Tampilkan postingan dengan label Daiki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daiki. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

[Fanfic] Accidentally In Love (chapter 11)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Eleven
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG - 13
Starring : all HSB member (Takaki Yuya, Yabu Kota, Yaotome Hikaru, Arioka Daiki, Inoo Kei), Takahashi Nu (OC), Ikuta Din (OC), Yamashita Opi (OC), Yoshitaka Py (OC), Misaki Miyuy (OC), Akanishi Jin as Takaki Jin, and other character… ^^
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Akanishi Jin are belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~ maap lamaaaaaaa~ XP


Accidentally In Love
~Chapter 11~

Siang yang tak begitu panas, namun Opi merasa dirinya cukup berkeringat di cuaca seperti ini. Alasannya karena ia ada di depan rumah Inoo. Ia memang tak sendiri, tapi tetap saja ia merasa gugup. Layaknya seseorang mau bertemu Ibu mertua.

“Arigatou ya Opi-chan, sudah mau menemaniku bertemu orang tuaku..” kata Inoo sambil tersenyum ke arah Opi.

Opi membalas senyum itu dengan canggung, ia tak yakin mentalnya siap untuk menghadapi ini. Tapi bagaimanapun ia sudah berjanji pada Inoo, maka ia tak bisa mengelak sama sekali.

Rumah itu cukup besar, dengan dekorasi klasik Jepang. Ia bisa membayangkan orang tua Inoo memakai kimono ketika di rumah, mungkin juga Inoo seperti itu jika di rumah. Entahlah, ia mulai memikirkan hal – hal aneh ketika ia gugup.
“Ayo…” ajak Inoo menarik sedikit tangan Opi yang sejak tadi ia genggam.

“Hmm.. ayo..”, jawab Opi melangkahkan kaki masuk ke pekarangan rumah itu bersama Inoo di sampingnya.

Inoo menunduk pada beberapa pekerja yang ada di depan rumahnya.

“Tuan muda…” seru seorang wanita yang cukup renta ketika pintu terbuka.

“Mayo-chan!!” kata Inoo seraya memeluk wanita tua itu.

“Kemana saja kau? Berani – beraninya tidak pulang setahun lamanya..” kata wanita itu masih menepuk – nepuk punggung Inoo.

“Ah iya… ini Yamashita Opi…” kata Inoo setelah melepaskan pelukan itu.

“Yamashita Opi desu… yoroshiku onegaishimasu..”

Wanita itu tersenyum, “Panggil saja Mayo…. Aku pengasuh Kei-chan sejak ia baru lahir..” jelasnya.

Opi balas tersenyum. Mereka pun masuk dan diminta menunggu di sebuah ruangan. Tak lama, seseorang masuk yang Opi tebak sebagai Ibunya Inoo.

“Akhirnya kau datang Kei-chan..” kata Ibunya lalu duduk di hadapan Inoo dan Opi.

Dugaan Opi benar, wanita yang kini duduk di hadapannya memang memakai kimono, terlihat anggun, hasil didikan sejak muda menjadi nyonya rumah yang sejati. Opi memandang blouse sederhana yang ia pakai, dan sedikit menyesal tak mempersiapkan diri lebih banyak.

“Bukankah memang Okaa-chan yang meminta aku pulang?” tanya Inoo.

“Iya… karena Otou-san ingin bicara denganmu..” kata Ibunya, “Kau??” ia melihat Opi dengan padangan penuh tanda tanya.

“Yamashita Opi desu… yoroshiku onegaishimasu…” Opi menunduk sedikit.

Selang beberapa detik kemudian seorang laki – laki paruh baya yang terlihat gusar dengan kedatangan Inoo pun masuk. Tak perlu ditanya, itu pasti Ayahnya Inoo.

Wajah Inoo menegang, rahangnya terkatup rapat seolah ia akan marah. Opi merasakan tangan Inoo meraih tangannya dibawah meja, meremas tangan Opi dengan kuat seakan meminta kekuatan dari Opi.

“Kau pulang untuk apa?!” seru laki – laki itu.

Inoo tak menjawab.

“Anata~ bicara baik – baik…” tegur Ibunya Inoo lembut.

“Aku ingin ayah menerima keputusanku…” kata Inoo to-the-point.

“Ayah akan menerima pilihanmu untuk jadi arsitek, asal dengan satu syarat…” kata Ayahnya tenang.

“Apa?” Inoo menggenggam tangan Opi lebih erat.

“Kau harus ikut omiai minggu depan… setidaknya kau akan menikah dengan gadis yang ayah inginkan..” mata pria paruh baya itu mendelik ke arah Opi.

“Aku menolak…dan akan selalu menolak…” Inoo berdiri menarik Opi, “Aku pulang dulu Okaa-chan…” katanya terlihat sangat emosi.

“Cih~ melarikan diri lagi? Apa karena gadis itu kau tak mau?” tanya Ayahnya tanpa sedikitpun menoleh menatap anak laki – laki yang dulu selalu jadi kebanggannya itu.

“Iya… Ayah memang tak pernah memikirkan perasaanku kan?” Inoo menarik Opi menjauh dari ruangan itu.

“Ini demi kebaikanmu!!” seru Ayahnya.

Inoo tak ingin mendengar apa – apa lagi dan membawa Opi keluar dari rumah itu dengan tergesa – gesa.



“Inoo-kun…” panggil Opi setelah mereka naik bis, tujuan mereka kali ini tentu saja rumah Opi.

“Sebenarnya apa mau orang tua itu?!” umpatnya kesal.

Opi mencoba menenangkan Inoo yang terlihat emosi.

“Harusnya Inoo-ku jangan emosi dulu… ne?” kata Opi tenang.

Inoo menoleh menatap Opi, “Gak bisa gitu…dia seenaknya bilang bahwa aku harus omiai dengan orang lain? Ffuh~ bercanda nya keterlaluan…” kata Inoo lagi.

“Kenapa memang?” Opi sendiri was – was menantikan jawaban Inoo.

“Umurku baru berapa? Sudah harus omiai??!!” seru Inoo lagi.

“Mungkin sekarang tahap perkenalan dulu saj…”

Omongan Opi terpotong karena tatapan Inoo yang tiba – tiba marah, “Kita pacaran kan? Kenapa kau bilang seperti itu?” tanya Inoo gusar.

“Hah? Kita apa?” Opi mencoba mencerna semua kata – kata Inoo tadi.

Ia memang mendengar kata itu, tapi ia tak yakin Inoo seratus persen sadar saat mengatakannya.

“Maksudku..hubungan kita tak sekedar teman kan? Iya kan?” kini nada bicara Inoo seperti menuntut kejelasan dari Opi.

“Itu…aku…” mata Opi bergerak – gerak bingung.

“Entah apa yang kau rasakan… tapi buatku kau tak pernah hanya jadi sekedar teman…”

Bibirnya kelu, ia tak tahu harus mengucapkan kata apa. Opi menemukan dirinya ingin berkata yang sama, namun hatinya sendiri masih takut mengungkapnya.

=========

Yabu melambaikan tangannya pada Miyuy, “Ya sudah…hati – hati ya Miyuy-chan..” serunya.

“Aku kan cuma mau ke kelas…” cibir Miyuy pada Yabu.

“Hehehe… iya…” suasana hati Yabu akhir – akhir ini membaik dengan membaiknya hubungannya dengan Miyuy.

Mereka baru saja makan siang di dekat taman sekolah, hanya berduaan karena mereka merasa ingin begitu. Akhir – akhir ini mereka memang sering menghabiskan waktu berduaan, seakan mereka ingin hubungan mereka tak renggang lagi.

“Kou-chan!!” panggil seseorang padanya ketika ia baru saja menginjakkan kaki di kelas.

“Kenapa kau?” ternyata itu Taiyou yang memanggilnya.

“Ini…maaf kelamaan minjemnya..” Taiyou menyerahkan sebuah buku.

“Ah… iya… jangan – jangan aku kena denda lagi…” keluh Yabu, karena ia meminjamnya dari perpustakaan.

“Tidak!! Aku sudah mengechecknya… sampai hari ini batas waktunya..” sambar Taiyou.

“Baiklah…aku ke perpus dulu deh..” kata Yabu akhirnya.

Sialnya buku ini dipinjam atas namanya, sehingga ia sendiri yang harus mengembalikannya.

“Yabu-kun…” suara itu, Yabu hapal benar karena baru beberapa hari ini orang itu memanggilnya seperti itu.

“Ayame…” ucapnya lirih.

Yabu di daulat untuk mengembalikkan buku itu ke raknya seorang diri, tak sangka ia malah bertemu dengan Ayame.

“Kenapa waktu itu tak datang?” tanya Ayame dengan raut wajah sedih.

“Eh? Apa maksudmu?” Yabu benar – benar tak ingat apapun.

“Hidoi!! Yabu-kun lupa janji kita…” kini mata Ayame terlihat berkaca – kaca, tampaknya tangisnya akan segera tumpah.

“Eh? Chotto… aku benar – benar…”

Yabu memang lupa, beberapa hari lalu Ayame memang mengirimkan sebuah pesan padanya, memintanya bertemu di perpustakaan pada jam istirahat. Namun ia lupa dan tanpa sengaja menghapus pesan itu.

“Etto… gomen na Ayame… aku lupa…” elak Yabu lalu menyimpan buku yang ia pegang karena kebetulan ia sudah menemukan tempat yang benar.

“Padahal Yabu-kun menjawab dengan kata ok saat itu…” mata Ayame kian berkaca – kaca, membuat Yabu tambah bingung.

“Aduh…maaf…” Yabu sekali lagi meminta maaf pada Ayame.

Ayame tertunduk, “Ya sudahlah… tak apa jika Yabu-kun tak mau berbicara denganku lagi..” kata Ayame lalu berbalik meninggalkan Yabu.

Secara refleks Yabu menahan lengan Ayame, “Memangnya ada apa?” tanya Yabu.

“Apa Yabu-kun sudah tidak punya perasaan apa – apa padaku?” tanya Ayame yang masih saja memunggungi Yabu.

“Hah?” demi Tuhan ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud gadis itu.

“Karena aku masih suka pada Yabu-kun…” kini gadis itu berbalik dan tanpa aba – aba memeluk Yabu, melingkakan tangannya di badan Yabu.

“Eh? Ayame… itu… aku…” ia laki – laki, sebagaimanapun hatinya menolak, tapi dipeluk begini tentu saja membuatnya sedikit kaget.

BRAKK!

Buku – buku berhamburan di lantai. Baik Ayame maupun Yabu menoleh, dan mendapati Py tengah melihat mereka berdua.

“Sumimasen..” Py segera berlari keluar perpustakaan, ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, sementara ia tadi melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.

“Kenapa?” tanya Miyuy ketika Py masuk dan melihatnya dengan tatapan aneh.

Py menggeleng, hatinya dilema antara itu bukan urusannya, tapi juga Miyuy sahabatnya, harusnya ia memberi tahu hal ini.

“Hmm… sudah mengerjakan PR matematika?” tanya Miyuy pada Py.

Kali ini ia mengagguk.

“Kau terlihat tegang sekali… ada apa?” tanya Miyuy lagi.

“Itu…aku…itu…” Py melihat Miyuy menimbang – nimbang apakah bijaksana memberi tahu Miyuy hal yang tadi ia lihat.

Tapi di sisi lain itu kan urusan antara Yabu dan Miyuy? Ia takut malah nanti kesalahan bicara bisa menimbulkan presepsi yang berbeda dari Miyuy sendiri.

“Py? Daijoubu?” tanya Miyuy sambil melihat wajah Py yang terlihat mengerenyit, “Wajahmu aneh sekali… ada masalah?”, tanya Miyuy lagi.

“Tidak ada apa – apa…” jawab Py akhirnya.

========

Praktis sudah seminggu ini Py tidak melihat Hikaru. Ia bahkan tak menangkap bayangan Hikaru jika ia berjalan di depan kelas Hikaru.

Kemana ya dia?

Py sungguh ingin bertanya pada Yabu atau Shoon, tapi ia yang jarang sekali berinteraksi dengan laki – laki itu juga tak berani bertanya pada ketiga teman Hikaru.

Kali ini pun begitu. Ia berada di depan kelas Hikaru, 3C. Niatnya ingin bertanya pada Yabu, perihal Hikaru yang juga tak terlihat di sekolah ini.

“Py!” Yabu menghampirinya, benar – benar menghampirinya.

“Anou… Yabu-san…”

“Yoshitaka-san…maksudku… itu…masalah yang kau lihat di perpus..” Yabu sepertinya mencoba menjelaskan kesalah pahaman yang py lihat di perpustakaan.

Seketika Py diam, menyimak apa yang akan Yabu katakan.

“Itu.. hanya salah paham… aku tak ada apa – apa dengan Ayame…” jelas Yabu.

Py mengangguk, “Aku kesini bukan untuk menanyakan itu..” katanya pelan.

“Yokatta… maksudku… aku dan dia benar – benar tak ada apa – apa..” kata Yabu lagi.

“Un… wakatta… lebih baik Yabu-san katakan itu langsung pada Miyuy-chan saja…” jawab Py.

Yabu tersenyum, ia beruntung Py ternyata tidak ingin ikut campur urusan ini.

“Tadi kau bilang…kau kesini bukan untuk itu? Lalu?” Yabu menatap Py yang terlihat semakin malu – malu.

“Err… itu…” Py mengedarkan pandangannya sekilas, “Aku mencari Hika.. Yaotome-kun maksudku…” kata Py sambil tertunduk malu.

“Eh? Kau belum tahu?” Yabu mengerenyitkan dahinya, sekilas tak percaya bahwa Hikaru sama sekali tak memberi tahu Py masalah ini.

“Tahu apa?” tanya Py heran.

“Hmmm.. lebih baik kau ikut aku sepulang sekolah… bagaimana?”

“Eh?” Py menebak – nebak apa yang terjadi sebenarnya.

===========

Koridor itu tampak lengang, tentu saja karena sekarang sudah masuk jam pelajaran. Tapi Miyuy berjalan menuju ruang guru karena di tugasi mengambil buku tugas yang Jun sensei lupa membawanya.

Ugh!

Miyuy mencibir, di hadapannya seorang Ayame baru saja keluar dari ruang guru. Sejak kejadian Inoo memukul Yabu di taman bermain tempo hari, membuatnya kehilangan respek terhadap sekretaris OSIS itu.

Ayame berjalan ke arahnya, lalu tersenyum formil pada Miyuy, khas anak bangsawan dan populer seperti dirinya.

“Misaki-san” panggil Ayame pelan setelah Miyuy melewatinya, “Iya kan?” tanyanya tanpa berbalik sedikitpun.

Langkah Miyuy terhenti, ia juga enggan berbalik.

“Zannen… tapi Yabu-kun akan tetap jadi milikku..” kata Ayame dengan nada bicara yang sama sekali tidak menyenangkan. Terlalu menyebalkan terdengar di telinga Miyuy.

Miyuy tak bergeming, tapi seolah ia menunggu apa yang Ayame katakan.

“Lihat saja… kencan minggu ini, Yabu-kun akan jadi milikku lagi…”

“Kencan?” gumam Miyuy kaget.

“Gadis malang~ kau tak tahu kalau kau hanya pelarian Yabu-kun saja?” tanyanya masih dengan nada sangat menyebalkan.

Ayame bergerak meninggalkan tempat itu tepat ketika Miyuy berbalik ingin meminta penjelasan.

Miyuy terdiam sesaat. Apa yang dimaksud Ayame dengan kencan bersama Yabu? Ia tak mau percaya, tapi gelagat Yabu yang akhir – akhir ini sedikit aneh membuatnya mau tak mau menjadi khawatir.

==========

Sore ini akhirnya Yabu mengajak Py juga Miyuy ke apartemen Hikaru. Miyuy ikut karena memang Yabu akan pergi dengan Miyuy setelahnya.

Sepanjang perjalanan itu Py berfikir hal yang macam – macam. Kenapa Yabu tak mau memberi tahunya langsung saja? Kenapa harus sampai membawanya ke apartemen Hikaru?

Pikiran Py kacau, jika begini ia ingin menangis rasanya.

Sementara di bangku lain di bis ini, Miyuy dan Yabu juga merasakan atmosfir ketidak nyamanan di antara mereka berdua. Yabu merasa ada yang salah dengan sikap gadisnya itu sejak tadi ia ajak pulang bersama. Tapi ia terlalu takut untuk bertanya ada apa?

“Miyuy-chan..” panggil Yabu pelan.

“Hmmm…”

“Daijoubu?” tanya Yabu.

“Daijoubu…” jawab Miyuy sambil mengarahkan pandangan ke jendela luar.

Mulut Yabu terkunci. Selama beberapa bulan berpacaran dengan Miyuy, setidaknya ia tahu kebiasaan Miyuy jika marah, ia akan diam tanpa memberi penjelasan apapun padanya, dan itu tak bisa di ganggu gugat hingga Miyuy sendiri yang memutuskan mau berbicara dengannya atau tidak.

“Ada sesuatu yang harusnya kau katakan tapi tidak kau katakan?” tanya Miyuy tanpa menoleh melihat Yabu.

Yabu tersentak, apa sebenarnya yang ada di pikiran Miyuy?

“Apa maksudmu?” Yabu bersumpah ia tak suka main tebak – tebakan begini.

Miyuy harusnya tahu, ia laki – laki. Terlebih dia mahluk Tuhan yang diciptakan tidak sensitif. Bagaimana caranya ia bisa membaca pikiran Miyuy? Ia bukan cenayang, ia tak punya kekuatan supranatural untuk membaca apa yang gadis itu pikirkan.

“Benar tidak ada?” tanya Miyuy lagi.

“Aku kira…. Tidak ada…” jawab Yabu takut – takut.

“Souka…” Miyuy mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Yabu benar – benar berniat membohonginya berarti.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di halte yang cukup dekat dengan apartemen Hikaru. Py dapat merasakan kejanggalan diantara Yabu dan Miyuy, namun tentu saja tak mungkin ia menanyakannya pada mereka.

Yabu membuka pintu apartemen itu dengan hati – hati setelah meminta kuncinya pada pemilik apartemen.

Pemandangan itu tak sama dengan apa yang biasa Py lihat disitu. Tak ada lagi buku berserakan, atau baju – baju tak tertata di tempat itu. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan tempat itu sekarang, Kosong, tapi Py menangkap Bass milik Hikaru masih ada disitu.

“Yabu-san… maksudnya apa?” Py tak tahan lagi, ia kini menangis dan terisak pelan.

“Hikaru sudah pulang ke Sendai..” jelasnya.

Py melangkah masuk dan mendekati Bass milik Hikaru. Ia tertarik karena ada sebuah kertas disitu.



Dear Py-chan…

Genki desu ka? Aku harap kau sedang tersenyum ketika membaca surat ini.
Aku tahu kau pasti mencariku, maka aku meninggalkan surat ini disini. Kalaupun surat ini di temukan orang lain, aku sudah menuliskan alamatmu di amplopnya. Mudah – mudahan ia mengirimkannya padamu.
Maaf aku pergi tanpa pesan sama sekali.
Ini mendadak sekali, dan aku juga tak tahu harus berkata apa pada Py-chan. Mungkin aku hanya terlalu pengecut untuk mengatakan selamat tinggal padamu. Karena aku tak rela, itu saja.
Aku harus pulang ke Sendai. Ayahku sakit keras, dan sebagai anak tertua aku harus menggantikan ayahku bekerja di tokonya. Yah, Toko ini akan jadi milikku pada akhirnya.
Maka kutinggalkan bass itu. Sederhana saja, aku tak mungkin menjadi musisi seperti keinginanku. Sejak lahir, takdirku di toko ini, dan akan terus di toko ini. Terima Kasih karena Py tidak pernah menertawakan mimpiku. Karena Py aku terus bisa bermimpi, dan yakin jika aku bisa meraihnya. Namun jawabannya tidak, aku meninggalkan mimpiku di Tokyo, kembali pada takdirku sendiri.
Py-chan…
Aku yakin kau bisa jadi mangaka hebat. Aku percaya itu, jika aku tak bisa meraih mimpiku, aku ingin Py bisa melakukan itu. Aku percaya Py bisa.
Sekali lagi, maaf aku tak berpamitan, mungkin setelah semuanya tenang, aku bisa menghubungi Py.
Baik – baik disana. Aku sudah merindukanmu bahkan ketika menuliskan surat ini saja. Haha.

Hikaru

Dan kini air mata Py yang sedari terus mengalir tak dapat dibendung lagi. Py meraih Bass itu, memeluknya karena tak percaya Hikaru tak berpamitan dengannya.

“Sudah Py…tenang~” kata Miyuy sambil memeluk Py.

===========

Terduduk sendiri. Menyesap secangkir black coffee di sebuah café tepi jalan. Yuya Takaki memfokuskan pandang pada tabloid dalam genggaman, namun tidak pikirannya. Seluruh otaknya berkonsentrasi mengingat kejadian beberapa malam yang lalu.



-Flashback-



“Dinchan, aku ingin mengatakan sesuatu…”

“Jinjin…”

“Aku akan pergi ke New York, tinggal disana. Baik-baiklah bersama Yuya disini, oke?”

Deg

“Kenapa?” selaput bening sudah bisa dipastikan menghias iris coklat tua si gadis belia.

“Ini memang rencana lama. Aku, sebagai penerus keluarga Takaki, punya tanggung jawab meneruskan perusahaan keluarga. Aku akan kuliah bisnis, lalu mengurusi cabang perusahaan yang ada disana…”

“Ah, bukankah sejak dulu impian Jinjin adalah menjadi…model?”

Jin tak bisa membalas.

“Aku tahu aku tak punya hak melarang. Tapi aku ingin Jinjin tetap disini…” mencengkram lapisan tebal mantel musim dingin, likuid hangat mengaliri pipi.

“Tolong jangan menangis. Kau punya Yuya disini. Berbahagialah kalian, demi kalian sendiri... dan demi aku...“ mengusap bagian atas kepala Din dengan sayang.

“Jinjin...“ isakan pelan keluar dari mulut Din, ia tak percaya harus merelakan Jin benar – benar pergi dari hidupnya.

“Hh... aku memang tak pintar mengucapkan selamat tinggal...” Jin menarik si gadis kedalam pelukan. Menghalau dingin malam dalam dekap penuh proteksi. Berharap isak akan terhenti.

Aroma maskulin Jin begitu lekat dengan penciumannya. Pelukan itu selalu terasa nyaman. Peduli apa dengan status Din yang merupakan pacar dari Yuya.

“Jangan pergi...”

Sejak kecil, sosok Takaki Jin memang seperti kakak baginya. Terlalu nyaman bersama. Selalu dimanja. Cinta pertamanya.

“Hmm, Dinchan. Ada satu rahasia yang aku akan beritahu.“

“Rahasia?“

“Ya. Kau harus janji tak akan memberitahu siapapun,” tanpa si gadis berambut ikal menyadari, kelingkingnya sudah bertaut dengan milik sang pemuda yang lebih tua.

“A...Aku janji...” ucap Din lirih.

“Hanya antara kau, dan aku...  tak ada lagi yang boleh tahu...”

“Oke...”

Din masih menanti. Tapi bukan kata yang menjadi jawab. Melainkan bibir tipis Jin yang menempel lembut dibibirnya. Hangat, begitu kontras dengan udara sekitar yang mungkin sebentar lagi akan ditaburi warna putih salju.

Din memejamkan matanya. Menikmati beberapa detik yang begitu dinanti selama belasan tahun hidupnya. Jenis berbeda dengan yang biasa, yaitu kecupan di kening yang didaratkan penuh sayang oleh kakak laki-laki, melainkan ciuman romantis yang dianugerahkan pada kekasih hati.

“Aku menyukaimu. Sejak lama. Mungkin sejak saat kau masih kecil hingga terlalu polos untuk menyadari apa-apa. Dinchan, kau cinta pertamaku...” ucap Jin pelan, tepat di telinga Din.

“Bohong! Kalau suka aku, kenapa tak bilang sejak dulu?!”

“Karena aku tahu, tempatku adalah sebagai seorang kakak untukmu...”

“Jinjin bukan kakakku! Sejak dulu aku selalu menyukai Jinjin. Berulang kali patah hati ketika Jinjin kencan dengan perempuan yang mungkin setiap minggu berganti... hingga jadi terbiasa sendiri..” air mata Din terus mengalir, ia begitu menyesal, tapi ia juga tak tahu harus berbuat apa.

“Tak ada yang seperti dirimu...” kalimat sederhana yang begitu menentramkan jiwa.

“Hh... aku yakin, Naomi-neechan berbeda…” ujar Din.

Menjawab dengan senyuman sederhana namun penuh makna.

“Jinjin...”

“Aku akan berbahagia untuk kalian, kedua adikku,” Ia tersenyum mengisyaratkan janji yang pasti ditepati, sebelum kembali mendekap hangat untuk yang terakhir kali.

Tak lagi membalas, Din hanya membiarkan diri tenggelam dalam pelukan si Takaki yang lebih tua. Setengah mati meyakini hati akan belajar merelakan dirinya yang menjadi sosok ditinggal pergi dengan perasaan yang baru diketahui bukan tak berbalas.

Jin telah menjadi sahabatnya.

Kakaknya.

Pelindungnya.

Cintanya.

Sejak dulu, saat ini dan seterusnya.

Obsesinya –ya, kata obsesi dengan presisi mengganti definisi cinta.

Kini sang obsesi harus pergi. Membawa semua perasaan yang direlakan namun tersampaikan dengan pasti.

Segalanya.

Yang membuatnya merasakan indah jatuh cinta sekaligus sakit karna tak bisa memiliki.

Terlalu ingin menikmati hingga baru sadar sebuah kata membuyar lamunan, “Dinchan?”

“A, ah. Hai.”

“Salju mulai turun. Ayo pulang…” ajak Jin sambil menarik lengan Din.

Din enggan, “Biarkan saja begini. Ini kan terakhir kali aku bisa egois sama Jinjin…”

“Ahaha, baiklah…” tawa Jin kali ini terasa menyakitkan.

Mereka tak menyadari ada eksistensi lain yang tak kalah tersakiti.

Yuya hanya menatap dan kemudian memutuskan pergi. Semua yang dikatakan Jin ketika mabuk tempo hari memang terbukti. Tapi ia terlalu malas mengurusi, terlalu terbiasa sakit hati.



-Flashback End-



Meninggalkan beberapa kepingan sebelum beranjak diatas meja. Membiarkan leher dirangkul lebih erat oleh lembar sewarna karamel. Udara telah menjadi semakin dingin hingga ia melihat kepulan embun dari mulutnya saat menghembuskan napas berat, mengirim sinyal putus asa ke langit kelabu yang tak pernah mau tahu.

Ia tak tahu apa yang terbaik untuknya atau untuk Din. Selama hidupnya, hanya satu gadis yang ia cintai, dan ia yakin dan punya percaya diri bisa mencintainya sampai akhir hayatnya.

Tapi rasanya lain jika ternyata gadis itu masih mencintai kakaknya. Segalanya terlalu rumit, Jin yang selama ini ia fikir adalah kakak laki-laki egois, ternyata sangat memikirkan dirinya.

Mereka saling mencintai.

Keduanya orang yang penting bagi dirinya.

Yuya meneruskan langkahnya gamang, fikirannya melantur kemana – mana.

========

Menginap. Untuk sebagian orang hanyalah suatu hal biasa, tapi untuk seorang Daiki Arioka, itu adalah kemajuan pesat, terlebih bila tempatnya adalah di flat kecil milik gadis corettsunderecoret yang belakangan ini didekatinya. Lebih spesifik, kamar tidurnya. Lebih sfesifik lagi, tempat tidur empuk berbalut kain putih yang sering dijadikan alasan oleh Daiki untuk menghabiskan malam.

“Nuchan…” panggil Daiki

“Hmm?” Nu menjawab tanpa sedikitpun menoleh pada sang pemuda.

“Terimakasih sudah membantuku kerjakan PR sains…” ucap Daiki manis.

“Tak masalah…”

Kadang hanya untuk memulai sebuah konversasi jadi suatu hal yang sangat sulit. Nu selalu menjawab Daiki seadanya, tak menggubris bagaimana pun Daiki berusaha mendekati Nu.

Daiki menghela napas. Menerawang. Memikirkan berbagai macam hal. Kemajuan hubungan mereka memang diluar ekspektasi.

Semenjak Nu memberinya kunci duplikat, mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Bangun tidur, ke sekolah, malam, hingga pagi lagi. Tetap, Daiki merasakan suatu hal yang berbeda.

“Dai, lepas bajumu sekarang!”  gerakan menggigit roti Daiki tiba-tiba terhenti.

“Hah?” pikirannya masih coba mencerna

“Cepat. Kalau tidak, kita bisa terlambat ke sekolah!” kali ini dengan tatapan tegas.

“U, un...” melepas jas sekolah dengan ragu, “Sudah?”

“Ng, maksudku kemejamu. Cepatlah...” seru Nu lagi, mulai tak sabaran.

“Disini? Apa Nuchan ingin...” semburat merah muncul di pipi Daiki.

“Ayolah…” kalimat diserobot gerakan tak sabaran si gadis, kini sweater pastel milik si pemuda sudah tak lagi di tempat semula.

“A, ano…” untuk beberapa alasan, wajah Daiki berubah memerah, menerka apa yang akan terjadi. Kenapa disini –diruang makan sempit ini? Kenapa waktunya tak tepat begini –saat bel tanda masuk sekolah tak bisa menunggu lebih dari 15 menit untuk berbunyi?

Tanpa kata. Nu mulai menarik kerah baju Daiki, melepas dasi yang beberapa lalu susah payah dirapikan.

“Sekarang apa lagi?” ucap Daiki hanya dalam hati, ketika jemari gadis itu mulai membredel kancing demi kancing kemejanya dengan tergesa.

Katanya –seorang tsundere lebih banyak bicara dengan tindakan daripada kata. Kata-kata itu melintas di pikiran Daiki tanpa perlu memikirkan suatu sumber kredibel. Apa lagi berikutnya? Apa ia akan didorong ke meja makan dan ditindih hingga ada adegan berlabel minimal R-18?

Daiki memejamkan mata. Menanti kelanjutan cerita, ketika tak ada lagi yang menutup tubuh bagian atasnya.

“Tunggu sebentar,” dua kata, dan si gadis menghilang dibalik pintu.

Si pemuda manis membatu, mengabaikan tubuhnya yang diterpa angin dingin penghujung tahun.

“Selesai. Noda dibajumu sudah hilang. Sekarang pakailah kembali,” ucap Nu santai, kembali menyampirkan kemeja itu di tubuh Daiki.

“Hah? Jadi, tadi itu...” otaknya semakin mengerti apa yang sejak tadi terjadi.

"Ya. Ada noda di kemejamu, aku sudah bersihkan,” jawaban dari Nu sungguh polos.

“Tapi, ng...” Daiki hanya merutuki diri –dan pikiran nakalnya “...aku pikir Nuchan, ng...”

“Sarapannya sudah habis, kan? Sekarang ayo berangkat. Kita harus cepat,” dan Nu pun menarik lengan Daiki.

“Ah, Nuchan jadi seperti ma...”

“Cepat!” lagi-lagi perkataan Daiki dipotong oleh Nu.




Seperti malam ini juga, keadaan tak jauh berbeda dari biasanya.

“Hh...” menghela napas untuk kesekian kali “...Nuchan...?”

“Apa lagi? Tak bisa tidur, hmm?“

“Apa Nuchan suka aku?“

“Yah, tak benci, sih...“

Membuatkan bentou. Mengerjakan tugas sekolah bersama. Menemani ber-pillow talk atau menghitung domba. Semuanya. Daiki merasa Nu memberikan perhatian dengan cara yang berbeda. Ia merasa dimanjakan. Dan memanjakan lain dengan mencintai.

“Aku suka yang lebih tua, yang dewasa…” kata-kata itu begitu menusuk bila diingat kembali, menyadari diri sendiri tidak termasuk dalam kriteria. Daiki memang tidak lebih tua, tidak juga lebih dewasa, suka merengek, suka bermanja.

“Dia itu…hm, aku tak bisa tidak menyukainya,” cerita tentang seorang bernama Kyo Niimura memang selalu membuat Daiki penasaran sekaligus cemburu.

Ia menginginkan itu, tatapan merindu dari seorang Takahashi Nu ketika bercerita tentang sang mantan yang beberapa waktu lalu menyebabkannya tersedu. Bukan yang biasa dialamatkan padanya, tatapan penuh perhatian pada adik atau anak lelaki. Ia juga lelaki, perasaannya benar tulus, perlu apalagi?

“Kenapa…Nuchan selalu memperlakukan aku seperti…” menelan ludah “…anak kecil?”

“Ah, sou ka? Kenapa berpikir seperti itu?” tanya Nu bingung.

“Nuchan selalu membantuku melakukan semuanya, tapi tak pernah bilang menyukaiku...” kata – kata yang selama ini selalu ingin ia katakan pada Nu.

“Dai, mungkin terlalu lama belajar membuatmu sedikit stress. Tunggu sebentar, aku akan buatkan segelas susu hangat, supaya kau bisa tidur lebih nyenyak...“ alih-alih menjawab, si gadis berkaus biru itu justru beranjak dari tempat berbaringnya, berjalan menuju pintu kamar.

“Jangan kabur...” tangan si pemuda lebih dahulu mencapai kenop pintu, menghasilkan bunyi ‘ceklek’ sebagai pemasti bahwa pintu telah terkunci.

“Dai, ada apa?”

“Berhenti berlagak seolah kau adalah ibuku...” demi apapun, Nu tak pernah merasa sebegitu terintimidasi, mendengar suara tegas Daiki yang jauh dari biasa. Dibisikkan tepat di telinga. Punggung bertemu dada bidang si pemuda. Dengan kata lain, Daiki memepetnya.

“Apa maksudnya...?” Nu mulai takut, ia tahu dan sadar betul Daiki bukan sekedar pemuda belasan tahun yang tak mengerti apapun. Ia sudah dewasa, seperti juga dirinya.

“Selama ini kau selalu menganggapku seperti anak kecil, seperti adik manja yang perlu di-babysit!” Daiki memutar paksa tubuh gadis didepannya

“Ah, tapi...” coklat madu bertemu hitam jelaga, tatapan mata Daiki tak bisa lebih mengintimidasi.

“Itu benar, kan? Kau tidak bisa melihatku seperti melihat Kyo-san, melihat seorang lelaki, bukan seorang adik kecil! Benar, kan?!” bentakan itu keluar dari mulut Daiki, begitu tegas.

“Ya, itu benar,” jawab Nu.

Jika tatapan bisa membunuh, harusnya Nu sudah mati sejak tadi. Kata ‘seram’ pun tak cukup mendefinisi.

Katakan selamat tinggal pada pemuda yang biasanya dipuji dengan ‘kawaii’, sekarang hanya tinggal sisi gelapnya. Menarik paksa tangan gadisnya dan menghempaskan tubuh si gadis ke tempat tidur.

“Dai, berhenti!” suara yang terdengar panik.

“Aku akan buktikan...”

Pemuda manis juga lelaki. Bisa mendominasi. Membatas semua anggota gerak gadis yang tengah berada dalam disposisi –dibawahnya.

“Lepas...!“ berontak Nu.

Juga ciuman paksa sebagai pemblokir kata-kata.

Terbelalak. Demi apa Daiki benar melepas t-shirt longgar yang semula dikenakannya. Apa yang dimaksud dengan membuktikan itu?? ...ah, situasi jadi berbahaya.

“Aku bukan anak kecil, aku juga lelaki...” ucap sesaat sebelum kembali mengambil alih bibir gadis yang tengah menyesali ketidakberdayaannya sendiri, mengerang pelan saat bagian disekitar lehernya dieksplorasi, dengan paksa yang pasti –bibir, lidah, gigi.

Tak bisa lagi berkata, hanya menitikan air mata ketika katun biru prusia tak lagi membalut tubuhnya.

 =========

TBC lagi yaaaa~ saia harap chapter selanjutnya gak lebih dari beberapa minggu.. hehehe.. ^^

Sabtu, 20 Agustus 2011

[DRABBLE] 21 Words

Title : 21 Words –DRABBLE-

Author : Nu Niimura

Pairing : Daiki Arioka (Hey! Say! JUMP)xOC

Genre/Rating : FAIL Romance-Comedy/PG-13

Warning : Unbeta-ed, karakter dibuat OOC demi kelangsungan cerita, semi-PWP, gaje-ness, abal-ness, etc.

Disclaimer : I don’t own Daiki. OC Saifu Suzuki belongs to Saya Fukuzawa.

Summary : Saifu Suzuki datang dari Kyoto untuk sekolah di Tokyo. Tinggal di flat milik sang kakak membuatnya bertemu Daiki, pemuda manis yang hobi numpang main, numpang makan, numpang tidur dan numpang yang lainnya.

B/A : Dedicated to Saya Fukuzawa. My first drabble. Hahaha, ternyata bikin drabble susah juga, tapi lebih susah bikin rabucon. Fail sangat. Fuu, maapkan saya karna fic nya jadi abal begini ya, mon cher XD #sogokpakepockytsubusubu

Song (lagu)

“La la la la la…la la la la la…,” Daiki bersenandung

We Can Make It!” tebak Saifu penuh kemenangan “Yatta!”

“Huh, aku beri tebakan yang terlalu mudah…Oke, sekarang giliranku,” berfikir sejenak “La la…la la la…”

Giliran Saifu yang berpikir “Ng…Would You Marry Me?”

I do,” bersama senyum 1000 watt

RPG –Role-Playing Game (Permainan Peran)

“Tapi Dai-niichan, aku kurang pintar main game…” ujar si gadis yang lebih muda

“Ah, tinggal ikut intruksi. Nah, sekarang buat avatar-mu”

“Hai, kalau ini aku lumayan mengerti...“ berpikir lama “Tapi aku bingung akan pakai username apa...“ Saifu bergumam lirih

Mengintip ke sebelah. Eh? Demi apa Daiki membuat avatar yang begitu moe. Gadis imut berrambut hitam dengan aksesoris pita merah muda di kepala. Dan, apa-apaan username itu, kawaiiprincess?! Apa mahasiswa di Tokyo memang punya selera yang sebegini unik?

“Sudah?” tanya Daiki

“A, ano…belum…ng”

“Sini, tukar joystick-nya…” kedua input device telah berpindah posisi tanpa disetujui

Social Network (Jejaring Sosial)

“Fu-chan, punya account Facebook?” Daiki menoleh sesaat, kemudian meneruskan ketikan di keyboard macbook barunya

“Ng, ada…” jawab Saifu dengan nada malu-malu yang kentara

Yosh, aku akan kirim friend request. Nanti accept request-ku, okay?”

Okay…” sedikit ragu

“Saifu Suzuki. Resultnya banyak sekali. Fu-chan punya banyak account, ya?”

“Bukan. Itu bukan aku…!” wajah mulai bersemu “Sebenarnya…aku sudah menduga kalau yang pakai username Saifu Suzuki itu banyak, jadi aku pakai nama lain yang lebih mudah dicari…”

Wakatta! Jadi, apa username-nya?” tanya Daiki antusias

“.fuuuchann..ChaiiankPenguinCellaluuwh:.,” wajah sewarna apel Fuji itu memang pantas disembunyikan –dan melarikan diri adalah cara yang paling efektif

“Fu..E? Matte. Kenapa pergi?”

Sekitar dua puluh menit kemudian.

“A, ah. Kenapa…” giliran si pemuda manis yang wajahnya diwarna gradasi serupa likopen “…kenapa…aku begitu…lambat?” rutuknya pada diri sendiri

Dialec (Logat)

“Hmm, apa Fu-chan tahu, aku ini hero, lho? Aku yang selalu membela Icchi waktu pertama kali datang ke Tokyo?“ ucap Daiki penuh bangga

“E? Memangnya dulu neechan sering di-bully?“ Saifu membelalakkan mata

“Bukan, bukan. Hanya kadang ditertawakan karena Kansai-ben’nya yang kental…”

Sou…” tak bisa berkomentar lebih lanjut, mengingat keadaan diri yang tak jauh berbeda

“Ternyata Fu-chan malah lebih parah. Ha ha ha...“ tawa puas seraya mengacak rambut si gadis yang lebih muda

Objek penderita jelas tak terima “Dasar orang Kantou tak berperasaan! Lihat saja nanti, kalau kalian studi tur ke Kyoto, aku akan ijime cara bicara kalian!”

Saa, coba katakan ‘Atashi wa kinou oishii na yudofu wo tabeta’...”

Atashi wa kinou oishii na yudofu wo tabeta

Daiki tak bisa menahan tawa gelinya. Ditambah menyaksikan ekspresi wajah Saifu yang sangat menghibur –tak ada yang lebih menyenangkan lagi.

“Dai-niichan, cukup!”

“Sekarang katakan ‘Daisuki’...”

Daisuki!

“Tak terdengar berbeda. Yang terpenting, aku senang mendengarnya...”

Towel (handuk)

“Ne, terimakasih. Aku sudah selesai pakai kamar mandinya...” ucap Daiki lega. Handuk putih bertengger setia, menggosok helaian coklat dikepala. Sementara yang satu terposisikan dengan strategis melingkar pinggannya.

Ano...Dai-niichan, kenapa...” ucapan terbata dipadu raut merona –tipikal drama dengan target penonton remaja

Tapi. Lupakan yang tadi –yang soal strategis. Buktinya, sang lembaran katun lebih senang terjun bebas ke lantai daripada melindungi tubuh bagian bawah si pemuda

“Kyaaaaaa…!” Saifu menjerit kontan menutup mukanya dengan kedua telapak tangan

“Maaf, maaf…Sekarang sudah beres,” ucap Daiki setelah menutup apa yang seharusnya ditutupi

“Be…nar?” mengintip ragu dari sela jari

“Iya. Hmm, apa tadi Fu-chan lihat?”

“Tidak. Aku tak lihat...!“

“Apa Fu-chan mau lihat?“

Dream (mimpi)

Sewaktu masih tinggal bersama di rumah orang tua, sejak kecil Saifu selalu menyelinap ke tempat tidur kakak perempuannya tiap kali mendapat mimpi buruk –sekedar mencari pelukan hangat penuh proteksi atau mendengar tentang domba yang jumlahnya tak pernah habis dikalkulasi.

Juga kali ini. Walaupun bukan rumah yang sama, tapi sang kakak ada. Setelah sekian tahun, akhirnya Saifu bisa melanjutkan kebiasaan lama. Sekarang, mereka kembali tinggal bersama. Disebuah flat kecil yang disewa sang kakak sejak melanjutkan kuliah di Tokyo.

Nee-chan...“ mendekati daun pintu yang sedikit terbuka

Tanpa kata-kata. Saifu hanya bisa membelalakkan mata. Bukan sang kakak yang dahulu biasa ditemukan terlelap dibalut selimut, bila tidak, pasti sedang membaca weekly Jump dan menyapanya ‚‘Nemurenai no desuka?‘, melainkan seorang yang membagi tempat tidur –dengan si pemuda manis berrambut coklat yang kini tengah memepetnya ke dinding dengan ah, Saifu bahkan tak bisa teruskan

“Ah!“ Saifu terbangun dari tidurnya “...Cuma mimpi. Ng, tapi...“

Apa itu yang melingkar di pinggangnya? Oh, hanya tangan yang berasal dari tubuh si pemuda yang baru saja dimimpikan. Terlelap disampingnya.

“Apa aku masih mimpi...?”

Gift (hadiah)

“Dai, apa-apaan outfit maling macam itu?” tanya Ichika berbisik

“Pssst, aku akan menyelinap ke kamar Fu-chan untuk cari tahu hadiah apa yang ia inginkan dari Santa. Kau sendiri yang bilang kalau Fu-chan sejak kecil menyimpan suratnya di laci kamar...”

“Hh, terserah lah...” balas Suzuki yang lebih tua

Beberapa menit kemudian.

“Aha! Ternyata mudah sekali...” Daiki tersenyum bangga

“Siapa itu?!” suara Saifu benar mengagetkannya –bukannya tadi tertidur pulas? Setidaknya begitu pikir Daiki

“A, aku...hadiah yang dikirim Santa untukmu...“ kalimat spontan tak pernah mengenal konsep

“Hmm, aku pasti mimpi...“ kembali merebah

Eco-friendly (Ramah Lingkungan)

“Aku cuma menebak, sih. Tapi semoga Fu-chan suka topping mapple. Topping strawberrynya pilihanku…”

“Eh?”

Saifu sama sekali tak pernah menyangka, akan menikmati Couple Yogurt –yang biasa dipesan oleh pasangan muda-mudi bersama Daiki.

Ano, Dai-niichan…”

“Ini tindakan ramah lingkungan. Makan satu cup yogurt berdua bisa mengurangi jumlah sampah,” terangnya penuh percaya diri.

Agak aneh, memang. Tapi yang pasti, Saifu menyukai apapun yang ramah lingkungan.

Word (kata)

“Tiga huruf untuk ‘bukan depan‘...“ meletakkan bolpoin di dagu, Saifu nampak berfikir

“U-R-A, belakang. Saat kupejamkan mata, kau selalu ada di belakang pelupuk ini.“

“Dai-niichan...! Aku kan sedang isi teka teki silang, bukan membuat kalimat...“

Salahkah bila ada yang mengira dia sedang merayu?

Doll (boneka)

Daiki sudah menghabiskan 225 yen untuk 3 kesempatan mengambil boneka di Doll Catching Machine yang gagal.

Daiki bilang, akan ambil untuk Saifu.

Saifu bilang, Daiki sebaiknya berhenti.

Setelah beberapa hari.

Saifu bilang, ada boneka baru di tempat tidurnya. Mirip dengan yang pernah dilihatnya, di permainan Doll Catching.

Ichika bilang, Daiki yang menitipkannya. Dan ia bilang, harganya 3600 yen.

Way (cara)

“Akan makan apa kita sekarang?” tanya Daiki

“Mmm...” berpikir lama “Dai-niichan saja yang putuskan...”

“Pilih angka dari satu 1 sampai 26!”

“21...!“

“-O, P, Q, R, S, T, U!“

Si gadis hanya menatap bingung, bahkan saat tangannya digandeng.

“Warung Udon, kami datang!“

Tersenyum- Daiki memang selalu punya cara.

Number (angka)

“Fu-chan...“ colek “…aku tahu apa yang lebih lucu dari 21”

“Apa itu?”

“22”

“Hi hi hi…”

Ichika tak pernah mengerti apa yang mereka tertawakan.

Idol (idola)

“Say! and JUMP. Mereka keren, kan? Sudah begitu populer di usia muda...” si gadis menatap halaman majalah dengan penuh minat

“Huh...” pemuda di hadapannya tak berkomentar

“Banggalah sedikit Dai-niichan. Membernya ada yang punya nama sama persis dengan Dai-niichan. Daiki Arioka”

“Apa Fu-chan suka Daiki Arioka?”

“Tentu. Aku suka Daiki Arioka. Selain imut, kepribadiannya menarik, suara dan performance-nya juga keren...”

“Duh, malunya kalau ditembak langsung begini...”

“E...?“

Flash back (kilas balik)

“Permisi...“ menekan bel di pintu flat berlabel nama ‘Suzuki Ichika‘. Tempat yang mulai hari ini akan jadi tempat tinggal Saifu selama menempuh pendidikan SMA-nya di Tokyo

“Icchi, sudah pulang, ya. Okaeri...“

Tapi yang membukakan bintu bukanlah yang diduga. Bukan kakak berrambut hitam sebahu, melainkan pemuda manis lengkap dengan apron pink-nya yang nampak sangat unyu.

Sumimasen! Mungkin aku salah tempat...“ membungkuk penuh penyesalan

“Kamu...adiknya Icchi, ya? Perkenalkan, Daiki Arioka desu. Aku temannya Icchi...“

Saat menjabat tangannya, membalas senyum manisnya, Saifu yakin bahwa kehidupan remajanya tak akan lagi berjalan sama.

Cellphone (Telepon Seluler)

Kata mitos –kalau menyimpan foto orang foto disukai di ponsel tanpa ketahuan, cintamu padanya akan terwujud.

Untuk beberapa alasan, Saifu coretdiam-diamcoret menyimpan foto Daiki di ponselnya.

“Fu-chan, aku pinjam ponselmu. Bosan, nih...“

A, ano...“ tentu saja sang empunya tak bisa melawan ketika barang elektronik itu pindah posisi

Menit demi menit, sungguh mimik wajah ekspresif itu mengundang sejuta persepsi dan prasangka dihati. Bahasa non-puitisnya, Saifu cemas.

“Terimakasih, ya. Ini aku kembalikan“

Tak ada komentar tentang foto rahasia –cek.

Tak ada bekas history yang dibuka pada browser –cek.

Tak ada perubahan pada wallpaper –cek.

Hal yang berubah hanya satu. Nama kontak Daiki Arioka berubah menjadi Daiki Arioka ♥.

Counting (Hitungan)

Hitsugi ga yonjuusan-biki...“ suara mengalun lembut “Fu, sudah tidur, ya...?“

Neechan!“

“Hah!“ sedikit terkaget

“Bagaimana kalau dombanya dirubah jadi penguin?“

Alih-alih membalas, sang kakak justru menenggelamkan wajah di bantal, bersama suara cekikikan yang terredam.

Eco-friendly II

“Dingiiiin…” mereka tengah berada didalam rumah, tapi si gadis bisa-bisanya menggigil “Ano..Dai-niichan, kenapa penghangat ruangannya dimatikan?”

“Kita harus ramah lingkungan. Kurangi penggunaan listrik sebisanya…”

“Tapi, Dai-niichan…”

“Begini saja. Jadi hangat, kan?”

Tak ada lagi kata, semua keluhan hanya bisa diam dihati, dihalau tembok hangat bernama dekapan –dari seorang Daiki.

Diet (Diet)

Program Diet Saifu Suzuki

Sarapan pagi. Makan dengan menu minim kalori, menolak susu hangat buatan sang kakak dengan alasan diet.

Makan siang. Merelakan nugget dan puding coklat yang biasa jadi favorit dengan alasan diet.

Pulang sekolah. Hanya bisa ngiler sambil berjalan menatap berbagai cake di etalase toko dengan alasan diet.

Santai sore. Daiki mengajak ber-Pocky Game, disambut –walau malu-malu tapi tak perlu alasan.

Flavour (Rasa)

“Mmm, lagi-lagi bawa chupa strawberry dan coklat. Kita kan sama-sama suka rasa strawberry…” Saifu agak cemberut

Ne, daijoubu. Aku jadi terbiasa makan yang rasa coklat…” Daiki membalas dengan tersenyum

Fate (Takdir)

“Dai-niichan mencoba kuliah ke luar negeri?!“

“Un, un. Sebelum aku gagal…”

Sou da na...“

“Ah, itu sih tak masalah...“

“….”

“Kalau aku pergi kesana, mungkin aku tak bisa bersama Fu-chan seperti saat ini…”

“Eh?”

Eco-friendly III

“Ng, sudah sore. Aku mau mandi…” si gadis berrambut ikal berdiri, hendak melangkahkan kaki

“Fu-chan, tunggu!”

Ne, doushite?”

“Menghemat air juga tindakan yang ramah lingkungan, ne.“

“Tapi Dai-niichan, aku butuh mandi...“

“Kita bisa mandi bersama untuk menghemat air...“

Wajah yang berubah warna bisa lebih berarti sebagai jawaban daripada kata-kata. Juga sandal rumah yang terbang dari arah lain, dengan mulus menggetak kepala si pemuda.


-End-


Comments are L.O.V.E :3

Flame diterima dengan lapang hati~

Minggu, 17 April 2011

[Fanfic] Accidentally In Love (chap 10)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Ten
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,InoOpi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~
P.S : di chapter ini banyak di ceritain soal Din ama Nu.... :P


Accidentally In Love
-Chapter 10-

“Tapi, aku sudah mengecewakan Miyuy, Pychan, Opi. Mereka mungkin…”, Nu berusaha menarik tangannya dari jemari Daiki.

“Dengar. Aku percaya, mereka akan memaafkan Nuchan, mereka menunggu Nuchan”.

“Hh…”

Berat hati, Nu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar rawat Din. Ragu. Hanya beberapa helaan nafas yang terdengar. Sesuatu yang entah apa membuat Nu menghentikan tangannya sendiri sesaat hendak mengetuk pintu.

“Aku tak bisa…”, ujarnya, menundukkan kepala dan kemudian berbalik

“Ternyata disini…”

Sepasang lengan memberikan sebuah pelukan pada punggung Nu yang masih bergetar. Mengejutkannya.

“Dinchan!”, seru Nu begitu terkejut

“Hehe”, hanya sebuah cengiran yang menjadi jawaban Din. Cara seorang sahabat untuk mengisyaratkan sebuah glad-to-see-you-again

“Aah! Apa-apaan?! Ayo ke tempat tidur lagi, jangan terlalu banyak bergerak!”, nada bicara Nu terdengar panik, dengan sehati-hati mungkin memapah Din kembali ke tempat tidurnya.

“Aku baik-baik saja, jangan terlalu cemaskan aku…”, Din tampak menggembungkan pipinya.

Sementara ditempat yang dituju, tiga wajah tersenyum sudah menyambut mereka

“Selamat datang kembali…”, ujar Py tersenyum.

Mata Nu berkaca – kaca melihat senyuman itu. Senyuman yang begitu tulus.

“Kami kangen kalian…”, tambah Opi seraya memeluk kedua sahabatnya itu. Tentu saja, Miyuy dan Py juga tak akan melakukan apapun selain hal yang sama

seakan samar mulai terdengar

“Gomen ne…”, ucap Nu lirih

“Ng? Minta maaf buat apa?”, balas Miyuy

“Maaf, aku sudah egois. Mengacuhkan kalian. Sudah jadi sangat menyebalkan…”

“Hey, hey…ada apa ini?”, Dinchan mulai menaikkan sebelah alisnya, tak mengerti dengan apa yang terjadi

“Ah, bukan. Harusnya aku bilang terimakasih. Terima kasih sudah peduli padaku. Terima kasih sudah menjadi temanku sejak awal. Terima kasih untuk tak marah padaku. Terima kasih untuk masih menerimaku kali ini…”, menghapus air mata, Nu mulai mengurai senyuman tipis

“Eh? Kenapa jadi melankolis begini, sih?”, Opi bermonolog, menggaruk kepalanya yang samasekali tidak terasa gatal

“Tentu. Kita kan teman. Jadi tak perlu bilang maaf ataupun terima kasih”, lagi, Py memperlihatkan senyumannya

“Ya, ya! Kita ini satu, walaupun cuma bagian kecil yang hilang, mana bisa jadi lengkap…”, tambah Opi ceria

“Terima kasih…”

Seseorang menyaksikan pemandangan itu dari ujung pintu. Senyuman dibibirnya seolah mengatakan ‘aku berhasil’. Ia tak ingin -atau setidak nya, belum ingin- mengacau momen bahagia itu. Menonton dari kejauhan sudah cukup membuatnya senang.

“Hey, Daiki. Sampai kapan mau berdiri disitu terus?”, panggil Opi

“Eh?”, Daiki terkejut

“Eeh? Kalian kesini berdua?”, tanya Miyuy

“Memangnya ada kemungkinan lain?”, Din mencolek-colek Nu, mencoba menggoda

“Kyaaaa”, teriak Py pelan, tapi terdengar begitu histeris

“Ha? Kenapa harus sebegitu histeris? Kalian juga datang kesini sama-sama, kan?”, Nu terheran seraya meluncurkan sebuah tanya bernada datar

“Akhirnya, hanya Daichan yang bisa membawa Nu keluar dari kamar…”, lanjut Py

“Ah, itu…”, Daiki tak bisa membalas, hanya tersenyum malu-malu, membuatnya terlihat semakin inosen

“Yah, sudahlah”, timpa Nu dingin. Pikirnya, jerit histeris Py pasti akan terhenti bila mengetahui apa yang terjadi pada pipi kirinya beberapa waktu lalu

-----------

-Kereta dalam perjalanan pulang-

“Arioka…”

“Hm?”

“Buka telapak tanganmu”

Tanpa banyak pertanyaan, Daiki melakukan apa yang diperintahkan Nu

Nu meletakkan sesuatu di telapak tangan itu

“Apa ini?”

“Huh, anak balita saja bisa langsung tahu kalau itu sebuah kunci…”

“Iya, tapi kunci apa…?”

“Mulai sekarang, aku tak akan mengusirmu dari kamarku…”

“A, ah!”, Daiki seketika tak bisa menjawab ketika mendapati hasil pemikirannya

“Ne, Arioka…untuk yang telah kau lakukan, terimakasih…”

“Bukan masalah”, balas Daiki, tersenyum seperti biasa “Ah! Semuanya bukan gratis lho, Nuchan!”, bocah imut itu menarik kembali kata-katanya

“Ha? Jadi aku harus apa lagi?”, tanya Nu pada remaja manis yang sejak tadi duduk tepat disampingnya itu

“Panggillah dengan namaku”, ucap Daiki dengan wajah mantap

“Daiki…”, panggilan itu terdengar begitu pelan dan lembut, tapi sang pemilik nama bisa mendengarnya, terlebih ketika Nu mulai menyandarkan kepala dibahu kanannya dengan perlahan




“Ya, tetaplah begitu…”

Senyuman lembut itu kembali terlihat. Nu tak perlu khawatir sosok itu akan beranjak meninggalkannya.

Begitu nyaman.

Itulah, tempatnya.

Sekarang.

Tenang. Beberapa penumpang yang terlihat sudah nampak tertidur. Hanya ada suara sentuhan secepat kilat antara kereta dan rel listrik, juga yang menghias pandangan dari luar jendela hanyalah bias-bias cahaya yang dihasilkan remang malam.

“Hey, Daiki…aku tak benar membencimu…”

Tak ada jawaban

“Tidur, ya? Yah, sudahlah…”

-------------------

“Hmm...”, mata Yuya beralih dari satu benda ke benda yang lain

“Nona, tolong berikan topi yang cocok untuk seorang gadis manis...”, mendengar suara itu, membuat Yuya segera mengalihkan pandangannya pada sumber suara

“Aniki!”

Orang yang dilihatnya itu. Tak salah lagi, Jin, kakaknya sendiri. Yuya melangkahkan kakinya dengan spontan kedalam kamar pas terdekat, menyembunyikan diri dari pandangan Jin.

Sama sekali tak disangkanya, kalau ide awalnya pergi ke toko fashion untuk membeli topi untuk Din –yang kepalanya masih berhias sedikit perban- justru membuatnya bertemu dengan sang kakak

“Uhh...”, sesuatu yang bahkan tak diketahuinya membuat Yuya dengan sabar mengintip dari balik pintu kamar pas, memenuhi rasa penasarannya pada apa yang akan terjadi

“Tentu tuan. Bagaimana dengan yang ini?”, tawar seorang pegawai toko pada Jin

“Ah, tidak-tidak...tolong berikan yang modelnya lebih casual, kurasa casual style lebih cocok untuknya...”

“Kalau begitu...yang ini?”, tawar pegawai itu untuk kedua kalinya, mengambil topi dengan model yang berbeda

“Hmm, sempurna. Tolong bungkus yang itu...”, pinta Jin tersenyum

Gadis manis

Casual style

Yuya semakin penasaran, “Untuk siapa aniki membeli topi itu? Apa aniki sudah dapat pacar baru, tapi Naomi...aah! Apa dia beli untuk Dinchan? Aniki kan sering memuji Dinchan manis, dan gaya casual, aah...”, rasa penasaran sekaligus gusar membuat Yuya tak menyadari mulutnya terus bergumam

“Apa ini untuk pacar tuan...?”, pegawai cantik itu mencoba bersikap bersahabat pada Jin. Mungkin untuk Yuya, justru  yang seperti itu akan membuatnya terganggu

“Bukan-bukan, aku memang menyukainya, tapi dia punya orang lain yang disukainya. Hahaha...”, Jin tertawa pelan tapi terdengar renyah

“Hah?! Orang yang disukai aniki menyukai orang lain?! Tapi siapa orangnya?!”

“Ah, sayang sekali. Tapi saya rasa, pria seperti tuan tak akan sulit untuk...”

“Hey, nona. Berapa lama lagi jam kerjamu akan selesai?”, tanya Jin sebelum pegawai itu menyelesaikan kalimatnya

“Sekitar setengah jam lagi”, balasnya tersenyum

“Mau jalan-jalan denganku?”, tawar Jin, dengan senyuman itu, mungkin tak ada perempuan yang akan menolak

Tak ada banyak kata-kata, Yuya hanya memukul keningnya sendiri, “Dasar aniki...”

“Baiklah...Ng, wajah tuan rasanya begitu familiar. Apa tuan artis atau semacamnya?”

“Ahahaha, banyak yang bilang begitu. Tapi sayangnya, aku orang biasa...”

Bohong. Jin justru telah memulai karirnya di dunia fashion model bahkan sejak masih sangat muda. Dan dunia itu pula yang mempertemukannya dengan Naomi...


----

Tersenyum. Din menatap refleksinya sendiri dalam cermin. Ia telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, keadaannya juga jauh membaik. Dan yang terpenting, Jin akan membawanya bertemu dengan Naomi, mereka sebentar lagi akan berkunjung ke mansion keluarga Lawrence

Beberapa kali ia membetulkan posisi topi dikepalanya. Saat ini masih ada perban yang menempel di kepala Din. Tapi Jin memberinya sebuah topi, Din menyukainya, terlebih karna itu pemberian dari Jin

“Sudah...sempurna”, suara yang bersumber dari seseorang di ujung pintu itu mengejutkan Din

“Yuya?!”

“Cocok sekali, topi itu cocok sekali untukmu...”, tersungging senyuman tipis dari bibir Yuya

Din seakan tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh pendengarannya. Tuan Takaki Yuya yang sombong itu memujinya. Sempurna katanya. Cocok katanya. Dan senyuman itu...Sangat aneh. Selama ini, apapun yang dikenakan Din pasti mendapat celaan dari Yuya, terlebih lagi bila Yuya tahu yang dikenakan Din adalah pemberian dari sang Aniki

“Tak ada yang perlu dibetulkan lagi. Kau sudah tampak cantik. Jadi sekarang, ayo turun, Aniki sudah menunggu...”

Dan sekarang...cantik

“Hah, mungkin efek kecelakaannya belum sepenuhnya hilang. Kepalaku terbentur sampai ejekan Yuya terdengar seperti pujian...”, gumam Din. Tak ada sepuhan merah khas dari seorang gadis yang dipuji penampilannya, justru Din saat itu ingin menampar pipinya sendiri


-Dibawah tangga-

“Jin, apa kau yakin?”, ekspresi keraguan tampak di wajah seorang pria muda berrambut coklat muda

“Tenanglah, Toma...”, Jin hanya menepuk bahu sahabatnya itu

“Hh, apa boleh buat. Aku percaya padamu, kawan. Kau selalu mengerti apa yang akan kau lakukan”

Pria itu, Ikuta Toma, yang tak lain adalah kakak dari Ikuta Din. Toma sengaja membolos dari rutinitasnya karna ingin mengetahui keadaan adik tersayangnya. Pekerjaannya sebagai dokter trainee di bagian forensik rumah sakit pusat membuatnya jarang bisa pulang ke rumah bahkan sejak Toma menempuh pendidikannya di bidang itu.

“Aku merindukanmu, Toma.  Lama sekali aku tak menghabiskan waktu bersamamu dan Tomo , aku tak menyangka ternyata kau kembali karna alasan seperti ini...”

“Aku turut bersedih untuk gadismu, Jin...”

Jin hanya mengalihkan pandangannya yang sejak tadi menatap langit-langit kini berubah menatap lantai, berusaha mengembangkan senyuman

“Juga Dinchan...aku sangat berterimakasih padamu karna selalu menjaganya. Kau yang selalu berada disisinya, bukan aku...Sejak dulu, aku memang bukan kakak yang baik...”

“Yes, you are”, celetuk Jin

“Sejak kecil pun, ketika aku berlari meninggalkan Dinchan supaya tak mengikutiku main dengan anak-anak laki-laki, kau justru berbalik dan mengajaknya...”

“Kau terlalu kejam, Toma”, Jin meninju bahu toma pelan

“Hey, waktu itu aku masih kecil. Kupikir, kalau anak perempuan yang ikut main, justru akan merepotkan, kelompok kita bisa-bisa kalah terus”

“Tapi ternyata Dinchan pintar, kan...?”

Toma tersenyum “Kau selalu membelanya, Jin. Lebih dari yang aku lakukan...Bahkan dulu kau memberiku ultimatum akan merebut Dinchan dariku”

“Ha ha ha. Waktu itu wajah sewotmu tampak lucu sekali, Tomo juga ikut mengejek!”

“Huh”, Toma tampak mencibir, tak bisa membalas kata-kata Jin. Tapi dalam hatinya ia senang, Jin tak pernah berubah, dia selalu bisa tertawa dengan apapun yang terjadi.

“Cukup membicarakan masa muda, kakek-kakek...”, Yuya membuyarkan nostalgia kedua sahabat itu dengan kurang ajarnya

“Ah, Yuya”, Toma menoleh kearah datangnya suara. Yuya, dengan Din dibelakangnya

“Niichan, aku berangkat...”, ucap Dinchan ceria

“Ng, ya...”, balas Toma sedikit ragu. Jin kemudian melempar sebuah senyuman untuk meyakinkan sahabat karibnya itu

-------------------

“Jinjin~ kenapa sejak awal tak beritahu kalau Naomi-neechan sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit? Aku kan khawatir, dan kalian tak pernah menjawab pertanyaanku dengan benar...”, Din memvokalkan sebuah kalimat dengan nada manja

Sekejap, Yuya yang sejak tadi matanya menatap keluar jendela mobil, beralih pandang kearah Din. Tanpa kata. Dan pandangan itu, begitu sulit diartikan

Din sedikit mengerutkan keningnya. Menurutnya, terlalu banyak yang aneh dari Yuya sejak kepulangannya dari rumah sakit. Memujinya, itu aneh. Dan Yuya yang lebih sering diam tanpa melemparkan celaan-celaannya, terlebih aneh. Saat seperti itu, Din berpikir bahwa Yuya bisa menjadi terlihat sangat...cool.

Sementara Jin tak menjawab, tapi Din bisa melihat senyuman lembutnya dari spion depan.

-------------

-Mansion Keluarga Lawrence-

“Jadi kau yang bernama Ikuta Din...”, figur wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Naomi itu menatap Din nanar beberapa saat setelah ia memperkenalkan diri.

“...ah, y..ya...”

“Syukurlah, kau selamat!”, terkejut, Din bisa merasakan kedua lengan itu mendekapnya erat. Terguncang, wanita itu mulai terisak



Din tak bisa berkata. Pikirnya masih banyak bertanya. Kenapa penyambutan dari ibunda Naomi-neechannya bisa begitu...berlebihan

“Ah, maafkan...aku masih terbawa emosi...”, wanita Jepang yang bermarga Lawrence itu melepaskan pelukannya dan menundukan kepala untuk menyeka airmatanya yang sempat mengalir. Sementara pria pirang bermata safir yang berada tak jauh dari mereka kemudian merangkul bahu wanita itu untuk menenangkannya

Jin meraih jemari Din dan menggenggamnya. Bingung. Din menggigit bibir bawahnya dan menatap Jin dengan pandangan sedih

Hanya beberapa langkah dari ruangan itu. Mereka bisa melihat Naomi.

Ia terlihat cantik. Tersenyum begitu tulus dengan rambut pirangnya yang terurai.

Masih terlihat cantik. Selalu terlihat cantik...

Sekalipun figur itu hanya bisa dilihat dalam sebuah fotograf. Terbingkai indah bersama benda-benda lain disekitarnya

Buah-buahan dan makanan untuk persembahan

Lilin-lilin yang masih menyala

Dupa

Guci keramik kecil

Naomi akan selalu terlihat cantik...

Sekalipun mereka hanya melihat fotografnya

Dalam altar persemayaman

Terdiam. Din masih belum bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Tak ingin percaya. Ia berharap apa yang baru saja diketahuinya hanyalah sebuah lelucon bodoh diawal bulan April

“Jinjin, Naomi-neechan...”, nada bicaranya kini sedikit bergetar.

Yuya bisa melihat, kakaknya itu tak bisa menjawab, hanya menunduk dan mempererat genggamannya diantara jemari Din

Saat itu juga, tangis Din mulai pecah. Terisak hebat dihadapan altar persemayaman itu

“Naomi-neechan...”

Figur cantik itu. Mata safir menyejukkan. Helaian rambut pirang indah itu. Tawa renyah dan senyuman ramah itu. Sekarang Din tak akan bisa melihatnya lagi

Untuk mengucap selamat tinggal rasanya teramat pahit dan menyedihkan. Ia tak ingin percaya. Masih berharap ini hanyalah semua lelucon, kalaupun bukan, ini hanyalah mimpi buruk. Seseorang kelak akan membangunkannya dan keadaan kembali membaik

Semuanya begitu nyata. Bukan lelucon. Tak ada mimpi buruk, tak ada yang membangunkan

Pahit itu memang nyata. Sedih itu mesti dirasanya

Kehilangan

Sesak

Jin bergerak untuk mendekap Din. Berharap bisa menenangkan gadis itu biarpun sedikit

Airmata terus mengaliri pipi putih Din. Menggumamkan sebuah nama dalam isaknya. Sementara Sang Pemilik Nama terus tersenyum

Senyuman cantik abadi yang hanya bisa dilihat dalam fotograf

---

FLASHBACK

-Sore hari di kamar Yuya-

“Aah, aku kehabisan pocary...”, menengadahkan kepala, hanya dua sampai tiga tetes terakhir yang jatuh kemulut Yuya. Menghafal sejarah dengan langsung melisankannya cukup berhasil membuat tenggorokannya kering

“Aku harus ambil beberapa kaleng lagi...”, kaki Yuya turun menapaki satu persatu anak tangga

Sepi. Kedua orangtuanya masih berada di luar kota untuk keperluan pekerjaan, mereka hanya menyempatkan pulang ketika mendengar berita kecelakaan Din dan Naomi. Jin, tentu saja Yuya sampai dirumah lebih dahulu. Sekilas, Yuya mendengar sebuah ‘Tadaima’ ditengah waktu belajarnya, tapi ia tak terlalu peduli dan tenggelam dalam hafalan sejarahnya, bukan tanpa alasan, tapi karna beberapa bulan lagi ujian final akan datang

KLONTANG



“Aniki? Is that you?”, tanya Yuya ketika mendengar suara kaleng minuman yang jatuh. Ragu, ruangan yang dirasanya merupakan tempat bersumbernya suara bahkan sama sekali gelap

“Yuya...masih bangun, ya...”

Yuya menemukan Jin seketika ia menyalakan lampu ruang tengahnya. Jin yang nampak sangat kacau. Tapi itu bukan jadi yang pertama untuk Yuya

“Aniki...aku tahu aniki sangat sedih, tapi kumohon berhentilah minum-minum seperti itu...”, ucap Yuya terdengar sangat sedih memandangi kakak  semata wayangnya terlihat kacau dengan botol juga beberapa kaleng minuman beralkohol disekelilingnya

“Hey, Yuya...bagaimana persiapan ujianmu...?”, tanya Jin. Yuya bisa dengan jelas mencium aroma alkohol yang begitu menyengat ketika beralih mendekat. Ia tak menyangka bahwa kakaknya bisa jadi sedemikian rapuh

“Sudahlah, Aniki...tolong jangan minum lagi, Naomi-san juga pasti tak akan menyukainya...!”, Yuya mulai membereskan kaleng-kaleng bekas minuman ke tempat sampah –bahkan yang masih berisi-

“Aaah, tapi Yuya...”, protes Jin “..aku bahkan bisa lihat Naomi...dia sekarang jadi bidadari...he he he”

“Hh...”, menghela napas, sekarang Yuya tahu kalau kakaknya sudah benar-benar mabuk

“Aniki, aku akan membawamu ke kamar. Sekarang tidurlah, besok pagi panggil saja aku kalau Aniki butuh obat sakit kepala...”

Perlahan, Yuya mulai memapah Jin berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Memang bukan pekerjaan yang mudah, bahkan Jin terus mengoceh tak jelas selama Yuya susah payah memapahnya

“Hmm, ternyata kau manis juga ya...Yuya...”, masih dengan ocehannya, Jin kemudian menempelkan bibirnya di bibir Yuya. Hal itu membuat Yuya kontan mendorong Jin. Beruntung, mereka sudah sampai di depan tempat tidur Jin, jadi Jin mendarat di tempat tidurnya tanpa harus menderita sakit karna jatuh di lantai

“A, apa yang Aniki lakukan?! Itu menjijikan!”, wajah Yuya berubah merah karna kesal bercampur malu

“Kenapa, Yuya...?”

“Ah! Sudahlah!”, ujar Yuya frustasi sekaligus meratapi nasibnya --hanya di dalam hati. Semua hal bisa saja bisa terjadi pada orang yang tengah berada dalam pengaruh alkohol

“Ah, ya!”, sebuah ide tiba-tiba muncul dari pikiran Yuya “Aniki, aku ingin tahu untuk siapa Aniki membeli topi di toko xyz tadi siang!”, ujar Yuya langsung pada sasaran

“Hey! Kau tahu aku pergi ke toko untuk membeli topi! Ternyata adikku punya bakat esper!”, jawaban dari Jin hanya membuat Yuya memicingkan mata

“Bukan itu...Ayolah, Aniki...katakan padaku siapa gadis yang Aniki maksud! Yang Aniki sukai, yang Aniki ceritakan pada pegawai toko...”, Yuya beralih duduk di hadapan Jin, diatas tempat tidurnya

“Kau begitu ingin tahu, Yuya...kalau begitu, tebaklah...”, Jin tersenyum, dari matanya, Yuya bisa memastikan kalau kesadaran belum kembali pada Jin

“Apa dia...Dinchan?”, tebak Yuya

“Kau benar-benar punya bakat esper, adikku!”

“Apa?!”, Yuya membelakakkan matanya

Jin tak membalas

“Lalu...lalu kenapa Aniki kabur dari perjodohan yang telah dirancang? Perjodohan antara putra pertama keluarga Takaki dengan putri keluarga Ikuta! Kenapa Aniki tidak menerima perjodohan itu?!”

Jawaban dari Jin membuat Yuya memunculkan sebuah pertanyaan besar. Tentang masa lalu mereka. Tentang Jin yang kabur dari rumah karna menolak perjodohannya dengan putri keluarga Ikuta yang tak lain adalah Dinchan yang sejak dulu disukainya.

“Alasannya...alasannya adalah kau, Yuya...!”, Yuya semakin terkejut ketika Jin mengarahkan telunjuk ke dadanya masih dengan ekspresi khas orang yang tengah mabuk

“Ma, maksudnya?!”

“Aku tahu, Yuya. Aku tahu, sejak dulu kau menyukai Dinchan. Walaupun kau selalu melakukan hal-hal konyol padanya, tapi aku bisa membaca dengan jelas kalau kau suka dia. Aku kabur dari perjodohan supaya kau bisa bersamanya, Yuya!”, Yuya seolah tak bisa berkata mendengar pemaparan yang keluar dari mulut Jin secara gamblang. Ia berani bertaruh, dalam keadaan sadar, Jin tak mungkin bertutur sejujur itu

Yuya masih mematung, pikirannya belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang dipaparkan Jin. Masih terkejut.

“Aku menyayangimu, Yuya. Sejak kepergian ibu, mendapatkanmu sebagai adik seperti membawa harapan baru untukku, harapan untuk jadi anak yang baik, menjadi seorang kakak...”

Ya, wanita yang dipanggil ibu oleh Jin dan Yuya saat ini adalah ibu dari Yuya. Sementara wanita yang melahirkan Jin meninggal karna kecelakaan saat Jin berusia lima tahun dan kemudian ayah mereka menikahi wanita yang kelak melahirkan Yuya, sebagai adik dari Jin. Begitu yang pernah Yuya dengar dari ayah mereka.

“Aku sangat menyayangimu, juga Dinchan...Aku tak ingin mengecewakanmu, kabur dari perjodohan dengan harapan kau bisa bersama Dinchan. Kupikir aku masih bisa tetap menunjukkan perasaanku padanya dengan cara lain, memperlakukannya seperti adikku...”, pengakuan Jin masih berlanjut

“Tapi Dinchan juga sejak dulu selalu menyukai Aniki. Dia terobsesi pada Aniki!”

“Yuya...aku bisa melihat perbedaan dari caranya melihatmu...”

Yuya tak bisa membalas

“Berusaha mengabaikan perasaanku sendiri ternyata tak mudah. Walaupun aku mengencani banyak gadis, semuanya terasa hampa. Ketika aku bertemu Naomi, dia mulai mengisi kekosongan di hatiku. Tapi sekarang, Naomi...”, Jin mulai terlihat frustasi

“Tak apa, Aniki...aku mengerti...”, entah hal apa yang mendorong Yuya untuk mendekap Jin kedalam pelukannya. Baginya itu terasa sangat...aneh, dan pastinya, canggung. Tapi Yuya sangat ingin menenangkan kakaknya itu. Saat Jin mulai menangis, hatinya juga terasa sakit. Terlebih setelah pengakuan yang dilakukan Jin dalam keadaan tak sadar. Jin telah banyak menderita rasa sakit. Ia mengorbankan perasaan pada Dinchan yang disukainya. Jin juga kembali kehilangan, setelah kehilangan ibunya dalam kecelakaan, sekarang hal itu berulang pada Naomi

“Ne, oyasumi...”, ucap Yuya lembut ketika mematikan lampu kamar Jin dan menutup pintunya.

Kalimat demi kalimat dari pengakuan Jin terus berlalulalang di pikirannya.

“Hh...”

Galau. Yuya menyandarkan kepalanya di pintu kamar Jin, menghela napas berat. Ia masih tak bisa percaya akan apa yang telah didengarnya.

Jin. Sekalipun Yuya telah bersama sang kakak selama 18 tahun hidupnya, tapi banyak hal yang baru diketahui dari kakak sematawayangnya itu.

Yuya mengagumi Jin. Tentang pembawaannya yang menyenangkan. Kedewasaannya sebagai seorang kakak. Caranya menjalani hidup dengan penuh kebebasan. Dan Jin tentunya punya semua yang disukai dan diinginkan Din. Tanpa pernah diungkapkan, Yuya selalu ingin menjadi seperti sang kakak yang begitu disukai Din. Tapi dibandingkan dengan Jin, sekaligus membuatnya sangat kesal karna merasakan tak adanya penghargaan sebagai seorang individu untuknya, hanya adik-dari-Takaki Jin.

Dibalik semua tingkah konyol yang menyenangkan, ternyata Jin menyimpan kesedihan. Mengorbankan perasaannya sendiri demi Yuya. Yuya selalu berpikir bahwa mengencani banyak gadis adalah ekpresi Jin untuk menunjukkan kebebasan hidupnya.  Ternyata Yuya salah, itu hanyalah upaya Jin mencari tempat dimana perasaannya akan berpaut. Naomi begitu sempurna untuk Jin. Ia sama sekali berbeda dari gadis-gadis lain yang menjadi teman kencan Jin.



END OF FLASHBACK
------------------------

Andai saja Yuya sudah mendapatkan lisensi mengemudinya, ia akan duduk di bangku kemudi dan membiarkan Jin duduk bersama Din di bangku penumpang.

Jin membiarkan Din untuk menangis hingga ia lega. Nafasnya kini terengah. Bibirnya kelu dan wajahnya sembab luar biasa. Kepalanya mulai pusing dan perutnya terasa mual karna terlalu banyak menangis.

Yuya sedikit banyak menyesali dirinya sendiri yang tak bisa menenangkan Din sebaik Jin. Saat gadis itu mulai terguncang sedih, seharusnya jemari Yuya yang menyilang dan menggenggam erat tangannya. Saat tangis mulai pecah, harusnya Yuya yang datang mendekapnya. Begitu yang diinginkan Yuya, tapi ia tak bisa.

Saat Din masih menyisakan isaknya, Yuya hanya bisa diam –hatinya ikut merasakan perih. Sekalipun ia duduk disamping gadis itu. Yuya benci itu. Dulu ia bisa menenangkan Dinchan yang menangis, tapi kenapa saat ini terasa berbeda.

Juga Jin, matanya hanya menatap lurus kejalanan luas di depan yang mereka lalui. Yuya yakin, saat ini Jin ingin menangis, tapi ia berusaha untuk kuat, berpura-pura terlihat kuat.

--------------


Py kembali mencoba menghubungi Hikaru untuk keberapa kalinya. Ponsel Hikaru tak aktif, Py sedikit khawatir dengan keadaan Hikaru yang tak juga ada kabar. Sudah beberapa hari pula Hikaru tak datang ke sekolah. Py yang tak sanggup untuk bertanya pada tiga teman Hikaru yang lain, ia malu untuk sekedar bertanya pada Yabu atau Taiyou.

Di tambah Py tahu Yabu sedang ada masalah dengan Miyuy, menambah ke tidak percayaan Py untuk bertanya pada Yabu.

“Huufftt~”, Py melepaskan nafas berat.

Sudah hampir empat hari, dan atap ini terasa sangat kosong tanpa kehadiran HIkaru. Tapi Py sedikit heran, dengan tak adanya Hikaru, ia lebih sering menggambar lagi, dan tentu saja ia menggambar sosok Hikaru.

Py kaget ketika seseorang terdengar datang ke atap. Jarang sekali ada yang mau mengunjungi tampat tertinggi di sekolahnya itu.

“Miyuy-chan??”, Py kaget melihat sosok Miyuy yang datang tiba – tiba.

“Hi Py!!”, sapa Miyuy lalu duduk di sebelah Py.

“Ano…. Daijoubu??”, tanya Py takut – takut.

Miyuy merebahkan kepalanya di bahu Py, menggeleng pelan. “Aku tak tahu apa menghindar darinya adalah keputusan tepat… tapi aku juga tak sanggup berdekatan dengannya….”, jelas Miyuy.

Py tak mampu menjawab. Baginya yang tak pernah mengalami masalah percintaan sangat sulit untuk dirinya memberi nasehat atau pandangan.

“Py menunggu Yaotome-kun?”, tanya Miyuy mengagetkan Py.

“Eh??hmmm~ tidak kok…”, jawabnya gugup.

“Sou…. Kukira kau menunggunya…”, imbuh Miyuy sambil baranjak dan menuju pinggir atap. Entah apa yang Miyuy pikirkan, tapi keduanya sibuk dengan pikiran masing – masing.

“Dinchan terpukul sekali ya… ia belum masuk hingga hari ini…”, kata Py akhirnya membuka pembicaraan.

“Ya…”, jawab Miyuy pelan.

“Aku juga akan begitu jika aku jadi Dinchan…”, ungkap Py lagi.

Miyuy kembali tak menjawabnya.

“Aku mau ke perpus ya Py-chan… mau ikut?”, tanya Miyuy sambil beranjak.

Py menggeleng, “Aku disini saja..”, jawab Py.

“Baiklah…”, Miyuy meninggalkan Py sendiri lagi.

Py kembali melihat ke arah ponselnya yang belum juga berbunyi sejak tadi. Py mulai ber asumsi jika terjadi sesuatu pada Hikaru.

“Apa dia sakit dan tak ada yang merawatnya?”, tanya Py dalam hati.

“Atau dia kecelakaan?”

“Atau dia…..”

Semakin lama justru pikirannya semakin kacau. Py membuka buku sketsa nya. Memutuskan bahwa menggambar adalah satu – satu nya cara dia untuk melupakan kenyataan bahwa Hikaru tidak ada.

“Menggambar apa?”, tanya seseorang mengagetkan Py.

“Kyaaaa~”, teriaknya panik dan menutup buku sketsanya.

Ia dihadapan Py.

Tersenyum seperti biasanya.

Tak ada yang kurang dari senyum itu

“Hikka-kun~ “, panggil Py lirih.

Rasanya sudah sangat lama ia tak melihat Hikaru di hadapannya.

“Tak usah kaget begitu…”, ujar Hikaru lalu duduk di samping Py, menyentuh pipi Py pelan dengan kedua tangannya.

Py masih diam karena tak sangka ia malah merasa sangat rindu pada Hikaru. Sehingga rasanya seperti mimpi melihat Hikaru di hadapannya.

“Apa kabar?”, tanya Hikaru, seakan tak terjadi apa – apa.

“Baik..”, jawab Py menunduk karena baru sadar ia memandang Hikaru cukup lama.

Keheningan terjadi setelahnya. Hikaru menggenggam tangan Py namun tak bersuara sedikitpun. Tidak seperti Hikaru yang biasanya.

“Hikka-kun…”, panggil Py pelan.

“Ya?”

“Anou…. Hikka-kun kemana saja? Aku jarang melihatmu di sekolah…”, kata Py pelan. Ia tak mau bilang kalau ia menunggu Hikaru di atap ini setiap hari.

“Ada sesuatu yang harus kuurus..”, jawab Hikaru, mempererat genggamannya pada Py.

Tak seperti Hikaru yang biasa sangat ceria, Hikaru yang kali ini di hadapan Py sangat pendiam.

“Pulang sekolah mau ke taman?”, seru Hikaru yang terdengar seperti ajakan kencan.

Py mengangguk.

--------------

Yabu menuju perpus. Walaupun bukan kebiasaannya berdiam diri di perpus, tapi seridaknya suasana hening disana dapat sedikit membuatnya lebih baik. Ia benci perasaan bingung seperti ini, dan dalam keadaan seeprti ini, ia juga tak mau diganggu oleh Shoon atau Taiyou.

Suasana perpus memang bukan hal yang biasa untuk seorang Yabu yang biasanya berada di tempat keramaian. Sehingga kali ini pun Yabu merasa sedikit bosan di tempat ini, namun tempat inilah yang paling tidak mungkin didatangi ketiga temannya, sehingga ia bisa sendirian. Pikiran Yabu sedang kacau, Miyuy tak mau dihubungi, sama sekali tak ada kabar, bahkan di sekolah pun rasanya sulit menemui Miyuy.

Jemari Yabu memainkan buku yang entah apa judulnya ia pun tak tahu. Ia hanya bergerak tanpa berfikir apapun.

“Eh? Yabu-kun…”, panggil seseorang.

Yabu menoleh, dan setelahnya kaget dengan siapa yang dihadapannya. Yabu tak menjawab panggilan itu, hanya memandang sosok di hadapannya sekarang.

“Hisashiburi…”, sapanya lalu menghampiri tempat Yabu.

“Ah yea~ hisashiburi…”, jawab Yabu akhirnya.

“Ada apa Yabu-kun? Tak biasanya kau ada di perpus…”, seru orang itu karena tahu kebiasaan Yabu.

Lagi – lagi Yabu enggan menjawab.

“Pasti kau ada masalah ya?”

“Maa~ bisa dibilang seperti itu.”, jawab Yabu singkat.

“Aya!! Aku menemukan buku itu!”, seru seseorang memanggil gadis di hadapan Yabu.

“Iya! Aku kesana…”, lalu menoleh kemabali pada Yabu, “Aku duluan Yabu-kun… mudah – mudahan kita bisa bertemu lagi..”, kata gadis itu lalu tersenyum.

Yabu bahkan masih bingung ketika Ayame meninggalkan tempat itu, kenapa Ayame menyapa nya?

-----------------

Genggaman tangan Hikaru tak terlepas dari tangan Py sedari tadi. Tapi tak seperti Hikaru yang selalu ceria, kali ini tampaknya Hikaru cukup murung. Py hanya bisa menurut kemana Hikaru membawanya tanpa banyak protes, dadanya bergemuruh karena senang dan lega melihat Hikaru lagi.

Hikaru mengajak Py duduk di bangku taman yang biasa mereka datangi. Tempat ini juga yang menjadi saksi mereka menjadi dekat.

“Py….”, panggil Hikaru pelan.

Tanpa menjawab, Py menoleh memandang Hikaru.

“Kali ini langitnya cukup cerah…”, kata Hikaru seakan bermonolog.

Py ikut menengadah melihat langit sore yang memang terlihat cerah dengan semburat jingga memenuhi warna langit.

“Un…”, jawab Py.

“Py pernah bilang kalau Py paling suka sama langit cerah kan?”, ujar Hikaru lagi.

Py mengangguk.

“Aku juga suka langit cerah…”, kata Hikaru.

“Kenapa?”

“Karena mengingatkanku pada Py.. hehe…”.

Py hanya diam saat ia merasa genggaman Hikaru semakin kuat.

“Ada yang salah?”, tanya Py akhirnya mencoba berani bertanya pada Hikaru.

Hikaru menjawab dengan senyumannya, lalu menggeleng pelan, “betsu ni… tidak ada apa – apa kok…”

Py ingin sekali tahu apa yang sedang Hikaru rasakan. Setidaknya ia ingin meringankan beban Hikaru sedikit saja. Karena tampaknya Hikaru sangat murung.

“Hikaru-kun…”, panggil Py.

Hikaru tak menjawab, menggenggam tangan Py lebih erat. Mereka terdiam. Merasakan kehenigan yang justru membuat mereka tenang dan damai, ditemani oleh langit sore itu.

---------------

Kejadian sapa menyapa siang itu di perpus membuat Yabu heran setelah sore itu ketika ia hendak pulang, sosok Ayame ada di depan kelasnya.

“Yabu-kun!!”, sapanya ceria.

Yabu hanya memandang Ayame tanpa kata – kata karena terlalu heran.

“Ada yang ingin aku bicarakan!!”, serunya.

“Hmmm~ aku tak bisa sekarang Aya… aku ada urusan..”, elak Yabu cepat.

Ayame menunjukkan wajah sedih, “Baiklah… besok bagaimana?”, tanya nya lagi.

Yabu mengangguk, “Maa~ baiklah…”, jawabnya sekenanya.

Yabu hari itu akan ke rumah Miyuy. Bagaimana pun ia harus menjelaskan semuanya pada Miyuy. Walaupun ia tahu, seharusnya Miyuy sekarang masih marah padanya.

Selain itu ia juga akan ke apartemen Hikaru.

Sesampainya di depan rumah Miyuy, dengan perasaan tak tentu Yabu men dial nomor Miyuy, ia tak yakin akan di angkat, tapi setidaknya ia mencoba.

Benar saja, setelah nada sambung berakhir, belum juga ada jawaban.

Akhirnya Yabu memutuskan untuk memencet bel rumah Miyuy. Walaupun ia tak yakin apa yang ingin ia katakan saat itu.

Tak lama seseorang keluar.

“Eh? Yabu-kun?”, Miyuy lah yang keluar saat itu.

“Aku ingin membicarakan sesuatu…”, kata Yabu akhirnya.


“Ne… Miyuy-chan… soal waktu itu… gomen…”

Mereka berdua tak bicara di rumah, Miyuy membawa Yabu ke sebuah taman dekat rumahnya.

“Wakatta!!”, teriak Miyuy tiba – tiba.

Yabu menoleh karena kaget dengan apa yang Miyuy katakan.

“Aku tahu Yabu-kun saat itu hanya terbawa emosi sesaat. Maafkan aku meragukan Yabu-kun… setelah kupikir… aku juga keterlaluan..”, kata Miyuy.

Beberapa hari setelah itu, Miyuy terus berfikir tentang hal ini, dan ia pun punya satu kesimpulan kalau memang saat itu tak ada yang salah, semuanya hanya salah paham saja. Ia hanya terbawa emosi juga hingga meninggalkan Yabu begitu saja.

“Miyuy-chan…”

“Aku percaya pada Yabu-kun…”, kata Miyuy lagi lalu tersenyum pada Yabu.

Mau tak mau Yabu tersenyum juga, rasanya tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan saat itu. Secara refleks tubuh Yabu mendekat dan mendekap Miyuy.

“Eh? Yabu-kun…”

“Maaf telah membuatmu khawatir…”, bisik Yabu.

Miyuy hanya mengangguk, ia tahu ia bisa mempercayai Yabu.


-------------------

Hingga hari ini Opi masih belum bisa melupakan kejadian saat Inoo mencium keningnya di bianglala. Ia terus saja terbayang ekspresi wajah Inoo yang walaupun penuh memar saat itu, serius dan sangat sungguh – sungguh.

Tak ada pernyataan apapun, dan mereka hanya diam hingga mereka pulang, tapi genggaman tangan Inoo tak lepas dari tangan Opi, dan itu membuat pipi nya selalu memerah saat memikirkan wajah Inoo. Opi menggelengkan wajahnya, menampar pipinya pelan.

“Tidak boleh!!! Jangan berfikiran macam – macam!!”, perintahnya pada diri sendiri di kaca.

“Nee-chan…”, panggil seseorang dibalik pintu, yang tak perlu diragukan lagi itu pati adiknya yang selalu ikut campur urusannya.

Opi menoleh, “Apa?”

“Pacarmu datang tuh~”, goda Yuuri sambil mendekati kakaknya.

Dengan sigap Opi melempar sebuah bantal pada Yuuri, “Dia bukan pacarku!!”, elak Opi.

“Bohong!!”, seru Yuuri sambil menangkap bantal itu, “Aku kan liat Nee-chan dan Kei-chan berpegangan tangan waktu di mobil… ayo ngaku!!”, seru Yuuri lagi.

Tak mampu menjawab, Opi merebut bantal yang kini dipegang oleh Yuuri.

“Ahahahaha~ Nee-chan malu yaaa??”, sahut Yuuri bereaksi pada ekspresi malu – malu Opi.

“Uruseeee!! Anak kecil tau apa??!!”, teriak Opi kesal.

Yuuri menjauh mencoba mengelak dari hantaman bantal yang dilemparkan oleh kakaknya.

“Oops~ hati – hati Opi-chan..”

Suara itu mengagetkan Opi, ternyata Inoo sudah ada di depan kamarnya.

“Eeehh?? Inoo-kun…”, sapa Opi lirih.

Inoo mengacukan tanda peace, “Yo!! Aku mau menjemput muridku… ayo Yuuri-chan.. kita harus latihan…”, kata Inoo sambil menarik Yuuri dari tempat itu.

“Ah, sou…”, Opi tak mampu menjawab Inoo.

Tak lama, sosok Inoo kembali mucul di ambang pintunya, “Nanti kita bicara lagi Opi-chan…”, kata Inoo sambil berlalu.

Opi mengangguk dengan gugup.


Setelah selesai mengajar, Inoo mengajak Opi berbicara di halaman belakang rumah Opi. Seperti yang sudah – sudah, Mama Opi mengajak Inoo makan malam, dan sambil menunggu makan malam siap, Inoo mengajak Opi sedikit mengobrol. Seperti kebanyakan rumah a la Jepang, rumah Opi juga punya halaman belakang yang walaupun sempit, namun lumayan asri.

“Kau sedikit pendiam hari ini…”, kata Inoo.

“Eh? Eh?? Maa~ aku baik – baik saja…”, jawab Opi sedikit gugup.

“Souka…”

“Inoo-kun juga tak terlalu banyak bicara…”, kata Opi sambil menatap Inoo.

“Banyak hal yang sedang kupikirkan Opi-chan…”, jawab Inoo, menatap Opi yang sukses mebuat Opi memalingkan wajahnya karena malu menatap Inoo.

“Hmmm… apa yang Inoo-kun pikirkan?”

“Ayahku, kuliahku…kau tahu… Ibuku kemarin menemuiku… setelah setahun ini tanpa kabar sama sekali.”, jelas Inoo.

“Eh??”



-Flashback-

Inoo masih ada di studio gambar ketika ia menerima telepon. Ia menatap layar ponselnya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Moshi – moshi?”, angkat Inoo sedikit pelan.

“Kei-chan… hisashiburi…”, kata orang diseberang.

“Okaa-chan?”, seru Inoo kaget.

“Hai… ini Ibu… datanglah ke restaurant besok siang…”, perintah Ibunya tanpa basa – basi.

“Kaa-chan…”

“Kumohon Kei-chan… kita harus bertemu..”, kata Ibunya lagi.



Maka hari selanjutnya Inoo mendatangi Ibunya. Di tempat yang paling ia hindari, restaurant milik keluarganya. Yang sudah ada sejak dua generasi sebelumnya. Sudah banyak cabang dari restaurant itu, dan sudah terkenal di seluruh negeri. Bahkan Ayahnya berhasil membangun usaha – usaha lain dan mempunya banyak investasi di berbagai perusahaan.

“Hisashiburi Okaa-chan..”, sapa Inoo saat ibunya datang menghampiri.

“Hisashiburi… Kei-chan..”, balas Ibunya.

Inoo meneguk teh yang ia pesan, tenggorokannya sedikit kering menghadapi Ibunya sendiri, “Ada apa Kaa-chan?? Setelah setahun, kau tak pernah menghubungiku..”, kata Inoo pelan.

“Pulanglah Kei-chan…”, sahut Ibunya cepat.

Inoo sudah tahu pasti ini yang ingin dibicarakan Ibunya.

“Setelah Otou-san mengusirku?? Tidak Kaa-chan, aku harus menyelesaikan kuliahku.. aku tak mau terus ia dikte…”, jawab Inoo mantap.

“Kei-chan… kau tahu seberapa inginnya ia kau jadi penerusnya…”

“Maka dari itu aku tak bisa Kaa-chan… aku tak mau jadi penerus Ayah.. aku punya masa depanku sendiri…”, Inoo dengan cepat memotong pembicaraan Ibunya.

“Kei-chan!! Dengarkan Ibu… restaurant ini sudah aja sejak kakek dari ayahmu ada… kau harus menghargainya.. kau anak laki – laki kami satu – satunya…”

“Dakara Kaa-chan!! Aku tak mau… menjadi arsitek sudah jadi impianku sejak kecil.. tak bisakah kalian menghargai apa yang aku mau?”

“Jangan egois Kei-chan!! Kau harus memikirkan perasaan Ayah dan juga Ibu….”

“Kaa-chan… aku bukan satu – satunya anak ayah…”

Ibunya sedikit tak sabar, meminum the hangatnya juga, “Kei-chan… kau anak pertama, kau kebanggaan Ayahmu… ia begitu senang ketika kau berhasil loncat kelas, ia begitu bangga… dan jika kau setuju mengambil bisnis ini..”

“Kaa-chan kumohon… aku tak mau lagi berdebat soal ini… gomen Kaa-chan..”, Inoo beranjak dan meninggalkan restaurant itu.

-Flashback end-



“Souka naaa~”, kata Opi yang tak tahu harus bereaksi bagaimana setelah mendengar cerita Inoo.

“Sudah ditentukan aku akan jadi penerus ayah sejak aku kecil..”, jelas Inoo.

“Inoo-kun punya adik? Tadi Inoo-kun bilang kau bukan anak satu – satunya..”, tanya opi sedikit berhati – hati agar Inoo tak tersinggung.

Inoo mengangguk, “Ada. Adik perempuan…dia sudah hampir SMA juga sekarang..”

“Sou… mungkin karena itulah Ayahmu ingin kau jadi penerus?”

“Ya… karena adikku perempuan…”, seakan Inoo tahu apa yang Opi pikirkan.

“Kenapa tak coba pulang?”, tanya Opi takut – takut.

“Aku tak bisa pulang sebelum membuktikan diri kalau aku bisa mandiri dan punya hal hebat yang bisa kubanggakan di depan Ayah.”, jelas Inoo.

“Tapi Inoo-kun… pasti ada alasannya kan Ibumu sampai mendatangimu ke sini karena khawatir padamu..”, kata Opi lagi.

“Tidak. Mereka hanya khawatir pada restaurant dan perusahaan saja..”, elak Inoo terlihat lebih emosi dari biasanya.

“Menurutku tidak begitu…”, elak Opi, “Bagaimana jika Inoo-kun coba tanya mereka…”, kata Opi lagi.

Inoo menatap Opi lama, membuat Opi seidkit agak risih, karena tatapan tajam milik Inoo.

“Opi-chan… aku tak mau datang hanya untuk di usir lagi…”, katanya lalu segera meraih tangan Opi yang duduk di sebelahnya.

“Inoo-kun… kau harus mencobanya lagi.. bagaimana pun mereka orang tua mu…”, ujar Opi.

Inoo menarik telapak tangan Opi ke wajahnya, menempelkan tangan tersebut di pipinya sendiri. Inoo menunduk. Dalam. Seakan ingin menyerap kekuatan dari tangan Opi. Dirinya terlalu pusing harus bersikap bagaimana, semua pertanyaan tentang masalahnya dan orang tuanya terus berputar dalam otaknya.

“Inoo-kun…”, panggil Opi lirih.

“Biarkan begini dulu sebentar…”, kata Inoo.

Maka Opi membiarkan Inoo, memberikan waktu untuknya.

“Akan kucoba… mau menemaniku kesana?”, katanya tiba – tiba sambil menengadah memandang Opi.

“Eh?”, seru Opi kaget, “Nande?”

“Tidak ada alasan.. aku hanya ingin kau menemaniku..”

“Wakatta… baiklah…”, jawab Opi.

Inoo kembali menggenggam tangan Opi, namun keduanya tak lagi bersuara. Keduanya menikmati suasana malam itu dalam keheningan.

“Huwaaaa~ Neechan dan Kei-chan beneran pacaran yaaaa!!”, teriak Yuuri tiba – tiba dari belakang mereka.

“Diam anak ingusan!!”, seru Opi sambil mengejar adiknya itu.

“Hehehe~ bilang Ibu ya…”, ancam Yuuri sambil tertawa – tawa menghindari Opi.

Inoo hanya tersenyum melihat keluarga ini. Keluarga yang tak pernah ia miliki.

-----------------

TBC~ oh TBC~
setiap 4 bulan gini update nya...
mari terus berdo'a biar ini cepet beres..LOL
GANBARIMASU!!! :)