Title : Little Secret
Chapter : 5
Author : Opi Yamashita
Genre : Romance mungkin #plakk
Rating : PG
Cast : Kei Inoo (HSJ), Sakurai Sho (Arashi), Yamashita Tomohisa (NewS), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC) dan selentingan orang numpang lewat
Disc : Kei Inoo, Sho Sakurai dan Yamashita Tomohisa itu kepunyaan Okaa-san dan Otou-san serta JE. Opi Yamashita dan Ikuta Din itu OC saia. tehehehhee....ada yang udah nagih jd lngsng post ajah...itung" pengen cepet beres.. soalnya bakal ada proyek baruuuuuu #lirik Din
Douzou~
Sudah 20 menit Opi menatap isi bukunya. Tadi ia bermaksud untuk membaca karena pelajaran berikutnya akan ada tes sejarah. Tapi Opi kesal karena sejak tadi ia tidak dapat berkonsentrasi. Pikirannya masih melayang tentang kejadian tadi malam. Setiap ia mengingat hal itu, wajah Opi terasa panas.
“Haaah~ ternyata tidak bisa,” desah Opi menyerah.
“Apa yang tidak bisa?” tanya Din yang sudah berdiri di hadapan Opi.
“Din? Sedang apa di kelasku?”
Opi kaget Din ada di kelasnya. Opi dan Din memang tidak sekelas. Mereka hanya sempat sekelas ketika kelas 1.
“Aku hanya ingin bilang kalau Tomo memintamu membeli bahan-bahan untuk makan malam nanti,” jelas Din sambil menunjukkan daftar belanjaan.
“Kenapa Onii-chan tidak bilang langsung saja?” Opi lalu memeriksa keitai-nya. Mungkin saja keitai-nya lowbat. Tapi setelah dilihat, baterai nya masih penuh.
“Oh..itu karena tadi aku sedang berkirim e-mail. Jadi sekalian saja.”
“Hah? Berkirim e-mail? Sejak kapan hubungan kalian sedekat itu?” tanya Opi kaget. Ia sama sekali tidak tahu kalau sahabatnya berkirim e-mail dengan kakaknya.
“Tomo tidak pernah cerita? Sudah lama. Sebelum aku putus dengan Keito. Lalu....”
“Lalu?” potong Opi.
“Lalu..dua hari yang lalu..kami pacaran,” lanjut Din pelan.
Opi memalingkan kepalanya kesal. “Cih..jadi kalian tidak pernah cerita padaku? Menyebalkan sekali.”
“Gomen ne..aku takut kau marah. Makanya tidak pernah cerita. Gomenasai,” Din mengatupkan tangannya tanda memohon.
“Aku tidak marah. Aku hanya kesal kalian tidak pernah cerita. Aku pikir kau hanya sekedar tertarik saja,” ralat Opi.
“Jadi kau tidak marah?” Din memastikan.
“Mana mungkin aku marah. Aku senang kalau kau dan Onii-chan senang.”
Din tersenyum lebar. “Sankyuu..” lalu mendaratkan kecupan di pipi Opi.
Opi terbelalak kaget.”Apa-apaan kau? Itu menjijikan tahu..”
“Hee hee..” Din tertawa lebar.”Lalu tadi kau kenapa? Daijoubu ka?” lanjut Din.
“Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan, tapi...”
Opi sengaja menggantungkan pembicaraan karena tiba-tiba ada yang melanjutkan.
“Ikuta Din, apa kau tidak mendengar bel? Cepat kembali ke kelasmu!” perintah Gin-sensei yang sudah ada di depan kelas. Opi dan teman-teman sekelasnya tertawa melihat wajah Din yang sudah memerah.
“Opi...kenapa tidak bilang?” protes Din berbisik.
“Itu hukuman karena kau sudah merahasiakan hubunganmu dengan Onii-chan,” jawab Opi sambil tertawa.
Din cemberut. Ia tidak tahu akan dikerjai oleh sahabatnya sendiri. Akhirnya Din keluar kelas sambil menunduk meminta maaf dan keluar menuju kelasnya dengan menampakkan wajah sangat malu.
----
Opi melirik jam tangannya. Sudah pukul 8 malam saat ia keluar dari wilayah sekolahnya.
Opi menghembuskan nafasnya dengan berat. ”Hari ini juga tidak ada,” gumamnya.
Sudah 2 minggu terakhir ini Kei yang biasanya menjemputnya tidak menampakkan diri sama sekali. Di rumah ia hanya bertemu dengan Kei pada pagi hari. Itu pun hanya sebentar. Bahkan saat pertandingan kemarin, Kei tidak menontonnya.
Sikap Kei sedikit berubah sejak peristiwa Kei menciumnya. Hal itu sedikit membuat Opi lega karena ia belum bisa menjawab apapun tentang perasaan Kei. Ia pasti akan kebingungan jika tiba-tiba Kei ada dihadapannya lalu meminta jawabannya. Tapi ada juga perasaan kesepian. Ingin rasanya peristiwa itu tidak pernah terjadi.
“Kalau kau berjalan sambil menunduk seperti itu, kau bisa menabrak tiang.”
Suara itu muncul dari seseorang di belakangnya. Opi menoleh untuk mengetahui siapa yang berbicara.
“Kei?”
Opi tidak mengira kalau orang itu adalah Kei. Baru saja ia memikirkan kalau tiba-tiba Kei ada dihadapannya. Dan sepertinya pemikirannya menjadi kenyataan.
“Tadi aku ke sekolahmu. Tapi temanmu bilang kau sudah pulang. Jadi aku menyusul,” jelas Kei tanpa ditanya.
Opi hanya mengangguk.
Selama perjalanan menuju halte, baik Opi maupun Kei tidak berkata apapun.
“Ano...” Kei akhirnya berbicara.
Opi masih juga bergeming.
“Tentang malam itu....”
Hanya bercanda saja, batin Opi berharap itu yang akan dikatakan oleh Kei seperti saat dia melakukannya pertama kali 11 tahun yang lalu.
“Malam itu....aku serius,” lanjut Kei.
Opi menoleh ke arah Kei dengan cepat karena kelanjutannya tidak sesuai dengan harapannya.
“Demo....doushite?”
“Kamu tahu, saat kamu menangis 8 tahun yang lalu. Saat mamamu meninggal. Lalu saat kamu menangis karena putus
dengan Sakurai-san. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu agar kamu tenang. Apapun itu. Walaupun sikapku menyebalkan. Asal membuatmu tenang dan senang. Aku ingin melakukan semuanya.”
Ucapan Kei benar-benar membuat Opi tidak dapat berkata apa-apa. Ini diluar dugaannya. Ia tak menyangka Kei akan mengucapkan hal-hal yang......menenangkan.
“Tapi..aku masih.....”
“Aku tahu,” potong Kei.”Tidak semudah itu kamu melupakan Sakurai-san. Aku akan menunggu.”
Opi lalu terdiam. Seperti yang dikatakan Kei, ia memang belum bisa melupakan Sho. Tapi mendengar Kei mengucapkan kata-kata itu membuat ia senang.
“Kei..” panggil Opi.
“Hmm?”
“Arigatou..”
Kei tersenyum. Senyum yang paling Opi sukai.
Opi lalu memeluk Kei. Kei sedikit kaget tapi kemudian membalas memeluk Opi. Ia tahu perjuangannya belum selesai. Tetapi asal ia dapat melihat Opi senang, ia akan terus menunggu. Walaupun membutuhkan waktu yang lama. Dan bagi Opi ini mungkin akan menjadi awal yang baru untuknya. Ada baiknya melupakan Sho dan masa lalunya. Meskipun ia sendiri tidak yakin karena ia terlalu menyayangi Sho. Tapi dari lubuk hatinya, ia senang karena ada Kei di sampingnya.
Dengan masih tersenyum, Opi kembali bergumam, “Arigatou, Kei.”
----
1 tahun kemudian
“Opi, lihat sini!” pinta Din sambil mengarahkan kameranya. Opi sadar akan dipotret lalu tersenyum.
“Din, kemana saja? Tadi aku mencarimu,” Opi lalu menghampiri Din.
Din hanya tersenyum malu. “Aku tadi bersama Tomo,” katanya kemudian.
“Ah..Onii-chan? Beruntung sekali...”
Hari ini tepat hari kelulusan Opi dan Din. Setelah 3 tahun melewati berbagai hal, akhirnya mereka terlepas dari masa SMA mereka.
“Kita pasti akan merindukan suasana seperti ini,” kata Opi.
Din mengangguk. “Banyak sekali yang kita lewati.”
“Un~ seperti Keito kan?” goda Opi diiringi tertawa puas.
“Kau juga. 1 tahun yang lalu. Tentang Sho-sensei,” balas Din.
Opi tiba-tiba terdiam. Din benar. Satu tahun yang lalu adalah saat yang paling berkesan untuknya. Dimulai dengan Opi yang berpacaran dengan Sho, lalu kencan dan pada akhirnya mereka harus berpisah.
“Kau benar,” gumam Opi. “Haaa~ kenapa tiba-tiba aku merindukannya yah?” sahut Opi.
“Kau jangan lupa. Ada yang sedang menunggumu,” lanjut Din.
Opi mendesah panjang. “Jangan ingatkan itu. Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”
Bersamaan dengan ucapannya, Din lalu memanggil Opi dengan tidak sabar.
“Opi...Opi..” panggil Din.
“Doushita no?”
“Sore wa...”
Opi melihat ke arah yang ditunjuk Din, dan di sana sudah berdiri Kei.
“Kei?”
Kei menyadari Opi melihatnya. Lalu ia berjalan menghampiri mereka berdua.
“Omedetou~” ucap Kei begitu sudah di hadapan Opi dan Din.
“Arigatou,” balas Opi yang lalu diikuti oleh Din.
“Ano~ sepertinya aku harus pergi. Tomo menungguku,” ujar Din. “Ja ne~.”
Opi bergumam kesal. Ia tahu Din pasti sengaja meninggalkannya dan Kei.
Selepas kepergian Din, Opi dan Kei masing-masing masih diam.
“Ikko~,” ajak Kei seraya menarik tangan Opi.
“Eh? Kemana?” tanya Opi.
Kei tidak menjawab. Ia hanya berjalan dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Opi. Opi sebenarnya
bingung, kenapa dia mau saja mengikuti Kei? Padahal ia tidak tahu akan dibawa kemana dia oleh Kei.
“Ah...Ini kan....”
Opi tahu jalan ini. Ia sangat mengenal jalan ini. Karena ini jalan menuju makam mamanya.
“Kei....” panggil Opi.
Kei tidak menggubis panggilan Opi. Ia lalu berlutut di hadapan makam dan mengatupkan kedua tangannya. Kepalanya tertunduk lalu diam.
“Apa yang kita lakukan di sini?” tanya Opi begitu Kei berdiri kembali.
“Mengunjungi mamamu,” jawab Kei singkat.
Opi semakin tidak mengerti.
“Kamu tahu, apa yang aku lakukan tadi?” tanya Kei.
Opi menggeleng tanda tidak tahu.
Kei tersenyum. “Aku bilang pada mamamu, kalau aku akan menjagamu. Aku akan melanjutkan tugas Tomo Onii-san. Aku
akan membuatmu bahagia.”
Opi tertegun. Ia tidak mengira Kei akan memikirkan hal sedetail itu.
“Kei...”
“Apa kamu keberatan kalau aku......”
“Tidak,” potong Opi.
“He?”
Opi lalu berlutut menghadap makam mamanya.
“Aku tidak keberatan kamu menjagaku. Aku juga tidak keberatan kamu melindungiku,” jawab Opi.
Kei seakan tidak percaya dengan pendengarannya.”Apakah kamu....sudah bisa melihatku?”
“Melihatmu?” tanya Opi tidak mengerti.
“Selama ini kamu hanya mengingat tentang Sakurai-san. Dan aku sudah tidak punya kesempatan.”
“Ma~” Opi memiringkan kepalanya.”Ya begitulah”.
Kei tersenyum lalu menggenggam tangan Opi.
“Ah~” seru Opi seperti teringat sesuatu. “Mungkin kita jangan dulu memberitahu Onii-chan.”
“Doushite?”
“Onii-chan tidak akan suka ini. Karena dulu ia berharap kita tidak berpacaran,” jelas Opi.
“Jadi....ini rahasia?” tanya Kei.
Opi mengangguk.
“Lagi?” tanya Kei lagi.
“Lagi?” Opi kembali bertanya.
“Bukankah waktu berpacaran dengan Sakurai-san, kalian juga merahasiakannya?”
“Ah...kau benar.”
“Tidak masalah,” kata Kei kemudian.”Asalkan kau bersamaku.”
Opi mengangguk lalu tersenyum lebar. ”Kaerimasho~.Aku sudah lapar.”
~FIN~
Akhirnya...
gaje kan terakhirnya?
sebenernya sih pngn ada kelajutannya. tapi klo pada pengen...
jadi komen ajah...
klo mau ada lanjutannya ato ga..
klo engga sampe di sini ajah yah...
ahahahaha...
Tampilkan postingan dengan label Inoo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inoo. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 21 Mei 2011
Minggu, 15 Mei 2011
[Fanfic] Little Secret (chap 4)
Title : Little Secret
Chapter : 4
Author : Opi Yamashita
Genre : Romance mungkin #plakk
Rating : PG
Cast : Kei Inoo (HSJ), Sho Sakurai (Arashi), Yamashita Tomohisa (NewS), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC) dan selentingan orang numpang lewat
Disc : Kei Inoo, Sho Sakurai dan Yamashita Tomohisa itu kepunyaan Okaa-san dan Otou-san serta JE. Opi Yamashita dan Ikuta Din itu OC saia.
Ahahaha...cepet yah? ini untuk menghilangkan stress gr" mau UTS. #bukannya belajar malah ngpost penpik...
nikmati saja. Douzo~
Opi masih bersikap sama sejak ia kembali dari sekolah. Wajahnya murung. Suara yang biasanya membuat seisi rumah ramai, tidak ada sedikitpun Papa, Tomohisa dan Kei dengar. Rasa cemas dan ingin tahu memenuhi pikiran mereka. Tapi mereka ragu untuk hanya menanyakan keadaan Opi, setelah melihat Opi yang sangat tidak baik-baik saja.
Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya mereka sepakat Kei yang akan mencoba berbicara dengan Opi. Walapun sebenarnya mereka tidak yakin benar.
“Opi?” panggil Kei pelan sambil membuka pintu dengan hati-hati.
Opi yang meringkuk di kursinya, tidak menjawab apapun. Bahkan menoleh pun tidak.
Kei duduk di tempat tidur yang jarak nya tidak begitu jauh dengan kursi tempat Opi duduk.”Apa yang terjadi?” tanyanya kemudian.
Opi kembali diam. Tatapannya masih sama seperti tadi. Hanya lurus ke arah luar jendela.
“Baik kalau kamu tidak mau menjawab pertanyaanku. Tapi kamu tidak bisa membiarkan Paman dan Tomo Onii-san seperti ini. Mereka mengkhawatirkanmu,” ucap Kei sedikit tidak sabar.
Bukannya menjawab, Opi hanya bangun dari duduknya lalu membaringkan dirinya di atas kasur dengan posisi membelakangi Kei.
Kei pasrah. Dia sudah merasa seperti berbicara dengan patung. Akhirnya Kei keluar dari kamar Opi karena usaha apapun akan sia-sia saja.
“Bagaimana?” cecar Tomohisa tidak sabar.
Kei hanya mengangkat bahunya dan setelahnya terlihat wajah kecewa dari Tomohisa dan Papa. Semuanya, terutama Tomohisa sangat cemas dengan keadaan Opi karena terakhir kali dia seperti ini adalah saat Mama mereka meninggal dan Tomohisa tidak mau keadaan Opi yang dulu terulang lagi sekarang.
---
Din melirik Opi yang sedang membaca Myojo yang baru saja ia beli. Sebelah tangannya menopang dagu dan tangannya yang lain membalik-balikkan halaman majalah. Opi terlihat biasa-biasa saja. Padahal kemarin malam Opi baru saja meneleponnya sambil menangis karena sudah putus dengan Sho. Tapi apakah ia benar-benar baik-baik saja?
“Opi,” panggil Din sedikir ragu.
“Mm..” gumam Opi tanpa mengalihkan perhatiannya pada isi dari majalah.
“Aku dengar kamu tidak jadi diskorsing. Omedetou!!” seru Din riang –yang dipaksakan-.
“Sankyuu~,” balas Opi masih belum mengalihkan pandangannya.
“Ini kabar bagus. Bagaimana kalau kita merayakannya hari ini?”
“Gomen, din. Hari ini aku ada latihan,” tolak Opi.
“Aah~..souka..”
Din sedikit sedih karena ajakannya ditolak oleh Opi. Tapi dia lebih sedih melihat Opi yang tidak bersemangat. Opi yang cerewet, tidak mau diam, dan berteriak kesal tiba-tiba, seolah tergantikan dengan orang lain yang sering murung, lemas dan kerjaannya hanya melamun. Walaupun Din kadang selalu protes dengan Opi yang terlalu bersemangat, tapi Din merindukan Opi yang dulu.
Hari pertandingan datang. Opi sudah memakai baju seragamanya dibalut dengan jaket. Tapi dia masih belum mau masuk ke tempat pertandingan. Dia masih teringat dengan pertemuannya dengan Sho tadi.
-flashback-
Opi bergegas menemui Sho begitu dia mendapat e-mail bahwa Sho sedang menunggunya di luar lapangan. Memang Opi yang memutuskan hubungan mereka, tapi entah kenapa dia sangat merindukan Sho.
“Aku akan pergi sekarang,” kata Sho begitu mereka berdua duduk di salah satu bangku panjang yang tersedia.
Opi mengepal kedua tangannya di sisi kakinya. Dia tahu saat ini akan datang. Ia mencoba untuk menahan agar tidak menangis.
“Jaga kesehatanmu,” Sho berhenti sejenak seperti menahan sesuatu. ”dan jangan terlalu memaksakan diri untuk latihan,” lanjutnya.
Opi masih diam. Ia takut kalau dia berbicara, air matanya akan tumpah.
“Hubungan kita memang singkat, tapi aku senang bisa mengenalmu,”gumam Sho lalu menggenggam tangan Opi.
Bertepatan dengan tangannya digenggam, air mata Opi jatuh. Dia sudah tidak bisa menahan lagi.
Sho sadar Opi menangis. Tangannya lalu meraih kepala Opi dan memeluknya erat. Sangat erat hingga Sho tidak sanggup untuk melepasnya.
“Semua akan baik-baik saja. Kita bisa melewatinya. Aku harap kamu janji kalau kamu akan baik-baik saja,” ucap Sho. Opi masih diam walaupun ia mendengar suara Sho dengat jelas di samping kepalanya.
“Opi? kamu janji?” Sho mengulang pertanyaan. Ia tidak akan tenang jika Opi belum mengucapkannya.
Opi mengangguk.”Aku janji,” jawab Opi di tengah isakannya.
Opi mempererat pelukkannya. Dia tidak akan pernah merasakan pelukan hangat ini lagi. Dia tidak merasakan genggaman
tangannya lagi. Dan yang Opi sesalkan, dia tidak akan pernah melihat lagi senyuman Sho lagi.
-----
Kei berlari terburu-buru. Sejak Opi pergi karena mendapat sebuah e-mail, dia belum kembali. Padahal pertandingan akan segera mulai. Tapi yang Kei cemaskan bukan pertandingannya, melainkan keadaan Opi.
Kei terus berlari sampai matanya menangkap seorang gadis sedang duduk di bangku panjang dengan kepala tertunduk.
“Opi,” gumam Kei lega.
Hati Kei sakit melihat Opi seperti ini. Wajah yang biasanya ceria, kini terlihat murung. Mulut yang tidak mau diam karena banyak bicara, kini menjadi pendiam. Aura bersemangat yang membuat orang-orang kerepotan, kini lemah tidak
berdaya. Apa yang harus dia lakukan untuk mengembalikan semuanya?
“Opi,” panggil Kei lembut.
Opi mendongak. Matanya yang sembab karena menangis membuatnya sulit untuk melihat dengan jelas.
“Kei?”
“Kamu habis menangis? Doushita no?” tanya Kei cemasa seraya duduk di samping Opi.
Opi menggeleng. Dia sedang tidak mau menceritakan apapun.
Kei menghela hapas. “Daijoubu...kalau tidak mau cerita. Tapi sekarang semua sedang menunggumu. Pertandingan akan dimulai,” kata Kei lembut.
Opi mengangguk.
Kei sedikit lega melihat reaksi Opi. Dia lalu bangun untuk kembali ke lapangan. Tapi Kei terduduk kembali karena dia merasa bajunya ditarik dan ternyata Opi yang menariknya.
“Tadi sensei ke sini,” Opi mulai bercerita.
Kei mengerutkan keningnya.
“Sensei ke sini untuk mengucapkan selamat tinggal,” lanjut Opi.
Opi berhenti.
“Dia sudah pergi hiks..” Opi mulai menangis lagi.
Entah pikiran dari mana, Kei memeluk Opi. Dia tidak bermaksud buruk. Dia hanya berharap dapat menenangkan Opi walaupun hanya sebuah pelukan seperti ini. Sedangkan Opi, dia kembali menangis. Dia pun berharap dengan menangis ia dapat melupakan semuanya.
----
1 bulan kemudian....
Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Tapi di rumah keluarga Yamashita sudah terjadi perang yang siap memporak porandakan rumah. Semua dimulai karena Kei yang membuat ulah dan mengakibatkan Opi mengamuk.
“KEI!!!!!!!Keluar kamu!” teriak Opi sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
“Aku tidak mau. Kalau aku keluar, kau pasti akan melemparku dengan panci,” jawab Kei di balik pintu kamar mandi.
“AKU MEMANG AKAN MELEMPARMU DENGAN PANCI!!!!!!!” teriak Opi makin keras.
“Opi!! Ribut sekali sih. Ini masih pagi, “ omel Tomohisa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Terlihat dari
wajahnya sepertinya dia baru bangun dan kekurangan jam tidur.
Opi cemberut.”Kei curang. Aku yang akan mandi duluan tapi dia langsung masuk tidak mengantri,” gerutu Opi kesal.
“Ya sudah. Tunggu saja sampai Kei keluar,” sahut Tomohisa acuh tak acuh.
“Tapi kan aku ada latihan pagi. Aku bisa telat,” protes Opi.
Tomohisa tidak membalas karena ia kembali meringkuk di sofa untuk tidur.
“AGGHHHHH~!!!!” teriak Opi. Tapi kali dia teriak di atap sekolah ditemani Din.
Din memukul pelan kepala Opi. “Jangan berteriak!” bentak Din.
“Ittai~,”keluh Opi.”Habis Kei menyebalkan,” gerutunya.
“Aku pikir setelah kalian berbaikan, kalian tidak akan ribut lagi seperti ini. Tapi ternyata aku salah,” kata Din sambil mengutak atik keitai-nya.
“Ini karena Kei yang memulai,” balas Opi bersikeras.”Ngomong-ngomong, sedang apa kamu? Sibuk sekali,” tanya Opi yang melihat sahabatnya terus-terusan sibuk dengan keitai-nya.
Din hanya tersenyum kecil.
“Keito yah?” tebak Opi.
“Ah~” seru Din seperti ingat sesuatu.”Aku lupa bilang. Sebenarnya aku dan Keito sudah putus,” jelasnya.
“Hah? Putus?”
Din mengangguk.”Pacaran dengan yang lebih muda, membuat aku seperti anak kecil.”
Opi tertawa.”Bukankah itu bagus? Kau jadi terlihat awet muda.”
Din cemberut.
“Jadi kau sedang sibuk dengan siapa sekarang?” tanya Opi lagi.
“Hmmm~. Hi-mi-tsu ahahaha...”
Kini Opi yang cemberut.”Kau sekarang sama menyebalkannya seperti Kei.”
Sudah sebulan sejak kepergian Sho. Kehidupan Opi sudah kembali seperti semula. Wajahnya yang murung, kini sudah kembali ceria. Bahkan Opi yang cerewet sekarang muncul lagi. Membuat telinga orang-orang kepanasan.
“Aku senang kamu sudah kembali seperti dulu,” ucap Din.
Opi tersenyum lebar.”Karena aku sudah janji dengan Sho.”
Hingga sekarang pun Opi masih merindukan Sho. Tapi itu masa lalunya. Dia sudah memutuskan untuk menganggap Sho hanya sebagai kenangan di kehidupannya saja. Saat ini ia hanya membutuhkan waktu untuk kembali menata hidupnya.
Ia tahu ini sulit. Tapi janjinya pada Sho yang membuat ia kuat dan yakin keadaannya akan baik-baik saja.
-----
“Oke. Sudah beres,” gumam Opi sambil melihat hasil pekerjaannya yang sudah selesai. Hari ini Opi mendapat giliran piket.
Semua teman-teman yang mendapat giliran piket yang sama dengannya sudah pulang karena ia datang terlambat. Jadi Opi mengerjakan sisa pekerjaan yang belum dikerjakan.
Suasana sekolah sudah sangat sepi. Wajar saja karena sekarang sudah sangat sore. Semua murid sudah pulang kecuali yang mengikuti klub baseball karena mereka sedang bermain di lapangan.
Opi menatap orang-orang yang sedang bermain di sana. Suasana sore seperti ini selalu mengingatkannya pada Sho. Biasanya setelah pulang sekolah, Opi akan berlari menuju lapangan basket untuk menemui Sho. Di sana mereka akan melepaskan rasa rindu mereka dengan bercanda atau hanya mengobrol. Kalau mengingat masa-masa itu, Opi hanya dapat tersenyum.
“Hmmm~” desah Opi sambil meregangkan tangannya.”Lebih baik aku pulang,” gumamnya.
Opi menyambar tasnya lalu melenggang pergi.
“Aah~ tsukareta!!!” seru Opi saat melewati lapangan yang sedang digunakan oleh klub baseball dengan santai. Kaget dengan suara yang mendadak muncul, hampir semua anggota klub menoleh ke arah Opi karena merasa suara itu sangat menganggu mereka.
“Ah~ gomennasai,” ucap Opi lalu jalan cepat-cepat agar dia tidak tambah mempermalukan dirinya sendiri dan agar dirinya dapat segera pulang lalu makan.
Selagi ia berjalan, Opi mendadak menyipitkan matanya, memastikan ada orang yang dia kenal di gerbang sana.
“Kei? Sedang apa di sini?” tanya Opi mengagetkan Kei.
“Kamu sudah pulang? Lama sekali sih,” gerutu Kei.
Opi memiringkan kepalanya.”Aku harus piket tadi,” jelas Opi. “Tapi kenapa kamu marah? Aku kan tidak memintamu menjemputku.”
Kei tidak mengacuhkannya. Ia lalu pergi.
“Dasar aneh. Sudah marah-marah, sekarang pergi begitu saja,” gumam Opi pelan lalu berjalan cepat agar langkahnya sejajar dengan Kei.
Kei maupun Opi sama-sama tidak memulai pembicaraan. Yang terdengar saat ini hanya suara kendaraan yang lalu lalang di jalanan. Opi sedikit heran dengan sikap Kei yang sedikit berubah. Menjadi agak menyebalkan. Semua yang Kei lakukan sama sekali tidak ia mengerti. Seperti sore ini Kei yang menjemputnya, suatu hal yang jarang Kei lakukan.
Sampai rumah pun Kei langsung masuk kamarnya setelah menjawab sapaan Tomohisa.
“Ada apa dengan Kei?” tanya Tomohisa pada Opi.
Opi tidak langsung menjawab karena mulutnya penuh dengan kue yang baru saja Tomohisa buat.
“Opi?” panggil Tomohisa.
“Tunggu sebentar. Aku kan harus menelan dulu,” gerutu Opi. “Kenapa dengan Kei, aku sendiri tidak tahu. Onii-chan saja
heran,apalagi aku. Tiba-tiba dia menjemputku. Itu lebih aneh,” lanjut Opi.
“Itu memang aneh. Oia, sebelum kamu mandi, aku ingin bertanya sesuatu.”
Opi berhenti melangkahkan kaki nya yang sudah terlanjur naik ke anak tangga.
“Waktu itu...sikapmu aneh..apa karena laki-laki yang bernama Sho Sakurai?” tanya Tomohisa hati-hati.
Opi sebenarnya kaget dengan pertanyaan kakaknya itu. Karena setahunya, yang mengetahui hal ini hanya segelintir orang. Kemungkinannya kecil kalau Tomohisa tahu hal ini. Tapi ia berusaha tenang menanggapinya.
“Onii-chan tahu dari mana tentang laki-laki yang bernama Sho Sakurai?”
“Itu tidak penting. Aku hanya ingin tahu benar atau tidak?”
Opi mengangguk pelan.”tapi itu sudah berlalu. Aku sudah putus.”
“Lalu, sekarang kamu pacaran dengan Kei?” tanya Tomohisa lagi.
“Hah? Aku pacaran dengan Kei? Kenapa Onii-chan berpikiran aku berpacaran dengan dia?”
Opi tidak habis pikir kakaknya itu menganggap yang aneh-aneh tentang hubungannya dengan Kei.
“Aku lihat sikap Kei berubah. Apalagi kalau berurusan denganmu. Walaupun hingga sekarang kalian masih bertengkar,tapi setelah itu kalian baikan lagi. Kalau dulu mana mungkin seperti itu,”jelas Tomohisa.
“Hontou? Apa hubunganku dengan Kei seburuk itu?” Opi justru bertanya kembali.
“Setidaknya itu yang aku lihat.”
“Hingga saat ini aku tidak pernah terpikirkan untuk pacaran dengan Kei.”
Ya. Opi hanya dapat menjawab seperti itu karena walaupun hubungannya dengan Kei jauh lebih baik, tapi untuk pacaran Opi sendiri tidak tahu. Hatinya belum sembuh untuk berpacaran lagi.
“Bagus kalau begitu,” timpal Tomohisa lega.
“Loh? Ada apa?”
Alih-alih menjawab pertanyaan Opi, Tomohisa hanya melengos pergi ke dapur untuk meneruskan pekerjaannya.
Hari-hari pun berlalu. Hubungan Opi dan Kei menjadi semakin dekat. Hampir setiap hari Kei menjemput Opi walaupun dia pulang hingga pukul 9 malam karena harus latihan basket. Kegiatan rutinitas Opi setiap minggu seperti berbelanja pun kini dilakukan berdua dengan Kei. Bahkan jalan-jalan di hari libur pun sudah sangat sering mereka lakukan.
Din yang mengetahui semuanya, merasakan ada hal yang aneh pada sahabatnya itu. Apa dia sudah benar-benar melupakan Sho?
“Hari ini apa kegiatanmu?” tanya Din pada Opi yang dihadapannya. Hari ini Din memang sengaja mengajaknya ke cafĂ© langganan mereka.
“Hmm..lari pagi, latihan basket dan belanja.”
“Dengan Kei?”
Opi mengangguk sambil menghisap minumannya.
“Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan.”
Opi mengerutkan keningnya mendengar ucapan Din.
“Akhir-akhir ini kamu dan Kei semakin dekat saja. Kalian pacaran?” tanya Din to the point.
Opi menyipitkan matanya. ”Sepertinya aku sudah pernah mendengar kata-kata itu.”
“Jadi?”
Opi kini menggaruk-garuk kepalanya.”Sudah aku bilang aku tidak berpacaran dengan Kei,” jawab Opi.
“Aku tidak percaya,” ujar Din merasa tidak puas dengan jawaban Opi.
“Terserah deh..”
Din mencibir pada Opi dengan kesal. Sebenarnya ia sendiri tahu kalau Opi belum ada hubungan apapun dengan Kei.
Hanya saja ia penasaran dengan perasaan Opi yang sebenarnya.
“Sudah jangan cemberut. Nanti Keito kabur loh!” ancam Opi sedikit menggoda Din.
“Hah? Kenapa Keito?” seru Din bingung.
“Kau pikir aku tidak tahu?? Kamu masih saja pergi berdua dengan dia kan?” tebak Opi.
“Kapan aku pergi berdua dengan Keito? Aku pergi karena dia bilang ingin bicara denganku. Ternyata dia hanya ingin mempermainkan aku,” jelas Din kesal.
“Souka,” balas Opi. Opi sebenarnya penasaran dengan laki-laki yang hampir setiap hari membuat Din tersenyum setiap ia membaca e-mail. Kalau bukan Keito, lalu siapa?
---
Opi merebahkan tubuhnya di kursi malas yang berada di balkon. Makan malam hari ini sungguh membuat Opi kelimpungan karena Tomohisa dan Papanya membuat makanan special. Momen ini sangat jarang terjadi sehingga Opi tidak memberi batas dan akibatnya Opi terlalu sulit untuk berdiri karena kekenyangan.
Perlahan Opi memejamkan matanya. Merasakan angin yang menyapu wajahnya. Angin malam ini sangat menyejukkan sehingga membuat Opi ingin terlelap.
“Are? Kau sudah tidur?” suara itu suara Kei. Dengan reflex Opi membuka matanya kembali.
“Iie. Ada apa?” tanya Opi seraya bangun dari kursi.
“Ini.” Kei menyodorkan sepiring kecil apel yang sudah dibelah menjadi 4 bagian.”Dari Onii-san.”
“Arigatou.” Opi lalu melahap satu apel.
“Malam ini langitnya cerah yah,” ujar Kei sambil menengadahkan wajahnya menghadap langit. Opi berbalik mengikuti Kei
untuk menghadap langit juga.
“Un~ kau benar,” jawab Opi sambil melahap apel yang kedua.
Lalu keduanya terdiam. Yang terdengar sekarang hanya suara kunyahan Opi yang sedang memakan apelnya.
“Ah~” seru Kei seolah teringat sesuatu. ”kapan pertandinganmu selanjutnya?” tanya Kei.
“Dua minggu lagi. Lawannya lebih berat dari sebelumnya. Aku jadi gugup,” ujar Opi lalu mengambil apel yang ketiga.
“Aku yakin kau pasti bisa. Kau kan sudah berlatih keras.”
Opi tersenyum mendengar kata-kata Kei. “Arigatou. Ganbarimasu~.”
Kei ikut tersenyum melihat Opi yang terlihat bersemangat.
“Karena sudah menyemangatiku, aku beri kau satu apel.” Opi menyerahkan satu apel yang tersisa di piringnya. Dengan
senang hati Kei mengambil lalu memasukannya ke dalam mulut.
“Oishii~” seru Kei.
“Aku akan mengembalikan piringnya. Kau tetap di sini?” tanya Kei.
Opi mengangguk.
Kei tidak segera membalikkan badannya dan mengembalikkan piring seperti yang ia katakan. Sejenak ia menatap wajah Opi yang menghadap langit. Entah karena suasana yang tepat atau Kei sudah menemukan keberanian, ia perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Opi. Opi yang sadar ada sesuatu mendekati wajahnya, kaget karena tiba-tiba bibirnya sudah menempel di bibir Kei. Kejadian itu begitu singkat dan sangat tiba-tiba. Perlahan Kei melepaskan bibirnya dari bibir Opi dan menatap mata Opi dalam. Opi yang masih kebingungan hanya dapat ikut menatap mata Kei juga.
“Suki da yo,” ucap Kei kemudian.
“Hah?” Opi bingung harus menjawab apa.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Kei lagi.
Belum sempat Opi menjawab, tiba-tiba Tomohisa memanggil dari tangga.
“Kei, ada telepon dari Mama-mu,” teriak Tomohisa.
Tanpa berkata apapun lagi, Kei pergi meninggalkan Opi yang masih terlihat kebingungan.
Perlahan Opi menyentuh bibir dengan jarinya. Sangat berbeda dengan saat mereka pertama kali melakukannya. Untuk kali ini yang Opi rasakan adalah jantungnya berdegup kencang dan rasanya seperti.....
“Apel?”
TBC~
aneh? saia juga aneh knp bs bikin yang kyk gn?
klo aneh ga usah dibaca...
klo suka di-like..
klo ada saran dan kritik di komen ajah...
jangan lupa komen...
#kabur ke slide farmakologi dan MAI
Chapter : 4
Author : Opi Yamashita
Genre : Romance mungkin #plakk
Rating : PG
Cast : Kei Inoo (HSJ), Sho Sakurai (Arashi), Yamashita Tomohisa (NewS), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC) dan selentingan orang numpang lewat
Disc : Kei Inoo, Sho Sakurai dan Yamashita Tomohisa itu kepunyaan Okaa-san dan Otou-san serta JE. Opi Yamashita dan Ikuta Din itu OC saia.
Ahahaha...cepet yah? ini untuk menghilangkan stress gr" mau UTS. #bukannya belajar malah ngpost penpik...
nikmati saja. Douzo~
Opi masih bersikap sama sejak ia kembali dari sekolah. Wajahnya murung. Suara yang biasanya membuat seisi rumah ramai, tidak ada sedikitpun Papa, Tomohisa dan Kei dengar. Rasa cemas dan ingin tahu memenuhi pikiran mereka. Tapi mereka ragu untuk hanya menanyakan keadaan Opi, setelah melihat Opi yang sangat tidak baik-baik saja.
Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya mereka sepakat Kei yang akan mencoba berbicara dengan Opi. Walapun sebenarnya mereka tidak yakin benar.
“Opi?” panggil Kei pelan sambil membuka pintu dengan hati-hati.
Opi yang meringkuk di kursinya, tidak menjawab apapun. Bahkan menoleh pun tidak.
Kei duduk di tempat tidur yang jarak nya tidak begitu jauh dengan kursi tempat Opi duduk.”Apa yang terjadi?” tanyanya kemudian.
Opi kembali diam. Tatapannya masih sama seperti tadi. Hanya lurus ke arah luar jendela.
“Baik kalau kamu tidak mau menjawab pertanyaanku. Tapi kamu tidak bisa membiarkan Paman dan Tomo Onii-san seperti ini. Mereka mengkhawatirkanmu,” ucap Kei sedikit tidak sabar.
Bukannya menjawab, Opi hanya bangun dari duduknya lalu membaringkan dirinya di atas kasur dengan posisi membelakangi Kei.
Kei pasrah. Dia sudah merasa seperti berbicara dengan patung. Akhirnya Kei keluar dari kamar Opi karena usaha apapun akan sia-sia saja.
“Bagaimana?” cecar Tomohisa tidak sabar.
Kei hanya mengangkat bahunya dan setelahnya terlihat wajah kecewa dari Tomohisa dan Papa. Semuanya, terutama Tomohisa sangat cemas dengan keadaan Opi karena terakhir kali dia seperti ini adalah saat Mama mereka meninggal dan Tomohisa tidak mau keadaan Opi yang dulu terulang lagi sekarang.
---
Din melirik Opi yang sedang membaca Myojo yang baru saja ia beli. Sebelah tangannya menopang dagu dan tangannya yang lain membalik-balikkan halaman majalah. Opi terlihat biasa-biasa saja. Padahal kemarin malam Opi baru saja meneleponnya sambil menangis karena sudah putus dengan Sho. Tapi apakah ia benar-benar baik-baik saja?
“Opi,” panggil Din sedikir ragu.
“Mm..” gumam Opi tanpa mengalihkan perhatiannya pada isi dari majalah.
“Aku dengar kamu tidak jadi diskorsing. Omedetou!!” seru Din riang –yang dipaksakan-.
“Sankyuu~,” balas Opi masih belum mengalihkan pandangannya.
“Ini kabar bagus. Bagaimana kalau kita merayakannya hari ini?”
“Gomen, din. Hari ini aku ada latihan,” tolak Opi.
“Aah~..souka..”
Din sedikit sedih karena ajakannya ditolak oleh Opi. Tapi dia lebih sedih melihat Opi yang tidak bersemangat. Opi yang cerewet, tidak mau diam, dan berteriak kesal tiba-tiba, seolah tergantikan dengan orang lain yang sering murung, lemas dan kerjaannya hanya melamun. Walaupun Din kadang selalu protes dengan Opi yang terlalu bersemangat, tapi Din merindukan Opi yang dulu.
Hari pertandingan datang. Opi sudah memakai baju seragamanya dibalut dengan jaket. Tapi dia masih belum mau masuk ke tempat pertandingan. Dia masih teringat dengan pertemuannya dengan Sho tadi.
-flashback-
Opi bergegas menemui Sho begitu dia mendapat e-mail bahwa Sho sedang menunggunya di luar lapangan. Memang Opi yang memutuskan hubungan mereka, tapi entah kenapa dia sangat merindukan Sho.
“Aku akan pergi sekarang,” kata Sho begitu mereka berdua duduk di salah satu bangku panjang yang tersedia.
Opi mengepal kedua tangannya di sisi kakinya. Dia tahu saat ini akan datang. Ia mencoba untuk menahan agar tidak menangis.
“Jaga kesehatanmu,” Sho berhenti sejenak seperti menahan sesuatu. ”dan jangan terlalu memaksakan diri untuk latihan,” lanjutnya.
Opi masih diam. Ia takut kalau dia berbicara, air matanya akan tumpah.
“Hubungan kita memang singkat, tapi aku senang bisa mengenalmu,”gumam Sho lalu menggenggam tangan Opi.
Bertepatan dengan tangannya digenggam, air mata Opi jatuh. Dia sudah tidak bisa menahan lagi.
Sho sadar Opi menangis. Tangannya lalu meraih kepala Opi dan memeluknya erat. Sangat erat hingga Sho tidak sanggup untuk melepasnya.
“Semua akan baik-baik saja. Kita bisa melewatinya. Aku harap kamu janji kalau kamu akan baik-baik saja,” ucap Sho. Opi masih diam walaupun ia mendengar suara Sho dengat jelas di samping kepalanya.
“Opi? kamu janji?” Sho mengulang pertanyaan. Ia tidak akan tenang jika Opi belum mengucapkannya.
Opi mengangguk.”Aku janji,” jawab Opi di tengah isakannya.
Opi mempererat pelukkannya. Dia tidak akan pernah merasakan pelukan hangat ini lagi. Dia tidak merasakan genggaman
tangannya lagi. Dan yang Opi sesalkan, dia tidak akan pernah melihat lagi senyuman Sho lagi.
-----
Kei berlari terburu-buru. Sejak Opi pergi karena mendapat sebuah e-mail, dia belum kembali. Padahal pertandingan akan segera mulai. Tapi yang Kei cemaskan bukan pertandingannya, melainkan keadaan Opi.
Kei terus berlari sampai matanya menangkap seorang gadis sedang duduk di bangku panjang dengan kepala tertunduk.
“Opi,” gumam Kei lega.
Hati Kei sakit melihat Opi seperti ini. Wajah yang biasanya ceria, kini terlihat murung. Mulut yang tidak mau diam karena banyak bicara, kini menjadi pendiam. Aura bersemangat yang membuat orang-orang kerepotan, kini lemah tidak
berdaya. Apa yang harus dia lakukan untuk mengembalikan semuanya?
“Opi,” panggil Kei lembut.
Opi mendongak. Matanya yang sembab karena menangis membuatnya sulit untuk melihat dengan jelas.
“Kei?”
“Kamu habis menangis? Doushita no?” tanya Kei cemasa seraya duduk di samping Opi.
Opi menggeleng. Dia sedang tidak mau menceritakan apapun.
Kei menghela hapas. “Daijoubu...kalau tidak mau cerita. Tapi sekarang semua sedang menunggumu. Pertandingan akan dimulai,” kata Kei lembut.
Opi mengangguk.
Kei sedikit lega melihat reaksi Opi. Dia lalu bangun untuk kembali ke lapangan. Tapi Kei terduduk kembali karena dia merasa bajunya ditarik dan ternyata Opi yang menariknya.
“Tadi sensei ke sini,” Opi mulai bercerita.
Kei mengerutkan keningnya.
“Sensei ke sini untuk mengucapkan selamat tinggal,” lanjut Opi.
Opi berhenti.
“Dia sudah pergi hiks..” Opi mulai menangis lagi.
Entah pikiran dari mana, Kei memeluk Opi. Dia tidak bermaksud buruk. Dia hanya berharap dapat menenangkan Opi walaupun hanya sebuah pelukan seperti ini. Sedangkan Opi, dia kembali menangis. Dia pun berharap dengan menangis ia dapat melupakan semuanya.
----
1 bulan kemudian....
Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Tapi di rumah keluarga Yamashita sudah terjadi perang yang siap memporak porandakan rumah. Semua dimulai karena Kei yang membuat ulah dan mengakibatkan Opi mengamuk.
“KEI!!!!!!!Keluar kamu!” teriak Opi sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
“Aku tidak mau. Kalau aku keluar, kau pasti akan melemparku dengan panci,” jawab Kei di balik pintu kamar mandi.
“AKU MEMANG AKAN MELEMPARMU DENGAN PANCI!!!!!!!” teriak Opi makin keras.
“Opi!! Ribut sekali sih. Ini masih pagi, “ omel Tomohisa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Terlihat dari
wajahnya sepertinya dia baru bangun dan kekurangan jam tidur.
Opi cemberut.”Kei curang. Aku yang akan mandi duluan tapi dia langsung masuk tidak mengantri,” gerutu Opi kesal.
“Ya sudah. Tunggu saja sampai Kei keluar,” sahut Tomohisa acuh tak acuh.
“Tapi kan aku ada latihan pagi. Aku bisa telat,” protes Opi.
Tomohisa tidak membalas karena ia kembali meringkuk di sofa untuk tidur.
“AGGHHHHH~!!!!” teriak Opi. Tapi kali dia teriak di atap sekolah ditemani Din.
Din memukul pelan kepala Opi. “Jangan berteriak!” bentak Din.
“Ittai~,”keluh Opi.”Habis Kei menyebalkan,” gerutunya.
“Aku pikir setelah kalian berbaikan, kalian tidak akan ribut lagi seperti ini. Tapi ternyata aku salah,” kata Din sambil mengutak atik keitai-nya.
“Ini karena Kei yang memulai,” balas Opi bersikeras.”Ngomong-ngomong, sedang apa kamu? Sibuk sekali,” tanya Opi yang melihat sahabatnya terus-terusan sibuk dengan keitai-nya.
Din hanya tersenyum kecil.
“Keito yah?” tebak Opi.
“Ah~” seru Din seperti ingat sesuatu.”Aku lupa bilang. Sebenarnya aku dan Keito sudah putus,” jelasnya.
“Hah? Putus?”
Din mengangguk.”Pacaran dengan yang lebih muda, membuat aku seperti anak kecil.”
Opi tertawa.”Bukankah itu bagus? Kau jadi terlihat awet muda.”
Din cemberut.
“Jadi kau sedang sibuk dengan siapa sekarang?” tanya Opi lagi.
“Hmmm~. Hi-mi-tsu ahahaha...”
Kini Opi yang cemberut.”Kau sekarang sama menyebalkannya seperti Kei.”
Sudah sebulan sejak kepergian Sho. Kehidupan Opi sudah kembali seperti semula. Wajahnya yang murung, kini sudah kembali ceria. Bahkan Opi yang cerewet sekarang muncul lagi. Membuat telinga orang-orang kepanasan.
“Aku senang kamu sudah kembali seperti dulu,” ucap Din.
Opi tersenyum lebar.”Karena aku sudah janji dengan Sho.”
Hingga sekarang pun Opi masih merindukan Sho. Tapi itu masa lalunya. Dia sudah memutuskan untuk menganggap Sho hanya sebagai kenangan di kehidupannya saja. Saat ini ia hanya membutuhkan waktu untuk kembali menata hidupnya.
Ia tahu ini sulit. Tapi janjinya pada Sho yang membuat ia kuat dan yakin keadaannya akan baik-baik saja.
-----
“Oke. Sudah beres,” gumam Opi sambil melihat hasil pekerjaannya yang sudah selesai. Hari ini Opi mendapat giliran piket.
Semua teman-teman yang mendapat giliran piket yang sama dengannya sudah pulang karena ia datang terlambat. Jadi Opi mengerjakan sisa pekerjaan yang belum dikerjakan.
Suasana sekolah sudah sangat sepi. Wajar saja karena sekarang sudah sangat sore. Semua murid sudah pulang kecuali yang mengikuti klub baseball karena mereka sedang bermain di lapangan.
Opi menatap orang-orang yang sedang bermain di sana. Suasana sore seperti ini selalu mengingatkannya pada Sho. Biasanya setelah pulang sekolah, Opi akan berlari menuju lapangan basket untuk menemui Sho. Di sana mereka akan melepaskan rasa rindu mereka dengan bercanda atau hanya mengobrol. Kalau mengingat masa-masa itu, Opi hanya dapat tersenyum.
“Hmmm~” desah Opi sambil meregangkan tangannya.”Lebih baik aku pulang,” gumamnya.
Opi menyambar tasnya lalu melenggang pergi.
“Aah~ tsukareta!!!” seru Opi saat melewati lapangan yang sedang digunakan oleh klub baseball dengan santai. Kaget dengan suara yang mendadak muncul, hampir semua anggota klub menoleh ke arah Opi karena merasa suara itu sangat menganggu mereka.
“Ah~ gomennasai,” ucap Opi lalu jalan cepat-cepat agar dia tidak tambah mempermalukan dirinya sendiri dan agar dirinya dapat segera pulang lalu makan.
Selagi ia berjalan, Opi mendadak menyipitkan matanya, memastikan ada orang yang dia kenal di gerbang sana.
“Kei? Sedang apa di sini?” tanya Opi mengagetkan Kei.
“Kamu sudah pulang? Lama sekali sih,” gerutu Kei.
Opi memiringkan kepalanya.”Aku harus piket tadi,” jelas Opi. “Tapi kenapa kamu marah? Aku kan tidak memintamu menjemputku.”
Kei tidak mengacuhkannya. Ia lalu pergi.
“Dasar aneh. Sudah marah-marah, sekarang pergi begitu saja,” gumam Opi pelan lalu berjalan cepat agar langkahnya sejajar dengan Kei.
Kei maupun Opi sama-sama tidak memulai pembicaraan. Yang terdengar saat ini hanya suara kendaraan yang lalu lalang di jalanan. Opi sedikit heran dengan sikap Kei yang sedikit berubah. Menjadi agak menyebalkan. Semua yang Kei lakukan sama sekali tidak ia mengerti. Seperti sore ini Kei yang menjemputnya, suatu hal yang jarang Kei lakukan.
Sampai rumah pun Kei langsung masuk kamarnya setelah menjawab sapaan Tomohisa.
“Ada apa dengan Kei?” tanya Tomohisa pada Opi.
Opi tidak langsung menjawab karena mulutnya penuh dengan kue yang baru saja Tomohisa buat.
“Opi?” panggil Tomohisa.
“Tunggu sebentar. Aku kan harus menelan dulu,” gerutu Opi. “Kenapa dengan Kei, aku sendiri tidak tahu. Onii-chan saja
heran,apalagi aku. Tiba-tiba dia menjemputku. Itu lebih aneh,” lanjut Opi.
“Itu memang aneh. Oia, sebelum kamu mandi, aku ingin bertanya sesuatu.”
Opi berhenti melangkahkan kaki nya yang sudah terlanjur naik ke anak tangga.
“Waktu itu...sikapmu aneh..apa karena laki-laki yang bernama Sho Sakurai?” tanya Tomohisa hati-hati.
Opi sebenarnya kaget dengan pertanyaan kakaknya itu. Karena setahunya, yang mengetahui hal ini hanya segelintir orang. Kemungkinannya kecil kalau Tomohisa tahu hal ini. Tapi ia berusaha tenang menanggapinya.
“Onii-chan tahu dari mana tentang laki-laki yang bernama Sho Sakurai?”
“Itu tidak penting. Aku hanya ingin tahu benar atau tidak?”
Opi mengangguk pelan.”tapi itu sudah berlalu. Aku sudah putus.”
“Lalu, sekarang kamu pacaran dengan Kei?” tanya Tomohisa lagi.
“Hah? Aku pacaran dengan Kei? Kenapa Onii-chan berpikiran aku berpacaran dengan dia?”
Opi tidak habis pikir kakaknya itu menganggap yang aneh-aneh tentang hubungannya dengan Kei.
“Aku lihat sikap Kei berubah. Apalagi kalau berurusan denganmu. Walaupun hingga sekarang kalian masih bertengkar,tapi setelah itu kalian baikan lagi. Kalau dulu mana mungkin seperti itu,”jelas Tomohisa.
“Hontou? Apa hubunganku dengan Kei seburuk itu?” Opi justru bertanya kembali.
“Setidaknya itu yang aku lihat.”
“Hingga saat ini aku tidak pernah terpikirkan untuk pacaran dengan Kei.”
Ya. Opi hanya dapat menjawab seperti itu karena walaupun hubungannya dengan Kei jauh lebih baik, tapi untuk pacaran Opi sendiri tidak tahu. Hatinya belum sembuh untuk berpacaran lagi.
“Bagus kalau begitu,” timpal Tomohisa lega.
“Loh? Ada apa?”
Alih-alih menjawab pertanyaan Opi, Tomohisa hanya melengos pergi ke dapur untuk meneruskan pekerjaannya.
Hari-hari pun berlalu. Hubungan Opi dan Kei menjadi semakin dekat. Hampir setiap hari Kei menjemput Opi walaupun dia pulang hingga pukul 9 malam karena harus latihan basket. Kegiatan rutinitas Opi setiap minggu seperti berbelanja pun kini dilakukan berdua dengan Kei. Bahkan jalan-jalan di hari libur pun sudah sangat sering mereka lakukan.
Din yang mengetahui semuanya, merasakan ada hal yang aneh pada sahabatnya itu. Apa dia sudah benar-benar melupakan Sho?
“Hari ini apa kegiatanmu?” tanya Din pada Opi yang dihadapannya. Hari ini Din memang sengaja mengajaknya ke cafĂ© langganan mereka.
“Hmm..lari pagi, latihan basket dan belanja.”
“Dengan Kei?”
Opi mengangguk sambil menghisap minumannya.
“Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan.”
Opi mengerutkan keningnya mendengar ucapan Din.
“Akhir-akhir ini kamu dan Kei semakin dekat saja. Kalian pacaran?” tanya Din to the point.
Opi menyipitkan matanya. ”Sepertinya aku sudah pernah mendengar kata-kata itu.”
“Jadi?”
Opi kini menggaruk-garuk kepalanya.”Sudah aku bilang aku tidak berpacaran dengan Kei,” jawab Opi.
“Aku tidak percaya,” ujar Din merasa tidak puas dengan jawaban Opi.
“Terserah deh..”
Din mencibir pada Opi dengan kesal. Sebenarnya ia sendiri tahu kalau Opi belum ada hubungan apapun dengan Kei.
Hanya saja ia penasaran dengan perasaan Opi yang sebenarnya.
“Sudah jangan cemberut. Nanti Keito kabur loh!” ancam Opi sedikit menggoda Din.
“Hah? Kenapa Keito?” seru Din bingung.
“Kau pikir aku tidak tahu?? Kamu masih saja pergi berdua dengan dia kan?” tebak Opi.
“Kapan aku pergi berdua dengan Keito? Aku pergi karena dia bilang ingin bicara denganku. Ternyata dia hanya ingin mempermainkan aku,” jelas Din kesal.
“Souka,” balas Opi. Opi sebenarnya penasaran dengan laki-laki yang hampir setiap hari membuat Din tersenyum setiap ia membaca e-mail. Kalau bukan Keito, lalu siapa?
---
Opi merebahkan tubuhnya di kursi malas yang berada di balkon. Makan malam hari ini sungguh membuat Opi kelimpungan karena Tomohisa dan Papanya membuat makanan special. Momen ini sangat jarang terjadi sehingga Opi tidak memberi batas dan akibatnya Opi terlalu sulit untuk berdiri karena kekenyangan.
Perlahan Opi memejamkan matanya. Merasakan angin yang menyapu wajahnya. Angin malam ini sangat menyejukkan sehingga membuat Opi ingin terlelap.
“Are? Kau sudah tidur?” suara itu suara Kei. Dengan reflex Opi membuka matanya kembali.
“Iie. Ada apa?” tanya Opi seraya bangun dari kursi.
“Ini.” Kei menyodorkan sepiring kecil apel yang sudah dibelah menjadi 4 bagian.”Dari Onii-san.”
“Arigatou.” Opi lalu melahap satu apel.
“Malam ini langitnya cerah yah,” ujar Kei sambil menengadahkan wajahnya menghadap langit. Opi berbalik mengikuti Kei
untuk menghadap langit juga.
“Un~ kau benar,” jawab Opi sambil melahap apel yang kedua.
Lalu keduanya terdiam. Yang terdengar sekarang hanya suara kunyahan Opi yang sedang memakan apelnya.
“Ah~” seru Kei seolah teringat sesuatu. ”kapan pertandinganmu selanjutnya?” tanya Kei.
“Dua minggu lagi. Lawannya lebih berat dari sebelumnya. Aku jadi gugup,” ujar Opi lalu mengambil apel yang ketiga.
“Aku yakin kau pasti bisa. Kau kan sudah berlatih keras.”
Opi tersenyum mendengar kata-kata Kei. “Arigatou. Ganbarimasu~.”
Kei ikut tersenyum melihat Opi yang terlihat bersemangat.
“Karena sudah menyemangatiku, aku beri kau satu apel.” Opi menyerahkan satu apel yang tersisa di piringnya. Dengan
senang hati Kei mengambil lalu memasukannya ke dalam mulut.
“Oishii~” seru Kei.
“Aku akan mengembalikan piringnya. Kau tetap di sini?” tanya Kei.
Opi mengangguk.
Kei tidak segera membalikkan badannya dan mengembalikkan piring seperti yang ia katakan. Sejenak ia menatap wajah Opi yang menghadap langit. Entah karena suasana yang tepat atau Kei sudah menemukan keberanian, ia perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Opi. Opi yang sadar ada sesuatu mendekati wajahnya, kaget karena tiba-tiba bibirnya sudah menempel di bibir Kei. Kejadian itu begitu singkat dan sangat tiba-tiba. Perlahan Kei melepaskan bibirnya dari bibir Opi dan menatap mata Opi dalam. Opi yang masih kebingungan hanya dapat ikut menatap mata Kei juga.
“Suki da yo,” ucap Kei kemudian.
“Hah?” Opi bingung harus menjawab apa.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Kei lagi.
Belum sempat Opi menjawab, tiba-tiba Tomohisa memanggil dari tangga.
“Kei, ada telepon dari Mama-mu,” teriak Tomohisa.
Tanpa berkata apapun lagi, Kei pergi meninggalkan Opi yang masih terlihat kebingungan.
Perlahan Opi menyentuh bibir dengan jarinya. Sangat berbeda dengan saat mereka pertama kali melakukannya. Untuk kali ini yang Opi rasakan adalah jantungnya berdegup kencang dan rasanya seperti.....
“Apel?”
TBC~
aneh? saia juga aneh knp bs bikin yang kyk gn?
klo aneh ga usah dibaca...
klo suka di-like..
klo ada saran dan kritik di komen ajah...
jangan lupa komen...
#kabur ke slide farmakologi dan MAI
[Fanfic] Little Secret (chap 3)
Title : Little Secret
Chapter : 3
Author : Opi Yamashita
Genre : Romance mungkin #plakk
Rating : PG
Cast : Kei Inoo (HSJ), Sho Sakurai (Arashi), Yamashita Tomohisa (NewS), Daiki Arioka (HSJ), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC) dan selentingan orang numpang lewat
Disc : Kei Inoo, Sho Sakurai dan Yamashita Tomohisa itu kepunyaan Okaa-san dan Otou-san serta JE. Opi Yamashita dan Ikuta Din itu OC saia.
Gomenasai~ lama banget ampe 4 bulan ahahha...karena kesalahan bukan pada author tapi pada laptop nya...
yah nikmati saja.maaph klo ada kurang" nya...
Douzo~
Sudah 2 bulan sejak kedatangan Kei di rumah Opi. Hingga sekarang Opi masih belum terbiasa dengan kehadiran Kei di tengah-tengah keluarganya. Selain karena hubungan mereka yang tidak rukun, Opi juga merasa sikap Kei semakin hari semakin menyebalkan. Dari masalah berebut kamar mandi, makanan saat makan malam ataupun televisi. Ada saja sikap Kei yang membuatnya kesal. Tetapi yang paling membuat Opi kesal adalah Kei sudah merebut perhatian kakak satu-satunya, Tomohisa.
Seperti saat ini. Dengan terpaksa Opi harus pergi berbelanja dengan Kei karena persediaan makanan di rumah hampir habis. Sebenarnya sudah tugas Opi untuk berbelanja sesuai yang diperintahkan oleh Tomohisa. Tetapi tiba-tiba Kei menawarkan diri untuk menemani Opi. Bertolak belakang dengan keinginan Opi untuk menolak, Tomohisa malah mengizinkan Kei dengan senang hati. Alhasil sekarang mereka berjalan berdampingan menuju supermarket.
“pantas saja langit mendung, “ sahut Kei yang direspon Opi dengan menolehkan kepalanya.
“wajahmu kusut sekali. Cemberut seperti itu,” lanjut Kei.
Opi tidak peduli dengan kata-kata Kei. Dia terus berjalan tanpa berkata apa pun.
“Chotto~” Kei menarik tangan Opi dengan tidak sabar.
Opi menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba lalu menolehkan kembali kepalanya di hadapan Kei.
“sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya Kei agak sinis.
Opi tidak menjawab. Ia pun tidak tahu kapan ia akan berhenti bersikap memusuhi seperti ini.
Kei tidak sabar menunggu Opi yang hanya diam saja. Ia genggam erat bahu Opi agar Opi menghadap ke arahnya.
“apa kamu belum memaafkan aku?” tanya Kei lagi.
“apa perlu aku menjawab?” Opi kembali bertanya.
Kali ini Kei yang tidak menjawab. Siapapun pasti akan kesal dan menjadi kenangan yang tidak terlupakan jika mendapat ‘kejutan’ seperti itu. Apalagi untuk anak perempuan.
Opi berbalik, dengan otomatis genggaman Kei terlepas.”Lebih baik kita cepat berbelanja. Sepertinya akan hujan,” sahut Opi.
Kei tidak membalas. Ia hanya mengikuti Opi.
“Gomen,” ucap Kei dengan suara pelan dan hanya dia yang dapat mendengarnya.
----
Opi merutuki dirinya sendiri. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu pada Kei. Kejadian 11 tahun yang lalu itu memang membuatnya kesal. Tapi bukan berarti dia harus mengingat itu terus. Karena kebodohannya –menurut Opi-, dia sama sekali tidak berkonsentrasi berbelanja. Banyak sekali bahan-bahan yang tidak dibeli. Dan pada akhirnya Opi diomeli Tomohisa.
“AGGGHHHHH~” teriak Opi kesal di keitai-nya yang terhubung dengan Din.
“Jangan berteriak di telepon, mengerti?” bentak Din kesal.
“Gomen..aku hanya sedang kesal.”
Begitu selesai diomeli Tomohisa, Opi lalu menelepon sahabatnya dan menceritakan semuanya. Ia tidak tahu harus kemana lagi menumpahkan kekesalannya.
“kalau kamu tahu itu salah, kenapa kamu tidak segera memaafkannya?” lanjut Din.
Opi menghembuskan nafasnya.”Kamu tahu gengsi? Itu yang aku rasakan tadi siang,” jawab Opi.
“Sampai kapan kamu akan gengsi seperti itu? Kalau kamu seperti ini, tidak adil untuk Kei.”
Opi menimang-nimang jawaban Din. Ada benarnya juga.
“Mungkin sudah saatnya aku berhenti berperang dengannya,” jawab Opi pasrah.
Opi turun ke dapur sambil memijit-mijit keningnya. Kepalanya tiba-tiba pusing karena Din yang bercerita panjang lebar tentang ia rujuk dengan Keito. Opi sudah memperkirakan ini akan terjadi. Tapi tetap saja cerita Din membuatnya pening.
Opi mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas lalu meminumnya. Tiba-tiba dari arah kamar sebelah kamar Tomohisa, terdengar suara dentingan piano.
Satu nada
Dua nada
Tiga nada
Dari dentingan itu, lalu terdengar rangkaian melodi yang ia kenal. Lagu ini sering ia dengar saat ia masih kecil. Saat Mamanya masih ada.
Opi menghampiri sumber suara itu. Dia berjalan pelan menuju ruang yang sudah sangat ia hapal. Ruangan tempat keberadaan piano itu.
Biasanya dia hanya dapat melihat sosok wanita anggun yang ada di depan grand piano putih itu. Sambil bernyanyi riang, wanita itu terus memainkan piano mengiringi celotehan anak-anaknya. Sesekali tertawa gembira seolah menemukan puncak kebahagiaannya.
Tapi yang Opi tangkap sekarang oleh matanya, hanya sesosok laki-laki bertubuh kurus yang sedang memainkan piano. Jari lentiknya begitu lihai saat berpindah dari satu tuts ke tuts yang lain seolah laki-laki itu sudah sering memainkannya. Opi kembali tersadar karena sosok itu adalah Kei Inoo.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Opi sedikit menahan perasaan yang menyesakkan.
Kei terkesiap karena menyadari dirinya tidak sendiri lagi di ruangan itu.
“Gomen ne,,memainkan piano-mu tanpa izin,”Kei lalu berdiri.
“Ini bukan piano-ku, kau tahu? Ini piano Mama,” ralat Opi pelan seolah mengenang sesuatu.
Kei tersenyum mengerti maksud Opi.”Aku tahu.”
“Kamu masih ingat lagu itu?” tanya Opi seraya duduk di kursi yang sama di samping Kei yang menghadap tuts piano.
“Itu lagu pertamaku. Tentu saja aku ingat. Mama-mu yang mengajarkan,” jawab Kei.
“Dulu Mama selalu memainkannya untukku dan Onii-chan,” kenang Opi.”dan sudah lama sekali aku tidak mendengarnya.”
“Kamu bisa memintaku memainkannya semaumu,” tawar Kei tersenyum.
Opi terenyak. Opi baru sadar kalau ia begitu menyukai senyum Kei yang seperti itu.
“Un~. Karena kamu sudah membuatku senang, aku akan memaafkanmu tentang 11 tahun yang lalu,” kata Opi.
“Hontou ni?” tanya Kei memastikan.
Opi mengangguk. “Aku juga sudah capek bertengkar terus denganmu. Apalagi membayangkan kamu masih lama tinggal di sini. Aku bisa menganggap rumahku sendiri adalah neraka,” lanjut Opi sambil menekan beberapa tuts piano secara acak. Melodi yang tertangkap oleh telinga Kei benar-benar berantakan.
Kei tertawa. “Jadi sekarang kita baikan?” tanya Kei.
Opi mengangguk lagi. Beban yang selama ini begitu menganggunya, akhirnya hilang seperti menguap tak berbekas.
“kalau begitu, kita bermain piano bersama. Tanda kita sudah berbaikan,” ajak Kei.
“Kamu meledekku? Kamu kan tahu aku paling tidak bisa bermain piano.”
Kei tertawa kembali. “Sini aku ajari.”
Kei meraih kedua tangan Opi lalu meletakkan tangannya di atas tangan Opi. Tangan Kei menggerak-gerakkan tangan Opi di atas tuts piano hingga membentuk melodi yang indah. Opi tertawa karena merasa dirinya menjadi boneka. Tapi dia tidak merasa marah atau kesal. Ia justru senang sekali karena Kei mengajari lagu kesukaannya dan ini pertama kalinya ia dan Kei dapat bercakap dengan suasana yang sangat menyenangkan.
Untuk pertama kalinya sejak Kei datang ke rumahnya, Opi dapat bersemangat di pagi hari. Ia tidak perlu lagi bersusah payah memasang tampang bĂŞte di hadapan Kei karena kini Kei sudah bukan musuhnya lagi.
“Ohayou~!” sapa Opi begitu turun dari kamarnya menuju ruang makan. Di sana ia dapat melihat Papanya, Tomohisa dan Kei.
“Ohayou~!” balas semuanya.
Opi melihat Kei yang duduk di hadapannya. Kei yang menyadari dirinya di perhatikan, lalu tersenyum pada Opi.
Senyum itu......
Sejak kemarin entah kenapa Opi menyadari dirinya suka dengan senyum Kei. Begitu menenangkan.
Tanpa banyak berpikir, Opi membalas senyuman Kei yang memunculkan tanda tanya besar di kepala Tomohisa melihat ada hubungan aneh di antara adiknya dan Kei.
Karena hubungan Kei dan Opi yang membaik, mereka dapat berangkat sekolah bersama dengan tenang. Biasanya di tengah-tengah perjalanan, mereka akan melontarkan ucapan pedas atau saling meledek satu sama lain. Tapi pagi ini tidak ada ledekan sedikit pun yang keluar dari mulut mereka.
Sebelum menuju sekolahnya, Kei mengantar Opi terlebih dahulu. Kebetulan arah sekolah mereka sama dan sekolah Opi memiliki jarak yang lebih dekat dibandingkan dengan sekolah Kei. Begitu sampai di depan gerbang sekolah, tidak disangka
Opi disambut Din yang tergesa-gesa menghampirinya dengan wajah cemas.
“Opi~ gawat,” kata Din. Nafasnya yang tidak beraturan membuatnya sulit mendengar jelas apa yang dikatakan sahabatnya.
“Ada apa?”
“Sekolah sudah tahu hubunganmu dengan Sho-sensei,” jelas Din cepat.
Perkataan Din membuat Opi kaget. Tanpa peduli dengan keberadaan Kei, Opi lalu berlari ke dalam sekolah menuju ruang kepala sekolah.
Seperti yang dikatakan oleh Din, kepala sekolah sudah tahu tentang hubungannya dan Sho. Buktinya terlihat dari beberapa foto mereka saat kencan beberapa waktu lalu. Sepertinya ada orang yang mereka kenal tanpa sengaja memergoki.
Opi tidak berbicara apapun karena bukti itu benar-benar tidak bisa membuatnya mengelak. Orang yang ada di dalam foto itu memang dirinya.
“Jadi kalian mengakui kalau yang ada di dalam foto ini adalah kalian berdua?” tanya kepala sekolah dengan nada memojokkan.
Opi menunduk. Dia tidak dapat membalas apapun.
“Benar. Itu kami,” jawab Sho membuat Opi mengangkat kepalanya.
“Sensei...” gumam Opi.
“Kalian sudah melanggar peraturan sekolah. Sebagai hukumannya, Yamashita..” panggil kepala sekolah pada Opi. “Kamu saya skorsing tidak boleh mengikuti pertandinga basket untuk 4 pertandingan mendatang,” lanjutnya.
“Chotto~ itu tidak adil,” sergah Sho tidak menerima.”Dia sudah berlatih keras untuk menghadapi pertandingan. Menurut saya ini tidak adil.”
“Dan anda akan saya skorsing tidak mengajar kecuali untuk melatih basket. Beruntung anda sangat bagus melatih tim basket kami. Jadi saya beri keringanan,” lanjut kepala sekolah tidak peduli dengan protes dari Sho.
“Saya mengerti. Kalau begitu kami permisi,” ucap Opi lalu pergi keluar ruangan dan diikuti oleh Sho.
Opi tertunduk pasrah. Sebenarnya ia masih beruntung hanya di skorsing tidak ikut pertandingan, bukan skorsing tidak sekolah. Tapi menurutnya, pertandingan sama pentingnya.
Tiba-tiba Sho melingkarkan tangannya di kepala Opi dan menyenderkan kepala Opi di dadanya. Dengan sikap Sho yang tiba-tiba, mendadak air mata Opi meleleh.
“Daijoubu. Semua akan baik-baik saja,” ucap Sho walaupun ia pun tidak yakin dengan ucapannya.
Opi hanya mengangguk. Sekarang yang dapat ia lakukan hanya mempercayai kata-kata Sho.
----
Pertandingan basket tinggal 7 hari lagi. Harusnya Opi sedang berlatih sekarang. Tapi karena skorsing, sekarang Opi terdampar di jembatan dekat sekolahnya. Kasus terbongkarnya rahasia hubungan Opi dan Sho, membuatnya tidak betah di sekolah. Banyak murid-murid lain yang ketika bertemu dengannya menatap dengan tatapan tidak percaya, prihatin, bahkan benci. Itu wajar karena Sho sangat populer di sekolahnya.
Tapi dari sekian banyak yang membencinya, Opi masih beruntung karena teman-teman setimnya, teman-teman sekelasnya, dan sebagian teman-temannya yang lain masih mendukungnya. Dan yang lebih membuatnya lega, ia masih mempunyai Din di sampingnya.
“Ini,” Din menghampiri Opi sambil menyodorkan sekaleng minuman.
“arigatou,” ucap Opi seraya mengambil minuman dari tangan Din.
“Hah~” desah Din. “Aku tidak menyangka secepat ini akan terbongkar,” lanjutnya sambil meneguk minumannya.
Opi ikut meneguk minumannya. Tapi lalu ia diam.
“Ayolah...ganbatte ne!” seru Din terdengar sumbang sambil menepuk punggung Opi.
Opi hanya tersenyum kecut karena ia tidak tahu sampai kapan ia bisa berjuang.
Sudah 5 hari sejak Opi dan Sho dipanggil oleh kepala sekolah. Kehebohan tentang mereka perlahan-lahan memudar. Sikap teman-temannya mulai normal. Tapi sikap Sho malah sedikit berubah. Saat di sekolah, pacaranya itu sama sekali tidak menyapa. Meskipun saat sekolah berakhir, Sho sering meneleponnya sekedar untuk menanyakan keadaan.
Pagi ini, begitu Opi tiba di sekolah, kabar mengejutkan datang dari teman-teman timnya. Kepala sekolah memanggilnya kembali ke ruangannya. Opi berharap ini merupakan kabar yang baik.
Satu jam berlalu. Sae, Haru, Chie dan Kaori yang merupakan teman setim Opi menunggu di luar ruangan. Sekali-sekali mereka mengintip di lubang kunci pintu ruangan. Tapi yang mereka lihat hanya punggung Opi yang tenang. Tanda-tanda
Opi akan keluar belum terlihat.
Setelah menunggu lagi 15 menit, akhirnya Opi keluar ruangan dengan wajah yang susah untuk ditebak.
“Bagaimana?” tanya Chie menatap Opi tidak sabar.
Opi menarik napasnya lalu menghembuskan kembali.
“Opi, ayo ceritakan!” perintah Sae yang sama-sama tidak sabar seperti Chie.
“Aku...” Opi berhenti. ”Aku boleh ikut pertandingan,” lanjutnya.
“Hontou ni?” tanya mereka hampir berbarengan.
Opi mengangguk yakin.
“Yahoo~,” seru Chie yang lalu ditutup mulutnya oleh yang lain karena mereka sadar masih ada di depan ruangan kepala sekolah.
Selagi teman-temannya kegirangan, Opi meronggoh keitainya dan langsung menghubungkan dengan seseorang.
“Sho-sensei?” panggil Opi setelah terhubung. “Aku..ingin bicara setelah pulang sekolah.”
-----
“Ada apa?” tanya Sho.
Kini mereka berdua sudah berada di taman.
“Oia, aku dengar kamu diijinkan untuk mengikuti pertandingan. Aku lega mendengarnya,” lanjut Sho senang. Tadi siang dia memang baru mendengarnya dari teman-teman Opi.
“Sho-sensei,” gumam Opi.
“Mmm?” Sho menoleh masih mengembangkan senyumnya.
“Apa lebih baik kita putus saja?” tanya Opi.
Sho terbelalak kaget. Senyumnya pun luntur seketika.“Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba bilang seperti itu?”
“Tidak tiba-tiba. Aku sudah memikirkannya sejak kemarin. Tapi aku semakin yakin saat aku mendengar Sensei akan pindah,” jelas Opi.
Sho diam. Dia tidak tahu kalau Opi akan mengetahui berita ini dengan sendirinya.
“Kenapa Sensei tidak pernah cerita?” tanya Opi.
“Aku tidak cerita karena aku bermaksud menolaknya.”
Opi mengerutkan keningnya.”Menolak? Sensei akan menolak? Sensei akan menjadi asisten pelatih tim di Amerika lalu sensei menolaknya?”
“Aku tidak mau meninggalkanmu,” ucap Sho lirih.
“Ini yang aku takutkan. Aku tidak suka seperti ini. Makanya......aku ingin mengakhiri semuanya,” kata Opi pelan.
“Ini tidak menyelesaikan masalah kita,” sergah Sho tidak menerima.
Opi mendengus pasrah. “Kalau kau punya usul lain yang lebih baik, aku siap mendengar.”
Sho diam. Dia pun merasa ini tawaran yang bagus. Sudah menjadi impiannya untuk menjadi bagian dari tim besar setelah impiannya menjadi pemain basket kandas karena cedera. Tapi kalau ia harus meninggalkan Opi, rasanya dia tidak sanggup.
“Sepertinya tidak ada lagi jalan keluar. Urusanku sudah selesai. Aku permisi,” Opi membungkukkan badannya sedikit sebelum berlalu meninggalkan Sho yang masih tertunduk.
TBC~
astaga~ kena racun apa q bikin fanfic kek begini????
maaph klo tidak sesuai dengan bayangan ahahahha...
nama nya juga imajinasi...
#plakk
komen yah~
Chapter : 3
Author : Opi Yamashita
Genre : Romance mungkin #plakk
Rating : PG
Cast : Kei Inoo (HSJ), Sho Sakurai (Arashi), Yamashita Tomohisa (NewS), Daiki Arioka (HSJ), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC) dan selentingan orang numpang lewat
Disc : Kei Inoo, Sho Sakurai dan Yamashita Tomohisa itu kepunyaan Okaa-san dan Otou-san serta JE. Opi Yamashita dan Ikuta Din itu OC saia.
Gomenasai~ lama banget ampe 4 bulan ahahha...karena kesalahan bukan pada author tapi pada laptop nya...
yah nikmati saja.maaph klo ada kurang" nya...
Douzo~
Sudah 2 bulan sejak kedatangan Kei di rumah Opi. Hingga sekarang Opi masih belum terbiasa dengan kehadiran Kei di tengah-tengah keluarganya. Selain karena hubungan mereka yang tidak rukun, Opi juga merasa sikap Kei semakin hari semakin menyebalkan. Dari masalah berebut kamar mandi, makanan saat makan malam ataupun televisi. Ada saja sikap Kei yang membuatnya kesal. Tetapi yang paling membuat Opi kesal adalah Kei sudah merebut perhatian kakak satu-satunya, Tomohisa.
Seperti saat ini. Dengan terpaksa Opi harus pergi berbelanja dengan Kei karena persediaan makanan di rumah hampir habis. Sebenarnya sudah tugas Opi untuk berbelanja sesuai yang diperintahkan oleh Tomohisa. Tetapi tiba-tiba Kei menawarkan diri untuk menemani Opi. Bertolak belakang dengan keinginan Opi untuk menolak, Tomohisa malah mengizinkan Kei dengan senang hati. Alhasil sekarang mereka berjalan berdampingan menuju supermarket.
“pantas saja langit mendung, “ sahut Kei yang direspon Opi dengan menolehkan kepalanya.
“wajahmu kusut sekali. Cemberut seperti itu,” lanjut Kei.
Opi tidak peduli dengan kata-kata Kei. Dia terus berjalan tanpa berkata apa pun.
“Chotto~” Kei menarik tangan Opi dengan tidak sabar.
Opi menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba lalu menolehkan kembali kepalanya di hadapan Kei.
“sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya Kei agak sinis.
Opi tidak menjawab. Ia pun tidak tahu kapan ia akan berhenti bersikap memusuhi seperti ini.
Kei tidak sabar menunggu Opi yang hanya diam saja. Ia genggam erat bahu Opi agar Opi menghadap ke arahnya.
“apa kamu belum memaafkan aku?” tanya Kei lagi.
“apa perlu aku menjawab?” Opi kembali bertanya.
Kali ini Kei yang tidak menjawab. Siapapun pasti akan kesal dan menjadi kenangan yang tidak terlupakan jika mendapat ‘kejutan’ seperti itu. Apalagi untuk anak perempuan.
Opi berbalik, dengan otomatis genggaman Kei terlepas.”Lebih baik kita cepat berbelanja. Sepertinya akan hujan,” sahut Opi.
Kei tidak membalas. Ia hanya mengikuti Opi.
“Gomen,” ucap Kei dengan suara pelan dan hanya dia yang dapat mendengarnya.
----
Opi merutuki dirinya sendiri. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu pada Kei. Kejadian 11 tahun yang lalu itu memang membuatnya kesal. Tapi bukan berarti dia harus mengingat itu terus. Karena kebodohannya –menurut Opi-, dia sama sekali tidak berkonsentrasi berbelanja. Banyak sekali bahan-bahan yang tidak dibeli. Dan pada akhirnya Opi diomeli Tomohisa.
“AGGGHHHHH~” teriak Opi kesal di keitai-nya yang terhubung dengan Din.
“Jangan berteriak di telepon, mengerti?” bentak Din kesal.
“Gomen..aku hanya sedang kesal.”
Begitu selesai diomeli Tomohisa, Opi lalu menelepon sahabatnya dan menceritakan semuanya. Ia tidak tahu harus kemana lagi menumpahkan kekesalannya.
“kalau kamu tahu itu salah, kenapa kamu tidak segera memaafkannya?” lanjut Din.
Opi menghembuskan nafasnya.”Kamu tahu gengsi? Itu yang aku rasakan tadi siang,” jawab Opi.
“Sampai kapan kamu akan gengsi seperti itu? Kalau kamu seperti ini, tidak adil untuk Kei.”
Opi menimang-nimang jawaban Din. Ada benarnya juga.
“Mungkin sudah saatnya aku berhenti berperang dengannya,” jawab Opi pasrah.
Opi turun ke dapur sambil memijit-mijit keningnya. Kepalanya tiba-tiba pusing karena Din yang bercerita panjang lebar tentang ia rujuk dengan Keito. Opi sudah memperkirakan ini akan terjadi. Tapi tetap saja cerita Din membuatnya pening.
Opi mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas lalu meminumnya. Tiba-tiba dari arah kamar sebelah kamar Tomohisa, terdengar suara dentingan piano.
Satu nada
Dua nada
Tiga nada
Dari dentingan itu, lalu terdengar rangkaian melodi yang ia kenal. Lagu ini sering ia dengar saat ia masih kecil. Saat Mamanya masih ada.
Opi menghampiri sumber suara itu. Dia berjalan pelan menuju ruang yang sudah sangat ia hapal. Ruangan tempat keberadaan piano itu.
Biasanya dia hanya dapat melihat sosok wanita anggun yang ada di depan grand piano putih itu. Sambil bernyanyi riang, wanita itu terus memainkan piano mengiringi celotehan anak-anaknya. Sesekali tertawa gembira seolah menemukan puncak kebahagiaannya.
Tapi yang Opi tangkap sekarang oleh matanya, hanya sesosok laki-laki bertubuh kurus yang sedang memainkan piano. Jari lentiknya begitu lihai saat berpindah dari satu tuts ke tuts yang lain seolah laki-laki itu sudah sering memainkannya. Opi kembali tersadar karena sosok itu adalah Kei Inoo.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Opi sedikit menahan perasaan yang menyesakkan.
Kei terkesiap karena menyadari dirinya tidak sendiri lagi di ruangan itu.
“Gomen ne,,memainkan piano-mu tanpa izin,”Kei lalu berdiri.
“Ini bukan piano-ku, kau tahu? Ini piano Mama,” ralat Opi pelan seolah mengenang sesuatu.
Kei tersenyum mengerti maksud Opi.”Aku tahu.”
“Kamu masih ingat lagu itu?” tanya Opi seraya duduk di kursi yang sama di samping Kei yang menghadap tuts piano.
“Itu lagu pertamaku. Tentu saja aku ingat. Mama-mu yang mengajarkan,” jawab Kei.
“Dulu Mama selalu memainkannya untukku dan Onii-chan,” kenang Opi.”dan sudah lama sekali aku tidak mendengarnya.”
“Kamu bisa memintaku memainkannya semaumu,” tawar Kei tersenyum.
Opi terenyak. Opi baru sadar kalau ia begitu menyukai senyum Kei yang seperti itu.
“Un~. Karena kamu sudah membuatku senang, aku akan memaafkanmu tentang 11 tahun yang lalu,” kata Opi.
“Hontou ni?” tanya Kei memastikan.
Opi mengangguk. “Aku juga sudah capek bertengkar terus denganmu. Apalagi membayangkan kamu masih lama tinggal di sini. Aku bisa menganggap rumahku sendiri adalah neraka,” lanjut Opi sambil menekan beberapa tuts piano secara acak. Melodi yang tertangkap oleh telinga Kei benar-benar berantakan.
Kei tertawa. “Jadi sekarang kita baikan?” tanya Kei.
Opi mengangguk lagi. Beban yang selama ini begitu menganggunya, akhirnya hilang seperti menguap tak berbekas.
“kalau begitu, kita bermain piano bersama. Tanda kita sudah berbaikan,” ajak Kei.
“Kamu meledekku? Kamu kan tahu aku paling tidak bisa bermain piano.”
Kei tertawa kembali. “Sini aku ajari.”
Kei meraih kedua tangan Opi lalu meletakkan tangannya di atas tangan Opi. Tangan Kei menggerak-gerakkan tangan Opi di atas tuts piano hingga membentuk melodi yang indah. Opi tertawa karena merasa dirinya menjadi boneka. Tapi dia tidak merasa marah atau kesal. Ia justru senang sekali karena Kei mengajari lagu kesukaannya dan ini pertama kalinya ia dan Kei dapat bercakap dengan suasana yang sangat menyenangkan.
Untuk pertama kalinya sejak Kei datang ke rumahnya, Opi dapat bersemangat di pagi hari. Ia tidak perlu lagi bersusah payah memasang tampang bĂŞte di hadapan Kei karena kini Kei sudah bukan musuhnya lagi.
“Ohayou~!” sapa Opi begitu turun dari kamarnya menuju ruang makan. Di sana ia dapat melihat Papanya, Tomohisa dan Kei.
“Ohayou~!” balas semuanya.
Opi melihat Kei yang duduk di hadapannya. Kei yang menyadari dirinya di perhatikan, lalu tersenyum pada Opi.
Senyum itu......
Sejak kemarin entah kenapa Opi menyadari dirinya suka dengan senyum Kei. Begitu menenangkan.
Tanpa banyak berpikir, Opi membalas senyuman Kei yang memunculkan tanda tanya besar di kepala Tomohisa melihat ada hubungan aneh di antara adiknya dan Kei.
Karena hubungan Kei dan Opi yang membaik, mereka dapat berangkat sekolah bersama dengan tenang. Biasanya di tengah-tengah perjalanan, mereka akan melontarkan ucapan pedas atau saling meledek satu sama lain. Tapi pagi ini tidak ada ledekan sedikit pun yang keluar dari mulut mereka.
Sebelum menuju sekolahnya, Kei mengantar Opi terlebih dahulu. Kebetulan arah sekolah mereka sama dan sekolah Opi memiliki jarak yang lebih dekat dibandingkan dengan sekolah Kei. Begitu sampai di depan gerbang sekolah, tidak disangka
Opi disambut Din yang tergesa-gesa menghampirinya dengan wajah cemas.
“Opi~ gawat,” kata Din. Nafasnya yang tidak beraturan membuatnya sulit mendengar jelas apa yang dikatakan sahabatnya.
“Ada apa?”
“Sekolah sudah tahu hubunganmu dengan Sho-sensei,” jelas Din cepat.
Perkataan Din membuat Opi kaget. Tanpa peduli dengan keberadaan Kei, Opi lalu berlari ke dalam sekolah menuju ruang kepala sekolah.
Seperti yang dikatakan oleh Din, kepala sekolah sudah tahu tentang hubungannya dan Sho. Buktinya terlihat dari beberapa foto mereka saat kencan beberapa waktu lalu. Sepertinya ada orang yang mereka kenal tanpa sengaja memergoki.
Opi tidak berbicara apapun karena bukti itu benar-benar tidak bisa membuatnya mengelak. Orang yang ada di dalam foto itu memang dirinya.
“Jadi kalian mengakui kalau yang ada di dalam foto ini adalah kalian berdua?” tanya kepala sekolah dengan nada memojokkan.
Opi menunduk. Dia tidak dapat membalas apapun.
“Benar. Itu kami,” jawab Sho membuat Opi mengangkat kepalanya.
“Sensei...” gumam Opi.
“Kalian sudah melanggar peraturan sekolah. Sebagai hukumannya, Yamashita..” panggil kepala sekolah pada Opi. “Kamu saya skorsing tidak boleh mengikuti pertandinga basket untuk 4 pertandingan mendatang,” lanjutnya.
“Chotto~ itu tidak adil,” sergah Sho tidak menerima.”Dia sudah berlatih keras untuk menghadapi pertandingan. Menurut saya ini tidak adil.”
“Dan anda akan saya skorsing tidak mengajar kecuali untuk melatih basket. Beruntung anda sangat bagus melatih tim basket kami. Jadi saya beri keringanan,” lanjut kepala sekolah tidak peduli dengan protes dari Sho.
“Saya mengerti. Kalau begitu kami permisi,” ucap Opi lalu pergi keluar ruangan dan diikuti oleh Sho.
Opi tertunduk pasrah. Sebenarnya ia masih beruntung hanya di skorsing tidak ikut pertandingan, bukan skorsing tidak sekolah. Tapi menurutnya, pertandingan sama pentingnya.
Tiba-tiba Sho melingkarkan tangannya di kepala Opi dan menyenderkan kepala Opi di dadanya. Dengan sikap Sho yang tiba-tiba, mendadak air mata Opi meleleh.
“Daijoubu. Semua akan baik-baik saja,” ucap Sho walaupun ia pun tidak yakin dengan ucapannya.
Opi hanya mengangguk. Sekarang yang dapat ia lakukan hanya mempercayai kata-kata Sho.
----
Pertandingan basket tinggal 7 hari lagi. Harusnya Opi sedang berlatih sekarang. Tapi karena skorsing, sekarang Opi terdampar di jembatan dekat sekolahnya. Kasus terbongkarnya rahasia hubungan Opi dan Sho, membuatnya tidak betah di sekolah. Banyak murid-murid lain yang ketika bertemu dengannya menatap dengan tatapan tidak percaya, prihatin, bahkan benci. Itu wajar karena Sho sangat populer di sekolahnya.
Tapi dari sekian banyak yang membencinya, Opi masih beruntung karena teman-teman setimnya, teman-teman sekelasnya, dan sebagian teman-temannya yang lain masih mendukungnya. Dan yang lebih membuatnya lega, ia masih mempunyai Din di sampingnya.
“Ini,” Din menghampiri Opi sambil menyodorkan sekaleng minuman.
“arigatou,” ucap Opi seraya mengambil minuman dari tangan Din.
“Hah~” desah Din. “Aku tidak menyangka secepat ini akan terbongkar,” lanjutnya sambil meneguk minumannya.
Opi ikut meneguk minumannya. Tapi lalu ia diam.
“Ayolah...ganbatte ne!” seru Din terdengar sumbang sambil menepuk punggung Opi.
Opi hanya tersenyum kecut karena ia tidak tahu sampai kapan ia bisa berjuang.
Sudah 5 hari sejak Opi dan Sho dipanggil oleh kepala sekolah. Kehebohan tentang mereka perlahan-lahan memudar. Sikap teman-temannya mulai normal. Tapi sikap Sho malah sedikit berubah. Saat di sekolah, pacaranya itu sama sekali tidak menyapa. Meskipun saat sekolah berakhir, Sho sering meneleponnya sekedar untuk menanyakan keadaan.
Pagi ini, begitu Opi tiba di sekolah, kabar mengejutkan datang dari teman-teman timnya. Kepala sekolah memanggilnya kembali ke ruangannya. Opi berharap ini merupakan kabar yang baik.
Satu jam berlalu. Sae, Haru, Chie dan Kaori yang merupakan teman setim Opi menunggu di luar ruangan. Sekali-sekali mereka mengintip di lubang kunci pintu ruangan. Tapi yang mereka lihat hanya punggung Opi yang tenang. Tanda-tanda
Opi akan keluar belum terlihat.
Setelah menunggu lagi 15 menit, akhirnya Opi keluar ruangan dengan wajah yang susah untuk ditebak.
“Bagaimana?” tanya Chie menatap Opi tidak sabar.
Opi menarik napasnya lalu menghembuskan kembali.
“Opi, ayo ceritakan!” perintah Sae yang sama-sama tidak sabar seperti Chie.
“Aku...” Opi berhenti. ”Aku boleh ikut pertandingan,” lanjutnya.
“Hontou ni?” tanya mereka hampir berbarengan.
Opi mengangguk yakin.
“Yahoo~,” seru Chie yang lalu ditutup mulutnya oleh yang lain karena mereka sadar masih ada di depan ruangan kepala sekolah.
Selagi teman-temannya kegirangan, Opi meronggoh keitainya dan langsung menghubungkan dengan seseorang.
“Sho-sensei?” panggil Opi setelah terhubung. “Aku..ingin bicara setelah pulang sekolah.”
-----
“Ada apa?” tanya Sho.
Kini mereka berdua sudah berada di taman.
“Oia, aku dengar kamu diijinkan untuk mengikuti pertandingan. Aku lega mendengarnya,” lanjut Sho senang. Tadi siang dia memang baru mendengarnya dari teman-teman Opi.
“Sho-sensei,” gumam Opi.
“Mmm?” Sho menoleh masih mengembangkan senyumnya.
“Apa lebih baik kita putus saja?” tanya Opi.
Sho terbelalak kaget. Senyumnya pun luntur seketika.“Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba bilang seperti itu?”
“Tidak tiba-tiba. Aku sudah memikirkannya sejak kemarin. Tapi aku semakin yakin saat aku mendengar Sensei akan pindah,” jelas Opi.
Sho diam. Dia tidak tahu kalau Opi akan mengetahui berita ini dengan sendirinya.
“Kenapa Sensei tidak pernah cerita?” tanya Opi.
“Aku tidak cerita karena aku bermaksud menolaknya.”
Opi mengerutkan keningnya.”Menolak? Sensei akan menolak? Sensei akan menjadi asisten pelatih tim di Amerika lalu sensei menolaknya?”
“Aku tidak mau meninggalkanmu,” ucap Sho lirih.
“Ini yang aku takutkan. Aku tidak suka seperti ini. Makanya......aku ingin mengakhiri semuanya,” kata Opi pelan.
“Ini tidak menyelesaikan masalah kita,” sergah Sho tidak menerima.
Opi mendengus pasrah. “Kalau kau punya usul lain yang lebih baik, aku siap mendengar.”
Sho diam. Dia pun merasa ini tawaran yang bagus. Sudah menjadi impiannya untuk menjadi bagian dari tim besar setelah impiannya menjadi pemain basket kandas karena cedera. Tapi kalau ia harus meninggalkan Opi, rasanya dia tidak sanggup.
“Sepertinya tidak ada lagi jalan keluar. Urusanku sudah selesai. Aku permisi,” Opi membungkukkan badannya sedikit sebelum berlalu meninggalkan Sho yang masih tertunduk.
TBC~
astaga~ kena racun apa q bikin fanfic kek begini????
maaph klo tidak sesuai dengan bayangan ahahahha...
nama nya juga imajinasi...
#plakk
komen yah~
Minggu, 17 April 2011
[Fanfic] Accidentally In Love (chap 10)
Title : Accidentaly In Love
Chapter : Ten
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,InoOpi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~
P.S : di chapter ini banyak di ceritain soal Din ama Nu.... :P
“Tapi, aku sudah mengecewakan Miyuy, Pychan, Opi. Mereka mungkin…”, Nu berusaha menarik tangannya dari jemari Daiki.
“Dengar. Aku percaya, mereka akan memaafkan Nuchan, mereka menunggu Nuchan”.
“Hh…”
Berat hati, Nu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar rawat Din. Ragu. Hanya beberapa helaan nafas yang terdengar. Sesuatu yang entah apa membuat Nu menghentikan tangannya sendiri sesaat hendak mengetuk pintu.
“Aku tak bisa…”, ujarnya, menundukkan kepala dan kemudian berbalik
“Ternyata disini…”
Sepasang lengan memberikan sebuah pelukan pada punggung Nu yang masih bergetar. Mengejutkannya.
“Dinchan!”, seru Nu begitu terkejut
“Hehe”, hanya sebuah cengiran yang menjadi jawaban Din. Cara seorang sahabat untuk mengisyaratkan sebuah glad-to-see-you-again
“Aah! Apa-apaan?! Ayo ke tempat tidur lagi, jangan terlalu banyak bergerak!”, nada bicara Nu terdengar panik, dengan sehati-hati mungkin memapah Din kembali ke tempat tidurnya.
“Aku baik-baik saja, jangan terlalu cemaskan aku…”, Din tampak menggembungkan pipinya.
Sementara ditempat yang dituju, tiga wajah tersenyum sudah menyambut mereka
“Selamat datang kembali…”, ujar Py tersenyum.
Mata Nu berkaca – kaca melihat senyuman itu. Senyuman yang begitu tulus.
“Kami kangen kalian…”, tambah Opi seraya memeluk kedua sahabatnya itu. Tentu saja, Miyuy dan Py juga tak akan melakukan apapun selain hal yang sama
seakan samar mulai terdengar
“Gomen ne…”, ucap Nu lirih
“Ng? Minta maaf buat apa?”, balas Miyuy
“Maaf, aku sudah egois. Mengacuhkan kalian. Sudah jadi sangat menyebalkan…”
“Hey, hey…ada apa ini?”, Dinchan mulai menaikkan sebelah alisnya, tak mengerti dengan apa yang terjadi
“Ah, bukan. Harusnya aku bilang terimakasih. Terima kasih sudah peduli padaku. Terima kasih sudah menjadi temanku sejak awal. Terima kasih untuk tak marah padaku. Terima kasih untuk masih menerimaku kali ini…”, menghapus air mata, Nu mulai mengurai senyuman tipis
“Eh? Kenapa jadi melankolis begini, sih?”, Opi bermonolog, menggaruk kepalanya yang samasekali tidak terasa gatal
“Tentu. Kita kan teman. Jadi tak perlu bilang maaf ataupun terima kasih”, lagi, Py memperlihatkan senyumannya
“Ya, ya! Kita ini satu, walaupun cuma bagian kecil yang hilang, mana bisa jadi lengkap…”, tambah Opi ceria
“Terima kasih…”
Seseorang menyaksikan pemandangan itu dari ujung pintu. Senyuman dibibirnya seolah mengatakan ‘aku berhasil’. Ia tak ingin -atau setidak nya, belum ingin- mengacau momen bahagia itu. Menonton dari kejauhan sudah cukup membuatnya senang.
“Hey, Daiki. Sampai kapan mau berdiri disitu terus?”, panggil Opi
“Eh?”, Daiki terkejut
“Eeh? Kalian kesini berdua?”, tanya Miyuy
“Memangnya ada kemungkinan lain?”, Din mencolek-colek Nu, mencoba menggoda
“Kyaaaa”, teriak Py pelan, tapi terdengar begitu histeris
“Ha? Kenapa harus sebegitu histeris? Kalian juga datang kesini sama-sama, kan?”, Nu terheran seraya meluncurkan sebuah tanya bernada datar
“Akhirnya, hanya Daichan yang bisa membawa Nu keluar dari kamar…”, lanjut Py
“Ah, itu…”, Daiki tak bisa membalas, hanya tersenyum malu-malu, membuatnya terlihat semakin inosen
“Yah, sudahlah”, timpa Nu dingin. Pikirnya, jerit histeris Py pasti akan terhenti bila mengetahui apa yang terjadi pada pipi kirinya beberapa waktu lalu
-----------
-Kereta dalam perjalanan pulang-
“Arioka…”
“Hm?”
“Buka telapak tanganmu”
Tanpa banyak pertanyaan, Daiki melakukan apa yang diperintahkan Nu
Nu meletakkan sesuatu di telapak tangan itu
“Apa ini?”
“Huh, anak balita saja bisa langsung tahu kalau itu sebuah kunci…”
“Iya, tapi kunci apa…?”
“Mulai sekarang, aku tak akan mengusirmu dari kamarku…”
“A, ah!”, Daiki seketika tak bisa menjawab ketika mendapati hasil pemikirannya
“Ne, Arioka…untuk yang telah kau lakukan, terimakasih…”
“Bukan masalah”, balas Daiki, tersenyum seperti biasa “Ah! Semuanya bukan gratis lho, Nuchan!”, bocah imut itu menarik kembali kata-katanya
“Ha? Jadi aku harus apa lagi?”, tanya Nu pada remaja manis yang sejak tadi duduk tepat disampingnya itu
“Panggillah dengan namaku”, ucap Daiki dengan wajah mantap
“Daiki…”, panggilan itu terdengar begitu pelan dan lembut, tapi sang pemilik nama bisa mendengarnya, terlebih ketika Nu mulai menyandarkan kepala dibahu kanannya dengan perlahan
“Ya, tetaplah begitu…”
Senyuman lembut itu kembali terlihat. Nu tak perlu khawatir sosok itu akan beranjak meninggalkannya.
Begitu nyaman.
Itulah, tempatnya.
Sekarang.
Tenang. Beberapa penumpang yang terlihat sudah nampak tertidur. Hanya ada suara sentuhan secepat kilat antara kereta dan rel listrik, juga yang menghias pandangan dari luar jendela hanyalah bias-bias cahaya yang dihasilkan remang malam.
“Hey, Daiki…aku tak benar membencimu…”
Tak ada jawaban
“Tidur, ya? Yah, sudahlah…”
-------------------
“Hmm...”, mata Yuya beralih dari satu benda ke benda yang lain
“Nona, tolong berikan topi yang cocok untuk seorang gadis manis...”, mendengar suara itu, membuat Yuya segera mengalihkan pandangannya pada sumber suara
“Aniki!”
Orang yang dilihatnya itu. Tak salah lagi, Jin, kakaknya sendiri. Yuya melangkahkan kakinya dengan spontan kedalam kamar pas terdekat, menyembunyikan diri dari pandangan Jin.
Sama sekali tak disangkanya, kalau ide awalnya pergi ke toko fashion untuk membeli topi untuk Din –yang kepalanya masih berhias sedikit perban- justru membuatnya bertemu dengan sang kakak
“Uhh...”, sesuatu yang bahkan tak diketahuinya membuat Yuya dengan sabar mengintip dari balik pintu kamar pas, memenuhi rasa penasarannya pada apa yang akan terjadi
“Tentu tuan. Bagaimana dengan yang ini?”, tawar seorang pegawai toko pada Jin
“Ah, tidak-tidak...tolong berikan yang modelnya lebih casual, kurasa casual style lebih cocok untuknya...”
“Kalau begitu...yang ini?”, tawar pegawai itu untuk kedua kalinya, mengambil topi dengan model yang berbeda
“Hmm, sempurna. Tolong bungkus yang itu...”, pinta Jin tersenyum
Gadis manis
Casual style
Yuya semakin penasaran, “Untuk siapa aniki membeli topi itu? Apa aniki sudah dapat pacar baru, tapi Naomi...aah! Apa dia beli untuk Dinchan? Aniki kan sering memuji Dinchan manis, dan gaya casual, aah...”, rasa penasaran sekaligus gusar membuat Yuya tak menyadari mulutnya terus bergumam
“Apa ini untuk pacar tuan...?”, pegawai cantik itu mencoba bersikap bersahabat pada Jin. Mungkin untuk Yuya, justru yang seperti itu akan membuatnya terganggu
“Bukan-bukan, aku memang menyukainya, tapi dia punya orang lain yang disukainya. Hahaha...”, Jin tertawa pelan tapi terdengar renyah
“Hah?! Orang yang disukai aniki menyukai orang lain?! Tapi siapa orangnya?!”
“Ah, sayang sekali. Tapi saya rasa, pria seperti tuan tak akan sulit untuk...”
“Hey, nona. Berapa lama lagi jam kerjamu akan selesai?”, tanya Jin sebelum pegawai itu menyelesaikan kalimatnya
“Sekitar setengah jam lagi”, balasnya tersenyum
“Mau jalan-jalan denganku?”, tawar Jin, dengan senyuman itu, mungkin tak ada perempuan yang akan menolak
Tak ada banyak kata-kata, Yuya hanya memukul keningnya sendiri, “Dasar aniki...”
“Baiklah...Ng, wajah tuan rasanya begitu familiar. Apa tuan artis atau semacamnya?”
“Ahahaha, banyak yang bilang begitu. Tapi sayangnya, aku orang biasa...”
Bohong. Jin justru telah memulai karirnya di dunia fashion model bahkan sejak masih sangat muda. Dan dunia itu pula yang mempertemukannya dengan Naomi...
----
Tersenyum. Din menatap refleksinya sendiri dalam cermin. Ia telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, keadaannya juga jauh membaik. Dan yang terpenting, Jin akan membawanya bertemu dengan Naomi, mereka sebentar lagi akan berkunjung ke mansion keluarga Lawrence
Beberapa kali ia membetulkan posisi topi dikepalanya. Saat ini masih ada perban yang menempel di kepala Din. Tapi Jin memberinya sebuah topi, Din menyukainya, terlebih karna itu pemberian dari Jin
“Sudah...sempurna”, suara yang bersumber dari seseorang di ujung pintu itu mengejutkan Din
“Yuya?!”
“Cocok sekali, topi itu cocok sekali untukmu...”, tersungging senyuman tipis dari bibir Yuya
Din seakan tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh pendengarannya. Tuan Takaki Yuya yang sombong itu memujinya. Sempurna katanya. Cocok katanya. Dan senyuman itu...Sangat aneh. Selama ini, apapun yang dikenakan Din pasti mendapat celaan dari Yuya, terlebih lagi bila Yuya tahu yang dikenakan Din adalah pemberian dari sang Aniki
“Tak ada yang perlu dibetulkan lagi. Kau sudah tampak cantik. Jadi sekarang, ayo turun, Aniki sudah menunggu...”
Dan sekarang...cantik
“Hah, mungkin efek kecelakaannya belum sepenuhnya hilang. Kepalaku terbentur sampai ejekan Yuya terdengar seperti pujian...”, gumam Din. Tak ada sepuhan merah khas dari seorang gadis yang dipuji penampilannya, justru Din saat itu ingin menampar pipinya sendiri
-Dibawah tangga-
“Jin, apa kau yakin?”, ekspresi keraguan tampak di wajah seorang pria muda berrambut coklat muda
“Tenanglah, Toma...”, Jin hanya menepuk bahu sahabatnya itu
“Hh, apa boleh buat. Aku percaya padamu, kawan. Kau selalu mengerti apa yang akan kau lakukan”
Pria itu, Ikuta Toma, yang tak lain adalah kakak dari Ikuta Din. Toma sengaja membolos dari rutinitasnya karna ingin mengetahui keadaan adik tersayangnya. Pekerjaannya sebagai dokter trainee di bagian forensik rumah sakit pusat membuatnya jarang bisa pulang ke rumah bahkan sejak Toma menempuh pendidikannya di bidang itu.
“Aku merindukanmu, Toma. Lama sekali aku tak menghabiskan waktu bersamamu dan Tomo , aku tak menyangka ternyata kau kembali karna alasan seperti ini...”
“Aku turut bersedih untuk gadismu, Jin...”
Jin hanya mengalihkan pandangannya yang sejak tadi menatap langit-langit kini berubah menatap lantai, berusaha mengembangkan senyuman
“Juga Dinchan...aku sangat berterimakasih padamu karna selalu menjaganya. Kau yang selalu berada disisinya, bukan aku...Sejak dulu, aku memang bukan kakak yang baik...”
“Yes, you are”, celetuk Jin
“Sejak kecil pun, ketika aku berlari meninggalkan Dinchan supaya tak mengikutiku main dengan anak-anak laki-laki, kau justru berbalik dan mengajaknya...”
“Kau terlalu kejam, Toma”, Jin meninju bahu toma pelan
“Hey, waktu itu aku masih kecil. Kupikir, kalau anak perempuan yang ikut main, justru akan merepotkan, kelompok kita bisa-bisa kalah terus”
“Tapi ternyata Dinchan pintar, kan...?”
Toma tersenyum “Kau selalu membelanya, Jin. Lebih dari yang aku lakukan...Bahkan dulu kau memberiku ultimatum akan merebut Dinchan dariku”
“Ha ha ha. Waktu itu wajah sewotmu tampak lucu sekali, Tomo juga ikut mengejek!”
“Huh”, Toma tampak mencibir, tak bisa membalas kata-kata Jin. Tapi dalam hatinya ia senang, Jin tak pernah berubah, dia selalu bisa tertawa dengan apapun yang terjadi.
“Cukup membicarakan masa muda, kakek-kakek...”, Yuya membuyarkan nostalgia kedua sahabat itu dengan kurang ajarnya
“Ah, Yuya”, Toma menoleh kearah datangnya suara. Yuya, dengan Din dibelakangnya
“Niichan, aku berangkat...”, ucap Dinchan ceria
“Ng, ya...”, balas Toma sedikit ragu. Jin kemudian melempar sebuah senyuman untuk meyakinkan sahabat karibnya itu
-------------------
“Jinjin~ kenapa sejak awal tak beritahu kalau Naomi-neechan sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit? Aku kan khawatir, dan kalian tak pernah menjawab pertanyaanku dengan benar...”, Din memvokalkan sebuah kalimat dengan nada manja
Sekejap, Yuya yang sejak tadi matanya menatap keluar jendela mobil, beralih pandang kearah Din. Tanpa kata. Dan pandangan itu, begitu sulit diartikan
Din sedikit mengerutkan keningnya. Menurutnya, terlalu banyak yang aneh dari Yuya sejak kepulangannya dari rumah sakit. Memujinya, itu aneh. Dan Yuya yang lebih sering diam tanpa melemparkan celaan-celaannya, terlebih aneh. Saat seperti itu, Din berpikir bahwa Yuya bisa menjadi terlihat sangat...cool.
Sementara Jin tak menjawab, tapi Din bisa melihat senyuman lembutnya dari spion depan.
-------------
-Mansion Keluarga Lawrence-
“Jadi kau yang bernama Ikuta Din...”, figur wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Naomi itu menatap Din nanar beberapa saat setelah ia memperkenalkan diri.
“...ah, y..ya...”
“Syukurlah, kau selamat!”, terkejut, Din bisa merasakan kedua lengan itu mendekapnya erat. Terguncang, wanita itu mulai terisak
Din tak bisa berkata. Pikirnya masih banyak bertanya. Kenapa penyambutan dari ibunda Naomi-neechannya bisa begitu...berlebihan
“Ah, maafkan...aku masih terbawa emosi...”, wanita Jepang yang bermarga Lawrence itu melepaskan pelukannya dan menundukan kepala untuk menyeka airmatanya yang sempat mengalir. Sementara pria pirang bermata safir yang berada tak jauh dari mereka kemudian merangkul bahu wanita itu untuk menenangkannya
Jin meraih jemari Din dan menggenggamnya. Bingung. Din menggigit bibir bawahnya dan menatap Jin dengan pandangan sedih
Hanya beberapa langkah dari ruangan itu. Mereka bisa melihat Naomi.
Ia terlihat cantik. Tersenyum begitu tulus dengan rambut pirangnya yang terurai.
Masih terlihat cantik. Selalu terlihat cantik...
Sekalipun figur itu hanya bisa dilihat dalam sebuah fotograf. Terbingkai indah bersama benda-benda lain disekitarnya
Buah-buahan dan makanan untuk persembahan
Lilin-lilin yang masih menyala
Dupa
Guci keramik kecil
Naomi akan selalu terlihat cantik...
Sekalipun mereka hanya melihat fotografnya
Dalam altar persemayaman
Terdiam. Din masih belum bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Tak ingin percaya. Ia berharap apa yang baru saja diketahuinya hanyalah sebuah lelucon bodoh diawal bulan April
“Jinjin, Naomi-neechan...”, nada bicaranya kini sedikit bergetar.
Yuya bisa melihat, kakaknya itu tak bisa menjawab, hanya menunduk dan mempererat genggamannya diantara jemari Din
Saat itu juga, tangis Din mulai pecah. Terisak hebat dihadapan altar persemayaman itu
“Naomi-neechan...”
Figur cantik itu. Mata safir menyejukkan. Helaian rambut pirang indah itu. Tawa renyah dan senyuman ramah itu. Sekarang Din tak akan bisa melihatnya lagi
Untuk mengucap selamat tinggal rasanya teramat pahit dan menyedihkan. Ia tak ingin percaya. Masih berharap ini hanyalah semua lelucon, kalaupun bukan, ini hanyalah mimpi buruk. Seseorang kelak akan membangunkannya dan keadaan kembali membaik
Semuanya begitu nyata. Bukan lelucon. Tak ada mimpi buruk, tak ada yang membangunkan
Pahit itu memang nyata. Sedih itu mesti dirasanya
Kehilangan
Sesak
Jin bergerak untuk mendekap Din. Berharap bisa menenangkan gadis itu biarpun sedikit
Airmata terus mengaliri pipi putih Din. Menggumamkan sebuah nama dalam isaknya. Sementara Sang Pemilik Nama terus tersenyum
Senyuman cantik abadi yang hanya bisa dilihat dalam fotograf
---
FLASHBACK
-Sore hari di kamar Yuya-
“Aah, aku kehabisan pocary...”, menengadahkan kepala, hanya dua sampai tiga tetes terakhir yang jatuh kemulut Yuya. Menghafal sejarah dengan langsung melisankannya cukup berhasil membuat tenggorokannya kering
“Aku harus ambil beberapa kaleng lagi...”, kaki Yuya turun menapaki satu persatu anak tangga
Sepi. Kedua orangtuanya masih berada di luar kota untuk keperluan pekerjaan, mereka hanya menyempatkan pulang ketika mendengar berita kecelakaan Din dan Naomi. Jin, tentu saja Yuya sampai dirumah lebih dahulu. Sekilas, Yuya mendengar sebuah ‘Tadaima’ ditengah waktu belajarnya, tapi ia tak terlalu peduli dan tenggelam dalam hafalan sejarahnya, bukan tanpa alasan, tapi karna beberapa bulan lagi ujian final akan datang
KLONTANG
“Aniki? Is that you?”, tanya Yuya ketika mendengar suara kaleng minuman yang jatuh. Ragu, ruangan yang dirasanya merupakan tempat bersumbernya suara bahkan sama sekali gelap
“Yuya...masih bangun, ya...”
Yuya menemukan Jin seketika ia menyalakan lampu ruang tengahnya. Jin yang nampak sangat kacau. Tapi itu bukan jadi yang pertama untuk Yuya
“Aniki...aku tahu aniki sangat sedih, tapi kumohon berhentilah minum-minum seperti itu...”, ucap Yuya terdengar sangat sedih memandangi kakak semata wayangnya terlihat kacau dengan botol juga beberapa kaleng minuman beralkohol disekelilingnya
“Hey, Yuya...bagaimana persiapan ujianmu...?”, tanya Jin. Yuya bisa dengan jelas mencium aroma alkohol yang begitu menyengat ketika beralih mendekat. Ia tak menyangka bahwa kakaknya bisa jadi sedemikian rapuh
“Sudahlah, Aniki...tolong jangan minum lagi, Naomi-san juga pasti tak akan menyukainya...!”, Yuya mulai membereskan kaleng-kaleng bekas minuman ke tempat sampah –bahkan yang masih berisi-
“Aaah, tapi Yuya...”, protes Jin “..aku bahkan bisa lihat Naomi...dia sekarang jadi bidadari...he he he”
“Hh...”, menghela napas, sekarang Yuya tahu kalau kakaknya sudah benar-benar mabuk
“Aniki, aku akan membawamu ke kamar. Sekarang tidurlah, besok pagi panggil saja aku kalau Aniki butuh obat sakit kepala...”
Perlahan, Yuya mulai memapah Jin berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Memang bukan pekerjaan yang mudah, bahkan Jin terus mengoceh tak jelas selama Yuya susah payah memapahnya
“Hmm, ternyata kau manis juga ya...Yuya...”, masih dengan ocehannya, Jin kemudian menempelkan bibirnya di bibir Yuya. Hal itu membuat Yuya kontan mendorong Jin. Beruntung, mereka sudah sampai di depan tempat tidur Jin, jadi Jin mendarat di tempat tidurnya tanpa harus menderita sakit karna jatuh di lantai
“A, apa yang Aniki lakukan?! Itu menjijikan!”, wajah Yuya berubah merah karna kesal bercampur malu
“Kenapa, Yuya...?”
“Ah! Sudahlah!”, ujar Yuya frustasi sekaligus meratapi nasibnya --hanya di dalam hati. Semua hal bisa saja bisa terjadi pada orang yang tengah berada dalam pengaruh alkohol
“Ah, ya!”, sebuah ide tiba-tiba muncul dari pikiran Yuya “Aniki, aku ingin tahu untuk siapa Aniki membeli topi di toko xyz tadi siang!”, ujar Yuya langsung pada sasaran
“Hey! Kau tahu aku pergi ke toko untuk membeli topi! Ternyata adikku punya bakat esper!”, jawaban dari Jin hanya membuat Yuya memicingkan mata
“Bukan itu...Ayolah, Aniki...katakan padaku siapa gadis yang Aniki maksud! Yang Aniki sukai, yang Aniki ceritakan pada pegawai toko...”, Yuya beralih duduk di hadapan Jin, diatas tempat tidurnya
“Kau begitu ingin tahu, Yuya...kalau begitu, tebaklah...”, Jin tersenyum, dari matanya, Yuya bisa memastikan kalau kesadaran belum kembali pada Jin
“Apa dia...Dinchan?”, tebak Yuya
“Kau benar-benar punya bakat esper, adikku!”
“Apa?!”, Yuya membelakakkan matanya
Jin tak membalas
“Lalu...lalu kenapa Aniki kabur dari perjodohan yang telah dirancang? Perjodohan antara putra pertama keluarga Takaki dengan putri keluarga Ikuta! Kenapa Aniki tidak menerima perjodohan itu?!”
Jawaban dari Jin membuat Yuya memunculkan sebuah pertanyaan besar. Tentang masa lalu mereka. Tentang Jin yang kabur dari rumah karna menolak perjodohannya dengan putri keluarga Ikuta yang tak lain adalah Dinchan yang sejak dulu disukainya.
“Alasannya...alasannya adalah kau, Yuya...!”, Yuya semakin terkejut ketika Jin mengarahkan telunjuk ke dadanya masih dengan ekspresi khas orang yang tengah mabuk
“Ma, maksudnya?!”
“Aku tahu, Yuya. Aku tahu, sejak dulu kau menyukai Dinchan. Walaupun kau selalu melakukan hal-hal konyol padanya, tapi aku bisa membaca dengan jelas kalau kau suka dia. Aku kabur dari perjodohan supaya kau bisa bersamanya, Yuya!”, Yuya seolah tak bisa berkata mendengar pemaparan yang keluar dari mulut Jin secara gamblang. Ia berani bertaruh, dalam keadaan sadar, Jin tak mungkin bertutur sejujur itu
Yuya masih mematung, pikirannya belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang dipaparkan Jin. Masih terkejut.
“Aku menyayangimu, Yuya. Sejak kepergian ibu, mendapatkanmu sebagai adik seperti membawa harapan baru untukku, harapan untuk jadi anak yang baik, menjadi seorang kakak...”
Ya, wanita yang dipanggil ibu oleh Jin dan Yuya saat ini adalah ibu dari Yuya. Sementara wanita yang melahirkan Jin meninggal karna kecelakaan saat Jin berusia lima tahun dan kemudian ayah mereka menikahi wanita yang kelak melahirkan Yuya, sebagai adik dari Jin. Begitu yang pernah Yuya dengar dari ayah mereka.
“Aku sangat menyayangimu, juga Dinchan...Aku tak ingin mengecewakanmu, kabur dari perjodohan dengan harapan kau bisa bersama Dinchan. Kupikir aku masih bisa tetap menunjukkan perasaanku padanya dengan cara lain, memperlakukannya seperti adikku...”, pengakuan Jin masih berlanjut
“Tapi Dinchan juga sejak dulu selalu menyukai Aniki. Dia terobsesi pada Aniki!”
“Yuya...aku bisa melihat perbedaan dari caranya melihatmu...”
Yuya tak bisa membalas
“Berusaha mengabaikan perasaanku sendiri ternyata tak mudah. Walaupun aku mengencani banyak gadis, semuanya terasa hampa. Ketika aku bertemu Naomi, dia mulai mengisi kekosongan di hatiku. Tapi sekarang, Naomi...”, Jin mulai terlihat frustasi
“Tak apa, Aniki...aku mengerti...”, entah hal apa yang mendorong Yuya untuk mendekap Jin kedalam pelukannya. Baginya itu terasa sangat...aneh, dan pastinya, canggung. Tapi Yuya sangat ingin menenangkan kakaknya itu. Saat Jin mulai menangis, hatinya juga terasa sakit. Terlebih setelah pengakuan yang dilakukan Jin dalam keadaan tak sadar. Jin telah banyak menderita rasa sakit. Ia mengorbankan perasaan pada Dinchan yang disukainya. Jin juga kembali kehilangan, setelah kehilangan ibunya dalam kecelakaan, sekarang hal itu berulang pada Naomi
“Ne, oyasumi...”, ucap Yuya lembut ketika mematikan lampu kamar Jin dan menutup pintunya.
Kalimat demi kalimat dari pengakuan Jin terus berlalulalang di pikirannya.
“Hh...”
Galau. Yuya menyandarkan kepalanya di pintu kamar Jin, menghela napas berat. Ia masih tak bisa percaya akan apa yang telah didengarnya.
Jin. Sekalipun Yuya telah bersama sang kakak selama 18 tahun hidupnya, tapi banyak hal yang baru diketahui dari kakak sematawayangnya itu.
Yuya mengagumi Jin. Tentang pembawaannya yang menyenangkan. Kedewasaannya sebagai seorang kakak. Caranya menjalani hidup dengan penuh kebebasan. Dan Jin tentunya punya semua yang disukai dan diinginkan Din. Tanpa pernah diungkapkan, Yuya selalu ingin menjadi seperti sang kakak yang begitu disukai Din. Tapi dibandingkan dengan Jin, sekaligus membuatnya sangat kesal karna merasakan tak adanya penghargaan sebagai seorang individu untuknya, hanya adik-dari-Takaki Jin.
Dibalik semua tingkah konyol yang menyenangkan, ternyata Jin menyimpan kesedihan. Mengorbankan perasaannya sendiri demi Yuya. Yuya selalu berpikir bahwa mengencani banyak gadis adalah ekpresi Jin untuk menunjukkan kebebasan hidupnya. Ternyata Yuya salah, itu hanyalah upaya Jin mencari tempat dimana perasaannya akan berpaut. Naomi begitu sempurna untuk Jin. Ia sama sekali berbeda dari gadis-gadis lain yang menjadi teman kencan Jin.
END OF FLASHBACK
------------------------
Andai saja Yuya sudah mendapatkan lisensi mengemudinya, ia akan duduk di bangku kemudi dan membiarkan Jin duduk bersama Din di bangku penumpang.
Jin membiarkan Din untuk menangis hingga ia lega. Nafasnya kini terengah. Bibirnya kelu dan wajahnya sembab luar biasa. Kepalanya mulai pusing dan perutnya terasa mual karna terlalu banyak menangis.
Yuya sedikit banyak menyesali dirinya sendiri yang tak bisa menenangkan Din sebaik Jin. Saat gadis itu mulai terguncang sedih, seharusnya jemari Yuya yang menyilang dan menggenggam erat tangannya. Saat tangis mulai pecah, harusnya Yuya yang datang mendekapnya. Begitu yang diinginkan Yuya, tapi ia tak bisa.
Saat Din masih menyisakan isaknya, Yuya hanya bisa diam –hatinya ikut merasakan perih. Sekalipun ia duduk disamping gadis itu. Yuya benci itu. Dulu ia bisa menenangkan Dinchan yang menangis, tapi kenapa saat ini terasa berbeda.
Juga Jin, matanya hanya menatap lurus kejalanan luas di depan yang mereka lalui. Yuya yakin, saat ini Jin ingin menangis, tapi ia berusaha untuk kuat, berpura-pura terlihat kuat.
--------------
Py kembali mencoba menghubungi Hikaru untuk keberapa kalinya. Ponsel Hikaru tak aktif, Py sedikit khawatir dengan keadaan Hikaru yang tak juga ada kabar. Sudah beberapa hari pula Hikaru tak datang ke sekolah. Py yang tak sanggup untuk bertanya pada tiga teman Hikaru yang lain, ia malu untuk sekedar bertanya pada Yabu atau Taiyou.
Di tambah Py tahu Yabu sedang ada masalah dengan Miyuy, menambah ke tidak percayaan Py untuk bertanya pada Yabu.
“Huufftt~”, Py melepaskan nafas berat.
Sudah hampir empat hari, dan atap ini terasa sangat kosong tanpa kehadiran HIkaru. Tapi Py sedikit heran, dengan tak adanya Hikaru, ia lebih sering menggambar lagi, dan tentu saja ia menggambar sosok Hikaru.
Py kaget ketika seseorang terdengar datang ke atap. Jarang sekali ada yang mau mengunjungi tampat tertinggi di sekolahnya itu.
“Miyuy-chan??”, Py kaget melihat sosok Miyuy yang datang tiba – tiba.
“Hi Py!!”, sapa Miyuy lalu duduk di sebelah Py.
“Ano…. Daijoubu??”, tanya Py takut – takut.
Miyuy merebahkan kepalanya di bahu Py, menggeleng pelan. “Aku tak tahu apa menghindar darinya adalah keputusan tepat… tapi aku juga tak sanggup berdekatan dengannya….”, jelas Miyuy.
Py tak mampu menjawab. Baginya yang tak pernah mengalami masalah percintaan sangat sulit untuk dirinya memberi nasehat atau pandangan.
“Py menunggu Yaotome-kun?”, tanya Miyuy mengagetkan Py.
“Eh??hmmm~ tidak kok…”, jawabnya gugup.
“Sou…. Kukira kau menunggunya…”, imbuh Miyuy sambil baranjak dan menuju pinggir atap. Entah apa yang Miyuy pikirkan, tapi keduanya sibuk dengan pikiran masing – masing.
“Dinchan terpukul sekali ya… ia belum masuk hingga hari ini…”, kata Py akhirnya membuka pembicaraan.
“Ya…”, jawab Miyuy pelan.
“Aku juga akan begitu jika aku jadi Dinchan…”, ungkap Py lagi.
Miyuy kembali tak menjawabnya.
“Aku mau ke perpus ya Py-chan… mau ikut?”, tanya Miyuy sambil beranjak.
Py menggeleng, “Aku disini saja..”, jawab Py.
“Baiklah…”, Miyuy meninggalkan Py sendiri lagi.
Py kembali melihat ke arah ponselnya yang belum juga berbunyi sejak tadi. Py mulai ber asumsi jika terjadi sesuatu pada Hikaru.
“Apa dia sakit dan tak ada yang merawatnya?”, tanya Py dalam hati.
“Atau dia kecelakaan?”
“Atau dia…..”
Semakin lama justru pikirannya semakin kacau. Py membuka buku sketsa nya. Memutuskan bahwa menggambar adalah satu – satu nya cara dia untuk melupakan kenyataan bahwa Hikaru tidak ada.
“Menggambar apa?”, tanya seseorang mengagetkan Py.
“Kyaaaa~”, teriaknya panik dan menutup buku sketsanya.
Ia dihadapan Py.
Tersenyum seperti biasanya.
Tak ada yang kurang dari senyum itu
“Hikka-kun~ “, panggil Py lirih.
Rasanya sudah sangat lama ia tak melihat Hikaru di hadapannya.
“Tak usah kaget begitu…”, ujar Hikaru lalu duduk di samping Py, menyentuh pipi Py pelan dengan kedua tangannya.
Py masih diam karena tak sangka ia malah merasa sangat rindu pada Hikaru. Sehingga rasanya seperti mimpi melihat Hikaru di hadapannya.
“Apa kabar?”, tanya Hikaru, seakan tak terjadi apa – apa.
“Baik..”, jawab Py menunduk karena baru sadar ia memandang Hikaru cukup lama.
Keheningan terjadi setelahnya. Hikaru menggenggam tangan Py namun tak bersuara sedikitpun. Tidak seperti Hikaru yang biasanya.
“Hikka-kun…”, panggil Py pelan.
“Ya?”
“Anou…. Hikka-kun kemana saja? Aku jarang melihatmu di sekolah…”, kata Py pelan. Ia tak mau bilang kalau ia menunggu Hikaru di atap ini setiap hari.
“Ada sesuatu yang harus kuurus..”, jawab Hikaru, mempererat genggamannya pada Py.
Tak seperti Hikaru yang biasa sangat ceria, Hikaru yang kali ini di hadapan Py sangat pendiam.
“Pulang sekolah mau ke taman?”, seru Hikaru yang terdengar seperti ajakan kencan.
Py mengangguk.
--------------
Yabu menuju perpus. Walaupun bukan kebiasaannya berdiam diri di perpus, tapi seridaknya suasana hening disana dapat sedikit membuatnya lebih baik. Ia benci perasaan bingung seperti ini, dan dalam keadaan seeprti ini, ia juga tak mau diganggu oleh Shoon atau Taiyou.
Suasana perpus memang bukan hal yang biasa untuk seorang Yabu yang biasanya berada di tempat keramaian. Sehingga kali ini pun Yabu merasa sedikit bosan di tempat ini, namun tempat inilah yang paling tidak mungkin didatangi ketiga temannya, sehingga ia bisa sendirian. Pikiran Yabu sedang kacau, Miyuy tak mau dihubungi, sama sekali tak ada kabar, bahkan di sekolah pun rasanya sulit menemui Miyuy.
Jemari Yabu memainkan buku yang entah apa judulnya ia pun tak tahu. Ia hanya bergerak tanpa berfikir apapun.
“Eh? Yabu-kun…”, panggil seseorang.
Yabu menoleh, dan setelahnya kaget dengan siapa yang dihadapannya. Yabu tak menjawab panggilan itu, hanya memandang sosok di hadapannya sekarang.
“Hisashiburi…”, sapanya lalu menghampiri tempat Yabu.
“Ah yea~ hisashiburi…”, jawab Yabu akhirnya.
“Ada apa Yabu-kun? Tak biasanya kau ada di perpus…”, seru orang itu karena tahu kebiasaan Yabu.
Lagi – lagi Yabu enggan menjawab.
“Pasti kau ada masalah ya?”
“Maa~ bisa dibilang seperti itu.”, jawab Yabu singkat.
“Aya!! Aku menemukan buku itu!”, seru seseorang memanggil gadis di hadapan Yabu.
“Iya! Aku kesana…”, lalu menoleh kemabali pada Yabu, “Aku duluan Yabu-kun… mudah – mudahan kita bisa bertemu lagi..”, kata gadis itu lalu tersenyum.
Yabu bahkan masih bingung ketika Ayame meninggalkan tempat itu, kenapa Ayame menyapa nya?
-----------------
Genggaman tangan Hikaru tak terlepas dari tangan Py sedari tadi. Tapi tak seperti Hikaru yang selalu ceria, kali ini tampaknya Hikaru cukup murung. Py hanya bisa menurut kemana Hikaru membawanya tanpa banyak protes, dadanya bergemuruh karena senang dan lega melihat Hikaru lagi.
Hikaru mengajak Py duduk di bangku taman yang biasa mereka datangi. Tempat ini juga yang menjadi saksi mereka menjadi dekat.
“Py….”, panggil Hikaru pelan.
Tanpa menjawab, Py menoleh memandang Hikaru.
“Kali ini langitnya cukup cerah…”, kata Hikaru seakan bermonolog.
Py ikut menengadah melihat langit sore yang memang terlihat cerah dengan semburat jingga memenuhi warna langit.
“Un…”, jawab Py.
“Py pernah bilang kalau Py paling suka sama langit cerah kan?”, ujar Hikaru lagi.
Py mengangguk.
“Aku juga suka langit cerah…”, kata Hikaru.
“Kenapa?”
“Karena mengingatkanku pada Py.. hehe…”.
Py hanya diam saat ia merasa genggaman Hikaru semakin kuat.
“Ada yang salah?”, tanya Py akhirnya mencoba berani bertanya pada Hikaru.
Hikaru menjawab dengan senyumannya, lalu menggeleng pelan, “betsu ni… tidak ada apa – apa kok…”
Py ingin sekali tahu apa yang sedang Hikaru rasakan. Setidaknya ia ingin meringankan beban Hikaru sedikit saja. Karena tampaknya Hikaru sangat murung.
“Hikaru-kun…”, panggil Py.
Hikaru tak menjawab, menggenggam tangan Py lebih erat. Mereka terdiam. Merasakan kehenigan yang justru membuat mereka tenang dan damai, ditemani oleh langit sore itu.
---------------
Kejadian sapa menyapa siang itu di perpus membuat Yabu heran setelah sore itu ketika ia hendak pulang, sosok Ayame ada di depan kelasnya.
“Yabu-kun!!”, sapanya ceria.
Yabu hanya memandang Ayame tanpa kata – kata karena terlalu heran.
“Ada yang ingin aku bicarakan!!”, serunya.
“Hmmm~ aku tak bisa sekarang Aya… aku ada urusan..”, elak Yabu cepat.
Ayame menunjukkan wajah sedih, “Baiklah… besok bagaimana?”, tanya nya lagi.
Yabu mengangguk, “Maa~ baiklah…”, jawabnya sekenanya.
Yabu hari itu akan ke rumah Miyuy. Bagaimana pun ia harus menjelaskan semuanya pada Miyuy. Walaupun ia tahu, seharusnya Miyuy sekarang masih marah padanya.
Selain itu ia juga akan ke apartemen Hikaru.
Sesampainya di depan rumah Miyuy, dengan perasaan tak tentu Yabu men dial nomor Miyuy, ia tak yakin akan di angkat, tapi setidaknya ia mencoba.
Benar saja, setelah nada sambung berakhir, belum juga ada jawaban.
Akhirnya Yabu memutuskan untuk memencet bel rumah Miyuy. Walaupun ia tak yakin apa yang ingin ia katakan saat itu.
Tak lama seseorang keluar.
“Eh? Yabu-kun?”, Miyuy lah yang keluar saat itu.
“Aku ingin membicarakan sesuatu…”, kata Yabu akhirnya.
“Ne… Miyuy-chan… soal waktu itu… gomen…”
Mereka berdua tak bicara di rumah, Miyuy membawa Yabu ke sebuah taman dekat rumahnya.
“Wakatta!!”, teriak Miyuy tiba – tiba.
Yabu menoleh karena kaget dengan apa yang Miyuy katakan.
“Aku tahu Yabu-kun saat itu hanya terbawa emosi sesaat. Maafkan aku meragukan Yabu-kun… setelah kupikir… aku juga keterlaluan..”, kata Miyuy.
Beberapa hari setelah itu, Miyuy terus berfikir tentang hal ini, dan ia pun punya satu kesimpulan kalau memang saat itu tak ada yang salah, semuanya hanya salah paham saja. Ia hanya terbawa emosi juga hingga meninggalkan Yabu begitu saja.
“Miyuy-chan…”
“Aku percaya pada Yabu-kun…”, kata Miyuy lagi lalu tersenyum pada Yabu.
Mau tak mau Yabu tersenyum juga, rasanya tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan saat itu. Secara refleks tubuh Yabu mendekat dan mendekap Miyuy.
“Eh? Yabu-kun…”
“Maaf telah membuatmu khawatir…”, bisik Yabu.
Miyuy hanya mengangguk, ia tahu ia bisa mempercayai Yabu.
-------------------
Hingga hari ini Opi masih belum bisa melupakan kejadian saat Inoo mencium keningnya di bianglala. Ia terus saja terbayang ekspresi wajah Inoo yang walaupun penuh memar saat itu, serius dan sangat sungguh – sungguh.
Tak ada pernyataan apapun, dan mereka hanya diam hingga mereka pulang, tapi genggaman tangan Inoo tak lepas dari tangan Opi, dan itu membuat pipi nya selalu memerah saat memikirkan wajah Inoo. Opi menggelengkan wajahnya, menampar pipinya pelan.
“Tidak boleh!!! Jangan berfikiran macam – macam!!”, perintahnya pada diri sendiri di kaca.
“Nee-chan…”, panggil seseorang dibalik pintu, yang tak perlu diragukan lagi itu pati adiknya yang selalu ikut campur urusannya.
Opi menoleh, “Apa?”
“Pacarmu datang tuh~”, goda Yuuri sambil mendekati kakaknya.
Dengan sigap Opi melempar sebuah bantal pada Yuuri, “Dia bukan pacarku!!”, elak Opi.
“Bohong!!”, seru Yuuri sambil menangkap bantal itu, “Aku kan liat Nee-chan dan Kei-chan berpegangan tangan waktu di mobil… ayo ngaku!!”, seru Yuuri lagi.
Tak mampu menjawab, Opi merebut bantal yang kini dipegang oleh Yuuri.
“Ahahahaha~ Nee-chan malu yaaa??”, sahut Yuuri bereaksi pada ekspresi malu – malu Opi.
“Uruseeee!! Anak kecil tau apa??!!”, teriak Opi kesal.
Yuuri menjauh mencoba mengelak dari hantaman bantal yang dilemparkan oleh kakaknya.
“Oops~ hati – hati Opi-chan..”
Suara itu mengagetkan Opi, ternyata Inoo sudah ada di depan kamarnya.
“Eeehh?? Inoo-kun…”, sapa Opi lirih.
Inoo mengacukan tanda peace, “Yo!! Aku mau menjemput muridku… ayo Yuuri-chan.. kita harus latihan…”, kata Inoo sambil menarik Yuuri dari tempat itu.
“Ah, sou…”, Opi tak mampu menjawab Inoo.
Tak lama, sosok Inoo kembali mucul di ambang pintunya, “Nanti kita bicara lagi Opi-chan…”, kata Inoo sambil berlalu.
Opi mengangguk dengan gugup.
Setelah selesai mengajar, Inoo mengajak Opi berbicara di halaman belakang rumah Opi. Seperti yang sudah – sudah, Mama Opi mengajak Inoo makan malam, dan sambil menunggu makan malam siap, Inoo mengajak Opi sedikit mengobrol. Seperti kebanyakan rumah a la Jepang, rumah Opi juga punya halaman belakang yang walaupun sempit, namun lumayan asri.
“Kau sedikit pendiam hari ini…”, kata Inoo.
“Eh? Eh?? Maa~ aku baik – baik saja…”, jawab Opi sedikit gugup.
“Souka…”
“Inoo-kun juga tak terlalu banyak bicara…”, kata Opi sambil menatap Inoo.
“Banyak hal yang sedang kupikirkan Opi-chan…”, jawab Inoo, menatap Opi yang sukses mebuat Opi memalingkan wajahnya karena malu menatap Inoo.
“Hmmm… apa yang Inoo-kun pikirkan?”
“Ayahku, kuliahku…kau tahu… Ibuku kemarin menemuiku… setelah setahun ini tanpa kabar sama sekali.”, jelas Inoo.
“Eh??”
-Flashback-
Inoo masih ada di studio gambar ketika ia menerima telepon. Ia menatap layar ponselnya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Moshi – moshi?”, angkat Inoo sedikit pelan.
“Kei-chan… hisashiburi…”, kata orang diseberang.
“Okaa-chan?”, seru Inoo kaget.
“Hai… ini Ibu… datanglah ke restaurant besok siang…”, perintah Ibunya tanpa basa – basi.
“Kaa-chan…”
“Kumohon Kei-chan… kita harus bertemu..”, kata Ibunya lagi.
Maka hari selanjutnya Inoo mendatangi Ibunya. Di tempat yang paling ia hindari, restaurant milik keluarganya. Yang sudah ada sejak dua generasi sebelumnya. Sudah banyak cabang dari restaurant itu, dan sudah terkenal di seluruh negeri. Bahkan Ayahnya berhasil membangun usaha – usaha lain dan mempunya banyak investasi di berbagai perusahaan.
“Hisashiburi Okaa-chan..”, sapa Inoo saat ibunya datang menghampiri.
“Hisashiburi… Kei-chan..”, balas Ibunya.
Inoo meneguk teh yang ia pesan, tenggorokannya sedikit kering menghadapi Ibunya sendiri, “Ada apa Kaa-chan?? Setelah setahun, kau tak pernah menghubungiku..”, kata Inoo pelan.
“Pulanglah Kei-chan…”, sahut Ibunya cepat.
Inoo sudah tahu pasti ini yang ingin dibicarakan Ibunya.
“Setelah Otou-san mengusirku?? Tidak Kaa-chan, aku harus menyelesaikan kuliahku.. aku tak mau terus ia dikte…”, jawab Inoo mantap.
“Kei-chan… kau tahu seberapa inginnya ia kau jadi penerusnya…”
“Maka dari itu aku tak bisa Kaa-chan… aku tak mau jadi penerus Ayah.. aku punya masa depanku sendiri…”, Inoo dengan cepat memotong pembicaraan Ibunya.
“Kei-chan!! Dengarkan Ibu… restaurant ini sudah aja sejak kakek dari ayahmu ada… kau harus menghargainya.. kau anak laki – laki kami satu – satunya…”
“Dakara Kaa-chan!! Aku tak mau… menjadi arsitek sudah jadi impianku sejak kecil.. tak bisakah kalian menghargai apa yang aku mau?”
“Jangan egois Kei-chan!! Kau harus memikirkan perasaan Ayah dan juga Ibu….”
“Kaa-chan… aku bukan satu – satunya anak ayah…”
Ibunya sedikit tak sabar, meminum the hangatnya juga, “Kei-chan… kau anak pertama, kau kebanggaan Ayahmu… ia begitu senang ketika kau berhasil loncat kelas, ia begitu bangga… dan jika kau setuju mengambil bisnis ini..”
“Kaa-chan kumohon… aku tak mau lagi berdebat soal ini… gomen Kaa-chan..”, Inoo beranjak dan meninggalkan restaurant itu.
-Flashback end-
“Souka naaa~”, kata Opi yang tak tahu harus bereaksi bagaimana setelah mendengar cerita Inoo.
“Sudah ditentukan aku akan jadi penerus ayah sejak aku kecil..”, jelas Inoo.
“Inoo-kun punya adik? Tadi Inoo-kun bilang kau bukan anak satu – satunya..”, tanya opi sedikit berhati – hati agar Inoo tak tersinggung.
Inoo mengangguk, “Ada. Adik perempuan…dia sudah hampir SMA juga sekarang..”
“Sou… mungkin karena itulah Ayahmu ingin kau jadi penerus?”
“Ya… karena adikku perempuan…”, seakan Inoo tahu apa yang Opi pikirkan.
“Kenapa tak coba pulang?”, tanya Opi takut – takut.
“Aku tak bisa pulang sebelum membuktikan diri kalau aku bisa mandiri dan punya hal hebat yang bisa kubanggakan di depan Ayah.”, jelas Inoo.
“Tapi Inoo-kun… pasti ada alasannya kan Ibumu sampai mendatangimu ke sini karena khawatir padamu..”, kata Opi lagi.
“Tidak. Mereka hanya khawatir pada restaurant dan perusahaan saja..”, elak Inoo terlihat lebih emosi dari biasanya.
“Menurutku tidak begitu…”, elak Opi, “Bagaimana jika Inoo-kun coba tanya mereka…”, kata Opi lagi.
Inoo menatap Opi lama, membuat Opi seidkit agak risih, karena tatapan tajam milik Inoo.
“Opi-chan… aku tak mau datang hanya untuk di usir lagi…”, katanya lalu segera meraih tangan Opi yang duduk di sebelahnya.
“Inoo-kun… kau harus mencobanya lagi.. bagaimana pun mereka orang tua mu…”, ujar Opi.
Inoo menarik telapak tangan Opi ke wajahnya, menempelkan tangan tersebut di pipinya sendiri. Inoo menunduk. Dalam. Seakan ingin menyerap kekuatan dari tangan Opi. Dirinya terlalu pusing harus bersikap bagaimana, semua pertanyaan tentang masalahnya dan orang tuanya terus berputar dalam otaknya.
“Inoo-kun…”, panggil Opi lirih.
“Biarkan begini dulu sebentar…”, kata Inoo.
Maka Opi membiarkan Inoo, memberikan waktu untuknya.
“Akan kucoba… mau menemaniku kesana?”, katanya tiba – tiba sambil menengadah memandang Opi.
“Eh?”, seru Opi kaget, “Nande?”
“Tidak ada alasan.. aku hanya ingin kau menemaniku..”
“Wakatta… baiklah…”, jawab Opi.
Inoo kembali menggenggam tangan Opi, namun keduanya tak lagi bersuara. Keduanya menikmati suasana malam itu dalam keheningan.
“Huwaaaa~ Neechan dan Kei-chan beneran pacaran yaaaa!!”, teriak Yuuri tiba – tiba dari belakang mereka.
“Diam anak ingusan!!”, seru Opi sambil mengejar adiknya itu.
“Hehehe~ bilang Ibu ya…”, ancam Yuuri sambil tertawa – tawa menghindari Opi.
Inoo hanya tersenyum melihat keluarga ini. Keluarga yang tak pernah ia miliki.
-----------------
TBC~ oh TBC~
setiap 4 bulan gini update nya...
mari terus berdo'a biar ini cepet beres..LOL
GANBARIMASU!!! :)
Chapter : Ten
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,InoOpi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~
P.S : di chapter ini banyak di ceritain soal Din ama Nu.... :P
Accidentally In Love
-Chapter 10-
“Tapi, aku sudah mengecewakan Miyuy, Pychan, Opi. Mereka mungkin…”, Nu berusaha menarik tangannya dari jemari Daiki.
“Dengar. Aku percaya, mereka akan memaafkan Nuchan, mereka menunggu Nuchan”.
“Hh…”
Berat hati, Nu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar rawat Din. Ragu. Hanya beberapa helaan nafas yang terdengar. Sesuatu yang entah apa membuat Nu menghentikan tangannya sendiri sesaat hendak mengetuk pintu.
“Aku tak bisa…”, ujarnya, menundukkan kepala dan kemudian berbalik
“Ternyata disini…”
Sepasang lengan memberikan sebuah pelukan pada punggung Nu yang masih bergetar. Mengejutkannya.
“Dinchan!”, seru Nu begitu terkejut
“Hehe”, hanya sebuah cengiran yang menjadi jawaban Din. Cara seorang sahabat untuk mengisyaratkan sebuah glad-to-see-you-again
“Aah! Apa-apaan?! Ayo ke tempat tidur lagi, jangan terlalu banyak bergerak!”, nada bicara Nu terdengar panik, dengan sehati-hati mungkin memapah Din kembali ke tempat tidurnya.
“Aku baik-baik saja, jangan terlalu cemaskan aku…”, Din tampak menggembungkan pipinya.
Sementara ditempat yang dituju, tiga wajah tersenyum sudah menyambut mereka
“Selamat datang kembali…”, ujar Py tersenyum.
Mata Nu berkaca – kaca melihat senyuman itu. Senyuman yang begitu tulus.
“Kami kangen kalian…”, tambah Opi seraya memeluk kedua sahabatnya itu. Tentu saja, Miyuy dan Py juga tak akan melakukan apapun selain hal yang sama
seakan samar mulai terdengar
“Gomen ne…”, ucap Nu lirih
“Ng? Minta maaf buat apa?”, balas Miyuy
“Maaf, aku sudah egois. Mengacuhkan kalian. Sudah jadi sangat menyebalkan…”
“Hey, hey…ada apa ini?”, Dinchan mulai menaikkan sebelah alisnya, tak mengerti dengan apa yang terjadi
“Ah, bukan. Harusnya aku bilang terimakasih. Terima kasih sudah peduli padaku. Terima kasih sudah menjadi temanku sejak awal. Terima kasih untuk tak marah padaku. Terima kasih untuk masih menerimaku kali ini…”, menghapus air mata, Nu mulai mengurai senyuman tipis
“Eh? Kenapa jadi melankolis begini, sih?”, Opi bermonolog, menggaruk kepalanya yang samasekali tidak terasa gatal
“Tentu. Kita kan teman. Jadi tak perlu bilang maaf ataupun terima kasih”, lagi, Py memperlihatkan senyumannya
“Ya, ya! Kita ini satu, walaupun cuma bagian kecil yang hilang, mana bisa jadi lengkap…”, tambah Opi ceria
“Terima kasih…”
Seseorang menyaksikan pemandangan itu dari ujung pintu. Senyuman dibibirnya seolah mengatakan ‘aku berhasil’. Ia tak ingin -atau setidak nya, belum ingin- mengacau momen bahagia itu. Menonton dari kejauhan sudah cukup membuatnya senang.
“Hey, Daiki. Sampai kapan mau berdiri disitu terus?”, panggil Opi
“Eh?”, Daiki terkejut
“Eeh? Kalian kesini berdua?”, tanya Miyuy
“Memangnya ada kemungkinan lain?”, Din mencolek-colek Nu, mencoba menggoda
“Kyaaaa”, teriak Py pelan, tapi terdengar begitu histeris
“Ha? Kenapa harus sebegitu histeris? Kalian juga datang kesini sama-sama, kan?”, Nu terheran seraya meluncurkan sebuah tanya bernada datar
“Akhirnya, hanya Daichan yang bisa membawa Nu keluar dari kamar…”, lanjut Py
“Ah, itu…”, Daiki tak bisa membalas, hanya tersenyum malu-malu, membuatnya terlihat semakin inosen
“Yah, sudahlah”, timpa Nu dingin. Pikirnya, jerit histeris Py pasti akan terhenti bila mengetahui apa yang terjadi pada pipi kirinya beberapa waktu lalu
-----------
-Kereta dalam perjalanan pulang-
“Arioka…”
“Hm?”
“Buka telapak tanganmu”
Tanpa banyak pertanyaan, Daiki melakukan apa yang diperintahkan Nu
Nu meletakkan sesuatu di telapak tangan itu
“Apa ini?”
“Huh, anak balita saja bisa langsung tahu kalau itu sebuah kunci…”
“Iya, tapi kunci apa…?”
“Mulai sekarang, aku tak akan mengusirmu dari kamarku…”
“A, ah!”, Daiki seketika tak bisa menjawab ketika mendapati hasil pemikirannya
“Ne, Arioka…untuk yang telah kau lakukan, terimakasih…”
“Bukan masalah”, balas Daiki, tersenyum seperti biasa “Ah! Semuanya bukan gratis lho, Nuchan!”, bocah imut itu menarik kembali kata-katanya
“Ha? Jadi aku harus apa lagi?”, tanya Nu pada remaja manis yang sejak tadi duduk tepat disampingnya itu
“Panggillah dengan namaku”, ucap Daiki dengan wajah mantap
“Daiki…”, panggilan itu terdengar begitu pelan dan lembut, tapi sang pemilik nama bisa mendengarnya, terlebih ketika Nu mulai menyandarkan kepala dibahu kanannya dengan perlahan
“Ya, tetaplah begitu…”
Senyuman lembut itu kembali terlihat. Nu tak perlu khawatir sosok itu akan beranjak meninggalkannya.
Begitu nyaman.
Itulah, tempatnya.
Sekarang.
Tenang. Beberapa penumpang yang terlihat sudah nampak tertidur. Hanya ada suara sentuhan secepat kilat antara kereta dan rel listrik, juga yang menghias pandangan dari luar jendela hanyalah bias-bias cahaya yang dihasilkan remang malam.
“Hey, Daiki…aku tak benar membencimu…”
Tak ada jawaban
“Tidur, ya? Yah, sudahlah…”
-------------------
“Hmm...”, mata Yuya beralih dari satu benda ke benda yang lain
“Nona, tolong berikan topi yang cocok untuk seorang gadis manis...”, mendengar suara itu, membuat Yuya segera mengalihkan pandangannya pada sumber suara
“Aniki!”
Orang yang dilihatnya itu. Tak salah lagi, Jin, kakaknya sendiri. Yuya melangkahkan kakinya dengan spontan kedalam kamar pas terdekat, menyembunyikan diri dari pandangan Jin.
Sama sekali tak disangkanya, kalau ide awalnya pergi ke toko fashion untuk membeli topi untuk Din –yang kepalanya masih berhias sedikit perban- justru membuatnya bertemu dengan sang kakak
“Uhh...”, sesuatu yang bahkan tak diketahuinya membuat Yuya dengan sabar mengintip dari balik pintu kamar pas, memenuhi rasa penasarannya pada apa yang akan terjadi
“Tentu tuan. Bagaimana dengan yang ini?”, tawar seorang pegawai toko pada Jin
“Ah, tidak-tidak...tolong berikan yang modelnya lebih casual, kurasa casual style lebih cocok untuknya...”
“Kalau begitu...yang ini?”, tawar pegawai itu untuk kedua kalinya, mengambil topi dengan model yang berbeda
“Hmm, sempurna. Tolong bungkus yang itu...”, pinta Jin tersenyum
Gadis manis
Casual style
Yuya semakin penasaran, “Untuk siapa aniki membeli topi itu? Apa aniki sudah dapat pacar baru, tapi Naomi...aah! Apa dia beli untuk Dinchan? Aniki kan sering memuji Dinchan manis, dan gaya casual, aah...”, rasa penasaran sekaligus gusar membuat Yuya tak menyadari mulutnya terus bergumam
“Apa ini untuk pacar tuan...?”, pegawai cantik itu mencoba bersikap bersahabat pada Jin. Mungkin untuk Yuya, justru yang seperti itu akan membuatnya terganggu
“Bukan-bukan, aku memang menyukainya, tapi dia punya orang lain yang disukainya. Hahaha...”, Jin tertawa pelan tapi terdengar renyah
“Hah?! Orang yang disukai aniki menyukai orang lain?! Tapi siapa orangnya?!”
“Ah, sayang sekali. Tapi saya rasa, pria seperti tuan tak akan sulit untuk...”
“Hey, nona. Berapa lama lagi jam kerjamu akan selesai?”, tanya Jin sebelum pegawai itu menyelesaikan kalimatnya
“Sekitar setengah jam lagi”, balasnya tersenyum
“Mau jalan-jalan denganku?”, tawar Jin, dengan senyuman itu, mungkin tak ada perempuan yang akan menolak
Tak ada banyak kata-kata, Yuya hanya memukul keningnya sendiri, “Dasar aniki...”
“Baiklah...Ng, wajah tuan rasanya begitu familiar. Apa tuan artis atau semacamnya?”
“Ahahaha, banyak yang bilang begitu. Tapi sayangnya, aku orang biasa...”
Bohong. Jin justru telah memulai karirnya di dunia fashion model bahkan sejak masih sangat muda. Dan dunia itu pula yang mempertemukannya dengan Naomi...
----
Tersenyum. Din menatap refleksinya sendiri dalam cermin. Ia telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, keadaannya juga jauh membaik. Dan yang terpenting, Jin akan membawanya bertemu dengan Naomi, mereka sebentar lagi akan berkunjung ke mansion keluarga Lawrence
Beberapa kali ia membetulkan posisi topi dikepalanya. Saat ini masih ada perban yang menempel di kepala Din. Tapi Jin memberinya sebuah topi, Din menyukainya, terlebih karna itu pemberian dari Jin
“Sudah...sempurna”, suara yang bersumber dari seseorang di ujung pintu itu mengejutkan Din
“Yuya?!”
“Cocok sekali, topi itu cocok sekali untukmu...”, tersungging senyuman tipis dari bibir Yuya
Din seakan tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh pendengarannya. Tuan Takaki Yuya yang sombong itu memujinya. Sempurna katanya. Cocok katanya. Dan senyuman itu...Sangat aneh. Selama ini, apapun yang dikenakan Din pasti mendapat celaan dari Yuya, terlebih lagi bila Yuya tahu yang dikenakan Din adalah pemberian dari sang Aniki
“Tak ada yang perlu dibetulkan lagi. Kau sudah tampak cantik. Jadi sekarang, ayo turun, Aniki sudah menunggu...”
Dan sekarang...cantik
“Hah, mungkin efek kecelakaannya belum sepenuhnya hilang. Kepalaku terbentur sampai ejekan Yuya terdengar seperti pujian...”, gumam Din. Tak ada sepuhan merah khas dari seorang gadis yang dipuji penampilannya, justru Din saat itu ingin menampar pipinya sendiri
-Dibawah tangga-
“Jin, apa kau yakin?”, ekspresi keraguan tampak di wajah seorang pria muda berrambut coklat muda
“Tenanglah, Toma...”, Jin hanya menepuk bahu sahabatnya itu
“Hh, apa boleh buat. Aku percaya padamu, kawan. Kau selalu mengerti apa yang akan kau lakukan”
Pria itu, Ikuta Toma, yang tak lain adalah kakak dari Ikuta Din. Toma sengaja membolos dari rutinitasnya karna ingin mengetahui keadaan adik tersayangnya. Pekerjaannya sebagai dokter trainee di bagian forensik rumah sakit pusat membuatnya jarang bisa pulang ke rumah bahkan sejak Toma menempuh pendidikannya di bidang itu.
“Aku merindukanmu, Toma. Lama sekali aku tak menghabiskan waktu bersamamu dan Tomo , aku tak menyangka ternyata kau kembali karna alasan seperti ini...”
“Aku turut bersedih untuk gadismu, Jin...”
Jin hanya mengalihkan pandangannya yang sejak tadi menatap langit-langit kini berubah menatap lantai, berusaha mengembangkan senyuman
“Juga Dinchan...aku sangat berterimakasih padamu karna selalu menjaganya. Kau yang selalu berada disisinya, bukan aku...Sejak dulu, aku memang bukan kakak yang baik...”
“Yes, you are”, celetuk Jin
“Sejak kecil pun, ketika aku berlari meninggalkan Dinchan supaya tak mengikutiku main dengan anak-anak laki-laki, kau justru berbalik dan mengajaknya...”
“Kau terlalu kejam, Toma”, Jin meninju bahu toma pelan
“Hey, waktu itu aku masih kecil. Kupikir, kalau anak perempuan yang ikut main, justru akan merepotkan, kelompok kita bisa-bisa kalah terus”
“Tapi ternyata Dinchan pintar, kan...?”
Toma tersenyum “Kau selalu membelanya, Jin. Lebih dari yang aku lakukan...Bahkan dulu kau memberiku ultimatum akan merebut Dinchan dariku”
“Ha ha ha. Waktu itu wajah sewotmu tampak lucu sekali, Tomo juga ikut mengejek!”
“Huh”, Toma tampak mencibir, tak bisa membalas kata-kata Jin. Tapi dalam hatinya ia senang, Jin tak pernah berubah, dia selalu bisa tertawa dengan apapun yang terjadi.
“Cukup membicarakan masa muda, kakek-kakek...”, Yuya membuyarkan nostalgia kedua sahabat itu dengan kurang ajarnya
“Ah, Yuya”, Toma menoleh kearah datangnya suara. Yuya, dengan Din dibelakangnya
“Niichan, aku berangkat...”, ucap Dinchan ceria
“Ng, ya...”, balas Toma sedikit ragu. Jin kemudian melempar sebuah senyuman untuk meyakinkan sahabat karibnya itu
-------------------
“Jinjin~ kenapa sejak awal tak beritahu kalau Naomi-neechan sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit? Aku kan khawatir, dan kalian tak pernah menjawab pertanyaanku dengan benar...”, Din memvokalkan sebuah kalimat dengan nada manja
Sekejap, Yuya yang sejak tadi matanya menatap keluar jendela mobil, beralih pandang kearah Din. Tanpa kata. Dan pandangan itu, begitu sulit diartikan
Din sedikit mengerutkan keningnya. Menurutnya, terlalu banyak yang aneh dari Yuya sejak kepulangannya dari rumah sakit. Memujinya, itu aneh. Dan Yuya yang lebih sering diam tanpa melemparkan celaan-celaannya, terlebih aneh. Saat seperti itu, Din berpikir bahwa Yuya bisa menjadi terlihat sangat...cool.
Sementara Jin tak menjawab, tapi Din bisa melihat senyuman lembutnya dari spion depan.
-------------
-Mansion Keluarga Lawrence-
“Jadi kau yang bernama Ikuta Din...”, figur wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Naomi itu menatap Din nanar beberapa saat setelah ia memperkenalkan diri.
“...ah, y..ya...”
“Syukurlah, kau selamat!”, terkejut, Din bisa merasakan kedua lengan itu mendekapnya erat. Terguncang, wanita itu mulai terisak
Din tak bisa berkata. Pikirnya masih banyak bertanya. Kenapa penyambutan dari ibunda Naomi-neechannya bisa begitu...berlebihan
“Ah, maafkan...aku masih terbawa emosi...”, wanita Jepang yang bermarga Lawrence itu melepaskan pelukannya dan menundukan kepala untuk menyeka airmatanya yang sempat mengalir. Sementara pria pirang bermata safir yang berada tak jauh dari mereka kemudian merangkul bahu wanita itu untuk menenangkannya
Jin meraih jemari Din dan menggenggamnya. Bingung. Din menggigit bibir bawahnya dan menatap Jin dengan pandangan sedih
Hanya beberapa langkah dari ruangan itu. Mereka bisa melihat Naomi.
Ia terlihat cantik. Tersenyum begitu tulus dengan rambut pirangnya yang terurai.
Masih terlihat cantik. Selalu terlihat cantik...
Sekalipun figur itu hanya bisa dilihat dalam sebuah fotograf. Terbingkai indah bersama benda-benda lain disekitarnya
Buah-buahan dan makanan untuk persembahan
Lilin-lilin yang masih menyala
Dupa
Guci keramik kecil
Naomi akan selalu terlihat cantik...
Sekalipun mereka hanya melihat fotografnya
Dalam altar persemayaman
Terdiam. Din masih belum bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Tak ingin percaya. Ia berharap apa yang baru saja diketahuinya hanyalah sebuah lelucon bodoh diawal bulan April
“Jinjin, Naomi-neechan...”, nada bicaranya kini sedikit bergetar.
Yuya bisa melihat, kakaknya itu tak bisa menjawab, hanya menunduk dan mempererat genggamannya diantara jemari Din
Saat itu juga, tangis Din mulai pecah. Terisak hebat dihadapan altar persemayaman itu
“Naomi-neechan...”
Figur cantik itu. Mata safir menyejukkan. Helaian rambut pirang indah itu. Tawa renyah dan senyuman ramah itu. Sekarang Din tak akan bisa melihatnya lagi
Untuk mengucap selamat tinggal rasanya teramat pahit dan menyedihkan. Ia tak ingin percaya. Masih berharap ini hanyalah semua lelucon, kalaupun bukan, ini hanyalah mimpi buruk. Seseorang kelak akan membangunkannya dan keadaan kembali membaik
Semuanya begitu nyata. Bukan lelucon. Tak ada mimpi buruk, tak ada yang membangunkan
Pahit itu memang nyata. Sedih itu mesti dirasanya
Kehilangan
Sesak
Jin bergerak untuk mendekap Din. Berharap bisa menenangkan gadis itu biarpun sedikit
Airmata terus mengaliri pipi putih Din. Menggumamkan sebuah nama dalam isaknya. Sementara Sang Pemilik Nama terus tersenyum
Senyuman cantik abadi yang hanya bisa dilihat dalam fotograf
---
FLASHBACK
-Sore hari di kamar Yuya-
“Aah, aku kehabisan pocary...”, menengadahkan kepala, hanya dua sampai tiga tetes terakhir yang jatuh kemulut Yuya. Menghafal sejarah dengan langsung melisankannya cukup berhasil membuat tenggorokannya kering
“Aku harus ambil beberapa kaleng lagi...”, kaki Yuya turun menapaki satu persatu anak tangga
Sepi. Kedua orangtuanya masih berada di luar kota untuk keperluan pekerjaan, mereka hanya menyempatkan pulang ketika mendengar berita kecelakaan Din dan Naomi. Jin, tentu saja Yuya sampai dirumah lebih dahulu. Sekilas, Yuya mendengar sebuah ‘Tadaima’ ditengah waktu belajarnya, tapi ia tak terlalu peduli dan tenggelam dalam hafalan sejarahnya, bukan tanpa alasan, tapi karna beberapa bulan lagi ujian final akan datang
KLONTANG
“Aniki? Is that you?”, tanya Yuya ketika mendengar suara kaleng minuman yang jatuh. Ragu, ruangan yang dirasanya merupakan tempat bersumbernya suara bahkan sama sekali gelap
“Yuya...masih bangun, ya...”
Yuya menemukan Jin seketika ia menyalakan lampu ruang tengahnya. Jin yang nampak sangat kacau. Tapi itu bukan jadi yang pertama untuk Yuya
“Aniki...aku tahu aniki sangat sedih, tapi kumohon berhentilah minum-minum seperti itu...”, ucap Yuya terdengar sangat sedih memandangi kakak semata wayangnya terlihat kacau dengan botol juga beberapa kaleng minuman beralkohol disekelilingnya
“Hey, Yuya...bagaimana persiapan ujianmu...?”, tanya Jin. Yuya bisa dengan jelas mencium aroma alkohol yang begitu menyengat ketika beralih mendekat. Ia tak menyangka bahwa kakaknya bisa jadi sedemikian rapuh
“Sudahlah, Aniki...tolong jangan minum lagi, Naomi-san juga pasti tak akan menyukainya...!”, Yuya mulai membereskan kaleng-kaleng bekas minuman ke tempat sampah –bahkan yang masih berisi-
“Aaah, tapi Yuya...”, protes Jin “..aku bahkan bisa lihat Naomi...dia sekarang jadi bidadari...he he he”
“Hh...”, menghela napas, sekarang Yuya tahu kalau kakaknya sudah benar-benar mabuk
“Aniki, aku akan membawamu ke kamar. Sekarang tidurlah, besok pagi panggil saja aku kalau Aniki butuh obat sakit kepala...”
Perlahan, Yuya mulai memapah Jin berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Memang bukan pekerjaan yang mudah, bahkan Jin terus mengoceh tak jelas selama Yuya susah payah memapahnya
“Hmm, ternyata kau manis juga ya...Yuya...”, masih dengan ocehannya, Jin kemudian menempelkan bibirnya di bibir Yuya. Hal itu membuat Yuya kontan mendorong Jin. Beruntung, mereka sudah sampai di depan tempat tidur Jin, jadi Jin mendarat di tempat tidurnya tanpa harus menderita sakit karna jatuh di lantai
“A, apa yang Aniki lakukan?! Itu menjijikan!”, wajah Yuya berubah merah karna kesal bercampur malu
“Kenapa, Yuya...?”
“Ah! Sudahlah!”, ujar Yuya frustasi sekaligus meratapi nasibnya --hanya di dalam hati. Semua hal bisa saja bisa terjadi pada orang yang tengah berada dalam pengaruh alkohol
“Ah, ya!”, sebuah ide tiba-tiba muncul dari pikiran Yuya “Aniki, aku ingin tahu untuk siapa Aniki membeli topi di toko xyz tadi siang!”, ujar Yuya langsung pada sasaran
“Hey! Kau tahu aku pergi ke toko untuk membeli topi! Ternyata adikku punya bakat esper!”, jawaban dari Jin hanya membuat Yuya memicingkan mata
“Bukan itu...Ayolah, Aniki...katakan padaku siapa gadis yang Aniki maksud! Yang Aniki sukai, yang Aniki ceritakan pada pegawai toko...”, Yuya beralih duduk di hadapan Jin, diatas tempat tidurnya
“Kau begitu ingin tahu, Yuya...kalau begitu, tebaklah...”, Jin tersenyum, dari matanya, Yuya bisa memastikan kalau kesadaran belum kembali pada Jin
“Apa dia...Dinchan?”, tebak Yuya
“Kau benar-benar punya bakat esper, adikku!”
“Apa?!”, Yuya membelakakkan matanya
Jin tak membalas
“Lalu...lalu kenapa Aniki kabur dari perjodohan yang telah dirancang? Perjodohan antara putra pertama keluarga Takaki dengan putri keluarga Ikuta! Kenapa Aniki tidak menerima perjodohan itu?!”
Jawaban dari Jin membuat Yuya memunculkan sebuah pertanyaan besar. Tentang masa lalu mereka. Tentang Jin yang kabur dari rumah karna menolak perjodohannya dengan putri keluarga Ikuta yang tak lain adalah Dinchan yang sejak dulu disukainya.
“Alasannya...alasannya adalah kau, Yuya...!”, Yuya semakin terkejut ketika Jin mengarahkan telunjuk ke dadanya masih dengan ekspresi khas orang yang tengah mabuk
“Ma, maksudnya?!”
“Aku tahu, Yuya. Aku tahu, sejak dulu kau menyukai Dinchan. Walaupun kau selalu melakukan hal-hal konyol padanya, tapi aku bisa membaca dengan jelas kalau kau suka dia. Aku kabur dari perjodohan supaya kau bisa bersamanya, Yuya!”, Yuya seolah tak bisa berkata mendengar pemaparan yang keluar dari mulut Jin secara gamblang. Ia berani bertaruh, dalam keadaan sadar, Jin tak mungkin bertutur sejujur itu
Yuya masih mematung, pikirannya belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang dipaparkan Jin. Masih terkejut.
“Aku menyayangimu, Yuya. Sejak kepergian ibu, mendapatkanmu sebagai adik seperti membawa harapan baru untukku, harapan untuk jadi anak yang baik, menjadi seorang kakak...”
Ya, wanita yang dipanggil ibu oleh Jin dan Yuya saat ini adalah ibu dari Yuya. Sementara wanita yang melahirkan Jin meninggal karna kecelakaan saat Jin berusia lima tahun dan kemudian ayah mereka menikahi wanita yang kelak melahirkan Yuya, sebagai adik dari Jin. Begitu yang pernah Yuya dengar dari ayah mereka.
“Aku sangat menyayangimu, juga Dinchan...Aku tak ingin mengecewakanmu, kabur dari perjodohan dengan harapan kau bisa bersama Dinchan. Kupikir aku masih bisa tetap menunjukkan perasaanku padanya dengan cara lain, memperlakukannya seperti adikku...”, pengakuan Jin masih berlanjut
“Tapi Dinchan juga sejak dulu selalu menyukai Aniki. Dia terobsesi pada Aniki!”
“Yuya...aku bisa melihat perbedaan dari caranya melihatmu...”
Yuya tak bisa membalas
“Berusaha mengabaikan perasaanku sendiri ternyata tak mudah. Walaupun aku mengencani banyak gadis, semuanya terasa hampa. Ketika aku bertemu Naomi, dia mulai mengisi kekosongan di hatiku. Tapi sekarang, Naomi...”, Jin mulai terlihat frustasi
“Tak apa, Aniki...aku mengerti...”, entah hal apa yang mendorong Yuya untuk mendekap Jin kedalam pelukannya. Baginya itu terasa sangat...aneh, dan pastinya, canggung. Tapi Yuya sangat ingin menenangkan kakaknya itu. Saat Jin mulai menangis, hatinya juga terasa sakit. Terlebih setelah pengakuan yang dilakukan Jin dalam keadaan tak sadar. Jin telah banyak menderita rasa sakit. Ia mengorbankan perasaan pada Dinchan yang disukainya. Jin juga kembali kehilangan, setelah kehilangan ibunya dalam kecelakaan, sekarang hal itu berulang pada Naomi
“Ne, oyasumi...”, ucap Yuya lembut ketika mematikan lampu kamar Jin dan menutup pintunya.
Kalimat demi kalimat dari pengakuan Jin terus berlalulalang di pikirannya.
“Hh...”
Galau. Yuya menyandarkan kepalanya di pintu kamar Jin, menghela napas berat. Ia masih tak bisa percaya akan apa yang telah didengarnya.
Jin. Sekalipun Yuya telah bersama sang kakak selama 18 tahun hidupnya, tapi banyak hal yang baru diketahui dari kakak sematawayangnya itu.
Yuya mengagumi Jin. Tentang pembawaannya yang menyenangkan. Kedewasaannya sebagai seorang kakak. Caranya menjalani hidup dengan penuh kebebasan. Dan Jin tentunya punya semua yang disukai dan diinginkan Din. Tanpa pernah diungkapkan, Yuya selalu ingin menjadi seperti sang kakak yang begitu disukai Din. Tapi dibandingkan dengan Jin, sekaligus membuatnya sangat kesal karna merasakan tak adanya penghargaan sebagai seorang individu untuknya, hanya adik-dari-Takaki Jin.
Dibalik semua tingkah konyol yang menyenangkan, ternyata Jin menyimpan kesedihan. Mengorbankan perasaannya sendiri demi Yuya. Yuya selalu berpikir bahwa mengencani banyak gadis adalah ekpresi Jin untuk menunjukkan kebebasan hidupnya. Ternyata Yuya salah, itu hanyalah upaya Jin mencari tempat dimana perasaannya akan berpaut. Naomi begitu sempurna untuk Jin. Ia sama sekali berbeda dari gadis-gadis lain yang menjadi teman kencan Jin.
END OF FLASHBACK
------------------------
Andai saja Yuya sudah mendapatkan lisensi mengemudinya, ia akan duduk di bangku kemudi dan membiarkan Jin duduk bersama Din di bangku penumpang.
Jin membiarkan Din untuk menangis hingga ia lega. Nafasnya kini terengah. Bibirnya kelu dan wajahnya sembab luar biasa. Kepalanya mulai pusing dan perutnya terasa mual karna terlalu banyak menangis.
Yuya sedikit banyak menyesali dirinya sendiri yang tak bisa menenangkan Din sebaik Jin. Saat gadis itu mulai terguncang sedih, seharusnya jemari Yuya yang menyilang dan menggenggam erat tangannya. Saat tangis mulai pecah, harusnya Yuya yang datang mendekapnya. Begitu yang diinginkan Yuya, tapi ia tak bisa.
Saat Din masih menyisakan isaknya, Yuya hanya bisa diam –hatinya ikut merasakan perih. Sekalipun ia duduk disamping gadis itu. Yuya benci itu. Dulu ia bisa menenangkan Dinchan yang menangis, tapi kenapa saat ini terasa berbeda.
Juga Jin, matanya hanya menatap lurus kejalanan luas di depan yang mereka lalui. Yuya yakin, saat ini Jin ingin menangis, tapi ia berusaha untuk kuat, berpura-pura terlihat kuat.
--------------
Py kembali mencoba menghubungi Hikaru untuk keberapa kalinya. Ponsel Hikaru tak aktif, Py sedikit khawatir dengan keadaan Hikaru yang tak juga ada kabar. Sudah beberapa hari pula Hikaru tak datang ke sekolah. Py yang tak sanggup untuk bertanya pada tiga teman Hikaru yang lain, ia malu untuk sekedar bertanya pada Yabu atau Taiyou.
Di tambah Py tahu Yabu sedang ada masalah dengan Miyuy, menambah ke tidak percayaan Py untuk bertanya pada Yabu.
“Huufftt~”, Py melepaskan nafas berat.
Sudah hampir empat hari, dan atap ini terasa sangat kosong tanpa kehadiran HIkaru. Tapi Py sedikit heran, dengan tak adanya Hikaru, ia lebih sering menggambar lagi, dan tentu saja ia menggambar sosok Hikaru.
Py kaget ketika seseorang terdengar datang ke atap. Jarang sekali ada yang mau mengunjungi tampat tertinggi di sekolahnya itu.
“Miyuy-chan??”, Py kaget melihat sosok Miyuy yang datang tiba – tiba.
“Hi Py!!”, sapa Miyuy lalu duduk di sebelah Py.
“Ano…. Daijoubu??”, tanya Py takut – takut.
Miyuy merebahkan kepalanya di bahu Py, menggeleng pelan. “Aku tak tahu apa menghindar darinya adalah keputusan tepat… tapi aku juga tak sanggup berdekatan dengannya….”, jelas Miyuy.
Py tak mampu menjawab. Baginya yang tak pernah mengalami masalah percintaan sangat sulit untuk dirinya memberi nasehat atau pandangan.
“Py menunggu Yaotome-kun?”, tanya Miyuy mengagetkan Py.
“Eh??hmmm~ tidak kok…”, jawabnya gugup.
“Sou…. Kukira kau menunggunya…”, imbuh Miyuy sambil baranjak dan menuju pinggir atap. Entah apa yang Miyuy pikirkan, tapi keduanya sibuk dengan pikiran masing – masing.
“Dinchan terpukul sekali ya… ia belum masuk hingga hari ini…”, kata Py akhirnya membuka pembicaraan.
“Ya…”, jawab Miyuy pelan.
“Aku juga akan begitu jika aku jadi Dinchan…”, ungkap Py lagi.
Miyuy kembali tak menjawabnya.
“Aku mau ke perpus ya Py-chan… mau ikut?”, tanya Miyuy sambil beranjak.
Py menggeleng, “Aku disini saja..”, jawab Py.
“Baiklah…”, Miyuy meninggalkan Py sendiri lagi.
Py kembali melihat ke arah ponselnya yang belum juga berbunyi sejak tadi. Py mulai ber asumsi jika terjadi sesuatu pada Hikaru.
“Apa dia sakit dan tak ada yang merawatnya?”, tanya Py dalam hati.
“Atau dia kecelakaan?”
“Atau dia…..”
Semakin lama justru pikirannya semakin kacau. Py membuka buku sketsa nya. Memutuskan bahwa menggambar adalah satu – satu nya cara dia untuk melupakan kenyataan bahwa Hikaru tidak ada.
“Menggambar apa?”, tanya seseorang mengagetkan Py.
“Kyaaaa~”, teriaknya panik dan menutup buku sketsanya.
Ia dihadapan Py.
Tersenyum seperti biasanya.
Tak ada yang kurang dari senyum itu
“Hikka-kun~ “, panggil Py lirih.
Rasanya sudah sangat lama ia tak melihat Hikaru di hadapannya.
“Tak usah kaget begitu…”, ujar Hikaru lalu duduk di samping Py, menyentuh pipi Py pelan dengan kedua tangannya.
Py masih diam karena tak sangka ia malah merasa sangat rindu pada Hikaru. Sehingga rasanya seperti mimpi melihat Hikaru di hadapannya.
“Apa kabar?”, tanya Hikaru, seakan tak terjadi apa – apa.
“Baik..”, jawab Py menunduk karena baru sadar ia memandang Hikaru cukup lama.
Keheningan terjadi setelahnya. Hikaru menggenggam tangan Py namun tak bersuara sedikitpun. Tidak seperti Hikaru yang biasanya.
“Hikka-kun…”, panggil Py pelan.
“Ya?”
“Anou…. Hikka-kun kemana saja? Aku jarang melihatmu di sekolah…”, kata Py pelan. Ia tak mau bilang kalau ia menunggu Hikaru di atap ini setiap hari.
“Ada sesuatu yang harus kuurus..”, jawab Hikaru, mempererat genggamannya pada Py.
Tak seperti Hikaru yang biasa sangat ceria, Hikaru yang kali ini di hadapan Py sangat pendiam.
“Pulang sekolah mau ke taman?”, seru Hikaru yang terdengar seperti ajakan kencan.
Py mengangguk.
--------------
Yabu menuju perpus. Walaupun bukan kebiasaannya berdiam diri di perpus, tapi seridaknya suasana hening disana dapat sedikit membuatnya lebih baik. Ia benci perasaan bingung seperti ini, dan dalam keadaan seeprti ini, ia juga tak mau diganggu oleh Shoon atau Taiyou.
Suasana perpus memang bukan hal yang biasa untuk seorang Yabu yang biasanya berada di tempat keramaian. Sehingga kali ini pun Yabu merasa sedikit bosan di tempat ini, namun tempat inilah yang paling tidak mungkin didatangi ketiga temannya, sehingga ia bisa sendirian. Pikiran Yabu sedang kacau, Miyuy tak mau dihubungi, sama sekali tak ada kabar, bahkan di sekolah pun rasanya sulit menemui Miyuy.
Jemari Yabu memainkan buku yang entah apa judulnya ia pun tak tahu. Ia hanya bergerak tanpa berfikir apapun.
“Eh? Yabu-kun…”, panggil seseorang.
Yabu menoleh, dan setelahnya kaget dengan siapa yang dihadapannya. Yabu tak menjawab panggilan itu, hanya memandang sosok di hadapannya sekarang.
“Hisashiburi…”, sapanya lalu menghampiri tempat Yabu.
“Ah yea~ hisashiburi…”, jawab Yabu akhirnya.
“Ada apa Yabu-kun? Tak biasanya kau ada di perpus…”, seru orang itu karena tahu kebiasaan Yabu.
Lagi – lagi Yabu enggan menjawab.
“Pasti kau ada masalah ya?”
“Maa~ bisa dibilang seperti itu.”, jawab Yabu singkat.
“Aya!! Aku menemukan buku itu!”, seru seseorang memanggil gadis di hadapan Yabu.
“Iya! Aku kesana…”, lalu menoleh kemabali pada Yabu, “Aku duluan Yabu-kun… mudah – mudahan kita bisa bertemu lagi..”, kata gadis itu lalu tersenyum.
Yabu bahkan masih bingung ketika Ayame meninggalkan tempat itu, kenapa Ayame menyapa nya?
-----------------
Genggaman tangan Hikaru tak terlepas dari tangan Py sedari tadi. Tapi tak seperti Hikaru yang selalu ceria, kali ini tampaknya Hikaru cukup murung. Py hanya bisa menurut kemana Hikaru membawanya tanpa banyak protes, dadanya bergemuruh karena senang dan lega melihat Hikaru lagi.
Hikaru mengajak Py duduk di bangku taman yang biasa mereka datangi. Tempat ini juga yang menjadi saksi mereka menjadi dekat.
“Py….”, panggil Hikaru pelan.
Tanpa menjawab, Py menoleh memandang Hikaru.
“Kali ini langitnya cukup cerah…”, kata Hikaru seakan bermonolog.
Py ikut menengadah melihat langit sore yang memang terlihat cerah dengan semburat jingga memenuhi warna langit.
“Un…”, jawab Py.
“Py pernah bilang kalau Py paling suka sama langit cerah kan?”, ujar Hikaru lagi.
Py mengangguk.
“Aku juga suka langit cerah…”, kata Hikaru.
“Kenapa?”
“Karena mengingatkanku pada Py.. hehe…”.
Py hanya diam saat ia merasa genggaman Hikaru semakin kuat.
“Ada yang salah?”, tanya Py akhirnya mencoba berani bertanya pada Hikaru.
Hikaru menjawab dengan senyumannya, lalu menggeleng pelan, “betsu ni… tidak ada apa – apa kok…”
Py ingin sekali tahu apa yang sedang Hikaru rasakan. Setidaknya ia ingin meringankan beban Hikaru sedikit saja. Karena tampaknya Hikaru sangat murung.
“Hikaru-kun…”, panggil Py.
Hikaru tak menjawab, menggenggam tangan Py lebih erat. Mereka terdiam. Merasakan kehenigan yang justru membuat mereka tenang dan damai, ditemani oleh langit sore itu.
---------------
Kejadian sapa menyapa siang itu di perpus membuat Yabu heran setelah sore itu ketika ia hendak pulang, sosok Ayame ada di depan kelasnya.
“Yabu-kun!!”, sapanya ceria.
Yabu hanya memandang Ayame tanpa kata – kata karena terlalu heran.
“Ada yang ingin aku bicarakan!!”, serunya.
“Hmmm~ aku tak bisa sekarang Aya… aku ada urusan..”, elak Yabu cepat.
Ayame menunjukkan wajah sedih, “Baiklah… besok bagaimana?”, tanya nya lagi.
Yabu mengangguk, “Maa~ baiklah…”, jawabnya sekenanya.
Yabu hari itu akan ke rumah Miyuy. Bagaimana pun ia harus menjelaskan semuanya pada Miyuy. Walaupun ia tahu, seharusnya Miyuy sekarang masih marah padanya.
Selain itu ia juga akan ke apartemen Hikaru.
Sesampainya di depan rumah Miyuy, dengan perasaan tak tentu Yabu men dial nomor Miyuy, ia tak yakin akan di angkat, tapi setidaknya ia mencoba.
Benar saja, setelah nada sambung berakhir, belum juga ada jawaban.
Akhirnya Yabu memutuskan untuk memencet bel rumah Miyuy. Walaupun ia tak yakin apa yang ingin ia katakan saat itu.
Tak lama seseorang keluar.
“Eh? Yabu-kun?”, Miyuy lah yang keluar saat itu.
“Aku ingin membicarakan sesuatu…”, kata Yabu akhirnya.
“Ne… Miyuy-chan… soal waktu itu… gomen…”
Mereka berdua tak bicara di rumah, Miyuy membawa Yabu ke sebuah taman dekat rumahnya.
“Wakatta!!”, teriak Miyuy tiba – tiba.
Yabu menoleh karena kaget dengan apa yang Miyuy katakan.
“Aku tahu Yabu-kun saat itu hanya terbawa emosi sesaat. Maafkan aku meragukan Yabu-kun… setelah kupikir… aku juga keterlaluan..”, kata Miyuy.
Beberapa hari setelah itu, Miyuy terus berfikir tentang hal ini, dan ia pun punya satu kesimpulan kalau memang saat itu tak ada yang salah, semuanya hanya salah paham saja. Ia hanya terbawa emosi juga hingga meninggalkan Yabu begitu saja.
“Miyuy-chan…”
“Aku percaya pada Yabu-kun…”, kata Miyuy lagi lalu tersenyum pada Yabu.
Mau tak mau Yabu tersenyum juga, rasanya tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan saat itu. Secara refleks tubuh Yabu mendekat dan mendekap Miyuy.
“Eh? Yabu-kun…”
“Maaf telah membuatmu khawatir…”, bisik Yabu.
Miyuy hanya mengangguk, ia tahu ia bisa mempercayai Yabu.
-------------------
Hingga hari ini Opi masih belum bisa melupakan kejadian saat Inoo mencium keningnya di bianglala. Ia terus saja terbayang ekspresi wajah Inoo yang walaupun penuh memar saat itu, serius dan sangat sungguh – sungguh.
Tak ada pernyataan apapun, dan mereka hanya diam hingga mereka pulang, tapi genggaman tangan Inoo tak lepas dari tangan Opi, dan itu membuat pipi nya selalu memerah saat memikirkan wajah Inoo. Opi menggelengkan wajahnya, menampar pipinya pelan.
“Tidak boleh!!! Jangan berfikiran macam – macam!!”, perintahnya pada diri sendiri di kaca.
“Nee-chan…”, panggil seseorang dibalik pintu, yang tak perlu diragukan lagi itu pati adiknya yang selalu ikut campur urusannya.
Opi menoleh, “Apa?”
“Pacarmu datang tuh~”, goda Yuuri sambil mendekati kakaknya.
Dengan sigap Opi melempar sebuah bantal pada Yuuri, “Dia bukan pacarku!!”, elak Opi.
“Bohong!!”, seru Yuuri sambil menangkap bantal itu, “Aku kan liat Nee-chan dan Kei-chan berpegangan tangan waktu di mobil… ayo ngaku!!”, seru Yuuri lagi.
Tak mampu menjawab, Opi merebut bantal yang kini dipegang oleh Yuuri.
“Ahahahaha~ Nee-chan malu yaaa??”, sahut Yuuri bereaksi pada ekspresi malu – malu Opi.
“Uruseeee!! Anak kecil tau apa??!!”, teriak Opi kesal.
Yuuri menjauh mencoba mengelak dari hantaman bantal yang dilemparkan oleh kakaknya.
“Oops~ hati – hati Opi-chan..”
Suara itu mengagetkan Opi, ternyata Inoo sudah ada di depan kamarnya.
“Eeehh?? Inoo-kun…”, sapa Opi lirih.
Inoo mengacukan tanda peace, “Yo!! Aku mau menjemput muridku… ayo Yuuri-chan.. kita harus latihan…”, kata Inoo sambil menarik Yuuri dari tempat itu.
“Ah, sou…”, Opi tak mampu menjawab Inoo.
Tak lama, sosok Inoo kembali mucul di ambang pintunya, “Nanti kita bicara lagi Opi-chan…”, kata Inoo sambil berlalu.
Opi mengangguk dengan gugup.
Setelah selesai mengajar, Inoo mengajak Opi berbicara di halaman belakang rumah Opi. Seperti yang sudah – sudah, Mama Opi mengajak Inoo makan malam, dan sambil menunggu makan malam siap, Inoo mengajak Opi sedikit mengobrol. Seperti kebanyakan rumah a la Jepang, rumah Opi juga punya halaman belakang yang walaupun sempit, namun lumayan asri.
“Kau sedikit pendiam hari ini…”, kata Inoo.
“Eh? Eh?? Maa~ aku baik – baik saja…”, jawab Opi sedikit gugup.
“Souka…”
“Inoo-kun juga tak terlalu banyak bicara…”, kata Opi sambil menatap Inoo.
“Banyak hal yang sedang kupikirkan Opi-chan…”, jawab Inoo, menatap Opi yang sukses mebuat Opi memalingkan wajahnya karena malu menatap Inoo.
“Hmmm… apa yang Inoo-kun pikirkan?”
“Ayahku, kuliahku…kau tahu… Ibuku kemarin menemuiku… setelah setahun ini tanpa kabar sama sekali.”, jelas Inoo.
“Eh??”
-Flashback-
Inoo masih ada di studio gambar ketika ia menerima telepon. Ia menatap layar ponselnya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Moshi – moshi?”, angkat Inoo sedikit pelan.
“Kei-chan… hisashiburi…”, kata orang diseberang.
“Okaa-chan?”, seru Inoo kaget.
“Hai… ini Ibu… datanglah ke restaurant besok siang…”, perintah Ibunya tanpa basa – basi.
“Kaa-chan…”
“Kumohon Kei-chan… kita harus bertemu..”, kata Ibunya lagi.
Maka hari selanjutnya Inoo mendatangi Ibunya. Di tempat yang paling ia hindari, restaurant milik keluarganya. Yang sudah ada sejak dua generasi sebelumnya. Sudah banyak cabang dari restaurant itu, dan sudah terkenal di seluruh negeri. Bahkan Ayahnya berhasil membangun usaha – usaha lain dan mempunya banyak investasi di berbagai perusahaan.
“Hisashiburi Okaa-chan..”, sapa Inoo saat ibunya datang menghampiri.
“Hisashiburi… Kei-chan..”, balas Ibunya.
Inoo meneguk teh yang ia pesan, tenggorokannya sedikit kering menghadapi Ibunya sendiri, “Ada apa Kaa-chan?? Setelah setahun, kau tak pernah menghubungiku..”, kata Inoo pelan.
“Pulanglah Kei-chan…”, sahut Ibunya cepat.
Inoo sudah tahu pasti ini yang ingin dibicarakan Ibunya.
“Setelah Otou-san mengusirku?? Tidak Kaa-chan, aku harus menyelesaikan kuliahku.. aku tak mau terus ia dikte…”, jawab Inoo mantap.
“Kei-chan… kau tahu seberapa inginnya ia kau jadi penerusnya…”
“Maka dari itu aku tak bisa Kaa-chan… aku tak mau jadi penerus Ayah.. aku punya masa depanku sendiri…”, Inoo dengan cepat memotong pembicaraan Ibunya.
“Kei-chan!! Dengarkan Ibu… restaurant ini sudah aja sejak kakek dari ayahmu ada… kau harus menghargainya.. kau anak laki – laki kami satu – satunya…”
“Dakara Kaa-chan!! Aku tak mau… menjadi arsitek sudah jadi impianku sejak kecil.. tak bisakah kalian menghargai apa yang aku mau?”
“Jangan egois Kei-chan!! Kau harus memikirkan perasaan Ayah dan juga Ibu….”
“Kaa-chan… aku bukan satu – satunya anak ayah…”
Ibunya sedikit tak sabar, meminum the hangatnya juga, “Kei-chan… kau anak pertama, kau kebanggaan Ayahmu… ia begitu senang ketika kau berhasil loncat kelas, ia begitu bangga… dan jika kau setuju mengambil bisnis ini..”
“Kaa-chan kumohon… aku tak mau lagi berdebat soal ini… gomen Kaa-chan..”, Inoo beranjak dan meninggalkan restaurant itu.
-Flashback end-
“Souka naaa~”, kata Opi yang tak tahu harus bereaksi bagaimana setelah mendengar cerita Inoo.
“Sudah ditentukan aku akan jadi penerus ayah sejak aku kecil..”, jelas Inoo.
“Inoo-kun punya adik? Tadi Inoo-kun bilang kau bukan anak satu – satunya..”, tanya opi sedikit berhati – hati agar Inoo tak tersinggung.
Inoo mengangguk, “Ada. Adik perempuan…dia sudah hampir SMA juga sekarang..”
“Sou… mungkin karena itulah Ayahmu ingin kau jadi penerus?”
“Ya… karena adikku perempuan…”, seakan Inoo tahu apa yang Opi pikirkan.
“Kenapa tak coba pulang?”, tanya Opi takut – takut.
“Aku tak bisa pulang sebelum membuktikan diri kalau aku bisa mandiri dan punya hal hebat yang bisa kubanggakan di depan Ayah.”, jelas Inoo.
“Tapi Inoo-kun… pasti ada alasannya kan Ibumu sampai mendatangimu ke sini karena khawatir padamu..”, kata Opi lagi.
“Tidak. Mereka hanya khawatir pada restaurant dan perusahaan saja..”, elak Inoo terlihat lebih emosi dari biasanya.
“Menurutku tidak begitu…”, elak Opi, “Bagaimana jika Inoo-kun coba tanya mereka…”, kata Opi lagi.
Inoo menatap Opi lama, membuat Opi seidkit agak risih, karena tatapan tajam milik Inoo.
“Opi-chan… aku tak mau datang hanya untuk di usir lagi…”, katanya lalu segera meraih tangan Opi yang duduk di sebelahnya.
“Inoo-kun… kau harus mencobanya lagi.. bagaimana pun mereka orang tua mu…”, ujar Opi.
Inoo menarik telapak tangan Opi ke wajahnya, menempelkan tangan tersebut di pipinya sendiri. Inoo menunduk. Dalam. Seakan ingin menyerap kekuatan dari tangan Opi. Dirinya terlalu pusing harus bersikap bagaimana, semua pertanyaan tentang masalahnya dan orang tuanya terus berputar dalam otaknya.
“Inoo-kun…”, panggil Opi lirih.
“Biarkan begini dulu sebentar…”, kata Inoo.
Maka Opi membiarkan Inoo, memberikan waktu untuknya.
“Akan kucoba… mau menemaniku kesana?”, katanya tiba – tiba sambil menengadah memandang Opi.
“Eh?”, seru Opi kaget, “Nande?”
“Tidak ada alasan.. aku hanya ingin kau menemaniku..”
“Wakatta… baiklah…”, jawab Opi.
Inoo kembali menggenggam tangan Opi, namun keduanya tak lagi bersuara. Keduanya menikmati suasana malam itu dalam keheningan.
“Huwaaaa~ Neechan dan Kei-chan beneran pacaran yaaaa!!”, teriak Yuuri tiba – tiba dari belakang mereka.
“Diam anak ingusan!!”, seru Opi sambil mengejar adiknya itu.
“Hehehe~ bilang Ibu ya…”, ancam Yuuri sambil tertawa – tawa menghindari Opi.
Inoo hanya tersenyum melihat keluarga ini. Keluarga yang tak pernah ia miliki.
-----------------
TBC~ oh TBC~
setiap 4 bulan gini update nya...
mari terus berdo'a biar ini cepet beres..LOL
GANBARIMASU!!! :)
Langganan:
Postingan (Atom)