Tampilkan postingan dengan label Nu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

[Fanfic] Accidentally In Love (chapter 11)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Eleven
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG - 13
Starring : all HSB member (Takaki Yuya, Yabu Kota, Yaotome Hikaru, Arioka Daiki, Inoo Kei), Takahashi Nu (OC), Ikuta Din (OC), Yamashita Opi (OC), Yoshitaka Py (OC), Misaki Miyuy (OC), Akanishi Jin as Takaki Jin, and other character… ^^
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Akanishi Jin are belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~ maap lamaaaaaaa~ XP


Accidentally In Love
~Chapter 11~

Siang yang tak begitu panas, namun Opi merasa dirinya cukup berkeringat di cuaca seperti ini. Alasannya karena ia ada di depan rumah Inoo. Ia memang tak sendiri, tapi tetap saja ia merasa gugup. Layaknya seseorang mau bertemu Ibu mertua.

“Arigatou ya Opi-chan, sudah mau menemaniku bertemu orang tuaku..” kata Inoo sambil tersenyum ke arah Opi.

Opi membalas senyum itu dengan canggung, ia tak yakin mentalnya siap untuk menghadapi ini. Tapi bagaimanapun ia sudah berjanji pada Inoo, maka ia tak bisa mengelak sama sekali.

Rumah itu cukup besar, dengan dekorasi klasik Jepang. Ia bisa membayangkan orang tua Inoo memakai kimono ketika di rumah, mungkin juga Inoo seperti itu jika di rumah. Entahlah, ia mulai memikirkan hal – hal aneh ketika ia gugup.
“Ayo…” ajak Inoo menarik sedikit tangan Opi yang sejak tadi ia genggam.

“Hmm.. ayo..”, jawab Opi melangkahkan kaki masuk ke pekarangan rumah itu bersama Inoo di sampingnya.

Inoo menunduk pada beberapa pekerja yang ada di depan rumahnya.

“Tuan muda…” seru seorang wanita yang cukup renta ketika pintu terbuka.

“Mayo-chan!!” kata Inoo seraya memeluk wanita tua itu.

“Kemana saja kau? Berani – beraninya tidak pulang setahun lamanya..” kata wanita itu masih menepuk – nepuk punggung Inoo.

“Ah iya… ini Yamashita Opi…” kata Inoo setelah melepaskan pelukan itu.

“Yamashita Opi desu… yoroshiku onegaishimasu..”

Wanita itu tersenyum, “Panggil saja Mayo…. Aku pengasuh Kei-chan sejak ia baru lahir..” jelasnya.

Opi balas tersenyum. Mereka pun masuk dan diminta menunggu di sebuah ruangan. Tak lama, seseorang masuk yang Opi tebak sebagai Ibunya Inoo.

“Akhirnya kau datang Kei-chan..” kata Ibunya lalu duduk di hadapan Inoo dan Opi.

Dugaan Opi benar, wanita yang kini duduk di hadapannya memang memakai kimono, terlihat anggun, hasil didikan sejak muda menjadi nyonya rumah yang sejati. Opi memandang blouse sederhana yang ia pakai, dan sedikit menyesal tak mempersiapkan diri lebih banyak.

“Bukankah memang Okaa-chan yang meminta aku pulang?” tanya Inoo.

“Iya… karena Otou-san ingin bicara denganmu..” kata Ibunya, “Kau??” ia melihat Opi dengan padangan penuh tanda tanya.

“Yamashita Opi desu… yoroshiku onegaishimasu…” Opi menunduk sedikit.

Selang beberapa detik kemudian seorang laki – laki paruh baya yang terlihat gusar dengan kedatangan Inoo pun masuk. Tak perlu ditanya, itu pasti Ayahnya Inoo.

Wajah Inoo menegang, rahangnya terkatup rapat seolah ia akan marah. Opi merasakan tangan Inoo meraih tangannya dibawah meja, meremas tangan Opi dengan kuat seakan meminta kekuatan dari Opi.

“Kau pulang untuk apa?!” seru laki – laki itu.

Inoo tak menjawab.

“Anata~ bicara baik – baik…” tegur Ibunya Inoo lembut.

“Aku ingin ayah menerima keputusanku…” kata Inoo to-the-point.

“Ayah akan menerima pilihanmu untuk jadi arsitek, asal dengan satu syarat…” kata Ayahnya tenang.

“Apa?” Inoo menggenggam tangan Opi lebih erat.

“Kau harus ikut omiai minggu depan… setidaknya kau akan menikah dengan gadis yang ayah inginkan..” mata pria paruh baya itu mendelik ke arah Opi.

“Aku menolak…dan akan selalu menolak…” Inoo berdiri menarik Opi, “Aku pulang dulu Okaa-chan…” katanya terlihat sangat emosi.

“Cih~ melarikan diri lagi? Apa karena gadis itu kau tak mau?” tanya Ayahnya tanpa sedikitpun menoleh menatap anak laki – laki yang dulu selalu jadi kebanggannya itu.

“Iya… Ayah memang tak pernah memikirkan perasaanku kan?” Inoo menarik Opi menjauh dari ruangan itu.

“Ini demi kebaikanmu!!” seru Ayahnya.

Inoo tak ingin mendengar apa – apa lagi dan membawa Opi keluar dari rumah itu dengan tergesa – gesa.



“Inoo-kun…” panggil Opi setelah mereka naik bis, tujuan mereka kali ini tentu saja rumah Opi.

“Sebenarnya apa mau orang tua itu?!” umpatnya kesal.

Opi mencoba menenangkan Inoo yang terlihat emosi.

“Harusnya Inoo-ku jangan emosi dulu… ne?” kata Opi tenang.

Inoo menoleh menatap Opi, “Gak bisa gitu…dia seenaknya bilang bahwa aku harus omiai dengan orang lain? Ffuh~ bercanda nya keterlaluan…” kata Inoo lagi.

“Kenapa memang?” Opi sendiri was – was menantikan jawaban Inoo.

“Umurku baru berapa? Sudah harus omiai??!!” seru Inoo lagi.

“Mungkin sekarang tahap perkenalan dulu saj…”

Omongan Opi terpotong karena tatapan Inoo yang tiba – tiba marah, “Kita pacaran kan? Kenapa kau bilang seperti itu?” tanya Inoo gusar.

“Hah? Kita apa?” Opi mencoba mencerna semua kata – kata Inoo tadi.

Ia memang mendengar kata itu, tapi ia tak yakin Inoo seratus persen sadar saat mengatakannya.

“Maksudku..hubungan kita tak sekedar teman kan? Iya kan?” kini nada bicara Inoo seperti menuntut kejelasan dari Opi.

“Itu…aku…” mata Opi bergerak – gerak bingung.

“Entah apa yang kau rasakan… tapi buatku kau tak pernah hanya jadi sekedar teman…”

Bibirnya kelu, ia tak tahu harus mengucapkan kata apa. Opi menemukan dirinya ingin berkata yang sama, namun hatinya sendiri masih takut mengungkapnya.

=========

Yabu melambaikan tangannya pada Miyuy, “Ya sudah…hati – hati ya Miyuy-chan..” serunya.

“Aku kan cuma mau ke kelas…” cibir Miyuy pada Yabu.

“Hehehe… iya…” suasana hati Yabu akhir – akhir ini membaik dengan membaiknya hubungannya dengan Miyuy.

Mereka baru saja makan siang di dekat taman sekolah, hanya berduaan karena mereka merasa ingin begitu. Akhir – akhir ini mereka memang sering menghabiskan waktu berduaan, seakan mereka ingin hubungan mereka tak renggang lagi.

“Kou-chan!!” panggil seseorang padanya ketika ia baru saja menginjakkan kaki di kelas.

“Kenapa kau?” ternyata itu Taiyou yang memanggilnya.

“Ini…maaf kelamaan minjemnya..” Taiyou menyerahkan sebuah buku.

“Ah… iya… jangan – jangan aku kena denda lagi…” keluh Yabu, karena ia meminjamnya dari perpustakaan.

“Tidak!! Aku sudah mengechecknya… sampai hari ini batas waktunya..” sambar Taiyou.

“Baiklah…aku ke perpus dulu deh..” kata Yabu akhirnya.

Sialnya buku ini dipinjam atas namanya, sehingga ia sendiri yang harus mengembalikannya.

“Yabu-kun…” suara itu, Yabu hapal benar karena baru beberapa hari ini orang itu memanggilnya seperti itu.

“Ayame…” ucapnya lirih.

Yabu di daulat untuk mengembalikkan buku itu ke raknya seorang diri, tak sangka ia malah bertemu dengan Ayame.

“Kenapa waktu itu tak datang?” tanya Ayame dengan raut wajah sedih.

“Eh? Apa maksudmu?” Yabu benar – benar tak ingat apapun.

“Hidoi!! Yabu-kun lupa janji kita…” kini mata Ayame terlihat berkaca – kaca, tampaknya tangisnya akan segera tumpah.

“Eh? Chotto… aku benar – benar…”

Yabu memang lupa, beberapa hari lalu Ayame memang mengirimkan sebuah pesan padanya, memintanya bertemu di perpustakaan pada jam istirahat. Namun ia lupa dan tanpa sengaja menghapus pesan itu.

“Etto… gomen na Ayame… aku lupa…” elak Yabu lalu menyimpan buku yang ia pegang karena kebetulan ia sudah menemukan tempat yang benar.

“Padahal Yabu-kun menjawab dengan kata ok saat itu…” mata Ayame kian berkaca – kaca, membuat Yabu tambah bingung.

“Aduh…maaf…” Yabu sekali lagi meminta maaf pada Ayame.

Ayame tertunduk, “Ya sudahlah… tak apa jika Yabu-kun tak mau berbicara denganku lagi..” kata Ayame lalu berbalik meninggalkan Yabu.

Secara refleks Yabu menahan lengan Ayame, “Memangnya ada apa?” tanya Yabu.

“Apa Yabu-kun sudah tidak punya perasaan apa – apa padaku?” tanya Ayame yang masih saja memunggungi Yabu.

“Hah?” demi Tuhan ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud gadis itu.

“Karena aku masih suka pada Yabu-kun…” kini gadis itu berbalik dan tanpa aba – aba memeluk Yabu, melingkakan tangannya di badan Yabu.

“Eh? Ayame… itu… aku…” ia laki – laki, sebagaimanapun hatinya menolak, tapi dipeluk begini tentu saja membuatnya sedikit kaget.

BRAKK!

Buku – buku berhamburan di lantai. Baik Ayame maupun Yabu menoleh, dan mendapati Py tengah melihat mereka berdua.

“Sumimasen..” Py segera berlari keluar perpustakaan, ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, sementara ia tadi melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.

“Kenapa?” tanya Miyuy ketika Py masuk dan melihatnya dengan tatapan aneh.

Py menggeleng, hatinya dilema antara itu bukan urusannya, tapi juga Miyuy sahabatnya, harusnya ia memberi tahu hal ini.

“Hmm… sudah mengerjakan PR matematika?” tanya Miyuy pada Py.

Kali ini ia mengagguk.

“Kau terlihat tegang sekali… ada apa?” tanya Miyuy lagi.

“Itu…aku…itu…” Py melihat Miyuy menimbang – nimbang apakah bijaksana memberi tahu Miyuy hal yang tadi ia lihat.

Tapi di sisi lain itu kan urusan antara Yabu dan Miyuy? Ia takut malah nanti kesalahan bicara bisa menimbulkan presepsi yang berbeda dari Miyuy sendiri.

“Py? Daijoubu?” tanya Miyuy sambil melihat wajah Py yang terlihat mengerenyit, “Wajahmu aneh sekali… ada masalah?”, tanya Miyuy lagi.

“Tidak ada apa – apa…” jawab Py akhirnya.

========

Praktis sudah seminggu ini Py tidak melihat Hikaru. Ia bahkan tak menangkap bayangan Hikaru jika ia berjalan di depan kelas Hikaru.

Kemana ya dia?

Py sungguh ingin bertanya pada Yabu atau Shoon, tapi ia yang jarang sekali berinteraksi dengan laki – laki itu juga tak berani bertanya pada ketiga teman Hikaru.

Kali ini pun begitu. Ia berada di depan kelas Hikaru, 3C. Niatnya ingin bertanya pada Yabu, perihal Hikaru yang juga tak terlihat di sekolah ini.

“Py!” Yabu menghampirinya, benar – benar menghampirinya.

“Anou… Yabu-san…”

“Yoshitaka-san…maksudku… itu…masalah yang kau lihat di perpus..” Yabu sepertinya mencoba menjelaskan kesalah pahaman yang py lihat di perpustakaan.

Seketika Py diam, menyimak apa yang akan Yabu katakan.

“Itu.. hanya salah paham… aku tak ada apa – apa dengan Ayame…” jelas Yabu.

Py mengangguk, “Aku kesini bukan untuk menanyakan itu..” katanya pelan.

“Yokatta… maksudku… aku dan dia benar – benar tak ada apa – apa..” kata Yabu lagi.

“Un… wakatta… lebih baik Yabu-san katakan itu langsung pada Miyuy-chan saja…” jawab Py.

Yabu tersenyum, ia beruntung Py ternyata tidak ingin ikut campur urusan ini.

“Tadi kau bilang…kau kesini bukan untuk itu? Lalu?” Yabu menatap Py yang terlihat semakin malu – malu.

“Err… itu…” Py mengedarkan pandangannya sekilas, “Aku mencari Hika.. Yaotome-kun maksudku…” kata Py sambil tertunduk malu.

“Eh? Kau belum tahu?” Yabu mengerenyitkan dahinya, sekilas tak percaya bahwa Hikaru sama sekali tak memberi tahu Py masalah ini.

“Tahu apa?” tanya Py heran.

“Hmmm.. lebih baik kau ikut aku sepulang sekolah… bagaimana?”

“Eh?” Py menebak – nebak apa yang terjadi sebenarnya.

===========

Koridor itu tampak lengang, tentu saja karena sekarang sudah masuk jam pelajaran. Tapi Miyuy berjalan menuju ruang guru karena di tugasi mengambil buku tugas yang Jun sensei lupa membawanya.

Ugh!

Miyuy mencibir, di hadapannya seorang Ayame baru saja keluar dari ruang guru. Sejak kejadian Inoo memukul Yabu di taman bermain tempo hari, membuatnya kehilangan respek terhadap sekretaris OSIS itu.

Ayame berjalan ke arahnya, lalu tersenyum formil pada Miyuy, khas anak bangsawan dan populer seperti dirinya.

“Misaki-san” panggil Ayame pelan setelah Miyuy melewatinya, “Iya kan?” tanyanya tanpa berbalik sedikitpun.

Langkah Miyuy terhenti, ia juga enggan berbalik.

“Zannen… tapi Yabu-kun akan tetap jadi milikku..” kata Ayame dengan nada bicara yang sama sekali tidak menyenangkan. Terlalu menyebalkan terdengar di telinga Miyuy.

Miyuy tak bergeming, tapi seolah ia menunggu apa yang Ayame katakan.

“Lihat saja… kencan minggu ini, Yabu-kun akan jadi milikku lagi…”

“Kencan?” gumam Miyuy kaget.

“Gadis malang~ kau tak tahu kalau kau hanya pelarian Yabu-kun saja?” tanyanya masih dengan nada sangat menyebalkan.

Ayame bergerak meninggalkan tempat itu tepat ketika Miyuy berbalik ingin meminta penjelasan.

Miyuy terdiam sesaat. Apa yang dimaksud Ayame dengan kencan bersama Yabu? Ia tak mau percaya, tapi gelagat Yabu yang akhir – akhir ini sedikit aneh membuatnya mau tak mau menjadi khawatir.

==========

Sore ini akhirnya Yabu mengajak Py juga Miyuy ke apartemen Hikaru. Miyuy ikut karena memang Yabu akan pergi dengan Miyuy setelahnya.

Sepanjang perjalanan itu Py berfikir hal yang macam – macam. Kenapa Yabu tak mau memberi tahunya langsung saja? Kenapa harus sampai membawanya ke apartemen Hikaru?

Pikiran Py kacau, jika begini ia ingin menangis rasanya.

Sementara di bangku lain di bis ini, Miyuy dan Yabu juga merasakan atmosfir ketidak nyamanan di antara mereka berdua. Yabu merasa ada yang salah dengan sikap gadisnya itu sejak tadi ia ajak pulang bersama. Tapi ia terlalu takut untuk bertanya ada apa?

“Miyuy-chan..” panggil Yabu pelan.

“Hmmm…”

“Daijoubu?” tanya Yabu.

“Daijoubu…” jawab Miyuy sambil mengarahkan pandangan ke jendela luar.

Mulut Yabu terkunci. Selama beberapa bulan berpacaran dengan Miyuy, setidaknya ia tahu kebiasaan Miyuy jika marah, ia akan diam tanpa memberi penjelasan apapun padanya, dan itu tak bisa di ganggu gugat hingga Miyuy sendiri yang memutuskan mau berbicara dengannya atau tidak.

“Ada sesuatu yang harusnya kau katakan tapi tidak kau katakan?” tanya Miyuy tanpa menoleh melihat Yabu.

Yabu tersentak, apa sebenarnya yang ada di pikiran Miyuy?

“Apa maksudmu?” Yabu bersumpah ia tak suka main tebak – tebakan begini.

Miyuy harusnya tahu, ia laki – laki. Terlebih dia mahluk Tuhan yang diciptakan tidak sensitif. Bagaimana caranya ia bisa membaca pikiran Miyuy? Ia bukan cenayang, ia tak punya kekuatan supranatural untuk membaca apa yang gadis itu pikirkan.

“Benar tidak ada?” tanya Miyuy lagi.

“Aku kira…. Tidak ada…” jawab Yabu takut – takut.

“Souka…” Miyuy mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Yabu benar – benar berniat membohonginya berarti.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di halte yang cukup dekat dengan apartemen Hikaru. Py dapat merasakan kejanggalan diantara Yabu dan Miyuy, namun tentu saja tak mungkin ia menanyakannya pada mereka.

Yabu membuka pintu apartemen itu dengan hati – hati setelah meminta kuncinya pada pemilik apartemen.

Pemandangan itu tak sama dengan apa yang biasa Py lihat disitu. Tak ada lagi buku berserakan, atau baju – baju tak tertata di tempat itu. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan tempat itu sekarang, Kosong, tapi Py menangkap Bass milik Hikaru masih ada disitu.

“Yabu-san… maksudnya apa?” Py tak tahan lagi, ia kini menangis dan terisak pelan.

“Hikaru sudah pulang ke Sendai..” jelasnya.

Py melangkah masuk dan mendekati Bass milik Hikaru. Ia tertarik karena ada sebuah kertas disitu.



Dear Py-chan…

Genki desu ka? Aku harap kau sedang tersenyum ketika membaca surat ini.
Aku tahu kau pasti mencariku, maka aku meninggalkan surat ini disini. Kalaupun surat ini di temukan orang lain, aku sudah menuliskan alamatmu di amplopnya. Mudah – mudahan ia mengirimkannya padamu.
Maaf aku pergi tanpa pesan sama sekali.
Ini mendadak sekali, dan aku juga tak tahu harus berkata apa pada Py-chan. Mungkin aku hanya terlalu pengecut untuk mengatakan selamat tinggal padamu. Karena aku tak rela, itu saja.
Aku harus pulang ke Sendai. Ayahku sakit keras, dan sebagai anak tertua aku harus menggantikan ayahku bekerja di tokonya. Yah, Toko ini akan jadi milikku pada akhirnya.
Maka kutinggalkan bass itu. Sederhana saja, aku tak mungkin menjadi musisi seperti keinginanku. Sejak lahir, takdirku di toko ini, dan akan terus di toko ini. Terima Kasih karena Py tidak pernah menertawakan mimpiku. Karena Py aku terus bisa bermimpi, dan yakin jika aku bisa meraihnya. Namun jawabannya tidak, aku meninggalkan mimpiku di Tokyo, kembali pada takdirku sendiri.
Py-chan…
Aku yakin kau bisa jadi mangaka hebat. Aku percaya itu, jika aku tak bisa meraih mimpiku, aku ingin Py bisa melakukan itu. Aku percaya Py bisa.
Sekali lagi, maaf aku tak berpamitan, mungkin setelah semuanya tenang, aku bisa menghubungi Py.
Baik – baik disana. Aku sudah merindukanmu bahkan ketika menuliskan surat ini saja. Haha.

Hikaru

Dan kini air mata Py yang sedari terus mengalir tak dapat dibendung lagi. Py meraih Bass itu, memeluknya karena tak percaya Hikaru tak berpamitan dengannya.

“Sudah Py…tenang~” kata Miyuy sambil memeluk Py.

===========

Terduduk sendiri. Menyesap secangkir black coffee di sebuah café tepi jalan. Yuya Takaki memfokuskan pandang pada tabloid dalam genggaman, namun tidak pikirannya. Seluruh otaknya berkonsentrasi mengingat kejadian beberapa malam yang lalu.



-Flashback-



“Dinchan, aku ingin mengatakan sesuatu…”

“Jinjin…”

“Aku akan pergi ke New York, tinggal disana. Baik-baiklah bersama Yuya disini, oke?”

Deg

“Kenapa?” selaput bening sudah bisa dipastikan menghias iris coklat tua si gadis belia.

“Ini memang rencana lama. Aku, sebagai penerus keluarga Takaki, punya tanggung jawab meneruskan perusahaan keluarga. Aku akan kuliah bisnis, lalu mengurusi cabang perusahaan yang ada disana…”

“Ah, bukankah sejak dulu impian Jinjin adalah menjadi…model?”

Jin tak bisa membalas.

“Aku tahu aku tak punya hak melarang. Tapi aku ingin Jinjin tetap disini…” mencengkram lapisan tebal mantel musim dingin, likuid hangat mengaliri pipi.

“Tolong jangan menangis. Kau punya Yuya disini. Berbahagialah kalian, demi kalian sendiri... dan demi aku...“ mengusap bagian atas kepala Din dengan sayang.

“Jinjin...“ isakan pelan keluar dari mulut Din, ia tak percaya harus merelakan Jin benar – benar pergi dari hidupnya.

“Hh... aku memang tak pintar mengucapkan selamat tinggal...” Jin menarik si gadis kedalam pelukan. Menghalau dingin malam dalam dekap penuh proteksi. Berharap isak akan terhenti.

Aroma maskulin Jin begitu lekat dengan penciumannya. Pelukan itu selalu terasa nyaman. Peduli apa dengan status Din yang merupakan pacar dari Yuya.

“Jangan pergi...”

Sejak kecil, sosok Takaki Jin memang seperti kakak baginya. Terlalu nyaman bersama. Selalu dimanja. Cinta pertamanya.

“Hmm, Dinchan. Ada satu rahasia yang aku akan beritahu.“

“Rahasia?“

“Ya. Kau harus janji tak akan memberitahu siapapun,” tanpa si gadis berambut ikal menyadari, kelingkingnya sudah bertaut dengan milik sang pemuda yang lebih tua.

“A...Aku janji...” ucap Din lirih.

“Hanya antara kau, dan aku...  tak ada lagi yang boleh tahu...”

“Oke...”

Din masih menanti. Tapi bukan kata yang menjadi jawab. Melainkan bibir tipis Jin yang menempel lembut dibibirnya. Hangat, begitu kontras dengan udara sekitar yang mungkin sebentar lagi akan ditaburi warna putih salju.

Din memejamkan matanya. Menikmati beberapa detik yang begitu dinanti selama belasan tahun hidupnya. Jenis berbeda dengan yang biasa, yaitu kecupan di kening yang didaratkan penuh sayang oleh kakak laki-laki, melainkan ciuman romantis yang dianugerahkan pada kekasih hati.

“Aku menyukaimu. Sejak lama. Mungkin sejak saat kau masih kecil hingga terlalu polos untuk menyadari apa-apa. Dinchan, kau cinta pertamaku...” ucap Jin pelan, tepat di telinga Din.

“Bohong! Kalau suka aku, kenapa tak bilang sejak dulu?!”

“Karena aku tahu, tempatku adalah sebagai seorang kakak untukmu...”

“Jinjin bukan kakakku! Sejak dulu aku selalu menyukai Jinjin. Berulang kali patah hati ketika Jinjin kencan dengan perempuan yang mungkin setiap minggu berganti... hingga jadi terbiasa sendiri..” air mata Din terus mengalir, ia begitu menyesal, tapi ia juga tak tahu harus berbuat apa.

“Tak ada yang seperti dirimu...” kalimat sederhana yang begitu menentramkan jiwa.

“Hh... aku yakin, Naomi-neechan berbeda…” ujar Din.

Menjawab dengan senyuman sederhana namun penuh makna.

“Jinjin...”

“Aku akan berbahagia untuk kalian, kedua adikku,” Ia tersenyum mengisyaratkan janji yang pasti ditepati, sebelum kembali mendekap hangat untuk yang terakhir kali.

Tak lagi membalas, Din hanya membiarkan diri tenggelam dalam pelukan si Takaki yang lebih tua. Setengah mati meyakini hati akan belajar merelakan dirinya yang menjadi sosok ditinggal pergi dengan perasaan yang baru diketahui bukan tak berbalas.

Jin telah menjadi sahabatnya.

Kakaknya.

Pelindungnya.

Cintanya.

Sejak dulu, saat ini dan seterusnya.

Obsesinya –ya, kata obsesi dengan presisi mengganti definisi cinta.

Kini sang obsesi harus pergi. Membawa semua perasaan yang direlakan namun tersampaikan dengan pasti.

Segalanya.

Yang membuatnya merasakan indah jatuh cinta sekaligus sakit karna tak bisa memiliki.

Terlalu ingin menikmati hingga baru sadar sebuah kata membuyar lamunan, “Dinchan?”

“A, ah. Hai.”

“Salju mulai turun. Ayo pulang…” ajak Jin sambil menarik lengan Din.

Din enggan, “Biarkan saja begini. Ini kan terakhir kali aku bisa egois sama Jinjin…”

“Ahaha, baiklah…” tawa Jin kali ini terasa menyakitkan.

Mereka tak menyadari ada eksistensi lain yang tak kalah tersakiti.

Yuya hanya menatap dan kemudian memutuskan pergi. Semua yang dikatakan Jin ketika mabuk tempo hari memang terbukti. Tapi ia terlalu malas mengurusi, terlalu terbiasa sakit hati.



-Flashback End-



Meninggalkan beberapa kepingan sebelum beranjak diatas meja. Membiarkan leher dirangkul lebih erat oleh lembar sewarna karamel. Udara telah menjadi semakin dingin hingga ia melihat kepulan embun dari mulutnya saat menghembuskan napas berat, mengirim sinyal putus asa ke langit kelabu yang tak pernah mau tahu.

Ia tak tahu apa yang terbaik untuknya atau untuk Din. Selama hidupnya, hanya satu gadis yang ia cintai, dan ia yakin dan punya percaya diri bisa mencintainya sampai akhir hayatnya.

Tapi rasanya lain jika ternyata gadis itu masih mencintai kakaknya. Segalanya terlalu rumit, Jin yang selama ini ia fikir adalah kakak laki-laki egois, ternyata sangat memikirkan dirinya.

Mereka saling mencintai.

Keduanya orang yang penting bagi dirinya.

Yuya meneruskan langkahnya gamang, fikirannya melantur kemana – mana.

========

Menginap. Untuk sebagian orang hanyalah suatu hal biasa, tapi untuk seorang Daiki Arioka, itu adalah kemajuan pesat, terlebih bila tempatnya adalah di flat kecil milik gadis corettsunderecoret yang belakangan ini didekatinya. Lebih spesifik, kamar tidurnya. Lebih sfesifik lagi, tempat tidur empuk berbalut kain putih yang sering dijadikan alasan oleh Daiki untuk menghabiskan malam.

“Nuchan…” panggil Daiki

“Hmm?” Nu menjawab tanpa sedikitpun menoleh pada sang pemuda.

“Terimakasih sudah membantuku kerjakan PR sains…” ucap Daiki manis.

“Tak masalah…”

Kadang hanya untuk memulai sebuah konversasi jadi suatu hal yang sangat sulit. Nu selalu menjawab Daiki seadanya, tak menggubris bagaimana pun Daiki berusaha mendekati Nu.

Daiki menghela napas. Menerawang. Memikirkan berbagai macam hal. Kemajuan hubungan mereka memang diluar ekspektasi.

Semenjak Nu memberinya kunci duplikat, mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Bangun tidur, ke sekolah, malam, hingga pagi lagi. Tetap, Daiki merasakan suatu hal yang berbeda.

“Dai, lepas bajumu sekarang!”  gerakan menggigit roti Daiki tiba-tiba terhenti.

“Hah?” pikirannya masih coba mencerna

“Cepat. Kalau tidak, kita bisa terlambat ke sekolah!” kali ini dengan tatapan tegas.

“U, un...” melepas jas sekolah dengan ragu, “Sudah?”

“Ng, maksudku kemejamu. Cepatlah...” seru Nu lagi, mulai tak sabaran.

“Disini? Apa Nuchan ingin...” semburat merah muncul di pipi Daiki.

“Ayolah…” kalimat diserobot gerakan tak sabaran si gadis, kini sweater pastel milik si pemuda sudah tak lagi di tempat semula.

“A, ano…” untuk beberapa alasan, wajah Daiki berubah memerah, menerka apa yang akan terjadi. Kenapa disini –diruang makan sempit ini? Kenapa waktunya tak tepat begini –saat bel tanda masuk sekolah tak bisa menunggu lebih dari 15 menit untuk berbunyi?

Tanpa kata. Nu mulai menarik kerah baju Daiki, melepas dasi yang beberapa lalu susah payah dirapikan.

“Sekarang apa lagi?” ucap Daiki hanya dalam hati, ketika jemari gadis itu mulai membredel kancing demi kancing kemejanya dengan tergesa.

Katanya –seorang tsundere lebih banyak bicara dengan tindakan daripada kata. Kata-kata itu melintas di pikiran Daiki tanpa perlu memikirkan suatu sumber kredibel. Apa lagi berikutnya? Apa ia akan didorong ke meja makan dan ditindih hingga ada adegan berlabel minimal R-18?

Daiki memejamkan mata. Menanti kelanjutan cerita, ketika tak ada lagi yang menutup tubuh bagian atasnya.

“Tunggu sebentar,” dua kata, dan si gadis menghilang dibalik pintu.

Si pemuda manis membatu, mengabaikan tubuhnya yang diterpa angin dingin penghujung tahun.

“Selesai. Noda dibajumu sudah hilang. Sekarang pakailah kembali,” ucap Nu santai, kembali menyampirkan kemeja itu di tubuh Daiki.

“Hah? Jadi, tadi itu...” otaknya semakin mengerti apa yang sejak tadi terjadi.

"Ya. Ada noda di kemejamu, aku sudah bersihkan,” jawaban dari Nu sungguh polos.

“Tapi, ng...” Daiki hanya merutuki diri –dan pikiran nakalnya “...aku pikir Nuchan, ng...”

“Sarapannya sudah habis, kan? Sekarang ayo berangkat. Kita harus cepat,” dan Nu pun menarik lengan Daiki.

“Ah, Nuchan jadi seperti ma...”

“Cepat!” lagi-lagi perkataan Daiki dipotong oleh Nu.




Seperti malam ini juga, keadaan tak jauh berbeda dari biasanya.

“Hh...” menghela napas untuk kesekian kali “...Nuchan...?”

“Apa lagi? Tak bisa tidur, hmm?“

“Apa Nuchan suka aku?“

“Yah, tak benci, sih...“

Membuatkan bentou. Mengerjakan tugas sekolah bersama. Menemani ber-pillow talk atau menghitung domba. Semuanya. Daiki merasa Nu memberikan perhatian dengan cara yang berbeda. Ia merasa dimanjakan. Dan memanjakan lain dengan mencintai.

“Aku suka yang lebih tua, yang dewasa…” kata-kata itu begitu menusuk bila diingat kembali, menyadari diri sendiri tidak termasuk dalam kriteria. Daiki memang tidak lebih tua, tidak juga lebih dewasa, suka merengek, suka bermanja.

“Dia itu…hm, aku tak bisa tidak menyukainya,” cerita tentang seorang bernama Kyo Niimura memang selalu membuat Daiki penasaran sekaligus cemburu.

Ia menginginkan itu, tatapan merindu dari seorang Takahashi Nu ketika bercerita tentang sang mantan yang beberapa waktu lalu menyebabkannya tersedu. Bukan yang biasa dialamatkan padanya, tatapan penuh perhatian pada adik atau anak lelaki. Ia juga lelaki, perasaannya benar tulus, perlu apalagi?

“Kenapa…Nuchan selalu memperlakukan aku seperti…” menelan ludah “…anak kecil?”

“Ah, sou ka? Kenapa berpikir seperti itu?” tanya Nu bingung.

“Nuchan selalu membantuku melakukan semuanya, tapi tak pernah bilang menyukaiku...” kata – kata yang selama ini selalu ingin ia katakan pada Nu.

“Dai, mungkin terlalu lama belajar membuatmu sedikit stress. Tunggu sebentar, aku akan buatkan segelas susu hangat, supaya kau bisa tidur lebih nyenyak...“ alih-alih menjawab, si gadis berkaus biru itu justru beranjak dari tempat berbaringnya, berjalan menuju pintu kamar.

“Jangan kabur...” tangan si pemuda lebih dahulu mencapai kenop pintu, menghasilkan bunyi ‘ceklek’ sebagai pemasti bahwa pintu telah terkunci.

“Dai, ada apa?”

“Berhenti berlagak seolah kau adalah ibuku...” demi apapun, Nu tak pernah merasa sebegitu terintimidasi, mendengar suara tegas Daiki yang jauh dari biasa. Dibisikkan tepat di telinga. Punggung bertemu dada bidang si pemuda. Dengan kata lain, Daiki memepetnya.

“Apa maksudnya...?” Nu mulai takut, ia tahu dan sadar betul Daiki bukan sekedar pemuda belasan tahun yang tak mengerti apapun. Ia sudah dewasa, seperti juga dirinya.

“Selama ini kau selalu menganggapku seperti anak kecil, seperti adik manja yang perlu di-babysit!” Daiki memutar paksa tubuh gadis didepannya

“Ah, tapi...” coklat madu bertemu hitam jelaga, tatapan mata Daiki tak bisa lebih mengintimidasi.

“Itu benar, kan? Kau tidak bisa melihatku seperti melihat Kyo-san, melihat seorang lelaki, bukan seorang adik kecil! Benar, kan?!” bentakan itu keluar dari mulut Daiki, begitu tegas.

“Ya, itu benar,” jawab Nu.

Jika tatapan bisa membunuh, harusnya Nu sudah mati sejak tadi. Kata ‘seram’ pun tak cukup mendefinisi.

Katakan selamat tinggal pada pemuda yang biasanya dipuji dengan ‘kawaii’, sekarang hanya tinggal sisi gelapnya. Menarik paksa tangan gadisnya dan menghempaskan tubuh si gadis ke tempat tidur.

“Dai, berhenti!” suara yang terdengar panik.

“Aku akan buktikan...”

Pemuda manis juga lelaki. Bisa mendominasi. Membatas semua anggota gerak gadis yang tengah berada dalam disposisi –dibawahnya.

“Lepas...!“ berontak Nu.

Juga ciuman paksa sebagai pemblokir kata-kata.

Terbelalak. Demi apa Daiki benar melepas t-shirt longgar yang semula dikenakannya. Apa yang dimaksud dengan membuktikan itu?? ...ah, situasi jadi berbahaya.

“Aku bukan anak kecil, aku juga lelaki...” ucap sesaat sebelum kembali mengambil alih bibir gadis yang tengah menyesali ketidakberdayaannya sendiri, mengerang pelan saat bagian disekitar lehernya dieksplorasi, dengan paksa yang pasti –bibir, lidah, gigi.

Tak bisa lagi berkata, hanya menitikan air mata ketika katun biru prusia tak lagi membalut tubuhnya.

 =========

TBC lagi yaaaa~ saia harap chapter selanjutnya gak lebih dari beberapa minggu.. hehehe.. ^^

Minggu, 17 April 2011

[Fanfic] Accidentally In Love (chap 10)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Ten
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,InoOpi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~
P.S : di chapter ini banyak di ceritain soal Din ama Nu.... :P


Accidentally In Love
-Chapter 10-

“Tapi, aku sudah mengecewakan Miyuy, Pychan, Opi. Mereka mungkin…”, Nu berusaha menarik tangannya dari jemari Daiki.

“Dengar. Aku percaya, mereka akan memaafkan Nuchan, mereka menunggu Nuchan”.

“Hh…”

Berat hati, Nu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar rawat Din. Ragu. Hanya beberapa helaan nafas yang terdengar. Sesuatu yang entah apa membuat Nu menghentikan tangannya sendiri sesaat hendak mengetuk pintu.

“Aku tak bisa…”, ujarnya, menundukkan kepala dan kemudian berbalik

“Ternyata disini…”

Sepasang lengan memberikan sebuah pelukan pada punggung Nu yang masih bergetar. Mengejutkannya.

“Dinchan!”, seru Nu begitu terkejut

“Hehe”, hanya sebuah cengiran yang menjadi jawaban Din. Cara seorang sahabat untuk mengisyaratkan sebuah glad-to-see-you-again

“Aah! Apa-apaan?! Ayo ke tempat tidur lagi, jangan terlalu banyak bergerak!”, nada bicara Nu terdengar panik, dengan sehati-hati mungkin memapah Din kembali ke tempat tidurnya.

“Aku baik-baik saja, jangan terlalu cemaskan aku…”, Din tampak menggembungkan pipinya.

Sementara ditempat yang dituju, tiga wajah tersenyum sudah menyambut mereka

“Selamat datang kembali…”, ujar Py tersenyum.

Mata Nu berkaca – kaca melihat senyuman itu. Senyuman yang begitu tulus.

“Kami kangen kalian…”, tambah Opi seraya memeluk kedua sahabatnya itu. Tentu saja, Miyuy dan Py juga tak akan melakukan apapun selain hal yang sama

seakan samar mulai terdengar

“Gomen ne…”, ucap Nu lirih

“Ng? Minta maaf buat apa?”, balas Miyuy

“Maaf, aku sudah egois. Mengacuhkan kalian. Sudah jadi sangat menyebalkan…”

“Hey, hey…ada apa ini?”, Dinchan mulai menaikkan sebelah alisnya, tak mengerti dengan apa yang terjadi

“Ah, bukan. Harusnya aku bilang terimakasih. Terima kasih sudah peduli padaku. Terima kasih sudah menjadi temanku sejak awal. Terima kasih untuk tak marah padaku. Terima kasih untuk masih menerimaku kali ini…”, menghapus air mata, Nu mulai mengurai senyuman tipis

“Eh? Kenapa jadi melankolis begini, sih?”, Opi bermonolog, menggaruk kepalanya yang samasekali tidak terasa gatal

“Tentu. Kita kan teman. Jadi tak perlu bilang maaf ataupun terima kasih”, lagi, Py memperlihatkan senyumannya

“Ya, ya! Kita ini satu, walaupun cuma bagian kecil yang hilang, mana bisa jadi lengkap…”, tambah Opi ceria

“Terima kasih…”

Seseorang menyaksikan pemandangan itu dari ujung pintu. Senyuman dibibirnya seolah mengatakan ‘aku berhasil’. Ia tak ingin -atau setidak nya, belum ingin- mengacau momen bahagia itu. Menonton dari kejauhan sudah cukup membuatnya senang.

“Hey, Daiki. Sampai kapan mau berdiri disitu terus?”, panggil Opi

“Eh?”, Daiki terkejut

“Eeh? Kalian kesini berdua?”, tanya Miyuy

“Memangnya ada kemungkinan lain?”, Din mencolek-colek Nu, mencoba menggoda

“Kyaaaa”, teriak Py pelan, tapi terdengar begitu histeris

“Ha? Kenapa harus sebegitu histeris? Kalian juga datang kesini sama-sama, kan?”, Nu terheran seraya meluncurkan sebuah tanya bernada datar

“Akhirnya, hanya Daichan yang bisa membawa Nu keluar dari kamar…”, lanjut Py

“Ah, itu…”, Daiki tak bisa membalas, hanya tersenyum malu-malu, membuatnya terlihat semakin inosen

“Yah, sudahlah”, timpa Nu dingin. Pikirnya, jerit histeris Py pasti akan terhenti bila mengetahui apa yang terjadi pada pipi kirinya beberapa waktu lalu

-----------

-Kereta dalam perjalanan pulang-

“Arioka…”

“Hm?”

“Buka telapak tanganmu”

Tanpa banyak pertanyaan, Daiki melakukan apa yang diperintahkan Nu

Nu meletakkan sesuatu di telapak tangan itu

“Apa ini?”

“Huh, anak balita saja bisa langsung tahu kalau itu sebuah kunci…”

“Iya, tapi kunci apa…?”

“Mulai sekarang, aku tak akan mengusirmu dari kamarku…”

“A, ah!”, Daiki seketika tak bisa menjawab ketika mendapati hasil pemikirannya

“Ne, Arioka…untuk yang telah kau lakukan, terimakasih…”

“Bukan masalah”, balas Daiki, tersenyum seperti biasa “Ah! Semuanya bukan gratis lho, Nuchan!”, bocah imut itu menarik kembali kata-katanya

“Ha? Jadi aku harus apa lagi?”, tanya Nu pada remaja manis yang sejak tadi duduk tepat disampingnya itu

“Panggillah dengan namaku”, ucap Daiki dengan wajah mantap

“Daiki…”, panggilan itu terdengar begitu pelan dan lembut, tapi sang pemilik nama bisa mendengarnya, terlebih ketika Nu mulai menyandarkan kepala dibahu kanannya dengan perlahan




“Ya, tetaplah begitu…”

Senyuman lembut itu kembali terlihat. Nu tak perlu khawatir sosok itu akan beranjak meninggalkannya.

Begitu nyaman.

Itulah, tempatnya.

Sekarang.

Tenang. Beberapa penumpang yang terlihat sudah nampak tertidur. Hanya ada suara sentuhan secepat kilat antara kereta dan rel listrik, juga yang menghias pandangan dari luar jendela hanyalah bias-bias cahaya yang dihasilkan remang malam.

“Hey, Daiki…aku tak benar membencimu…”

Tak ada jawaban

“Tidur, ya? Yah, sudahlah…”

-------------------

“Hmm...”, mata Yuya beralih dari satu benda ke benda yang lain

“Nona, tolong berikan topi yang cocok untuk seorang gadis manis...”, mendengar suara itu, membuat Yuya segera mengalihkan pandangannya pada sumber suara

“Aniki!”

Orang yang dilihatnya itu. Tak salah lagi, Jin, kakaknya sendiri. Yuya melangkahkan kakinya dengan spontan kedalam kamar pas terdekat, menyembunyikan diri dari pandangan Jin.

Sama sekali tak disangkanya, kalau ide awalnya pergi ke toko fashion untuk membeli topi untuk Din –yang kepalanya masih berhias sedikit perban- justru membuatnya bertemu dengan sang kakak

“Uhh...”, sesuatu yang bahkan tak diketahuinya membuat Yuya dengan sabar mengintip dari balik pintu kamar pas, memenuhi rasa penasarannya pada apa yang akan terjadi

“Tentu tuan. Bagaimana dengan yang ini?”, tawar seorang pegawai toko pada Jin

“Ah, tidak-tidak...tolong berikan yang modelnya lebih casual, kurasa casual style lebih cocok untuknya...”

“Kalau begitu...yang ini?”, tawar pegawai itu untuk kedua kalinya, mengambil topi dengan model yang berbeda

“Hmm, sempurna. Tolong bungkus yang itu...”, pinta Jin tersenyum

Gadis manis

Casual style

Yuya semakin penasaran, “Untuk siapa aniki membeli topi itu? Apa aniki sudah dapat pacar baru, tapi Naomi...aah! Apa dia beli untuk Dinchan? Aniki kan sering memuji Dinchan manis, dan gaya casual, aah...”, rasa penasaran sekaligus gusar membuat Yuya tak menyadari mulutnya terus bergumam

“Apa ini untuk pacar tuan...?”, pegawai cantik itu mencoba bersikap bersahabat pada Jin. Mungkin untuk Yuya, justru  yang seperti itu akan membuatnya terganggu

“Bukan-bukan, aku memang menyukainya, tapi dia punya orang lain yang disukainya. Hahaha...”, Jin tertawa pelan tapi terdengar renyah

“Hah?! Orang yang disukai aniki menyukai orang lain?! Tapi siapa orangnya?!”

“Ah, sayang sekali. Tapi saya rasa, pria seperti tuan tak akan sulit untuk...”

“Hey, nona. Berapa lama lagi jam kerjamu akan selesai?”, tanya Jin sebelum pegawai itu menyelesaikan kalimatnya

“Sekitar setengah jam lagi”, balasnya tersenyum

“Mau jalan-jalan denganku?”, tawar Jin, dengan senyuman itu, mungkin tak ada perempuan yang akan menolak

Tak ada banyak kata-kata, Yuya hanya memukul keningnya sendiri, “Dasar aniki...”

“Baiklah...Ng, wajah tuan rasanya begitu familiar. Apa tuan artis atau semacamnya?”

“Ahahaha, banyak yang bilang begitu. Tapi sayangnya, aku orang biasa...”

Bohong. Jin justru telah memulai karirnya di dunia fashion model bahkan sejak masih sangat muda. Dan dunia itu pula yang mempertemukannya dengan Naomi...


----

Tersenyum. Din menatap refleksinya sendiri dalam cermin. Ia telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, keadaannya juga jauh membaik. Dan yang terpenting, Jin akan membawanya bertemu dengan Naomi, mereka sebentar lagi akan berkunjung ke mansion keluarga Lawrence

Beberapa kali ia membetulkan posisi topi dikepalanya. Saat ini masih ada perban yang menempel di kepala Din. Tapi Jin memberinya sebuah topi, Din menyukainya, terlebih karna itu pemberian dari Jin

“Sudah...sempurna”, suara yang bersumber dari seseorang di ujung pintu itu mengejutkan Din

“Yuya?!”

“Cocok sekali, topi itu cocok sekali untukmu...”, tersungging senyuman tipis dari bibir Yuya

Din seakan tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh pendengarannya. Tuan Takaki Yuya yang sombong itu memujinya. Sempurna katanya. Cocok katanya. Dan senyuman itu...Sangat aneh. Selama ini, apapun yang dikenakan Din pasti mendapat celaan dari Yuya, terlebih lagi bila Yuya tahu yang dikenakan Din adalah pemberian dari sang Aniki

“Tak ada yang perlu dibetulkan lagi. Kau sudah tampak cantik. Jadi sekarang, ayo turun, Aniki sudah menunggu...”

Dan sekarang...cantik

“Hah, mungkin efek kecelakaannya belum sepenuhnya hilang. Kepalaku terbentur sampai ejekan Yuya terdengar seperti pujian...”, gumam Din. Tak ada sepuhan merah khas dari seorang gadis yang dipuji penampilannya, justru Din saat itu ingin menampar pipinya sendiri


-Dibawah tangga-

“Jin, apa kau yakin?”, ekspresi keraguan tampak di wajah seorang pria muda berrambut coklat muda

“Tenanglah, Toma...”, Jin hanya menepuk bahu sahabatnya itu

“Hh, apa boleh buat. Aku percaya padamu, kawan. Kau selalu mengerti apa yang akan kau lakukan”

Pria itu, Ikuta Toma, yang tak lain adalah kakak dari Ikuta Din. Toma sengaja membolos dari rutinitasnya karna ingin mengetahui keadaan adik tersayangnya. Pekerjaannya sebagai dokter trainee di bagian forensik rumah sakit pusat membuatnya jarang bisa pulang ke rumah bahkan sejak Toma menempuh pendidikannya di bidang itu.

“Aku merindukanmu, Toma.  Lama sekali aku tak menghabiskan waktu bersamamu dan Tomo , aku tak menyangka ternyata kau kembali karna alasan seperti ini...”

“Aku turut bersedih untuk gadismu, Jin...”

Jin hanya mengalihkan pandangannya yang sejak tadi menatap langit-langit kini berubah menatap lantai, berusaha mengembangkan senyuman

“Juga Dinchan...aku sangat berterimakasih padamu karna selalu menjaganya. Kau yang selalu berada disisinya, bukan aku...Sejak dulu, aku memang bukan kakak yang baik...”

“Yes, you are”, celetuk Jin

“Sejak kecil pun, ketika aku berlari meninggalkan Dinchan supaya tak mengikutiku main dengan anak-anak laki-laki, kau justru berbalik dan mengajaknya...”

“Kau terlalu kejam, Toma”, Jin meninju bahu toma pelan

“Hey, waktu itu aku masih kecil. Kupikir, kalau anak perempuan yang ikut main, justru akan merepotkan, kelompok kita bisa-bisa kalah terus”

“Tapi ternyata Dinchan pintar, kan...?”

Toma tersenyum “Kau selalu membelanya, Jin. Lebih dari yang aku lakukan...Bahkan dulu kau memberiku ultimatum akan merebut Dinchan dariku”

“Ha ha ha. Waktu itu wajah sewotmu tampak lucu sekali, Tomo juga ikut mengejek!”

“Huh”, Toma tampak mencibir, tak bisa membalas kata-kata Jin. Tapi dalam hatinya ia senang, Jin tak pernah berubah, dia selalu bisa tertawa dengan apapun yang terjadi.

“Cukup membicarakan masa muda, kakek-kakek...”, Yuya membuyarkan nostalgia kedua sahabat itu dengan kurang ajarnya

“Ah, Yuya”, Toma menoleh kearah datangnya suara. Yuya, dengan Din dibelakangnya

“Niichan, aku berangkat...”, ucap Dinchan ceria

“Ng, ya...”, balas Toma sedikit ragu. Jin kemudian melempar sebuah senyuman untuk meyakinkan sahabat karibnya itu

-------------------

“Jinjin~ kenapa sejak awal tak beritahu kalau Naomi-neechan sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit? Aku kan khawatir, dan kalian tak pernah menjawab pertanyaanku dengan benar...”, Din memvokalkan sebuah kalimat dengan nada manja

Sekejap, Yuya yang sejak tadi matanya menatap keluar jendela mobil, beralih pandang kearah Din. Tanpa kata. Dan pandangan itu, begitu sulit diartikan

Din sedikit mengerutkan keningnya. Menurutnya, terlalu banyak yang aneh dari Yuya sejak kepulangannya dari rumah sakit. Memujinya, itu aneh. Dan Yuya yang lebih sering diam tanpa melemparkan celaan-celaannya, terlebih aneh. Saat seperti itu, Din berpikir bahwa Yuya bisa menjadi terlihat sangat...cool.

Sementara Jin tak menjawab, tapi Din bisa melihat senyuman lembutnya dari spion depan.

-------------

-Mansion Keluarga Lawrence-

“Jadi kau yang bernama Ikuta Din...”, figur wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Naomi itu menatap Din nanar beberapa saat setelah ia memperkenalkan diri.

“...ah, y..ya...”

“Syukurlah, kau selamat!”, terkejut, Din bisa merasakan kedua lengan itu mendekapnya erat. Terguncang, wanita itu mulai terisak



Din tak bisa berkata. Pikirnya masih banyak bertanya. Kenapa penyambutan dari ibunda Naomi-neechannya bisa begitu...berlebihan

“Ah, maafkan...aku masih terbawa emosi...”, wanita Jepang yang bermarga Lawrence itu melepaskan pelukannya dan menundukan kepala untuk menyeka airmatanya yang sempat mengalir. Sementara pria pirang bermata safir yang berada tak jauh dari mereka kemudian merangkul bahu wanita itu untuk menenangkannya

Jin meraih jemari Din dan menggenggamnya. Bingung. Din menggigit bibir bawahnya dan menatap Jin dengan pandangan sedih

Hanya beberapa langkah dari ruangan itu. Mereka bisa melihat Naomi.

Ia terlihat cantik. Tersenyum begitu tulus dengan rambut pirangnya yang terurai.

Masih terlihat cantik. Selalu terlihat cantik...

Sekalipun figur itu hanya bisa dilihat dalam sebuah fotograf. Terbingkai indah bersama benda-benda lain disekitarnya

Buah-buahan dan makanan untuk persembahan

Lilin-lilin yang masih menyala

Dupa

Guci keramik kecil

Naomi akan selalu terlihat cantik...

Sekalipun mereka hanya melihat fotografnya

Dalam altar persemayaman

Terdiam. Din masih belum bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Tak ingin percaya. Ia berharap apa yang baru saja diketahuinya hanyalah sebuah lelucon bodoh diawal bulan April

“Jinjin, Naomi-neechan...”, nada bicaranya kini sedikit bergetar.

Yuya bisa melihat, kakaknya itu tak bisa menjawab, hanya menunduk dan mempererat genggamannya diantara jemari Din

Saat itu juga, tangis Din mulai pecah. Terisak hebat dihadapan altar persemayaman itu

“Naomi-neechan...”

Figur cantik itu. Mata safir menyejukkan. Helaian rambut pirang indah itu. Tawa renyah dan senyuman ramah itu. Sekarang Din tak akan bisa melihatnya lagi

Untuk mengucap selamat tinggal rasanya teramat pahit dan menyedihkan. Ia tak ingin percaya. Masih berharap ini hanyalah semua lelucon, kalaupun bukan, ini hanyalah mimpi buruk. Seseorang kelak akan membangunkannya dan keadaan kembali membaik

Semuanya begitu nyata. Bukan lelucon. Tak ada mimpi buruk, tak ada yang membangunkan

Pahit itu memang nyata. Sedih itu mesti dirasanya

Kehilangan

Sesak

Jin bergerak untuk mendekap Din. Berharap bisa menenangkan gadis itu biarpun sedikit

Airmata terus mengaliri pipi putih Din. Menggumamkan sebuah nama dalam isaknya. Sementara Sang Pemilik Nama terus tersenyum

Senyuman cantik abadi yang hanya bisa dilihat dalam fotograf

---

FLASHBACK

-Sore hari di kamar Yuya-

“Aah, aku kehabisan pocary...”, menengadahkan kepala, hanya dua sampai tiga tetes terakhir yang jatuh kemulut Yuya. Menghafal sejarah dengan langsung melisankannya cukup berhasil membuat tenggorokannya kering

“Aku harus ambil beberapa kaleng lagi...”, kaki Yuya turun menapaki satu persatu anak tangga

Sepi. Kedua orangtuanya masih berada di luar kota untuk keperluan pekerjaan, mereka hanya menyempatkan pulang ketika mendengar berita kecelakaan Din dan Naomi. Jin, tentu saja Yuya sampai dirumah lebih dahulu. Sekilas, Yuya mendengar sebuah ‘Tadaima’ ditengah waktu belajarnya, tapi ia tak terlalu peduli dan tenggelam dalam hafalan sejarahnya, bukan tanpa alasan, tapi karna beberapa bulan lagi ujian final akan datang

KLONTANG



“Aniki? Is that you?”, tanya Yuya ketika mendengar suara kaleng minuman yang jatuh. Ragu, ruangan yang dirasanya merupakan tempat bersumbernya suara bahkan sama sekali gelap

“Yuya...masih bangun, ya...”

Yuya menemukan Jin seketika ia menyalakan lampu ruang tengahnya. Jin yang nampak sangat kacau. Tapi itu bukan jadi yang pertama untuk Yuya

“Aniki...aku tahu aniki sangat sedih, tapi kumohon berhentilah minum-minum seperti itu...”, ucap Yuya terdengar sangat sedih memandangi kakak  semata wayangnya terlihat kacau dengan botol juga beberapa kaleng minuman beralkohol disekelilingnya

“Hey, Yuya...bagaimana persiapan ujianmu...?”, tanya Jin. Yuya bisa dengan jelas mencium aroma alkohol yang begitu menyengat ketika beralih mendekat. Ia tak menyangka bahwa kakaknya bisa jadi sedemikian rapuh

“Sudahlah, Aniki...tolong jangan minum lagi, Naomi-san juga pasti tak akan menyukainya...!”, Yuya mulai membereskan kaleng-kaleng bekas minuman ke tempat sampah –bahkan yang masih berisi-

“Aaah, tapi Yuya...”, protes Jin “..aku bahkan bisa lihat Naomi...dia sekarang jadi bidadari...he he he”

“Hh...”, menghela napas, sekarang Yuya tahu kalau kakaknya sudah benar-benar mabuk

“Aniki, aku akan membawamu ke kamar. Sekarang tidurlah, besok pagi panggil saja aku kalau Aniki butuh obat sakit kepala...”

Perlahan, Yuya mulai memapah Jin berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Memang bukan pekerjaan yang mudah, bahkan Jin terus mengoceh tak jelas selama Yuya susah payah memapahnya

“Hmm, ternyata kau manis juga ya...Yuya...”, masih dengan ocehannya, Jin kemudian menempelkan bibirnya di bibir Yuya. Hal itu membuat Yuya kontan mendorong Jin. Beruntung, mereka sudah sampai di depan tempat tidur Jin, jadi Jin mendarat di tempat tidurnya tanpa harus menderita sakit karna jatuh di lantai

“A, apa yang Aniki lakukan?! Itu menjijikan!”, wajah Yuya berubah merah karna kesal bercampur malu

“Kenapa, Yuya...?”

“Ah! Sudahlah!”, ujar Yuya frustasi sekaligus meratapi nasibnya --hanya di dalam hati. Semua hal bisa saja bisa terjadi pada orang yang tengah berada dalam pengaruh alkohol

“Ah, ya!”, sebuah ide tiba-tiba muncul dari pikiran Yuya “Aniki, aku ingin tahu untuk siapa Aniki membeli topi di toko xyz tadi siang!”, ujar Yuya langsung pada sasaran

“Hey! Kau tahu aku pergi ke toko untuk membeli topi! Ternyata adikku punya bakat esper!”, jawaban dari Jin hanya membuat Yuya memicingkan mata

“Bukan itu...Ayolah, Aniki...katakan padaku siapa gadis yang Aniki maksud! Yang Aniki sukai, yang Aniki ceritakan pada pegawai toko...”, Yuya beralih duduk di hadapan Jin, diatas tempat tidurnya

“Kau begitu ingin tahu, Yuya...kalau begitu, tebaklah...”, Jin tersenyum, dari matanya, Yuya bisa memastikan kalau kesadaran belum kembali pada Jin

“Apa dia...Dinchan?”, tebak Yuya

“Kau benar-benar punya bakat esper, adikku!”

“Apa?!”, Yuya membelakakkan matanya

Jin tak membalas

“Lalu...lalu kenapa Aniki kabur dari perjodohan yang telah dirancang? Perjodohan antara putra pertama keluarga Takaki dengan putri keluarga Ikuta! Kenapa Aniki tidak menerima perjodohan itu?!”

Jawaban dari Jin membuat Yuya memunculkan sebuah pertanyaan besar. Tentang masa lalu mereka. Tentang Jin yang kabur dari rumah karna menolak perjodohannya dengan putri keluarga Ikuta yang tak lain adalah Dinchan yang sejak dulu disukainya.

“Alasannya...alasannya adalah kau, Yuya...!”, Yuya semakin terkejut ketika Jin mengarahkan telunjuk ke dadanya masih dengan ekspresi khas orang yang tengah mabuk

“Ma, maksudnya?!”

“Aku tahu, Yuya. Aku tahu, sejak dulu kau menyukai Dinchan. Walaupun kau selalu melakukan hal-hal konyol padanya, tapi aku bisa membaca dengan jelas kalau kau suka dia. Aku kabur dari perjodohan supaya kau bisa bersamanya, Yuya!”, Yuya seolah tak bisa berkata mendengar pemaparan yang keluar dari mulut Jin secara gamblang. Ia berani bertaruh, dalam keadaan sadar, Jin tak mungkin bertutur sejujur itu

Yuya masih mematung, pikirannya belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang dipaparkan Jin. Masih terkejut.

“Aku menyayangimu, Yuya. Sejak kepergian ibu, mendapatkanmu sebagai adik seperti membawa harapan baru untukku, harapan untuk jadi anak yang baik, menjadi seorang kakak...”

Ya, wanita yang dipanggil ibu oleh Jin dan Yuya saat ini adalah ibu dari Yuya. Sementara wanita yang melahirkan Jin meninggal karna kecelakaan saat Jin berusia lima tahun dan kemudian ayah mereka menikahi wanita yang kelak melahirkan Yuya, sebagai adik dari Jin. Begitu yang pernah Yuya dengar dari ayah mereka.

“Aku sangat menyayangimu, juga Dinchan...Aku tak ingin mengecewakanmu, kabur dari perjodohan dengan harapan kau bisa bersama Dinchan. Kupikir aku masih bisa tetap menunjukkan perasaanku padanya dengan cara lain, memperlakukannya seperti adikku...”, pengakuan Jin masih berlanjut

“Tapi Dinchan juga sejak dulu selalu menyukai Aniki. Dia terobsesi pada Aniki!”

“Yuya...aku bisa melihat perbedaan dari caranya melihatmu...”

Yuya tak bisa membalas

“Berusaha mengabaikan perasaanku sendiri ternyata tak mudah. Walaupun aku mengencani banyak gadis, semuanya terasa hampa. Ketika aku bertemu Naomi, dia mulai mengisi kekosongan di hatiku. Tapi sekarang, Naomi...”, Jin mulai terlihat frustasi

“Tak apa, Aniki...aku mengerti...”, entah hal apa yang mendorong Yuya untuk mendekap Jin kedalam pelukannya. Baginya itu terasa sangat...aneh, dan pastinya, canggung. Tapi Yuya sangat ingin menenangkan kakaknya itu. Saat Jin mulai menangis, hatinya juga terasa sakit. Terlebih setelah pengakuan yang dilakukan Jin dalam keadaan tak sadar. Jin telah banyak menderita rasa sakit. Ia mengorbankan perasaan pada Dinchan yang disukainya. Jin juga kembali kehilangan, setelah kehilangan ibunya dalam kecelakaan, sekarang hal itu berulang pada Naomi

“Ne, oyasumi...”, ucap Yuya lembut ketika mematikan lampu kamar Jin dan menutup pintunya.

Kalimat demi kalimat dari pengakuan Jin terus berlalulalang di pikirannya.

“Hh...”

Galau. Yuya menyandarkan kepalanya di pintu kamar Jin, menghela napas berat. Ia masih tak bisa percaya akan apa yang telah didengarnya.

Jin. Sekalipun Yuya telah bersama sang kakak selama 18 tahun hidupnya, tapi banyak hal yang baru diketahui dari kakak sematawayangnya itu.

Yuya mengagumi Jin. Tentang pembawaannya yang menyenangkan. Kedewasaannya sebagai seorang kakak. Caranya menjalani hidup dengan penuh kebebasan. Dan Jin tentunya punya semua yang disukai dan diinginkan Din. Tanpa pernah diungkapkan, Yuya selalu ingin menjadi seperti sang kakak yang begitu disukai Din. Tapi dibandingkan dengan Jin, sekaligus membuatnya sangat kesal karna merasakan tak adanya penghargaan sebagai seorang individu untuknya, hanya adik-dari-Takaki Jin.

Dibalik semua tingkah konyol yang menyenangkan, ternyata Jin menyimpan kesedihan. Mengorbankan perasaannya sendiri demi Yuya. Yuya selalu berpikir bahwa mengencani banyak gadis adalah ekpresi Jin untuk menunjukkan kebebasan hidupnya.  Ternyata Yuya salah, itu hanyalah upaya Jin mencari tempat dimana perasaannya akan berpaut. Naomi begitu sempurna untuk Jin. Ia sama sekali berbeda dari gadis-gadis lain yang menjadi teman kencan Jin.



END OF FLASHBACK
------------------------

Andai saja Yuya sudah mendapatkan lisensi mengemudinya, ia akan duduk di bangku kemudi dan membiarkan Jin duduk bersama Din di bangku penumpang.

Jin membiarkan Din untuk menangis hingga ia lega. Nafasnya kini terengah. Bibirnya kelu dan wajahnya sembab luar biasa. Kepalanya mulai pusing dan perutnya terasa mual karna terlalu banyak menangis.

Yuya sedikit banyak menyesali dirinya sendiri yang tak bisa menenangkan Din sebaik Jin. Saat gadis itu mulai terguncang sedih, seharusnya jemari Yuya yang menyilang dan menggenggam erat tangannya. Saat tangis mulai pecah, harusnya Yuya yang datang mendekapnya. Begitu yang diinginkan Yuya, tapi ia tak bisa.

Saat Din masih menyisakan isaknya, Yuya hanya bisa diam –hatinya ikut merasakan perih. Sekalipun ia duduk disamping gadis itu. Yuya benci itu. Dulu ia bisa menenangkan Dinchan yang menangis, tapi kenapa saat ini terasa berbeda.

Juga Jin, matanya hanya menatap lurus kejalanan luas di depan yang mereka lalui. Yuya yakin, saat ini Jin ingin menangis, tapi ia berusaha untuk kuat, berpura-pura terlihat kuat.

--------------


Py kembali mencoba menghubungi Hikaru untuk keberapa kalinya. Ponsel Hikaru tak aktif, Py sedikit khawatir dengan keadaan Hikaru yang tak juga ada kabar. Sudah beberapa hari pula Hikaru tak datang ke sekolah. Py yang tak sanggup untuk bertanya pada tiga teman Hikaru yang lain, ia malu untuk sekedar bertanya pada Yabu atau Taiyou.

Di tambah Py tahu Yabu sedang ada masalah dengan Miyuy, menambah ke tidak percayaan Py untuk bertanya pada Yabu.

“Huufftt~”, Py melepaskan nafas berat.

Sudah hampir empat hari, dan atap ini terasa sangat kosong tanpa kehadiran HIkaru. Tapi Py sedikit heran, dengan tak adanya Hikaru, ia lebih sering menggambar lagi, dan tentu saja ia menggambar sosok Hikaru.

Py kaget ketika seseorang terdengar datang ke atap. Jarang sekali ada yang mau mengunjungi tampat tertinggi di sekolahnya itu.

“Miyuy-chan??”, Py kaget melihat sosok Miyuy yang datang tiba – tiba.

“Hi Py!!”, sapa Miyuy lalu duduk di sebelah Py.

“Ano…. Daijoubu??”, tanya Py takut – takut.

Miyuy merebahkan kepalanya di bahu Py, menggeleng pelan. “Aku tak tahu apa menghindar darinya adalah keputusan tepat… tapi aku juga tak sanggup berdekatan dengannya….”, jelas Miyuy.

Py tak mampu menjawab. Baginya yang tak pernah mengalami masalah percintaan sangat sulit untuk dirinya memberi nasehat atau pandangan.

“Py menunggu Yaotome-kun?”, tanya Miyuy mengagetkan Py.

“Eh??hmmm~ tidak kok…”, jawabnya gugup.

“Sou…. Kukira kau menunggunya…”, imbuh Miyuy sambil baranjak dan menuju pinggir atap. Entah apa yang Miyuy pikirkan, tapi keduanya sibuk dengan pikiran masing – masing.

“Dinchan terpukul sekali ya… ia belum masuk hingga hari ini…”, kata Py akhirnya membuka pembicaraan.

“Ya…”, jawab Miyuy pelan.

“Aku juga akan begitu jika aku jadi Dinchan…”, ungkap Py lagi.

Miyuy kembali tak menjawabnya.

“Aku mau ke perpus ya Py-chan… mau ikut?”, tanya Miyuy sambil beranjak.

Py menggeleng, “Aku disini saja..”, jawab Py.

“Baiklah…”, Miyuy meninggalkan Py sendiri lagi.

Py kembali melihat ke arah ponselnya yang belum juga berbunyi sejak tadi. Py mulai ber asumsi jika terjadi sesuatu pada Hikaru.

“Apa dia sakit dan tak ada yang merawatnya?”, tanya Py dalam hati.

“Atau dia kecelakaan?”

“Atau dia…..”

Semakin lama justru pikirannya semakin kacau. Py membuka buku sketsa nya. Memutuskan bahwa menggambar adalah satu – satu nya cara dia untuk melupakan kenyataan bahwa Hikaru tidak ada.

“Menggambar apa?”, tanya seseorang mengagetkan Py.

“Kyaaaa~”, teriaknya panik dan menutup buku sketsanya.

Ia dihadapan Py.

Tersenyum seperti biasanya.

Tak ada yang kurang dari senyum itu

“Hikka-kun~ “, panggil Py lirih.

Rasanya sudah sangat lama ia tak melihat Hikaru di hadapannya.

“Tak usah kaget begitu…”, ujar Hikaru lalu duduk di samping Py, menyentuh pipi Py pelan dengan kedua tangannya.

Py masih diam karena tak sangka ia malah merasa sangat rindu pada Hikaru. Sehingga rasanya seperti mimpi melihat Hikaru di hadapannya.

“Apa kabar?”, tanya Hikaru, seakan tak terjadi apa – apa.

“Baik..”, jawab Py menunduk karena baru sadar ia memandang Hikaru cukup lama.

Keheningan terjadi setelahnya. Hikaru menggenggam tangan Py namun tak bersuara sedikitpun. Tidak seperti Hikaru yang biasanya.

“Hikka-kun…”, panggil Py pelan.

“Ya?”

“Anou…. Hikka-kun kemana saja? Aku jarang melihatmu di sekolah…”, kata Py pelan. Ia tak mau bilang kalau ia menunggu Hikaru di atap ini setiap hari.

“Ada sesuatu yang harus kuurus..”, jawab Hikaru, mempererat genggamannya pada Py.

Tak seperti Hikaru yang biasa sangat ceria, Hikaru yang kali ini di hadapan Py sangat pendiam.

“Pulang sekolah mau ke taman?”, seru Hikaru yang terdengar seperti ajakan kencan.

Py mengangguk.

--------------

Yabu menuju perpus. Walaupun bukan kebiasaannya berdiam diri di perpus, tapi seridaknya suasana hening disana dapat sedikit membuatnya lebih baik. Ia benci perasaan bingung seperti ini, dan dalam keadaan seeprti ini, ia juga tak mau diganggu oleh Shoon atau Taiyou.

Suasana perpus memang bukan hal yang biasa untuk seorang Yabu yang biasanya berada di tempat keramaian. Sehingga kali ini pun Yabu merasa sedikit bosan di tempat ini, namun tempat inilah yang paling tidak mungkin didatangi ketiga temannya, sehingga ia bisa sendirian. Pikiran Yabu sedang kacau, Miyuy tak mau dihubungi, sama sekali tak ada kabar, bahkan di sekolah pun rasanya sulit menemui Miyuy.

Jemari Yabu memainkan buku yang entah apa judulnya ia pun tak tahu. Ia hanya bergerak tanpa berfikir apapun.

“Eh? Yabu-kun…”, panggil seseorang.

Yabu menoleh, dan setelahnya kaget dengan siapa yang dihadapannya. Yabu tak menjawab panggilan itu, hanya memandang sosok di hadapannya sekarang.

“Hisashiburi…”, sapanya lalu menghampiri tempat Yabu.

“Ah yea~ hisashiburi…”, jawab Yabu akhirnya.

“Ada apa Yabu-kun? Tak biasanya kau ada di perpus…”, seru orang itu karena tahu kebiasaan Yabu.

Lagi – lagi Yabu enggan menjawab.

“Pasti kau ada masalah ya?”

“Maa~ bisa dibilang seperti itu.”, jawab Yabu singkat.

“Aya!! Aku menemukan buku itu!”, seru seseorang memanggil gadis di hadapan Yabu.

“Iya! Aku kesana…”, lalu menoleh kemabali pada Yabu, “Aku duluan Yabu-kun… mudah – mudahan kita bisa bertemu lagi..”, kata gadis itu lalu tersenyum.

Yabu bahkan masih bingung ketika Ayame meninggalkan tempat itu, kenapa Ayame menyapa nya?

-----------------

Genggaman tangan Hikaru tak terlepas dari tangan Py sedari tadi. Tapi tak seperti Hikaru yang selalu ceria, kali ini tampaknya Hikaru cukup murung. Py hanya bisa menurut kemana Hikaru membawanya tanpa banyak protes, dadanya bergemuruh karena senang dan lega melihat Hikaru lagi.

Hikaru mengajak Py duduk di bangku taman yang biasa mereka datangi. Tempat ini juga yang menjadi saksi mereka menjadi dekat.

“Py….”, panggil Hikaru pelan.

Tanpa menjawab, Py menoleh memandang Hikaru.

“Kali ini langitnya cukup cerah…”, kata Hikaru seakan bermonolog.

Py ikut menengadah melihat langit sore yang memang terlihat cerah dengan semburat jingga memenuhi warna langit.

“Un…”, jawab Py.

“Py pernah bilang kalau Py paling suka sama langit cerah kan?”, ujar Hikaru lagi.

Py mengangguk.

“Aku juga suka langit cerah…”, kata Hikaru.

“Kenapa?”

“Karena mengingatkanku pada Py.. hehe…”.

Py hanya diam saat ia merasa genggaman Hikaru semakin kuat.

“Ada yang salah?”, tanya Py akhirnya mencoba berani bertanya pada Hikaru.

Hikaru menjawab dengan senyumannya, lalu menggeleng pelan, “betsu ni… tidak ada apa – apa kok…”

Py ingin sekali tahu apa yang sedang Hikaru rasakan. Setidaknya ia ingin meringankan beban Hikaru sedikit saja. Karena tampaknya Hikaru sangat murung.

“Hikaru-kun…”, panggil Py.

Hikaru tak menjawab, menggenggam tangan Py lebih erat. Mereka terdiam. Merasakan kehenigan yang justru membuat mereka tenang dan damai, ditemani oleh langit sore itu.

---------------

Kejadian sapa menyapa siang itu di perpus membuat Yabu heran setelah sore itu ketika ia hendak pulang, sosok Ayame ada di depan kelasnya.

“Yabu-kun!!”, sapanya ceria.

Yabu hanya memandang Ayame tanpa kata – kata karena terlalu heran.

“Ada yang ingin aku bicarakan!!”, serunya.

“Hmmm~ aku tak bisa sekarang Aya… aku ada urusan..”, elak Yabu cepat.

Ayame menunjukkan wajah sedih, “Baiklah… besok bagaimana?”, tanya nya lagi.

Yabu mengangguk, “Maa~ baiklah…”, jawabnya sekenanya.

Yabu hari itu akan ke rumah Miyuy. Bagaimana pun ia harus menjelaskan semuanya pada Miyuy. Walaupun ia tahu, seharusnya Miyuy sekarang masih marah padanya.

Selain itu ia juga akan ke apartemen Hikaru.

Sesampainya di depan rumah Miyuy, dengan perasaan tak tentu Yabu men dial nomor Miyuy, ia tak yakin akan di angkat, tapi setidaknya ia mencoba.

Benar saja, setelah nada sambung berakhir, belum juga ada jawaban.

Akhirnya Yabu memutuskan untuk memencet bel rumah Miyuy. Walaupun ia tak yakin apa yang ingin ia katakan saat itu.

Tak lama seseorang keluar.

“Eh? Yabu-kun?”, Miyuy lah yang keluar saat itu.

“Aku ingin membicarakan sesuatu…”, kata Yabu akhirnya.


“Ne… Miyuy-chan… soal waktu itu… gomen…”

Mereka berdua tak bicara di rumah, Miyuy membawa Yabu ke sebuah taman dekat rumahnya.

“Wakatta!!”, teriak Miyuy tiba – tiba.

Yabu menoleh karena kaget dengan apa yang Miyuy katakan.

“Aku tahu Yabu-kun saat itu hanya terbawa emosi sesaat. Maafkan aku meragukan Yabu-kun… setelah kupikir… aku juga keterlaluan..”, kata Miyuy.

Beberapa hari setelah itu, Miyuy terus berfikir tentang hal ini, dan ia pun punya satu kesimpulan kalau memang saat itu tak ada yang salah, semuanya hanya salah paham saja. Ia hanya terbawa emosi juga hingga meninggalkan Yabu begitu saja.

“Miyuy-chan…”

“Aku percaya pada Yabu-kun…”, kata Miyuy lagi lalu tersenyum pada Yabu.

Mau tak mau Yabu tersenyum juga, rasanya tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan saat itu. Secara refleks tubuh Yabu mendekat dan mendekap Miyuy.

“Eh? Yabu-kun…”

“Maaf telah membuatmu khawatir…”, bisik Yabu.

Miyuy hanya mengangguk, ia tahu ia bisa mempercayai Yabu.


-------------------

Hingga hari ini Opi masih belum bisa melupakan kejadian saat Inoo mencium keningnya di bianglala. Ia terus saja terbayang ekspresi wajah Inoo yang walaupun penuh memar saat itu, serius dan sangat sungguh – sungguh.

Tak ada pernyataan apapun, dan mereka hanya diam hingga mereka pulang, tapi genggaman tangan Inoo tak lepas dari tangan Opi, dan itu membuat pipi nya selalu memerah saat memikirkan wajah Inoo. Opi menggelengkan wajahnya, menampar pipinya pelan.

“Tidak boleh!!! Jangan berfikiran macam – macam!!”, perintahnya pada diri sendiri di kaca.

“Nee-chan…”, panggil seseorang dibalik pintu, yang tak perlu diragukan lagi itu pati adiknya yang selalu ikut campur urusannya.

Opi menoleh, “Apa?”

“Pacarmu datang tuh~”, goda Yuuri sambil mendekati kakaknya.

Dengan sigap Opi melempar sebuah bantal pada Yuuri, “Dia bukan pacarku!!”, elak Opi.

“Bohong!!”, seru Yuuri sambil menangkap bantal itu, “Aku kan liat Nee-chan dan Kei-chan berpegangan tangan waktu di mobil… ayo ngaku!!”, seru Yuuri lagi.

Tak mampu menjawab, Opi merebut bantal yang kini dipegang oleh Yuuri.

“Ahahahaha~ Nee-chan malu yaaa??”, sahut Yuuri bereaksi pada ekspresi malu – malu Opi.

“Uruseeee!! Anak kecil tau apa??!!”, teriak Opi kesal.

Yuuri menjauh mencoba mengelak dari hantaman bantal yang dilemparkan oleh kakaknya.

“Oops~ hati – hati Opi-chan..”

Suara itu mengagetkan Opi, ternyata Inoo sudah ada di depan kamarnya.

“Eeehh?? Inoo-kun…”, sapa Opi lirih.

Inoo mengacukan tanda peace, “Yo!! Aku mau menjemput muridku… ayo Yuuri-chan.. kita harus latihan…”, kata Inoo sambil menarik Yuuri dari tempat itu.

“Ah, sou…”, Opi tak mampu menjawab Inoo.

Tak lama, sosok Inoo kembali mucul di ambang pintunya, “Nanti kita bicara lagi Opi-chan…”, kata Inoo sambil berlalu.

Opi mengangguk dengan gugup.


Setelah selesai mengajar, Inoo mengajak Opi berbicara di halaman belakang rumah Opi. Seperti yang sudah – sudah, Mama Opi mengajak Inoo makan malam, dan sambil menunggu makan malam siap, Inoo mengajak Opi sedikit mengobrol. Seperti kebanyakan rumah a la Jepang, rumah Opi juga punya halaman belakang yang walaupun sempit, namun lumayan asri.

“Kau sedikit pendiam hari ini…”, kata Inoo.

“Eh? Eh?? Maa~ aku baik – baik saja…”, jawab Opi sedikit gugup.

“Souka…”

“Inoo-kun juga tak terlalu banyak bicara…”, kata Opi sambil menatap Inoo.

“Banyak hal yang sedang kupikirkan Opi-chan…”, jawab Inoo, menatap Opi yang sukses mebuat Opi memalingkan wajahnya karena malu menatap Inoo.

“Hmmm… apa yang Inoo-kun pikirkan?”

“Ayahku, kuliahku…kau tahu… Ibuku kemarin menemuiku… setelah setahun ini tanpa kabar sama sekali.”, jelas Inoo.

“Eh??”



-Flashback-

Inoo masih ada di studio gambar ketika ia menerima telepon. Ia menatap layar ponselnya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Moshi – moshi?”, angkat Inoo sedikit pelan.

“Kei-chan… hisashiburi…”, kata orang diseberang.

“Okaa-chan?”, seru Inoo kaget.

“Hai… ini Ibu… datanglah ke restaurant besok siang…”, perintah Ibunya tanpa basa – basi.

“Kaa-chan…”

“Kumohon Kei-chan… kita harus bertemu..”, kata Ibunya lagi.



Maka hari selanjutnya Inoo mendatangi Ibunya. Di tempat yang paling ia hindari, restaurant milik keluarganya. Yang sudah ada sejak dua generasi sebelumnya. Sudah banyak cabang dari restaurant itu, dan sudah terkenal di seluruh negeri. Bahkan Ayahnya berhasil membangun usaha – usaha lain dan mempunya banyak investasi di berbagai perusahaan.

“Hisashiburi Okaa-chan..”, sapa Inoo saat ibunya datang menghampiri.

“Hisashiburi… Kei-chan..”, balas Ibunya.

Inoo meneguk teh yang ia pesan, tenggorokannya sedikit kering menghadapi Ibunya sendiri, “Ada apa Kaa-chan?? Setelah setahun, kau tak pernah menghubungiku..”, kata Inoo pelan.

“Pulanglah Kei-chan…”, sahut Ibunya cepat.

Inoo sudah tahu pasti ini yang ingin dibicarakan Ibunya.

“Setelah Otou-san mengusirku?? Tidak Kaa-chan, aku harus menyelesaikan kuliahku.. aku tak mau terus ia dikte…”, jawab Inoo mantap.

“Kei-chan… kau tahu seberapa inginnya ia kau jadi penerusnya…”

“Maka dari itu aku tak bisa Kaa-chan… aku tak mau jadi penerus Ayah.. aku punya masa depanku sendiri…”, Inoo dengan cepat memotong pembicaraan Ibunya.

“Kei-chan!! Dengarkan Ibu… restaurant ini sudah aja sejak kakek dari ayahmu ada… kau harus menghargainya.. kau anak laki – laki kami satu – satunya…”

“Dakara Kaa-chan!! Aku tak mau… menjadi arsitek sudah jadi impianku sejak kecil.. tak bisakah kalian menghargai apa yang aku mau?”

“Jangan egois Kei-chan!! Kau harus memikirkan perasaan Ayah dan juga Ibu….”

“Kaa-chan… aku bukan satu – satunya anak ayah…”

Ibunya sedikit tak sabar, meminum the hangatnya juga, “Kei-chan… kau anak pertama, kau kebanggaan Ayahmu… ia begitu senang ketika kau berhasil loncat kelas, ia begitu bangga… dan jika kau setuju mengambil bisnis ini..”

“Kaa-chan kumohon… aku tak mau lagi berdebat soal ini… gomen Kaa-chan..”, Inoo beranjak dan meninggalkan restaurant itu.

-Flashback end-



“Souka naaa~”, kata Opi yang tak tahu harus bereaksi bagaimana setelah mendengar cerita Inoo.

“Sudah ditentukan aku akan jadi penerus ayah sejak aku kecil..”, jelas Inoo.

“Inoo-kun punya adik? Tadi Inoo-kun bilang kau bukan anak satu – satunya..”, tanya opi sedikit berhati – hati agar Inoo tak tersinggung.

Inoo mengangguk, “Ada. Adik perempuan…dia sudah hampir SMA juga sekarang..”

“Sou… mungkin karena itulah Ayahmu ingin kau jadi penerus?”

“Ya… karena adikku perempuan…”, seakan Inoo tahu apa yang Opi pikirkan.

“Kenapa tak coba pulang?”, tanya Opi takut – takut.

“Aku tak bisa pulang sebelum membuktikan diri kalau aku bisa mandiri dan punya hal hebat yang bisa kubanggakan di depan Ayah.”, jelas Inoo.

“Tapi Inoo-kun… pasti ada alasannya kan Ibumu sampai mendatangimu ke sini karena khawatir padamu..”, kata Opi lagi.

“Tidak. Mereka hanya khawatir pada restaurant dan perusahaan saja..”, elak Inoo terlihat lebih emosi dari biasanya.

“Menurutku tidak begitu…”, elak Opi, “Bagaimana jika Inoo-kun coba tanya mereka…”, kata Opi lagi.

Inoo menatap Opi lama, membuat Opi seidkit agak risih, karena tatapan tajam milik Inoo.

“Opi-chan… aku tak mau datang hanya untuk di usir lagi…”, katanya lalu segera meraih tangan Opi yang duduk di sebelahnya.

“Inoo-kun… kau harus mencobanya lagi.. bagaimana pun mereka orang tua mu…”, ujar Opi.

Inoo menarik telapak tangan Opi ke wajahnya, menempelkan tangan tersebut di pipinya sendiri. Inoo menunduk. Dalam. Seakan ingin menyerap kekuatan dari tangan Opi. Dirinya terlalu pusing harus bersikap bagaimana, semua pertanyaan tentang masalahnya dan orang tuanya terus berputar dalam otaknya.

“Inoo-kun…”, panggil Opi lirih.

“Biarkan begini dulu sebentar…”, kata Inoo.

Maka Opi membiarkan Inoo, memberikan waktu untuknya.

“Akan kucoba… mau menemaniku kesana?”, katanya tiba – tiba sambil menengadah memandang Opi.

“Eh?”, seru Opi kaget, “Nande?”

“Tidak ada alasan.. aku hanya ingin kau menemaniku..”

“Wakatta… baiklah…”, jawab Opi.

Inoo kembali menggenggam tangan Opi, namun keduanya tak lagi bersuara. Keduanya menikmati suasana malam itu dalam keheningan.

“Huwaaaa~ Neechan dan Kei-chan beneran pacaran yaaaa!!”, teriak Yuuri tiba – tiba dari belakang mereka.

“Diam anak ingusan!!”, seru Opi sambil mengejar adiknya itu.

“Hehehe~ bilang Ibu ya…”, ancam Yuuri sambil tertawa – tawa menghindari Opi.

Inoo hanya tersenyum melihat keluarga ini. Keluarga yang tak pernah ia miliki.

-----------------

TBC~ oh TBC~
setiap 4 bulan gini update nya...
mari terus berdo'a biar ini cepet beres..LOL
GANBARIMASU!!! :)

Kamis, 30 Desember 2010

[Fanfic] Accidentally In Love (chap 9)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Nine
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,InoOpi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~

Accidentally In Love
-chapter 9-

Tempat ini seharusnya untuk bersenang – senang, tapi mood Miyuy sudah luntur sepenuhnya. Yabu di sebelahnya, memegangi mulutnya yang kini berdarah, wajahnya tampak sedikit malu, menoleh menatap kekasihnya yang kini terlihat marah.

“Miyuy-chan….”

“Katakan padaku ada apa sebenarnya?”, Tanya Miyuy dengan mata berkaca – kaca mendengar perkataan Inoo sebelumnya.


=Flashback=

“KAUU!!!??”, teriak Inoo tiba – tiba.

Yabu juga terlihat sama marahnya dengan Inoo.

“NGAPAIN KAU DISINI??!!”, bentak Inoo dengan nada suara meninggi.

“Miyuy-chan…kita pergi saja dari sini…”, kata Yabu sambil menarik tangan Miyuy yang masih bingung.

Inoo berhasil meraih kerah baju Inoo dan segera menghujamkan pukulannya dengan keras.

Pegangan tangan Yabu terlepas, dan kini Yabu serta Inoo berkelahi. Miyuy menangis tanpa tahu apa yang terjadi, Opi sendiri tak bisa berbuat apapun, menghampiri Miyuy dan menenangkan Miyuy.

“Ini untuk perbuatanmu terhadap Aya!!!”, kata Inoo marah.

Yabu membalik situasi, memukul Inoo tepat di rahang kanannya, “Aku tak pernah meninggalkan Ayame!! Dia yang meninggalkan aku hanya karena pria macam kau!!!”, balas Yabu tak mau kalah.

“Kau bercanda hah?!!”, sesaat mereka berdua terpisah.

Yabu mengelap darah segar yang keluar dari hidungnya, “Mungkin Ayame merecokimu dengan
berkata bahwa aku yang salah… dia yang salah, dan aku tak perlu minta maaf…”, seru Yabu
kesal, kembali berusaha mendekati Inoo.

Miyuy seketika tanpa pikir panjang memeluk tubuh Yabu erat, “Hentikan….”, kata Miyuy di tengah isakannya.

Opi juga berusaha memegang lengan Inoo, “Inoo-kun..ayo pergi!!”, seru Opi sedikit memaksa.

Inoo tak bergeming dari tempatnya.

“Miyuy-chan…”, suara Yabu melembut.

“Hentikaaann~”, kata Miyuy lagi sambil masih memeluk Yabu.

Opi kembali menarik lengan Inoo, kali ini lebih keras, “Inoo-kun!!!”, bentak Opi.

Inoo akhirnya menyerah, karena Miyuy tak mau melepas pelukannya, dan Opi terus memaksa dia pergi dari situ.

-flashback end-


Yabu diam, tak mampu bersuara, rasa sakit di wajahnya juga membuatnya sedikit pusing.
Miyuy berdiri, menarik tangan Yabu.

“Ayo ke Rumah Sakit…”, ajaknya.

Yabu tak menolak, hanya mengikuti langkah Miyuy.


Tak hanya Miyuy dan Yabu, kini Opi dan Inoo pun hanya diam di sebuah bangku, Opi tak berani bertanya apapun, terlebih lagi saat mereka brtengkar, yang Opi dengar ini menyangkut Ayame.

“Yabu itu… bajingan… beritahu temanmu, jangan sampai ia ajdi korban juga..”, kata Inoo tiba – tiba.

Opi kaget. Terlebih lagi, ia tak merasa ada yang salah dengan sikap Yabu.

“Kenapa berkata begitu?”, tanya Opi kaget.

“Karena ia menyakiti Aya…”

“Kau…kenapa kau…??”, Opi seakan tak mampu meneruskan ucapannya.

Inoo menyentuh pipinya yang sedikit bengkak, pikirannya melayang ke saat – saat itu.


-Flashback-

“Kei-chaaann!!”, teriak Ayame mendekati Inoo yang masih saja sibuk dengan piano nya.

“Ya?”, Inoo berhenti, melihat sosok Ayame mendekat.

Ayame adalah cinta pertamanya. Siapapun tau Ayame memang cantik, tapi bukan itu. Ia dan
Ayame sudah bersama sejak kecil, bahkan Inoo tahu apa saja yang Ayame suka atau benci.

“Aku mau cerita Kei-chan…”, katanya manis.

Inoo membiarkan Ayame ikut duduk di sebelahnya, menghadap Piano.

“Ada apa Aya-chan? Kau tampak gembira hari ini…”

Inoo tak pernah melihat Ayame gembira sejak hari ia masuk ke sekolah yang tidak sama
dengannya. Inoo yang masuk ke sekolah SMA favorite dan ternama, meninggalkan Ayame di sekolah yang lain, cukup bagus, namun Ayame ingin sekali satu sekolah dengannya.

“Ternyata sekolah disana tidak buruk..”, katanya memulai cerita itu, Ayame memainkan beberapa nada dan berhenti, “Tadi Yabu-kun menyatakan cintanyaaa..”

Inoo kaget, “Yabu? Siapa?”

“Iya.. dia itu kelas 1 B juga… ia tampan loh Kei-chan… tadi saat pulang sekolah, ia menyatakan cintanya, memintaku jadi pacarnya..”, seru Ayame dengan mata berbinar.

“Eh? Etto…”, Inoo tak mampu berkata – kata.

“Lalu aku menerimanya!! Hehehe.. aku senang sekali…”, kata Ayame lalu menoleh dan memainkan lagi beberapa nada di tuts piano itu.


Sudah berlalu sejak Yabu menyatakan cinta, hari – hari Yabu memang disibukkan dengan Ayame. Mereka pasangan yang jarang terlihat bersama, namun banyak orang sudah tahu.

“Aya-chan… pulang sekolah karaoke yuk..”, kata Yabu menghampiri meja Ayame yang dipenuhi kertas yang bahkan ia tak mengerti apa itu.

“Aku harus rehearseal Yabu-kun..”, kata Ayame menjawab dengan sedikit angkuh.

Yabu terdiam, sejak Ayame mulai latihan untuk pentas dan lombanya, praktis waktu Ayame tersita sepenuhnya, sulit untuk mencari waktu bersamanya.

“Kau pulang rehearseal jam berapa?”, Tanya Yabu lagi, kembali menahan lengan Ayame yang hendak pergi.

“Entahlah…”, Ayame beranjak, “Maaf Yabu-kun… aku sangat sibuk.”, katanya tak lupa memberikan senyuman manisnya.

Dan inilah Yabu, terdampar menunggu Ayame di luar sebuah gedung besar. Dengan keras kepala Yabu menunggu Ayame yang tidak menunjukkan tanda – tanda akan keluar dari situ.

Udara semakin dingin, cuaca bulan Oktober seperti ini bisa membuat siapapun kedinginan. Yabu yang hanya memakai satu jaket itu mencoba membuat dirinya lebih hangat, memasukkan tangannya yang beku di saku jaketnya.

Setelah beberapa lama, segerombolan orang keluar dari gedung itu. Yabu melirik jam tangannya, sudah pukul sepuluh memang.

Sosok Ayame muncul bersama pria yang sangat kurus, terlihat cantik, namun Yabu tahu itu pria. Ayame tertawa – tawa menanggapi apa yang dikatakan pria itu.

Yabu melambaikan tangan ke arah Ayame, ia menoleh dan kaget melihat siapa yang dilihatnya.

“Yabu-kunn??”, seru Ayame kaget, menghampiri Yabu.

“Konbanwa.. Aya.. dingin sekali disini..”, kata Yabu yang merasa tubuhnya sedikit kaku.

Pria yang Yabu tidak kenal itu masih mengikuti Ayame.

“Ah iya… ini Kei-chan…”

‘Kei-chan?’, Dahi Yabu mengerenyit mendengar panggilan yang begitu akrab itu.

“Inoo Kei desu..”, katanya membungkuk sopan.

“Kouta Yabu desu… aku pacarnya Aya…”, kata Yabu sambil menekankan kata pacar.

“Ah.. sou…”, jawab Inoo pelan.

“Ayo Aya… aku antar pulang…”, seru Yabu menarik tangan Ayame sedikit memaksa.

Ayame menurut, “Jya Kei-chan!! Nanti aku telepon…”

“Aku tak suka kau menelepon dia…”, seru Yabu kesal membuat Ayame terdiam.


Sejak naik kelas dua, Ayame lebih sibuk lagi. Keberadaannya di OSIS sebagai sekertaris, kadang berkumpul dengan teman – temannya, dan kegiatan les piano nya yang begitu menyita waktu, membuat Yabu bahkan sangat sulit menyapa Ayame. Semakin hari Ayame semakin terlihat cantik, banyak sekali pria yang mencoba mendekatinya, populernya Ayame membuat Yabu sedikit risih, ia tak terlalu suka diperhatikan banyak orang.

“Kei-chan sekarang kelas tiga loh..dia hebat bisa loncat kelas..”, ucap Ayame di sela makan siang mereka.

“Hmm..”, Yabu malas menanggapi.

“Kenapa sih kau?”, Ayame menyimpan kotak bento nya yang terlihat lezat, sementara Yabu
hanya bisa makan roti yang tadi ia beli di kantin.

“Aku tak suka kau membicarakan Kei-chan atau siapapun itu..”, Yabu merengut dan mengigit rotinya.

“Asal kau tahu Yabu-kun.. dia itu..”

“Teman masa kecilmu, teman curhatmu.. apa lagi? Lama – lama kau akan bilang dia pacarmu juga?”, kata Yabu hilang kesabarannya.

Ayame beranjak dari kursi taman itu, “Terserah!! Aku capek!!!”, katanya meninggalkan Yabu sendirian.

Yabu tak peduli, ia masih menyantap rotinya tanpa menoleh atau mengejar Ayame. Akhir – akhir ini memang hanya pertengkaran pembicaraan mereka, membuat Yabu malas mencari
Ayame ke kelasnya, atau sekedar mengirim e-mail pada Ayame yang kini jadi idola sekolah, sementara dia hanya murid biasa yang bahkan keberadaannya di sebelah Ayame adalah pengganggu.

“Hey!! Kusut sekali wajahmu…”, seru Hikaru yang kini tanpa Yabu sadari sudah berada di sebelahnya.

“Hmmm..”, ucap Yabu.

“Ayame lagi ya?”, Tanya Hikaru.

“Hmm..”, jawabnya lagi.

“Ah kau ini… bagaimana kalau hari ini kau ikut Goukon saja? Hah?? Ceweknya cantik – cantik loh… dari sekolah khusus cewek!!”, seru Hikaru yang memang popular di kalangan gadis – gadis.

“Malas..”, jawab Yabu lagi.

“Ayolah… kau tak akan rugi… toh Ayame sedang marah padamu… biarkan saja dulu dia…”

Yabu tak menjawab, tapi ia yakin pulang sekolah ia tak akan bisa kabur dari ketiga temannya.



“Kei-chaaaann…”, Ayame datang ke rumah Inoo dan tiba – tiba memeluk Inoo.

“Doushite?”, Inoo tak berusaha melepasnya, hanya mencoba menenangkan Ayame.

“Yabu-kun jahaaatt… apa dia selingkuh ya? Hikz..”, Ayame tak punya bukti apapun, hanya ia memang senang bermanja – manja pada Inoo dan mengatakan hal yang membuat Inoo
perhatian padanya.

“He? Kenapa kau bilang seperti itu?”

“Habis dia marah – marah terus… lagipula.. ia sering meninggalkanku sekarang…”, kata Ayame yang masih memeluk Inoo.

“Tenanglah Aya-chan… jangan seperti itu…”, kata Inoo lagi.

“Pasti dia selingkuh…”, adu Ayame pada Inoo lagi.

Inoo memang tak begitu suka dengan Yabu, apalagi kesan pertamanya saat menjemput Ayame waktu itu. Namun Inoo tak yakin dengan apa yang dikatakan Ayame.

“Sudahlah.. ayo masuk dulu..”, kata Inoo membawa Ayame masuk ke rumahnya.


Yabu menjauhkan tangan cewek aneh ini. Namanya Naoko dan dia memang partner nya di karaoke tadi. Tapi kenapa juga cewek ini harus nempel dengannya sampai pulang.

“Gak usah gini…”, kata Yabu dengan halus.

Cewek itu kembali melingkarkan tangannya di lengan Yabu.

“hmmm… Naoko…”, tolak Yabu lagi.

“Yabu-chaaann…”, panggilnya manja.

Yabu menjauhkan lagi Naoko dari dirinya, Naoko memintanya untuk pulang bersama, memintanya mengantar Naoko.

Sementara itu Inoo yang baru saja pulang dari toko buku memicingkan matanya, dia sepertinya melihat seseorang yang dia kenal.

Dalam kegelapan, memang tak begitu terlihat, tapi sepertinya ia kenal.

“Yabu-chaaann..”

Mereka berciuman!! Itu kan Yabu pacarnya Ayame. Inoo tanpa pikir panjang berlari ke tempat
mereka berdiri, menarik baju Yabu.

“KAU!!!”, Inoo menghantamkan tinju nya pada Yabu.

Yabu terhuyung jatuh dan kaget dengan pukulan tiba – tiba itu. Tak lama Yabu bangkit, melihat
Inoo dengan kesal.

“Apa – apaan ini?!!”, teriak Yabu.

Inoo tak menjawab dan memukul lagi Yabu, Naoko yang kaget dan tak mengerti apa – apa akhirnya malah pergi.

“Kau berani menduakan Aya HAH??!!”, otak Inoo dipenuhi kemarahan, ia tak lagi berfikir secara logika seperti biasanya.


Hari berikutnya Yabu datang dengan wajah penuh luka. Ia tak habis pikir dengan Inoo Kei itu. Siapapun dia, ia bahkan tak mengenalnya. Hanya sekali bertemu, pertemuan kedua kali ia malah dipukuli oleh orang itu.

“Yabu…are??? Wajahmu kenapa?”, tanya Taiyou yang bingung dengan wajah Yabu yang penuh luka.

“Sudahlah…”, Yabu malas membahasnya.

“Yabu-kun!!”, seseorang memanggilnya dari luar kelas, ternyata Ayame.

Yabu dan Ayame kini duduk di bangku taman sekolah mereka. Yabu benar – benar sedang tidak mood untuk bertengkar.

“Kei-chan cerita semuanya…”, kata Ayame.

“Apa maksudmu?”

“Kau dengan siapa semalam?”

“Teman.”, jawab Yabu singkat.

“Bohong… kau berciuman dengannya kan?”

“Dia yang menciumku… bukan salahku..”, jawab Yabu lagi.

Ayame terdiam.

“Yabu-kun jahat!! Kenapa Yabu-kun???”, ternyata Ayame menangis.

“Kau percaya aku atau cowok aneh itu?!!”, teriak Yabu yang kini kembali hilang kesabaran.

“Jangan sebut Kei-chan seperti itu!!”, bentak Ayame.

“Dia memang aneh!! Siapa dia? Pacarmu yang lain??!!”, teriak Yabu lagi.

“IYAAA!! Puas??!”, Ayame meniggalkan kursi itu.

Sejak saat itu, Yabu dan Ayame putus, mereka tak pernah lagi saling menghubungi satu sama
lain, bahkan bila tak sengaja berpapasan, mereka saling menghindar.


-Flashback end-



Yabu keluar dari ruang periksa, dan mendapati Miyuy masih di situ, menunggunya. Wajahnya ditekuk, tak sedikitpun tersenyum.

“Kau baik – baik saja?”, Tanya Miyuy.

Yabu mengagguk, “Seharusnya tak perlu ke rumah sakit..”, kata Yabu yang kini wajahnya
banyak plester menempel.

Miyuy tak menjawab, hanya kembali menunduk. Yabu belum mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Miyuy, sehingga Miyuy masih bingung dan bertanya – tanya ada apa sebenarnya dengan kedua pria itu.

Sisa perjalanan Yabu mengantar Miyuy ke rumah sama sekali hening. Baik Yabu maupun Miyuy sibuk dengan pikiran mereka masing – masing. Miyuy baru ingat apa yang ia baca tadi pagi.
“Sesuatu akan terjadi hari ini di keramaian.”, “Kebenaran akan terungkap.”

Tapi kebenaran apa? Kebenaran kalau kekasihnya ini punya musuh? Lalu siapa Ayame? pikir Miyuy.

“Aku pulang….”, kata Yabu ketika sampai di depan rumah Miyuy.

“Hmm..”, jawab Miyuy pelan.

“Maaf aku mengacaukan date kita….”, lalu Yabu berlalu.

Masih meninggalkan pertanyaan besar bagi Miyuy.
----------------------

“Jadi… Yabu itu…”, Opi hanya mengangguk mengerti apa yang diceritakan secara singkat oleh Inoo.

“Aku kesal melihatnya tadi…’, kata Inoo yang kini sudah mulai tenang.

Suasana di taman bermain itu sudah hampir gelap. Beberapa permainan bahkan hampir ditutup.

Opi dan Inoo sejak tadi hanya duduk dan Opi mendengarkan cerita dari Inoo.

“Tapi aku tak pernah merasa kalau Yabu seperti itu… ia cukup baik kok..”, kata Opi. “Bukan maksudku untuk membelanya… tapi…”

“Kurasa ia masih bajingan mungkin… entahlah Opi-chan…”, Inoo kembali menempatkan es di luka memarnya, “Ouch..”, keluhnya.

Opi merebut es yang dibalut sapu tangan itu, mengompreskannya pada Inoo. “Kau membela Ayame sampai seperti itu?”, gumam Opi.

Inoo bisa mendengarnya, namun tak mau menjawab. Ini masalah rasa kesalnya yang masih ada,
Ayame mungkin memang cinta pertamanya, tapi untuk perasaannya saat ini, Inoo bahkan tak yakin ia masih cinta atau tidak atau memang selama ini perasaannya pada Ayame ternyata memang sekedar seperti adik sendiri.

“Ia sudah seperti adikku, maka itulah aku tak suka ada yang menyakitinya..”, akhirnya Inoo menjawab.

“Hmmm…”, Opi hanya kembali bergumam.

“Kau percaya kan?”, tanya Inoo yang kini heran dengan dirinya kenapa ia harus meyakinkan
Opi kalau ia tak ada hubungan apapun dengan Ayame.

“Aku percaya.”, jawab Opi yang kemudian beranjak, “Aku beli minuman hangat dulu.
Sebentar…”, Opi menyerahkan es yang ia pakai untuk mengompres Inoo lalu menuju mesin
penjual minuman, mengambilkan Inoo teh hangat dan untuknya kopi.

Sesaat Opi terdiam di depan mesin itu. Kejadian hari ini memang sedikit aneh, lebih aneh karena ia merasa malah lebih dekat dengan Inoo ketimbang menjauh karena masalah ini. Merasa mengharapkan hal – hal yang tak mungkin, Opi mencoba menghapus harapannya dengan Inoo, ia tak mau tersakiti lagi.

Opi mengambil minuman hangat itu dan berbalik menuju tempat Inoo duduk. “Ini…”, kata Opi menyerahkan minuman itu.

“Arigatou…oh iya… orang tua mu kesini jam berapa?”, tanya Inoo.

“Hmmm.. Papa bilang mungkin setengah jam lagi, kenapa?”

Inoo menarik tangan Opi, “Ayo…”

“Hah?”

Opi merasa wajahnya memerah karena malu, dan dadanya pun bergemuruh, kini ia ada di bianglala bersama Inoo. Entah dengan alasan apa Inoo bilang ingin naik bianglala sebelum pulang.

“Kireeeiii..”, seru Opi yang gugup dan melihat pemandangan lampu - lampu yang mulai menyala dan langit senja yang indah.

Inoo tak bergeming, lalu tanpa aba – aba menggenggam tangan Opi.

“eh?”, Opi sedikit kaget, “Hah?”, dan menoleh pada Inoo, “Inoo-kun?”

Tangan kiri Inoo tiba – tiba bergerak dan menyentuh wajah Opi, Inoo mendaratkan sebuah kecupan di kening Opi tanpa mengatakan apapun.

----------------------

“Aku senang sekali kau sudah siuman...”

Kalimat dari seorang Jin itulah yang diingat oleh Din ketika baru membuka matanya. Masih lekat diingatan, ketika ia bersama Naomi mengalami kecelakaan yang tak pernah dibayangkan

Hari itu juga, entah hari keberapa Din berada di rumah sakit. Jin selalu datang untuk menemaninya, mengganti bunga yang berada di vas agar Din selalu menatap pemandangan segar setiap pagi

“Jinjin, hari ini tak ada pemotretan?”

“Hmm, jadwalku hari ini agak siang...jadi bisa agak santai...”, balas Jin, tak lupa menyertakan
senyumannya

“Aku bosan, aku ingin pulang ke rumah...”, rengek Din pada pria yang berusia 6 tahun lebih tua darinya itu

“Hh...”, Jin hanya menghela napas dan kemudian kembali mengembangkan senyumannya

Din tak membalas, wajahnya nampak cemberut

“Jangan bilang-bilang, ya...”, Jin mengeluarkan sesuatu berbentuk kotak dari tasnya
“...Katsudon dari toko favoritmu...”

Hampir saja Din melompat kegirangan dari tempat tidurnya “Kyaaaa, Jinjin!”

“Ssst, jangan berisik. Kalau ketahuan para suster, aku bisa dimarah... sekarang, buka
mulutmu...”

Jin begitu memperhatikannya, Din sangat menyukai saat-saat seperti itu. Mengingatkannya pada masa kecil. Setiap kali Din sakit, Jin tak pernah absen menjaganya, atau setidaknya menjenguk dan membawakan Din makanan atau apapun yang disukainya.

“Saa, selesai...aku harus pergi sekarang. Begitu sekolah selesai nanti, Yuya pasti akan datang menemanimu...”, Jin beranjak dari duduknya

“Ng, Jinjin sudah selesai menemani Naomi-neechan, atau...baru akan pergi ke kamarnya?”

Tak ada jawaban, Jin hanya tersenyum dan sesaat mengusap rambut Din lembut sebelum akhirnya menghilang ke balik pintu

Berada di rumah sakit membuat Din lumayan banyak menghabiskan waktu sendirian. Saat-saat seperti itulah ia tanpa sadar memikirkan banyak hal. Pertanyaan terbesar yang ada dalam pikirnya

‘Apakah Naomi –neechan baik-baik saja?’

Dokter bilang, Din mengalami koma selama beberapa hari. Pikirnya, apakah Naomi juga mengalami koma, kalo memang begitu, apakah ia juga telah siuman

Apakah Naomi juga sedang dalam perawatan, diruangan yang berbeda tentunya, dan juga perban yang tak kalah banyak menghias kepala dan seluruh tubuhnya

Atau...apakah Naomi diruangannya sedang bersama Jin yang menemani, menghabiskan waktu-waktu romantis bak adegan dalam drama TV.

Setiap kali Din bertanya tentang keadaan Naomi pada Jin atau siapapun, ia tak pernah mendapatkan jawaban yang pasti. Jin hanya akan tersenyum dan mengucap lembut “Shinpai wa nai yo...”.


Jelas Din tak bisa untuk tak khawatir.

“Dinchan..waktunya makan siang...”, seorang suster tersenyum ramah, membawakan Din seporsi lengkap makanan khas rumah sakit

Din menggeleng pelan “Aku masih kenyang, suster...”

“Hh...lain kali, kalau pacarmu datang, aku akan memintanya untuk tidak membawakanmu makanan yang aneh-aneh dulu, itu tak baik untuk pemulihanmu...”

Sebuah seringai nakal diperlihatkan Din “...tapi dia bukan pacarku, suster...”, nada bicaranya melemah

“Souka...Gomen ne, tapi kalian terlihat seperti pasangan...”

“Chigau..Onii-chan desu...”

“Sou...Kalau begitu, apa kau punya pacar, hmm?”

“Eto...”, Din belum sempat menjawab

“Tuan Putri, aku datang menjenguk...”, seseorang yang tak lain adalah Yuya tiba-tiba
melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang perawatan Din –masih dengan seragam dan tas
sekolahnya. Membungkukkan badan, Yuya memberi salam pada perawat yang masih nampak mudah itu, dan perawat itu pun balas membungkuk dan tersenyum pada Yuya

“Yuya?”

Sedikit terkejut, Din tak bisa meneruskan kata-katanya melihat Yuya membawa sebuket besar bunga freesia berwarna kuning segar

“Nah, tuan...Takaki”, ucap si suster melirik tulisan kecil di tas sekolah Yuya “...sekarang waktu besukmu. Karna Dinchan sudah dapat makan siangnya, aku akan membawa kembali makanan ini dan akan datang lagi untuk waktu minum obat nanti...”, wanita muda itu tersenyum kemudian membungkuk

“Ah, ya. Terimakasih”, balas Yuya sopan sebelum suster itu meninggalkan ruangan Din dengan membawa seporsi makanan yang sama sekali belum disentuh

“Ng? Ada apa? Kenapa melihatku aneh begitu” Yuya berbalik, menatap kearah Din

“Untuk apa bunga itu?”

“Huh? Tentu saja aku bawa ini karna akan menjengukmu yang sedang terbaring di rumah sakit”, papar Yuya

“Lalu kenapa bawa freesia?”

“Itukan terserah padaku! Jangan cerewet!”, Yuya berusaha menahan nada suaranya agar tak berubah meninggi

“Dasar tak punya sense. Apa Yuya tak pernah mendengar tentang bahasa bunga? Setidaknya, bawakan bunga dengan arti yang sedikit lebih...”

“Ha? Mana aku mengerti yang macam itu?! Memangnya ada apa dengan freesia? Ini kan bagus...”

“Freesia kan artinya...”, Din mulai menggembungkan pipinya “...childish”

“Ha! Kalau begitu, pilihanku tak salah! Kau memang childish, sesuai sekali...anak manja! Haha!”

“Jangan mengejekku, playboy palsu!”

“Cerewet! Gadis aneh yang hobi marah-marah!”

“Pangeran gadungan yang sok tempting!”

“Keras kepala!”

“Yuya juga keras kepala!”

“Hey, kenapa kau tidak menyadarinya? Kalau kepalamu tak sebegitu keras, mungkin kau tak akan sela...”, Yuya mendadak tak bisa meneruskan kata-katanya

“Tak akan apa, Yuya?”, tampak raut penasaran di wajah Din

“Ah! Dasar tante-tante galak!”, Yuya tampak sedikit berfikir sebelum akhirnya menemukan kata-kata untuk kembali menghina Din

“Aku bukan tante-tante!”

“Bukankah yang cerewet itu tante-tante, hah? Lalu, kalau kau galak, itu memang kenyataan”

“Aaah...”, wajah Din mulai memerah karena kesal “Berhenti mengejekku, honey blond jadi-jadian!”

“Apa?!”, Yuya berubah sedikit emosi mendengar Din menghina warna rambut yang dibanggakannya “...dasar poni konyol!”

“Uhh...!”, Din secara spontan mengangkat bantal di ranjangnya untuk memukul Yuya. Beraninya
Yuya mengejek model rambut kesukaannya, padahal Jin selalu memuji Din dengan kata ‘manis’ bahkan sejak ia masih kecil

“Tapi kau manis...”

Wajah Din masih terlihat memerah, tapi kali ini bukan lagi karena kesal. Ia tak percaya akan mendengar kata-kata itu dari Yuya, seketika Yuya menahan bantal yang akan dilayangkan
Din dan menatap Din lurus dengan mata gelap warna madu it.

Din juga masih terpaku. Baru kali ini pula, Yuya mengakhiri perdebatan mereka dengan cara seperti itu
----------------------

Suasana kelas 3B sedikit aneh dari biasanya. Nu tak terlihat bersama Miyuy, Py atau Opi. Din belum juga masuk sekolah sehabis kecelakaan.

Py merasa bosan karena semua temannya sepertinya sedang ada masalah masing – masing. Membuatnya sedikit risih dengan wajah bete semua temannya.

Lebih aneh lagi karena Nu tidak masuk sekolah, tidak juga membalas e-mail dan mengangkat telepon. Py khawatir tentu saja, tapi ia juga bingung bagaimana mencari Nu, membuat Nu keluar dari apartemennya. Karena Nu tak terlihat sama sekali, bahkan apartemennya sperti kosong menurut Opi.

Entah sejak kapan, atap sekolah menjadi tempat nya biasa menunggu Hikaru. Walaupun kadang mereka hanya saling diam dengan pikiran masing – masing, atau sekedar berpegangan tangan melihat awan, membuat Py bahagia. Py sendiri bingung jika ditanya apa hubungan mereka berdua? Mereka bisa dibilang sudah pacaran mungkin, walaupun belum ada kata – kata itu keluar baik dari Hikaru ataupun Py.

Hari ini tampaknya Hikaru sedikit telat, namun Py tak masalah, Hikaru pasti datang. Selama menunggu, Py menggambar di buku sketsa nya seperti biasa.

“Gomen… aku telat…”, suara itu keluar dari Hikaru yang baru saja datang.

“Daijoubu… dari mana?”, tanya Py yang melihat jam tangan, ternyata Hikaru sudah telat lebih dari sepuluh menit.

Hikaru duduk di sebelah Py, “Hanya ada urusan sebentar…”, jawabnya.

“Hmmm…”, Py mengangguk.

Tiba – tiba Hikaru menyodorkan sebuah lollipop rasa cola di hadapan Py, “Kore!!”, katanya ceria, seperti biasa.

“Arigatou Hikka-kun..”

“Mmm…”, Hikaru pun membuka satu lollipop lain untuk ia makan sendiri.

“Ah iya… bagaimana keadaan Ikuta-san?”, tanya Hikaru yang juga sudah mendengar tentang kecelakaan itu.

“Sepertinya sudah mendingan, ia tak suka kita terlalu mengkhawatirkannya…”, kata Py yang tahu seberapa keras kepala nya sahabatnya itu.

“Yokatta na…”

“hmmm….”

Hikaru lebih pendiam dari biasanya, seakan banyak sekali yang menyesakkan pikiran Hikaru hari itu.

“Py-chan…”, Hikaru meraih tangan Py.

“Hmm?”

Tak menjawab, Hikaru hanya terus menggenggam tangan Py dalam diam.

“Pulang sekolah ini, mau ke apartemenku?”

“Eh?”, Py merasa dadanya dag-dig-dug karena tak menyangka akan ajakan itu, “Kenapa?”

“Aku ingin menunjukkan Bass yang selalu aku ceritakan pada Py…”, kata Hikaru.

Py pun mengangguk walaupun ia yakin wajahnya sudah memerah saat ini.


“Ini apartemenku…”, kata Hikaru pada Py.

Apartemen itu hanya apartemen kecil biasa. Terdiri dari satu dua ruangan yang berupa dapur dan kamar tidur. Tidak rapi, tapi juga tidak terlalu berantakan. Hikaru mempersilahkan Py duduk di karpet yang ada di ruang tengah itu, satu meja kecil ada di tengah – tengah ruangan selain kasur yang mepet ke dinding tanpa ranjang.

“Arigatou…”, kata Py yang makin deg – deg an saja sekarang.

Hikaru beranjak ke dapur dan memberi Py segelas teh.

“Maaf.. hanya ada ini…”, kata Hikaru.

“Daijoubu…”, jawab Py tersenyum, “Jadi Hikka-kun benar – benar tinggal sendiri ya??”, kata Py
lagi.

“Iya keluargaku di Sendai….”, jawab Hikaru pelan.

“Hmmm… aku tak pernah tinggal sendiri… pasti cukup sulit ya?”, tanya Py lagi.

Hikaru menggeleng, “Tidak juga. Sebenarnya, Yabu pernah memintaku untuk tinggal bersamanya di rumah orang tuanya, tapi aku menolak.”, jelas Hikaru.

“Eh? Kenapa Hikka-kun?”, tanya Py heran.

“Tidak apa – apa. Aku hanya ingin tinggal sendirian.”, jelasnya.

“hmmm..”

Hikaru beranjak dan mengambil Bass yang ia maksud. “Ini…”, kata Hikaru dengan senyum mengembang.

“Waaaahhh..bagus ya Hikka-kun…”, kata Py ikut tersenyum.

“Tidak mahal sih… tapi aku suka dengan Bass ini…”, kata Hikaru lagi.

Py tersenyum, “Kalau Hikka-kun memainkannya bagaimana?”

Hikaru pun melakukan apa yang Py minta. Selama beberapa menit ruangan kecil itu hanya dipenuhi oleh suara permainan Bass oleh Hikaru.

“Sugoiii!!”, kata Py walaupun ia tak terlalu mengerti soal Bass, tapi ia rasa permainan Hikaru memang bagus.

“Hehehe…”, kata Hikaru tersenyum canggung, “Arigatou…”

“Pasti Hikka-kun bisa jadi pemain Bass terkenal nanti…”, kata Py lagi.

“Muri…hahaha…”, Hikaru tersenyum pahit.

“Eh? Nande?”

“Gak apa – apa Py-chan….”, katanya lalu tersenyum.

Seperti biasa senyum itu yang membuat Py juga dapat ikut tersenyum. Hikaru dan Py pun mengobrol, hingga tak sadar waktu sudah cukup malam.

“Hikka-kun…sudah malam…”, kata Py menyadari setelah melihat ponselnya.

“Ah iya…ayo pulang….”

“Eh?”

“Sudah malam Py-chan… kau tak mungkin pulang sendiri…”, kata Hikaru sambil beranjak dan
mengambil jaketnya.

Sepanjang pulang itu Hikaru tak banyak bicara hingga tiba di depan rumah Py.

“Arigatou Py-chan…hontou arigatou…”, kata Hikaru sambil masih menggenggam tangan Py.

“Eh? Kenapa berterima kasih padaku?”, tanya Py heran.

Hikaru menggeleng, “Tak apa… hanya…. Terima kasih atas segalanya…”

Py masih heran, terlebih heran ketika secara tiba – tiba Hikaru memeluknya.

“Hikka-kun…”, panggil Py pelan.

“Biarkan aku begini… sebentar saja….”, bisik Hikaru pelan, menarik Py ke dalam pelukannya lebih dalam.

---------------------------

misaki miyuy calling…


Untuk Nu, getaran ponselnya terasa begitu menyakitkan. Hanya bisa membiarkan panggilan masuk tanpa menjawabnya

Getaran itu akhirnya berhenti

Dengan berat hati, Nu menekan tombol shortcut pada keypad ponselnya

new events (112)
63 missed calls
49 unread mails


“Kenapa mereka tak ada lelahnya…?”, ujarnya pelan

Terlihat beberapa nama yg mendominasi pada bagian missed call, Misaki Miyuy, Arioka Daiki, Yoshitaka Poppy, Yamashita Opi

Terdapat variasi urutan dari beberapa nama tersebut sesuai waktu telepon yang sengaja Nu biarkan. Juga nama-nama yang sama ketika ia melihat bagian unread mail.

Misaki Miyuy
Yoshitaka Poppy
Yamashita Opi
Arioka Daiki
Ada satu yang berbeda dari variasi berpola tersebut


Sender: yoshida.hinagiku@pqrmail.co...
Subject: tolong kembali ke sekolah
Message:
tolong kembali ke sekolah, Takahashi…


Sebuah alamat email yang terdapat di phonebooknya. Yoshida Hinagiku, butuh waktu cukup lama bagi Nu untuk dapat mengingat siapa pemilik nama itu

“Ah.. wakil ketua kelas…”, ucap Nu akhirnya. Karena ingat Din pernah menyebutnya. “Bagus, bahkan sekarang orang menganggapku hikikomori…”

Ketika tombol down ditekan beberapa kalipun, tak banyak perubahan dari variasi dengan pola semula.

Arioka Daiki
Yamashita Opi
Misaki Miyuy
Yoshitaka Poppy


Tentu saja, deretan itu terasa tak lengkap. Ada satu bagian penting yang hilang…



Ikuta Din


“Dinchan…”

Sudah hampir satu minggu penuh Nu tidak pergi ke sekolah. Semua tentang sekolah membuatnya merasa sesak. Mengingat perlakuan tak menyenangkan yang diterimanya, juga perasaan tertekan setiap kali mengingat kata-kata yang diucap beberapa teman sekelas beberapa hari lalu. Tentang teman-teman dekatnya. Tentang seorang bernama Arioka Daiki yang belakangan ini jarang membiarkan waktu sendiriannya.

Getaran kembali terasa dari benda yang tak lain adalah ponsel

arioka daiki calling…

Nama itu. Nama itulah yang paling membuatnya merasa kesal

“Kenapa aku harus peduli?!”

Benda itu meluncur dengan cepat, membentur dinding dengan cantiknya dan berubah menjadi
bagian-bagian ketika menyentuh lantai. Tak ada lagi getaran.

Kepala Nu yang semula terbenam dalam bantal seketika terangkat ketika pendengarannya menangkap sebuah suara.

Seseorang membuka pintu kamarnya.

Siapa ?

Kenapa bisa ?

Ia bisa memastikan bahwa pintu kamarnya terkunci, juga pintu utama.

“Kupikir, kau masih ada disekolah”

Kontan Nu terbelalak mendapati sosok yang masuk kedalam kamarnya. Seorang berrambut hitam pendek. Orang yang sama dengan pria pirang yang beberapa bulan lalu menjadi orang paling penting bagi dirinya, hanya penampilannya yang berbeda.

“Kyo-san…”, panggil Nu lirih.

“Aku datang untuk kembalikan ini…”, pria yang dipanggil Kyo itu membungkuk, meletakkan sebuah benda yang terbuat dari logam diatas meja. Tak lain adalah sebuah kunci, kunci copy dari kamar yang ditinggali Nu

“Padahal dibuang juga tak masalah…”, ucapnya dingin

“Mungkin kau masih membutuhkannya”, balas pria itu sesingkat mungkin

Suara itu. Begitu dirindukan. Ia ingin mendengar suara itu lagi

“Kenapa Kyo-san harus peduli?”

Kyo beralih, ke tempat tidur Nu –yang sejak beberapa waktu terakhir tak lagi menjadi tempatnya menghabiskan waktu

“Hh, tak ada alasan.”, ucapnya acuh.

“Kalau begitu, aku salah telah kalau berpikir Kyo-san peduli…”

“Anggap saja begitu…”, Pembicaraan mereka memang tak pernah manis, tapi seingat Nu paling
tidak Kyo sudah sedikit berubah sikapnya.

“So, tell me. Why did you leave me? Just tell me why. Tell me the reason..”, tanya Nu.

“Yang sebenarnya. Tak ada alasan”

“Why did you think that was okay to went out with me ?”, tanya Nu lagi.

“Tak ada alasan.”, jawabnya lagi.

“Kenapa semuanya dijawab dengan ‘tak ada alasan’?”, nada suara Nu meninggi.

“Haruskah aku berpikir tentang itu? Haruskah aku peduli?”, imbuh Kyo lagi.

“Kalau begitu, kembalilah…”, perlahan Nu menyandarkan kepalanya dibahu Kyo.

“Haruskah aku bertanya alasannya?”

“Aku butuh Kyo-san, aku butuh semua ketidakpedulian Kyo-san”

Hening

Sejenak, pria berrambut hitam itu menyalakan pemantik dan menyesap sebatang Phillip Morris
dibibirnya dalam-dalam. Aroma yang begitu dirindukan pula.

“Sebenarnya”, Kyo mulai membuka suara “Sejak awal, aku tak pernah mencintaimu”.

Semua orang tahu, Kyo ahli dalam hal berbohong, tapi sesekali ia bahkan jadi sangat payah
dalam hal tersebut.

“Aku juga”, Nu menimpali.

“Urusanku selesai. Aku akan pergi”. Kyo beranjak. Tak ada lagi tempat bagi Nu dimana
kepalanya bertumpu.

Bukan lagi tempatnya.

“Dimana kau simpan ashtraynya?”, Kyo mengedarkan pandang ke seluruh ruangan.

“Aku bukan perokok. Jadi kubuang”, bohong.

“Hah! Tapi itu berguna…”

“Saat membuangnya, aku yakin Kyo-san tak akan kembali, jadi sudah tak lagi ada gunanya”


Daiki sebisa mungkin mempercepat langkahnya menuju salah satu kamar flat yang begitu dihafalnya. Kamar milik teman sekolah bernama Takahashi atau yang --dengan kesepakatan sepihak-- dipanggilnya Nuchan. Tak ada hal lain yang dipikirkan selain bisa sampai ke kamar itu dengan cepat.

“Aah!!”

Tiba-tiba, Daiki merasakan tubuhnya sedikit terpental dan jatuh kebelakang. Ia baru saja
menabrak seseorang tanpa sengaja.

Dengan segera, Daiki kembali berdiri dan membungkuk dalam-dalam

“Go, gomennasai! Aku benar-benar tak sengaja”

Sementara yang ditabrak, hanya membetulkan letak kacamata raybannya yang sempat terlepas karena peristiwa tabrakan. Memperlihatkan anggukan samar tanpa kata-kata dan kemudian berlalu.

Wajah itu. Daiki berani bertaruh kalau ia pernah melihatnya. Hanya sayangnya, ia tak ingat siapa ataupun dimana pernah bertemu.

“Ah, Nuchan!”, Daiki meneruskan langkah ketika teringat tujuan utamanya


“Kyo-san!”

Lagi. Nu mendengar seseorang membuka pintu kamarnya

“Nuchan!”, panggil Daiki dari pintu.

Tapi bukan seorang yang diharapkan

Dipikiran Nu, sosok itulah yang mempunyai paling banyak korelasi dengan hal buruk yang terjadi padanya beberapa hari lalu.

“Keluar”, ujar Nu dingin tanpa menujukan pandang pada sosok itu. Daiki. Sejak beberapa hari
lalu ia mencoba masuk ke flat milik Nu. Tapi nihil, teman sekolahnya itu sama sekali tak memberi akses. Berbeda kali ini. Kyo yang baru saja keluar tak mungkin mengunci kembali pintunya, Nu melupakan itu.

“Tapi, aku ingin membawa Nuchan…”

“Kubilang, keluar! Apa kau tuli, hah?!”, potongnya sarkastik.

“Nuchan, kumohon dengarkan aku…”, tak menghiraukan. Daiki melangkah, memperkecil jarak antara dirinya dan gadis berkulit pucat itu

“Pergi sana! Aku tak ingin melihatmu!”

“Aku…”, kekecewaan mulai tampak jelas di wajah Daiki

“Pergi…”, Nu terus bergerak kebelakang, berusaha menjauh dari Daiki yang terus mempersempit jarak, namun tak ada lagi ketika dingin tembok menyentuh punggungnya “…aku membencimu…”

“Tolong jangan benci aku…”, Daiki mulai terbawa emosi.

Menenggelamkan wajahnya di kedua lutut yang diketuk, Nu mulai mengeluarkan suaranya yang kini mulai bergetar “Sejak awal, aku selalu berharap tak ada lagi yang menyapaku selain keempat temanku…tapi semenjak kau datang, yang kudapatkan bahkan lebih dari itu. Kau membawa masalah bagiku, aku ingin kau menjauh”

Setiap kata yang diucap Nu terasa begitu sakit bagi Daiki. Ia tahu apa yang terjadi hingga membuat Nu absen dari sekolah. Ia juga paham betul, untuk seorang introvert seperti Nu, itu bukanlah hal yang mudah

“Tak apa kalau Nuchan tak ingin melihatku. Tapi aku ingin Nuchan melihat Dinchan. Dia sudah sadar. Kabar baik, kan? Nuchan belum melihatnya, kan? Aku datang untuk menjemput…”

“Aku tak akan pergi. Kau sudah mendapat jawabanku, jadi sekarang keluarlah”

“Kenapa…?”

“Aku tak ingin peduli”

“Aku tahu Nuchan ingin melihat Dinchan…”, Daiki tersenyum, begitu polos dan tulus.

“Jangan mengandaikan pemikiran pribadimu sama seperti yang aku pikirkan!”, bentak Nu.

“Tapi benar, kan?”, Daiki masih tak mau kalah.

“Sama sekali tidak”

“Bohong. Aku yakin Nuchan peduli”

“Kau tahu apa tentangku?!”, teriaknya lagi.

Daiki menunduk. Mencari-cari kata apa lagi yang harus diucapkan

“Kalau begitu, sekarang pedulilah…”

“Kenapa aku harus?”

“Karna dia temanmu. Mereka teman-temanmu. Mereka peduli padamu…”

“Aku tak peduli kalau mereka peduli padaku. Aku tak meminta mereka peduli!”

PLAKK !

Sebuah tamparan dari Daiki sukses membuat Nu terdiam.

“Beginikah caramu menghargai sebuah persahabatan? Buka matamu, kali ini saja kumohon
untuk tak bersikap egois!”

Dalam pikirnya, Nu ingin sekali membalas apa yang dikatakan Daiki. Membentak. Balik
menampar. Atau bahkan berteriak agar Daiki segera keluar dari tempatnya. Ia benci kalah dan tak bisa menjawab. Namun, perih yang terus menjalari pipinya seakan membuat mulutnya terkunci.

“Sekarang tak ada bantahan lagi. Ikut aku…!”, tatapan tegas Daiki, selalu membuatnya tampak begitu dewasa

Hanya bisa terdiam, Nu membiarkan Daiki menggenggam tangan dinginnya. Membimbing langkahnya.

-----------------------------

“Kabar baik, Dinchan. Dokter bilang, beberapa hari lagi kau sudah boleh pulang...”, ujar Jin tersenyum sembari memberikan sebuah eksemplar majalah Myojo favorit Din edisi terbaru dengan tampilan imej grub band NEWS –yang sudah sejak lama menjadi favorit Dinchan- di sampul depannya

“....”, diam

Jin jelas merasa aneh. Din selalu berteriak histeris jika Jin membawakannya majalah favorit,
ditambah dengan kabar baik bahwa besok ia telah diperbolehkan menginggalkan rumah sakit.

Tapi kali ini berbeda, Din terlihat sama sekali tak senang.

“Ng, kenapa?”

“Biarkan aku melihat Naomi-neechan. Kalian bahkan tak beritahu aku dimana tempatnya dirawat. Aku ingin tahu keadaannya...”

Jin sesaat menggigit bibir bawahnya melihat wajah sedih gadis yang sudah seperti adik kandungnnya itu

“Sudah aku bilang, tak ada yang perlu dikhawatirkan...”, Jin beranjak dari tempatnya, mendaratkan bibirnya untuk sebuah kecupan manis di puncak kepala Din

Seakan jantung Din berhenti berdetak. Ia jelas masih menyimpan perasaan pada pria yang telah dikenalnya selama belasan tahun itu

Yuya berhenti dan mematung di pintu kamar rawat Din, menyaksikan pemandangan yang disaksikannya, antara Din dan kakaknya sendiri. Mungkin semua tak seperti yang Yuya lihat.
Tapi, apa yang dia tahu?

GSSRAK—

Buket itu terjatuh ke tanah ketika Yuya yang tadi memegangnya mengambil keputusan seketika untuk meninggalkan ruangan itu

Berlari. Membawa perasaan di hatinya bersama langkah kaki yang semakin cepat menuju atap rumah sakit. Kesal. Kecewa. Cemburu.

“Ng!”, menolehkan kepalanya kearah pintu masuk, Jin mendapati sebuket bunga yang tergeletak di lantai

“Yellow roses, mungkin tadinya ada yang membawa ini untukmu...”, ucap Jin memungut buket itu dan berjalan menuju tempat tidur Din

Din tak menjawab, hanya menunduk dan bergumam lirih

“Yellow roses...jealousy...”
-----------

To Be Continued!!!
SEPANJANG JALAN KENANGAAAAANNN…
Maaf lama, author lagi pada sibuk…
Silahkan dibaca fic berdurasi 5000 kata ini…
Yang masih aja lum tamat…
LOL
Ganbarimasu!!
Next chap gak bakalan lama…karena tinggal saia yang ngedit…
Dinchan yori..
Hehehehe.. 