Tampilkan postingan dengan label yamaPi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yamaPi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2011

[Fanfic] You Just Have To Know *Little Secret side story*

Title        : You Just Have to Know (Little Secret side story)
Type          : Oneshot, SongFic
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Totally Romance XP
Ratting    : PG menyerempet ke NC… hahahaha~
Fandom    : JE
Starring    : Yamashita Tomohisa (NEWS), Ikuta Din (OC), Yamashita Opi (OC), Ikuta Toma (JE), dan selentingan orang pada lewat
Disclaimer    : I don’t own all character here. YamaPi and Toma are belongs to JE, Din and Opi is OC. Kalo nanya kenapa pairing YamaPi itu Din, tanyakan pada Opi yeee~ *kabur*. Saia hanya ingin bikin side story… no offense… OK??hehehe~Silahkan baca Little Secret punya Opi Yamashita kalo mau tau cerita awalnya~ hehehehe

COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

YOU JUST HAVE TO KNOW

No way, I’ve realized that I’ve been looking at you
It won’t do even if I hate it, stop it, or hide it
It can’t go on like this


Suara langkah kaki terdengar menuju je bawah. Aku menoleh sesaat untuk melihat siapa yang turun. Posisiku berada di ruang keluarga, duduk tak ada kerjaan siang ini, menonton hal – hal yang tidak penting.

“Hi Nii-chan…”, panggilnya sambil menghampiriku, membawa segelas jus jeruk.

“Untukku?”, tanyaku pada gadis berambut panjang di hadapanku.

Ia menggeleng, mencibir ke arahku, “Enak saja…”, katanya lalu duduk di sampingku.

Gadis ini bukan adikku. Ia sahabat adikku sejak kecil. Praktis aku sering sekali melihat dia di sekitarku. Bahkan ia sudah menganggapku kakaknya sendiri.

“Nii-chan nonton apa sih?”, katanya penasaran melihat ke arah TV yang sejak tadi hanya kupindah – pindahkan channelnya.

“Tak ada yang menarik~ aku harus segera mendapatkan pekerjaan… kalau tidak aku bisa mati bosan..”, keluhku padanya.

Aku baru saja lulus kuliah dari Meiji University, jurusan bisnis. Tapi hingga sekarang aku belum menemukan perkerjaan yang tepat untukku.

“Baito saja..”, ungkapnya enteng.

Aku mencubit pipinya pelan, “Aku cepat bosan…”, kataku lagi.

Ia meraih tanganku, memukulnya pelan, “Ih!! Sakit tau!!”, protesnya lagi.

“Hehehe..”

“Dinchaaann!!”, panggil Opi dari kamarnya.

“Iyaaaa!! Sebentaaaarr!!”, jawab Din lalu melihatku, “dadah Tomo-Nii!!”.

Aku tersenyum saat ia berlalu dari hadapanku. Entah sejak kapan aku memperhatikan dia, melihatnya sebagai orang yang lebih dari sekedar sahabat adikku.


I will confess that I’ve fallen for you
You’re everywhere in my dream


Langkahku terhenti saat ku melihat Din menangis di pundak Opi. Aku sudah mendengarnya. Ia putus dari pria yang lebih muda darinya. Siapa itu namanya? Kenapa tega – tega nya dia membuat Din menangis seperti itu?

Huufft~

If Only You’re Mine…

Aku gak mungkin bikin kamu nangis kayak gitu. Aku punya percaya diri soal itu. Tak lama akhirnya tangisnya berhenti. Walaupun terlihat cuek, aku tahu Din cukup sensitif untuk hal – hal seperti cinta dan persahabatan.

“Nii-chan… pergi!! Pergi!! Urusan cewek!!”, kata Opi sambil mendorongku dari ruang makan itu.

“Cowok yang buat ceweknya nangis itu gak bener – bener sayang sama ceweknya..”, ujarku sambil lalu.

“Ih Nii-chaaann!! Pergi sana!!”, kata Opi lagi.

Hampir tiga jam lamanya Din berada di kamar Opi. Aku kadang heran, apa sih yang mereka bicarakan? Tapi aku berusaha tak penasaran, walaupun berkali – kali aku tak sengaja ingin ke atas dan mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Aku pulang ya Opichi…”, kata Din di depan, aku mendengarnya.

“Iya… kau jangan sedih terus. Hati – hati ya!!”, seru Opi.

Aku bergegas keluar rumah, mengikuti Din.

“Hey!”, panggilku pada Din.

Ia menoleh, “Nii-chan? Ada apa?”, tanyanya heran.

“Maaf kata – kataku tadi.. aku tak bermaksud menjelek – jelekkan pacarmu..”, kataku yang memang sejak tadi merasa tak enak karena perkataaan ku.

Din menggeleng sambil tersenyum, “Daijoubu Nii-chan…”

“Sou… aku tebus kesalahanku ya?”, tawarku.

“Eh?? tak usah…”, tolaknya, “Aku tak merasa itu salah kok..”

“Tak apa – apa.. minggu depan aku jemput ya…”, seruku sambil memberikan sekaleng jus padanya.

“Nii-chan!!”, panggilnya ketika aku menjauh.

Aku berbalik dan tersenyum padanya, “Jam sepuluh!!”.


I know that it doesn’t make any sense but I love you
I like this sensation, you know how I feel even if we were to fight everyday


‘Ikuta’

Aku memencet bel rumah itu, tak lama sosok pria keluar dari rumah itu.

“Tomooo!!”, sapanya sambil menghambur ke arahku.

“Stop Toma!! Ini tak bagus dilihat… lagipula.. kau sudah pulang?”, tanyaku heran melihatnya ada di Jepang.

“Hanya ambil bahan skripsi. Besok juga aku kembali ke sana…”, katanya.

Ikuta Toma, kakak dari Din adalah teman masa kecilku. Empat tahun lalu ia pergi ke Eropa untuk melanjutkan studinya.

“Kau mau bertemu aku? Atau adikku?”, Toma memandangku jail.

Ia memang tahu soal perasaanku yang kupendam sejak lama.

“Urusai yo omae!!”, kataku sambil mencoba menyembunyikan wajah maluku.

“Maaf lama…”, kata Din dari belakang tubuh Toma.

Sial~

Kenapa hari ini ia berdandan sangat manis? Hufft~

“Aku bawa adikmu ya Toma…”, kataku lalu menatap Din.

“Hati – hati.. awas lecet!!”, seru Toma sambil melambai padaku dan Din.

“Nii-chan… kita mau kemana sih?”, tanya Din bingung.

Aku membawanya ke bioskop. Ini memang hanya alasan agar aku bisa bertemu dengannya hari ini. Lagipula, sejak aku dengar dia putus, aku merasa ini kesempatanku untuk mendekatinya.

“Mau nonton apa?”, tanyaku, ia terlihat canggung dan gugup.

“Hmmm~ apa ya?”, ia menatap display judul film dengan wajah bingung.

Akhirnya setelah itu, aku yang memutuskan film apa yang akan di tonton. Kami membeli popcorn, lalu duduk menunggu film di putar.

“Kau kenapa?”, tanyaku.

Melihatnya gugup seperti ini, seperti bukan dirinya. Ia selalu bisa membawa diri di hadapanku. Maksudnya, kita kan sudah bersama sejak kecil, harusnya ia tak perlu se gugup ini.

“Aku gugup… ini kan pertama kali Tomo-Nii mengajakku nonton.. berdua pula..”, katanya terbata – bata.

“Ya ampun Din… kau kan sudah sering bertemu aku..”, kataku enteng.

“Tetap saja…”, katanya sambil takut – takut melihatku.

Aku menyentuh kepalanya pelan, “Santai saja… ne?”.

Ia akhirnya mengangguk dan tersenyum lembut. Apa Opi akan marah jika aku mengencani sahabatnya ya?


You always want it your way but I can accept anything from you, only you~
I’m lonely, my heart’s crazy for you and and you’re the only one I see~


“Sankyu nii-chan!! Hari ini benar – benar menyenangkan..”, kata Din tersenyum memandangku.

Setelah nonton, kita makan dan beli es krim. Aku hanya mengikuti apa yang ia mau hari ini. Jujur saja aku juga bahagia hari ini.

“Sama – sama…”, jawabku.

Aku memandanginya lama. Ia disebelahku, kami berdua menunggu bis datang di sebuah halte.

“Ada yang salah?”, tanyanya mulai mengecek dandanannya.

“Tidak…”, kataku meraih tangannya.

“Nii-chan?”

Entah dari mana asalnya keberanian itu. Aku menyentuhkan bibirku pada bibirnya. Ia terdiam, aku bisa merasakan tubuhnya terlonjak kaget karena gerakanku yang tiba – tiba. Dan tanpa menjelaskan apapun, aku menarik pinggangnya, memeluknya dengan tangan kananku, sedangkan tangan kiriku merengkuh wajahnya, meneruskan ciuman itu.


No way, I’ve realized that I’ve been looking at you
It won’t do even if I hate it, stop it, or hide it
It can’t go on like this


To : Dinchan
Subject : Gomen
Gomen na… aku terlalu spontan tadi..
Gomen…


Aku sedikit menyesal karena menciumnya tanpa penjelasan apapun. Ia pasti bingung, sedikit kesal mungkin padaku. Aaaarrgghh! Aku ingin menyalahkan pada sikap spontanku yang kadang berlebihan.
Tak lama, sebuah balasan datang.


From : Dinchan
Subject : Re:Gomen
Tidak apa – apa Nii-chan…
Aku hanya sedikit kaget…
Maaf Nii-chan…
Aku…
Kembali pada Keito hari ini…
Tadinya aku ingin menceritakannya..
Tapi..
Maaf…


Ponsel malang ini sukses hancur berkeping – keping setelah aku membaca mail itu. Aku kembali harus menelan kekecewaan.


Beberapa bulan ini aku jarang melihat Din di rumah. Selain mungkin karena ada aku di rumah, seorang anak teman ayahku, Kei Inoo juga ada di rumah. Sepertinya Opi dan Din sering bertemu hanya di sekolah saja.

Aku menghela nafas berat. Memang tak ada yang tahu kejadian antara aku dan Din malam itu. Tapi aku juga belum sempat meminta maaf soal itu. Din sepertinya juga enggan membicarakannya dengan Opi karena ini menyangkut kakaknya. Selain itu akhir – akhir ini Opi terlihat sedang ada masalah, mungkin karena itu juga Din tak menceritakannya.

Jika ia sudah cerita, sudah pasti aku kena tendang dan kena amarah Opi soal Din.

Tapi hari ini aku melihatnya ada di rumah.

“Dinchan?”, tanyaku kaget saat aku masuk dapur berniat mengambil sekaleng bir untuk menemaniku main game. Hari libur memang paling enak untuk bersantai.

“Nii-chan!!” serunya kaget, hampir menjatuhkan piring yang ia pegang. Aku mencegahnya jatuh.

“Hati – hati…”, kataku pelan.

Ia membenarkan letak piring itu, lalu tersenyum canggung, “Maaf Nii-chan..”

“Tak usah minta maaf.. mau ke atas?”, tanyaku.

Ia mengangguk, dalam diam mengambil beberapa potong kue, “Kita mau belajar…”, jawabnya pelan.

“Hmmm.. sou da ne…”, ujarku tak kalah canggung.

“Kudengar dari Opichi… Nii-chan sudah bekerja? Omedetou ne..”, ucapnya.

Aku mengangguk, “Arigatou..hehehe…”

Memang sejak sebulan lalu aku diterima kerja di sebuah perusahaan.

“Masa cuma omedetou?”, aku berniat menjahilinya siang ini.

“Eh?”

Aku menyodorkan pipiku padanya.

Tak sangka, Din mencium pipiku pelan, dan cepat. Setelahnya ia berlalu meninggalkanku dalam ke kagetan. Apa itu artinya ia memang tidak marah padaku?


I will confess that I’ve fallen for you
You’re everywhere in my dream
I know that it doesn’t make any sense but I love you


“Ojamashimasu…”, suara yang begitu kukenal.

“Din?”, aku agak heran ia datang, padahal Opi sedang tidak ada di rumah.

Opi sibuk dengan Kei sepertinya. Aku juga tak bisa ikut campur urusan mereka saat ini. Walaupun aku tak tahu Opi kenapa, yang jelas setidaknya Opi tak semurung kemarin – kemarin.

“Ada apa?”, tanyaku.

Ia duduk di ruang tengah bersamaku, Ayah tentu saja belum pulang.

“Opichi gak bilang kalau hari ini dia gak ada di rumah..”, katanya kesal.

“Kau tak tahu ia pergi?”, sepertinya sedikit tak mungkin, mengingat keduanya selalu berkomunikasi lewat ponsel.

“Tadi aku lupa bawa ponselku ke tempat les..”, katanya lagi.

Baiklah, dengan begini memang terdengar meyakinkan.

“Aku mau mengembalikan buku ini padanya..”, katanya sambil mengeluarkan sebuah buku tebal. Tak usah ditanya, pasti sebuah novel.

“Sou..baiklah… aku akan memberikannya padanya..”, kataku mengambil novel itu.

Ia terlihat enggan beranjak, matanya bergerak – gerak canggung dan terlihat resah. Namun ia beranjak, aku bermaksud mengantarnya ke depan, jadi aku juga ikut beranjak. Tapi tak lama…

“Tomo-Nii..”, ia berhenti tiba – tiba membuatku kaget.

Secara tiba – tiba ia berbalik dan mencium pipiku.

“Eh??”, ucapku kaget, dan dengan refleks menahan tangannya.

Ia tak bicara apapun, tubuhnya tiba – tiba memelukku. Aku membalas pelukannya, dadaku bergemuruh karena rasanya bahagia sekali ia bisa memelukku seperti ini.

Aku mengendurkan pelukanku, memandang wajahnya, “Ada apa?”

“Aku… boleh menciummu?”

Tentu saja setelahnya aku tak menjawab pertanyaannya, bibirku menginvasi bibirnya, aku menciumnya tanpa pikir panjang. Kami masih berciuman hingga aku menarik tubuhnya sehingga kini ia kugendong, kulakukan agar wajah kami sejajar. Tak butuh waktu lama lidahku kini ikut ambil bagian. Ia terlihat kaget, namun menerimanya dengan malu – malu. Tubuhku kini terhempas ke sofa, kami berdua masih saja tak mau saling melepaskan ciuman ini.

“You’ve got mail!”, ponselku berbunyi benar – benar pada saat yang tidak tepat.

Kami berhenti dengan posisi Din masih berada di pangkuanku.

“Chotto…”, kataku pelan.


From : Opi
Subject : (no subject)
Aku berada di toko 24 jam dekat rumah..
Kau mau kubelikan sesuatu?


“Opi sebentar lagi pulang…”, kataku tanpa menggubris mail itu.

“Eh… kalau gitu aku pulang saja..”, katanya sambil melepaskan diri dari tubuhku.

Aku memeluknya lagi, tak rela ia pergi.

“Arigatou…”, kataku pelan.

Ia membalas pelukanku, “Nii-chan..”

“Jangan panggil aku Nii-chan…”, ujarku lembut.

“Tomo….”, Ia menggantung kalimatnya, memandnag aku, “kun??”.

Aku mencium puncak kepalanya, aku yakin aku orang paling bahagia hari ini.


When I’m with you, I don’t mind being nervous
I may be a little hasty, but you’re the only one who can tell me what to do~
I guess my heart was stolen before I knew it and I’m missing you all day long~


To : Dinchan
Subject : (no subject)
Ohayou~
Sedang sekolah?
Aku rindu padamu…
:-*


Ya. Aku sudah kerja, tapi malah mengirim mail dengan isi sangat kekanak – kanakan. Kadang cinta bisa membuatmu jadi sedikit aneh kan? Hahaha.

Sejak hari itu kami sering sekali berkirim mail. Walaupun kami sebenarnya belum resmi berpacaran, tapi dengan ciuman itu, aku yakin Din mengerti semua isi hatiku.

“Hei!”, sapa seseorang di punggungku.

“Ampun deh Keii!! Jangan ngagetin gitu..”, kataku sambil refleks menutup ponselku.

“Kau…. Jatuh cinta ya?”, tanyanya sambil berdiri di hadapanku, membawa segelas kopi ditangannya.

“Tidak..”, elakku malas.

“Ayolah Pi… jangan bohong padaku… hanya orang jatuh cinta yang bisa memandang ponselnya sambil senyum – senyum gak jelas kayak tadi…”, jelas Keii masih menggodaku.

Aku mengangkat bahu. Teman sekantorku ini, Koyama Keiichiro, adalah temanku di kampus dulu. Ia memang agak usil padaku.

“Lain kali kenalkan padaku ya…”, katanya lalu beranjak dari hadapanku.

“Tak akan!!!”, seruku setelah ia menjauh.


From : Dinchan
Subject : re: (no subject)
Iya.. aku lagi di sekolah…
Huss~
Kerja yang benar sana.. :)
:P


To : Dinchan
Subject : re:re: (no subject)
Sudah kuputuskan…
Kencan kita hari minggu…
:)


From: Dinchan
Subject : re:re:re: (no subject)
Tomo…
Aku ujian hari senin… :(
Aku gak bisa…


Aku mengutuk orang yang mebuat jadwal ujian hari senin. Gara – gara nya aku tak bisa kencan dengan Din.

To : Dinchan
Subject : re:re:re:re: (no subject)
Kencan sambil belajar?
Dou?
Aku akan ke rumahmu..
Ok?


From : Dinchan
Subject : Ok
(Image)


Din mengirimkan fotonya sedang memberikan signal “Ok” dengan tangannya. Aku tertawa melihatnya, dengan begini aku bisa menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat, karena aku merasa Din memberikan semangat baru.


No way, I’ve realized that I’ve been looking at you
It won’t do even if I hate it, stop it, or hide it
It can’t go on like this
I will confess that I’ve fallen for you
You’re everywhere in my dream
I know that it doesn’t make any sense but I love you


“Tomo…yamete…”, bisiknya ketika tanganku mulai masuk ke kaos hitam yang ia pakai, sedangkan mulutku masih sibuk di lehernya.

Aku tak menggubris perkataannya, meneruskan apa yang kukerjakan. Kami berada di rumah Din. Sebenarnya ada Ibu Din di bawah, tapi entah dengan alasan apa aku ingin memberi tanda bahwa ia milikku. Aku tak siap jika ia diambil orang lain.

Tangan Din terus menolak tubuhku, mencoba mendorongku menjauh dari dirinya.

“Tomo… jangan…”, aku berhenti ketika kulihat ia menangis.

Aku menjauh. Bodoh sekali rasanya. Apa aku mulai kehilangan akal sehatku?

“Gomen…”, kataku pelan.

Din terlihat cukup ketakutan denganku, tapi ia menghampiriku.

“Gomen Tomo-kun.. aku… aku…”, ia menggenggam tanganku, mengisyaratkan ia menyesal menolakku.

“Tidak… aku yang salah… maaf Dinchan.. aku tak akan seperti ini lagi…”, kataku sambil meraih tubuhnya yang masih bergetar ke dalam pelukanku.

“Tomo-kun…maaf..”, bisiknya lagi.

Aku menggeleng, “Iiya.. Dinchan… izinkan aku menjagamu mulai sekarang…”

“Eh?”

“Kau mau jadi pacarku kan?”, tanyaku lagi.

Ia mengangguk dan memelukku erat.


Everything’s so different, it’s too different~
I think I am falling in love, be my baby, be my baby~
From head to toe we have nothing in common
Now I wanna know more about you, be my baby, be my baby~


“Nii-chan!! Jadi kau berpacaran dengan Din?? Kok gak bilang – bilang aku??!!”, Din sepertinya sudah menceritakan apa yang terjadi dua hari lalu pada Opi.

“Hehehe..”, jawabku sekenanya.

Opi menghampiriku, mencubit pipiku dengan keras.

“Itttaaaiii!!”, seruku sambil meraih pipinya juga.

Kami berdua meringis sama – sama kesakitan karena pipi kami dicubit satu sama lain.

“Kau kakakku, tapi kalau kau berani menyakiti Din, aku akan membunuhmu!!”, seru Opi sambil duduk di sebelahku.

Aku tertawa, “Tak akan.. aku tak akan menyakitinya…”

“Janji?”, tanyanya lagi, memastikan.

“Janji…”, kataku mantap.

“Awas kau… aku memperhatikanmu Nii-chan…”, katanya sambil menggerakkan dua jarinya, telunjuk dan jari tengahnya di depan matanya dan mataku, sepertinya berkata ‘I’ll watch you!!’

“Iya… aku juga tak bisa memaafkan diriku jika aku menyakitinya..”, ucapku pelan.


No way, I’ve realized that I’ve been looking at you
I’m happy whenever I say your name or look into your eyes


“Omedetou!!”, seruku menyambut Din yang hari ini lulus dari SMA.

Ia menghambur ke pelukanku, mengambil buket bunga yang aku bawa.

“Mana Opi?”, tanyaku tak melihat sosok Opi dibelakang Din.

“Hmmm~ dia ada urusan… dengan.. Kei-chan..”, bisiknya.

“Eh?? Kei-chan?? Kenapa Kei-chan??!!”, seruku sedikit marah.

Din menempatkan jari telunjukunya di bibirku, “Stop!! Jangan begitu Tomo-kun… aku malah berharap mereka bahagia juga… ne?”, katanya sambil tersenyum.

“Baiklah…”, jawabku walaupun sedikit tidak rela.

Sudah setahun sejak kami menjadi pasangan. Setiap harinya aku selalu bersyukur Din lah yang menjadi pacarku. Ia mungkin memang sangat muda, ia mungkin tak lebih dari seorang murid SMA, tapi aku merasa sangat bahagia jika bersamanya.

“Aku diterima di Meiji loh!!”, katanya sambil mengeluarkan sebuah surat ketika kita sudah berada di rumah Din.

“Uwaaa~ omedetou!! Kau merahasiakan ini ya?”, seruku padanya.

Ia mengangguk, “Ini surprise…”

“Literature..”, bacaku pelan, lalu mataku beralih memandangnya, “Omedetou…”, kataku lembut sambil memeluknya.

“Arigatou..ini juga berkat Tomo-kun..”, katanya.

Aku menariknya duduk di bawah ranjang miliknya, ia bersender padaku. Sedangkan aku memeluk dari belakang, ini terasa begitu nyaman.

Ia mendongak melihatku, aku mencium dahinya dengan lembut.

“Tomo-kun…”, panggilnya.

“Ya?”

“Masa cuma omedetou?”

Katanya sambil melepaskan diri dariku, lalu berbalik menatapku, memejamkan matanya.

“Hahaha.. apa ini?”, tanyaku pura – pura tak tahu.

Ia menggembungkan pipinya kesal, “Huu~ Tomo jahat..”, umpatnya pelan.

Aku meraih kedua pipinya dengan tanganku, lalu bibir kami bersentuhan. Aku menciumnya tanpa ragu lagi. Ia milikku, dan kuharap akan selalu jadi milikku.


That will do and I want you too
Please say that we’re alike
Wherever I see, you are the only one in my eyes
I know that it doesn’t make any sense, but I love you


(YounHa – Can’t Believe It)
===========
OWARIIIII!!
Hahahhaa…
Sungguh geje…
Harusnya judunya “Apa yang Opi tak tahu dibelakangnya”
Hahahhahaha…
Peace ah…
:P

Sabtu, 21 Mei 2011

[Fanfic] Little Secret (chap 5) ~end~

Title : Little Secret
Chapter : 5
Author : Opi Yamashita
Genre : Romance mungkin #plakk
Rating : PG
Cast : Kei Inoo (HSJ), Sakurai Sho (Arashi), Yamashita Tomohisa (NewS), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC) dan selentingan orang numpang lewat
Disc : Kei Inoo, Sho Sakurai dan Yamashita Tomohisa itu kepunyaan Okaa-san dan Otou-san serta JE. Opi Yamashita dan Ikuta Din itu OC saia. tehehehhee....ada yang udah nagih jd lngsng post ajah...itung" pengen cepet beres.. soalnya bakal ada proyek baruuuuuu #lirik Din

Douzou~



Sudah 20 menit Opi menatap isi bukunya. Tadi ia bermaksud untuk membaca karena pelajaran berikutnya akan ada tes sejarah. Tapi Opi kesal karena sejak tadi ia tidak dapat berkonsentrasi. Pikirannya masih melayang tentang kejadian tadi malam. Setiap ia mengingat hal itu, wajah Opi terasa panas.



“Haaah~ ternyata tidak bisa,” desah Opi menyerah.



“Apa yang tidak bisa?” tanya Din yang sudah berdiri di hadapan Opi.



“Din? Sedang apa di kelasku?”



Opi kaget Din ada di kelasnya. Opi dan Din memang tidak sekelas. Mereka hanya sempat sekelas ketika kelas 1.



“Aku hanya ingin bilang kalau Tomo memintamu membeli bahan-bahan untuk makan malam nanti,” jelas Din sambil menunjukkan daftar belanjaan.



“Kenapa Onii-chan tidak bilang langsung saja?” Opi lalu memeriksa keitai-nya. Mungkin saja keitai-nya lowbat. Tapi setelah dilihat, baterai nya masih penuh.



“Oh..itu karena tadi aku sedang berkirim e-mail. Jadi sekalian saja.”



“Hah? Berkirim e-mail? Sejak kapan hubungan kalian sedekat itu?” tanya Opi kaget. Ia sama sekali tidak tahu kalau sahabatnya berkirim e-mail dengan kakaknya.



“Tomo tidak pernah cerita? Sudah lama. Sebelum aku putus dengan Keito. Lalu....”



“Lalu?” potong Opi.



“Lalu..dua hari yang lalu..kami pacaran,” lanjut Din pelan.



Opi memalingkan kepalanya kesal. “Cih..jadi kalian tidak pernah cerita padaku? Menyebalkan sekali.”



“Gomen ne..aku takut kau marah. Makanya tidak pernah cerita. Gomenasai,” Din mengatupkan tangannya tanda memohon.



“Aku tidak marah. Aku hanya kesal kalian tidak pernah cerita. Aku pikir kau hanya sekedar tertarik saja,” ralat Opi.



“Jadi kau tidak marah?” Din memastikan.



“Mana mungkin aku marah. Aku senang kalau kau dan Onii-chan senang.”



Din tersenyum lebar. “Sankyuu..” lalu mendaratkan kecupan di pipi Opi.



Opi terbelalak kaget.”Apa-apaan kau? Itu menjijikan tahu..”



“Hee hee..” Din tertawa lebar.”Lalu tadi kau kenapa? Daijoubu ka?” lanjut Din.



“Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan, tapi...”



Opi sengaja menggantungkan pembicaraan karena tiba-tiba ada yang melanjutkan.



“Ikuta Din, apa kau tidak mendengar bel? Cepat kembali ke kelasmu!” perintah Gin-sensei yang sudah ada di depan kelas. Opi dan teman-teman sekelasnya tertawa melihat wajah Din yang sudah memerah.



“Opi...kenapa tidak bilang?” protes Din berbisik.



“Itu hukuman karena kau sudah merahasiakan hubunganmu dengan Onii-chan,” jawab Opi sambil tertawa.



Din cemberut. Ia tidak tahu akan dikerjai oleh sahabatnya sendiri. Akhirnya Din keluar kelas sambil menunduk meminta maaf dan keluar menuju kelasnya dengan menampakkan wajah sangat malu.



----



Opi melirik jam tangannya. Sudah pukul 8 malam saat ia keluar dari wilayah sekolahnya.



Opi menghembuskan nafasnya dengan berat. ”Hari ini juga tidak ada,” gumamnya.



Sudah 2 minggu terakhir ini Kei yang biasanya menjemputnya tidak menampakkan diri sama sekali. Di rumah ia hanya bertemu dengan Kei pada pagi hari. Itu pun hanya sebentar. Bahkan saat pertandingan kemarin, Kei tidak menontonnya.



Sikap Kei sedikit berubah sejak peristiwa Kei menciumnya. Hal itu sedikit membuat Opi lega karena ia belum bisa menjawab apapun tentang perasaan Kei. Ia pasti akan kebingungan jika tiba-tiba Kei ada dihadapannya lalu meminta jawabannya. Tapi ada juga perasaan kesepian. Ingin rasanya peristiwa itu tidak pernah terjadi.



“Kalau kau berjalan sambil menunduk seperti itu, kau bisa menabrak tiang.”



Suara itu muncul dari seseorang di belakangnya. Opi menoleh untuk mengetahui siapa yang berbicara.



“Kei?”



Opi tidak mengira kalau orang itu adalah Kei. Baru saja ia memikirkan kalau tiba-tiba Kei ada dihadapannya. Dan sepertinya pemikirannya menjadi kenyataan.



“Tadi aku ke sekolahmu. Tapi temanmu bilang kau sudah pulang. Jadi aku menyusul,” jelas Kei tanpa ditanya.



Opi hanya mengangguk.



Selama perjalanan menuju halte, baik Opi maupun Kei tidak berkata apapun.



“Ano...” Kei akhirnya berbicara.



Opi masih juga bergeming.



“Tentang malam itu....”



Hanya bercanda saja, batin Opi berharap itu yang akan dikatakan oleh Kei seperti saat dia melakukannya pertama kali 11 tahun yang lalu.



“Malam itu....aku serius,” lanjut Kei.



Opi menoleh ke arah Kei dengan cepat karena kelanjutannya tidak sesuai dengan harapannya.



“Demo....doushite?”



“Kamu tahu, saat kamu menangis 8 tahun yang lalu. Saat mamamu meninggal. Lalu saat kamu menangis karena putus

dengan Sakurai-san. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu agar kamu tenang. Apapun itu. Walaupun sikapku menyebalkan. Asal membuatmu tenang dan senang. Aku ingin melakukan semuanya.”



Ucapan Kei benar-benar membuat Opi tidak dapat berkata apa-apa. Ini diluar dugaannya. Ia tak menyangka Kei akan mengucapkan hal-hal yang......menenangkan.



“Tapi..aku masih.....”



“Aku tahu,” potong Kei.”Tidak semudah itu kamu melupakan Sakurai-san. Aku akan menunggu.”





Opi lalu terdiam. Seperti yang dikatakan Kei, ia memang belum bisa melupakan Sho. Tapi mendengar Kei mengucapkan kata-kata itu membuat ia senang.



“Kei..” panggil Opi.



“Hmm?”



“Arigatou..”



Kei tersenyum. Senyum yang paling Opi sukai.



Opi lalu memeluk Kei. Kei sedikit kaget tapi kemudian membalas memeluk Opi. Ia tahu perjuangannya belum selesai. Tetapi asal ia dapat melihat Opi senang, ia akan terus menunggu. Walaupun membutuhkan waktu yang lama. Dan bagi Opi ini mungkin akan menjadi awal yang baru untuknya. Ada baiknya melupakan Sho dan masa lalunya. Meskipun ia sendiri tidak yakin karena ia terlalu menyayangi Sho. Tapi dari lubuk hatinya, ia senang karena ada Kei di sampingnya.

Dengan masih tersenyum, Opi kembali bergumam, “Arigatou, Kei.”



----



1 tahun kemudian



“Opi, lihat sini!” pinta Din sambil mengarahkan kameranya. Opi sadar akan dipotret lalu tersenyum.



“Din, kemana saja? Tadi aku mencarimu,” Opi lalu menghampiri Din.



Din hanya tersenyum malu. “Aku tadi bersama Tomo,” katanya kemudian.



“Ah..Onii-chan? Beruntung sekali...”



Hari ini tepat hari kelulusan Opi dan Din. Setelah 3 tahun melewati berbagai hal, akhirnya mereka terlepas dari masa SMA mereka.



“Kita pasti akan merindukan suasana seperti ini,” kata Opi.



Din mengangguk. “Banyak sekali yang kita lewati.”



“Un~ seperti Keito kan?” goda Opi diiringi tertawa puas.



“Kau juga. 1 tahun yang lalu. Tentang Sho-sensei,” balas Din.



Opi tiba-tiba terdiam. Din benar. Satu tahun yang lalu adalah saat yang paling berkesan untuknya. Dimulai dengan Opi yang berpacaran dengan Sho, lalu kencan dan pada akhirnya mereka harus berpisah.



“Kau benar,” gumam Opi. “Haaa~ kenapa tiba-tiba aku merindukannya yah?” sahut Opi.



“Kau jangan lupa. Ada yang sedang menunggumu,” lanjut Din.



Opi mendesah panjang. “Jangan ingatkan itu. Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”



Bersamaan dengan ucapannya, Din lalu memanggil Opi dengan tidak sabar.



“Opi...Opi..” panggil Din.



“Doushita no?”



“Sore wa...”



Opi melihat ke arah yang ditunjuk Din, dan di sana sudah berdiri Kei.



“Kei?”



Kei menyadari Opi melihatnya. Lalu ia berjalan menghampiri mereka berdua.



“Omedetou~” ucap Kei begitu sudah di hadapan Opi dan Din.



“Arigatou,” balas Opi yang lalu diikuti oleh Din.



“Ano~ sepertinya aku harus pergi. Tomo menungguku,” ujar Din. “Ja ne~.”



Opi bergumam kesal. Ia tahu Din pasti sengaja meninggalkannya dan Kei.



Selepas kepergian Din, Opi dan Kei masing-masing masih diam.



“Ikko~,” ajak Kei seraya menarik tangan Opi.



“Eh? Kemana?” tanya Opi.



Kei tidak menjawab. Ia hanya berjalan dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Opi. Opi sebenarnya

bingung, kenapa dia mau saja mengikuti Kei? Padahal ia tidak tahu akan dibawa kemana dia oleh Kei.



“Ah...Ini kan....”



Opi tahu jalan ini. Ia sangat mengenal jalan ini. Karena ini jalan menuju makam mamanya.



“Kei....” panggil Opi.



Kei tidak menggubis panggilan Opi. Ia lalu berlutut di hadapan makam dan mengatupkan kedua tangannya. Kepalanya tertunduk lalu diam.



“Apa yang kita lakukan di sini?” tanya Opi begitu Kei berdiri kembali.



“Mengunjungi mamamu,” jawab Kei singkat.



Opi semakin tidak mengerti.



“Kamu tahu, apa yang aku lakukan tadi?” tanya Kei.



Opi menggeleng tanda tidak tahu.



Kei tersenyum. “Aku bilang pada mamamu, kalau aku akan menjagamu. Aku akan melanjutkan tugas Tomo Onii-san. Aku

akan membuatmu bahagia.”



Opi tertegun. Ia tidak mengira Kei akan memikirkan hal sedetail itu.



“Kei...”



“Apa kamu keberatan kalau aku......”



“Tidak,” potong Opi.



“He?”



Opi lalu berlutut menghadap makam mamanya.



“Aku tidak keberatan kamu menjagaku. Aku juga tidak keberatan kamu melindungiku,” jawab Opi.



Kei seakan tidak percaya dengan pendengarannya.”Apakah kamu....sudah bisa melihatku?”



“Melihatmu?” tanya Opi tidak mengerti.



“Selama ini kamu hanya mengingat tentang Sakurai-san. Dan aku sudah tidak punya kesempatan.”



“Ma~” Opi memiringkan kepalanya.”Ya begitulah”.



Kei tersenyum lalu menggenggam tangan Opi.



“Ah~” seru Opi seperti teringat sesuatu. “Mungkin kita jangan dulu memberitahu Onii-chan.”



“Doushite?”



“Onii-chan tidak akan suka ini. Karena dulu ia berharap kita tidak berpacaran,” jelas Opi.



“Jadi....ini rahasia?” tanya Kei.



Opi mengangguk.



“Lagi?” tanya Kei lagi.



“Lagi?” Opi kembali bertanya.



“Bukankah waktu berpacaran dengan Sakurai-san, kalian juga merahasiakannya?”



“Ah...kau benar.”



“Tidak masalah,” kata Kei kemudian.”Asalkan kau bersamaku.”



Opi mengangguk lalu tersenyum lebar. ”Kaerimasho~.Aku sudah lapar.”



~FIN~

Akhirnya...

gaje kan terakhirnya?

sebenernya sih pngn ada kelajutannya. tapi klo pada pengen...

jadi komen ajah...

klo mau ada lanjutannya ato ga..

klo engga sampe di sini ajah yah...



ahahahaha...