Tampilkan postingan dengan label Miyuy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Miyuy. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

[Fanfic] Accidentally In Love (chapter 11)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Eleven
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG - 13
Starring : all HSB member (Takaki Yuya, Yabu Kota, Yaotome Hikaru, Arioka Daiki, Inoo Kei), Takahashi Nu (OC), Ikuta Din (OC), Yamashita Opi (OC), Yoshitaka Py (OC), Misaki Miyuy (OC), Akanishi Jin as Takaki Jin, and other character… ^^
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Akanishi Jin are belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~ maap lamaaaaaaa~ XP


Accidentally In Love
~Chapter 11~

Siang yang tak begitu panas, namun Opi merasa dirinya cukup berkeringat di cuaca seperti ini. Alasannya karena ia ada di depan rumah Inoo. Ia memang tak sendiri, tapi tetap saja ia merasa gugup. Layaknya seseorang mau bertemu Ibu mertua.

“Arigatou ya Opi-chan, sudah mau menemaniku bertemu orang tuaku..” kata Inoo sambil tersenyum ke arah Opi.

Opi membalas senyum itu dengan canggung, ia tak yakin mentalnya siap untuk menghadapi ini. Tapi bagaimanapun ia sudah berjanji pada Inoo, maka ia tak bisa mengelak sama sekali.

Rumah itu cukup besar, dengan dekorasi klasik Jepang. Ia bisa membayangkan orang tua Inoo memakai kimono ketika di rumah, mungkin juga Inoo seperti itu jika di rumah. Entahlah, ia mulai memikirkan hal – hal aneh ketika ia gugup.
“Ayo…” ajak Inoo menarik sedikit tangan Opi yang sejak tadi ia genggam.

“Hmm.. ayo..”, jawab Opi melangkahkan kaki masuk ke pekarangan rumah itu bersama Inoo di sampingnya.

Inoo menunduk pada beberapa pekerja yang ada di depan rumahnya.

“Tuan muda…” seru seorang wanita yang cukup renta ketika pintu terbuka.

“Mayo-chan!!” kata Inoo seraya memeluk wanita tua itu.

“Kemana saja kau? Berani – beraninya tidak pulang setahun lamanya..” kata wanita itu masih menepuk – nepuk punggung Inoo.

“Ah iya… ini Yamashita Opi…” kata Inoo setelah melepaskan pelukan itu.

“Yamashita Opi desu… yoroshiku onegaishimasu..”

Wanita itu tersenyum, “Panggil saja Mayo…. Aku pengasuh Kei-chan sejak ia baru lahir..” jelasnya.

Opi balas tersenyum. Mereka pun masuk dan diminta menunggu di sebuah ruangan. Tak lama, seseorang masuk yang Opi tebak sebagai Ibunya Inoo.

“Akhirnya kau datang Kei-chan..” kata Ibunya lalu duduk di hadapan Inoo dan Opi.

Dugaan Opi benar, wanita yang kini duduk di hadapannya memang memakai kimono, terlihat anggun, hasil didikan sejak muda menjadi nyonya rumah yang sejati. Opi memandang blouse sederhana yang ia pakai, dan sedikit menyesal tak mempersiapkan diri lebih banyak.

“Bukankah memang Okaa-chan yang meminta aku pulang?” tanya Inoo.

“Iya… karena Otou-san ingin bicara denganmu..” kata Ibunya, “Kau??” ia melihat Opi dengan padangan penuh tanda tanya.

“Yamashita Opi desu… yoroshiku onegaishimasu…” Opi menunduk sedikit.

Selang beberapa detik kemudian seorang laki – laki paruh baya yang terlihat gusar dengan kedatangan Inoo pun masuk. Tak perlu ditanya, itu pasti Ayahnya Inoo.

Wajah Inoo menegang, rahangnya terkatup rapat seolah ia akan marah. Opi merasakan tangan Inoo meraih tangannya dibawah meja, meremas tangan Opi dengan kuat seakan meminta kekuatan dari Opi.

“Kau pulang untuk apa?!” seru laki – laki itu.

Inoo tak menjawab.

“Anata~ bicara baik – baik…” tegur Ibunya Inoo lembut.

“Aku ingin ayah menerima keputusanku…” kata Inoo to-the-point.

“Ayah akan menerima pilihanmu untuk jadi arsitek, asal dengan satu syarat…” kata Ayahnya tenang.

“Apa?” Inoo menggenggam tangan Opi lebih erat.

“Kau harus ikut omiai minggu depan… setidaknya kau akan menikah dengan gadis yang ayah inginkan..” mata pria paruh baya itu mendelik ke arah Opi.

“Aku menolak…dan akan selalu menolak…” Inoo berdiri menarik Opi, “Aku pulang dulu Okaa-chan…” katanya terlihat sangat emosi.

“Cih~ melarikan diri lagi? Apa karena gadis itu kau tak mau?” tanya Ayahnya tanpa sedikitpun menoleh menatap anak laki – laki yang dulu selalu jadi kebanggannya itu.

“Iya… Ayah memang tak pernah memikirkan perasaanku kan?” Inoo menarik Opi menjauh dari ruangan itu.

“Ini demi kebaikanmu!!” seru Ayahnya.

Inoo tak ingin mendengar apa – apa lagi dan membawa Opi keluar dari rumah itu dengan tergesa – gesa.



“Inoo-kun…” panggil Opi setelah mereka naik bis, tujuan mereka kali ini tentu saja rumah Opi.

“Sebenarnya apa mau orang tua itu?!” umpatnya kesal.

Opi mencoba menenangkan Inoo yang terlihat emosi.

“Harusnya Inoo-ku jangan emosi dulu… ne?” kata Opi tenang.

Inoo menoleh menatap Opi, “Gak bisa gitu…dia seenaknya bilang bahwa aku harus omiai dengan orang lain? Ffuh~ bercanda nya keterlaluan…” kata Inoo lagi.

“Kenapa memang?” Opi sendiri was – was menantikan jawaban Inoo.

“Umurku baru berapa? Sudah harus omiai??!!” seru Inoo lagi.

“Mungkin sekarang tahap perkenalan dulu saj…”

Omongan Opi terpotong karena tatapan Inoo yang tiba – tiba marah, “Kita pacaran kan? Kenapa kau bilang seperti itu?” tanya Inoo gusar.

“Hah? Kita apa?” Opi mencoba mencerna semua kata – kata Inoo tadi.

Ia memang mendengar kata itu, tapi ia tak yakin Inoo seratus persen sadar saat mengatakannya.

“Maksudku..hubungan kita tak sekedar teman kan? Iya kan?” kini nada bicara Inoo seperti menuntut kejelasan dari Opi.

“Itu…aku…” mata Opi bergerak – gerak bingung.

“Entah apa yang kau rasakan… tapi buatku kau tak pernah hanya jadi sekedar teman…”

Bibirnya kelu, ia tak tahu harus mengucapkan kata apa. Opi menemukan dirinya ingin berkata yang sama, namun hatinya sendiri masih takut mengungkapnya.

=========

Yabu melambaikan tangannya pada Miyuy, “Ya sudah…hati – hati ya Miyuy-chan..” serunya.

“Aku kan cuma mau ke kelas…” cibir Miyuy pada Yabu.

“Hehehe… iya…” suasana hati Yabu akhir – akhir ini membaik dengan membaiknya hubungannya dengan Miyuy.

Mereka baru saja makan siang di dekat taman sekolah, hanya berduaan karena mereka merasa ingin begitu. Akhir – akhir ini mereka memang sering menghabiskan waktu berduaan, seakan mereka ingin hubungan mereka tak renggang lagi.

“Kou-chan!!” panggil seseorang padanya ketika ia baru saja menginjakkan kaki di kelas.

“Kenapa kau?” ternyata itu Taiyou yang memanggilnya.

“Ini…maaf kelamaan minjemnya..” Taiyou menyerahkan sebuah buku.

“Ah… iya… jangan – jangan aku kena denda lagi…” keluh Yabu, karena ia meminjamnya dari perpustakaan.

“Tidak!! Aku sudah mengechecknya… sampai hari ini batas waktunya..” sambar Taiyou.

“Baiklah…aku ke perpus dulu deh..” kata Yabu akhirnya.

Sialnya buku ini dipinjam atas namanya, sehingga ia sendiri yang harus mengembalikannya.

“Yabu-kun…” suara itu, Yabu hapal benar karena baru beberapa hari ini orang itu memanggilnya seperti itu.

“Ayame…” ucapnya lirih.

Yabu di daulat untuk mengembalikkan buku itu ke raknya seorang diri, tak sangka ia malah bertemu dengan Ayame.

“Kenapa waktu itu tak datang?” tanya Ayame dengan raut wajah sedih.

“Eh? Apa maksudmu?” Yabu benar – benar tak ingat apapun.

“Hidoi!! Yabu-kun lupa janji kita…” kini mata Ayame terlihat berkaca – kaca, tampaknya tangisnya akan segera tumpah.

“Eh? Chotto… aku benar – benar…”

Yabu memang lupa, beberapa hari lalu Ayame memang mengirimkan sebuah pesan padanya, memintanya bertemu di perpustakaan pada jam istirahat. Namun ia lupa dan tanpa sengaja menghapus pesan itu.

“Etto… gomen na Ayame… aku lupa…” elak Yabu lalu menyimpan buku yang ia pegang karena kebetulan ia sudah menemukan tempat yang benar.

“Padahal Yabu-kun menjawab dengan kata ok saat itu…” mata Ayame kian berkaca – kaca, membuat Yabu tambah bingung.

“Aduh…maaf…” Yabu sekali lagi meminta maaf pada Ayame.

Ayame tertunduk, “Ya sudahlah… tak apa jika Yabu-kun tak mau berbicara denganku lagi..” kata Ayame lalu berbalik meninggalkan Yabu.

Secara refleks Yabu menahan lengan Ayame, “Memangnya ada apa?” tanya Yabu.

“Apa Yabu-kun sudah tidak punya perasaan apa – apa padaku?” tanya Ayame yang masih saja memunggungi Yabu.

“Hah?” demi Tuhan ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud gadis itu.

“Karena aku masih suka pada Yabu-kun…” kini gadis itu berbalik dan tanpa aba – aba memeluk Yabu, melingkakan tangannya di badan Yabu.

“Eh? Ayame… itu… aku…” ia laki – laki, sebagaimanapun hatinya menolak, tapi dipeluk begini tentu saja membuatnya sedikit kaget.

BRAKK!

Buku – buku berhamburan di lantai. Baik Ayame maupun Yabu menoleh, dan mendapati Py tengah melihat mereka berdua.

“Sumimasen..” Py segera berlari keluar perpustakaan, ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, sementara ia tadi melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.

“Kenapa?” tanya Miyuy ketika Py masuk dan melihatnya dengan tatapan aneh.

Py menggeleng, hatinya dilema antara itu bukan urusannya, tapi juga Miyuy sahabatnya, harusnya ia memberi tahu hal ini.

“Hmm… sudah mengerjakan PR matematika?” tanya Miyuy pada Py.

Kali ini ia mengagguk.

“Kau terlihat tegang sekali… ada apa?” tanya Miyuy lagi.

“Itu…aku…itu…” Py melihat Miyuy menimbang – nimbang apakah bijaksana memberi tahu Miyuy hal yang tadi ia lihat.

Tapi di sisi lain itu kan urusan antara Yabu dan Miyuy? Ia takut malah nanti kesalahan bicara bisa menimbulkan presepsi yang berbeda dari Miyuy sendiri.

“Py? Daijoubu?” tanya Miyuy sambil melihat wajah Py yang terlihat mengerenyit, “Wajahmu aneh sekali… ada masalah?”, tanya Miyuy lagi.

“Tidak ada apa – apa…” jawab Py akhirnya.

========

Praktis sudah seminggu ini Py tidak melihat Hikaru. Ia bahkan tak menangkap bayangan Hikaru jika ia berjalan di depan kelas Hikaru.

Kemana ya dia?

Py sungguh ingin bertanya pada Yabu atau Shoon, tapi ia yang jarang sekali berinteraksi dengan laki – laki itu juga tak berani bertanya pada ketiga teman Hikaru.

Kali ini pun begitu. Ia berada di depan kelas Hikaru, 3C. Niatnya ingin bertanya pada Yabu, perihal Hikaru yang juga tak terlihat di sekolah ini.

“Py!” Yabu menghampirinya, benar – benar menghampirinya.

“Anou… Yabu-san…”

“Yoshitaka-san…maksudku… itu…masalah yang kau lihat di perpus..” Yabu sepertinya mencoba menjelaskan kesalah pahaman yang py lihat di perpustakaan.

Seketika Py diam, menyimak apa yang akan Yabu katakan.

“Itu.. hanya salah paham… aku tak ada apa – apa dengan Ayame…” jelas Yabu.

Py mengangguk, “Aku kesini bukan untuk menanyakan itu..” katanya pelan.

“Yokatta… maksudku… aku dan dia benar – benar tak ada apa – apa..” kata Yabu lagi.

“Un… wakatta… lebih baik Yabu-san katakan itu langsung pada Miyuy-chan saja…” jawab Py.

Yabu tersenyum, ia beruntung Py ternyata tidak ingin ikut campur urusan ini.

“Tadi kau bilang…kau kesini bukan untuk itu? Lalu?” Yabu menatap Py yang terlihat semakin malu – malu.

“Err… itu…” Py mengedarkan pandangannya sekilas, “Aku mencari Hika.. Yaotome-kun maksudku…” kata Py sambil tertunduk malu.

“Eh? Kau belum tahu?” Yabu mengerenyitkan dahinya, sekilas tak percaya bahwa Hikaru sama sekali tak memberi tahu Py masalah ini.

“Tahu apa?” tanya Py heran.

“Hmmm.. lebih baik kau ikut aku sepulang sekolah… bagaimana?”

“Eh?” Py menebak – nebak apa yang terjadi sebenarnya.

===========

Koridor itu tampak lengang, tentu saja karena sekarang sudah masuk jam pelajaran. Tapi Miyuy berjalan menuju ruang guru karena di tugasi mengambil buku tugas yang Jun sensei lupa membawanya.

Ugh!

Miyuy mencibir, di hadapannya seorang Ayame baru saja keluar dari ruang guru. Sejak kejadian Inoo memukul Yabu di taman bermain tempo hari, membuatnya kehilangan respek terhadap sekretaris OSIS itu.

Ayame berjalan ke arahnya, lalu tersenyum formil pada Miyuy, khas anak bangsawan dan populer seperti dirinya.

“Misaki-san” panggil Ayame pelan setelah Miyuy melewatinya, “Iya kan?” tanyanya tanpa berbalik sedikitpun.

Langkah Miyuy terhenti, ia juga enggan berbalik.

“Zannen… tapi Yabu-kun akan tetap jadi milikku..” kata Ayame dengan nada bicara yang sama sekali tidak menyenangkan. Terlalu menyebalkan terdengar di telinga Miyuy.

Miyuy tak bergeming, tapi seolah ia menunggu apa yang Ayame katakan.

“Lihat saja… kencan minggu ini, Yabu-kun akan jadi milikku lagi…”

“Kencan?” gumam Miyuy kaget.

“Gadis malang~ kau tak tahu kalau kau hanya pelarian Yabu-kun saja?” tanyanya masih dengan nada sangat menyebalkan.

Ayame bergerak meninggalkan tempat itu tepat ketika Miyuy berbalik ingin meminta penjelasan.

Miyuy terdiam sesaat. Apa yang dimaksud Ayame dengan kencan bersama Yabu? Ia tak mau percaya, tapi gelagat Yabu yang akhir – akhir ini sedikit aneh membuatnya mau tak mau menjadi khawatir.

==========

Sore ini akhirnya Yabu mengajak Py juga Miyuy ke apartemen Hikaru. Miyuy ikut karena memang Yabu akan pergi dengan Miyuy setelahnya.

Sepanjang perjalanan itu Py berfikir hal yang macam – macam. Kenapa Yabu tak mau memberi tahunya langsung saja? Kenapa harus sampai membawanya ke apartemen Hikaru?

Pikiran Py kacau, jika begini ia ingin menangis rasanya.

Sementara di bangku lain di bis ini, Miyuy dan Yabu juga merasakan atmosfir ketidak nyamanan di antara mereka berdua. Yabu merasa ada yang salah dengan sikap gadisnya itu sejak tadi ia ajak pulang bersama. Tapi ia terlalu takut untuk bertanya ada apa?

“Miyuy-chan..” panggil Yabu pelan.

“Hmmm…”

“Daijoubu?” tanya Yabu.

“Daijoubu…” jawab Miyuy sambil mengarahkan pandangan ke jendela luar.

Mulut Yabu terkunci. Selama beberapa bulan berpacaran dengan Miyuy, setidaknya ia tahu kebiasaan Miyuy jika marah, ia akan diam tanpa memberi penjelasan apapun padanya, dan itu tak bisa di ganggu gugat hingga Miyuy sendiri yang memutuskan mau berbicara dengannya atau tidak.

“Ada sesuatu yang harusnya kau katakan tapi tidak kau katakan?” tanya Miyuy tanpa menoleh melihat Yabu.

Yabu tersentak, apa sebenarnya yang ada di pikiran Miyuy?

“Apa maksudmu?” Yabu bersumpah ia tak suka main tebak – tebakan begini.

Miyuy harusnya tahu, ia laki – laki. Terlebih dia mahluk Tuhan yang diciptakan tidak sensitif. Bagaimana caranya ia bisa membaca pikiran Miyuy? Ia bukan cenayang, ia tak punya kekuatan supranatural untuk membaca apa yang gadis itu pikirkan.

“Benar tidak ada?” tanya Miyuy lagi.

“Aku kira…. Tidak ada…” jawab Yabu takut – takut.

“Souka…” Miyuy mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Yabu benar – benar berniat membohonginya berarti.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di halte yang cukup dekat dengan apartemen Hikaru. Py dapat merasakan kejanggalan diantara Yabu dan Miyuy, namun tentu saja tak mungkin ia menanyakannya pada mereka.

Yabu membuka pintu apartemen itu dengan hati – hati setelah meminta kuncinya pada pemilik apartemen.

Pemandangan itu tak sama dengan apa yang biasa Py lihat disitu. Tak ada lagi buku berserakan, atau baju – baju tak tertata di tempat itu. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan tempat itu sekarang, Kosong, tapi Py menangkap Bass milik Hikaru masih ada disitu.

“Yabu-san… maksudnya apa?” Py tak tahan lagi, ia kini menangis dan terisak pelan.

“Hikaru sudah pulang ke Sendai..” jelasnya.

Py melangkah masuk dan mendekati Bass milik Hikaru. Ia tertarik karena ada sebuah kertas disitu.



Dear Py-chan…

Genki desu ka? Aku harap kau sedang tersenyum ketika membaca surat ini.
Aku tahu kau pasti mencariku, maka aku meninggalkan surat ini disini. Kalaupun surat ini di temukan orang lain, aku sudah menuliskan alamatmu di amplopnya. Mudah – mudahan ia mengirimkannya padamu.
Maaf aku pergi tanpa pesan sama sekali.
Ini mendadak sekali, dan aku juga tak tahu harus berkata apa pada Py-chan. Mungkin aku hanya terlalu pengecut untuk mengatakan selamat tinggal padamu. Karena aku tak rela, itu saja.
Aku harus pulang ke Sendai. Ayahku sakit keras, dan sebagai anak tertua aku harus menggantikan ayahku bekerja di tokonya. Yah, Toko ini akan jadi milikku pada akhirnya.
Maka kutinggalkan bass itu. Sederhana saja, aku tak mungkin menjadi musisi seperti keinginanku. Sejak lahir, takdirku di toko ini, dan akan terus di toko ini. Terima Kasih karena Py tidak pernah menertawakan mimpiku. Karena Py aku terus bisa bermimpi, dan yakin jika aku bisa meraihnya. Namun jawabannya tidak, aku meninggalkan mimpiku di Tokyo, kembali pada takdirku sendiri.
Py-chan…
Aku yakin kau bisa jadi mangaka hebat. Aku percaya itu, jika aku tak bisa meraih mimpiku, aku ingin Py bisa melakukan itu. Aku percaya Py bisa.
Sekali lagi, maaf aku tak berpamitan, mungkin setelah semuanya tenang, aku bisa menghubungi Py.
Baik – baik disana. Aku sudah merindukanmu bahkan ketika menuliskan surat ini saja. Haha.

Hikaru

Dan kini air mata Py yang sedari terus mengalir tak dapat dibendung lagi. Py meraih Bass itu, memeluknya karena tak percaya Hikaru tak berpamitan dengannya.

“Sudah Py…tenang~” kata Miyuy sambil memeluk Py.

===========

Terduduk sendiri. Menyesap secangkir black coffee di sebuah café tepi jalan. Yuya Takaki memfokuskan pandang pada tabloid dalam genggaman, namun tidak pikirannya. Seluruh otaknya berkonsentrasi mengingat kejadian beberapa malam yang lalu.



-Flashback-



“Dinchan, aku ingin mengatakan sesuatu…”

“Jinjin…”

“Aku akan pergi ke New York, tinggal disana. Baik-baiklah bersama Yuya disini, oke?”

Deg

“Kenapa?” selaput bening sudah bisa dipastikan menghias iris coklat tua si gadis belia.

“Ini memang rencana lama. Aku, sebagai penerus keluarga Takaki, punya tanggung jawab meneruskan perusahaan keluarga. Aku akan kuliah bisnis, lalu mengurusi cabang perusahaan yang ada disana…”

“Ah, bukankah sejak dulu impian Jinjin adalah menjadi…model?”

Jin tak bisa membalas.

“Aku tahu aku tak punya hak melarang. Tapi aku ingin Jinjin tetap disini…” mencengkram lapisan tebal mantel musim dingin, likuid hangat mengaliri pipi.

“Tolong jangan menangis. Kau punya Yuya disini. Berbahagialah kalian, demi kalian sendiri... dan demi aku...“ mengusap bagian atas kepala Din dengan sayang.

“Jinjin...“ isakan pelan keluar dari mulut Din, ia tak percaya harus merelakan Jin benar – benar pergi dari hidupnya.

“Hh... aku memang tak pintar mengucapkan selamat tinggal...” Jin menarik si gadis kedalam pelukan. Menghalau dingin malam dalam dekap penuh proteksi. Berharap isak akan terhenti.

Aroma maskulin Jin begitu lekat dengan penciumannya. Pelukan itu selalu terasa nyaman. Peduli apa dengan status Din yang merupakan pacar dari Yuya.

“Jangan pergi...”

Sejak kecil, sosok Takaki Jin memang seperti kakak baginya. Terlalu nyaman bersama. Selalu dimanja. Cinta pertamanya.

“Hmm, Dinchan. Ada satu rahasia yang aku akan beritahu.“

“Rahasia?“

“Ya. Kau harus janji tak akan memberitahu siapapun,” tanpa si gadis berambut ikal menyadari, kelingkingnya sudah bertaut dengan milik sang pemuda yang lebih tua.

“A...Aku janji...” ucap Din lirih.

“Hanya antara kau, dan aku...  tak ada lagi yang boleh tahu...”

“Oke...”

Din masih menanti. Tapi bukan kata yang menjadi jawab. Melainkan bibir tipis Jin yang menempel lembut dibibirnya. Hangat, begitu kontras dengan udara sekitar yang mungkin sebentar lagi akan ditaburi warna putih salju.

Din memejamkan matanya. Menikmati beberapa detik yang begitu dinanti selama belasan tahun hidupnya. Jenis berbeda dengan yang biasa, yaitu kecupan di kening yang didaratkan penuh sayang oleh kakak laki-laki, melainkan ciuman romantis yang dianugerahkan pada kekasih hati.

“Aku menyukaimu. Sejak lama. Mungkin sejak saat kau masih kecil hingga terlalu polos untuk menyadari apa-apa. Dinchan, kau cinta pertamaku...” ucap Jin pelan, tepat di telinga Din.

“Bohong! Kalau suka aku, kenapa tak bilang sejak dulu?!”

“Karena aku tahu, tempatku adalah sebagai seorang kakak untukmu...”

“Jinjin bukan kakakku! Sejak dulu aku selalu menyukai Jinjin. Berulang kali patah hati ketika Jinjin kencan dengan perempuan yang mungkin setiap minggu berganti... hingga jadi terbiasa sendiri..” air mata Din terus mengalir, ia begitu menyesal, tapi ia juga tak tahu harus berbuat apa.

“Tak ada yang seperti dirimu...” kalimat sederhana yang begitu menentramkan jiwa.

“Hh... aku yakin, Naomi-neechan berbeda…” ujar Din.

Menjawab dengan senyuman sederhana namun penuh makna.

“Jinjin...”

“Aku akan berbahagia untuk kalian, kedua adikku,” Ia tersenyum mengisyaratkan janji yang pasti ditepati, sebelum kembali mendekap hangat untuk yang terakhir kali.

Tak lagi membalas, Din hanya membiarkan diri tenggelam dalam pelukan si Takaki yang lebih tua. Setengah mati meyakini hati akan belajar merelakan dirinya yang menjadi sosok ditinggal pergi dengan perasaan yang baru diketahui bukan tak berbalas.

Jin telah menjadi sahabatnya.

Kakaknya.

Pelindungnya.

Cintanya.

Sejak dulu, saat ini dan seterusnya.

Obsesinya –ya, kata obsesi dengan presisi mengganti definisi cinta.

Kini sang obsesi harus pergi. Membawa semua perasaan yang direlakan namun tersampaikan dengan pasti.

Segalanya.

Yang membuatnya merasakan indah jatuh cinta sekaligus sakit karna tak bisa memiliki.

Terlalu ingin menikmati hingga baru sadar sebuah kata membuyar lamunan, “Dinchan?”

“A, ah. Hai.”

“Salju mulai turun. Ayo pulang…” ajak Jin sambil menarik lengan Din.

Din enggan, “Biarkan saja begini. Ini kan terakhir kali aku bisa egois sama Jinjin…”

“Ahaha, baiklah…” tawa Jin kali ini terasa menyakitkan.

Mereka tak menyadari ada eksistensi lain yang tak kalah tersakiti.

Yuya hanya menatap dan kemudian memutuskan pergi. Semua yang dikatakan Jin ketika mabuk tempo hari memang terbukti. Tapi ia terlalu malas mengurusi, terlalu terbiasa sakit hati.



-Flashback End-



Meninggalkan beberapa kepingan sebelum beranjak diatas meja. Membiarkan leher dirangkul lebih erat oleh lembar sewarna karamel. Udara telah menjadi semakin dingin hingga ia melihat kepulan embun dari mulutnya saat menghembuskan napas berat, mengirim sinyal putus asa ke langit kelabu yang tak pernah mau tahu.

Ia tak tahu apa yang terbaik untuknya atau untuk Din. Selama hidupnya, hanya satu gadis yang ia cintai, dan ia yakin dan punya percaya diri bisa mencintainya sampai akhir hayatnya.

Tapi rasanya lain jika ternyata gadis itu masih mencintai kakaknya. Segalanya terlalu rumit, Jin yang selama ini ia fikir adalah kakak laki-laki egois, ternyata sangat memikirkan dirinya.

Mereka saling mencintai.

Keduanya orang yang penting bagi dirinya.

Yuya meneruskan langkahnya gamang, fikirannya melantur kemana – mana.

========

Menginap. Untuk sebagian orang hanyalah suatu hal biasa, tapi untuk seorang Daiki Arioka, itu adalah kemajuan pesat, terlebih bila tempatnya adalah di flat kecil milik gadis corettsunderecoret yang belakangan ini didekatinya. Lebih spesifik, kamar tidurnya. Lebih sfesifik lagi, tempat tidur empuk berbalut kain putih yang sering dijadikan alasan oleh Daiki untuk menghabiskan malam.

“Nuchan…” panggil Daiki

“Hmm?” Nu menjawab tanpa sedikitpun menoleh pada sang pemuda.

“Terimakasih sudah membantuku kerjakan PR sains…” ucap Daiki manis.

“Tak masalah…”

Kadang hanya untuk memulai sebuah konversasi jadi suatu hal yang sangat sulit. Nu selalu menjawab Daiki seadanya, tak menggubris bagaimana pun Daiki berusaha mendekati Nu.

Daiki menghela napas. Menerawang. Memikirkan berbagai macam hal. Kemajuan hubungan mereka memang diluar ekspektasi.

Semenjak Nu memberinya kunci duplikat, mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Bangun tidur, ke sekolah, malam, hingga pagi lagi. Tetap, Daiki merasakan suatu hal yang berbeda.

“Dai, lepas bajumu sekarang!”  gerakan menggigit roti Daiki tiba-tiba terhenti.

“Hah?” pikirannya masih coba mencerna

“Cepat. Kalau tidak, kita bisa terlambat ke sekolah!” kali ini dengan tatapan tegas.

“U, un...” melepas jas sekolah dengan ragu, “Sudah?”

“Ng, maksudku kemejamu. Cepatlah...” seru Nu lagi, mulai tak sabaran.

“Disini? Apa Nuchan ingin...” semburat merah muncul di pipi Daiki.

“Ayolah…” kalimat diserobot gerakan tak sabaran si gadis, kini sweater pastel milik si pemuda sudah tak lagi di tempat semula.

“A, ano…” untuk beberapa alasan, wajah Daiki berubah memerah, menerka apa yang akan terjadi. Kenapa disini –diruang makan sempit ini? Kenapa waktunya tak tepat begini –saat bel tanda masuk sekolah tak bisa menunggu lebih dari 15 menit untuk berbunyi?

Tanpa kata. Nu mulai menarik kerah baju Daiki, melepas dasi yang beberapa lalu susah payah dirapikan.

“Sekarang apa lagi?” ucap Daiki hanya dalam hati, ketika jemari gadis itu mulai membredel kancing demi kancing kemejanya dengan tergesa.

Katanya –seorang tsundere lebih banyak bicara dengan tindakan daripada kata. Kata-kata itu melintas di pikiran Daiki tanpa perlu memikirkan suatu sumber kredibel. Apa lagi berikutnya? Apa ia akan didorong ke meja makan dan ditindih hingga ada adegan berlabel minimal R-18?

Daiki memejamkan mata. Menanti kelanjutan cerita, ketika tak ada lagi yang menutup tubuh bagian atasnya.

“Tunggu sebentar,” dua kata, dan si gadis menghilang dibalik pintu.

Si pemuda manis membatu, mengabaikan tubuhnya yang diterpa angin dingin penghujung tahun.

“Selesai. Noda dibajumu sudah hilang. Sekarang pakailah kembali,” ucap Nu santai, kembali menyampirkan kemeja itu di tubuh Daiki.

“Hah? Jadi, tadi itu...” otaknya semakin mengerti apa yang sejak tadi terjadi.

"Ya. Ada noda di kemejamu, aku sudah bersihkan,” jawaban dari Nu sungguh polos.

“Tapi, ng...” Daiki hanya merutuki diri –dan pikiran nakalnya “...aku pikir Nuchan, ng...”

“Sarapannya sudah habis, kan? Sekarang ayo berangkat. Kita harus cepat,” dan Nu pun menarik lengan Daiki.

“Ah, Nuchan jadi seperti ma...”

“Cepat!” lagi-lagi perkataan Daiki dipotong oleh Nu.




Seperti malam ini juga, keadaan tak jauh berbeda dari biasanya.

“Hh...” menghela napas untuk kesekian kali “...Nuchan...?”

“Apa lagi? Tak bisa tidur, hmm?“

“Apa Nuchan suka aku?“

“Yah, tak benci, sih...“

Membuatkan bentou. Mengerjakan tugas sekolah bersama. Menemani ber-pillow talk atau menghitung domba. Semuanya. Daiki merasa Nu memberikan perhatian dengan cara yang berbeda. Ia merasa dimanjakan. Dan memanjakan lain dengan mencintai.

“Aku suka yang lebih tua, yang dewasa…” kata-kata itu begitu menusuk bila diingat kembali, menyadari diri sendiri tidak termasuk dalam kriteria. Daiki memang tidak lebih tua, tidak juga lebih dewasa, suka merengek, suka bermanja.

“Dia itu…hm, aku tak bisa tidak menyukainya,” cerita tentang seorang bernama Kyo Niimura memang selalu membuat Daiki penasaran sekaligus cemburu.

Ia menginginkan itu, tatapan merindu dari seorang Takahashi Nu ketika bercerita tentang sang mantan yang beberapa waktu lalu menyebabkannya tersedu. Bukan yang biasa dialamatkan padanya, tatapan penuh perhatian pada adik atau anak lelaki. Ia juga lelaki, perasaannya benar tulus, perlu apalagi?

“Kenapa…Nuchan selalu memperlakukan aku seperti…” menelan ludah “…anak kecil?”

“Ah, sou ka? Kenapa berpikir seperti itu?” tanya Nu bingung.

“Nuchan selalu membantuku melakukan semuanya, tapi tak pernah bilang menyukaiku...” kata – kata yang selama ini selalu ingin ia katakan pada Nu.

“Dai, mungkin terlalu lama belajar membuatmu sedikit stress. Tunggu sebentar, aku akan buatkan segelas susu hangat, supaya kau bisa tidur lebih nyenyak...“ alih-alih menjawab, si gadis berkaus biru itu justru beranjak dari tempat berbaringnya, berjalan menuju pintu kamar.

“Jangan kabur...” tangan si pemuda lebih dahulu mencapai kenop pintu, menghasilkan bunyi ‘ceklek’ sebagai pemasti bahwa pintu telah terkunci.

“Dai, ada apa?”

“Berhenti berlagak seolah kau adalah ibuku...” demi apapun, Nu tak pernah merasa sebegitu terintimidasi, mendengar suara tegas Daiki yang jauh dari biasa. Dibisikkan tepat di telinga. Punggung bertemu dada bidang si pemuda. Dengan kata lain, Daiki memepetnya.

“Apa maksudnya...?” Nu mulai takut, ia tahu dan sadar betul Daiki bukan sekedar pemuda belasan tahun yang tak mengerti apapun. Ia sudah dewasa, seperti juga dirinya.

“Selama ini kau selalu menganggapku seperti anak kecil, seperti adik manja yang perlu di-babysit!” Daiki memutar paksa tubuh gadis didepannya

“Ah, tapi...” coklat madu bertemu hitam jelaga, tatapan mata Daiki tak bisa lebih mengintimidasi.

“Itu benar, kan? Kau tidak bisa melihatku seperti melihat Kyo-san, melihat seorang lelaki, bukan seorang adik kecil! Benar, kan?!” bentakan itu keluar dari mulut Daiki, begitu tegas.

“Ya, itu benar,” jawab Nu.

Jika tatapan bisa membunuh, harusnya Nu sudah mati sejak tadi. Kata ‘seram’ pun tak cukup mendefinisi.

Katakan selamat tinggal pada pemuda yang biasanya dipuji dengan ‘kawaii’, sekarang hanya tinggal sisi gelapnya. Menarik paksa tangan gadisnya dan menghempaskan tubuh si gadis ke tempat tidur.

“Dai, berhenti!” suara yang terdengar panik.

“Aku akan buktikan...”

Pemuda manis juga lelaki. Bisa mendominasi. Membatas semua anggota gerak gadis yang tengah berada dalam disposisi –dibawahnya.

“Lepas...!“ berontak Nu.

Juga ciuman paksa sebagai pemblokir kata-kata.

Terbelalak. Demi apa Daiki benar melepas t-shirt longgar yang semula dikenakannya. Apa yang dimaksud dengan membuktikan itu?? ...ah, situasi jadi berbahaya.

“Aku bukan anak kecil, aku juga lelaki...” ucap sesaat sebelum kembali mengambil alih bibir gadis yang tengah menyesali ketidakberdayaannya sendiri, mengerang pelan saat bagian disekitar lehernya dieksplorasi, dengan paksa yang pasti –bibir, lidah, gigi.

Tak bisa lagi berkata, hanya menitikan air mata ketika katun biru prusia tak lagi membalut tubuhnya.

 =========

TBC lagi yaaaa~ saia harap chapter selanjutnya gak lebih dari beberapa minggu.. hehehe.. ^^

Rabu, 02 Desember 2009

[Fanfic] Accidentally In Love (chapter 5)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Five
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~

Accidentally In Love
~Chapter Five~

“Ng, Arioka…”

“Daiki saja”, timpa Daiki sebelum Nu menyelesaikan kata-katanya

“Arioka”, ucap Nu dengan nada datar “..aku ingin mandi sebentar, kau boleh disini kalau masih ingin menunggu hujan reda”

“Iya, aku akan menunggu Nuchan disini. Boleh aku melihat-lihat koleksi DVD milik Nuchan ?”, tanya Daiki sambil tersenyum

“Terserah”, hanya sesaat Nu mengarahkan tatapan dinginnya pada Daiki dan kemudian meninggalkan kamarnya



Di kamar mandi itu. Tempat Nu biasa merendam tubuh lelahnya dalam sebuah bathtub kecil.

Sendirian

Kamar mandi yang sama, bathtub yang sama, suara gemericik air yang sama, dengan pemandangan sebuah tirai yang sama dan aroma sabun mandi yang juga sama…beberapa hari lalu, Nu masih menghabiskan waktu berendamnya bersama Kyo.

“Hh…”, Nu menghembuskan nafas berat, meyibakkan rambut ke belakang telinga kirinya

Piercing-piercing itu, sama dengan yang Kyo miliki

Dan sekarang, Nu hanya bisa merasakan dingin material bathtub mengenai punggungnya. Tak ada tubuh hangat Kyo tempat ia biasa bersandar. Nu merasa dadanya sesak, menyadari sekarang dirinya benar-benar sendirian.



“Kyo-san, sedang apa kau sekarang…? Aku harap kau tidak tertidur saat berendam di kamar mandi…”, Nu bergumam lirih seraya tangannya meraih sebuah kotak bertuliskan Phillip Morris yang berada tak jauh dari bathtub bersama sebuah pemantik kecil

Nu mengeluarkan sebatang isi kotak itu, meletakkan salah satu ujungnya dibibirnya dan menyalakan pematik di ujung lainnya.

Menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Aroma Phillip Morris, Nu sangat terbiasa, aroma itulah yang biasa dihirupnya ketika bersama dengan Kyo, kini berubah sangat menyesakkan.



“Uhuk, uhuk”, tak lama, perasaan tak enak itu menyerang Nu, kerongkongannya terasa sakit

“Kyo-san…”, Nu memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya. Rokok pertama yang dihisapnya, terasa sangat buruk.





Daiki menatap keluar jendela, hujan masih turun dengan sangat deras. “Nuchan lama…”, gumamnya ketika meletakkan kepalanya dibantal

“Tempat tidur Nuchan nyaman…”, Daiki merasakan semakin lama matanya semakin berat



Nu menemukan Daiki terlelap ditempat tidurnya. Sesaat tatapannya terpaku pada wajah tidur Daiki yang begitu inoccent dan kemudian membentangkan selimut untuk Daiki.



DVD bertuliskan “The Rose Trims Again” masih tergeletak di lantai, Nu kemudian mengambilnya dan memasukkan ke dalam player.





Langit diluar telah berubah gelap. Ketika Daiki membuka matanya, ia melihat Nu, duduk menatap layar tv. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dilihat oleh Nu, tapi yang bisa ia pastikan, bahwa Nu sedang terisak.

Daiki beranjak dari tempat tidur Nu, dirasakan ia sudah diselimuti, karena bdannya tak terasa dingin lagi.

“Nuchan...”, panggil Daiki pelan, namun Nu tidak bergeming, hanya menatap layar tv. “Doushita no?”, tanya Daiki lagi, kini ia duduk disebelah Nu yang berlinang air mata.

Nu menggeleng, ia benci dilihat orang lain ketika ia sedang menangis, “Sudahlah Arioka-san...aku tak apa – apa....”, seketika Nu menghapus air matanya dengan sembarangan.

“Kau tidak baik – baik saja...”, jawab Daiki kesal karena Nu masih ingin terlihat kuat.

“Aku baik – baik saja...”, bantah Nu.

“Kalau begitu tersenyum...bukankah kau tidak apa – apa?”

Nu tak mengerti kenapa cowok yang kini duduk disebelahnya itu selalu saja ikut campur urusannya. Nu menoleh untuk memarahi Daiki, saat yang sama Daiki menatap Nu, jarak mereka terlalu dekat. Tanpa aba – aba, Daiki menyentuhkan bibirnya pada bibir Nu, mengecupnya pelan.

Mata Nu masih terbelalak, akan apa yang dilakukan Daiki. Tapi hal itu, dan juga kata-kata Daiki tentang membuatnya tersenyum, justru membuatnya semakin ingin menangis.

“A, ah..Nuchan tidak suka, ya? Ma, maafkan aku, tapi tolong berhenti menangis…”, ucap Daiki dengan nada sedikit panik.

Tak juga Nu berhenti menangis. Karna dalam pikirnya, alasannya untuk tersenyum hanyalah Kyo.

-----------------
“Terima kasih”, ujar Din singkat ketika menerima secangkir coklat panas dari tangan Yuya

“Tak mau bilang terima kasih juga tak masalah”, Yuya duduk di sofa yang berhadapan dengan Din, sesekali menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk

“Uh, terserah, deh…”, Din yang merasa sedang malas berdebat menyeruput coklat yang ada di tangannya, perlahan

“Ng, Dinchan…ternyata kamu cocok juga pakai bajuku”, Yuya melirik kearah Din dengan disertai senyum yang sedikit mengejek

Memang, karna bajunya yang basah, Din terpaksa harus mengganti bajunya. Dan dengan terpaksa, ia harus memakai baju milik Yuya yang memiliki ukuran tak jauh dengan ukurannya

“Diam, orang bodoh tak berhak berkomentar”, Din cemberut

“Heeeeh!”, dengan cepat Yuya beralih duduk kesebelah Din “Apanyaaa?! Aku tak mau dikatai bodoh sama orang bodoh yang bisanya cuma bilang orang lain ‘bodoh’, tapi tak pernah menyadari kalau sebenarnya dirinya sendiri yang bodoh…!”, Yuya dengan gemas menggoyang handuk di kepala Din, cukup keras hingga membuat Din berontak

“Yuya bodoooooooooh! Coklatnya tumpah!!”

Kontan, Yuya merubah posisinya sedikit menjauh

“Lihat. Jadi ketahuan, kan…yang sebenarnya bodoh itu siapa?!”, Dinchan menatap Yuya dengan membelalakkan matanya, sambil menunjuk kaos putih milik Yuya yang dipakainya namun sekarang dengan keadaan berlumur noda coklat

“Ah, ma…”, ucap Yuya tercekat “Sudah, sudah, cepat bersihkan dirimu, karna mungkin akan jadi lengket…”

“Ugh…!”, ujar Din agak kesal dan melempar handuk yang barusn dipakainya tepat ke wajah Yuya kemudian meninggalkan Yuya menuju kamar mandi

“Ugh juga”, Yuya hanya terdiam, tak bisa membalas

Din berjalan menuju kamar mandi keluarga Takaki, melalui beberapa ruangan yang salah satu diantaranya adalah kamar Jin.

Perasaan Din berbunga, melihat pintu kamar Jin sedikit terbuka, menandakan Jin sedang ada di dalam.

Senyum simpul terkembang di wajah Din, melihat punggung Jin terlihat dari luar walaupun hanya samar.

“Jin, tolong dengarkan aku! Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sungguh-sungguh, sedangkan kau sama sekali tak mau memberiku kesempatan untuk menjelaskan!”
mata Din terbelalak, melihat seorang gadis seusia Jin beradu mulut dengan laki-laki yang disukainya itu

“Sudahlah, Naomi..aku hanya…”, Jin nampak enggan melanjutkan kata-katanya

Gadis yang disebut Naomi itu mendekat, begitu dekat dengan Jin “Gomen ne…”, seraya Naomi memberikan sebuah kecupan lembut di bibir Jin

“..aku hanya cemburu…”, dan Jin membalas ciuman Naomi, kemudian menarik gadis itu berbaring di tempat tidurnya

Din tak bisa menahan air matanya, namun hanya bisa menangis tanpa suara.

“Benar, jadi ketahuan yang bodoh itu siapa…”, dengan suara yang sepelan mungkin, Yuya perlahan menutup pintu kamar Jin dari belakang Din yang masih berdiri terpaku

Air mata Din terus mengalir, sama sekali tak bisa berbalik ke belakang

“Tak masalah, kok...kalau aku meminjamkan bahuku sebentar”

“Yuya bodoh, bahumu terlalu tinggi…”, Din berbalik, membenamkan wajahnya di dada Yuya, terisak

Perlahan, tangan Yuya mendekap tubuh Din yang tampak rapuh itu, seraya berbisik, “Sebodoh apapun aku, aku tak akan membuatmu menangis seperti ini…”, Yuya berucap lirih, bahkan mungkin Din tak akan bisa mendengarnya.

-----------------------
Miyuy sibuk dengan ponselnya seharian ini. Py hanya memperhatikannya dengan sedikit bingung.


“Miyuy..kau baik – baik saja?”, tanya Py ketika melihat Miyuy tersenyum sendirian.

Miyuy terhenyak, tak sangka Py memerhatikannya, “Ah...aku baik – baik saja..hehehe..”, serunya salting karena ketahuan Py.

“Tadi aku bertanya, kau mau ikut ke kantin tidak?”, tanya Py lagi.

“Gomen..aku tak mendengarnya...”, Miyuy tersenyum, “Kau duluan aja..ne? nanti aku nyusul..”, jawab Miyuy.

Py melangkah sendirian membawa buku sketsanya seperti biasa. Ia benci sendirian. Tapi Din tampak sedang bad mood, dan segera menghilang ke Perpus. Opi dan Nu jarang ke kantin, dan menuju taman ketika istirahat. Ia tak suka perasaan sendirian seperti ini.

“Py py!!!”, teriak seseorang dari belakang.

Py berbalik dan mendapati seorang Hikaru menyapanya dengan senyum lebarnya, gigi gingsulnya tampak pula.

“Hikaru-kun?”, seru Py kaget.

“Mau kemana nona semanis kau berjalan sendirian?”, godanya pada Py.

Wajah Py kontan memerah, “Kantin...”, jawab Py sedikit berbisik.

“Kau sendirian? Mana teman – temanmu?”, tanya Hikaru melihat sekeliling Py.

Py menggeleng, “Mereka sedang sibuk...Hikaru juga sendirian..ne?”

Hikaru tersenyum, “Mereka juga sedang sibuk. Sepertinya kita senasib...jadi..tuan putri...mau ke kantin bersamaku?”, tanya Hikaru ceria.

Py merasakan pipinya makin terbakar karena kata – kata Hikaru. Mereka pun ke kantin sekolah bersama. Hikaru memang teman yang menyenangkan. Py sendiri merasakan ia selalu senang jika berada dekat dengan Hikaru. Py tak cukup berpengalaman dengan cowok manapun. Sifat pemalunya membuat ia susah untuk bergaul dengan cowok. Tapi apakah Hikaru suka padanya? Kenapa Hikaru begitu manis padanya? Untuk berharap pun Py tidak berani.

--------------

Inoo melangkah gamang. Bingung karena dirinya sudah setahun tidak menginjak ke SMA. Rasanya asing walaupun seharusnya ia juga berada disini. Sayangnya ia sudah lulus tahun kemarin.

Sebuah bungkusan ada di tangannya. Sebuah sepatu basket, milik Opi. Inoo memang seharusnya tidak memberi les hari ini. Tapi karena ada urusan, Inoo ke rumah keluarga Opi, ternyata sepatu basket milik Opi tertinggal, dan ibunya meminta Inoo ke SMA untuk sekedar memberikan sepatu itu. Kebetulan apartemennya satu jalur dengan SMA tempat Opi sekolah.

Sekolah sudah lengang, tentu saja karena jam pulang sekolah sudah lewat. Inoo diberi nomer telepon Opi, ia mendialnya, tak lama telepon itu diangkat.

“Moshi – moshi?”, angkat Opi.

“Moshi – moshi..Opi-chan? Inoo desu...”, jelas Inoo.

“Eh?? Inoo?? Ada apa?”

“Kau dimana? Aku membawakan sepatu basketmu..tadi kau meminta Yuuri yang kesini kan? Kebetulan apartemenku searah dengan SMA mu..maka aku yang membawakannya.”, jelas Inoo panjang lebar.

Opi masih shock mendengar suara Inoo di ponselnya, segera tersadar ketika Nu menyenggol tangannya.

“Ah!! Sokka...kau tunggu di gym saja..aku segera kesana.”, Opi segera menutup teleponnya.

“Siapa?”, tanya Nu.

“Inoo Kei...aku harus ke gym!!”, seru Opi mengambil tasnya.

Nu hanya mengangkat bahu dan meninggalkan kelas.

Sementara itu Inoo sedikit kesulitan menemukan dimana Gym berada. Ia berjalan menyusuri koridor, pendengarannya menangkap melodi – melodi yang dirasanya sangat familiar. Inoo terus berjalan ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari ruang kesenian.

Melodi itu, permainan piano seorang siswi.

Tenang dan anggun.

Ketika melihat sosok itu dari belakang, Inoo segera dapat mengenali, lagu kesukaannya sejak ia bisa memainkan piano, dan juga pemain dari lagu itu.

Inoo terdiam sebentar, berusaha tak terlihat terlalu kaget, “Aya-chan?”, panggil Inoo lirih.

Gadis yang dipanggil Aya-chan itu tampaknya sadar bahwa ia sekarang tidak sendirian di ruangan itu, berbalik untuk melihat siapa yang datang.

“Eh?!! Kei-chaaaann?”, serunya takjub.


“Jadi...kenapa kau kesini? Mencariku? Hihihi..”, kikik Ayame ketika akhirnya Ayame mengantar Kei ke gym.

Inoo tertunduk, “Tidak..aku hanya mengantarkan sepatu basket ini...Aya-chan..genki da ne?”

Ayame mengangguk, “Un!! Genki desu!! Kei-chan wa? Suasana tempat les tidak semenyenangkan saat Kei-chan disana..”, jelas Ayame sambil cemberut.

Inoo menatap Ayame. Itu masih Ayame yang dulu, Ayame yang ia kenal. Ayame adalah teman les pianonya, tepatnya mereka seharusnya seangkatan. Namun seperti diketahui, Inoo mengikuti akselerasi. Inoo dan Ayame dulu selalu bersama. Ayame yang manja selalu dilindungi oleh Inoo.

“Aya-chan...masih les piano?”, tanya Inoo lagi.

Ayame beranjak dan mengambil sebuah bola basket, “Masih...kita akan adakan konser...Kei-chan ikut saja..aku selalu tak sinkron dengan pemain lain...partnerku yang terbaik hanya Kei-chan...”, kata Ayame lalu melemparkan bola basket itu, tapi ia bukan pro sehingga sama sekali tak menyentuh ringnya, “Itaai~”, keluh Ayame tiba - tiba.

Inoo secara refleks melemparkan bungkusan sepatu basket Opi dan berlari menuju Ayame.
“Daijoubu?”, tanya Inoo meraih tangan Ayame.

Ayame menggeleng, “Hanya sedikit terlipat tadi..hehehe, Kei-chan terlalu mengkhawatirkan aku..”, katanya lalu tersenyum.

Inoo mengacak pelan rambut Ayame, “Baka!! Tanganmu itu lebih berharga dari bola basket manapun..mengerti?!”

Ayame mengagguk, “Mengerti..aku mengerti Kei-chan...”

Inoo tersenyum, kembali memeriksa tangan Ayame.

Dada Opi terasa sesak. Oke...dia datang disaat yang tidak tepat. Opi tak akan se shock ini jika ia tak melihat senyum Inoo. Senyumnya berbeda dari biasanya. Dengan sekali lihat pun ia tahu, Ayame adalah orang yang berharga untuk Inoo. Mereka terlihat terlalu sempurna berdampingan. Tidak ada yang tidak kenal Sakurazawa Ayame. Cewek yang sekarang menjabat sekertaris OSIS itu dikenal sebagai pianis handal, dia juga kaya, cantik dan anggun.

‘Aya-chan? Kei-chan?’ mereka sudah dekat, itu pasti. Pandangan Inoo yang melindunginya, senyum hangatnya...bukan untuk dirinya. Dadanya seakan ingin meledak, untuk pertama kali ia merasa tak punya kekuatan apapun. Entah kenapa buatnya menangis itu ada dalam kamus seorang Opi.

“Sial!!”, bentaknya pelan pada dirinya sendiri, “Dia bukan siapa – siapaku!! Tapi kenapa rasanya tak rela melihatnya dengan orang lain..”, air matanya kembali mengalir.

--------------

From: Yabu-kun
Subject: Morning
Ohayou~ apakah aku mengganggumu terlalu pagi?
*laugh* hope you’ll ok...^^

To: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Ohayou~
Aku sudah bangun dari tadi Yabu-kun...
dan aku baik – baik saja...*smile*
ketemu di sekolah..ne?

From: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Yup..ketemu di sekolah...
Cuaca hari ini cerah sekali..
(image 12)
--kireii na sora—

To: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Gambar langit yang indah sekali..
Kau mengambilnya dari jendela kamarmu?
(image 13)
---sora from my window---

From: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Aku mengambilnya dari jendela kamarku..
*smile* aku akan membalasmu nanti...
Sepertinya ibuku sudah mulai cerewet,,
Ne?

Miyuy menutup slide Ponselnya. Tersenyum sendiri pada layar Ponselnya yang menunjukkan langit sore hari dari jendela kelas Yabu, foto itu Yabu kirimkan kemarin sore. Miyuy dan Yabu sudah sering saling mengirimkan mail sejak mereka terjebak di sekolah tempo hari. Sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat. Setidaknya itulah yang Miyuy rasakan.

Miyuy memantapkan langkahnya. Hari ini ia membawakan bekal untuk Yabu. Ini surprise, ia sendiri hanya ingin memperlihatkan hasil masakannya pada Yabu. Tapi Miyuy tak ingin pergi sendiri, ia melirik ke semua temannya yang sedang tidak bersemangat.

Din hanya tertunduk, menatap layar ponselnya dengan sedih. Nu sedikit terlihat bingung sejak kemarin. Bahkan seorang Opi matanya terlihat bengkak, apa ia menangis? Seorang Opi??!!

Miyuy menatap Py yang tampak sibuk dengan sketsanya.

“Py...maukah kau mengantarku?”, tanya Miyuy takut mengganggu Py yang sedang menggambar.

Py menatap Miyuy dan mengangguk, “Baiklah...”

“Mereka kenapa ya?”, tanya Miyuy pada Py.

Py menggeleng, “Aku tak tahu, kenapa mereka terlihat seperti habis menangis ya? Bahkan Opi juga begitu...”

Tak terasa mereka sudah ada di depan kelas Yabu. Py bingung kenapa mereka kesana.

“Miyuy...apa yang akan kita lakukan?”, tanya Py bingung.

Miyuy menunjukkan sebuah bungkusan bento yang cantik. “Aku mau memberikan ini..”, kata Miyuy tersipu.

“Untuk Kota-kun?”, tanya Py.

Miyuy mengagguk

“Wah....Miyuy ternyata sudah dekat dengan Kota-kun ya?”

“Begitulah..”, jawab Miyuy tersipu lagi.

Miyuy membuka slide Ponselnya.

To: Yabu-kun
Subject:
Yabu-kun..aku diluar kelasmu...
Bisakah keluar sebentar...
^^

Yabu kaget menerima pesan dari Miyuy. Apa yang Miyuy lakukan di luar kelasnya?

“Anou...Miyuy...Aku pergi ke toilet sebentar ya?”, pamit Py tiba – tiba.

Miyuy hanya mengagguk karena saat itu Yabu keluar dari kelasnya.

“Miyuy..doushita no?”, tanya Yabu bingung.

Miyuy menyerahkan kotak bento nya, “Ini...untuk Yabu-kun...”, ujarnya malu – malu.

Yabu tersenyum. Mengambil bungkusan di tangan Miyuy. “Arigatou na...Miyuy-chan...”, katanya lalu tersenyum.


Py baru saja keluar dari kamar mandi, ketika mendapati seorang Hikaru sedang di koridor.

Jantungnya seketika itu seakan berdetak lebih cepat.

“Betulkah nona manis? Hahahaha..”, tawa Hikaru begitu keras sehingga Py bisa mendengarnya.

Nona manis? Hmmm...Py memberanikan diri untuk mengintip sedikit apa yang terjadi. Hikaru memang populer diantara gadis – gadis, tapi Py tak menyangka Hikaru memang baik pada semua gadis. Lalu kenapa ia merasa special kemarin? Dia hanya berangan tentang Hikaru baik padanya, Hikaru menyukainya itu hanya ada dalam pikirannya.

Py seketika itu berlari ke atap sekolah, menangis tanpa suara, kecewa terhadap dirinya sendiri. Ia hanya terlalu banyak berkhayal, ia harusnya tidak berfikiran bahwa seorang Hikaru bisa menyukainya.

Terisak

Hatinya sakit tanpa ia sadari, ia benar – benar menyukai Hikaru.

Miyuy mengejar Py yang tadi berlari ke atap.

“Py...daijoubu?”

Py hanya terus terisak.

“Hahahaha....”, terdengar tawa dari beberapa orang.

Miyuy merapatkan diri dengan Py dibalik sebuah tembok, berharap tidak dilihat.

“Sudahlah Yabu..tak perlu menutupinya lagi...kau punya pacar kan?”, tanya seseorang.

Miyuy mendongak, dan menemukan Yabu, Hikaru, Taiyou dan Shoon disana.

“Benarkah?”, tanya Hikaru yang sejak tadi tidak ada di kelas.

“Iya benar..bahkan ia diberi bento...kau pacaran dengan Miyuy itu kan? Dia anak kelas B kan?”, kata Shoon tertawa.

“Chigau yo!!!”, bantah Yabu, “Aku tidak ada hubungan apa – apa dengan gadis itu!!”, katanya tersipu.

“Tapi kau suka padanya kan?”, tuduh Taiyou dengan sedikit memaksa.

“Chigau!! Aku tak menyukainya...”, bantah Yabu lagi.

Kini giliran Miyuy yang menangis. Entah apa yang Yabu pikirkan? Jadi ia hanya bermain – main dengan semua mail yang sudah dia kirimkan? Atau bagaimana? Miyuy bingung, dan memeluk Py yang juga masih terisak.

Siang itu begitu menyakitkan bagi mereka berdua.

TBC~

N.B: Saia dan anak saia kembaliiiiiiii~ wakakakak...gomen telat banget....qta berdua mengalami ke ngestagan *bahasa apa ini* tingkat tinggi...jadi males nulis...
ini sekalian ultah hika deh...
hika..otanjoobi omedetou~
hahahahaha...
^^
silahkan dibaca..semoga chap selanjutnya lancar, cuma berjarak seminggu ato 2 minggu...

~dinchan to nuchan ryori~

Kamis, 04 Juni 2009

Jaket Desperate...^^

yow - yow...!!!
cerita yuk...
soal jaket biru muda yang kata c mama kayak...
jaket bayi...hehehehe...

naaaaahhh....uchulnya ini jaket pake ada inisial nama segala..hahahaha...
btw bussway...
makasih buat miyuy yang ngasih ide buat bikin jaket...
*inget kan pas qta sleepover??*
naaahh...
bunda disini sebagai pelaksana...hehehe...
din nyari2 tempat murah...n ternyata dapet juga...yay!!



Bdge nama di kanan jaket...xD
yang belakang tulisannya Desperate Housewives

^^Tampak depan...
Tampak belakang...

geje tapi kece....xD
comments yak...hahahhaha

by.bunda dini

Jumat, 15 Mei 2009

Yay! Ke bapa ! Ke bapa o(>w<)o

Hahahay
gath desperate d bapa XD

sayang miyuy ga iqt
=__=

ngulik penpik HSJ
(o^ ^)o


jiaaaaaaaah~
badan pd sakit
abz uprak kimia maren TwT
kalo hari ini bnrn uprak OR, pagi" kudu ke lpngn UPI
trs lari d sana
kyo bisa" lgs jd DUDA KEMBANG
TwT

capeeee
maren titrasi ngulang mp brp kali gra" titik akir ny klwtn
indikatorny 3, pula
hrus d ukur mk gelas ukur
= A =

SAN: ngrjain titrasi tu kudu konsentrasi, setetes..setetes, kocok biar homogen.. lbh stnga tetes uda klwtn, dh
nu: itu juga udah, dudul =..=
SAN: boong.. buktinya klwtn mp 4 kali~
nu: itu pan krn uda lma g titrasi - 3- *ngeles*
SAN: maap yah, nu..
nu: eh, maap buat apa ? O__o'
SAN: gara" mikirin aku mulu, titrasi ampe gagal 4 kali
nu: jiah =___=



betewe
bunda ko pinter, sih ?
cari slngkuhan nama ny sama keak swmi
=w=


aku doain, dah
nov" dapet Al ama SO4 XDDDD
*dikeplak nov"*


miyuy
tunggu aja postingan qt (?) yg penuh brondie XD

brondie
brondie
brondie
brondie~
(/= .=)/


brondiaea XD
*geje*