

“Itu dia! Aku telepon karena aku juga dapat Pocky, lo! Lalu aku jadi ingat Py-chan...“

Terimakasih pada penemu telepon kabel, Hikaru tak bisa melihat ekspresi Py saat itu.

Sou ka? Pocky rasa apa?“

Grape Pocky[9], kucuri dari sepupu-ku. Selama di Sendai, aku belum sempat beli cemilan“

Waai~ aku bahkan belum pernah coba!“ ujar si gadis penuh minat

“Coba lah. Aku justru ingin Milk Pocky...“

“’Coba lah‘? Hahaha, jangan bercanda“

“Aku serius. Aku gigit, nih. Py-chan gigit ujung satunya, okay?“

Dalam imajinasi, Py bisa melihat Hikaru. Grape Pocky diujung bibirnya, tanpa kehilangan senyum jenaka. Hal baiknya, ia menunggu Py untuk menggigit satu ujung lainnya.

“Un...,“ tak lupa, dengan sebatang biskuit stik rasa susu terselip dibibir

Orang bilang, yang seperti itu namanya Pocky Game, dimana dua orang menggigit Pocky dari kedua ujungnya. Mendekat, dan semakin mendekat.

“...n,“ meski pelan, Py bisa mendengar bunyi geletuk gigi dan remuknya si biskuit. Hikaru benar melakukannya.

Memejamkan mata. Senti demi senti coklat berselimut putih dieliminasi, mungkin begitupula pada rekan berbaju ungunya yang berada jauh disana.

Pocky Game –dimana dua orang menggigit Pocky dari kedua ujungnya. Berhadapan. Meminimalisir jarak.

Tapi kenapa justru cairan hangat itu yang melelehi pipi? Bukannya pada teori –drama tv sampai seri animasi- sepuhan merah yang akan mewarnai?

Hai, Tuan Inspirasi. Biarkan aku wujudkan imaji tentangmu dalam bentuk name dan koma[10]. Agar bisa kurasa nuansamu tiap kali membuka lembaran-lembaran ini.

Hening menyesapi ruang, bagai yang bernama tarif telepon interlokal tak pernah ada.

Pocky Game –dimana dua orang menggigit Pocky dari kedua ujungnya. Menemukan kejutan ketika biskuit tak lagi tersisa

Harusnya Py mengecup bibir lembut Hikaru saat ini. Dengan rasa anggur yang masih tertinggal disana.

Doudai?”

“A, ah! Enak…,” terasa seperti anggur, bukan lagi Nagano, tapi Tohoku

Dan lagi-lagi, bersyukur. Hikaru tak bisa melihat wajah Py yang basah oleh air mata.



[GREEN TEA] Natural and Zen

Tentangmu –dan rasa

[Yabu’s POV]

Keterangan:

Times New Roman, untuk cerita normal

Verdana, untuk flashback, dari sudut pandang Yabu Kouta

Georgia, untuk sudut pandang Yabu Kouta –juga

Anata mo

Atashi mo...

Kau, dan aku...[11]

Pertama –

Ne, ini jarang sekali terjadi...kita dapat libur dua hari berturut-turut, bagaimana kalau kita pergi keluar Jumat sorenya, Miyuy-chan?“

“Ah, gomen ne...aku ada janji ke coffee shop dengan teman-teman...,“ jawab suara lembutmu diseberang sana

Daijoubu desu. Have fun,“ kubiarkan lembut tempat tidurku yang memeluk, membayangkan wajah bersalahmu tanpa kehilangan raut manisnya

Oke, kalau itu maumu. Aku akan menghabiskan Jumat malam sendiri, memeluk gitarku. Tak perlu sedih, manisku –aku suka ini, dimana imaji tentangmu menghasilkan berbait picisan, sementara kau disana, memasukkan kubik gula yang entah keberapa kedalam cangkir Caramel Machiatto-mu.

Kedua –

“Hanya ada aku, ehm-dan Taro...“

Tunggu, siapa itu Taro?

Ahahaha, Taro...PC milikku. Aku memang berharap kalau yang kunamai Taro itu seekor kucing, tapi karna Mama alergi binatang berbulu, jadi tak bisa pelihara...

Biarkan aku jadi American Short Hair[12]

Yabu-kun...“ wajah bersemu khas komik cantik

Kudaratkan bibirku perlahan. Kau nunduk.

Kenapa hidung harus bertemu harum chamomile, sedang heli dokter Aizawa selalu mulus mengecup landasannya?

Ketiga –

Sekarang akulah yang ada dihadapanmu, bersama secangkir kopi dan sang pasangan setia –tiramisu

Hah? Apple pie dan es krim?, aku nyaris tak percaya

Sayang, apa kau tak pernah mendengar yang namanya diabetes? –demi gigi gingsulnya Hikaru, sundae yang tengah kau sendok itupun sudah cukup membuatku enek hanya dengan menatapnya

Tapi ini enak, Yabu-kun...aku suka es krim...

Hmm, ijinkan aku mencoba es krim mu.

Sesendok boleh.

Dugaanku, kau pasti akan langsung mengiyakan.

Bukan yang ada digelas, manis –cukup yang menempel dibibirmu itu, tak baik makan belepotan begitu.

Demi image diri, kata-kata itu hanya boleh terucap dalam hati.

Keempat –

Menurutmu, apa yang terbaik dari Jepang?

Ah, cukup sulit...chara-chara anime yang unik itu keren. Orang-orang yang berani tampil aneh dan berbeda, gaya dan fashion yang kadang tak terduga. Tingkat budaya, orang-orang yang belanja secara upscale. Tapi dibalik itu semua, tak ketinggalan hal-hal spiritual seperti meditasi atau semacamnya. Yang paling keren adalah bagaimana semua sosietas itu berjalan bersama dengan baik…”

Bisa diulangi? Apa barusan aku meleng ke tv lalu sekilas melihat acara pemilihan ratu sejagad?

“Bagaimana dengan video game?”

“Itu juga keren…”

Kelima –

“Masih tentang Jepang…menurutku, dari seluruh distrik, Akihabara-lah yang paling awesome!”

“Hahaha, sudah aku kira! Kalau begitu, aku pilih Shibuya…”

“Karena…?”

“Sederhana, banyak anak sekolah jalan-jalan di Shibuya…”

“Hanya itu?”

“Ya, aku suka pergi hang out dengan teman-teman. Dan, apa Yabu-kun pernah dengar, stasiun Shibuya dilihat sekitar 700.000 orang perhari[13]?”

Oh. Baiklah, nona-tau-segala. Mulai besok aku akan menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, jika kau juga ada disana tentunya. Maka buku tak akan lagi jadi perhatianmu yang utama.

Keenam –

Inilah saat yang paling kusuka, waktu istirahat di atap sekolah.

“Kelihatan enak…”

“Silakan dicoba. Pagi tadi aku praktikkan resep bentou dari blog hiro-chio, link-nya selalu jadi yang teratas waktu dicari dengan search engine…,” katamu, bak pengunggah budiman yang tak pernah lupa mencantumkan substansi bernama ‘credit

“Ah, terimakasih. Aku selalu suka bentou buatan Miyuy-chan.”

Hontou…?”

“Kamu dan bentou-mu, dua hal terindah yang pernah lewat dalam hidupku[14]…”

Hening

“Aaah! Stop, stop...aku benci Yabu-kun yang ngegombal. Jadi, Yabu-kun suka aku cuma karena bentou? Jahat.

Tolong jangan protes. Aku sendiri benar tak mengerti kenapa kalimat yang sama sekali tak dikonsep itu meluncur mulus dari mulutku.

“Tentu saja bukan, aku suka Miyuy-chan karena punya hmm...inner peace

Inner peace?”

Akulah sang penikmat kedamaian –yang bahkan tak bisa ditemukan di Ueno dan justru asyik berjalan sembari mengumbar gelak tawa ditengah keramaian Shibuya.

Terakhir –

‘buka jendela kamar!‘ tak akan butuh waktu lama bagi sebuah pesan untuk sampai ke ponselmu

SREKK –benar, kan?

“Yabu-kun, ohayou~ !“

Selamat pagi, sunshine. Untuk sekedar info, pagiku baru saja dimulai, karena kau yang datang kesiangan.

Ohayou. Tangkap ini!“

“A, ah! Aku berhasil!,“ kulihat ekspresi yang girang dari bawah sini, kemudian berubah “...Greentea Pocky?“ jadi penuh tanya

Tepat. Itu buatmu, manis –untuk citra diri yang alami menenangkan[15].

“Untuk cemilan... Seharian di taman bermain, hmm?“ tawarku

“Okay, tunggu aku ganti baju!“

Dimanapun

Kapanpun[16]



-SELESAI-



Keterangan, Sumber, Referensi, Comotan –dan sejenisnya

[1] aktifitas di ameba, mungkin gak perlu point keterangan.

[2] line up dari MYg, Wrt? (-bukan, mas. Saya mah rakyat =w=’)

[3] Piano Concerto No. 3 Op. 30 oleh Sergei Rachmaninoff, biasa disebut “Rach 3”. Teknik memainkannya dikenal menantang. Lagunya enak :3

[4] dari Venus di Ujung Jari by Mohaku (circle VOCALO.id) vocal by Hatsune Miku, lagunya bagus X3

[5] tsun-tsun dere-dere, kayaknya gak perlu penjelasan.

[6] salah satu perangkat pembuatan manga secara manual, semacem bolpen kaligrafi, biasa dipakai untuk menghitamkan bagian tertentu.

[7] dipakai dengan cara ditempel dan dirapikan dengan cutter, untuk membuat efek atau pola tertentu yang ribet kalau digambar pake pen.

[8] “Pocky Story” dari MYg, Wrt? Soal Milk Pocky yang jadi Kimmy, itu karangan saya

[9] varian Pocky yang didistribusi secara regional. Saya gak nemu rasa Pocky khas Tohoku. Grape punya Nagano. Tak apa lah, deket –dipeta gak ada sejengkal.

[10] bagian dari manga.

[11] dari slogan komersial Pocky “Anata mo, atashi mo…Pocky” atau “You and me (want)…Pocky

[12] dari Japan Cat Ranking entah taun berapa di Ani-com. Peringkat kedua setelah Mix breed.

[13] dari factsanddetails.com/Japan

[14] dari Review War by NatureMature via fanfiction.net “Kamu dan reviewmu adalah dua hal terindah yang pernah lewat dalam hidup saya”. Ficnya keren sangat. Nona, Anda dan quote Anda, dua hal termoe yang pernah lewat dalam hidup saya. Ijinkan saya sesaat mencomotnya, disclaimer quote tersebut SEPENUHNYA milik Anda.

[15] dari meme “What Pocky Flavour are You?” di blogthing. Seriusan, poin pertama sampe terakhir Yabu’s POV itu dari kuisioner-kuisioner di meme itu. Wahahaha, harusnya disebutin diawal biar gak bingungin, tapi rasanya mengganggu XD

[16] dari sticker di bungkus Pocky yang didistribusi di Indonesia “Everywhere, Everytime!”. Gak semua varian ditempelin.


B/A, Bacotan Author –istilah keren untuk “Curhat Colongan”

“Jangan sebutkan merek, tidak etis…” (Seorang dosen Farmasetik kepada mahasiswanya sehabis presentasi tentang “Cara Pemakaian Obat”)

Tapi saya gak peduli XD

Sebelom ada yang tanya saya dibayar berapa sama Glyco, saya gak dibayar, samsek.

Ini ide lama yang baru terealisasi setelah ujian teori yang teramat menyita waktu dan atensi. Inget waktu saya kirim sms tentang rasa Pocky favorit ke Anda-anda? Itulah awal ide cerita ini XD

Bagian TakakiDin disadur dari cerita inspirasi “Biskuit” di kuliah Personal Development I. terlalu malas nulis disclaimer karna bingung cari kata kunci.

Berawal dari pikiran-pikiran iseng jadi PWP yang sama absurdnya. So, koreksi bahkan flame akan diterima dengan senang hati.

Berhubung besok udah bulan Ramadhan, saya menepati janji ke Bunda. No Yaoi, No Yuri, No M-rated. Ok, OOT

Berhubung besok udah bulan Ramadhan, saya mau minta maaf atas semua kesalahan, kegajean, kegalauan, kengaretan, kebrilianan, keeroan, kengestagan, dan sebagainya :3

Kamu dan review(dalam konteks ini disebut comment)mu adalah dua hal terindah yang pernah lewat dalam hidup saya.” (NatureMature – Review War)