Tampilkan postingan dengan label Takaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Takaki. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2011

[Fanfic] Accidentally In Love (chap 10)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Ten
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,InoOpi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~
P.S : di chapter ini banyak di ceritain soal Din ama Nu.... :P


Accidentally In Love
-Chapter 10-

“Tapi, aku sudah mengecewakan Miyuy, Pychan, Opi. Mereka mungkin…”, Nu berusaha menarik tangannya dari jemari Daiki.

“Dengar. Aku percaya, mereka akan memaafkan Nuchan, mereka menunggu Nuchan”.

“Hh…”

Berat hati, Nu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar rawat Din. Ragu. Hanya beberapa helaan nafas yang terdengar. Sesuatu yang entah apa membuat Nu menghentikan tangannya sendiri sesaat hendak mengetuk pintu.

“Aku tak bisa…”, ujarnya, menundukkan kepala dan kemudian berbalik

“Ternyata disini…”

Sepasang lengan memberikan sebuah pelukan pada punggung Nu yang masih bergetar. Mengejutkannya.

“Dinchan!”, seru Nu begitu terkejut

“Hehe”, hanya sebuah cengiran yang menjadi jawaban Din. Cara seorang sahabat untuk mengisyaratkan sebuah glad-to-see-you-again

“Aah! Apa-apaan?! Ayo ke tempat tidur lagi, jangan terlalu banyak bergerak!”, nada bicara Nu terdengar panik, dengan sehati-hati mungkin memapah Din kembali ke tempat tidurnya.

“Aku baik-baik saja, jangan terlalu cemaskan aku…”, Din tampak menggembungkan pipinya.

Sementara ditempat yang dituju, tiga wajah tersenyum sudah menyambut mereka

“Selamat datang kembali…”, ujar Py tersenyum.

Mata Nu berkaca – kaca melihat senyuman itu. Senyuman yang begitu tulus.

“Kami kangen kalian…”, tambah Opi seraya memeluk kedua sahabatnya itu. Tentu saja, Miyuy dan Py juga tak akan melakukan apapun selain hal yang sama

seakan samar mulai terdengar

“Gomen ne…”, ucap Nu lirih

“Ng? Minta maaf buat apa?”, balas Miyuy

“Maaf, aku sudah egois. Mengacuhkan kalian. Sudah jadi sangat menyebalkan…”

“Hey, hey…ada apa ini?”, Dinchan mulai menaikkan sebelah alisnya, tak mengerti dengan apa yang terjadi

“Ah, bukan. Harusnya aku bilang terimakasih. Terima kasih sudah peduli padaku. Terima kasih sudah menjadi temanku sejak awal. Terima kasih untuk tak marah padaku. Terima kasih untuk masih menerimaku kali ini…”, menghapus air mata, Nu mulai mengurai senyuman tipis

“Eh? Kenapa jadi melankolis begini, sih?”, Opi bermonolog, menggaruk kepalanya yang samasekali tidak terasa gatal

“Tentu. Kita kan teman. Jadi tak perlu bilang maaf ataupun terima kasih”, lagi, Py memperlihatkan senyumannya

“Ya, ya! Kita ini satu, walaupun cuma bagian kecil yang hilang, mana bisa jadi lengkap…”, tambah Opi ceria

“Terima kasih…”

Seseorang menyaksikan pemandangan itu dari ujung pintu. Senyuman dibibirnya seolah mengatakan ‘aku berhasil’. Ia tak ingin -atau setidak nya, belum ingin- mengacau momen bahagia itu. Menonton dari kejauhan sudah cukup membuatnya senang.

“Hey, Daiki. Sampai kapan mau berdiri disitu terus?”, panggil Opi

“Eh?”, Daiki terkejut

“Eeh? Kalian kesini berdua?”, tanya Miyuy

“Memangnya ada kemungkinan lain?”, Din mencolek-colek Nu, mencoba menggoda

“Kyaaaa”, teriak Py pelan, tapi terdengar begitu histeris

“Ha? Kenapa harus sebegitu histeris? Kalian juga datang kesini sama-sama, kan?”, Nu terheran seraya meluncurkan sebuah tanya bernada datar

“Akhirnya, hanya Daichan yang bisa membawa Nu keluar dari kamar…”, lanjut Py

“Ah, itu…”, Daiki tak bisa membalas, hanya tersenyum malu-malu, membuatnya terlihat semakin inosen

“Yah, sudahlah”, timpa Nu dingin. Pikirnya, jerit histeris Py pasti akan terhenti bila mengetahui apa yang terjadi pada pipi kirinya beberapa waktu lalu

-----------

-Kereta dalam perjalanan pulang-

“Arioka…”

“Hm?”

“Buka telapak tanganmu”

Tanpa banyak pertanyaan, Daiki melakukan apa yang diperintahkan Nu

Nu meletakkan sesuatu di telapak tangan itu

“Apa ini?”

“Huh, anak balita saja bisa langsung tahu kalau itu sebuah kunci…”

“Iya, tapi kunci apa…?”

“Mulai sekarang, aku tak akan mengusirmu dari kamarku…”

“A, ah!”, Daiki seketika tak bisa menjawab ketika mendapati hasil pemikirannya

“Ne, Arioka…untuk yang telah kau lakukan, terimakasih…”

“Bukan masalah”, balas Daiki, tersenyum seperti biasa “Ah! Semuanya bukan gratis lho, Nuchan!”, bocah imut itu menarik kembali kata-katanya

“Ha? Jadi aku harus apa lagi?”, tanya Nu pada remaja manis yang sejak tadi duduk tepat disampingnya itu

“Panggillah dengan namaku”, ucap Daiki dengan wajah mantap

“Daiki…”, panggilan itu terdengar begitu pelan dan lembut, tapi sang pemilik nama bisa mendengarnya, terlebih ketika Nu mulai menyandarkan kepala dibahu kanannya dengan perlahan




“Ya, tetaplah begitu…”

Senyuman lembut itu kembali terlihat. Nu tak perlu khawatir sosok itu akan beranjak meninggalkannya.

Begitu nyaman.

Itulah, tempatnya.

Sekarang.

Tenang. Beberapa penumpang yang terlihat sudah nampak tertidur. Hanya ada suara sentuhan secepat kilat antara kereta dan rel listrik, juga yang menghias pandangan dari luar jendela hanyalah bias-bias cahaya yang dihasilkan remang malam.

“Hey, Daiki…aku tak benar membencimu…”

Tak ada jawaban

“Tidur, ya? Yah, sudahlah…”

-------------------

“Hmm...”, mata Yuya beralih dari satu benda ke benda yang lain

“Nona, tolong berikan topi yang cocok untuk seorang gadis manis...”, mendengar suara itu, membuat Yuya segera mengalihkan pandangannya pada sumber suara

“Aniki!”

Orang yang dilihatnya itu. Tak salah lagi, Jin, kakaknya sendiri. Yuya melangkahkan kakinya dengan spontan kedalam kamar pas terdekat, menyembunyikan diri dari pandangan Jin.

Sama sekali tak disangkanya, kalau ide awalnya pergi ke toko fashion untuk membeli topi untuk Din –yang kepalanya masih berhias sedikit perban- justru membuatnya bertemu dengan sang kakak

“Uhh...”, sesuatu yang bahkan tak diketahuinya membuat Yuya dengan sabar mengintip dari balik pintu kamar pas, memenuhi rasa penasarannya pada apa yang akan terjadi

“Tentu tuan. Bagaimana dengan yang ini?”, tawar seorang pegawai toko pada Jin

“Ah, tidak-tidak...tolong berikan yang modelnya lebih casual, kurasa casual style lebih cocok untuknya...”

“Kalau begitu...yang ini?”, tawar pegawai itu untuk kedua kalinya, mengambil topi dengan model yang berbeda

“Hmm, sempurna. Tolong bungkus yang itu...”, pinta Jin tersenyum

Gadis manis

Casual style

Yuya semakin penasaran, “Untuk siapa aniki membeli topi itu? Apa aniki sudah dapat pacar baru, tapi Naomi...aah! Apa dia beli untuk Dinchan? Aniki kan sering memuji Dinchan manis, dan gaya casual, aah...”, rasa penasaran sekaligus gusar membuat Yuya tak menyadari mulutnya terus bergumam

“Apa ini untuk pacar tuan...?”, pegawai cantik itu mencoba bersikap bersahabat pada Jin. Mungkin untuk Yuya, justru  yang seperti itu akan membuatnya terganggu

“Bukan-bukan, aku memang menyukainya, tapi dia punya orang lain yang disukainya. Hahaha...”, Jin tertawa pelan tapi terdengar renyah

“Hah?! Orang yang disukai aniki menyukai orang lain?! Tapi siapa orangnya?!”

“Ah, sayang sekali. Tapi saya rasa, pria seperti tuan tak akan sulit untuk...”

“Hey, nona. Berapa lama lagi jam kerjamu akan selesai?”, tanya Jin sebelum pegawai itu menyelesaikan kalimatnya

“Sekitar setengah jam lagi”, balasnya tersenyum

“Mau jalan-jalan denganku?”, tawar Jin, dengan senyuman itu, mungkin tak ada perempuan yang akan menolak

Tak ada banyak kata-kata, Yuya hanya memukul keningnya sendiri, “Dasar aniki...”

“Baiklah...Ng, wajah tuan rasanya begitu familiar. Apa tuan artis atau semacamnya?”

“Ahahaha, banyak yang bilang begitu. Tapi sayangnya, aku orang biasa...”

Bohong. Jin justru telah memulai karirnya di dunia fashion model bahkan sejak masih sangat muda. Dan dunia itu pula yang mempertemukannya dengan Naomi...


----

Tersenyum. Din menatap refleksinya sendiri dalam cermin. Ia telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, keadaannya juga jauh membaik. Dan yang terpenting, Jin akan membawanya bertemu dengan Naomi, mereka sebentar lagi akan berkunjung ke mansion keluarga Lawrence

Beberapa kali ia membetulkan posisi topi dikepalanya. Saat ini masih ada perban yang menempel di kepala Din. Tapi Jin memberinya sebuah topi, Din menyukainya, terlebih karna itu pemberian dari Jin

“Sudah...sempurna”, suara yang bersumber dari seseorang di ujung pintu itu mengejutkan Din

“Yuya?!”

“Cocok sekali, topi itu cocok sekali untukmu...”, tersungging senyuman tipis dari bibir Yuya

Din seakan tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh pendengarannya. Tuan Takaki Yuya yang sombong itu memujinya. Sempurna katanya. Cocok katanya. Dan senyuman itu...Sangat aneh. Selama ini, apapun yang dikenakan Din pasti mendapat celaan dari Yuya, terlebih lagi bila Yuya tahu yang dikenakan Din adalah pemberian dari sang Aniki

“Tak ada yang perlu dibetulkan lagi. Kau sudah tampak cantik. Jadi sekarang, ayo turun, Aniki sudah menunggu...”

Dan sekarang...cantik

“Hah, mungkin efek kecelakaannya belum sepenuhnya hilang. Kepalaku terbentur sampai ejekan Yuya terdengar seperti pujian...”, gumam Din. Tak ada sepuhan merah khas dari seorang gadis yang dipuji penampilannya, justru Din saat itu ingin menampar pipinya sendiri


-Dibawah tangga-

“Jin, apa kau yakin?”, ekspresi keraguan tampak di wajah seorang pria muda berrambut coklat muda

“Tenanglah, Toma...”, Jin hanya menepuk bahu sahabatnya itu

“Hh, apa boleh buat. Aku percaya padamu, kawan. Kau selalu mengerti apa yang akan kau lakukan”

Pria itu, Ikuta Toma, yang tak lain adalah kakak dari Ikuta Din. Toma sengaja membolos dari rutinitasnya karna ingin mengetahui keadaan adik tersayangnya. Pekerjaannya sebagai dokter trainee di bagian forensik rumah sakit pusat membuatnya jarang bisa pulang ke rumah bahkan sejak Toma menempuh pendidikannya di bidang itu.

“Aku merindukanmu, Toma.  Lama sekali aku tak menghabiskan waktu bersamamu dan Tomo , aku tak menyangka ternyata kau kembali karna alasan seperti ini...”

“Aku turut bersedih untuk gadismu, Jin...”

Jin hanya mengalihkan pandangannya yang sejak tadi menatap langit-langit kini berubah menatap lantai, berusaha mengembangkan senyuman

“Juga Dinchan...aku sangat berterimakasih padamu karna selalu menjaganya. Kau yang selalu berada disisinya, bukan aku...Sejak dulu, aku memang bukan kakak yang baik...”

“Yes, you are”, celetuk Jin

“Sejak kecil pun, ketika aku berlari meninggalkan Dinchan supaya tak mengikutiku main dengan anak-anak laki-laki, kau justru berbalik dan mengajaknya...”

“Kau terlalu kejam, Toma”, Jin meninju bahu toma pelan

“Hey, waktu itu aku masih kecil. Kupikir, kalau anak perempuan yang ikut main, justru akan merepotkan, kelompok kita bisa-bisa kalah terus”

“Tapi ternyata Dinchan pintar, kan...?”

Toma tersenyum “Kau selalu membelanya, Jin. Lebih dari yang aku lakukan...Bahkan dulu kau memberiku ultimatum akan merebut Dinchan dariku”

“Ha ha ha. Waktu itu wajah sewotmu tampak lucu sekali, Tomo juga ikut mengejek!”

“Huh”, Toma tampak mencibir, tak bisa membalas kata-kata Jin. Tapi dalam hatinya ia senang, Jin tak pernah berubah, dia selalu bisa tertawa dengan apapun yang terjadi.

“Cukup membicarakan masa muda, kakek-kakek...”, Yuya membuyarkan nostalgia kedua sahabat itu dengan kurang ajarnya

“Ah, Yuya”, Toma menoleh kearah datangnya suara. Yuya, dengan Din dibelakangnya

“Niichan, aku berangkat...”, ucap Dinchan ceria

“Ng, ya...”, balas Toma sedikit ragu. Jin kemudian melempar sebuah senyuman untuk meyakinkan sahabat karibnya itu

-------------------

“Jinjin~ kenapa sejak awal tak beritahu kalau Naomi-neechan sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit? Aku kan khawatir, dan kalian tak pernah menjawab pertanyaanku dengan benar...”, Din memvokalkan sebuah kalimat dengan nada manja

Sekejap, Yuya yang sejak tadi matanya menatap keluar jendela mobil, beralih pandang kearah Din. Tanpa kata. Dan pandangan itu, begitu sulit diartikan

Din sedikit mengerutkan keningnya. Menurutnya, terlalu banyak yang aneh dari Yuya sejak kepulangannya dari rumah sakit. Memujinya, itu aneh. Dan Yuya yang lebih sering diam tanpa melemparkan celaan-celaannya, terlebih aneh. Saat seperti itu, Din berpikir bahwa Yuya bisa menjadi terlihat sangat...cool.

Sementara Jin tak menjawab, tapi Din bisa melihat senyuman lembutnya dari spion depan.

-------------

-Mansion Keluarga Lawrence-

“Jadi kau yang bernama Ikuta Din...”, figur wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Naomi itu menatap Din nanar beberapa saat setelah ia memperkenalkan diri.

“...ah, y..ya...”

“Syukurlah, kau selamat!”, terkejut, Din bisa merasakan kedua lengan itu mendekapnya erat. Terguncang, wanita itu mulai terisak



Din tak bisa berkata. Pikirnya masih banyak bertanya. Kenapa penyambutan dari ibunda Naomi-neechannya bisa begitu...berlebihan

“Ah, maafkan...aku masih terbawa emosi...”, wanita Jepang yang bermarga Lawrence itu melepaskan pelukannya dan menundukan kepala untuk menyeka airmatanya yang sempat mengalir. Sementara pria pirang bermata safir yang berada tak jauh dari mereka kemudian merangkul bahu wanita itu untuk menenangkannya

Jin meraih jemari Din dan menggenggamnya. Bingung. Din menggigit bibir bawahnya dan menatap Jin dengan pandangan sedih

Hanya beberapa langkah dari ruangan itu. Mereka bisa melihat Naomi.

Ia terlihat cantik. Tersenyum begitu tulus dengan rambut pirangnya yang terurai.

Masih terlihat cantik. Selalu terlihat cantik...

Sekalipun figur itu hanya bisa dilihat dalam sebuah fotograf. Terbingkai indah bersama benda-benda lain disekitarnya

Buah-buahan dan makanan untuk persembahan

Lilin-lilin yang masih menyala

Dupa

Guci keramik kecil

Naomi akan selalu terlihat cantik...

Sekalipun mereka hanya melihat fotografnya

Dalam altar persemayaman

Terdiam. Din masih belum bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Tak ingin percaya. Ia berharap apa yang baru saja diketahuinya hanyalah sebuah lelucon bodoh diawal bulan April

“Jinjin, Naomi-neechan...”, nada bicaranya kini sedikit bergetar.

Yuya bisa melihat, kakaknya itu tak bisa menjawab, hanya menunduk dan mempererat genggamannya diantara jemari Din

Saat itu juga, tangis Din mulai pecah. Terisak hebat dihadapan altar persemayaman itu

“Naomi-neechan...”

Figur cantik itu. Mata safir menyejukkan. Helaian rambut pirang indah itu. Tawa renyah dan senyuman ramah itu. Sekarang Din tak akan bisa melihatnya lagi

Untuk mengucap selamat tinggal rasanya teramat pahit dan menyedihkan. Ia tak ingin percaya. Masih berharap ini hanyalah semua lelucon, kalaupun bukan, ini hanyalah mimpi buruk. Seseorang kelak akan membangunkannya dan keadaan kembali membaik

Semuanya begitu nyata. Bukan lelucon. Tak ada mimpi buruk, tak ada yang membangunkan

Pahit itu memang nyata. Sedih itu mesti dirasanya

Kehilangan

Sesak

Jin bergerak untuk mendekap Din. Berharap bisa menenangkan gadis itu biarpun sedikit

Airmata terus mengaliri pipi putih Din. Menggumamkan sebuah nama dalam isaknya. Sementara Sang Pemilik Nama terus tersenyum

Senyuman cantik abadi yang hanya bisa dilihat dalam fotograf

---

FLASHBACK

-Sore hari di kamar Yuya-

“Aah, aku kehabisan pocary...”, menengadahkan kepala, hanya dua sampai tiga tetes terakhir yang jatuh kemulut Yuya. Menghafal sejarah dengan langsung melisankannya cukup berhasil membuat tenggorokannya kering

“Aku harus ambil beberapa kaleng lagi...”, kaki Yuya turun menapaki satu persatu anak tangga

Sepi. Kedua orangtuanya masih berada di luar kota untuk keperluan pekerjaan, mereka hanya menyempatkan pulang ketika mendengar berita kecelakaan Din dan Naomi. Jin, tentu saja Yuya sampai dirumah lebih dahulu. Sekilas, Yuya mendengar sebuah ‘Tadaima’ ditengah waktu belajarnya, tapi ia tak terlalu peduli dan tenggelam dalam hafalan sejarahnya, bukan tanpa alasan, tapi karna beberapa bulan lagi ujian final akan datang

KLONTANG



“Aniki? Is that you?”, tanya Yuya ketika mendengar suara kaleng minuman yang jatuh. Ragu, ruangan yang dirasanya merupakan tempat bersumbernya suara bahkan sama sekali gelap

“Yuya...masih bangun, ya...”

Yuya menemukan Jin seketika ia menyalakan lampu ruang tengahnya. Jin yang nampak sangat kacau. Tapi itu bukan jadi yang pertama untuk Yuya

“Aniki...aku tahu aniki sangat sedih, tapi kumohon berhentilah minum-minum seperti itu...”, ucap Yuya terdengar sangat sedih memandangi kakak  semata wayangnya terlihat kacau dengan botol juga beberapa kaleng minuman beralkohol disekelilingnya

“Hey, Yuya...bagaimana persiapan ujianmu...?”, tanya Jin. Yuya bisa dengan jelas mencium aroma alkohol yang begitu menyengat ketika beralih mendekat. Ia tak menyangka bahwa kakaknya bisa jadi sedemikian rapuh

“Sudahlah, Aniki...tolong jangan minum lagi, Naomi-san juga pasti tak akan menyukainya...!”, Yuya mulai membereskan kaleng-kaleng bekas minuman ke tempat sampah –bahkan yang masih berisi-

“Aaah, tapi Yuya...”, protes Jin “..aku bahkan bisa lihat Naomi...dia sekarang jadi bidadari...he he he”

“Hh...”, menghela napas, sekarang Yuya tahu kalau kakaknya sudah benar-benar mabuk

“Aniki, aku akan membawamu ke kamar. Sekarang tidurlah, besok pagi panggil saja aku kalau Aniki butuh obat sakit kepala...”

Perlahan, Yuya mulai memapah Jin berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Memang bukan pekerjaan yang mudah, bahkan Jin terus mengoceh tak jelas selama Yuya susah payah memapahnya

“Hmm, ternyata kau manis juga ya...Yuya...”, masih dengan ocehannya, Jin kemudian menempelkan bibirnya di bibir Yuya. Hal itu membuat Yuya kontan mendorong Jin. Beruntung, mereka sudah sampai di depan tempat tidur Jin, jadi Jin mendarat di tempat tidurnya tanpa harus menderita sakit karna jatuh di lantai

“A, apa yang Aniki lakukan?! Itu menjijikan!”, wajah Yuya berubah merah karna kesal bercampur malu

“Kenapa, Yuya...?”

“Ah! Sudahlah!”, ujar Yuya frustasi sekaligus meratapi nasibnya --hanya di dalam hati. Semua hal bisa saja bisa terjadi pada orang yang tengah berada dalam pengaruh alkohol

“Ah, ya!”, sebuah ide tiba-tiba muncul dari pikiran Yuya “Aniki, aku ingin tahu untuk siapa Aniki membeli topi di toko xyz tadi siang!”, ujar Yuya langsung pada sasaran

“Hey! Kau tahu aku pergi ke toko untuk membeli topi! Ternyata adikku punya bakat esper!”, jawaban dari Jin hanya membuat Yuya memicingkan mata

“Bukan itu...Ayolah, Aniki...katakan padaku siapa gadis yang Aniki maksud! Yang Aniki sukai, yang Aniki ceritakan pada pegawai toko...”, Yuya beralih duduk di hadapan Jin, diatas tempat tidurnya

“Kau begitu ingin tahu, Yuya...kalau begitu, tebaklah...”, Jin tersenyum, dari matanya, Yuya bisa memastikan kalau kesadaran belum kembali pada Jin

“Apa dia...Dinchan?”, tebak Yuya

“Kau benar-benar punya bakat esper, adikku!”

“Apa?!”, Yuya membelakakkan matanya

Jin tak membalas

“Lalu...lalu kenapa Aniki kabur dari perjodohan yang telah dirancang? Perjodohan antara putra pertama keluarga Takaki dengan putri keluarga Ikuta! Kenapa Aniki tidak menerima perjodohan itu?!”

Jawaban dari Jin membuat Yuya memunculkan sebuah pertanyaan besar. Tentang masa lalu mereka. Tentang Jin yang kabur dari rumah karna menolak perjodohannya dengan putri keluarga Ikuta yang tak lain adalah Dinchan yang sejak dulu disukainya.

“Alasannya...alasannya adalah kau, Yuya...!”, Yuya semakin terkejut ketika Jin mengarahkan telunjuk ke dadanya masih dengan ekspresi khas orang yang tengah mabuk

“Ma, maksudnya?!”

“Aku tahu, Yuya. Aku tahu, sejak dulu kau menyukai Dinchan. Walaupun kau selalu melakukan hal-hal konyol padanya, tapi aku bisa membaca dengan jelas kalau kau suka dia. Aku kabur dari perjodohan supaya kau bisa bersamanya, Yuya!”, Yuya seolah tak bisa berkata mendengar pemaparan yang keluar dari mulut Jin secara gamblang. Ia berani bertaruh, dalam keadaan sadar, Jin tak mungkin bertutur sejujur itu

Yuya masih mematung, pikirannya belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang dipaparkan Jin. Masih terkejut.

“Aku menyayangimu, Yuya. Sejak kepergian ibu, mendapatkanmu sebagai adik seperti membawa harapan baru untukku, harapan untuk jadi anak yang baik, menjadi seorang kakak...”

Ya, wanita yang dipanggil ibu oleh Jin dan Yuya saat ini adalah ibu dari Yuya. Sementara wanita yang melahirkan Jin meninggal karna kecelakaan saat Jin berusia lima tahun dan kemudian ayah mereka menikahi wanita yang kelak melahirkan Yuya, sebagai adik dari Jin. Begitu yang pernah Yuya dengar dari ayah mereka.

“Aku sangat menyayangimu, juga Dinchan...Aku tak ingin mengecewakanmu, kabur dari perjodohan dengan harapan kau bisa bersama Dinchan. Kupikir aku masih bisa tetap menunjukkan perasaanku padanya dengan cara lain, memperlakukannya seperti adikku...”, pengakuan Jin masih berlanjut

“Tapi Dinchan juga sejak dulu selalu menyukai Aniki. Dia terobsesi pada Aniki!”

“Yuya...aku bisa melihat perbedaan dari caranya melihatmu...”

Yuya tak bisa membalas

“Berusaha mengabaikan perasaanku sendiri ternyata tak mudah. Walaupun aku mengencani banyak gadis, semuanya terasa hampa. Ketika aku bertemu Naomi, dia mulai mengisi kekosongan di hatiku. Tapi sekarang, Naomi...”, Jin mulai terlihat frustasi

“Tak apa, Aniki...aku mengerti...”, entah hal apa yang mendorong Yuya untuk mendekap Jin kedalam pelukannya. Baginya itu terasa sangat...aneh, dan pastinya, canggung. Tapi Yuya sangat ingin menenangkan kakaknya itu. Saat Jin mulai menangis, hatinya juga terasa sakit. Terlebih setelah pengakuan yang dilakukan Jin dalam keadaan tak sadar. Jin telah banyak menderita rasa sakit. Ia mengorbankan perasaan pada Dinchan yang disukainya. Jin juga kembali kehilangan, setelah kehilangan ibunya dalam kecelakaan, sekarang hal itu berulang pada Naomi

“Ne, oyasumi...”, ucap Yuya lembut ketika mematikan lampu kamar Jin dan menutup pintunya.

Kalimat demi kalimat dari pengakuan Jin terus berlalulalang di pikirannya.

“Hh...”

Galau. Yuya menyandarkan kepalanya di pintu kamar Jin, menghela napas berat. Ia masih tak bisa percaya akan apa yang telah didengarnya.

Jin. Sekalipun Yuya telah bersama sang kakak selama 18 tahun hidupnya, tapi banyak hal yang baru diketahui dari kakak sematawayangnya itu.

Yuya mengagumi Jin. Tentang pembawaannya yang menyenangkan. Kedewasaannya sebagai seorang kakak. Caranya menjalani hidup dengan penuh kebebasan. Dan Jin tentunya punya semua yang disukai dan diinginkan Din. Tanpa pernah diungkapkan, Yuya selalu ingin menjadi seperti sang kakak yang begitu disukai Din. Tapi dibandingkan dengan Jin, sekaligus membuatnya sangat kesal karna merasakan tak adanya penghargaan sebagai seorang individu untuknya, hanya adik-dari-Takaki Jin.

Dibalik semua tingkah konyol yang menyenangkan, ternyata Jin menyimpan kesedihan. Mengorbankan perasaannya sendiri demi Yuya. Yuya selalu berpikir bahwa mengencani banyak gadis adalah ekpresi Jin untuk menunjukkan kebebasan hidupnya.  Ternyata Yuya salah, itu hanyalah upaya Jin mencari tempat dimana perasaannya akan berpaut. Naomi begitu sempurna untuk Jin. Ia sama sekali berbeda dari gadis-gadis lain yang menjadi teman kencan Jin.



END OF FLASHBACK
------------------------

Andai saja Yuya sudah mendapatkan lisensi mengemudinya, ia akan duduk di bangku kemudi dan membiarkan Jin duduk bersama Din di bangku penumpang.

Jin membiarkan Din untuk menangis hingga ia lega. Nafasnya kini terengah. Bibirnya kelu dan wajahnya sembab luar biasa. Kepalanya mulai pusing dan perutnya terasa mual karna terlalu banyak menangis.

Yuya sedikit banyak menyesali dirinya sendiri yang tak bisa menenangkan Din sebaik Jin. Saat gadis itu mulai terguncang sedih, seharusnya jemari Yuya yang menyilang dan menggenggam erat tangannya. Saat tangis mulai pecah, harusnya Yuya yang datang mendekapnya. Begitu yang diinginkan Yuya, tapi ia tak bisa.

Saat Din masih menyisakan isaknya, Yuya hanya bisa diam –hatinya ikut merasakan perih. Sekalipun ia duduk disamping gadis itu. Yuya benci itu. Dulu ia bisa menenangkan Dinchan yang menangis, tapi kenapa saat ini terasa berbeda.

Juga Jin, matanya hanya menatap lurus kejalanan luas di depan yang mereka lalui. Yuya yakin, saat ini Jin ingin menangis, tapi ia berusaha untuk kuat, berpura-pura terlihat kuat.

--------------


Py kembali mencoba menghubungi Hikaru untuk keberapa kalinya. Ponsel Hikaru tak aktif, Py sedikit khawatir dengan keadaan Hikaru yang tak juga ada kabar. Sudah beberapa hari pula Hikaru tak datang ke sekolah. Py yang tak sanggup untuk bertanya pada tiga teman Hikaru yang lain, ia malu untuk sekedar bertanya pada Yabu atau Taiyou.

Di tambah Py tahu Yabu sedang ada masalah dengan Miyuy, menambah ke tidak percayaan Py untuk bertanya pada Yabu.

“Huufftt~”, Py melepaskan nafas berat.

Sudah hampir empat hari, dan atap ini terasa sangat kosong tanpa kehadiran HIkaru. Tapi Py sedikit heran, dengan tak adanya Hikaru, ia lebih sering menggambar lagi, dan tentu saja ia menggambar sosok Hikaru.

Py kaget ketika seseorang terdengar datang ke atap. Jarang sekali ada yang mau mengunjungi tampat tertinggi di sekolahnya itu.

“Miyuy-chan??”, Py kaget melihat sosok Miyuy yang datang tiba – tiba.

“Hi Py!!”, sapa Miyuy lalu duduk di sebelah Py.

“Ano…. Daijoubu??”, tanya Py takut – takut.

Miyuy merebahkan kepalanya di bahu Py, menggeleng pelan. “Aku tak tahu apa menghindar darinya adalah keputusan tepat… tapi aku juga tak sanggup berdekatan dengannya….”, jelas Miyuy.

Py tak mampu menjawab. Baginya yang tak pernah mengalami masalah percintaan sangat sulit untuk dirinya memberi nasehat atau pandangan.

“Py menunggu Yaotome-kun?”, tanya Miyuy mengagetkan Py.

“Eh??hmmm~ tidak kok…”, jawabnya gugup.

“Sou…. Kukira kau menunggunya…”, imbuh Miyuy sambil baranjak dan menuju pinggir atap. Entah apa yang Miyuy pikirkan, tapi keduanya sibuk dengan pikiran masing – masing.

“Dinchan terpukul sekali ya… ia belum masuk hingga hari ini…”, kata Py akhirnya membuka pembicaraan.

“Ya…”, jawab Miyuy pelan.

“Aku juga akan begitu jika aku jadi Dinchan…”, ungkap Py lagi.

Miyuy kembali tak menjawabnya.

“Aku mau ke perpus ya Py-chan… mau ikut?”, tanya Miyuy sambil beranjak.

Py menggeleng, “Aku disini saja..”, jawab Py.

“Baiklah…”, Miyuy meninggalkan Py sendiri lagi.

Py kembali melihat ke arah ponselnya yang belum juga berbunyi sejak tadi. Py mulai ber asumsi jika terjadi sesuatu pada Hikaru.

“Apa dia sakit dan tak ada yang merawatnya?”, tanya Py dalam hati.

“Atau dia kecelakaan?”

“Atau dia…..”

Semakin lama justru pikirannya semakin kacau. Py membuka buku sketsa nya. Memutuskan bahwa menggambar adalah satu – satu nya cara dia untuk melupakan kenyataan bahwa Hikaru tidak ada.

“Menggambar apa?”, tanya seseorang mengagetkan Py.

“Kyaaaa~”, teriaknya panik dan menutup buku sketsanya.

Ia dihadapan Py.

Tersenyum seperti biasanya.

Tak ada yang kurang dari senyum itu

“Hikka-kun~ “, panggil Py lirih.

Rasanya sudah sangat lama ia tak melihat Hikaru di hadapannya.

“Tak usah kaget begitu…”, ujar Hikaru lalu duduk di samping Py, menyentuh pipi Py pelan dengan kedua tangannya.

Py masih diam karena tak sangka ia malah merasa sangat rindu pada Hikaru. Sehingga rasanya seperti mimpi melihat Hikaru di hadapannya.

“Apa kabar?”, tanya Hikaru, seakan tak terjadi apa – apa.

“Baik..”, jawab Py menunduk karena baru sadar ia memandang Hikaru cukup lama.

Keheningan terjadi setelahnya. Hikaru menggenggam tangan Py namun tak bersuara sedikitpun. Tidak seperti Hikaru yang biasanya.

“Hikka-kun…”, panggil Py pelan.

“Ya?”

“Anou…. Hikka-kun kemana saja? Aku jarang melihatmu di sekolah…”, kata Py pelan. Ia tak mau bilang kalau ia menunggu Hikaru di atap ini setiap hari.

“Ada sesuatu yang harus kuurus..”, jawab Hikaru, mempererat genggamannya pada Py.

Tak seperti Hikaru yang biasa sangat ceria, Hikaru yang kali ini di hadapan Py sangat pendiam.

“Pulang sekolah mau ke taman?”, seru Hikaru yang terdengar seperti ajakan kencan.

Py mengangguk.

--------------

Yabu menuju perpus. Walaupun bukan kebiasaannya berdiam diri di perpus, tapi seridaknya suasana hening disana dapat sedikit membuatnya lebih baik. Ia benci perasaan bingung seperti ini, dan dalam keadaan seeprti ini, ia juga tak mau diganggu oleh Shoon atau Taiyou.

Suasana perpus memang bukan hal yang biasa untuk seorang Yabu yang biasanya berada di tempat keramaian. Sehingga kali ini pun Yabu merasa sedikit bosan di tempat ini, namun tempat inilah yang paling tidak mungkin didatangi ketiga temannya, sehingga ia bisa sendirian. Pikiran Yabu sedang kacau, Miyuy tak mau dihubungi, sama sekali tak ada kabar, bahkan di sekolah pun rasanya sulit menemui Miyuy.

Jemari Yabu memainkan buku yang entah apa judulnya ia pun tak tahu. Ia hanya bergerak tanpa berfikir apapun.

“Eh? Yabu-kun…”, panggil seseorang.

Yabu menoleh, dan setelahnya kaget dengan siapa yang dihadapannya. Yabu tak menjawab panggilan itu, hanya memandang sosok di hadapannya sekarang.

“Hisashiburi…”, sapanya lalu menghampiri tempat Yabu.

“Ah yea~ hisashiburi…”, jawab Yabu akhirnya.

“Ada apa Yabu-kun? Tak biasanya kau ada di perpus…”, seru orang itu karena tahu kebiasaan Yabu.

Lagi – lagi Yabu enggan menjawab.

“Pasti kau ada masalah ya?”

“Maa~ bisa dibilang seperti itu.”, jawab Yabu singkat.

“Aya!! Aku menemukan buku itu!”, seru seseorang memanggil gadis di hadapan Yabu.

“Iya! Aku kesana…”, lalu menoleh kemabali pada Yabu, “Aku duluan Yabu-kun… mudah – mudahan kita bisa bertemu lagi..”, kata gadis itu lalu tersenyum.

Yabu bahkan masih bingung ketika Ayame meninggalkan tempat itu, kenapa Ayame menyapa nya?

-----------------

Genggaman tangan Hikaru tak terlepas dari tangan Py sedari tadi. Tapi tak seperti Hikaru yang selalu ceria, kali ini tampaknya Hikaru cukup murung. Py hanya bisa menurut kemana Hikaru membawanya tanpa banyak protes, dadanya bergemuruh karena senang dan lega melihat Hikaru lagi.

Hikaru mengajak Py duduk di bangku taman yang biasa mereka datangi. Tempat ini juga yang menjadi saksi mereka menjadi dekat.

“Py….”, panggil Hikaru pelan.

Tanpa menjawab, Py menoleh memandang Hikaru.

“Kali ini langitnya cukup cerah…”, kata Hikaru seakan bermonolog.

Py ikut menengadah melihat langit sore yang memang terlihat cerah dengan semburat jingga memenuhi warna langit.

“Un…”, jawab Py.

“Py pernah bilang kalau Py paling suka sama langit cerah kan?”, ujar Hikaru lagi.

Py mengangguk.

“Aku juga suka langit cerah…”, kata Hikaru.

“Kenapa?”

“Karena mengingatkanku pada Py.. hehe…”.

Py hanya diam saat ia merasa genggaman Hikaru semakin kuat.

“Ada yang salah?”, tanya Py akhirnya mencoba berani bertanya pada Hikaru.

Hikaru menjawab dengan senyumannya, lalu menggeleng pelan, “betsu ni… tidak ada apa – apa kok…”

Py ingin sekali tahu apa yang sedang Hikaru rasakan. Setidaknya ia ingin meringankan beban Hikaru sedikit saja. Karena tampaknya Hikaru sangat murung.

“Hikaru-kun…”, panggil Py.

Hikaru tak menjawab, menggenggam tangan Py lebih erat. Mereka terdiam. Merasakan kehenigan yang justru membuat mereka tenang dan damai, ditemani oleh langit sore itu.

---------------

Kejadian sapa menyapa siang itu di perpus membuat Yabu heran setelah sore itu ketika ia hendak pulang, sosok Ayame ada di depan kelasnya.

“Yabu-kun!!”, sapanya ceria.

Yabu hanya memandang Ayame tanpa kata – kata karena terlalu heran.

“Ada yang ingin aku bicarakan!!”, serunya.

“Hmmm~ aku tak bisa sekarang Aya… aku ada urusan..”, elak Yabu cepat.

Ayame menunjukkan wajah sedih, “Baiklah… besok bagaimana?”, tanya nya lagi.

Yabu mengangguk, “Maa~ baiklah…”, jawabnya sekenanya.

Yabu hari itu akan ke rumah Miyuy. Bagaimana pun ia harus menjelaskan semuanya pada Miyuy. Walaupun ia tahu, seharusnya Miyuy sekarang masih marah padanya.

Selain itu ia juga akan ke apartemen Hikaru.

Sesampainya di depan rumah Miyuy, dengan perasaan tak tentu Yabu men dial nomor Miyuy, ia tak yakin akan di angkat, tapi setidaknya ia mencoba.

Benar saja, setelah nada sambung berakhir, belum juga ada jawaban.

Akhirnya Yabu memutuskan untuk memencet bel rumah Miyuy. Walaupun ia tak yakin apa yang ingin ia katakan saat itu.

Tak lama seseorang keluar.

“Eh? Yabu-kun?”, Miyuy lah yang keluar saat itu.

“Aku ingin membicarakan sesuatu…”, kata Yabu akhirnya.


“Ne… Miyuy-chan… soal waktu itu… gomen…”

Mereka berdua tak bicara di rumah, Miyuy membawa Yabu ke sebuah taman dekat rumahnya.

“Wakatta!!”, teriak Miyuy tiba – tiba.

Yabu menoleh karena kaget dengan apa yang Miyuy katakan.

“Aku tahu Yabu-kun saat itu hanya terbawa emosi sesaat. Maafkan aku meragukan Yabu-kun… setelah kupikir… aku juga keterlaluan..”, kata Miyuy.

Beberapa hari setelah itu, Miyuy terus berfikir tentang hal ini, dan ia pun punya satu kesimpulan kalau memang saat itu tak ada yang salah, semuanya hanya salah paham saja. Ia hanya terbawa emosi juga hingga meninggalkan Yabu begitu saja.

“Miyuy-chan…”

“Aku percaya pada Yabu-kun…”, kata Miyuy lagi lalu tersenyum pada Yabu.

Mau tak mau Yabu tersenyum juga, rasanya tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan saat itu. Secara refleks tubuh Yabu mendekat dan mendekap Miyuy.

“Eh? Yabu-kun…”

“Maaf telah membuatmu khawatir…”, bisik Yabu.

Miyuy hanya mengangguk, ia tahu ia bisa mempercayai Yabu.


-------------------

Hingga hari ini Opi masih belum bisa melupakan kejadian saat Inoo mencium keningnya di bianglala. Ia terus saja terbayang ekspresi wajah Inoo yang walaupun penuh memar saat itu, serius dan sangat sungguh – sungguh.

Tak ada pernyataan apapun, dan mereka hanya diam hingga mereka pulang, tapi genggaman tangan Inoo tak lepas dari tangan Opi, dan itu membuat pipi nya selalu memerah saat memikirkan wajah Inoo. Opi menggelengkan wajahnya, menampar pipinya pelan.

“Tidak boleh!!! Jangan berfikiran macam – macam!!”, perintahnya pada diri sendiri di kaca.

“Nee-chan…”, panggil seseorang dibalik pintu, yang tak perlu diragukan lagi itu pati adiknya yang selalu ikut campur urusannya.

Opi menoleh, “Apa?”

“Pacarmu datang tuh~”, goda Yuuri sambil mendekati kakaknya.

Dengan sigap Opi melempar sebuah bantal pada Yuuri, “Dia bukan pacarku!!”, elak Opi.

“Bohong!!”, seru Yuuri sambil menangkap bantal itu, “Aku kan liat Nee-chan dan Kei-chan berpegangan tangan waktu di mobil… ayo ngaku!!”, seru Yuuri lagi.

Tak mampu menjawab, Opi merebut bantal yang kini dipegang oleh Yuuri.

“Ahahahaha~ Nee-chan malu yaaa??”, sahut Yuuri bereaksi pada ekspresi malu – malu Opi.

“Uruseeee!! Anak kecil tau apa??!!”, teriak Opi kesal.

Yuuri menjauh mencoba mengelak dari hantaman bantal yang dilemparkan oleh kakaknya.

“Oops~ hati – hati Opi-chan..”

Suara itu mengagetkan Opi, ternyata Inoo sudah ada di depan kamarnya.

“Eeehh?? Inoo-kun…”, sapa Opi lirih.

Inoo mengacukan tanda peace, “Yo!! Aku mau menjemput muridku… ayo Yuuri-chan.. kita harus latihan…”, kata Inoo sambil menarik Yuuri dari tempat itu.

“Ah, sou…”, Opi tak mampu menjawab Inoo.

Tak lama, sosok Inoo kembali mucul di ambang pintunya, “Nanti kita bicara lagi Opi-chan…”, kata Inoo sambil berlalu.

Opi mengangguk dengan gugup.


Setelah selesai mengajar, Inoo mengajak Opi berbicara di halaman belakang rumah Opi. Seperti yang sudah – sudah, Mama Opi mengajak Inoo makan malam, dan sambil menunggu makan malam siap, Inoo mengajak Opi sedikit mengobrol. Seperti kebanyakan rumah a la Jepang, rumah Opi juga punya halaman belakang yang walaupun sempit, namun lumayan asri.

“Kau sedikit pendiam hari ini…”, kata Inoo.

“Eh? Eh?? Maa~ aku baik – baik saja…”, jawab Opi sedikit gugup.

“Souka…”

“Inoo-kun juga tak terlalu banyak bicara…”, kata Opi sambil menatap Inoo.

“Banyak hal yang sedang kupikirkan Opi-chan…”, jawab Inoo, menatap Opi yang sukses mebuat Opi memalingkan wajahnya karena malu menatap Inoo.

“Hmmm… apa yang Inoo-kun pikirkan?”

“Ayahku, kuliahku…kau tahu… Ibuku kemarin menemuiku… setelah setahun ini tanpa kabar sama sekali.”, jelas Inoo.

“Eh??”



-Flashback-

Inoo masih ada di studio gambar ketika ia menerima telepon. Ia menatap layar ponselnya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Moshi – moshi?”, angkat Inoo sedikit pelan.

“Kei-chan… hisashiburi…”, kata orang diseberang.

“Okaa-chan?”, seru Inoo kaget.

“Hai… ini Ibu… datanglah ke restaurant besok siang…”, perintah Ibunya tanpa basa – basi.

“Kaa-chan…”

“Kumohon Kei-chan… kita harus bertemu..”, kata Ibunya lagi.



Maka hari selanjutnya Inoo mendatangi Ibunya. Di tempat yang paling ia hindari, restaurant milik keluarganya. Yang sudah ada sejak dua generasi sebelumnya. Sudah banyak cabang dari restaurant itu, dan sudah terkenal di seluruh negeri. Bahkan Ayahnya berhasil membangun usaha – usaha lain dan mempunya banyak investasi di berbagai perusahaan.

“Hisashiburi Okaa-chan..”, sapa Inoo saat ibunya datang menghampiri.

“Hisashiburi… Kei-chan..”, balas Ibunya.

Inoo meneguk teh yang ia pesan, tenggorokannya sedikit kering menghadapi Ibunya sendiri, “Ada apa Kaa-chan?? Setelah setahun, kau tak pernah menghubungiku..”, kata Inoo pelan.

“Pulanglah Kei-chan…”, sahut Ibunya cepat.

Inoo sudah tahu pasti ini yang ingin dibicarakan Ibunya.

“Setelah Otou-san mengusirku?? Tidak Kaa-chan, aku harus menyelesaikan kuliahku.. aku tak mau terus ia dikte…”, jawab Inoo mantap.

“Kei-chan… kau tahu seberapa inginnya ia kau jadi penerusnya…”

“Maka dari itu aku tak bisa Kaa-chan… aku tak mau jadi penerus Ayah.. aku punya masa depanku sendiri…”, Inoo dengan cepat memotong pembicaraan Ibunya.

“Kei-chan!! Dengarkan Ibu… restaurant ini sudah aja sejak kakek dari ayahmu ada… kau harus menghargainya.. kau anak laki – laki kami satu – satunya…”

“Dakara Kaa-chan!! Aku tak mau… menjadi arsitek sudah jadi impianku sejak kecil.. tak bisakah kalian menghargai apa yang aku mau?”

“Jangan egois Kei-chan!! Kau harus memikirkan perasaan Ayah dan juga Ibu….”

“Kaa-chan… aku bukan satu – satunya anak ayah…”

Ibunya sedikit tak sabar, meminum the hangatnya juga, “Kei-chan… kau anak pertama, kau kebanggaan Ayahmu… ia begitu senang ketika kau berhasil loncat kelas, ia begitu bangga… dan jika kau setuju mengambil bisnis ini..”

“Kaa-chan kumohon… aku tak mau lagi berdebat soal ini… gomen Kaa-chan..”, Inoo beranjak dan meninggalkan restaurant itu.

-Flashback end-



“Souka naaa~”, kata Opi yang tak tahu harus bereaksi bagaimana setelah mendengar cerita Inoo.

“Sudah ditentukan aku akan jadi penerus ayah sejak aku kecil..”, jelas Inoo.

“Inoo-kun punya adik? Tadi Inoo-kun bilang kau bukan anak satu – satunya..”, tanya opi sedikit berhati – hati agar Inoo tak tersinggung.

Inoo mengangguk, “Ada. Adik perempuan…dia sudah hampir SMA juga sekarang..”

“Sou… mungkin karena itulah Ayahmu ingin kau jadi penerus?”

“Ya… karena adikku perempuan…”, seakan Inoo tahu apa yang Opi pikirkan.

“Kenapa tak coba pulang?”, tanya Opi takut – takut.

“Aku tak bisa pulang sebelum membuktikan diri kalau aku bisa mandiri dan punya hal hebat yang bisa kubanggakan di depan Ayah.”, jelas Inoo.

“Tapi Inoo-kun… pasti ada alasannya kan Ibumu sampai mendatangimu ke sini karena khawatir padamu..”, kata Opi lagi.

“Tidak. Mereka hanya khawatir pada restaurant dan perusahaan saja..”, elak Inoo terlihat lebih emosi dari biasanya.

“Menurutku tidak begitu…”, elak Opi, “Bagaimana jika Inoo-kun coba tanya mereka…”, kata Opi lagi.

Inoo menatap Opi lama, membuat Opi seidkit agak risih, karena tatapan tajam milik Inoo.

“Opi-chan… aku tak mau datang hanya untuk di usir lagi…”, katanya lalu segera meraih tangan Opi yang duduk di sebelahnya.

“Inoo-kun… kau harus mencobanya lagi.. bagaimana pun mereka orang tua mu…”, ujar Opi.

Inoo menarik telapak tangan Opi ke wajahnya, menempelkan tangan tersebut di pipinya sendiri. Inoo menunduk. Dalam. Seakan ingin menyerap kekuatan dari tangan Opi. Dirinya terlalu pusing harus bersikap bagaimana, semua pertanyaan tentang masalahnya dan orang tuanya terus berputar dalam otaknya.

“Inoo-kun…”, panggil Opi lirih.

“Biarkan begini dulu sebentar…”, kata Inoo.

Maka Opi membiarkan Inoo, memberikan waktu untuknya.

“Akan kucoba… mau menemaniku kesana?”, katanya tiba – tiba sambil menengadah memandang Opi.

“Eh?”, seru Opi kaget, “Nande?”

“Tidak ada alasan.. aku hanya ingin kau menemaniku..”

“Wakatta… baiklah…”, jawab Opi.

Inoo kembali menggenggam tangan Opi, namun keduanya tak lagi bersuara. Keduanya menikmati suasana malam itu dalam keheningan.

“Huwaaaa~ Neechan dan Kei-chan beneran pacaran yaaaa!!”, teriak Yuuri tiba – tiba dari belakang mereka.

“Diam anak ingusan!!”, seru Opi sambil mengejar adiknya itu.

“Hehehe~ bilang Ibu ya…”, ancam Yuuri sambil tertawa – tawa menghindari Opi.

Inoo hanya tersenyum melihat keluarga ini. Keluarga yang tak pernah ia miliki.

-----------------

TBC~ oh TBC~
setiap 4 bulan gini update nya...
mari terus berdo'a biar ini cepet beres..LOL
GANBARIMASU!!! :)

Kamis, 30 Desember 2010

[Fanfic] Accidentally In Love (chap 9)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Nine
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,InoOpi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~

Accidentally In Love
-chapter 9-

Tempat ini seharusnya untuk bersenang – senang, tapi mood Miyuy sudah luntur sepenuhnya. Yabu di sebelahnya, memegangi mulutnya yang kini berdarah, wajahnya tampak sedikit malu, menoleh menatap kekasihnya yang kini terlihat marah.

“Miyuy-chan….”

“Katakan padaku ada apa sebenarnya?”, Tanya Miyuy dengan mata berkaca – kaca mendengar perkataan Inoo sebelumnya.


=Flashback=

“KAUU!!!??”, teriak Inoo tiba – tiba.

Yabu juga terlihat sama marahnya dengan Inoo.

“NGAPAIN KAU DISINI??!!”, bentak Inoo dengan nada suara meninggi.

“Miyuy-chan…kita pergi saja dari sini…”, kata Yabu sambil menarik tangan Miyuy yang masih bingung.

Inoo berhasil meraih kerah baju Inoo dan segera menghujamkan pukulannya dengan keras.

Pegangan tangan Yabu terlepas, dan kini Yabu serta Inoo berkelahi. Miyuy menangis tanpa tahu apa yang terjadi, Opi sendiri tak bisa berbuat apapun, menghampiri Miyuy dan menenangkan Miyuy.

“Ini untuk perbuatanmu terhadap Aya!!!”, kata Inoo marah.

Yabu membalik situasi, memukul Inoo tepat di rahang kanannya, “Aku tak pernah meninggalkan Ayame!! Dia yang meninggalkan aku hanya karena pria macam kau!!!”, balas Yabu tak mau kalah.

“Kau bercanda hah?!!”, sesaat mereka berdua terpisah.

Yabu mengelap darah segar yang keluar dari hidungnya, “Mungkin Ayame merecokimu dengan
berkata bahwa aku yang salah… dia yang salah, dan aku tak perlu minta maaf…”, seru Yabu
kesal, kembali berusaha mendekati Inoo.

Miyuy seketika tanpa pikir panjang memeluk tubuh Yabu erat, “Hentikan….”, kata Miyuy di tengah isakannya.

Opi juga berusaha memegang lengan Inoo, “Inoo-kun..ayo pergi!!”, seru Opi sedikit memaksa.

Inoo tak bergeming dari tempatnya.

“Miyuy-chan…”, suara Yabu melembut.

“Hentikaaann~”, kata Miyuy lagi sambil masih memeluk Yabu.

Opi kembali menarik lengan Inoo, kali ini lebih keras, “Inoo-kun!!!”, bentak Opi.

Inoo akhirnya menyerah, karena Miyuy tak mau melepas pelukannya, dan Opi terus memaksa dia pergi dari situ.

-flashback end-


Yabu diam, tak mampu bersuara, rasa sakit di wajahnya juga membuatnya sedikit pusing.
Miyuy berdiri, menarik tangan Yabu.

“Ayo ke Rumah Sakit…”, ajaknya.

Yabu tak menolak, hanya mengikuti langkah Miyuy.


Tak hanya Miyuy dan Yabu, kini Opi dan Inoo pun hanya diam di sebuah bangku, Opi tak berani bertanya apapun, terlebih lagi saat mereka brtengkar, yang Opi dengar ini menyangkut Ayame.

“Yabu itu… bajingan… beritahu temanmu, jangan sampai ia ajdi korban juga..”, kata Inoo tiba – tiba.

Opi kaget. Terlebih lagi, ia tak merasa ada yang salah dengan sikap Yabu.

“Kenapa berkata begitu?”, tanya Opi kaget.

“Karena ia menyakiti Aya…”

“Kau…kenapa kau…??”, Opi seakan tak mampu meneruskan ucapannya.

Inoo menyentuh pipinya yang sedikit bengkak, pikirannya melayang ke saat – saat itu.


-Flashback-

“Kei-chaaann!!”, teriak Ayame mendekati Inoo yang masih saja sibuk dengan piano nya.

“Ya?”, Inoo berhenti, melihat sosok Ayame mendekat.

Ayame adalah cinta pertamanya. Siapapun tau Ayame memang cantik, tapi bukan itu. Ia dan
Ayame sudah bersama sejak kecil, bahkan Inoo tahu apa saja yang Ayame suka atau benci.

“Aku mau cerita Kei-chan…”, katanya manis.

Inoo membiarkan Ayame ikut duduk di sebelahnya, menghadap Piano.

“Ada apa Aya-chan? Kau tampak gembira hari ini…”

Inoo tak pernah melihat Ayame gembira sejak hari ia masuk ke sekolah yang tidak sama
dengannya. Inoo yang masuk ke sekolah SMA favorite dan ternama, meninggalkan Ayame di sekolah yang lain, cukup bagus, namun Ayame ingin sekali satu sekolah dengannya.

“Ternyata sekolah disana tidak buruk..”, katanya memulai cerita itu, Ayame memainkan beberapa nada dan berhenti, “Tadi Yabu-kun menyatakan cintanyaaa..”

Inoo kaget, “Yabu? Siapa?”

“Iya.. dia itu kelas 1 B juga… ia tampan loh Kei-chan… tadi saat pulang sekolah, ia menyatakan cintanya, memintaku jadi pacarnya..”, seru Ayame dengan mata berbinar.

“Eh? Etto…”, Inoo tak mampu berkata – kata.

“Lalu aku menerimanya!! Hehehe.. aku senang sekali…”, kata Ayame lalu menoleh dan memainkan lagi beberapa nada di tuts piano itu.


Sudah berlalu sejak Yabu menyatakan cinta, hari – hari Yabu memang disibukkan dengan Ayame. Mereka pasangan yang jarang terlihat bersama, namun banyak orang sudah tahu.

“Aya-chan… pulang sekolah karaoke yuk..”, kata Yabu menghampiri meja Ayame yang dipenuhi kertas yang bahkan ia tak mengerti apa itu.

“Aku harus rehearseal Yabu-kun..”, kata Ayame menjawab dengan sedikit angkuh.

Yabu terdiam, sejak Ayame mulai latihan untuk pentas dan lombanya, praktis waktu Ayame tersita sepenuhnya, sulit untuk mencari waktu bersamanya.

“Kau pulang rehearseal jam berapa?”, Tanya Yabu lagi, kembali menahan lengan Ayame yang hendak pergi.

“Entahlah…”, Ayame beranjak, “Maaf Yabu-kun… aku sangat sibuk.”, katanya tak lupa memberikan senyuman manisnya.

Dan inilah Yabu, terdampar menunggu Ayame di luar sebuah gedung besar. Dengan keras kepala Yabu menunggu Ayame yang tidak menunjukkan tanda – tanda akan keluar dari situ.

Udara semakin dingin, cuaca bulan Oktober seperti ini bisa membuat siapapun kedinginan. Yabu yang hanya memakai satu jaket itu mencoba membuat dirinya lebih hangat, memasukkan tangannya yang beku di saku jaketnya.

Setelah beberapa lama, segerombolan orang keluar dari gedung itu. Yabu melirik jam tangannya, sudah pukul sepuluh memang.

Sosok Ayame muncul bersama pria yang sangat kurus, terlihat cantik, namun Yabu tahu itu pria. Ayame tertawa – tawa menanggapi apa yang dikatakan pria itu.

Yabu melambaikan tangan ke arah Ayame, ia menoleh dan kaget melihat siapa yang dilihatnya.

“Yabu-kunn??”, seru Ayame kaget, menghampiri Yabu.

“Konbanwa.. Aya.. dingin sekali disini..”, kata Yabu yang merasa tubuhnya sedikit kaku.

Pria yang Yabu tidak kenal itu masih mengikuti Ayame.

“Ah iya… ini Kei-chan…”

‘Kei-chan?’, Dahi Yabu mengerenyit mendengar panggilan yang begitu akrab itu.

“Inoo Kei desu..”, katanya membungkuk sopan.

“Kouta Yabu desu… aku pacarnya Aya…”, kata Yabu sambil menekankan kata pacar.

“Ah.. sou…”, jawab Inoo pelan.

“Ayo Aya… aku antar pulang…”, seru Yabu menarik tangan Ayame sedikit memaksa.

Ayame menurut, “Jya Kei-chan!! Nanti aku telepon…”

“Aku tak suka kau menelepon dia…”, seru Yabu kesal membuat Ayame terdiam.


Sejak naik kelas dua, Ayame lebih sibuk lagi. Keberadaannya di OSIS sebagai sekertaris, kadang berkumpul dengan teman – temannya, dan kegiatan les piano nya yang begitu menyita waktu, membuat Yabu bahkan sangat sulit menyapa Ayame. Semakin hari Ayame semakin terlihat cantik, banyak sekali pria yang mencoba mendekatinya, populernya Ayame membuat Yabu sedikit risih, ia tak terlalu suka diperhatikan banyak orang.

“Kei-chan sekarang kelas tiga loh..dia hebat bisa loncat kelas..”, ucap Ayame di sela makan siang mereka.

“Hmm..”, Yabu malas menanggapi.

“Kenapa sih kau?”, Ayame menyimpan kotak bento nya yang terlihat lezat, sementara Yabu
hanya bisa makan roti yang tadi ia beli di kantin.

“Aku tak suka kau membicarakan Kei-chan atau siapapun itu..”, Yabu merengut dan mengigit rotinya.

“Asal kau tahu Yabu-kun.. dia itu..”

“Teman masa kecilmu, teman curhatmu.. apa lagi? Lama – lama kau akan bilang dia pacarmu juga?”, kata Yabu hilang kesabarannya.

Ayame beranjak dari kursi taman itu, “Terserah!! Aku capek!!!”, katanya meninggalkan Yabu sendirian.

Yabu tak peduli, ia masih menyantap rotinya tanpa menoleh atau mengejar Ayame. Akhir – akhir ini memang hanya pertengkaran pembicaraan mereka, membuat Yabu malas mencari
Ayame ke kelasnya, atau sekedar mengirim e-mail pada Ayame yang kini jadi idola sekolah, sementara dia hanya murid biasa yang bahkan keberadaannya di sebelah Ayame adalah pengganggu.

“Hey!! Kusut sekali wajahmu…”, seru Hikaru yang kini tanpa Yabu sadari sudah berada di sebelahnya.

“Hmmm..”, ucap Yabu.

“Ayame lagi ya?”, Tanya Hikaru.

“Hmm..”, jawabnya lagi.

“Ah kau ini… bagaimana kalau hari ini kau ikut Goukon saja? Hah?? Ceweknya cantik – cantik loh… dari sekolah khusus cewek!!”, seru Hikaru yang memang popular di kalangan gadis – gadis.

“Malas..”, jawab Yabu lagi.

“Ayolah… kau tak akan rugi… toh Ayame sedang marah padamu… biarkan saja dulu dia…”

Yabu tak menjawab, tapi ia yakin pulang sekolah ia tak akan bisa kabur dari ketiga temannya.



“Kei-chaaaann…”, Ayame datang ke rumah Inoo dan tiba – tiba memeluk Inoo.

“Doushite?”, Inoo tak berusaha melepasnya, hanya mencoba menenangkan Ayame.

“Yabu-kun jahaaatt… apa dia selingkuh ya? Hikz..”, Ayame tak punya bukti apapun, hanya ia memang senang bermanja – manja pada Inoo dan mengatakan hal yang membuat Inoo
perhatian padanya.

“He? Kenapa kau bilang seperti itu?”

“Habis dia marah – marah terus… lagipula.. ia sering meninggalkanku sekarang…”, kata Ayame yang masih memeluk Inoo.

“Tenanglah Aya-chan… jangan seperti itu…”, kata Inoo lagi.

“Pasti dia selingkuh…”, adu Ayame pada Inoo lagi.

Inoo memang tak begitu suka dengan Yabu, apalagi kesan pertamanya saat menjemput Ayame waktu itu. Namun Inoo tak yakin dengan apa yang dikatakan Ayame.

“Sudahlah.. ayo masuk dulu..”, kata Inoo membawa Ayame masuk ke rumahnya.


Yabu menjauhkan tangan cewek aneh ini. Namanya Naoko dan dia memang partner nya di karaoke tadi. Tapi kenapa juga cewek ini harus nempel dengannya sampai pulang.

“Gak usah gini…”, kata Yabu dengan halus.

Cewek itu kembali melingkarkan tangannya di lengan Yabu.

“hmmm… Naoko…”, tolak Yabu lagi.

“Yabu-chaaann…”, panggilnya manja.

Yabu menjauhkan lagi Naoko dari dirinya, Naoko memintanya untuk pulang bersama, memintanya mengantar Naoko.

Sementara itu Inoo yang baru saja pulang dari toko buku memicingkan matanya, dia sepertinya melihat seseorang yang dia kenal.

Dalam kegelapan, memang tak begitu terlihat, tapi sepertinya ia kenal.

“Yabu-chaaann..”

Mereka berciuman!! Itu kan Yabu pacarnya Ayame. Inoo tanpa pikir panjang berlari ke tempat
mereka berdiri, menarik baju Yabu.

“KAU!!!”, Inoo menghantamkan tinju nya pada Yabu.

Yabu terhuyung jatuh dan kaget dengan pukulan tiba – tiba itu. Tak lama Yabu bangkit, melihat
Inoo dengan kesal.

“Apa – apaan ini?!!”, teriak Yabu.

Inoo tak menjawab dan memukul lagi Yabu, Naoko yang kaget dan tak mengerti apa – apa akhirnya malah pergi.

“Kau berani menduakan Aya HAH??!!”, otak Inoo dipenuhi kemarahan, ia tak lagi berfikir secara logika seperti biasanya.


Hari berikutnya Yabu datang dengan wajah penuh luka. Ia tak habis pikir dengan Inoo Kei itu. Siapapun dia, ia bahkan tak mengenalnya. Hanya sekali bertemu, pertemuan kedua kali ia malah dipukuli oleh orang itu.

“Yabu…are??? Wajahmu kenapa?”, tanya Taiyou yang bingung dengan wajah Yabu yang penuh luka.

“Sudahlah…”, Yabu malas membahasnya.

“Yabu-kun!!”, seseorang memanggilnya dari luar kelas, ternyata Ayame.

Yabu dan Ayame kini duduk di bangku taman sekolah mereka. Yabu benar – benar sedang tidak mood untuk bertengkar.

“Kei-chan cerita semuanya…”, kata Ayame.

“Apa maksudmu?”

“Kau dengan siapa semalam?”

“Teman.”, jawab Yabu singkat.

“Bohong… kau berciuman dengannya kan?”

“Dia yang menciumku… bukan salahku..”, jawab Yabu lagi.

Ayame terdiam.

“Yabu-kun jahat!! Kenapa Yabu-kun???”, ternyata Ayame menangis.

“Kau percaya aku atau cowok aneh itu?!!”, teriak Yabu yang kini kembali hilang kesabaran.

“Jangan sebut Kei-chan seperti itu!!”, bentak Ayame.

“Dia memang aneh!! Siapa dia? Pacarmu yang lain??!!”, teriak Yabu lagi.

“IYAAA!! Puas??!”, Ayame meniggalkan kursi itu.

Sejak saat itu, Yabu dan Ayame putus, mereka tak pernah lagi saling menghubungi satu sama
lain, bahkan bila tak sengaja berpapasan, mereka saling menghindar.


-Flashback end-



Yabu keluar dari ruang periksa, dan mendapati Miyuy masih di situ, menunggunya. Wajahnya ditekuk, tak sedikitpun tersenyum.

“Kau baik – baik saja?”, Tanya Miyuy.

Yabu mengagguk, “Seharusnya tak perlu ke rumah sakit..”, kata Yabu yang kini wajahnya
banyak plester menempel.

Miyuy tak menjawab, hanya kembali menunduk. Yabu belum mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Miyuy, sehingga Miyuy masih bingung dan bertanya – tanya ada apa sebenarnya dengan kedua pria itu.

Sisa perjalanan Yabu mengantar Miyuy ke rumah sama sekali hening. Baik Yabu maupun Miyuy sibuk dengan pikiran mereka masing – masing. Miyuy baru ingat apa yang ia baca tadi pagi.
“Sesuatu akan terjadi hari ini di keramaian.”, “Kebenaran akan terungkap.”

Tapi kebenaran apa? Kebenaran kalau kekasihnya ini punya musuh? Lalu siapa Ayame? pikir Miyuy.

“Aku pulang….”, kata Yabu ketika sampai di depan rumah Miyuy.

“Hmm..”, jawab Miyuy pelan.

“Maaf aku mengacaukan date kita….”, lalu Yabu berlalu.

Masih meninggalkan pertanyaan besar bagi Miyuy.
----------------------

“Jadi… Yabu itu…”, Opi hanya mengangguk mengerti apa yang diceritakan secara singkat oleh Inoo.

“Aku kesal melihatnya tadi…’, kata Inoo yang kini sudah mulai tenang.

Suasana di taman bermain itu sudah hampir gelap. Beberapa permainan bahkan hampir ditutup.

Opi dan Inoo sejak tadi hanya duduk dan Opi mendengarkan cerita dari Inoo.

“Tapi aku tak pernah merasa kalau Yabu seperti itu… ia cukup baik kok..”, kata Opi. “Bukan maksudku untuk membelanya… tapi…”

“Kurasa ia masih bajingan mungkin… entahlah Opi-chan…”, Inoo kembali menempatkan es di luka memarnya, “Ouch..”, keluhnya.

Opi merebut es yang dibalut sapu tangan itu, mengompreskannya pada Inoo. “Kau membela Ayame sampai seperti itu?”, gumam Opi.

Inoo bisa mendengarnya, namun tak mau menjawab. Ini masalah rasa kesalnya yang masih ada,
Ayame mungkin memang cinta pertamanya, tapi untuk perasaannya saat ini, Inoo bahkan tak yakin ia masih cinta atau tidak atau memang selama ini perasaannya pada Ayame ternyata memang sekedar seperti adik sendiri.

“Ia sudah seperti adikku, maka itulah aku tak suka ada yang menyakitinya..”, akhirnya Inoo menjawab.

“Hmmm…”, Opi hanya kembali bergumam.

“Kau percaya kan?”, tanya Inoo yang kini heran dengan dirinya kenapa ia harus meyakinkan
Opi kalau ia tak ada hubungan apapun dengan Ayame.

“Aku percaya.”, jawab Opi yang kemudian beranjak, “Aku beli minuman hangat dulu.
Sebentar…”, Opi menyerahkan es yang ia pakai untuk mengompres Inoo lalu menuju mesin
penjual minuman, mengambilkan Inoo teh hangat dan untuknya kopi.

Sesaat Opi terdiam di depan mesin itu. Kejadian hari ini memang sedikit aneh, lebih aneh karena ia merasa malah lebih dekat dengan Inoo ketimbang menjauh karena masalah ini. Merasa mengharapkan hal – hal yang tak mungkin, Opi mencoba menghapus harapannya dengan Inoo, ia tak mau tersakiti lagi.

Opi mengambil minuman hangat itu dan berbalik menuju tempat Inoo duduk. “Ini…”, kata Opi menyerahkan minuman itu.

“Arigatou…oh iya… orang tua mu kesini jam berapa?”, tanya Inoo.

“Hmmm.. Papa bilang mungkin setengah jam lagi, kenapa?”

Inoo menarik tangan Opi, “Ayo…”

“Hah?”

Opi merasa wajahnya memerah karena malu, dan dadanya pun bergemuruh, kini ia ada di bianglala bersama Inoo. Entah dengan alasan apa Inoo bilang ingin naik bianglala sebelum pulang.

“Kireeeiii..”, seru Opi yang gugup dan melihat pemandangan lampu - lampu yang mulai menyala dan langit senja yang indah.

Inoo tak bergeming, lalu tanpa aba – aba menggenggam tangan Opi.

“eh?”, Opi sedikit kaget, “Hah?”, dan menoleh pada Inoo, “Inoo-kun?”

Tangan kiri Inoo tiba – tiba bergerak dan menyentuh wajah Opi, Inoo mendaratkan sebuah kecupan di kening Opi tanpa mengatakan apapun.

----------------------

“Aku senang sekali kau sudah siuman...”

Kalimat dari seorang Jin itulah yang diingat oleh Din ketika baru membuka matanya. Masih lekat diingatan, ketika ia bersama Naomi mengalami kecelakaan yang tak pernah dibayangkan

Hari itu juga, entah hari keberapa Din berada di rumah sakit. Jin selalu datang untuk menemaninya, mengganti bunga yang berada di vas agar Din selalu menatap pemandangan segar setiap pagi

“Jinjin, hari ini tak ada pemotretan?”

“Hmm, jadwalku hari ini agak siang...jadi bisa agak santai...”, balas Jin, tak lupa menyertakan
senyumannya

“Aku bosan, aku ingin pulang ke rumah...”, rengek Din pada pria yang berusia 6 tahun lebih tua darinya itu

“Hh...”, Jin hanya menghela napas dan kemudian kembali mengembangkan senyumannya

Din tak membalas, wajahnya nampak cemberut

“Jangan bilang-bilang, ya...”, Jin mengeluarkan sesuatu berbentuk kotak dari tasnya
“...Katsudon dari toko favoritmu...”

Hampir saja Din melompat kegirangan dari tempat tidurnya “Kyaaaa, Jinjin!”

“Ssst, jangan berisik. Kalau ketahuan para suster, aku bisa dimarah... sekarang, buka
mulutmu...”

Jin begitu memperhatikannya, Din sangat menyukai saat-saat seperti itu. Mengingatkannya pada masa kecil. Setiap kali Din sakit, Jin tak pernah absen menjaganya, atau setidaknya menjenguk dan membawakan Din makanan atau apapun yang disukainya.

“Saa, selesai...aku harus pergi sekarang. Begitu sekolah selesai nanti, Yuya pasti akan datang menemanimu...”, Jin beranjak dari duduknya

“Ng, Jinjin sudah selesai menemani Naomi-neechan, atau...baru akan pergi ke kamarnya?”

Tak ada jawaban, Jin hanya tersenyum dan sesaat mengusap rambut Din lembut sebelum akhirnya menghilang ke balik pintu

Berada di rumah sakit membuat Din lumayan banyak menghabiskan waktu sendirian. Saat-saat seperti itulah ia tanpa sadar memikirkan banyak hal. Pertanyaan terbesar yang ada dalam pikirnya

‘Apakah Naomi –neechan baik-baik saja?’

Dokter bilang, Din mengalami koma selama beberapa hari. Pikirnya, apakah Naomi juga mengalami koma, kalo memang begitu, apakah ia juga telah siuman

Apakah Naomi juga sedang dalam perawatan, diruangan yang berbeda tentunya, dan juga perban yang tak kalah banyak menghias kepala dan seluruh tubuhnya

Atau...apakah Naomi diruangannya sedang bersama Jin yang menemani, menghabiskan waktu-waktu romantis bak adegan dalam drama TV.

Setiap kali Din bertanya tentang keadaan Naomi pada Jin atau siapapun, ia tak pernah mendapatkan jawaban yang pasti. Jin hanya akan tersenyum dan mengucap lembut “Shinpai wa nai yo...”.


Jelas Din tak bisa untuk tak khawatir.

“Dinchan..waktunya makan siang...”, seorang suster tersenyum ramah, membawakan Din seporsi lengkap makanan khas rumah sakit

Din menggeleng pelan “Aku masih kenyang, suster...”

“Hh...lain kali, kalau pacarmu datang, aku akan memintanya untuk tidak membawakanmu makanan yang aneh-aneh dulu, itu tak baik untuk pemulihanmu...”

Sebuah seringai nakal diperlihatkan Din “...tapi dia bukan pacarku, suster...”, nada bicaranya melemah

“Souka...Gomen ne, tapi kalian terlihat seperti pasangan...”

“Chigau..Onii-chan desu...”

“Sou...Kalau begitu, apa kau punya pacar, hmm?”

“Eto...”, Din belum sempat menjawab

“Tuan Putri, aku datang menjenguk...”, seseorang yang tak lain adalah Yuya tiba-tiba
melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang perawatan Din –masih dengan seragam dan tas
sekolahnya. Membungkukkan badan, Yuya memberi salam pada perawat yang masih nampak mudah itu, dan perawat itu pun balas membungkuk dan tersenyum pada Yuya

“Yuya?”

Sedikit terkejut, Din tak bisa meneruskan kata-katanya melihat Yuya membawa sebuket besar bunga freesia berwarna kuning segar

“Nah, tuan...Takaki”, ucap si suster melirik tulisan kecil di tas sekolah Yuya “...sekarang waktu besukmu. Karna Dinchan sudah dapat makan siangnya, aku akan membawa kembali makanan ini dan akan datang lagi untuk waktu minum obat nanti...”, wanita muda itu tersenyum kemudian membungkuk

“Ah, ya. Terimakasih”, balas Yuya sopan sebelum suster itu meninggalkan ruangan Din dengan membawa seporsi makanan yang sama sekali belum disentuh

“Ng? Ada apa? Kenapa melihatku aneh begitu” Yuya berbalik, menatap kearah Din

“Untuk apa bunga itu?”

“Huh? Tentu saja aku bawa ini karna akan menjengukmu yang sedang terbaring di rumah sakit”, papar Yuya

“Lalu kenapa bawa freesia?”

“Itukan terserah padaku! Jangan cerewet!”, Yuya berusaha menahan nada suaranya agar tak berubah meninggi

“Dasar tak punya sense. Apa Yuya tak pernah mendengar tentang bahasa bunga? Setidaknya, bawakan bunga dengan arti yang sedikit lebih...”

“Ha? Mana aku mengerti yang macam itu?! Memangnya ada apa dengan freesia? Ini kan bagus...”

“Freesia kan artinya...”, Din mulai menggembungkan pipinya “...childish”

“Ha! Kalau begitu, pilihanku tak salah! Kau memang childish, sesuai sekali...anak manja! Haha!”

“Jangan mengejekku, playboy palsu!”

“Cerewet! Gadis aneh yang hobi marah-marah!”

“Pangeran gadungan yang sok tempting!”

“Keras kepala!”

“Yuya juga keras kepala!”

“Hey, kenapa kau tidak menyadarinya? Kalau kepalamu tak sebegitu keras, mungkin kau tak akan sela...”, Yuya mendadak tak bisa meneruskan kata-katanya

“Tak akan apa, Yuya?”, tampak raut penasaran di wajah Din

“Ah! Dasar tante-tante galak!”, Yuya tampak sedikit berfikir sebelum akhirnya menemukan kata-kata untuk kembali menghina Din

“Aku bukan tante-tante!”

“Bukankah yang cerewet itu tante-tante, hah? Lalu, kalau kau galak, itu memang kenyataan”

“Aaah...”, wajah Din mulai memerah karena kesal “Berhenti mengejekku, honey blond jadi-jadian!”

“Apa?!”, Yuya berubah sedikit emosi mendengar Din menghina warna rambut yang dibanggakannya “...dasar poni konyol!”

“Uhh...!”, Din secara spontan mengangkat bantal di ranjangnya untuk memukul Yuya. Beraninya
Yuya mengejek model rambut kesukaannya, padahal Jin selalu memuji Din dengan kata ‘manis’ bahkan sejak ia masih kecil

“Tapi kau manis...”

Wajah Din masih terlihat memerah, tapi kali ini bukan lagi karena kesal. Ia tak percaya akan mendengar kata-kata itu dari Yuya, seketika Yuya menahan bantal yang akan dilayangkan
Din dan menatap Din lurus dengan mata gelap warna madu it.

Din juga masih terpaku. Baru kali ini pula, Yuya mengakhiri perdebatan mereka dengan cara seperti itu
----------------------

Suasana kelas 3B sedikit aneh dari biasanya. Nu tak terlihat bersama Miyuy, Py atau Opi. Din belum juga masuk sekolah sehabis kecelakaan.

Py merasa bosan karena semua temannya sepertinya sedang ada masalah masing – masing. Membuatnya sedikit risih dengan wajah bete semua temannya.

Lebih aneh lagi karena Nu tidak masuk sekolah, tidak juga membalas e-mail dan mengangkat telepon. Py khawatir tentu saja, tapi ia juga bingung bagaimana mencari Nu, membuat Nu keluar dari apartemennya. Karena Nu tak terlihat sama sekali, bahkan apartemennya sperti kosong menurut Opi.

Entah sejak kapan, atap sekolah menjadi tempat nya biasa menunggu Hikaru. Walaupun kadang mereka hanya saling diam dengan pikiran masing – masing, atau sekedar berpegangan tangan melihat awan, membuat Py bahagia. Py sendiri bingung jika ditanya apa hubungan mereka berdua? Mereka bisa dibilang sudah pacaran mungkin, walaupun belum ada kata – kata itu keluar baik dari Hikaru ataupun Py.

Hari ini tampaknya Hikaru sedikit telat, namun Py tak masalah, Hikaru pasti datang. Selama menunggu, Py menggambar di buku sketsa nya seperti biasa.

“Gomen… aku telat…”, suara itu keluar dari Hikaru yang baru saja datang.

“Daijoubu… dari mana?”, tanya Py yang melihat jam tangan, ternyata Hikaru sudah telat lebih dari sepuluh menit.

Hikaru duduk di sebelah Py, “Hanya ada urusan sebentar…”, jawabnya.

“Hmmm…”, Py mengangguk.

Tiba – tiba Hikaru menyodorkan sebuah lollipop rasa cola di hadapan Py, “Kore!!”, katanya ceria, seperti biasa.

“Arigatou Hikka-kun..”

“Mmm…”, Hikaru pun membuka satu lollipop lain untuk ia makan sendiri.

“Ah iya… bagaimana keadaan Ikuta-san?”, tanya Hikaru yang juga sudah mendengar tentang kecelakaan itu.

“Sepertinya sudah mendingan, ia tak suka kita terlalu mengkhawatirkannya…”, kata Py yang tahu seberapa keras kepala nya sahabatnya itu.

“Yokatta na…”

“hmmm….”

Hikaru lebih pendiam dari biasanya, seakan banyak sekali yang menyesakkan pikiran Hikaru hari itu.

“Py-chan…”, Hikaru meraih tangan Py.

“Hmm?”

Tak menjawab, Hikaru hanya terus menggenggam tangan Py dalam diam.

“Pulang sekolah ini, mau ke apartemenku?”

“Eh?”, Py merasa dadanya dag-dig-dug karena tak menyangka akan ajakan itu, “Kenapa?”

“Aku ingin menunjukkan Bass yang selalu aku ceritakan pada Py…”, kata Hikaru.

Py pun mengangguk walaupun ia yakin wajahnya sudah memerah saat ini.


“Ini apartemenku…”, kata Hikaru pada Py.

Apartemen itu hanya apartemen kecil biasa. Terdiri dari satu dua ruangan yang berupa dapur dan kamar tidur. Tidak rapi, tapi juga tidak terlalu berantakan. Hikaru mempersilahkan Py duduk di karpet yang ada di ruang tengah itu, satu meja kecil ada di tengah – tengah ruangan selain kasur yang mepet ke dinding tanpa ranjang.

“Arigatou…”, kata Py yang makin deg – deg an saja sekarang.

Hikaru beranjak ke dapur dan memberi Py segelas teh.

“Maaf.. hanya ada ini…”, kata Hikaru.

“Daijoubu…”, jawab Py tersenyum, “Jadi Hikka-kun benar – benar tinggal sendiri ya??”, kata Py
lagi.

“Iya keluargaku di Sendai….”, jawab Hikaru pelan.

“Hmmm… aku tak pernah tinggal sendiri… pasti cukup sulit ya?”, tanya Py lagi.

Hikaru menggeleng, “Tidak juga. Sebenarnya, Yabu pernah memintaku untuk tinggal bersamanya di rumah orang tuanya, tapi aku menolak.”, jelas Hikaru.

“Eh? Kenapa Hikka-kun?”, tanya Py heran.

“Tidak apa – apa. Aku hanya ingin tinggal sendirian.”, jelasnya.

“hmmm..”

Hikaru beranjak dan mengambil Bass yang ia maksud. “Ini…”, kata Hikaru dengan senyum mengembang.

“Waaaahhh..bagus ya Hikka-kun…”, kata Py ikut tersenyum.

“Tidak mahal sih… tapi aku suka dengan Bass ini…”, kata Hikaru lagi.

Py tersenyum, “Kalau Hikka-kun memainkannya bagaimana?”

Hikaru pun melakukan apa yang Py minta. Selama beberapa menit ruangan kecil itu hanya dipenuhi oleh suara permainan Bass oleh Hikaru.

“Sugoiii!!”, kata Py walaupun ia tak terlalu mengerti soal Bass, tapi ia rasa permainan Hikaru memang bagus.

“Hehehe…”, kata Hikaru tersenyum canggung, “Arigatou…”

“Pasti Hikka-kun bisa jadi pemain Bass terkenal nanti…”, kata Py lagi.

“Muri…hahaha…”, Hikaru tersenyum pahit.

“Eh? Nande?”

“Gak apa – apa Py-chan….”, katanya lalu tersenyum.

Seperti biasa senyum itu yang membuat Py juga dapat ikut tersenyum. Hikaru dan Py pun mengobrol, hingga tak sadar waktu sudah cukup malam.

“Hikka-kun…sudah malam…”, kata Py menyadari setelah melihat ponselnya.

“Ah iya…ayo pulang….”

“Eh?”

“Sudah malam Py-chan… kau tak mungkin pulang sendiri…”, kata Hikaru sambil beranjak dan
mengambil jaketnya.

Sepanjang pulang itu Hikaru tak banyak bicara hingga tiba di depan rumah Py.

“Arigatou Py-chan…hontou arigatou…”, kata Hikaru sambil masih menggenggam tangan Py.

“Eh? Kenapa berterima kasih padaku?”, tanya Py heran.

Hikaru menggeleng, “Tak apa… hanya…. Terima kasih atas segalanya…”

Py masih heran, terlebih heran ketika secara tiba – tiba Hikaru memeluknya.

“Hikka-kun…”, panggil Py pelan.

“Biarkan aku begini… sebentar saja….”, bisik Hikaru pelan, menarik Py ke dalam pelukannya lebih dalam.

---------------------------

misaki miyuy calling…


Untuk Nu, getaran ponselnya terasa begitu menyakitkan. Hanya bisa membiarkan panggilan masuk tanpa menjawabnya

Getaran itu akhirnya berhenti

Dengan berat hati, Nu menekan tombol shortcut pada keypad ponselnya

new events (112)
63 missed calls
49 unread mails


“Kenapa mereka tak ada lelahnya…?”, ujarnya pelan

Terlihat beberapa nama yg mendominasi pada bagian missed call, Misaki Miyuy, Arioka Daiki, Yoshitaka Poppy, Yamashita Opi

Terdapat variasi urutan dari beberapa nama tersebut sesuai waktu telepon yang sengaja Nu biarkan. Juga nama-nama yang sama ketika ia melihat bagian unread mail.

Misaki Miyuy
Yoshitaka Poppy
Yamashita Opi
Arioka Daiki
Ada satu yang berbeda dari variasi berpola tersebut


Sender: yoshida.hinagiku@pqrmail.co...
Subject: tolong kembali ke sekolah
Message:
tolong kembali ke sekolah, Takahashi…


Sebuah alamat email yang terdapat di phonebooknya. Yoshida Hinagiku, butuh waktu cukup lama bagi Nu untuk dapat mengingat siapa pemilik nama itu

“Ah.. wakil ketua kelas…”, ucap Nu akhirnya. Karena ingat Din pernah menyebutnya. “Bagus, bahkan sekarang orang menganggapku hikikomori…”

Ketika tombol down ditekan beberapa kalipun, tak banyak perubahan dari variasi dengan pola semula.

Arioka Daiki
Yamashita Opi
Misaki Miyuy
Yoshitaka Poppy


Tentu saja, deretan itu terasa tak lengkap. Ada satu bagian penting yang hilang…



Ikuta Din


“Dinchan…”

Sudah hampir satu minggu penuh Nu tidak pergi ke sekolah. Semua tentang sekolah membuatnya merasa sesak. Mengingat perlakuan tak menyenangkan yang diterimanya, juga perasaan tertekan setiap kali mengingat kata-kata yang diucap beberapa teman sekelas beberapa hari lalu. Tentang teman-teman dekatnya. Tentang seorang bernama Arioka Daiki yang belakangan ini jarang membiarkan waktu sendiriannya.

Getaran kembali terasa dari benda yang tak lain adalah ponsel

arioka daiki calling…

Nama itu. Nama itulah yang paling membuatnya merasa kesal

“Kenapa aku harus peduli?!”

Benda itu meluncur dengan cepat, membentur dinding dengan cantiknya dan berubah menjadi
bagian-bagian ketika menyentuh lantai. Tak ada lagi getaran.

Kepala Nu yang semula terbenam dalam bantal seketika terangkat ketika pendengarannya menangkap sebuah suara.

Seseorang membuka pintu kamarnya.

Siapa ?

Kenapa bisa ?

Ia bisa memastikan bahwa pintu kamarnya terkunci, juga pintu utama.

“Kupikir, kau masih ada disekolah”

Kontan Nu terbelalak mendapati sosok yang masuk kedalam kamarnya. Seorang berrambut hitam pendek. Orang yang sama dengan pria pirang yang beberapa bulan lalu menjadi orang paling penting bagi dirinya, hanya penampilannya yang berbeda.

“Kyo-san…”, panggil Nu lirih.

“Aku datang untuk kembalikan ini…”, pria yang dipanggil Kyo itu membungkuk, meletakkan sebuah benda yang terbuat dari logam diatas meja. Tak lain adalah sebuah kunci, kunci copy dari kamar yang ditinggali Nu

“Padahal dibuang juga tak masalah…”, ucapnya dingin

“Mungkin kau masih membutuhkannya”, balas pria itu sesingkat mungkin

Suara itu. Begitu dirindukan. Ia ingin mendengar suara itu lagi

“Kenapa Kyo-san harus peduli?”

Kyo beralih, ke tempat tidur Nu –yang sejak beberapa waktu terakhir tak lagi menjadi tempatnya menghabiskan waktu

“Hh, tak ada alasan.”, ucapnya acuh.

“Kalau begitu, aku salah telah kalau berpikir Kyo-san peduli…”

“Anggap saja begitu…”, Pembicaraan mereka memang tak pernah manis, tapi seingat Nu paling
tidak Kyo sudah sedikit berubah sikapnya.

“So, tell me. Why did you leave me? Just tell me why. Tell me the reason..”, tanya Nu.

“Yang sebenarnya. Tak ada alasan”

“Why did you think that was okay to went out with me ?”, tanya Nu lagi.

“Tak ada alasan.”, jawabnya lagi.

“Kenapa semuanya dijawab dengan ‘tak ada alasan’?”, nada suara Nu meninggi.

“Haruskah aku berpikir tentang itu? Haruskah aku peduli?”, imbuh Kyo lagi.

“Kalau begitu, kembalilah…”, perlahan Nu menyandarkan kepalanya dibahu Kyo.

“Haruskah aku bertanya alasannya?”

“Aku butuh Kyo-san, aku butuh semua ketidakpedulian Kyo-san”

Hening

Sejenak, pria berrambut hitam itu menyalakan pemantik dan menyesap sebatang Phillip Morris
dibibirnya dalam-dalam. Aroma yang begitu dirindukan pula.

“Sebenarnya”, Kyo mulai membuka suara “Sejak awal, aku tak pernah mencintaimu”.

Semua orang tahu, Kyo ahli dalam hal berbohong, tapi sesekali ia bahkan jadi sangat payah
dalam hal tersebut.

“Aku juga”, Nu menimpali.

“Urusanku selesai. Aku akan pergi”. Kyo beranjak. Tak ada lagi tempat bagi Nu dimana
kepalanya bertumpu.

Bukan lagi tempatnya.

“Dimana kau simpan ashtraynya?”, Kyo mengedarkan pandang ke seluruh ruangan.

“Aku bukan perokok. Jadi kubuang”, bohong.

“Hah! Tapi itu berguna…”

“Saat membuangnya, aku yakin Kyo-san tak akan kembali, jadi sudah tak lagi ada gunanya”


Daiki sebisa mungkin mempercepat langkahnya menuju salah satu kamar flat yang begitu dihafalnya. Kamar milik teman sekolah bernama Takahashi atau yang --dengan kesepakatan sepihak-- dipanggilnya Nuchan. Tak ada hal lain yang dipikirkan selain bisa sampai ke kamar itu dengan cepat.

“Aah!!”

Tiba-tiba, Daiki merasakan tubuhnya sedikit terpental dan jatuh kebelakang. Ia baru saja
menabrak seseorang tanpa sengaja.

Dengan segera, Daiki kembali berdiri dan membungkuk dalam-dalam

“Go, gomennasai! Aku benar-benar tak sengaja”

Sementara yang ditabrak, hanya membetulkan letak kacamata raybannya yang sempat terlepas karena peristiwa tabrakan. Memperlihatkan anggukan samar tanpa kata-kata dan kemudian berlalu.

Wajah itu. Daiki berani bertaruh kalau ia pernah melihatnya. Hanya sayangnya, ia tak ingat siapa ataupun dimana pernah bertemu.

“Ah, Nuchan!”, Daiki meneruskan langkah ketika teringat tujuan utamanya


“Kyo-san!”

Lagi. Nu mendengar seseorang membuka pintu kamarnya

“Nuchan!”, panggil Daiki dari pintu.

Tapi bukan seorang yang diharapkan

Dipikiran Nu, sosok itulah yang mempunyai paling banyak korelasi dengan hal buruk yang terjadi padanya beberapa hari lalu.

“Keluar”, ujar Nu dingin tanpa menujukan pandang pada sosok itu. Daiki. Sejak beberapa hari
lalu ia mencoba masuk ke flat milik Nu. Tapi nihil, teman sekolahnya itu sama sekali tak memberi akses. Berbeda kali ini. Kyo yang baru saja keluar tak mungkin mengunci kembali pintunya, Nu melupakan itu.

“Tapi, aku ingin membawa Nuchan…”

“Kubilang, keluar! Apa kau tuli, hah?!”, potongnya sarkastik.

“Nuchan, kumohon dengarkan aku…”, tak menghiraukan. Daiki melangkah, memperkecil jarak antara dirinya dan gadis berkulit pucat itu

“Pergi sana! Aku tak ingin melihatmu!”

“Aku…”, kekecewaan mulai tampak jelas di wajah Daiki

“Pergi…”, Nu terus bergerak kebelakang, berusaha menjauh dari Daiki yang terus mempersempit jarak, namun tak ada lagi ketika dingin tembok menyentuh punggungnya “…aku membencimu…”

“Tolong jangan benci aku…”, Daiki mulai terbawa emosi.

Menenggelamkan wajahnya di kedua lutut yang diketuk, Nu mulai mengeluarkan suaranya yang kini mulai bergetar “Sejak awal, aku selalu berharap tak ada lagi yang menyapaku selain keempat temanku…tapi semenjak kau datang, yang kudapatkan bahkan lebih dari itu. Kau membawa masalah bagiku, aku ingin kau menjauh”

Setiap kata yang diucap Nu terasa begitu sakit bagi Daiki. Ia tahu apa yang terjadi hingga membuat Nu absen dari sekolah. Ia juga paham betul, untuk seorang introvert seperti Nu, itu bukanlah hal yang mudah

“Tak apa kalau Nuchan tak ingin melihatku. Tapi aku ingin Nuchan melihat Dinchan. Dia sudah sadar. Kabar baik, kan? Nuchan belum melihatnya, kan? Aku datang untuk menjemput…”

“Aku tak akan pergi. Kau sudah mendapat jawabanku, jadi sekarang keluarlah”

“Kenapa…?”

“Aku tak ingin peduli”

“Aku tahu Nuchan ingin melihat Dinchan…”, Daiki tersenyum, begitu polos dan tulus.

“Jangan mengandaikan pemikiran pribadimu sama seperti yang aku pikirkan!”, bentak Nu.

“Tapi benar, kan?”, Daiki masih tak mau kalah.

“Sama sekali tidak”

“Bohong. Aku yakin Nuchan peduli”

“Kau tahu apa tentangku?!”, teriaknya lagi.

Daiki menunduk. Mencari-cari kata apa lagi yang harus diucapkan

“Kalau begitu, sekarang pedulilah…”

“Kenapa aku harus?”

“Karna dia temanmu. Mereka teman-temanmu. Mereka peduli padamu…”

“Aku tak peduli kalau mereka peduli padaku. Aku tak meminta mereka peduli!”

PLAKK !

Sebuah tamparan dari Daiki sukses membuat Nu terdiam.

“Beginikah caramu menghargai sebuah persahabatan? Buka matamu, kali ini saja kumohon
untuk tak bersikap egois!”

Dalam pikirnya, Nu ingin sekali membalas apa yang dikatakan Daiki. Membentak. Balik
menampar. Atau bahkan berteriak agar Daiki segera keluar dari tempatnya. Ia benci kalah dan tak bisa menjawab. Namun, perih yang terus menjalari pipinya seakan membuat mulutnya terkunci.

“Sekarang tak ada bantahan lagi. Ikut aku…!”, tatapan tegas Daiki, selalu membuatnya tampak begitu dewasa

Hanya bisa terdiam, Nu membiarkan Daiki menggenggam tangan dinginnya. Membimbing langkahnya.

-----------------------------

“Kabar baik, Dinchan. Dokter bilang, beberapa hari lagi kau sudah boleh pulang...”, ujar Jin tersenyum sembari memberikan sebuah eksemplar majalah Myojo favorit Din edisi terbaru dengan tampilan imej grub band NEWS –yang sudah sejak lama menjadi favorit Dinchan- di sampul depannya

“....”, diam

Jin jelas merasa aneh. Din selalu berteriak histeris jika Jin membawakannya majalah favorit,
ditambah dengan kabar baik bahwa besok ia telah diperbolehkan menginggalkan rumah sakit.

Tapi kali ini berbeda, Din terlihat sama sekali tak senang.

“Ng, kenapa?”

“Biarkan aku melihat Naomi-neechan. Kalian bahkan tak beritahu aku dimana tempatnya dirawat. Aku ingin tahu keadaannya...”

Jin sesaat menggigit bibir bawahnya melihat wajah sedih gadis yang sudah seperti adik kandungnnya itu

“Sudah aku bilang, tak ada yang perlu dikhawatirkan...”, Jin beranjak dari tempatnya, mendaratkan bibirnya untuk sebuah kecupan manis di puncak kepala Din

Seakan jantung Din berhenti berdetak. Ia jelas masih menyimpan perasaan pada pria yang telah dikenalnya selama belasan tahun itu

Yuya berhenti dan mematung di pintu kamar rawat Din, menyaksikan pemandangan yang disaksikannya, antara Din dan kakaknya sendiri. Mungkin semua tak seperti yang Yuya lihat.
Tapi, apa yang dia tahu?

GSSRAK—

Buket itu terjatuh ke tanah ketika Yuya yang tadi memegangnya mengambil keputusan seketika untuk meninggalkan ruangan itu

Berlari. Membawa perasaan di hatinya bersama langkah kaki yang semakin cepat menuju atap rumah sakit. Kesal. Kecewa. Cemburu.

“Ng!”, menolehkan kepalanya kearah pintu masuk, Jin mendapati sebuket bunga yang tergeletak di lantai

“Yellow roses, mungkin tadinya ada yang membawa ini untukmu...”, ucap Jin memungut buket itu dan berjalan menuju tempat tidur Din

Din tak menjawab, hanya menunduk dan bergumam lirih

“Yellow roses...jealousy...”
-----------

To Be Continued!!!
SEPANJANG JALAN KENANGAAAAANNN…
Maaf lama, author lagi pada sibuk…
Silahkan dibaca fic berdurasi 5000 kata ini…
Yang masih aja lum tamat…
LOL
Ganbarimasu!!
Next chap gak bakalan lama…karena tinggal saia yang ngedit…
Dinchan yori..
Hehehehe.. 

Rabu, 21 April 2010

[Fanfic] Accidentally In Love (chap 7)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Seven
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~

Ketika Din membuka matanya di pagi hari, yang dilihatnya adalah wajah Yuya yang tengah tertidur. Din memejam dan kemudian membuka matanya kembali, beberapa kali ia mengusap matanya, pemandangan itu tetaplah sama, Yuya ada di tempat tidurnya

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!”, seisi rumah bisa mendengar teriakan Din


“Yu, yuya...ke, kenapa...”, ucap Din terbata, panik “..jangan bilang kalau Yuya sudah lakukan macam-macam !”, tanpa sadar tangannya menarik leher bajunya keatas.

“Hahahahhaha! Wajahmu, wajah panikmu, yang seperti itu lucu sekali!”, goda Yuya senang.

“Tenanglah...aku sudah minta izin oba-san untuk membawamu pergi keluar, tapi ternyata kamu masih tidur”, kata Yuya tenang.

“Kenapa harus sepagi ini, sih?”, rutuk Din kesal.

“Ah, cerewet...cepat madi lalu siap-siaplah!”, kata Yuya seraya menarik sedikit selimut yang Din kenakan.

“Apa? Ng, aku pilih tidur lagi..ini terlalu pagi...”, balas Din, kembali menenggelamkan kepalanya di bantal dan membungkus dirinya dengan selimut



“Kalau begitu, aku juga”, tanpa berpikir panjang, Yuya membuat dirinya sendiri begitu dekat dengan Din, meletakkan kepala di bantal yang sama, menarik sedikit dari selimut yang dipakai Din

Begitu dekat. Din -yang tentu saja belum benar bisa kembali tertidur-, apalagi diciumnya aroma khas Yuya yang well, sedikit mirip dengan Jin.

Din tak bisa membohongi dirinya sendiri dengan berpikir ia masih bisa tenang dengan posisi seperti itu, jantungnya berdetak semakin cepat,

‘Apakah wajahku memerah?’

‘Apakah dia memperhatikan wajahku yang tertidur?’

‘Apakah wajah baru bangun tidurku cukup kacau hingga dia bisa mengolokku seperti biasa?’

‘Dia hanya menggoda, jangan terpengaruh...seperti biasa...’, batin Din



“Aaah! Sudah, menjauh!”, Din seketika mendorong Yuya menjauh. Din tak lagi bisa menyembunyikan perasaannya, perasaan ingin berteriak ketika Yuya berada sedemikian dekat dengannya.

“Ha ha ha! Sudah bangun ya, Tuan Putri? Selamat pagi...”, ucap Yuya dengan memasang senyuman penuh kemenangan.


“Ok! Aku akan pergi denganmu...pervert!”, Din melempar bantal ke wajah Yuya sebelum berlari keluar dari kamarnya

--------------

“Ng, kenapa? Sejak tadi kamu lebih banyak diam?”, tanya Yuya pada Din ketika mereka baru saja turun dari bianglala.

‘Ini kan kencan pertama kita sebagai pasangan??’, batin Din.

“Aku..hanya belum terbiasa”, jawab Din pelan

“Hah? Apanya?”, tanya Takaki tak mengerti.

“Kita terbiasa main ke taman bermain seperti ini selalu pergi bertiga bersama Jin, kan...”, kata Din dan setelahnya menyesali apa yang dia katakan.

“Ohh~”, Yuya menarik tangan Din dan menggenggamnya, “Ada aku disini..apa tidak cukup?”, bisiknya, namun Din masih bisa mendengarnya.

----------------
“...hai, Nu desu...”

Sore itu Nu terbangun oleh getar dari ponselnya, panggilan dari nomor tak dikenal

“Nuchan~ bolehkah aku ke tempatmu sekarang?”, tanya seorang diseberang sana

“Ah, Arioka. Untuk apa datang ke tempatku?”, kali ini Nu benar – benar bangun sepenuhnya.

“Untuk menjemput Nuchan, kita akan pergi ke konser, kan?”, tanya Daiki.

‘Ah....konser Kyo...’, kata Nu dalam hati.

“Ng, ya. Tapi...”, Nu melirik jam kecil di meja dekat tempat tidurnya “..tapi ini jam 3 sore!”

“Nuchan suka vokalis bandnya, kan? Kalau begitu, kita harus dapat tempat di depan!”, seru Daiki bersemangat

“Ok, kamu boleh ketempatku”, jawab Nu akhirnya.

“Yaay! Kalau begitu, sekarang buka jendela kamarmu!”

Begitu Nu membuka jendela kamarnya, ia bisa melihat Daiki dibawah sana, tersenyum manis untuknya, dan melambai kecil ke arahnya.

“Nuchaaaannn~”, serunya ceria.

Nu menggelengkan kepalanya, terkadang saat melihat senyumnya, Nu pun tanpa sadar ikut tersenyum.


Konser-yang-disukai-Nuchan ternyata jauh berbeda dari yang dibayangkan Daiki, sangat berbeda dengan konser-konser live yang biasa dilihatnya.

Begitu bising, bahkan terkadang lagu yang dibawakan tak terasa seperti sebuah lagu untuknya, hanya teriakan-teriakan yang memekakan telinga dari sang vokalis. Membuatnya berpikir “Inikah orang yang sangat disukai Nuchan?”

Tapi audiens begitu menikmati, begitu bersemangat. Sesekali Daiki menatap Nu yang berdiri disampingnya, tersenyum lembut menatap keatas panggung.

Senyuman yang belum pernah dilihatnya.

“Aah, selesai...Nuchan suka konsernya?”, Daiki berusaha tersenyum, meskipun kepalanya terasa pusing ketika keluar dari hall area.

“Aku selalu suka...”, jawab Nu pelan.

“Tunggulah disini, aku akan cari minuman untuk kita!”, ucap Daiki dan segera berlari menginggalkan Nu.



“Eto...kenapa belum juga sampai ke tempat yang tadi?”, gumam Daiki. Dengan dua kaleng minuman dingin di tangannya, ia berusaha keras mengingat, jalan menuju tempat dimana Nu mengunggunya.

“Gawat, aku tersesat!”, semakin Daiki berjalan, tempat-tempat yang dilalui terasa semakin asing.

“Basement? Aah, aku benar tersesat. Aku akan hubungi Nuchan...”

Gerakan Daiki meraih ponsel terhenti, ketika ia mendengar suara yang dikenalnya.

“Aku tak bisa menerima alasan Kyo-san! Sejak kapan kita peduli tentang orang tua?!”

Itu suara Nu.

Daiki melihat Nu, berdebat dengan orang yang tak lain adalah vokalis dari band yang baru saja dilihatnya.

“Aku bukan pedofil”, jawab seorang yang dipanggil Nu dengan sebutan Kyo itu

“Dan aku bukan anak dibawah umur!”, seru Nu dengan nada sedikit membentak.

Daiki berusaha bersembunyi, melihat perdebatan Nu dan Kyo. Tapi tanpa sengaja, Daiki menjatuhkan kaleng minuman yang dipegangnya.

Suara itu tentu membuat Nu dan Kyo melihat kearahnya. Nu menghampirinya, meninggalkan Kyo “Ayo pulang, Daiki!”

Tak ada yang bisa dilalukan Daiki selain mengikuti langkah Nu.

“Tanpa sadar, Nuchan memanggil namaku...aku senang”, ujar Daiki, lirih

Selama perjalanan pulang, keduanya hanya terdiam. Daiki tahu, Nu ingin menangis, tapi tak ingin Daiki melihatnya, lagi.

“...Nuchan pernah mengenal Kyo-san?”, akhirnya Daiki memberanikan diri bertanya.

“Dia...pacarku...”, jawabnya sepelan mungkin.. “Setidaknya hingga beberapa waktu yang lalu...”

Daiki begitu terkejut, tak percaya. “Tapi, Nuchan dan Kyo-san...ng, terlihat...”, tambah Daiki, ragu.

“Dia meninggalkan aku”, sepenggal kata dari Nu membuat Daiki tak bisa meneruskan ucapnya

“Nuchan membencinya sekarang?”, tanya Daiki lagi.

“Aku tak akan pernah bisa...”, jawab Nu hampir menangis.

mendengar kata itu, membuat Daiki merasa sedikit iri.

“Kalau begitu...”, Daiki meraih jemari dingin Nu dengan tangannya “...sukai aku seperti Nuchan menyukainya...”, ucap Daiki.

Tatapan itu lagi, sorot mata Daiki yang begitu tegas. Membuatnya sesaat terlihat begitu dewasa.

Nu hanya menarik tangannya, “Aku tak bisa”

Kembali berjalan, Nu menyadari Daiki tak lagi berada disampingnya

“Arioka?”

Tak ada jawaban, dan ketika menoleh, Nu bisa melihat Daiki sudah tertinggal beberapa langkah darinya, duduk berjongkok di jalanan sepi

“Hh...”, menghela nafas, Nu berbalik, dan membawa kakinya melangkah kebelakang menuju Daiki.

“Jalanlah yang benar...”, perintah Nu.

Walaupun Nu tak tersenyum untuk Daiki, tapi Daiki bisa kembali tersenyum -setelah memasang wajah cemberut yang nampak begitu kekanakan-, ketika Nu mengulurkan tangan untuknya.

Tanpa ragu, Daiki meraih tangan Nu, menggenggamnya kemudian meneruskan langkah mereka yang sempat terhenti.

“Manja!”, ujar Nu singkat.

“Biarlah...asalkan manjanya hanya sama Nuchan...”, balas Daiki.

“Haaah?!”, tanpa sadar, senyum Nu sedikit mengembang, ia yakin wajahnya juga memerah saat ini.

---------------------------
“Ok, aku ambil yang ini”, ujar Py lirih pada dirinya sendiri menatap sebuah sketch book “Sekarang ke tempat manga...”, gumamnya pada diri sendiri.

Hari libur yang membosankan. Semua temannya tampak sibuk dengan urusan mereka masing – masing. Py akhirnya memutuskan untuk ke toko buku sendirian, paling tidak ia bisa mencari komik yang dia inginkan.

“Hikka...pasti lihat (shounen) JUMP, kan? Dasar laki-laki, membosankan aah, ayo keluar dari toko buku lalu hang out bersama kami...”

Langkah Py terhenti ketika mendengar seseorang menyebut nama itu. Py berusaha mengintip dari sela-sela lemari buku. Seorang berambut coklat terang itu, Hikaru yang dikenalnya. Dengan tiga orang lain, gadis - gadis yang juga dari sekolahnya. Seorang dari mereka, memeluk lengan Hikaru begitu erat, berbicara dengan nada manja.

“Memangnya Hikaru-kun pacarmu...?”, ucap Py lirih.

Tanpa mau mengaku pada dirinya sendiri, Py merasa sedikit kesal. Cemburu, mungkin.

Sementara Hikaru menanggapi ketiganya dengan tersenyum ramah. Menyenangkan, semua orang pantas menyukainya

“Oh ya, Hikaru-kun kan pacar mereka semua...”, kata Py lagi.

Tapi perasaan itu segera ditepisnya dan berjalan menjauh dari tempat Hikaru berdiri. Semakin menjauh.



Ketika Py sadar, ia sudah berada di tempat yang tak biasa untuknya. Diantara deretan buku-buku dengan judul yang benar-benar asing. Py hanya bisa berpura-pura memilih buku, menghindari tatapan aneh dari orang-orang disekelilingnya.

“Ushi no Koku Mairi? Bacaan yang bagus. Apa Pychan sedang membenci seseorang?”, kata seseorang dibelakangnya.

“Kyaaaaaaaa! Hikaru-kun!”, kontan Py menjerit kaget. Mendengar suara Hikaru, sekaligus menyadari buku apa yang tengah dipegangnya. Dan ketika itu pula wajahnya berubah memerah.

“Hmm? Aku, hanya...”, Py berusaha mencari kata-kata yang tepat tapi tak juga menemukannya.

“Salah ambil buku?”, potong Hikaru.

Hanya mengangguk malu, Py tak bisa menatap Hikaru.

“Ini, aku ambilkan untukmu. Semoga tidak salah lagi”, katanya lalu mengambil sebuah buku.

“Shu, Shugo Chara? A, arigato, Hikaru-kun”, ujar Py masih merasa deg – degan.

Tanpa Py sempat menduga, Hikaru memberikan salah satu buku yang memang akan diambilnya.

“Aku akan berikan buku ini, kalau Pychan mau menemaniku jalan-jalan. Bagaimana, hmm?”, tawar Hikaru.

“Demo...ano...”, jawap Py ragu.

“Aku juga tak akan beritahu siapapun kalau Pychan tertarik dengan Ushi no Koku Mairi...”, godanya, tersenyum memperlihatkan senyum khasnya.

“Aah! Ok, aku ikut!”, jawab Py akhirnya.

Sebenarnya, Py memang hanya ingin bersama Hikaru.

“Ahaha, terima kasih!”, kata Hikaru bersemangat.

Walaupun Py masih tak bisa menatap Hikaru, tapi ia bisa memastikan. Hikaru memasang senyumannya. Sebuah senyum yang begitu bersahabat, Py begitu menyukainya.
--------------
Miyuy kembali merapikan rambutnya, mengecek kembali apa make up nya tidak berlebihan.

Hari ini cukup istimewa. Ia akan berkencan dengan Yabu. Setidaknya itulah yang difikirkan Miyuy.

Semalam saja Miyuy tak bisa tidur hanya karena ajakan ini.

From: Yabu-kun
Subject: Malam~
Miyuy-chan...sedang apa?
Ada waktu besok?

Saat menerima email itu, Miyuy yang awalnya sudah ngantuk setengah mati karena soal Fisika yang harus ia selesaikan sebelum hari senin, tiba – tiba merasa tak mengantuk sama sekali.

To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku..berkutat dengan Fisika.
Yabu-kun sedang apa?
Eh? Besok? Aku tak akan kemana – mana..
Kenapa Yabu-kun?

From: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku sedang tiduran saja~
Miyuy-chan rajin ya..besok kan baru hari Sabtu..
Masih juga belajar?? :P
Kalau ada waktu..maukah nonton bersamaku?

“Kyaaaaaa~”, tanpa sadar Miyuy sedikit berteriak.

To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku benci menunda tugasku..:D
Eh?hmmm~
Boleh saja..aku juga tak punya rencana apapun kok..

From: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Baiklah...jangan tidur terlalu malam.
Besok kita bertemu di taman jam 11 ok?
Oyasumi Miyuy-chan~
---(image 19)---
Stars that always shining

Miyuy tersenyum melihat foto sebuah bintang bohongan yang terbuat dari kertas bersinar warna emas.

To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Ok desu~
Oyasumi...

Setelah email itu, Miyuy malah tak bisa memejamkan mata sama sekali. Namun ia juga tak mampu mengerjakan PR Fisika nya. Hatinya terlalu senang dengan apa yang akan terjadi.
Miyuy pun segera mengecek ramalannya di Tobenatori. Maka saat ini pun ia memakai warna keberuntungannya hari ini, Biru.

“Maaf aku agak terlambat...”, kata seseorang. Membuyarkan lamunan Miyuy.

Yabu berdiri dihadapannya, dengan senyumnya seperti biasa.

“Ah..tidak..aku yang terlalu cepat datang...”, jawab Miyuy.

“Ja...Ikou~”, ajak Yabu.

----------------------
From: Yuuri
Subject: (no subject)
Neechan~ sudah ketemu Inoochan, kah? >___<

Opi membuka layar ponselnya, sebuah email dari Yuuri.


To: Yuuri
Subject: Re: (no subject)
E?

Inoo-kun? -w -)7

Jawabnya pada Yuri

From: Yuuri
Subject: Re: (no subject)
Aku dan mama minta Inoochan bergabung
dengan kita untuk acara barbeque nanti,
jadi Inoochan bantu dengan ikut neechan
belanja ke super market >__<


Pesan dari Yuri itu membuat Opi sedikit terkejut, Inoo akan datang untuk belanja bersamanya.

BRAK !

Mendengar suara itu kontan Opi menutup layar ponselnya dan melihat ke tempat berasalnya suara.

“I, Inookun?”, ujarnya setengah berteriak.

Opi bisa jelas melihat, Inoo sedang membantu seorang ibu tak dikenal membereskan belanjaannya yang berantakan dilantai.

“Ah, terimakasih, nona”, ujar ibu tersebut pada Inoo.

Opi berusaha menahan tawa mendengar panggilan yang diberikan seorang tak dikenal itu pada Inoo, jelas ia salah mengira Inoo sebagai perempuan.

Sementara Inoo hanya membalas dengan senyuman, Opi juga melihatnya, begitu cantik, bukan mustahil orang akan mengira Inoo adalah perempuan.

Tak lama, kemudian Inoo berdiri menghampiri Opi

“Tertawakan aku, huh?”, lagi, Inoo memperlihatkan senyumannya, yang begitu Opi sukai.

“A, ah, tidak, tidak...”, Opi menggeleng, meencoba menyembunyikan wajahnya yang kini memerah.

Sesaat Inoo melirik tas belanja Opi, “Hmm, hampir semua yang diperlukan sudah diambil, tapi ada yang ketinggalan...”, kata Inoo.

“E? Padahal kupikir semuanya lengkap”, kata Opi yang yakin ia tak melewatkan satu pun barang yang di daftar oleh Ibunya.

“Paprika”, jawab Inoo sambil tersenyum.

“Ah! Padahal itu penting!”, Opi memukul keningnya sendiri “Ayo, cepat selesaikan dan pulang!”, tanpa sadar, Opi menarik tangan Inoo dan berjalan cepat ke stand sayuran.

“Kurasa yang ini bagus...”, ujar Inoo.

“Aku ambil...”, Saat itu, Opi baru menyadari kalau tangannya masih menggandeng tangan Inoo “Aah, gomen ne!”, segera Opi melepaskan genggaman tangannya dan memasukkan beberapa buah paprika kedalam tas belanjanya.

Dan Inoo hanya mengisyaratkan sebuah ‘Daijoubu dayou’ dengan senyumannya

-----------------
“Inookun, terimakasih sudah membantuku belanja...”, kata Opi lalu menatap Inoo yang tampak melamun.

“Tak apa, aku yang harusnya berterimakasih karna diundang di acara barbeque kalian”, jawabnya.

Keduanya, berjalan bersamaan dengan masing-masing membawa tas belanjaan.

“Hai nona-nona, nampaknya baru selesai belanja, bagaimana kalo main-main bersama kami, lebih menyenangkan...”, Seorang menepuk pundak Inoo, dua orang berandalan yang sama sekali tak terlihat seperti orang baik.



“Maaf, kami tak punya waktu untuk kalian”, Inoo menepis tangan itu dari pundaknya.

“Ah, laki-laki ya, membosankan!”, ucap seorang lain dari mereka, dengan tatapan meremehkan.

“Ayo Opi, kita harus cepat sampai rumahmu, obasan dan Yuuri sudah menunggu!”, Inoo mempercepat langkahnya dan diikuti dengan Opi.

Hanya tinggal beberapa blok lagi untuk sampai kerumah, keduanya kembali berjalan santai. Tapi bagaimanapun, suasana yang tidak enak memang terasa, tidak terlalu ada pembicaraan diantara mereka.

“Harusnya, saat berjalan bersama dengan membawa tas belanja seperti ini, akan dikira sebagai pasangan pengantin baru, kan”, goda Inoo lalu melirik pada Opi.

Kalimat yang diucapkan Inoo membuka wajah Opi memerah dan tak bisa menjawab.

“A, apa maksud Inookun?”, ujar Opi.

Perlahan, Opi bisa merasakan Inoo meraih tangannya -yang tak memegang tas belanja-, jemari lentik Inoo menyilang diantara jari-jarinya. Opi sama sekali tak bisa menatap wajah Inoo, tak ingin Inoo melihat wajahnya yang telah menjadi sangat merona.

“Dengan begini, kita pasangan pengantin baru. Tak akan ada yang akan memanggil kita dengan ‘nona-nona’ lagi...hee hee”, katanya tanpa melepaskan tangan Opi sedikitpun.

‘Walaupun itu hanya bohong, Inookun hanya tak suka dikira sebagai perempuan karna wajahnya yang cantik, tapi aku senang’, Pikir Opi yang berjalan dengan Inoo menggenggam tangannya. Terasa begitu nyaman, walaupun membuat jantungnya berdetak cepat tak beraturan.

“Mamaaa, Neechan dan Inoochan sudah sampai!”, seru Yuuri yang sejak tadi menunggu di depan pintu “I, Inoochan...”, Yuuri terbata mendapati Inoo yang masih memegang tangan kakaknya

“Ini, ini hanya...”, Inoo berusaha menjelaskan, tanpa melepaskan genggaman tangannya.

“Kyaaaaaaaaaaa”, Yuri berlari histeris kedalam rumah

Inoo dan Opi, keduanya hanya bisa tertawa, dengan wajah yang masih memerah.
“Inookun..”, panggil Opi pelan.

“Ya?”

“Sudah bisa dilepaskan...kita sudah di rumah..”, kata Opi lagi.

Inoo tampak kaget sendiri, lalu melepaskan tangannya, “Gomen ne Opichan..”

---------------------
“Filmnya seru ya Yabukun!!”, seru Miyuy setelah mereka keluar dari bioskop.

Sejujurnya, Yabu tak begitu suka film Astro Boy tadi. Tapi setidaknya melihat ekspresi wajah Miyuy sepanjang film tampaknya membuat hal di bioskop tadi menyenangkan.

“Ya...tentu saja..”, jawab Yabu tersenyum.

“Hmmm...Yabukun~”, panggil Miyuy ketika Yabu sudah duluan jalan didepannya.

“Ya?”, wajah Yabu berbalik, menatap Miyuy.

“Yabukun bilang ingin makan bento buatanku? Aku membawa bentou hari ini..”, katanya malu – malu.

“Benarkah?!! Ayo cari tempat untuk makan..”, putus Yabu lalu menggenggam tangan Miyuy.


Yabu membuka bungkusan bentou itu dengan antusias, “Uwaaa~ Sugooii~ terlihat enak..”, kata Yabu.

“Cobalah..”, ujar Miyuy memperhatikan wajah Yabu yang akan mulai makan.

“Itadakimaaaasssuu!!”, Yabu melahap sebuah tenpura.

“Dou?”, tanya Miyuy takut – takut.

Wajah Yabu mengekspresikan ada yang tidak beres dengan makanan itu.

“Eeehh??Kenapa Yabukun? Tidak enak ya?”, serunya panik. Sepertinya ia tak memasukkan sesuatu yang salah pada makanan itu.

Yabu tersenyum, “Hehehe...enak sekali kok~ ayo makan!!”

Miyuy memukul pelan bahu Yabu, “Tidak lucu...”

Yabu hanya tersenyum melihat wajah panik Miyuy.

“Ne Miyuy-chan...”, panggil Yabu.

Miyuy berhenti makan, memusatkan perhatiannya pada Yabu, “Ya?”.

“Kalau kau membuatkan aku bekal setiap hari..kau mau?”, tanyanya tiba – tiba.

“Memangnya aku petugas katering?”, ujar Miyuy yang kecewa dengan apa yang diucapkan Yabu. Ia pikir sesuatu yang lebih romantis akan dikatakannya.

“Buat bekal untuk pacar sendiri memangnya gak mau?”, tanya Yabu.

Sukses membuat Miyuy kembali berhenti dan menatap Yabu tak percaya, “Hah? Apa maksudmu?”, tanya Miyuy lagi.

Yabu berhenti makan, menatap Miyuy, “Iya...Miyuy mau jadi pacarku kan?”

“Eh??”, wajah Miyuy memerah. Ia tak sanggup menatap mata Yabu yang tepat berada dihadapannya. “Kenapa Yabukun?”, tanya Miyuy sedikit berbisik.

“Mochiron...Suki da yo~”, kata Yabu lagi, menggenggam tangan Miyuy.

Miyuy hanya sanggup mengangguk pelan.

-------------------
“Hikakun? Kita mau kemana?”, tanya Py mengikuti Hika dari belakang.

Sejak tadi jantungnya terasa dag-dig-dug tak beraturan.

“Beli takoyaki yuk!!”, ajak Hika lalu menarik tangan Py ke sebuah stand takoyaki.

Py sejak tadi hanya diam.
Wajahnya memerah dan sangat gugup di dekat Hikaru.
Hikaru ternyata membawa Py ke taman meereka biasa bertemu.

“eh? Kesini?”, tanya Py heran.

“Kau sih..dari tadi menunduk saja..hehehe.”, Hikaru terkekeh.”Tentu saja kalau kencan dengan Py, aku maunya kesini.”, kata Hikaru lagi.

“Eh?”, Py tak bisa menjawab apapun.

“Ayo makan takoyakinya sebelum jadi dingin...”, kata Hikaru meyodorkan sebuah takoyaki.

“Aku bisa makan sendiri..”, elak Py menolak. Karena Hikaru akan menyuapinya.

Hikaru tak bergeming, “Ayo..makan saja...”, katanya keras kepala.

Akhirnya Py memakan takoyaki yang disodorkan oleh Hikaru.

“Enak tidak?”, tanya Hikaru, “Pasti lebih enak buatanku ya?”, tanya Hikaru lagi.

Py tersenyum, tapi tak menjawab. Seperti biasa Py memang pemalu.

“Py..belepotan...”, kata Hikaru lalu menyeka mulut Py dengan tangannya.

“ehhh...”, Py kembali menghindar.

“Aku bohong....hehehehe...”m kata Hikaru tersenyum jahil.

“Hikakun...”, panggil Py.

“Ya?”

“Kenapa Hikakun malah jalan bersamaku? Bukannya tadi di toko buku Hikakun bersama banyak gadis? Tidak pergi sama mereka?”, tanya Py pelan.

“Hmmmm~ kurasa... aku lebih senang bersamamu daripada mereka..”, jawab Hikaru tegas.

“ Tapi kan aku...”

Hikaru berdiri dari bangku taman itu, lalu menggenggam tangan Py... “Kita kencan kan? Jadi biarkanlah seperti ini...ayo pulang!! Sudah sore..”, ujar Hikaru sambil menggandeng tangan Py.

Py hanya bisa menunduk malu. Memandang tangan Hikaru yang menggenggam tangannya.
--------------------

Sisa perjalanan mereka hari itu tampak sedikit terganggu karena Din sering sekali menyebutkan nama Jin. Walaupun tidak sengaja, memang itulah yang sedang ia pikirkan.

Yuya kesal setengah mati. Tapi tak bisa berbuat apapun selain berdamai dengan apa yang Din ucapkan.

“Sudah sampai...masuklah...sudah malam..”, kata Yuya saat mereka sudah pulang.

Ponsel Din bergetar, tanda email masuk. Din melirik sebentar pada ponselnya lalu tersenyum lembut.

“Siapa?”, tanya Yuya penasaran.

“Jin...dia mengucapkan selamat malam saja.”

“Kenapa kau masih berkirim email dengan Jin?!!”, seru Yuya.

“Memangnya kenapa?!”, nada suara Din mulai meninggi.

Yuya berdecak kesal, “Kau kan pacarku...”

“Lalu? Ada peraturannya aku tak boleh berkirim email dengan Jin?”, balas Din kesal.

Yuya kehilangan kata – kata apa yang harus ia ucapkan. Itu memang tak salah. Maksudnya Jin juga kan teman masa kecil Din, bahkan sudah dianggap saudara sendiri.

“Baiklah!! Terserah kau saja!! Aku akan pergi!!”, teriak Yuya berbalik.

“Pergilah!! Jin pasti tak akan melakukan ini kalau ia berkencan denganku!!”, balas Din kesal.

Langkah Yuya terhenti.

Yuya menatap Din.

“Apa?”, tanya Din innocent.

Tanpa aba – aba, wajah Yuya mendekat, mendaratkan sebuah kecupan.

Lagi.

Yuya selalu mencuri kesempatan. Tapi kali ini Din tidak menolak, bahkan tanpa ia sadari, matanya menutup dengan sendirinya.

“Bisakah mulut itu hanya menyebutkan namaku saja?”, kata Yuya menatap mata Din.

“Apa maksudmu?”, tanya Din bingung.

Yuya mendekap Din, “Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu melupakan Jin?”, bisiknya lirih.

Din sedikit terperanjat, namun rasanya kata – katanya pada Yuya itu memang sedikit keterlaluan. “Yuya?”, panggil Din lembut.

Yuya mendongak, wajahnya tepat dihadapan Din.

“Gomen na..bisakah kau memberiku waktu sedikit lagi?”, kata Din pelan.

Yuya hanya bisa menatap Din tak percaya. Seakan kata – kata itu sudah ia tunggu sejak lama.
------------

N.B: Maaph kepending lamaaaaaaaaa~ COMENTS ARE LOOOOVVVVEEEE~