Title : Accidentaly In Love
Chapter : Eight
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~
Di bangku perpustakaan, Daiki menemukan Nu tertidur, dengan buku-buku pelajaran disekelilingnya.
“..Nuchaaan...”, Daiki beralih kesamping Nu dan meniup-niup daun telinganya.
“Ah!”, tersentak bangun, kontan Nu menutupi kedua telinganya, tak bisa menyembunyikan wajahnya yang benar-benar memerah “Arioka, apa-apaan?!”, tanya Nu sedikit membentak, memang saat itu tak ada banyak orang di ruangan perpustakaan karena sudah jam pulang sekolah.
“Maaf, tapi Nuchan...kalau tidur seperti itu, bisa sakit punggung lho...”, katanya masih dengan wajah polos yang tak tahan Nu lihat.
“Bukan urusanmu”, balas Nu singkat sambil membereskan buku-bukunya.
“Ano...di telinga kiri Nuchan...apa tidak sakit?”.
Nu tahu apa yang dimaksud Daiki, beberapa piercing di telinga kirinya, yang dibuatnya tempo hari seperti yang dimilki Kyo.
“Tidak terasa sakit...waktu itu...”, jawab Nu seraya menyisir rambutnya dengan jari, membuat telinganya tak terlihat.
“Tapi...disekolah dilarang pakai yang seperti itu, kan?”
“Cerewet. Bergabung saja dengan komite disiplin”, ekspresi wajah Nu terlihat terganggu, tak butuh waktu lama, Nu segera melangkah keluar ruangan perpustakaan
“Nuchan..mau kemana?”, tanpa berpikir panjang, Daiki mengikuti langkah Nu
“Pulang”
“Sudah, pulanglah. Jangan ikuti aku lagi...”, ucap Nu ketika akan menaiki tangga apartemen yang disewanya.
“Nuchan, besok buatkan bento untukku, ya?”, kata Daiki tiba – tiba.
Ucapan Daiki membuat Nu sesaat termenung, ‘Sejak bersama Kyo, aku tak pernah lagi makan di kantin sekolah saat istirahat’, batinnya
“Tidak!”, tolak Nu spontan.
“Kalau begitu, jadilah pacarku!”, kata Daiki lagi.
‘Kenapa permintaan bocah itu tak pernah masuk akal?’, batin Nu, segala yang dilakukan Daiki, terasa begitu kekanakan
“Tidak!”
“Kenapa?”
Sesaat Nu akan membalas, tapi ia kehilangan kata-kata, tak terpikirkan alasan apa yang akan diucapkan “Ah, sudahlah. Pulang sana!”, ujar Nu akhirnya
“Ha ha ha. Besok Nuchan akan buatkan bento untukku, kalau tidak, Nuchan akan jadi pacarku. Jaa!”, Daiki segera melangkah menjauh, Nu bisa menduga, sekalipun ia tak melihat, saat itu Daiki pasti tersenyum ceria.
Nu berlari dengan cepat menuju beranda, ia masih bisa melihat Daiki “Konyol sekali!!”, teriaknya pada Daiki yang mungkin tak akan mendengar
--------------------------
Py menyandarkan punggungnya yang lelah di atap sekolah. Seperti biasa, ia masih saja mengerjakan komiknya yang masih juga belum selesai.
Walaupun ia sedang menggambar, sebenarnya pikirannya sedikit – sedikit melayang pada sosok Hikaru. Ia tak ingin mengakuinya, tapi sejak tadi ia sebenarnya menunggu sosok itu datang memberinya kejutan lagi. Tapi, Hikaru tidak muncul, ‘mungkin tidak hari ini..’, gumam Py pada diri sendiri.
Py menyalakan iPod nya, memasang headphone dan melanjutkan gambarnya kembali.
Memang begini kebiasaan Py. Bila sudah menggambar, maka Py seakan masuk ke dunia nya sendiri, bahkan dapat membuatnya tak sadar akan semua yang berada di sekitarnya.
Rasanya sudah cukup lama Py menggambar di atap itu.
“Huwaaa~”, refleks, Py membuka airphone nya, “Hika-kun!!”
“Hehehehe~ sudah kuduga Py-chan pasti disini.”, katanya lalu duduk di samping Py.
Tadi Hikaru berhasil membuatnya kaget dengan menempatkan wajahnya sangat dekat di hadapannya.
Py yakin wajahnya masih memerah, jantungnya pun tak karuan.
“Apaan sih Hika-kun!!”, kata Py lalu menutup buku sketsa nya secara otomatis.
“Jadi, kapan aku bisa melihatnya?”, tanya Hikaru lalu menatap Py.
“Mungkin... nanti.. aku belum selesai membuatnya..”, jawab Py.
Hikaru berbaring menatap langit, “Langit sedang cerah sekali...”
“Hmm..”, jawab Py menengadah menatap langit.
Py merasa hari ini Hikaru tak seceria biasanya, tapi Py mengabaikan perasaan itu, ‘mungkin hanya perasaanku saja’, batin Py.
“Py lihat lebih jelas lagi..”, kata Hikaru menarik tangan Py, kini Py juga ikut berbaring melihat ke langit.
Selama beberapa menit kemudian Py dan Hikaru hanya sibuk dnegan pikirannya masing – masing.
“Py punya impian?”, tanya Hikaru dengan suara pelan.
“Un...”
“Apa itu? Ceritakan padaku...”, ujar Hikaru yang masih saja menggenggam tangan Py.
“Aku ingin jadi komikus, karya ku dikenal di seluruh Jepang... tidak... bahkan dunia... lalu...”, Py memberhentikan kalimatnya.
“Lalu?”, tanya Hikaru.
“Impian semua wanita.. jadi seorang ibu..”, kata Py malu – malu.
Hikaru tertawa kecil, “Py lucu...”, katanya.
“Impian Hika-kun apa?”, tanya Py, jantungnya masih berdegup sangat kencang karena Hikaru sepertinya sama sekali tak akan melepas genggamannya.
“Hmmm~”, Hikaru duduk lalu menarik Py ikut duduk. Tanpa melepaskan genggaman tangannya sama sekali.
“Apa?”, tanya Py.
“Py akan tertawa jika mendengarnya.”, ujar Hikaru.
Py menggeleng, “Tidak...aku tak akan mentertawakannya.”
“Aku... selalu ingin jadi musisi..”
“Waaahh~ Sugoiii!!”
“Py tau Bass??”, ujar Hikaru menoleh menatap Py yang kini matanya berbinar menatap dirinya.
“Bass??Alat musik??”, tanya Py meyakinkan.
Hikaru mengagguk.
“Aku ingin memainkan Bass ku di hadapan banyak orang.”
“Sendirian?”, tanya Py heran.
Hikaru menggeleng lalu tertawa kecil, “Tidak tentu saja... dulu, aku dan Yabu punya impian yang sama, Yabu bermain gitar, aku bermain bass...lalu akan ada pemain drum, dan mungkin pemain keyboard juga... kita akan membuat sebuah band..”, kata – kata Hikaru terhenti.
Hikaru tersenyum pahit, “Band kita akan masuk dapur rekaman, lalu terkenal dan dapat menghibur semua orang dengan musik kita...”, jelasnya menggebu – gebu.
Py tersenyum, “Impian Hika-kun hebat sekali...”
“Impian Py juga hebat...”
“Tapi aku tak pernah mampu mewujudkannya, bahkan untuk sekedar mengirimkan naskah komik, jika bukan Din yang memaksaku, aku tak akan mau...”, kata Py pelan.
Py merasa aneh dengan dirinya sendiri, dirinya yang biasanya tertutup bahkan biasanya tak akan bisa berbicara selancar itu pada orang lain kecuali keempat temannya, dapat berbicara selancar ini di hadapan seorang Hikaru. Bahkan membagi ketakutannya.
“Py dan aku... sama saja... entah berapa banyak lirik lagu yang aku dan Yabu buat, kami tetap saja masih di tolak label manapun.”
“Aku yakin Hikaru pasti bisa menggapai impiannya...”, ujar Py.
Hikaru hanya diam, tak menjawab.
“Hikaru sudah lama suka musik?”, tanya Py lagi.
“Sejak SMP... aku sangat ingin jadi musisi. Ketika aku pindah ke Tokyo untuk SMA, aku bertemu Yabu, kami berbagi impian yang sama. Bahkan kau tahu... Bass yang kumiliki sekarang adalah hasil kelaparanku selama beberapa bulan.”
“Eh??”
“Ya.... aku sangat ingin punya gitar bass, maka aku bekerja dan tak makan beebrapa hari untuk menyimpan uang. Sungguh perjuangan saat itu.”, kata Hikaru yang kini sepertinya memikirkan masa lalunya.
“Hika-kun pasti sangat bangga punya bass itu?”
“Karena itu hasil jerih payahku... yah.. tentu saja..”, jelas Hikaru, “Maaf aku malah bercerita macam – macam..”.
“Daijoubu... aku senang Hika-kun mau menceritakannya padaku.”, Py tersenyum.
Hikaru tiba – tiba melirik jam tangannya, “Ah~ waktu istirahat sebentar lagi selesai..”, katanya.
“Masa? Tak terasa ya...”, ujar Py yang juga melirik ponselnya.
“Karena berbicara dengan Py sangat menyenangkan, aku samapai tak sadar... kau bahakn belum makan siang... bagaimana ini?”
“Tak apa...”, Py tersenyum
“Py harusnya lebih sering tersenyum.”, ujar Hikaru tiba – tiba.
Py terlihat salah tingkah, “Kenapa?”
Tanpa aba – aba, tanpa Py sadari, Hikaru mengecup bibirnya pelan.
Dada Py seakan meledak, tubuhnya sama sekali tak dapat bergerak, sepertinya seluruh sarafnya menjadi kaku.
Tak lama, Hikaru melepaskan ciuman itu, “Karena senyum itu paling cocok untuk Py.”
Py masih tak sadar dengan apa yang terjadi.
Bel masuk setelah istirahat berbunyi nyaring, Hikaru menarik tangan Py yang masih ia genggam sejak tadi.
“Ayo!! Sudah bel!!!”, katanya heboh.
-----------------
“Hah? Jadi kamu marah karna aku duduk dengan anak-anak perempuan lain waktu istirahat sekolah?”, ucap Yuya dengan nada sedikit tinggi
“Kamu suka itu, kan?”, balas Din
“Kamu cemburu, kan?”, tambah Yuya, mengembangkan senyuman khasnya yang terkadang terlihat begitu menyebalkan untuk Din
“Kalau kamu ingat, kamu pernah menyuruhku berhenti kirim mail pada Jinjin, harusnya kamu sadar seharusnya kamu tidak ada diantara mereka!”, seperti biasa, Din membentak Yuya dan berhasil pergi sebelum Yuya mebalas
Hari itu, ketika Din bermaksud menghabiskan waktu dirumah Yuya –yang sekarang adalah pacarnya-, suasana berakhir seperti biasa, pertengkaran diantara keduanya
Din berlari menuju kamar Jin, berharap akan menemukan sosok yang biasanya dapat membuat perasaannya sedikit berubah jadi cerah, mengubah mood jelek yang dibuat Yuya.
“Jinjin...!”, serta merta Din membuka pintu kamar Jin, dan alangkah kagetnya ia ketika mendapati Jin tidak sendirian dikamarnya, melainkan bersama seorang gadis. Din ingat, pacar Jin, Naomi. Keduanya terlihat sedikit terkejut sebelum akhirnya Jin melontarkan sebuah tanya
“Ada apa, Dinchan?”, tanya Jin.
“Ah, maaf..aku mengganggu...”, ujar Din pelan, masih memegang gagang pintu.
“Tak apa, masuklah...”, jawab Jin, tersenyum. Juga Naomi, tersenyum untuk Din, terlihat begitu ramah.
Din melangkahkan kakinya kedalam dengan sedikit ragu “Tapi, Jinjin...”, pernyataan Din terputus.
“Dinchan, kenalkan, ini Naomi. Naomi, ini Dinchan. Kalian sudah beberapa kali bertemu, kan, tapi belum sempat berkenalan”, jelas Jin lalu tersenyum.
“Ikuta Din, cukup panggil Din. Salam kenal”, Din membungkukkan tubuhnya.
“Namaku Naomi Lawrence. Salam kenal juga”, balas Naomi tersenyum.
Din sedikit terkejut mendengar nama belakang Naomi “..La, Lawrence?”, sebenarnya tidak terlalu mengejutkan dengan melihat penampilan Naomi yang lumayan berbeda, berkulit putih dan memiliki sepasang mata berwarna biru jernih
“Ibuku seorang Japanese, tapi ayahku American...”, jelas Naomi sambil masih tersenyum.
Jin memang tak pernah salah pilih.
“Ng, sou...”, sesaat Din menatap Naomi, cantik. Terlihat begitu anggun dan dewasa, Jin pantas bersamanya.
“Bertengkar dengan Yuya lagi, ya?”, tanya Jin.
“Begitulah...”, Din mengangguk pelan. Wajahnya ditekuk karena sebal dengan Yuya.
“Tak apa, lihat deh, dia pasti akan kesepian lalu mencarimu...”, kata Naomi seraya meraih tangan Din, tersenyum begitu lembut.
“Tidak...Yuya bukan tipe seperti itu, dia menyebalkan”, elak Din.
Tiba-tiba Din merasakan ponsel disakunya bergetar, dan melihat satu pesan masuk ketika membuka flipnya
From : Yuya
Subject : Bhu!
Dasar jelek kamu, bisanya ngadu
Bhu! (; ⁻ 3⁻ )Д
Naoko memperlihatkan tawa kecil mendengar Din membacakan pesan dari Yuya “Hi hi, Yuya dan Jin mirip, ya”.
“E? Kenapa bilang kami mirip saat Yuya mengirim pesan macam itu?!”, tanya Jin sedikit terkejut.
“Terkadang, saat cemburu, kau juga bersikap sedikit kekanakan”ujar Naomi tertawa-tawa kecil.
“Eh?”, Din terkejut.
“Naomi, jangan bicarakan itu saat ada Dinchan”, kata Jin mengacak pelan rambut Naomi sambil berlalu.
“Ha ha ha ha”, berpura – pura tak mendengar, Naomi masih tertawa.
Melihat tawa ceria Naomi, membuat Din juga ingin mengumbar tawanya, membawa kembali keceriaannya.
“Kalian, berhenti tertawakan aku...!”, ujar Jin.
Meskipun iri, berada diantara Jin Naomi membuat Din merasa senang. Melihat sisi lain dari Jin yang tak pernah dilihatnya, saat Naomi bersama Jin.
-----------------
“Disini masih ada tempat kosong, kan?”, tanya Daiki –tentu saja sambil tersenyum manis- pada Din, Opi dan Py yang sedang menikmati makan siang di kantin sekolah
“Ng, ya”, jawab ketiganya.
“Eh, kalian jadian juga?”, tanya Din dengan tatapan tak percaya.
“Juga?”, Nu menatap Din bingung.
Din hanya menunjuk salah satu meja yang tak jauh dari tempat mereka duduk, tempat Miyuy dan Yabu menghabiskan waktu istirahatnya.
“Yabu-kun dari kelas c”, ujar Daiki ceria.
“Din juga dengan Takaki kan?”, ujar Py polos.
Opi menyenggol bahu Py pelan, mengisyaratkan Din-sedang-tak-mau-bicarakan-itu pada Py.
Tapi Din hanya diam tanpa ekspresi, menyadari orang yang disebut pacarnya itu tak ada disitu.
Dua tempat kosong diantara mereka. Tempat Nu dan Miyuy. Nu yang sejak lama tak pernah menghabiskan waktu istirahat di kantin dan Miyuy yang sekarang duduk bersama Yabu.
“Jadi?”, tanya Din lagi.
“Eto..kami...”, Daiki kembali akan menjawab.
“Itu sama sekali tak mungkin”, timpa Nu.
“Bukan tidak mungkin...hanya..belum..”, jawab Daiki tak mau kalah.
Ketiga temannya hanya mengerutkan dahi, mengisyaratkan memang-sepertinya-tak-mungkin.
“Gochizousama. Terimakasih, bentou yang dibuat Nuchan enak. Walaupun aku baru pertama kali mencicipi, tapi rasanya aku sudah sering makan”, Daiki tersenyum dan kemudian meneguk minuman di gelasnya
“E? Nu membuat bentou untuk Arioka?!”, Din, Opi dan Py sama-sama terkejut.
“Bukan. Itu bentou di depan stasiun”, jawab Nu, enteng.
“Ooh, pantas saja rasanya familiar. Besok aku ingin makan bentou buatan Nuchan...”, pinta Daiki sedikit merengek.
“Aku bukan ibumu”, jawab Nu dingin. Ketiga temannya hanya bisa menyembunyikan tawa.
“Ano, Arioka-kun...”, ucap Py
“Panggil Daiki...ng, atau Dai saja”
“Walaupun Nu tak makan bentou bersama kami, tapi terima kasih sudah membawanya kembali kesini, Daichan”, lanjut Py kemudian tersenyum ramah pada Daiki.
Daiki hanya membalas dengan senyuman, begitu manis.
“Takahashi..ikut kami sebentar...”, ketika Nu membereskan buku-buku pelajaran, dua orang anak perempuan menarik tangannya. Sekejap Nu ingat, mereka teman sekelasnya, walaupun Nu sama sekali tak mengingat nama mereka. Bukan salahnya ia memang tak ingin kenal mereka.
“Apa mau kalian? Biarkan aku pulang!”, Nu bersikeras, tapi kedua orang itu tak juga melepaskan tangannya, menyeret Nu masuk ke toilet sekolah.
“Ada apa ini? Aku tak punya waktu untuk kalian!”, ucap Nu, dingin. Saat itu, seorang lagi telah menunggu. Tersenyum sinis menatapnya.
“Sombong sekali”, teriak salah seorang dari mereka, yang Nu perkirakan adalah ketua dari mereka.
Miwa Yamazaki. Tak butuh waktu lama, ia menarik Nu dan mendorong tubuhnya ke dinding.
“Sekarang kamu mulai bertingkah ya. Padahal, melihatmu dikelas saja sudah membuat suasana terasa suram. Sekarang kami juga harus melihatmu di kantin sekolah...”, Miwa menggantung kalimatnya, memojokkan Nu ke wastafel, “rasanya tak perlu dikatakan lagi..menjijikan melihatmu disana... Aku selalu memaafkan keberadaanmu di kelas karena aku menghargai Din, Miyuy..yang tampak membelamu terus...Padahal kau ini apa?? Apa??!! Bangga berada di antara mereka??!!!”, teriaknya tepat di muka Nu.
Tak membalas, Nu sama sekali mengalihkan pandangannya dari tatapan teman sekelas yang namanya pun tak ia ingat itu. Menampakkan tatapan dingin tanpa ekspresi seperti biasa.
“Kemari Takahashi...ng, bukan, Nuchan, biar kubasuh dulu wajahmu, supaya sedikit jadi lebih segar...”, ucap Miwa ketika menumpahkan air dari botol minuman yang diberikan salah satu kaki tangannya, ke kepala Nu “..sadarlah. Kamu sama sekali tak terlihat bagus berada di dekat Arioka! Din, Miyuy, Opi, Py...”, Miwa melipat tangannya satu persatu, “Dan sekarang... Arioka Daiki??!! Kau anggap kau punya apa bisa mendekati seorang Arioka Daiki??!!”.
“Dia yang kalian mau?!”, Nu segera merebut botol minuman dari tangan Miwa dan melemparnya keras-keras “..ambilah! Bawalah pulang! Lakukan apapun yang kalian mau! Aku sama sekali tak punya urusan!!”, dengan sangat kesal, Nu melangkah keluar dari ruang toilet
“Akhirnya, Nuchan kutemukan juga! Ayo pulang sama-sama? Aku boleh ke tempat Nuchan dulu, ya?”, sapa Daiki ceria ketika menemukan Nu yang baru akan melangkah pulang “..ma, matte. Kenapa rambut Nuchan basah? Seragam juga...” Daiki tampak bingung melihat keadaan Nu.
“Berhenti mengikutiku..”, kata Nu datar.
“E? Apa maksudnya?”, Daiki bingung
“Kubilang, berhenti mengikutiku!!!”, tanpa sadar air mata yang selama ini tak pernah Nu perlihatkan apda siapapun itu mengalir.
Apa ia tak pantas berada di antara teman – temannya? Din adalah ketua kelas, Miyuy walaupun tak begitu populer juga pintar, Opi juga bintang basket di sekolahnya, Py memang tak populer, tapi sikapnya manis, tak seperti dirinya.
Pertanyaan besar lainnya, apa Arioka memang tak pantas juga untuknya?
--------------------
Pagi yang cukup cerah. Miyuy membuka matanya karena terganggu dengan suara ponselnya. Tak perlu ditebak, yang bisa memberinya e- mail sepagi itu hanya Yabu, yang sekarang memang pacarnya.
From: Yabu-kun
Subject: Morning~
Beautiful Saturday morning....
^^
Jalan – jalan yuk Miyuy-chan?
---(image 28)---
Morning sora~
Miyuy menyipitkan matanya, lalu senyumnya mengembang. Yabu seperti biasa mengirimkan gambar langit yang begitu ia sukai. Sejak mereka berpacaran sebulan lalu, sepertinya memang gambar langit yang paling banyak di ponsel Miyuy sekarang.
To: Yabu-kun
Subject: Re: Morning~
Morning...^^
Memangnya mau jalan kemana?
----(image29)----
My teddy bear said morning too~
Miyuy mengambil foto boneka teddy bear kesayangannya dan mengirimkannya pada Yabu.
From: Yabu-kun
Subject: Re: Morning~
Jalan – jalan aja...kemana gitu...
Mau nonton lagi? Atau mau ke theme park?
Teddy bear mu lebih lucu darimu...
*laugh*
Aku bercanda...LOL
Miyuy tersenyum melihat e-mail itu. Sebelum memutuskan kemana mereka akan pergi, Miyuy beranjak ke depan laptopnya, menyalakannya dan langsung meng- akses situs TobenaiTori. Sepertinya kegiatan itu sudah menjadi kebiasaannya.
Tak lama, ponselnya kembali berbunyi, lagi – lagi e-mail dari Yabu.
From: Yabu-kun
Subject: Re: Morning~
Kita ke theme park saja yuk...
Sudah lama aku tidak kesana...hehe..
(^.^)v
Miyuy melirik ke layar laptopnya yang sudah terhubung dnegan TobenaiTori. Miyuy membacanya dengan pelan. “Sesuatu akan terjadi hari ini di keramaian.”, bacanya. “Kebenaran akan terungkap.”, bacanya lagi.
“Apa sih?”, gumamnya.
Ia meng-scroll halaman situs itu karena ia rasa tulisan di halaman atas itu tidak menarik. “Warna keberuntunganku hari ini hijau.”, Miyuy tersenyum dan memutuskan untuk memakai baju warna hijau.
“Ah! Aku lupa membalas e-mail Yabu-kun.”, gumamnya pada diri sendiri. Lalu mengambil ponselnya.
To: Yabu-kun
Subject: Re: Morning~
Baiklah...
Aku tunggu di depan stasiun ya Yabu-kun..
^^
Tak lama, balasan dari Yabu kembali datang.
From: Yabu-kun
Subject: Re: Morning
Aku jemput kau jam 11 depan stasiun..
See you there,,,^^,,,
Aku mau bentou mu lagi...
:p
Miyuy tersenyum dan segera beranjak ke dapur. “Untukmu Yabu-kun”, gumamnya.
----------------------
“Neechaaaannn~ Neeechhaaaannn....”, Yuuri di luar kamar Opi dan mengetuk – ngetuk pintu kamar kakaknya itu.
Opi menutup kepalanya dengan bantal. Kenapa sih pagi – pagi seperti ini harus dibangunkan secara paksa? Ia paling benci harus bangun terlalu pagi.
“Neeeecchhaaannn!!! Banguuuunnn!!!”, teriak Yuuri lagi dari luar.
“Urusaaaiii!!”, teriak Opi lalu melemparkan bantalnya ke arah pintu.
Yuuri tampak tak peduli, “Ayo banguuuunn!!!nanti terlambaaaatt!!”
Opi tak mau juga membuka matanya, ini masih terlalu pagi.
Pintu kamarnya terbuka.
Yuuri menghampiri kakak semata wayangnya itu. Mengguncang badan Opi dengan tak sabar.
“Hari ini kan kita akan ke theme park....ayo cepat bangunnn!!”, paksanya sambil menarik tangan Opi dengan tak sabar.
Ya, Papanya mendapatkan tiket gratis masuk theme park dari kantornya.
“Aku tak ikut sajaaa...”, tolaknya menutup kembali badannya dengan selimut yang tadi sudah disibakkan oleh Yuuri.
Adiknya itu tampak tak peduli, “Neechaaann~ Kei-chan sudah menunggu loh...dia kan juga ikut...”, jelas Yuuri.
Mata Opi terbuka sepenuhnya.
“Hah?kenapa dia ikut?”, tanya Opi terduduk.
“Entahlah.. Mama yang mengajaknya. Kata Mama sih tiket yang Papa dapat itu untuk lima orang. Daripada tidak ada yang pakai, Mama mengajak Kei-chan.”, jelas Yuuri.
“Neechan senang ya? Ayo mengaku sajaaa..”, goda Yuuri.
Opi mendorong Yuuri menjauh, “Sudah sana keluar! Aku mau siap – siap.”, usirnya pada Yuuri.
“Huh! Kalau dengar nama Kei-chan saja langsung bangun. Dasar aneh.. orang yang sedang jatuh cinta begini ya?”, gumam Yuuri menjauh.
Opi melemparkan sebuah bantal lagi pada Yuuri. “Berisik!! Anak kecil tau apa?!!”
Yuuri berlari keluar kamar, “Akan kuberi tahu Kei-chan kau menyukainya!!!”, teriak Yuuri lalu menutup kembali pintu kamar kakaknya.
“Yuuuuurriiii!!! Mati kauuuu!!”, teriak Opi kesal.
Opi turun ke bawah setelah selesai bersiap – siap. Didapatinya seorang Inoo Kei sedang sarapan bersama kedua orang tuanya dan Yuuri juga.
“Ohayou~”, sapa Opi canggung.
Inoo hanya tersenyum melirik ke arah Opi, namun kembali konsentrasi pada kata – kata Mama yang sedang mengobrol dengannya.
“Sarapan dulu Opi...”, kata Papanya yang duluan menyadari anak gadisnya sudah turun untuk siap – siap pergi.
Mama melihat Opi dan menyuruhnya duduk juga.
“Papa kok gak bilang sama aku dapat tiket Theme Park?”, tanya Opi pada Papanya yang masih sibuk dengan koran nya.
Aneh juga sabtu begini Papa nya masih aja membaca koran.
“Mama tidak memberi tahu mu?”, tanya Papa dengan masih matanya menuju ke koran.
Opi menggeleng.
“Ah...Opi kan berada di sekolah terus , Mama tak sempat memberi tahunya...”, kata Mama menjawab pertanyaan Papa nya.
“Sedang sibuk?”, tanya Inoo pada Opi.
“Hah?”, Opi menatap Inoo, dan segera memindahkan pandangannya ke tempat lain.
‘Kenapa ia masih saja tampan sepagi ini?’, batin Opi.
Mama yang sudah sibuk dengan membuat bekalnya itu sudah berada di dapur lagi dengan Yuuri terus mengganggunya.
“Maa~ sedikit... perlombaan antar SMA akan segera dimulai. Walaupun aku hanya bisa ikut tiga pertandingan awal, tapi tetap saja aku harus membantu team ku.”, jawab Opi yang tertundak memandang roti yang sedang ia makan.
“Hanya tiga pertandingan?”, tanya Inoo heran.
“Ya... aku kan sudah kelas tiga, sudah waktunya memikirkan mau masuk ke Universitas mana...”, jawab Opi lagi.
“Ah iya... aku lupa kau sudah kelas tiga...”,
Opi memberanikan diri menatap Inoo. Sialnya, cowok itu malah sedang tersenyum menatapnya. Berusaha tak terlihat terlalu kaget, Opi juga ikut tersenyum.
“Enaknya yang sudah lulus dan tak usah memikirkan lagi ujian masuk...”, kata Opi.
“Hahahahaha~ kau lucu sekali... hanya kebetulan aku melewati SMA ku hanya dua tahun.”, ujar Inoo lalu menyesap lagi coklat panas, lalu mengacak pelan rambut Opi, membuat Opi semakin tak mampu menatap Inoo.
“Ah~ Kei dan Nee-chan... Mamaaaa~ mereka pacaran ya??”, teriak Yuuri yang ternyata sudah ada di hadapan Inoo dan Opi.
“Yuuurriiiii!!!!!”, teriak Opi yang mulai mengejar Yuuri yang berlari ke luar rumah.
Inoo hanya tersenyum melihat keduanya.
“Yuuri...jangan lari lari seperti itu!!”, teriak Mama yang sudah mulai mencuci piring, “Opi!! Berhenti mengejar adikmu!!!”, kata Mama lagi.
Senyum Inoo memudar. Suasana seperti ini tak pernah ia rasakan sejak ia memutuskan keluar dari rumahnya. Bagaimana kabar adik – adiknya pun ia tak tahu. Okaa-san sebenarnya sudah pernah meneleponnya beberapa kali, memohon Inoo pulang dan meminta maaf pada Otou-san, tapi ia merasa masih gengsi untuk pulang. Setidaknya ia harus sukses terlebih dahulu sebelum ia pulang dan berkata bahwa pilihannya tidak salah.
“Kei... tolooonngg!! Pacarmu maraaahh!!”, Inoo tersadar oleh teriakan Yuuri yang kini ada di belakangnya, bersembunyi dari Opi.
“Yuuri-chan... berhenti mengganggu kakakmu...”, kata Inoo menyentuh kepala Yuuri.
“Ah Kei jahat!! Membela pacarnya saja...”, kata Yuuri.
“Yuuurriii!!!:, protes Opi.
“Baiklah – baiklah...ayo berangkat... jangan ribut terus..”, kata Papa lalu menggamit lengan Yuuri.
Mama yang sudah siap juga ikut keluar rumah.
“Ayo pergi..”, ajak Inoo pada Opi.
Opi hanya mengangguk lalu mengikuti Inoo.
-----------------
Miyuy sudah berdiri di depan stasiun, dengan baju hijau seperti yang di katakan oleh ramalannya hari ini. Masih ada waktu lima menit sebelum waktu janjian mereka, Miyuy kembali menge-check bawaannya, dan bersyukur tidak ada yang ketinggalan.
“Miyuy-chan!!”, teriak seseorang.
Miyuy tentu saja tahu itu seorang Yabu. Orang yang sedang ia tunggu, yang juga kini sudah berstatus sebagai pacarnya.
“Sudah lama menunggu?”, tanya Yabu.
Miyuy menggeleng, “Aku baru saja sampai.”, jelasnya.
“Yokatta~ aku pikir aku akan terlambat. Ayo...”, Yabu kini tak canggung lagi menggenggam tangan Miyuy.
Yabu membeli tiket kereta yang menuju theme park yang akan mereka tuju.
“Kenapa ingin ke theme park?”, tanya Miyuy ketika mereka sudah di atas kereta.
“Hmm... kenapa ya? Mungkin karena aku memang ingin kesana denganmu..”, jelas Yabu.
“Yabu-kun gombal~”, kata Miyuy menyeembunyikan senyumnya karena ia senang.
“Kyaaaa~, ayo naik itu!! Naik itu!!”, seru Yuuri ribut.
“Gak mau..itu kan mainan anak kecil..”, tolak Opi melihat apa yang ditunjuk adik nya itu, sebuah permainan kereta mainan kecil yang mengelilingi sebuah rel kecil. Mati pun Opi tak mau menaiki nya.
“Nee-chan!! Nee-chan....ayo lah!!”, rengek Yuuri.
“Gak!! Kamu main sendiri aja!!”, tolak Opi lagi.
“Kei-chaaann~”, seru Yuuri yang kini melihat Inoo.
Inoo tampak enggan.
“Yuuri... masa kakak mu disuruh naik mainan seperti itu..”, kata Mama.
“Sudahlah.. kalian berdua pergi berdua saja, biar Mama dan Papa yang menjaga Yuuri.”, kata Papa menarik lengan Yuuri, “Ayo biar Papa antar ke mainan itu.”, serunya pada Yuuri.
“Eh?? Papa...”, Opi melirik ke arah Inoo.
“Sudah pergilah..”, kata Mama lalu menyusul Papa dan Yuuri.
“Baiklah...kita mau kemana dulu?”, tanya Inoo pada Opi.
“Hah?? Hmmm~ entahlah...”, jawab Opi canggung dan bingung mau kemana. “Hmm~ roller coaster?”, tanya Opi pada akhirnya.
Inoo menggeleng, “Iyada~ aku tak suka permainan seperti itu..”
“Eh?? Inoo-kun takut permainan seperti itu?”, tanya Opi kaget.
“Bukan takut.. harap di garis bawahi... aku hanya tak tahan dengan permainan seperti itu..”, kini wajahnya terlihat memerah, mungkin juga ia merasa malu karena tak sanggup naik wahana menantang seperti itu.
“Hahaha~”, Opi tertawa.
“Cukup..jangan tertawa lagi... ayo naik yang lain saja..”, ajak Inoo lalu berjalan meninggalkan Opi.
Opi menyusulnya, “Jangan ngambek gitu dong Inoo-kun..”
“Siapa yang ngambek?”
“Mengaku saja...”
“Aku tidak ngambek.”, jawabnya lagi.
“Miyuy-chan.. kau baik – baik saja?”, Yabu menuntun Miyuy yang masih sedikit shock setelah naik roller coaster.
“Maa~ yeah..”, jawab Miyuy.
“Benarkah?”, Yabu menyodorkan sebotol air mineral.
Miyuy minum lalu duduk, merasa masih sedikit pusing, “Yabu-kun... terima kasih.”, katanya lalu menyerahkan kemnbali minum itu.
“Masih mau naik permainan seperti itu lagi?”
Miyuy manyun, “Kita naik yang lain dulu saja...”, rengek Miyuy.
“Hai, hai, wakatta!! Ayo..”, Yabu kembali menuntun Miyuy.
Mereka mencari wahana lain yang akan mereka naiki, ketika Miyuy melihat sosok Opi di kejauhan.
“Sepertinya itu Opi..”, gumamnya.
“Siapa?”, ternyata Yabu mendengar.
“Opi!!!”, panggil Miyuy ketika ia sudah yakin itu Opi.
Opi menoleh ketika merasa dipanggil seseorang, ternyata itu Miyuy, dan juga Yabu tentu saja, mereka kan pacaran.
“Miyuy!!!”, seru Opi melambai ke arah Miyuy.
“Wah, Opi kesini juga? Aku fikir aku salah lihat tadi..”, kata Miyuy setelah mereka bertemu.
“Yah, aku juga tak menyangka..”
“KAUU!!!??”, teriak Inoo tiba – tiba.
Yabu juga terlihat sama marahnya dengan Inoo.
Miyuy dan Opi yang tak mengerti apa yang terjadi, kaget dengan teriakan Inoo.
Inoo mengepalkah jari – jarinya, ‘Kenapa bajingan itu ada disini’, batinnya.
----------------------
Melihat ke sekitar, sosok itu tak juga ditemukan. Din menghela napas dan melanjutkan aktifitasnya, melihat benda-benda imut di fancy shop. Kali ini tak ada Yuya yang –tanpa sengaja- mengikutinya, hanya dirinya, dan banyak orang lain yang tak dikenal.
Din merasakan ponselnya bergetar dan menerima panggilan dari nomor tak dikenal tersebut.
“Moshi moshi, Din desu...”, ucap nya ragu.
“Dinchan, Naomi desu...”, balas seorang diseberang sana, membuat Din agak terkejut hingga sedikit sulit mengeluarkan kata-kata.
“Ha, hai..Naomi-san...”, jawap Din kaku “..ada apa?”.
“Tadi aku melihatmu berjalan sendirian, lalu masuk ke fancy shop. Apa benar, atau yang kulihat itu orang lain?”, tanya Naomi dengan nada yang begitu ramah.
“Hai, hai, aku sedang ada di fancy shop sekarang...”, balas Din dengan nada yang berubah sedikit santai.
“Saa, kalau kau sudah selesai melihat benda-benda imut, maukah jalan-jalan bersamaku?”, tanya Naomi.
“E? Apa Jinjin juga ada bersama Naomi-san?”, Din bertanya takut – takut.
“Hhm, aku sendirian, Jin sedang sibuk sekarang...”
“Matte kudasai, aku jalan keluar toko...”, Din yang masih bicara di telepon dengan Naomi melangkahkan kakinya keluar dari fancy shop dan mngedarkan pandangannya ke beberapa arah.
“Kenapa buru-buru?”
“He he, kebetulan tak ada benda yang aku suka...”, jawab Din.
“Ne~ kochi, kochi...”, Naomi melambaikan tangannya, ternyata gadis itu sejak tadi sudah berada di luar toko.
Pemandangan itu, membuat Din sedikit terkejut. Ditengah hari yang panas itu pun, Naomi tetap terlihat cantik. Duduk di kursi kemudi silver-grey Lamborgini tanpa atap membuat Din bisa jelas melihatnya.
“Yea, its a girl’s day out!”, ucap Naomi ceria seraya memantapkan genggamannya pada stir saat Din telah duduk di sebelah kanannya.
Ya, mobil itu mobil western sehingga kemudi berada di sebelah kiri.
Din hanya bisa tersenyum, sedikit gugup. Yang dimaksud Naomi dengan jalan-jalan, berbeda dari yang biasa dilakukannya bersama teman-teman.
“Eto...Naomi-san...”
Naomi menggeleng pelan “Bisakah kau hentikan panggilan formal macam itu?”.
“Eh?”, Din sedikit kaget.
“Jin bilang, Dinchan sudah sepertinya adiknya sendiri. Soshite, maukah kau jadi adikku juga?”, ucap Naomi tersenyum tapi masih tetap melihat lurus ke depan.
“Hmm, oke...”, jawab Din tanpa pikir panjang.
“Ah, terimakasih. Kalau begitu, maukah kau menganti panggilan formal itu, Dinchan?”.
“Hmmm, neechan...??”, Din tersenyum dan Naomi membalas senyumannya.
“Sejak kecil, aku ingin sekali punya adik perempuan. Kupikir Dinchan manis, punya adik perempuan sepertimu nampak menyenangkan juga...”.
“Eh...”, ucapan Naomi membuat Din tersipu dan tak bisa menjawab
“Yuya beruntung, ya...”, ujar Naomi, mengemudi dengan santai dijalan yang kini sudah tak banyak ditemui orang berramai-ramai lagi, highway dimana hembusan angin sangat terasa, meniup rambut pirang Naomi hingga tampak begitu indah, cantik, ia punya semua alasan untuk Jin menyukainya.
“Kenapa Yuya? Daripada Yuya, aku lebih suka Ji...”, Din menutup mulutnya sendiri meyadari apa yang baru saja diucapkannya, tak seharusnya ia katakan di hadapan kekasih seorang Jin.
“Ha ha, terlihat sekali”, tawa Naomi terdengar renyah, Din sama sekali tak menyangka jawaban apa yang akan diterimanya dari Naomi.
“Ano..maksudku...”
“Aku mengerti...”, kali ini, Naomi kembali tersenyum, menatap Din “..aku dan Jin punya rencana untuk tinggal bersama di Amerika...”, Din benar terkejut, tapi berusaha untuk tak berkata-kata, “..tapi kalau berarti harus meninggalkan Yuya dan Dinchan, rasanya berat juga...terutama untuk Jin”, tambah Naomi
“Sou...desu ka ?”, Din tak tahu harus menjawab apa.
“Jin banyak bercerita tentangmu. Ia sangat menyayangimu seperti adiknya sendiri. Terkadang aku juga merasa iri. Ha ha”
“Ha ha...”, Din hanya mengeluarkan sebuah tawa kecil, menyembunyikan kalimat ‘Akulah yang seharusnya iri pada Naomi karna memiliki semua yang diinginkan Jin’ rapat-rapat hanya dalam hatinya.
“Bahkan Jin menginterogasiku waktu aku meminta nomor ponselmu. Hello, I’m your girlfriend~ and did I look like a person who gonna do something bad?”, candaan Naomi berhasil membuat Din tertawa, sesaat melupakan perasaan sakit dihatinya
“Ngg, Naomi-neechan dan Jinjin..berencana untuk menikah?”, tanya Din tiba – tiba.
“Ne, pernikahan itu tak selalu seperti apa yang kau lihat, tak selalu seperti apa yang kau pikirkan...”, kata Naomi santai.
Din tak menjawab, hanya mengerutkan dahi tanda tak mengerti.
“Kalau aku tak ada, maukah kau menjaga Jin untukku, Imouto-chan?”
ucapan Naomi kali ini membuat Din semakin mengernyit heran, dengan banyak tanda tanya dipikirannya.
“Suara apa itu?!”, ucap Naomi tiba-tiba, Din juga merasakan apa yang dikatakan Naomi, suara yang sama sekali tak terdengar jelas. Keduanya pun tak menemukan sesuatu yang aneh di pemandangan yang terpantul melalui kaca spion, hanya sebuah truk besar yang berjalan maju.
Naomi mengarahkan mobilnya untuk menepi, tapi semuanya sudah terlambat, truk besar itu ternyata hilang kendali, meluncur begitu cepat dan menghantam mobil mungil yang ditumpangi Naomi dan Din.
“Oh, sh*t!”, Naomi memutar stir dengan cepat, melakukan semua yang ia bisa dengan segenap kekuatannya.
Sementara Din hanya menangis, menutupi wajahnya dengan telapak tangan, begitu ketakutan.
Segala yang dilakukan Naomi tak berhasil, Lamborgini itu meluncur jauh, menembus pembatas jalan, hanya ada jurang berbatu disana. Din bisa mendengar Naomi menyerukan beberapa kalimat, hingga suara yang begitu memekakan telinga terdengar.
‘Apa ini?? Ledakan?’, batin Din yang tak lagi bisa berfikir apapun.
Tak ada lagi suara Naomi terdengar, semuanya berganti suara gaduh yang saling berbaur.
Untuk Din, yang bisa dirasakannya...
...hanya gelap.
-------------------
TBC~
N.B: Maaf sepanjang jalan kenangan gini... ceritanya mau di bagi 2, tapi malah keterusan nulis.. ya sudahlah..itung2 bayara kita absen lama...
wakakakakak
douzo di komen...~ ^^
Minggu, 29 Agustus 2010
Rabu, 21 April 2010
[Fanfic] Accidentally In Love (chap 7)
Title : Accidentaly In Love
Chapter : Seven
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~
Ketika Din membuka matanya di pagi hari, yang dilihatnya adalah wajah Yuya yang tengah tertidur. Din memejam dan kemudian membuka matanya kembali, beberapa kali ia mengusap matanya, pemandangan itu tetaplah sama, Yuya ada di tempat tidurnya
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!”, seisi rumah bisa mendengar teriakan Din
“Yu, yuya...ke, kenapa...”, ucap Din terbata, panik “..jangan bilang kalau Yuya sudah lakukan macam-macam !”, tanpa sadar tangannya menarik leher bajunya keatas.
“Hahahahhaha! Wajahmu, wajah panikmu, yang seperti itu lucu sekali!”, goda Yuya senang.
“Tenanglah...aku sudah minta izin oba-san untuk membawamu pergi keluar, tapi ternyata kamu masih tidur”, kata Yuya tenang.
“Kenapa harus sepagi ini, sih?”, rutuk Din kesal.
“Ah, cerewet...cepat madi lalu siap-siaplah!”, kata Yuya seraya menarik sedikit selimut yang Din kenakan.
“Apa? Ng, aku pilih tidur lagi..ini terlalu pagi...”, balas Din, kembali menenggelamkan kepalanya di bantal dan membungkus dirinya dengan selimut
“Kalau begitu, aku juga”, tanpa berpikir panjang, Yuya membuat dirinya sendiri begitu dekat dengan Din, meletakkan kepala di bantal yang sama, menarik sedikit dari selimut yang dipakai Din
Begitu dekat. Din -yang tentu saja belum benar bisa kembali tertidur-, apalagi diciumnya aroma khas Yuya yang well, sedikit mirip dengan Jin.
Din tak bisa membohongi dirinya sendiri dengan berpikir ia masih bisa tenang dengan posisi seperti itu, jantungnya berdetak semakin cepat,
‘Apakah wajahku memerah?’
‘Apakah dia memperhatikan wajahku yang tertidur?’
‘Apakah wajah baru bangun tidurku cukup kacau hingga dia bisa mengolokku seperti biasa?’
‘Dia hanya menggoda, jangan terpengaruh...seperti biasa...’, batin Din
“Aaah! Sudah, menjauh!”, Din seketika mendorong Yuya menjauh. Din tak lagi bisa menyembunyikan perasaannya, perasaan ingin berteriak ketika Yuya berada sedemikian dekat dengannya.
“Ha ha ha! Sudah bangun ya, Tuan Putri? Selamat pagi...”, ucap Yuya dengan memasang senyuman penuh kemenangan.
“Ok! Aku akan pergi denganmu...pervert!”, Din melempar bantal ke wajah Yuya sebelum berlari keluar dari kamarnya
--------------
“Ng, kenapa? Sejak tadi kamu lebih banyak diam?”, tanya Yuya pada Din ketika mereka baru saja turun dari bianglala.
‘Ini kan kencan pertama kita sebagai pasangan??’, batin Din.
“Aku..hanya belum terbiasa”, jawab Din pelan
“Hah? Apanya?”, tanya Takaki tak mengerti.
“Kita terbiasa main ke taman bermain seperti ini selalu pergi bertiga bersama Jin, kan...”, kata Din dan setelahnya menyesali apa yang dia katakan.
“Ohh~”, Yuya menarik tangan Din dan menggenggamnya, “Ada aku disini..apa tidak cukup?”, bisiknya, namun Din masih bisa mendengarnya.
----------------
“...hai, Nu desu...”
Sore itu Nu terbangun oleh getar dari ponselnya, panggilan dari nomor tak dikenal
“Nuchan~ bolehkah aku ke tempatmu sekarang?”, tanya seorang diseberang sana
“Ah, Arioka. Untuk apa datang ke tempatku?”, kali ini Nu benar – benar bangun sepenuhnya.
“Untuk menjemput Nuchan, kita akan pergi ke konser, kan?”, tanya Daiki.
‘Ah....konser Kyo...’, kata Nu dalam hati.
“Ng, ya. Tapi...”, Nu melirik jam kecil di meja dekat tempat tidurnya “..tapi ini jam 3 sore!”
“Nuchan suka vokalis bandnya, kan? Kalau begitu, kita harus dapat tempat di depan!”, seru Daiki bersemangat
“Ok, kamu boleh ketempatku”, jawab Nu akhirnya.
“Yaay! Kalau begitu, sekarang buka jendela kamarmu!”
Begitu Nu membuka jendela kamarnya, ia bisa melihat Daiki dibawah sana, tersenyum manis untuknya, dan melambai kecil ke arahnya.
“Nuchaaaannn~”, serunya ceria.
Nu menggelengkan kepalanya, terkadang saat melihat senyumnya, Nu pun tanpa sadar ikut tersenyum.
Konser-yang-disukai-Nuchan ternyata jauh berbeda dari yang dibayangkan Daiki, sangat berbeda dengan konser-konser live yang biasa dilihatnya.
Begitu bising, bahkan terkadang lagu yang dibawakan tak terasa seperti sebuah lagu untuknya, hanya teriakan-teriakan yang memekakan telinga dari sang vokalis. Membuatnya berpikir “Inikah orang yang sangat disukai Nuchan?”
Tapi audiens begitu menikmati, begitu bersemangat. Sesekali Daiki menatap Nu yang berdiri disampingnya, tersenyum lembut menatap keatas panggung.
Senyuman yang belum pernah dilihatnya.
“Aah, selesai...Nuchan suka konsernya?”, Daiki berusaha tersenyum, meskipun kepalanya terasa pusing ketika keluar dari hall area.
“Aku selalu suka...”, jawab Nu pelan.
“Tunggulah disini, aku akan cari minuman untuk kita!”, ucap Daiki dan segera berlari menginggalkan Nu.
“Eto...kenapa belum juga sampai ke tempat yang tadi?”, gumam Daiki. Dengan dua kaleng minuman dingin di tangannya, ia berusaha keras mengingat, jalan menuju tempat dimana Nu mengunggunya.
“Gawat, aku tersesat!”, semakin Daiki berjalan, tempat-tempat yang dilalui terasa semakin asing.
“Basement? Aah, aku benar tersesat. Aku akan hubungi Nuchan...”
Gerakan Daiki meraih ponsel terhenti, ketika ia mendengar suara yang dikenalnya.
“Aku tak bisa menerima alasan Kyo-san! Sejak kapan kita peduli tentang orang tua?!”
Itu suara Nu.
Daiki melihat Nu, berdebat dengan orang yang tak lain adalah vokalis dari band yang baru saja dilihatnya.
“Aku bukan pedofil”, jawab seorang yang dipanggil Nu dengan sebutan Kyo itu
“Dan aku bukan anak dibawah umur!”, seru Nu dengan nada sedikit membentak.
Daiki berusaha bersembunyi, melihat perdebatan Nu dan Kyo. Tapi tanpa sengaja, Daiki menjatuhkan kaleng minuman yang dipegangnya.
Suara itu tentu membuat Nu dan Kyo melihat kearahnya. Nu menghampirinya, meninggalkan Kyo “Ayo pulang, Daiki!”
Tak ada yang bisa dilalukan Daiki selain mengikuti langkah Nu.
“Tanpa sadar, Nuchan memanggil namaku...aku senang”, ujar Daiki, lirih
Selama perjalanan pulang, keduanya hanya terdiam. Daiki tahu, Nu ingin menangis, tapi tak ingin Daiki melihatnya, lagi.
“...Nuchan pernah mengenal Kyo-san?”, akhirnya Daiki memberanikan diri bertanya.
“Dia...pacarku...”, jawabnya sepelan mungkin.. “Setidaknya hingga beberapa waktu yang lalu...”
Daiki begitu terkejut, tak percaya. “Tapi, Nuchan dan Kyo-san...ng, terlihat...”, tambah Daiki, ragu.
“Dia meninggalkan aku”, sepenggal kata dari Nu membuat Daiki tak bisa meneruskan ucapnya
“Nuchan membencinya sekarang?”, tanya Daiki lagi.
“Aku tak akan pernah bisa...”, jawab Nu hampir menangis.
mendengar kata itu, membuat Daiki merasa sedikit iri.
“Kalau begitu...”, Daiki meraih jemari dingin Nu dengan tangannya “...sukai aku seperti Nuchan menyukainya...”, ucap Daiki.
Tatapan itu lagi, sorot mata Daiki yang begitu tegas. Membuatnya sesaat terlihat begitu dewasa.
Nu hanya menarik tangannya, “Aku tak bisa”
Kembali berjalan, Nu menyadari Daiki tak lagi berada disampingnya
“Arioka?”
Tak ada jawaban, dan ketika menoleh, Nu bisa melihat Daiki sudah tertinggal beberapa langkah darinya, duduk berjongkok di jalanan sepi
“Hh...”, menghela nafas, Nu berbalik, dan membawa kakinya melangkah kebelakang menuju Daiki.
“Jalanlah yang benar...”, perintah Nu.
Walaupun Nu tak tersenyum untuk Daiki, tapi Daiki bisa kembali tersenyum -setelah memasang wajah cemberut yang nampak begitu kekanakan-, ketika Nu mengulurkan tangan untuknya.
Tanpa ragu, Daiki meraih tangan Nu, menggenggamnya kemudian meneruskan langkah mereka yang sempat terhenti.
“Manja!”, ujar Nu singkat.
“Biarlah...asalkan manjanya hanya sama Nuchan...”, balas Daiki.
“Haaah?!”, tanpa sadar, senyum Nu sedikit mengembang, ia yakin wajahnya juga memerah saat ini.
---------------------------
“Ok, aku ambil yang ini”, ujar Py lirih pada dirinya sendiri menatap sebuah sketch book “Sekarang ke tempat manga...”, gumamnya pada diri sendiri.
Hari libur yang membosankan. Semua temannya tampak sibuk dengan urusan mereka masing – masing. Py akhirnya memutuskan untuk ke toko buku sendirian, paling tidak ia bisa mencari komik yang dia inginkan.
“Hikka...pasti lihat (shounen) JUMP, kan? Dasar laki-laki, membosankan aah, ayo keluar dari toko buku lalu hang out bersama kami...”
Langkah Py terhenti ketika mendengar seseorang menyebut nama itu. Py berusaha mengintip dari sela-sela lemari buku. Seorang berambut coklat terang itu, Hikaru yang dikenalnya. Dengan tiga orang lain, gadis - gadis yang juga dari sekolahnya. Seorang dari mereka, memeluk lengan Hikaru begitu erat, berbicara dengan nada manja.
“Memangnya Hikaru-kun pacarmu...?”, ucap Py lirih.
Tanpa mau mengaku pada dirinya sendiri, Py merasa sedikit kesal. Cemburu, mungkin.
Sementara Hikaru menanggapi ketiganya dengan tersenyum ramah. Menyenangkan, semua orang pantas menyukainya
“Oh ya, Hikaru-kun kan pacar mereka semua...”, kata Py lagi.
Tapi perasaan itu segera ditepisnya dan berjalan menjauh dari tempat Hikaru berdiri. Semakin menjauh.
Ketika Py sadar, ia sudah berada di tempat yang tak biasa untuknya. Diantara deretan buku-buku dengan judul yang benar-benar asing. Py hanya bisa berpura-pura memilih buku, menghindari tatapan aneh dari orang-orang disekelilingnya.
“Ushi no Koku Mairi? Bacaan yang bagus. Apa Pychan sedang membenci seseorang?”, kata seseorang dibelakangnya.
“Kyaaaaaaaa! Hikaru-kun!”, kontan Py menjerit kaget. Mendengar suara Hikaru, sekaligus menyadari buku apa yang tengah dipegangnya. Dan ketika itu pula wajahnya berubah memerah.
“Hmm? Aku, hanya...”, Py berusaha mencari kata-kata yang tepat tapi tak juga menemukannya.
“Salah ambil buku?”, potong Hikaru.
Hanya mengangguk malu, Py tak bisa menatap Hikaru.
“Ini, aku ambilkan untukmu. Semoga tidak salah lagi”, katanya lalu mengambil sebuah buku.
“Shu, Shugo Chara? A, arigato, Hikaru-kun”, ujar Py masih merasa deg – degan.
Tanpa Py sempat menduga, Hikaru memberikan salah satu buku yang memang akan diambilnya.
“Aku akan berikan buku ini, kalau Pychan mau menemaniku jalan-jalan. Bagaimana, hmm?”, tawar Hikaru.
“Demo...ano...”, jawap Py ragu.
“Aku juga tak akan beritahu siapapun kalau Pychan tertarik dengan Ushi no Koku Mairi...”, godanya, tersenyum memperlihatkan senyum khasnya.
“Aah! Ok, aku ikut!”, jawab Py akhirnya.
Sebenarnya, Py memang hanya ingin bersama Hikaru.
“Ahaha, terima kasih!”, kata Hikaru bersemangat.
Walaupun Py masih tak bisa menatap Hikaru, tapi ia bisa memastikan. Hikaru memasang senyumannya. Sebuah senyum yang begitu bersahabat, Py begitu menyukainya.
--------------
Miyuy kembali merapikan rambutnya, mengecek kembali apa make up nya tidak berlebihan.
Hari ini cukup istimewa. Ia akan berkencan dengan Yabu. Setidaknya itulah yang difikirkan Miyuy.
Semalam saja Miyuy tak bisa tidur hanya karena ajakan ini.
From: Yabu-kun
Subject: Malam~
Miyuy-chan...sedang apa?
Ada waktu besok?
Saat menerima email itu, Miyuy yang awalnya sudah ngantuk setengah mati karena soal Fisika yang harus ia selesaikan sebelum hari senin, tiba – tiba merasa tak mengantuk sama sekali.
To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku..berkutat dengan Fisika.
Yabu-kun sedang apa?
Eh? Besok? Aku tak akan kemana – mana..
Kenapa Yabu-kun?
From: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku sedang tiduran saja~
Miyuy-chan rajin ya..besok kan baru hari Sabtu..
Masih juga belajar?? :P
Kalau ada waktu..maukah nonton bersamaku?
“Kyaaaaaa~”, tanpa sadar Miyuy sedikit berteriak.
To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku benci menunda tugasku..:D
Eh?hmmm~
Boleh saja..aku juga tak punya rencana apapun kok..
From: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Baiklah...jangan tidur terlalu malam.
Besok kita bertemu di taman jam 11 ok?
Oyasumi Miyuy-chan~
---(image 19)---
Stars that always shining
Miyuy tersenyum melihat foto sebuah bintang bohongan yang terbuat dari kertas bersinar warna emas.
To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Ok desu~
Oyasumi...
Setelah email itu, Miyuy malah tak bisa memejamkan mata sama sekali. Namun ia juga tak mampu mengerjakan PR Fisika nya. Hatinya terlalu senang dengan apa yang akan terjadi.
Miyuy pun segera mengecek ramalannya di Tobenatori. Maka saat ini pun ia memakai warna keberuntungannya hari ini, Biru.
“Maaf aku agak terlambat...”, kata seseorang. Membuyarkan lamunan Miyuy.
Yabu berdiri dihadapannya, dengan senyumnya seperti biasa.
“Ah..tidak..aku yang terlalu cepat datang...”, jawab Miyuy.
“Ja...Ikou~”, ajak Yabu.
----------------------
From: Yuuri
Subject: (no subject)
Neechan~ sudah ketemu Inoochan, kah? >___<
Opi membuka layar ponselnya, sebuah email dari Yuuri.
To: Yuuri
Subject: Re: (no subject)
E?
Inoo-kun? -w -)7
Jawabnya pada Yuri
From: Yuuri
Subject: Re: (no subject)
Aku dan mama minta Inoochan bergabung
dengan kita untuk acara barbeque nanti,
jadi Inoochan bantu dengan ikut neechan
belanja ke super market >__<
Pesan dari Yuri itu membuat Opi sedikit terkejut, Inoo akan datang untuk belanja bersamanya.
BRAK !
Mendengar suara itu kontan Opi menutup layar ponselnya dan melihat ke tempat berasalnya suara.
“I, Inookun?”, ujarnya setengah berteriak.
Opi bisa jelas melihat, Inoo sedang membantu seorang ibu tak dikenal membereskan belanjaannya yang berantakan dilantai.
“Ah, terimakasih, nona”, ujar ibu tersebut pada Inoo.
Opi berusaha menahan tawa mendengar panggilan yang diberikan seorang tak dikenal itu pada Inoo, jelas ia salah mengira Inoo sebagai perempuan.
Sementara Inoo hanya membalas dengan senyuman, Opi juga melihatnya, begitu cantik, bukan mustahil orang akan mengira Inoo adalah perempuan.
Tak lama, kemudian Inoo berdiri menghampiri Opi
“Tertawakan aku, huh?”, lagi, Inoo memperlihatkan senyumannya, yang begitu Opi sukai.
“A, ah, tidak, tidak...”, Opi menggeleng, meencoba menyembunyikan wajahnya yang kini memerah.
Sesaat Inoo melirik tas belanja Opi, “Hmm, hampir semua yang diperlukan sudah diambil, tapi ada yang ketinggalan...”, kata Inoo.
“E? Padahal kupikir semuanya lengkap”, kata Opi yang yakin ia tak melewatkan satu pun barang yang di daftar oleh Ibunya.
“Paprika”, jawab Inoo sambil tersenyum.
“Ah! Padahal itu penting!”, Opi memukul keningnya sendiri “Ayo, cepat selesaikan dan pulang!”, tanpa sadar, Opi menarik tangan Inoo dan berjalan cepat ke stand sayuran.
“Kurasa yang ini bagus...”, ujar Inoo.
“Aku ambil...”, Saat itu, Opi baru menyadari kalau tangannya masih menggandeng tangan Inoo “Aah, gomen ne!”, segera Opi melepaskan genggaman tangannya dan memasukkan beberapa buah paprika kedalam tas belanjanya.
Dan Inoo hanya mengisyaratkan sebuah ‘Daijoubu dayou’ dengan senyumannya
-----------------
“Inookun, terimakasih sudah membantuku belanja...”, kata Opi lalu menatap Inoo yang tampak melamun.
“Tak apa, aku yang harusnya berterimakasih karna diundang di acara barbeque kalian”, jawabnya.
Keduanya, berjalan bersamaan dengan masing-masing membawa tas belanjaan.
“Hai nona-nona, nampaknya baru selesai belanja, bagaimana kalo main-main bersama kami, lebih menyenangkan...”, Seorang menepuk pundak Inoo, dua orang berandalan yang sama sekali tak terlihat seperti orang baik.
“Maaf, kami tak punya waktu untuk kalian”, Inoo menepis tangan itu dari pundaknya.
“Ah, laki-laki ya, membosankan!”, ucap seorang lain dari mereka, dengan tatapan meremehkan.
“Ayo Opi, kita harus cepat sampai rumahmu, obasan dan Yuuri sudah menunggu!”, Inoo mempercepat langkahnya dan diikuti dengan Opi.
Hanya tinggal beberapa blok lagi untuk sampai kerumah, keduanya kembali berjalan santai. Tapi bagaimanapun, suasana yang tidak enak memang terasa, tidak terlalu ada pembicaraan diantara mereka.
“Harusnya, saat berjalan bersama dengan membawa tas belanja seperti ini, akan dikira sebagai pasangan pengantin baru, kan”, goda Inoo lalu melirik pada Opi.
Kalimat yang diucapkan Inoo membuka wajah Opi memerah dan tak bisa menjawab.
“A, apa maksud Inookun?”, ujar Opi.
Perlahan, Opi bisa merasakan Inoo meraih tangannya -yang tak memegang tas belanja-, jemari lentik Inoo menyilang diantara jari-jarinya. Opi sama sekali tak bisa menatap wajah Inoo, tak ingin Inoo melihat wajahnya yang telah menjadi sangat merona.
“Dengan begini, kita pasangan pengantin baru. Tak akan ada yang akan memanggil kita dengan ‘nona-nona’ lagi...hee hee”, katanya tanpa melepaskan tangan Opi sedikitpun.
‘Walaupun itu hanya bohong, Inookun hanya tak suka dikira sebagai perempuan karna wajahnya yang cantik, tapi aku senang’, Pikir Opi yang berjalan dengan Inoo menggenggam tangannya. Terasa begitu nyaman, walaupun membuat jantungnya berdetak cepat tak beraturan.
“Mamaaa, Neechan dan Inoochan sudah sampai!”, seru Yuuri yang sejak tadi menunggu di depan pintu “I, Inoochan...”, Yuuri terbata mendapati Inoo yang masih memegang tangan kakaknya
“Ini, ini hanya...”, Inoo berusaha menjelaskan, tanpa melepaskan genggaman tangannya.
“Kyaaaaaaaaaaa”, Yuri berlari histeris kedalam rumah
Inoo dan Opi, keduanya hanya bisa tertawa, dengan wajah yang masih memerah.
“Inookun..”, panggil Opi pelan.
“Ya?”
“Sudah bisa dilepaskan...kita sudah di rumah..”, kata Opi lagi.
Inoo tampak kaget sendiri, lalu melepaskan tangannya, “Gomen ne Opichan..”
---------------------
“Filmnya seru ya Yabukun!!”, seru Miyuy setelah mereka keluar dari bioskop.
Sejujurnya, Yabu tak begitu suka film Astro Boy tadi. Tapi setidaknya melihat ekspresi wajah Miyuy sepanjang film tampaknya membuat hal di bioskop tadi menyenangkan.
“Ya...tentu saja..”, jawab Yabu tersenyum.
“Hmmm...Yabukun~”, panggil Miyuy ketika Yabu sudah duluan jalan didepannya.
“Ya?”, wajah Yabu berbalik, menatap Miyuy.
“Yabukun bilang ingin makan bento buatanku? Aku membawa bentou hari ini..”, katanya malu – malu.
“Benarkah?!! Ayo cari tempat untuk makan..”, putus Yabu lalu menggenggam tangan Miyuy.
Yabu membuka bungkusan bentou itu dengan antusias, “Uwaaa~ Sugooii~ terlihat enak..”, kata Yabu.
“Cobalah..”, ujar Miyuy memperhatikan wajah Yabu yang akan mulai makan.
“Itadakimaaaasssuu!!”, Yabu melahap sebuah tenpura.
“Dou?”, tanya Miyuy takut – takut.
Wajah Yabu mengekspresikan ada yang tidak beres dengan makanan itu.
“Eeehh??Kenapa Yabukun? Tidak enak ya?”, serunya panik. Sepertinya ia tak memasukkan sesuatu yang salah pada makanan itu.
Yabu tersenyum, “Hehehe...enak sekali kok~ ayo makan!!”
Miyuy memukul pelan bahu Yabu, “Tidak lucu...”
Yabu hanya tersenyum melihat wajah panik Miyuy.
“Ne Miyuy-chan...”, panggil Yabu.
Miyuy berhenti makan, memusatkan perhatiannya pada Yabu, “Ya?”.
“Kalau kau membuatkan aku bekal setiap hari..kau mau?”, tanyanya tiba – tiba.
“Memangnya aku petugas katering?”, ujar Miyuy yang kecewa dengan apa yang diucapkan Yabu. Ia pikir sesuatu yang lebih romantis akan dikatakannya.
“Buat bekal untuk pacar sendiri memangnya gak mau?”, tanya Yabu.
Sukses membuat Miyuy kembali berhenti dan menatap Yabu tak percaya, “Hah? Apa maksudmu?”, tanya Miyuy lagi.
Yabu berhenti makan, menatap Miyuy, “Iya...Miyuy mau jadi pacarku kan?”
“Eh??”, wajah Miyuy memerah. Ia tak sanggup menatap mata Yabu yang tepat berada dihadapannya. “Kenapa Yabukun?”, tanya Miyuy sedikit berbisik.
“Mochiron...Suki da yo~”, kata Yabu lagi, menggenggam tangan Miyuy.
Miyuy hanya sanggup mengangguk pelan.
-------------------
“Hikakun? Kita mau kemana?”, tanya Py mengikuti Hika dari belakang.
Sejak tadi jantungnya terasa dag-dig-dug tak beraturan.
“Beli takoyaki yuk!!”, ajak Hika lalu menarik tangan Py ke sebuah stand takoyaki.
Py sejak tadi hanya diam.
Wajahnya memerah dan sangat gugup di dekat Hikaru.
Hikaru ternyata membawa Py ke taman meereka biasa bertemu.
“eh? Kesini?”, tanya Py heran.
“Kau sih..dari tadi menunduk saja..hehehe.”, Hikaru terkekeh.”Tentu saja kalau kencan dengan Py, aku maunya kesini.”, kata Hikaru lagi.
“Eh?”, Py tak bisa menjawab apapun.
“Ayo makan takoyakinya sebelum jadi dingin...”, kata Hikaru meyodorkan sebuah takoyaki.
“Aku bisa makan sendiri..”, elak Py menolak. Karena Hikaru akan menyuapinya.
Hikaru tak bergeming, “Ayo..makan saja...”, katanya keras kepala.
Akhirnya Py memakan takoyaki yang disodorkan oleh Hikaru.
“Enak tidak?”, tanya Hikaru, “Pasti lebih enak buatanku ya?”, tanya Hikaru lagi.
Py tersenyum, tapi tak menjawab. Seperti biasa Py memang pemalu.
“Py..belepotan...”, kata Hikaru lalu menyeka mulut Py dengan tangannya.
“ehhh...”, Py kembali menghindar.
“Aku bohong....hehehehe...”m kata Hikaru tersenyum jahil.
“Hikakun...”, panggil Py.
“Ya?”
“Kenapa Hikakun malah jalan bersamaku? Bukannya tadi di toko buku Hikakun bersama banyak gadis? Tidak pergi sama mereka?”, tanya Py pelan.
“Hmmmm~ kurasa... aku lebih senang bersamamu daripada mereka..”, jawab Hikaru tegas.
“ Tapi kan aku...”
Hikaru berdiri dari bangku taman itu, lalu menggenggam tangan Py... “Kita kencan kan? Jadi biarkanlah seperti ini...ayo pulang!! Sudah sore..”, ujar Hikaru sambil menggandeng tangan Py.
Py hanya bisa menunduk malu. Memandang tangan Hikaru yang menggenggam tangannya.
--------------------
Sisa perjalanan mereka hari itu tampak sedikit terganggu karena Din sering sekali menyebutkan nama Jin. Walaupun tidak sengaja, memang itulah yang sedang ia pikirkan.
Yuya kesal setengah mati. Tapi tak bisa berbuat apapun selain berdamai dengan apa yang Din ucapkan.
“Sudah sampai...masuklah...sudah malam..”, kata Yuya saat mereka sudah pulang.
Ponsel Din bergetar, tanda email masuk. Din melirik sebentar pada ponselnya lalu tersenyum lembut.
“Siapa?”, tanya Yuya penasaran.
“Jin...dia mengucapkan selamat malam saja.”
“Kenapa kau masih berkirim email dengan Jin?!!”, seru Yuya.
“Memangnya kenapa?!”, nada suara Din mulai meninggi.
Yuya berdecak kesal, “Kau kan pacarku...”
“Lalu? Ada peraturannya aku tak boleh berkirim email dengan Jin?”, balas Din kesal.
Yuya kehilangan kata – kata apa yang harus ia ucapkan. Itu memang tak salah. Maksudnya Jin juga kan teman masa kecil Din, bahkan sudah dianggap saudara sendiri.
“Baiklah!! Terserah kau saja!! Aku akan pergi!!”, teriak Yuya berbalik.
“Pergilah!! Jin pasti tak akan melakukan ini kalau ia berkencan denganku!!”, balas Din kesal.
Langkah Yuya terhenti.
Yuya menatap Din.
“Apa?”, tanya Din innocent.
Tanpa aba – aba, wajah Yuya mendekat, mendaratkan sebuah kecupan.
Lagi.
Yuya selalu mencuri kesempatan. Tapi kali ini Din tidak menolak, bahkan tanpa ia sadari, matanya menutup dengan sendirinya.
“Bisakah mulut itu hanya menyebutkan namaku saja?”, kata Yuya menatap mata Din.
“Apa maksudmu?”, tanya Din bingung.
Yuya mendekap Din, “Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu melupakan Jin?”, bisiknya lirih.
Din sedikit terperanjat, namun rasanya kata – katanya pada Yuya itu memang sedikit keterlaluan. “Yuya?”, panggil Din lembut.
Yuya mendongak, wajahnya tepat dihadapan Din.
“Gomen na..bisakah kau memberiku waktu sedikit lagi?”, kata Din pelan.
Yuya hanya bisa menatap Din tak percaya. Seakan kata – kata itu sudah ia tunggu sejak lama.
------------
N.B: Maaph kepending lamaaaaaaaaa~ COMENTS ARE LOOOOVVVVEEEE~
Chapter : Seven
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~
Ketika Din membuka matanya di pagi hari, yang dilihatnya adalah wajah Yuya yang tengah tertidur. Din memejam dan kemudian membuka matanya kembali, beberapa kali ia mengusap matanya, pemandangan itu tetaplah sama, Yuya ada di tempat tidurnya
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!”, seisi rumah bisa mendengar teriakan Din
“Yu, yuya...ke, kenapa...”, ucap Din terbata, panik “..jangan bilang kalau Yuya sudah lakukan macam-macam !”, tanpa sadar tangannya menarik leher bajunya keatas.
“Hahahahhaha! Wajahmu, wajah panikmu, yang seperti itu lucu sekali!”, goda Yuya senang.
“Tenanglah...aku sudah minta izin oba-san untuk membawamu pergi keluar, tapi ternyata kamu masih tidur”, kata Yuya tenang.
“Kenapa harus sepagi ini, sih?”, rutuk Din kesal.
“Ah, cerewet...cepat madi lalu siap-siaplah!”, kata Yuya seraya menarik sedikit selimut yang Din kenakan.
“Apa? Ng, aku pilih tidur lagi..ini terlalu pagi...”, balas Din, kembali menenggelamkan kepalanya di bantal dan membungkus dirinya dengan selimut
“Kalau begitu, aku juga”, tanpa berpikir panjang, Yuya membuat dirinya sendiri begitu dekat dengan Din, meletakkan kepala di bantal yang sama, menarik sedikit dari selimut yang dipakai Din
Begitu dekat. Din -yang tentu saja belum benar bisa kembali tertidur-, apalagi diciumnya aroma khas Yuya yang well, sedikit mirip dengan Jin.
Din tak bisa membohongi dirinya sendiri dengan berpikir ia masih bisa tenang dengan posisi seperti itu, jantungnya berdetak semakin cepat,
‘Apakah wajahku memerah?’
‘Apakah dia memperhatikan wajahku yang tertidur?’
‘Apakah wajah baru bangun tidurku cukup kacau hingga dia bisa mengolokku seperti biasa?’
‘Dia hanya menggoda, jangan terpengaruh...seperti biasa...’, batin Din
“Aaah! Sudah, menjauh!”, Din seketika mendorong Yuya menjauh. Din tak lagi bisa menyembunyikan perasaannya, perasaan ingin berteriak ketika Yuya berada sedemikian dekat dengannya.
“Ha ha ha! Sudah bangun ya, Tuan Putri? Selamat pagi...”, ucap Yuya dengan memasang senyuman penuh kemenangan.
“Ok! Aku akan pergi denganmu...pervert!”, Din melempar bantal ke wajah Yuya sebelum berlari keluar dari kamarnya
--------------
“Ng, kenapa? Sejak tadi kamu lebih banyak diam?”, tanya Yuya pada Din ketika mereka baru saja turun dari bianglala.
‘Ini kan kencan pertama kita sebagai pasangan??’, batin Din.
“Aku..hanya belum terbiasa”, jawab Din pelan
“Hah? Apanya?”, tanya Takaki tak mengerti.
“Kita terbiasa main ke taman bermain seperti ini selalu pergi bertiga bersama Jin, kan...”, kata Din dan setelahnya menyesali apa yang dia katakan.
“Ohh~”, Yuya menarik tangan Din dan menggenggamnya, “Ada aku disini..apa tidak cukup?”, bisiknya, namun Din masih bisa mendengarnya.
----------------
“...hai, Nu desu...”
Sore itu Nu terbangun oleh getar dari ponselnya, panggilan dari nomor tak dikenal
“Nuchan~ bolehkah aku ke tempatmu sekarang?”, tanya seorang diseberang sana
“Ah, Arioka. Untuk apa datang ke tempatku?”, kali ini Nu benar – benar bangun sepenuhnya.
“Untuk menjemput Nuchan, kita akan pergi ke konser, kan?”, tanya Daiki.
‘Ah....konser Kyo...’, kata Nu dalam hati.
“Ng, ya. Tapi...”, Nu melirik jam kecil di meja dekat tempat tidurnya “..tapi ini jam 3 sore!”
“Nuchan suka vokalis bandnya, kan? Kalau begitu, kita harus dapat tempat di depan!”, seru Daiki bersemangat
“Ok, kamu boleh ketempatku”, jawab Nu akhirnya.
“Yaay! Kalau begitu, sekarang buka jendela kamarmu!”
Begitu Nu membuka jendela kamarnya, ia bisa melihat Daiki dibawah sana, tersenyum manis untuknya, dan melambai kecil ke arahnya.
“Nuchaaaannn~”, serunya ceria.
Nu menggelengkan kepalanya, terkadang saat melihat senyumnya, Nu pun tanpa sadar ikut tersenyum.
Konser-yang-disukai-Nuchan ternyata jauh berbeda dari yang dibayangkan Daiki, sangat berbeda dengan konser-konser live yang biasa dilihatnya.
Begitu bising, bahkan terkadang lagu yang dibawakan tak terasa seperti sebuah lagu untuknya, hanya teriakan-teriakan yang memekakan telinga dari sang vokalis. Membuatnya berpikir “Inikah orang yang sangat disukai Nuchan?”
Tapi audiens begitu menikmati, begitu bersemangat. Sesekali Daiki menatap Nu yang berdiri disampingnya, tersenyum lembut menatap keatas panggung.
Senyuman yang belum pernah dilihatnya.
“Aah, selesai...Nuchan suka konsernya?”, Daiki berusaha tersenyum, meskipun kepalanya terasa pusing ketika keluar dari hall area.
“Aku selalu suka...”, jawab Nu pelan.
“Tunggulah disini, aku akan cari minuman untuk kita!”, ucap Daiki dan segera berlari menginggalkan Nu.
“Eto...kenapa belum juga sampai ke tempat yang tadi?”, gumam Daiki. Dengan dua kaleng minuman dingin di tangannya, ia berusaha keras mengingat, jalan menuju tempat dimana Nu mengunggunya.
“Gawat, aku tersesat!”, semakin Daiki berjalan, tempat-tempat yang dilalui terasa semakin asing.
“Basement? Aah, aku benar tersesat. Aku akan hubungi Nuchan...”
Gerakan Daiki meraih ponsel terhenti, ketika ia mendengar suara yang dikenalnya.
“Aku tak bisa menerima alasan Kyo-san! Sejak kapan kita peduli tentang orang tua?!”
Itu suara Nu.
Daiki melihat Nu, berdebat dengan orang yang tak lain adalah vokalis dari band yang baru saja dilihatnya.
“Aku bukan pedofil”, jawab seorang yang dipanggil Nu dengan sebutan Kyo itu
“Dan aku bukan anak dibawah umur!”, seru Nu dengan nada sedikit membentak.
Daiki berusaha bersembunyi, melihat perdebatan Nu dan Kyo. Tapi tanpa sengaja, Daiki menjatuhkan kaleng minuman yang dipegangnya.
Suara itu tentu membuat Nu dan Kyo melihat kearahnya. Nu menghampirinya, meninggalkan Kyo “Ayo pulang, Daiki!”
Tak ada yang bisa dilalukan Daiki selain mengikuti langkah Nu.
“Tanpa sadar, Nuchan memanggil namaku...aku senang”, ujar Daiki, lirih
Selama perjalanan pulang, keduanya hanya terdiam. Daiki tahu, Nu ingin menangis, tapi tak ingin Daiki melihatnya, lagi.
“...Nuchan pernah mengenal Kyo-san?”, akhirnya Daiki memberanikan diri bertanya.
“Dia...pacarku...”, jawabnya sepelan mungkin.. “Setidaknya hingga beberapa waktu yang lalu...”
Daiki begitu terkejut, tak percaya. “Tapi, Nuchan dan Kyo-san...ng, terlihat...”, tambah Daiki, ragu.
“Dia meninggalkan aku”, sepenggal kata dari Nu membuat Daiki tak bisa meneruskan ucapnya
“Nuchan membencinya sekarang?”, tanya Daiki lagi.
“Aku tak akan pernah bisa...”, jawab Nu hampir menangis.
mendengar kata itu, membuat Daiki merasa sedikit iri.
“Kalau begitu...”, Daiki meraih jemari dingin Nu dengan tangannya “...sukai aku seperti Nuchan menyukainya...”, ucap Daiki.
Tatapan itu lagi, sorot mata Daiki yang begitu tegas. Membuatnya sesaat terlihat begitu dewasa.
Nu hanya menarik tangannya, “Aku tak bisa”
Kembali berjalan, Nu menyadari Daiki tak lagi berada disampingnya
“Arioka?”
Tak ada jawaban, dan ketika menoleh, Nu bisa melihat Daiki sudah tertinggal beberapa langkah darinya, duduk berjongkok di jalanan sepi
“Hh...”, menghela nafas, Nu berbalik, dan membawa kakinya melangkah kebelakang menuju Daiki.
“Jalanlah yang benar...”, perintah Nu.
Walaupun Nu tak tersenyum untuk Daiki, tapi Daiki bisa kembali tersenyum -setelah memasang wajah cemberut yang nampak begitu kekanakan-, ketika Nu mengulurkan tangan untuknya.
Tanpa ragu, Daiki meraih tangan Nu, menggenggamnya kemudian meneruskan langkah mereka yang sempat terhenti.
“Manja!”, ujar Nu singkat.
“Biarlah...asalkan manjanya hanya sama Nuchan...”, balas Daiki.
“Haaah?!”, tanpa sadar, senyum Nu sedikit mengembang, ia yakin wajahnya juga memerah saat ini.
---------------------------
“Ok, aku ambil yang ini”, ujar Py lirih pada dirinya sendiri menatap sebuah sketch book “Sekarang ke tempat manga...”, gumamnya pada diri sendiri.
Hari libur yang membosankan. Semua temannya tampak sibuk dengan urusan mereka masing – masing. Py akhirnya memutuskan untuk ke toko buku sendirian, paling tidak ia bisa mencari komik yang dia inginkan.
“Hikka...pasti lihat (shounen) JUMP, kan? Dasar laki-laki, membosankan aah, ayo keluar dari toko buku lalu hang out bersama kami...”
Langkah Py terhenti ketika mendengar seseorang menyebut nama itu. Py berusaha mengintip dari sela-sela lemari buku. Seorang berambut coklat terang itu, Hikaru yang dikenalnya. Dengan tiga orang lain, gadis - gadis yang juga dari sekolahnya. Seorang dari mereka, memeluk lengan Hikaru begitu erat, berbicara dengan nada manja.
“Memangnya Hikaru-kun pacarmu...?”, ucap Py lirih.
Tanpa mau mengaku pada dirinya sendiri, Py merasa sedikit kesal. Cemburu, mungkin.
Sementara Hikaru menanggapi ketiganya dengan tersenyum ramah. Menyenangkan, semua orang pantas menyukainya
“Oh ya, Hikaru-kun kan pacar mereka semua...”, kata Py lagi.
Tapi perasaan itu segera ditepisnya dan berjalan menjauh dari tempat Hikaru berdiri. Semakin menjauh.
Ketika Py sadar, ia sudah berada di tempat yang tak biasa untuknya. Diantara deretan buku-buku dengan judul yang benar-benar asing. Py hanya bisa berpura-pura memilih buku, menghindari tatapan aneh dari orang-orang disekelilingnya.
“Ushi no Koku Mairi? Bacaan yang bagus. Apa Pychan sedang membenci seseorang?”, kata seseorang dibelakangnya.
“Kyaaaaaaaa! Hikaru-kun!”, kontan Py menjerit kaget. Mendengar suara Hikaru, sekaligus menyadari buku apa yang tengah dipegangnya. Dan ketika itu pula wajahnya berubah memerah.
“Hmm? Aku, hanya...”, Py berusaha mencari kata-kata yang tepat tapi tak juga menemukannya.
“Salah ambil buku?”, potong Hikaru.
Hanya mengangguk malu, Py tak bisa menatap Hikaru.
“Ini, aku ambilkan untukmu. Semoga tidak salah lagi”, katanya lalu mengambil sebuah buku.
“Shu, Shugo Chara? A, arigato, Hikaru-kun”, ujar Py masih merasa deg – degan.
Tanpa Py sempat menduga, Hikaru memberikan salah satu buku yang memang akan diambilnya.
“Aku akan berikan buku ini, kalau Pychan mau menemaniku jalan-jalan. Bagaimana, hmm?”, tawar Hikaru.
“Demo...ano...”, jawap Py ragu.
“Aku juga tak akan beritahu siapapun kalau Pychan tertarik dengan Ushi no Koku Mairi...”, godanya, tersenyum memperlihatkan senyum khasnya.
“Aah! Ok, aku ikut!”, jawab Py akhirnya.
Sebenarnya, Py memang hanya ingin bersama Hikaru.
“Ahaha, terima kasih!”, kata Hikaru bersemangat.
Walaupun Py masih tak bisa menatap Hikaru, tapi ia bisa memastikan. Hikaru memasang senyumannya. Sebuah senyum yang begitu bersahabat, Py begitu menyukainya.
--------------
Miyuy kembali merapikan rambutnya, mengecek kembali apa make up nya tidak berlebihan.
Hari ini cukup istimewa. Ia akan berkencan dengan Yabu. Setidaknya itulah yang difikirkan Miyuy.
Semalam saja Miyuy tak bisa tidur hanya karena ajakan ini.
From: Yabu-kun
Subject: Malam~
Miyuy-chan...sedang apa?
Ada waktu besok?
Saat menerima email itu, Miyuy yang awalnya sudah ngantuk setengah mati karena soal Fisika yang harus ia selesaikan sebelum hari senin, tiba – tiba merasa tak mengantuk sama sekali.
To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku..berkutat dengan Fisika.
Yabu-kun sedang apa?
Eh? Besok? Aku tak akan kemana – mana..
Kenapa Yabu-kun?
From: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku sedang tiduran saja~
Miyuy-chan rajin ya..besok kan baru hari Sabtu..
Masih juga belajar?? :P
Kalau ada waktu..maukah nonton bersamaku?
“Kyaaaaaa~”, tanpa sadar Miyuy sedikit berteriak.
To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku benci menunda tugasku..:D
Eh?hmmm~
Boleh saja..aku juga tak punya rencana apapun kok..
From: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Baiklah...jangan tidur terlalu malam.
Besok kita bertemu di taman jam 11 ok?
Oyasumi Miyuy-chan~
---(image 19)---
Stars that always shining
Miyuy tersenyum melihat foto sebuah bintang bohongan yang terbuat dari kertas bersinar warna emas.
To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Ok desu~
Oyasumi...
Setelah email itu, Miyuy malah tak bisa memejamkan mata sama sekali. Namun ia juga tak mampu mengerjakan PR Fisika nya. Hatinya terlalu senang dengan apa yang akan terjadi.
Miyuy pun segera mengecek ramalannya di Tobenatori. Maka saat ini pun ia memakai warna keberuntungannya hari ini, Biru.
“Maaf aku agak terlambat...”, kata seseorang. Membuyarkan lamunan Miyuy.
Yabu berdiri dihadapannya, dengan senyumnya seperti biasa.
“Ah..tidak..aku yang terlalu cepat datang...”, jawab Miyuy.
“Ja...Ikou~”, ajak Yabu.
----------------------
From: Yuuri
Subject: (no subject)
Neechan~ sudah ketemu Inoochan, kah? >___<
Opi membuka layar ponselnya, sebuah email dari Yuuri.
To: Yuuri
Subject: Re: (no subject)
E?
Inoo-kun? -w -)7
Jawabnya pada Yuri
From: Yuuri
Subject: Re: (no subject)
Aku dan mama minta Inoochan bergabung
dengan kita untuk acara barbeque nanti,
jadi Inoochan bantu dengan ikut neechan
belanja ke super market >__<
Pesan dari Yuri itu membuat Opi sedikit terkejut, Inoo akan datang untuk belanja bersamanya.
BRAK !
Mendengar suara itu kontan Opi menutup layar ponselnya dan melihat ke tempat berasalnya suara.
“I, Inookun?”, ujarnya setengah berteriak.
Opi bisa jelas melihat, Inoo sedang membantu seorang ibu tak dikenal membereskan belanjaannya yang berantakan dilantai.
“Ah, terimakasih, nona”, ujar ibu tersebut pada Inoo.
Opi berusaha menahan tawa mendengar panggilan yang diberikan seorang tak dikenal itu pada Inoo, jelas ia salah mengira Inoo sebagai perempuan.
Sementara Inoo hanya membalas dengan senyuman, Opi juga melihatnya, begitu cantik, bukan mustahil orang akan mengira Inoo adalah perempuan.
Tak lama, kemudian Inoo berdiri menghampiri Opi
“Tertawakan aku, huh?”, lagi, Inoo memperlihatkan senyumannya, yang begitu Opi sukai.
“A, ah, tidak, tidak...”, Opi menggeleng, meencoba menyembunyikan wajahnya yang kini memerah.
Sesaat Inoo melirik tas belanja Opi, “Hmm, hampir semua yang diperlukan sudah diambil, tapi ada yang ketinggalan...”, kata Inoo.
“E? Padahal kupikir semuanya lengkap”, kata Opi yang yakin ia tak melewatkan satu pun barang yang di daftar oleh Ibunya.
“Paprika”, jawab Inoo sambil tersenyum.
“Ah! Padahal itu penting!”, Opi memukul keningnya sendiri “Ayo, cepat selesaikan dan pulang!”, tanpa sadar, Opi menarik tangan Inoo dan berjalan cepat ke stand sayuran.
“Kurasa yang ini bagus...”, ujar Inoo.
“Aku ambil...”, Saat itu, Opi baru menyadari kalau tangannya masih menggandeng tangan Inoo “Aah, gomen ne!”, segera Opi melepaskan genggaman tangannya dan memasukkan beberapa buah paprika kedalam tas belanjanya.
Dan Inoo hanya mengisyaratkan sebuah ‘Daijoubu dayou’ dengan senyumannya
-----------------
“Inookun, terimakasih sudah membantuku belanja...”, kata Opi lalu menatap Inoo yang tampak melamun.
“Tak apa, aku yang harusnya berterimakasih karna diundang di acara barbeque kalian”, jawabnya.
Keduanya, berjalan bersamaan dengan masing-masing membawa tas belanjaan.
“Hai nona-nona, nampaknya baru selesai belanja, bagaimana kalo main-main bersama kami, lebih menyenangkan...”, Seorang menepuk pundak Inoo, dua orang berandalan yang sama sekali tak terlihat seperti orang baik.
“Maaf, kami tak punya waktu untuk kalian”, Inoo menepis tangan itu dari pundaknya.
“Ah, laki-laki ya, membosankan!”, ucap seorang lain dari mereka, dengan tatapan meremehkan.
“Ayo Opi, kita harus cepat sampai rumahmu, obasan dan Yuuri sudah menunggu!”, Inoo mempercepat langkahnya dan diikuti dengan Opi.
Hanya tinggal beberapa blok lagi untuk sampai kerumah, keduanya kembali berjalan santai. Tapi bagaimanapun, suasana yang tidak enak memang terasa, tidak terlalu ada pembicaraan diantara mereka.
“Harusnya, saat berjalan bersama dengan membawa tas belanja seperti ini, akan dikira sebagai pasangan pengantin baru, kan”, goda Inoo lalu melirik pada Opi.
Kalimat yang diucapkan Inoo membuka wajah Opi memerah dan tak bisa menjawab.
“A, apa maksud Inookun?”, ujar Opi.
Perlahan, Opi bisa merasakan Inoo meraih tangannya -yang tak memegang tas belanja-, jemari lentik Inoo menyilang diantara jari-jarinya. Opi sama sekali tak bisa menatap wajah Inoo, tak ingin Inoo melihat wajahnya yang telah menjadi sangat merona.
“Dengan begini, kita pasangan pengantin baru. Tak akan ada yang akan memanggil kita dengan ‘nona-nona’ lagi...hee hee”, katanya tanpa melepaskan tangan Opi sedikitpun.
‘Walaupun itu hanya bohong, Inookun hanya tak suka dikira sebagai perempuan karna wajahnya yang cantik, tapi aku senang’, Pikir Opi yang berjalan dengan Inoo menggenggam tangannya. Terasa begitu nyaman, walaupun membuat jantungnya berdetak cepat tak beraturan.
“Mamaaa, Neechan dan Inoochan sudah sampai!”, seru Yuuri yang sejak tadi menunggu di depan pintu “I, Inoochan...”, Yuuri terbata mendapati Inoo yang masih memegang tangan kakaknya
“Ini, ini hanya...”, Inoo berusaha menjelaskan, tanpa melepaskan genggaman tangannya.
“Kyaaaaaaaaaaa”, Yuri berlari histeris kedalam rumah
Inoo dan Opi, keduanya hanya bisa tertawa, dengan wajah yang masih memerah.
“Inookun..”, panggil Opi pelan.
“Ya?”
“Sudah bisa dilepaskan...kita sudah di rumah..”, kata Opi lagi.
Inoo tampak kaget sendiri, lalu melepaskan tangannya, “Gomen ne Opichan..”
---------------------
“Filmnya seru ya Yabukun!!”, seru Miyuy setelah mereka keluar dari bioskop.
Sejujurnya, Yabu tak begitu suka film Astro Boy tadi. Tapi setidaknya melihat ekspresi wajah Miyuy sepanjang film tampaknya membuat hal di bioskop tadi menyenangkan.
“Ya...tentu saja..”, jawab Yabu tersenyum.
“Hmmm...Yabukun~”, panggil Miyuy ketika Yabu sudah duluan jalan didepannya.
“Ya?”, wajah Yabu berbalik, menatap Miyuy.
“Yabukun bilang ingin makan bento buatanku? Aku membawa bentou hari ini..”, katanya malu – malu.
“Benarkah?!! Ayo cari tempat untuk makan..”, putus Yabu lalu menggenggam tangan Miyuy.
Yabu membuka bungkusan bentou itu dengan antusias, “Uwaaa~ Sugooii~ terlihat enak..”, kata Yabu.
“Cobalah..”, ujar Miyuy memperhatikan wajah Yabu yang akan mulai makan.
“Itadakimaaaasssuu!!”, Yabu melahap sebuah tenpura.
“Dou?”, tanya Miyuy takut – takut.
Wajah Yabu mengekspresikan ada yang tidak beres dengan makanan itu.
“Eeehh??Kenapa Yabukun? Tidak enak ya?”, serunya panik. Sepertinya ia tak memasukkan sesuatu yang salah pada makanan itu.
Yabu tersenyum, “Hehehe...enak sekali kok~ ayo makan!!”
Miyuy memukul pelan bahu Yabu, “Tidak lucu...”
Yabu hanya tersenyum melihat wajah panik Miyuy.
“Ne Miyuy-chan...”, panggil Yabu.
Miyuy berhenti makan, memusatkan perhatiannya pada Yabu, “Ya?”.
“Kalau kau membuatkan aku bekal setiap hari..kau mau?”, tanyanya tiba – tiba.
“Memangnya aku petugas katering?”, ujar Miyuy yang kecewa dengan apa yang diucapkan Yabu. Ia pikir sesuatu yang lebih romantis akan dikatakannya.
“Buat bekal untuk pacar sendiri memangnya gak mau?”, tanya Yabu.
Sukses membuat Miyuy kembali berhenti dan menatap Yabu tak percaya, “Hah? Apa maksudmu?”, tanya Miyuy lagi.
Yabu berhenti makan, menatap Miyuy, “Iya...Miyuy mau jadi pacarku kan?”
“Eh??”, wajah Miyuy memerah. Ia tak sanggup menatap mata Yabu yang tepat berada dihadapannya. “Kenapa Yabukun?”, tanya Miyuy sedikit berbisik.
“Mochiron...Suki da yo~”, kata Yabu lagi, menggenggam tangan Miyuy.
Miyuy hanya sanggup mengangguk pelan.
-------------------
“Hikakun? Kita mau kemana?”, tanya Py mengikuti Hika dari belakang.
Sejak tadi jantungnya terasa dag-dig-dug tak beraturan.
“Beli takoyaki yuk!!”, ajak Hika lalu menarik tangan Py ke sebuah stand takoyaki.
Py sejak tadi hanya diam.
Wajahnya memerah dan sangat gugup di dekat Hikaru.
Hikaru ternyata membawa Py ke taman meereka biasa bertemu.
“eh? Kesini?”, tanya Py heran.
“Kau sih..dari tadi menunduk saja..hehehe.”, Hikaru terkekeh.”Tentu saja kalau kencan dengan Py, aku maunya kesini.”, kata Hikaru lagi.
“Eh?”, Py tak bisa menjawab apapun.
“Ayo makan takoyakinya sebelum jadi dingin...”, kata Hikaru meyodorkan sebuah takoyaki.
“Aku bisa makan sendiri..”, elak Py menolak. Karena Hikaru akan menyuapinya.
Hikaru tak bergeming, “Ayo..makan saja...”, katanya keras kepala.
Akhirnya Py memakan takoyaki yang disodorkan oleh Hikaru.
“Enak tidak?”, tanya Hikaru, “Pasti lebih enak buatanku ya?”, tanya Hikaru lagi.
Py tersenyum, tapi tak menjawab. Seperti biasa Py memang pemalu.
“Py..belepotan...”, kata Hikaru lalu menyeka mulut Py dengan tangannya.
“ehhh...”, Py kembali menghindar.
“Aku bohong....hehehehe...”m kata Hikaru tersenyum jahil.
“Hikakun...”, panggil Py.
“Ya?”
“Kenapa Hikakun malah jalan bersamaku? Bukannya tadi di toko buku Hikakun bersama banyak gadis? Tidak pergi sama mereka?”, tanya Py pelan.
“Hmmmm~ kurasa... aku lebih senang bersamamu daripada mereka..”, jawab Hikaru tegas.
“ Tapi kan aku...”
Hikaru berdiri dari bangku taman itu, lalu menggenggam tangan Py... “Kita kencan kan? Jadi biarkanlah seperti ini...ayo pulang!! Sudah sore..”, ujar Hikaru sambil menggandeng tangan Py.
Py hanya bisa menunduk malu. Memandang tangan Hikaru yang menggenggam tangannya.
--------------------
Sisa perjalanan mereka hari itu tampak sedikit terganggu karena Din sering sekali menyebutkan nama Jin. Walaupun tidak sengaja, memang itulah yang sedang ia pikirkan.
Yuya kesal setengah mati. Tapi tak bisa berbuat apapun selain berdamai dengan apa yang Din ucapkan.
“Sudah sampai...masuklah...sudah malam..”, kata Yuya saat mereka sudah pulang.
Ponsel Din bergetar, tanda email masuk. Din melirik sebentar pada ponselnya lalu tersenyum lembut.
“Siapa?”, tanya Yuya penasaran.
“Jin...dia mengucapkan selamat malam saja.”
“Kenapa kau masih berkirim email dengan Jin?!!”, seru Yuya.
“Memangnya kenapa?!”, nada suara Din mulai meninggi.
Yuya berdecak kesal, “Kau kan pacarku...”
“Lalu? Ada peraturannya aku tak boleh berkirim email dengan Jin?”, balas Din kesal.
Yuya kehilangan kata – kata apa yang harus ia ucapkan. Itu memang tak salah. Maksudnya Jin juga kan teman masa kecil Din, bahkan sudah dianggap saudara sendiri.
“Baiklah!! Terserah kau saja!! Aku akan pergi!!”, teriak Yuya berbalik.
“Pergilah!! Jin pasti tak akan melakukan ini kalau ia berkencan denganku!!”, balas Din kesal.
Langkah Yuya terhenti.
Yuya menatap Din.
“Apa?”, tanya Din innocent.
Tanpa aba – aba, wajah Yuya mendekat, mendaratkan sebuah kecupan.
Lagi.
Yuya selalu mencuri kesempatan. Tapi kali ini Din tidak menolak, bahkan tanpa ia sadari, matanya menutup dengan sendirinya.
“Bisakah mulut itu hanya menyebutkan namaku saja?”, kata Yuya menatap mata Din.
“Apa maksudmu?”, tanya Din bingung.
Yuya mendekap Din, “Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu melupakan Jin?”, bisiknya lirih.
Din sedikit terperanjat, namun rasanya kata – katanya pada Yuya itu memang sedikit keterlaluan. “Yuya?”, panggil Din lembut.
Yuya mendongak, wajahnya tepat dihadapan Din.
“Gomen na..bisakah kau memberiku waktu sedikit lagi?”, kata Din pelan.
Yuya hanya bisa menatap Din tak percaya. Seakan kata – kata itu sudah ia tunggu sejak lama.
------------
N.B: Maaph kepending lamaaaaaaaaa~ COMENTS ARE LOOOOVVVVEEEE~
Senin, 15 Februari 2010
[SPAM] Obsessive Fangirl Writes for
HAPPY BIRTHDAY, KYO-SAN~

CRAZY FANGIRL SCREAMS FOR KYO o(>O<)o
bunda, nov", uyuy~
sebelum ny
ijinkan aku untuk menyepam XDDD
cuma iseng aja
karena hari ini 16 februari
yg tak lain adalah...ulang taun ny kyo-san tertjintah XDDD
yay
semakin tua aja si abang XPP
oh ya
specially bwt uyuy, maapkan aku ngeganti banner yabu = A =
ntar april tak ganti pake banner dai, deh ^ ,^
hunyuuu
tadi ny pen ngomen d myspace aja
tapi saia inget, kyo jarang banget ngubek" myspace TwT
jadi bikin sepaman di sini aja, deh~
uehehehehee
spicless ah
pokonya, i'll always wish the best for kyo
*jadi inget lagu ny epik high:
u r my star
i'm yer number one fan
baby please, take my hand XDD *
Rabu, 10 Februari 2010
[Fanfic] Accidentally In Love (chap 6)
Title : Accidentaly In Love
Chapter : Six
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~
Pagi itu, sama seperti hari yang lainnya di kelas 3B
“Anak-anak, hari ini akan ada seorang murid baru yang akan belajar bersama kalian di kelas ini....”
Hampir seisi kelas 3B merasa heran mendengar ucapan seorang guru di depan mereka. Seorang murid baru datang pada saat yang begitu tidak tepat, pertengahan semester.
“...Takaki, ayo masuk”
Seorang murid laki-laki melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas yang akan menjadi tempat baru untuknya belajar.
“Takaki Yuya desu. Dozo yoroshiku...”, murid baru itu membungkukkan badan setelah menuliskan namanya di papan tulis dan kemudian terseyum hingga membuat banyak murid perempuan ingin berteriak histeris saat itu juga
Tapi tentunya Din bukan salah satu dari mereka. Reaksinya begitu berbeda, sangat jelas Din terkejut. Takaki Yuya yang berdiri di depan kelas saat ini tak lain adalah Takaki Yuya yang begitu dikenalnya, yang hampir setiap waktu beradu mulut dengannya.
“Hmm...Takaki, duduklah di bangku kosong di sebelah Ishida”,
“Hai, arigatou...”, ucap Yuya sopan dan kemudian melangkah ke tempat yang ditunjukkan
Beberapa murid perempuan terlihat kecewa, menyesali kenapa didekat mereka tak ada tempat duduk kosong, sehingga murid baru tampan berambut coklat terang itu bisa duduk disamping mereka
“Dinchan...ayo pergi makan ke cafetaria “, ajak Py ketika jam istirahat tiba
“Ng, yah...pergilah duluan”, Din membiarkan Py pergi tanpa dirinya, sementara matanya secara diam-diam tertuju pada beberapa murid perempuan yang mengerumuni tempat duduk Yuya. Bertanya tentang berbagai macam hal, tentang sekolah sebelumnya, alamat email hingga menu bento favorit Yuya.
Setidaknya, tanpa Din mau mengakuinya, pemandangan itu membuatnya cemburu. Melihat Yuya yang cerewet dan keras kepala tiba-tiba menjadi populer di kelasnya dirasanya begitu menyebalkan
“Eto...Fujihara-san...”
“Panggil saja Chika”, potong seorang murid perempuan yang dipanggil Yuya dengan Fujihara itu
“Ne, Chika...boleh aku meminta sesuatu?”, tanya Yuya dengan tak lupa menyertakan senyumannya.
“Hai, hai! Sou desu”, jawabnya seketika.
“Apa?!”, Din hanya bisa terkaget sendirian. Fujihara Chika, teman yang duduk disampingnya, sekarang Yuya lah yang akan duduk ditempat itu.
“Hey, senang bertemu denganmu”, dalam waktu singkat, Yuya sudah berada ditempat duduk barunya, menyapa Din dengan senyuman penuh kemenangan
Namun Din berusaha tak menghiraukan dan kemudian pergi keluar dari kelas.
Seperti yang biasa dilakukannya, sepulang dari sekolah Din memilih untuk pergi kemanapun langkah membawa ketika moodnya tidak terlalu bagus. Sekalipun ia hanya seorang diri tanpa keempat orang temannya.
Sendirian, termenung menunggu kereta datang.
“Ternyata memang ini sudah jadi kebiasaanmu, pergi keluyuran sepulang sekolah...”
Kontan Din menoleh kearah datangnya suara yang tentu sudah begitu dikenalnya “Yuya! Kenapa...”
“Mengikutimu, huh?”, potongnya
“Apa lagi selain itu? Selesai hang out dengan fangirl-fangirl barumu?”, ucap Din dengan nada yang sama sekali tak ramah.
“Kamu...cemburu?”, tebak Yuya.
Din menghindari mata Yuya, menjawab dengan ketus, “Tak ada alasan untuk aku cemburu, aku hanya kesal! Bertemu Yuya di rumah pun sudah cukup menyebalkan, sekarang aku harus bertemu Yuya pula setiap hari disekolah. Ketika di stasiun kereta seperti ini pun, aku harus melihatmu...”, cerocos Din.
“Cerewet. Apa yang bisa kamu lakukan hanyalah mengeluh?”, balas Yuya kesal.
Din memulai kembali langkahnya, menjauh dari Yuya.
“Aku bukan mengeluh! Aku hanya ingin Yuya sadar kalau Yuya begitu menye....”,
Sebelum Din menyelesaikan ucapannya, Yuya telah menariknya kedalam pelukan dan mengecup bibir Din hingga ia berubah terkejut dan tak bisa berkata-kata. Din tak mampu bergerak, bibir Yuya yang kini menempel pada bibirnya membuatnya kaget dan ia tak pernah mengira dicium oleh Yuya terasa.. yah... Nyaman. Maksudnya, ini adalah ciuman pertamanya. Setelah berhasil menguasai dirinya, Din mendorong Yuya menjauh, setelah menyadari bahwa kereta yang ditunggunya telah berlalu.
“Apa-apaan itu?!”, ucap Din sedikit membentak, tapi sama sekali tak bisa menatap Yuya.
“Aku hanya tak mau kamu terus-terusan menyebutku menyebalkan...”, ujar Yuya sekenanya.
“Uh”, Din tak bisa menjawab, kembali berusaha melangkah meninggalkan Yuya dan menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.
“Dinchan, tunggu...”, Yuya kembali menarik tangan Din namun kali ini berhasil dilepaskan.
“Apa lagi kalau bukan menyebalkan, Yuya sudah membuatku ketinggalan kereta. Aku tak mau kalau harus menunggu lebih lama lagi bersama Yuya!”, langkah kaki Din bertambah cepat dan ia berlari sekalipun ia tahu Yuya mengikutinya
“Sekarang apa yang akan kamu lakukan?”, teriak Yuya dari kejauhan.
“Pulang! Jangan ikuti aku!”, bentak Din tak peduli.
“Bodoh, untuk pulang tentu harus menunggu kereta berikutnya!”, kata Yuya setelah berhasil menyusul Din dan menahan Din untuk tidak pergi.
“Aku akan jalan kaki!”, bentak Din lagi, keras kepala.
“Dari jarak sejauh ini, itu tak mungkin! Ayolah...kupikir kamu sudah cukup bodoh, tapi sekarang kamu membuatku sadar kalau ternyata kamu lebih bodoh dari yang aku pikirkan...”, ujar Yuya masih menahan lengan Din dengan kuat.
“Yuya yang bodoh! Bisa-bisanya menciumku seenaknya!”, balas Din kesal.
Din, sebagian dari dirinya merasakan sesal. Ciumannya dengan Yuya, first kiss nya, yang diimpikannya adalah sebuah kecupan manis dari Jin.
“E...ano...”, Yuya mencoba mencari kata yang pas untuk menutupi betapa dirinya juga malu. Itu juga ciuman pertamanya.
“Aku lelah...”, ucap Din disela helaan nafasnya. Ide bodoh untuk berjalan kaki sampai rumah benar dilakukannya.
“Salahmu sendiri!”, balas Yuya yang masih berjalan disamping Din.
“Salahmu”, Din sudah tak sanggup lagi banyak berbicara, kedua kakinya serasa akan mati rasa setelah berjalan cukup lama
Tak lama, lagi-lagi tindakan Yuya mengejutkan Din. Yuya berlutut di hadapannya, tapi membelakanginya.
“Apa sih Yuya? Kau menghalangi jalanku..”, protes Din.
“Naik...cepat...”, perintah Yuya.
Din mencoba menjauh, “Tidak...”, jawabnya pelan.
Yuya berlari dan kembali berlutut di depan Din, “Jangan keras kepala!! Aku tahu kau sudah sangat lelah...”
Din terdiam, hanya menatap punggung Yuya di hadapannya.
“Cepat Dinchan...aku tak mau kau pingsan di jalan..”, kata Yuya lagi.
Masih bingung, tapi kakinya juga sudah tak kuat berjalan. Akhirnya Din naik punggung itu, kelelahan mengalahkan gengsinya.
“Kita bisa berjalan seperti ini...”, ucap Yuya dan kembali meneruskan langkahnya
Tak ada yang bisa Din lakukan selain diam dan merangkul bahu Yuya erat. Dengan nuansa warna matahari yang akan terbenam, membuat Din merasakan perasan hangat ketika berada demikian dekat dengan Yuya hingga gurat senyuman kembali terlihat diwajahnya, dan bibirnya membisikkan sebuah kalimat dengan begitu lirih, Yuya mungkin tak akan mendengarnya.
“Arigatou....”
--------
~Flashback~
“Karna aku tak punya sebuah ashtraypun, sekarang aku membeli satu untuk Kyo-san”, ujar Nu sambil meletakkan plastik kecil diatas meja.
“Ne, arigatou”, Kyo tersenyum tipis dan kembali meletakkan sebatang Phillip Morris dibibirnya.
“Kata pemilik toko, itu hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi”, Nu menyandarkan kepalanya di lengan Kyo dan tersenyum lembut.
“Oh ya, aku juga punya sesuatu untukmu...”, ucap Kyo seraya menunjukkan sekeping CD, Nu sudah hafal betul, tak lain itu adalah CD game.
“Sudah kuduga”
“Temani aku”
“Aku malas, Kyo-san selalu lupa waktu”, jawab Nu cemberut, Nu tidak pernah suka bermain game.
“Sebentar...”, bujuk Kyo, Nu hanya menggeleng.
“Tiga jam saja...”, tawar Kyo
“Apanya yang sebentar?!”
“Kalau begitu, dua jam...?”
“Haah?!”
“Ok, satu jam?”
“Tidak...”
“Hh...setengah jam?”
“Ok...”
“Deal, tiga setengah jam!”
~Flashback end~
Melihat beberapa CD game yang masih berantakan di lantai, membuat Nu sesaat kembali teringat akan sepenggal kenangan bersama Kyo, seorang game freak. Bahkan hingga Kyo meninggalkannya, Nu masih tak suka bermain game.
“Nuchan....”, ucap Daiki membuyarkan lamunannya “..aku kurang mengerti bagian ini, bisa tolong jelaskan?”
Sesaat Nu terdiam
“Kenapa kamu terus mengikutiku?”, tanya Nu dingin.
Nu sendiri tak habis pikir, ini ketiga kalinya Dai datang ke apartemennya untuk alasan yang sama sekali tak masuk akal.
“Aku? Aku tak mengikuti Nuchan, aku kan sudah bilang, pinjam catatan Biologi milik Nuchan...”, sesaat Daiki memperlihatkan senyum innocent dan kemudian kembali menulis
“Kalau begitu, bawa dan pulanglah”, kata Nu sinis.
“Eh? Kalau dibawa pulang kan repot waktu kembalikan, mungkin aku akan lupa membawanya”, ujar Daiki.
Lagi – lagi alasan aneh.
“Pinjam saja catatan milik temanmu di kelas A”, balas Nu tak sabar.
“Aaaa..baiklah.... aku mengaku..aku pinjam catatan milik Nuchan karna ingin bersama Nuchan...”, aku Daiki
“Alasan apa itu? Carilah orang lain”, seperti biasa, Nu hanya menjawab dengan dingin, membuat Daiki terbelalak
“Tak bisa seperti itu, aku ingin bersama Nuchan..”, Daiki bagun dari posisi duduknya, mendekat kearah Nu, memegang kedua pergelangan tangannya sementara Nu hanya menatapnya dingin
“Tolong dengarkan aku, aku...”
---PRAANG !!---, suara itu mengagetkan keduanya
“Ma, maaf....biar aku bereskan...”, ucap Daiki dengan wajah menyesal, menatap sebuah ashtray porselen yang telah berubah menjadi kepingan karna tanpa sengaja Daiki mendorong meja dan membuat ashtraynya jatuh
Bahkan keadaan itu, juga mengingatkan Nu. Akan suatu ketika ia mendengar bunyi yang sama, ketika tanpa sengaja Kyo menjatuhkan ashtraynya dan tentu membuatnya hancur menjadi pecahan-pecahan. Ashtray pertama yang dibelinya untuk Kyo.
“Gomen ne.”, ucap Kyo.
“Daijoubu da yo”, ketika Kyo mengucapkan kata maaf, Nu masih bisa mengurai senyumnya, sekalipun terasa getir
Malam hampir berganti pagi, Nu sama sekali tak bisa terlelap meskipun matanya terpejam. Ia masih bisa mendengar suara pintu kamarnya dibuka --Kyo pulang begitu larut- juga masih bisa merasakan lengan itu memeluk dari balik tubuhnya setelah sebelumnya Kyo meletakkan sesuatu diatas meja kecil didekat tempat tidurnya.
“Ng, aku kira Kyo-san tak akan pulang...”, Nu berbalik dan ia bisa menatap wajah Kyo yang nampak begitu lelah
“...kau bilang, ashtraynya hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi, aku cari di internet lalu dapat yang mirip...”
“Arigatou...”, ucap Nu seraya mengembangkan sebuah senyuman, Kyo tak akan melihatnya, juga tak mendengar ucapan terimakasihnya –Kyo tertidur dengan begitu cepat.
“Pulanglah!!”, bentak Nu kesal.
“Tapi, aku...”
“Keluar, pergi!”, air mata Nu tertahan.
Daiki tak bisa lagi membantah, yang bisa dilakukannya hanyalah keluar. Meninggalkan Nu dengan perasaan bersalah.
‘...kau bilang, ashtraynya hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi, aku cari di internet lalu dapat yang mirip...’
Kenangan akan Kyo terus terlintas di pikiran Nu. Ashtray pertama yang dibelinya untuk Kyo, tak sengaja pecah.
Ashtray yang dibeli Kyo untuknya, sekarang berubah pula menjadi kepingan-kepingan.
“Maafkan aku, Kyo-san...”, kini air mata itu tak dapat lagi ia tahan.
----------------------
Sudah beberapa minggu ini sekolah itu terasa sedikit sibuk. Tentu saja karena festival sekolah akan segera datang. Semua kelas sibuk mempersiapkan apa yang akan mereka tampilkan di acara tahunan itu. Kelas 3 B sudah sepakat membuat Obake house untuk tahun ini, dengan Miyuy sebagai ketuanya.
From: Yabu-kun
Subject: kau kenapa?
Ne...Miyuy-chan...kenapa kau tak pernah membalas e-mailku?
Kau baik – baik saja kan?
Miyuy menutup flip ponselnya dengan malas. Entah e-mail keberapa dari Yabu, tak pernah ia balas lagi. Ia masih bingung dengan sikap Yabu yang bisa dengan cepat berubah pada saat itu.
“Miyuy...butuh bantuan??”, kata Py yang kini sudah berdiri di sebelahnya.
“Ah Py...hanya membuat property ini sedikit lagi.”, tunjuknya pada sebuah benda.
Opi datang juga ikut membantu mereka. Akhir – akhir ini Opi terlihat lebih murung daripada biasanya.
“Aku ikut juga ya...tak ada yang bisa kukerjakan...”, keluh Nuy beberapa menit setelahnya.
“Ne...lihat ini...”, seru Din tiba – tiba muncul, menunjukkan sebuah selebaran.
“Sakurazawa Ayame akan melakukan permainan solo piano?”, baca Py lambat – lambat. Yang lain hanya memperhatikan.
“Sakurazawa Ayame...sekretaris OSIS, kan ?”, tanya Miyuy.
Nu hanya terdiam, ia sama sekali tak mengenal siapa itu Sakurazawa Ayame.
“Un”, jawab Py singkat
“Permainan solo piano dari Sakurazawa ternyata jadi bagian dari festival sekolah tahun ini...”, tambah Miyuy menatap dengan sedikit takjub
“Membosankan”, sementara Opi hanya berucap lirih dan kemudian berlalu, meninggalkan keempat orang temannya.
“Opichi...”, seru Din, “Kenapa dia?”, tanya Din bingung.
Sementara itu Nu, Miyuy dan Py juga tak mengerti kenapa Opi kelihatan marah.
Opi baru saja tiba di rumah ketika ia mendengar suara Inoo di ruang tengah. Tak sepert sebelumnya, Opi memilih menghindar dari tempat itu. Ia tak pernah lagi menghampiri Inoo yang sedang mengajari Yuuri bermain piano.
“Saya mohon izin untuk sehari saja Chinen-san...”
“Memangnya ada acara apa Inoo-kun?”, suara Mama. Pikir Opi.
“2 hari lagi teman kecilku akan bermain piano di sebuah festival. Aku sudah janji untuk datang...”, jelas Inoo.
Opi menyesal mendengarnya, dan bergegas masuk kamar.
------------------
Taman itu tampak lengang. Hanya ada beberapa anak kecil yang masih bermain di bak pasir, ditemani ibu mereka yang menunggu di bangku.
Hikaru menaikkan alisnya, menghela nafas berat. Sudah beberapa minggu ini ia sama sekali tak bertemu Py. Di sekolah pun Py terkesan sangat menghindarinya. Sore ini ia ke taman itu untuk bertemu Py, dibuka tas sekolahnya, 3 buah chupa yang sengaja ia beli itu masih ada di tasnya, tanpa berani ia berikan pada Py karena Py selalu berada di sekitar teman – temannya, tak juga berani memandang dia sama sekali.
Hikaru mulai berfikir apakah kesalahannya? Kenapa Py marah padanya? Padahal ia tak merasa pernah melakukan kesalahan.
“Hoy!!!”, teriak seseorang dari belakang.
“Sial kau Yabu!! Kau mengaggetkan aku...”
“Jangan benyak melamun ah~”, seru Yabu ikut duduk di sebelah Hikaru.
“Sepertinya kau senang sekali datang kesini..”, tanya Yabu sambil memandang langit sore.
“Yah...hanya untuk sekedar lewat saja..”
“Alasan aneh..rumahmu itu berlawanan dengan arah taman ini, bodoh!!”, ejek Yabu.
Hikaru tak mau menjawab, hanya ikut memandangi langit sore itu.
Ponsel Yabu berbunyi, Yabu secara refleks membuka flip ponsel itu.
“Ah~ Ibu...kupikir siapa?”, keluh Yabu pelan.
“Kau sendiri..mengecheck ponselmu setiap waktu, apa sih yang kau tunggu?”, akhirnya Hikaru membalas.
Yabu menghela nafas, “Hanya e-mail penting...”
Tak lama mereka hanya larut dalam pikiran masing – masing.
------------------------
Festival sekolah dimulai. Suasananya begitu meriah, dari sehari sebelumnya semua sudah sibuk. Semua kelas berusaha menampilkan yang terbaik untuk ditampilkan di festival ini, karena akan ada pemilihan stand terbaik, berdasarkan pilihan pengunjung.
Festival ini terbuka untuk umum, sehingga suasana sekolah lebih ramai dari biasanya. Berbagai penampilan juga meramaikan panggung utama Festival itu.
Di halaman belakang sekolah. Nu bersembunyi, melarikan dari keramaian yang tak pernah disukainya. Saat yang lain tertawa dan bersorak gembira, bahkan ia sama sekali tak menikmatinya.
“Huwaaaa! Hantu!!”, seseorang menghampirinya dan kemudian berteriak ketakutan. Nu lupa, ia masih memakai make up dan pakaian menyeramkan yang dipakainya di rumah hantu kelas 3B.
“Ah, kamu”, sesaat Nu hanya menatap dan kembali mengalihkan pandangannya, “Untuk apa kesini? Bersenang-senang dengan teman-temanmu jauh lebih asyik, kan?”, tanyanya.
“Aku...melarikan diri, didandani seperti ini, apanya yang asyik?”, jawab orang itu yang tak lain adalah Daiki, menunjuk baju maid yang dikenakannya, juga renda-renda yang menghias kepalanya “...lalu Nuchan, kenapa ada disini?”, Daiki bertanya balik.
“Bisa mengenaliku?”, ujar Nu yang berdandan seperti hantu.
“Un”, Daiki mengangguk “..yang melihatku dengan tatapan seperti itu hanya Nuchan...”, Daiki beralih duduk disamping Nu
“Eh?”
“Tapi makeup Nuchan seram sekali...”, protes Daiki.
“Hmmm..ini kerjaan Dinchan.. ngomong – ngomong kamu...terlihat manis”, ucap Nu pelan.
“Nuchan jadi suka aku, kan? Suka, kan? Suka, kan?”, balas Daiki, memasang senyum manisnya.
“Tidak. Dan...tolong menjauh dariku”, jawab Nu dingin dan mendorong Daiki sedikit menjauh.
“Oh ya, aku hampir lupa...”, Daiki mengeluarkan sesuatu dari sakunya “...aku harap, ini bisa mengganti ashtray milik Nuchan yang pecah tempo hari...”
Nu hanya menatap Daiki dengan bingung.
“Tiket konser live Dir en Grey untuk dua orang. Pergi kesana bersamaku?”, tanya Daiki tersenyum lagi.
Tapi Nu tak bisa menjawab, hanya membelalakkan matanya, terkejut.
--------------
Py sedang istirahat, gilirannya sudah berakhir, kini ia hanya duduk di depan kelasnya, bingung mau kemana.
“Dinchan...”, panggil Py pada Din yang juga baru selesai membersihkan mukanya.
“Py!! Aku lapar..cari makan yuk~”, ajak Din merangkul tangan Py.
Py setuju, ia juga lapar. Mereka berjalan menyusuri tempat festival itu. Begitu banyak orang di situ. Din mengeluh kepanasan, menutupi mukanya dengan sebelah tangan.
“Ah!! Ada stand makanan!! Kesana yuk Py!”, tunjuk Din seraya menarik Py.
Itu adalah stand kelas 3C, disitu ada berbagai macam makanan khas festival. Seperti Okonomiyaki, Takoyaki, dll.
“Tunggu sebentar ya~ kalian harus sabar...”
Langkah Py tertahan, dihadapannya seorang Hikaru sedang melayani para pembeli yang mayoritas adalah wanita.
“Py..ayo..nanti antriannya lebih panjang lagi...”
Py menunduk. Sekilas ia merasakan pandangan Hikaru menuju ke arahnya. Py akhirnya mengikuti Din ikut mengantri.
“Sepertinya tidak akan kebagian deh...”, keluh Din setelah mengantri selama 5 menit.
Py menoleh, sejak tadi ia hanya melamun saja, “Mungkin...”, kata Py pelan.
“Kau kenapa Py-chan??”, Din mulai bingung dengan sikap Py.
Py menggeleng, “Tidak ada apa – apa.”, ia ingin cerita soal Hikaru, tapi tampaknya tidak disitu.
“Kenapa sih???kenapa Py-chan tampak bingung?”, Din masih mencoba memaksa Py bercerita.
“Hmmmm...”, Py menarik Din menjauh.
Sesaat Hikaru melirik ke arah Py yang keluar barisan mengantri dengan temannya. Hikaru menghela nafas tak percaya. Kenapa Py begitu menghindarinya?
-------------------
“Ini saatnya aku istirahat...”, kata Yabu menggeliatkan tubuhnya.
Yabu kebagian shift pagi, maka sekarang saatnya dia jalan – jalan.
“Ne...Yabu...kau curang!!”, keluh Hikaru yang tampak sangat sibuk.
Yabu terkekeh, “Salah sendiri kau ambil shift siang...tentu saja lebih ramai siang begini...”, ejek Hikaru.
“KAU!! Kau yang menyimpanku di shift siang, baka!!”, seru Hikaru tak rela.
Kembali terkekeh, “Karena kau populer, tentu saja sangat sayang kau disimpan di shift pagi...”, ejek Yabu lalu melambai penuh kemenangan pada Hikaru.
“Kau!!!Yabu!!!”, teriak Hikaru tak senang.
Yabu meninggalkan Hikaru dan beberapa temannya disana. Memang selain ia tak mau ambil shift siang yang lebih melelahkan, ia bermaksud ke stand kelas 3B. Katanya disana ada Obake House, dan Yabu juga ditantang oleh Shoon yang mengejeknya penakut.
“Kau yakin mau masuk kesana? Aku tak mau menggendongmu keluar karena kau pingsan...”, ejek Shoon menyebalkan.
“Lihat saja..aku ini tidak penakut..”, elak Yabu.
“Awas saja kalau kau menangis di dalam..”, balas Shoon.
“Jadi...kau mau ikut masuk atau tidak?”, tanya Yabu pada Shoon.
Shoon menggeleng, “Kau saja...kita lihat seberapa besar nyalimu.”, tantang Shoon.
“Kau takut ya?”, tanya Yabu.
“Tidaaakk~ ini terlalu biasa untukku.”, tolak Shoon.
Di depan Obake House itu sudah banyak yang mengantri, kebanyakan adalah pasangan.
“Kau masuk sendiri?”, tanya seorang siswi yang menjaga pintu masuk Obake Haouse ketika Yabu sudah ada di depan pintu.
Yabu mengangguk.
“Baiklah, silahkan masuk...”
Gelap dan memang sedikit mencekam. Yabu sampai saat ini hanya berjalan biasa. Obake house ini dibuat seperti maze, sehingga ia harus mencari jalan keluarnya. Tidak begitu besar sih, jadi ia masih sedikit tenang karena sampai saat ini belum ada yang mengganggunya. Teriakan silih berganti terdengar dari tempat lain, membuat Yabu sedikit merinding.
Yabu melangkah ke belokan sebelah kanan, ketika tanpa aba – aba seorang cewek menyeramkan muncul.
“Kyaaaaaa~”, teriak Yabu refleks.
“Yabu-kun?”
Eh? Suara itu...Yabu mengenali suara itu. Yabu segera menguasai diri dan menahan tangan ‘hantu’ wanita itu.
“Miyuy-chan?”, seru Yabu saat memandang wajah penuh make-up itu.
“Eh...Yabu-kun?”, Miyuy menyadari tangan Yabu masih menggenggam lengan kanannya, merasa beruntung makeup ini menutupi mukanya yang pasti sudah memerah.
“Kau kemana saja? Kenapa tak pernah membalas e-mailku lagi?”, tanya Yabu.
Miyuy menunduk, “Tidak apa – apa..aku sibuk..”, jawabnya tanpa berani melepaskan tangan Yabu.
“Kau marah padaku kah?”, tanya Yabu lagi.
“Tidak...buat apa aku marah?”, jawab Miyuy menggeleng pelan.
“Benarkah?”
Miyu hanya menunduk, tak berani menjawab.
“Ah iya Miyuy-chan..aku ingin mengatakan ini langsung, bento buatanmu enak...arigatou na~ kapan – kapan buatkan aku lagi ya?”, kata Yabu ceria, masih menggenggam tangan Miyuy.
“Eh? Kau memakannya?”
“Tentu saja...dan aku berharap Miyuy-chan membuatkannya lagi untukku...”
Miyuy tak percaya apa yang didengarnya. Terlebih lagi Yabu sama sekali tak melepaskan genggamannya, membuat Miyuy bingung harus melakukan apa.
“Ne...Miyuy...sudah saatnya bergantian denganku...”, kata seseorang dari belakangnya.
Ternyata itu Kaori yang memang akan berganti peran dengannya. Miyuy refleks melepaskan tangannya.
“Ah iya..aku ganti baju dulu.”, jawab Miyuy cepat.
Yabu kembali menarik Miyuy, “Jalan – jalan yuk...shiftku juga sudah selesai..”
Miyuy hanya mengagguk, “Sebentar...”
Yabu mengekor mengikuti Miyuy keluar dari Obake House itu.
From: Shoon
Subject: aku dijemput..
Pacarku datang...kau lama sekali tak keluar..
Aku pergi dulu...ku harap kau baik2 saja..
“Hahaha..Shoon bodoh itu pasti menganggap aku pingsan di dalam.”, seru Yabu.
“Eh?”
“Iya...dia sangka aku begitu penakut. Ah..Miyuy-chan!! Pertunjukkan piano sebentar lagi dimulai..kesana yuk~”, ajak Yabu.
Miyuy menatap punggung Yabu dengan hati berbunga. Mungkin saat itu, ia hanya malu pada teman – temannya, senyum Miyuy mengembang ketika Yabu kembali menarik tangannya.
“Yabu-kun...”, panggil Miyuy ketika mereka sudah sampai di depan panggung.
“Hmmm?”, jawab Yabu menoleh menatap Miyuy.
“Arigatou...”
----------------------
Opi mendribble lagi bola basketnya, merasa kesepian mungkin itu yang ia rasakan sekarang. Nu entah kemana, Py dan Din menghilang sesaat setelah shift mereka habis. Miyuy tadi saat ia tinggalkan masih di dalam Obake House, menunggu Kaori yang menggantikannya.
Panggung utama di festival itu pasti sedang mempertunjukkan seorang Sakurazawa Ayame yang akan bermain solo piano, dan Inoo pasti juga sedang berada di depan panggung itu. Menatap Aya-chan nya. Opi menyesali diri berfikir seperti itu tambah membuatnya sebal.
Dilemparkannya bola itu dengan sekuat tenaga sehingga bukannya masuk ke jaring, bola itu memantul jauh ke belakang Opi sendiri.
“Wow!! Kau bisa melukai orang kalau begitu Opi-chan...”
Opi berbalik, mendapati seorang Inoo menangkap bola basketnya itu.
“Ngapain kau disini?”, tanya Opi ketus.
Inoo mendribble bola itu mendekati ring, “Betsu ni...disana membosankan...”, jawab Inoo lalu melemparkan bola basket itu dengan mulus masuk ke ringnya.
Opi tak menjawab lagi, ia kembali merebut bola basket itu.
“Ne..kau sering pulang malam ya akhir – akhir ini..aku tak pernah melihatmu lagi di rumah...”, ujar Inoo lalu berlari mengambil bola yang lagi – lagi tak berhasil Opi masukkan.
“Hanya sibuk latihan...sebentar lagi turnamen dimulai..”, jelas Opi memandang Inoo dengan aneh.
Inoo mendribble bola memutari dirinya.
“Hmm..sokka...Ganbatte ne Opi-chan...”, katanya.
“Bukankah di panggung itu sedang ada recital piano..kenapa kau tidak kesana?”, akhirnya Opi memberanikan diri bertanya.
Inoo menghela nafas, “Tidak apa – apa..aku melihatmu pergi kesini..jadi yah...”
“Kudengar kau mengenal pemain piano itu...aku mendengarmu meminta izin pada Mama kemarin.”, kata Opi seraya merebut bola yang masih saja Inoo dribble tanpa tujuan.
“Aya-chan...yah..dia sudah seperti adikku sendiri.”
“Adik?”
“Iya...lagipula melihat seseorang begitu murung tadi...aku sedikit khawatir..”, jelas Inoo, mengambil kembali bola basket itu yang sedari tadi hanya Opi pegang saja.
“Kau mengkhawatirkan aku? Kenapa?”, tanya Opi heran.
“Tidak apa – apa...karena kupikir kau marah padaku. Sudah beberapa minggu ini kau tak pernah melihatku melatih Yuuri lagi.”
Muka Opi memerah, berharap hal itu tidak dilihat Inoo.
“Ne...kau ini berlebihan...”, Opi menunjukkan sedikit senyumnya.
Inoo masih mendribble bola basket itu berhenti, berdiri di depan Opi dengan senyum mengembang di bibirnya, “Akhirnya kau tersenyum juga...kurasa senyum lebih cocok buatmu..”, Kini wajah Inoo sudah sejajar dengan wajahnya, membuat Opi kaget.
Inoo berlari melewati Opi dan memasukkan bola basket itu ke ringnya.
“Inoo-kun!!”, teriak Opi, Inoo berbalik dari bawah ring basket itu, “Arigatou~!!!”, teriak Opi lalu kembali tersenyum.
----------------
Suasana sekolah masih ramai, walaupun sudah hampir jam 2 siang. Din kembali ke stand kelasnya, sendirian karena Py ingin melihat recital piano dari Sakurazawa Ayame itu. Din tak tertarik dan memilih kembali ke kelasnya.
Ternyata Py sedang jatuh cinta, dan merasa cintanya tak dibalas oleh pria yang disukainya. Din merasa sedikit mengerti apa yang ia rasakan soal itu. Bukankah cintanya sejak kecil pada Jin juga tidak dibalas? Begitu pikirnya.
“Kau kemana saja tuan putri?”, seru seseorang yang Din sudah hapal sekali suaranya.
“Bukan urusan Yuya...”, kata Din lalu duduk di sebuah bangku di depan kelasnya.
Yuya ikut duduk disebelahnya, menyodorkan sekaleng kopi dingin kesukaan Din. “Ini..tuan putri...”
“Yuya..berhenti memanggilku seperti itu..”, protes Din. Entah sejak kapan Yuya memutuskan memanggilnya seperti itu dan kini semua orang menyangka mereka benar – benar berpacaran.
Maksudnya, Yuya memang tunangannya walaupun tak ada yang tahu, tapi mereka kan tidak bisa disebut berpacaran juga.
“Kau haus kan? Ayo ambil..”, kata Yuya mengindahkan protesnya Din.
Din masih kesal tapi menyambut kopi dingin itu.
“Eh??? Jin??!!”, seru Yuya lalu berdiri. Kaget mendapati kakaknya itu datang.
Din menoleh lalu ikut berdiri. Yuya sendiri tak tahu kalau kakaknya akan datang. Lebih buruk, bersama kekasihnya, Naomi. Yuya sekilas melirik wajah Din yang masih kaget.
“Waaahh~ Obake house ya ini?”, seru Jin.
“Aniki..apa yang kau lakukan disini??”, tanya Yuya tak sabar.
Jin terkekeh, “Ayolah Yuya...dulu aku juga sekolah disini...Hisashiburi...sudah lama tidak menghadiri festival seperti ini.”
Din tak berani menunjukkan wajahnya, hanya berlindung dibalik badan Yuya.
“Dinchan...apa kabar adik kecilku?? Kenapa kau jarang sekali ke rumah?”, tanya Jin menyadari Din ada disitu dan mengacak pelan rambut Din.
“Jin yang tak pernah ada di rumah..”, elak Din.
Jin tertawa pelan, “Iya kau benar..sibuk sekali akhir – akhir ini.”, Jin mencubit pipi Din pelan, “Sudah lama aku tak menjahilimu...”
Din menepis tangan Jin, “Itai yo~”
“Kalau kau cemberut begitu wajahmu tampak lebih lucu..”, tawa Jin lagi. Kebiasaan Jin mengganggunya memang tak pernah hilang sejak mereka kecil.
“Jangan sentuh Dinchan..”, kata Yuya tiba – tiba.
Dengan kaget Jin menatap adiknya seksama, “Kau ini kenapa? Huh?”
“Aku...aku dan dia...”
“Kalian kenapa?”, tanya Jin bingung.
Din menyambar tangan Yuya, “Kami sudah resmi jadian..maksudnya... kita sudah memutuskan untuk benar – benar menerima perjodohan ini..”, wajah Din memerah, kaget dengan perkataannya sendiri.
“Oh...waaaahh~ maaf Yuya...kau cemburu?? Tidak tidak usah seperti itu.. Aku selalu menanggapnya adikku juga.”
“Hanya...yah...aku tak mau kau sembarangan menyentuhnya..ia milikku sekarang..”, kata Yuya lagi.
“Baiklah...gomen na...Dinchan...gomen na..”
“Jin...ayo masuk Obake house nya...”, keluh Naomi yang sejak tadi hanya berdiri di sebelah Jin.
Jin tersenyum pada kedua adiknya itu, “Omedetou ne...”, Jin menatap Naomi, “Iya cerewet..”
Jin berlalu, masuk ke dalam Obake House. Yuya berbalik, menatap Din takjub.
“Kau benar – benar mengatakannya?”, tanya Yuya.
Wajah Din memerah, melepaskan tangannya dan berusaha melarikan diri.
“Jawab aku bodoh!”, seru Yuya menarik lengan Din.
“Kalau kau anggap begitu...”, jawab Din masih menunduk, tak berani menatap Yuya.
----------------------
Atap itu tampak kosong. Hikaru melarikan diri sebentar, lagipula sudah hampir sore dan stand juga sudah tak seramai tadi siang hari.
Hikaru menggeliat, badannya begitu lelah. Ini ulah Yabu yang menyuruhnya jaga di shift siang. Hikaru mengambil botol minuman di tasnya, menghabiskan seluruh isinya lalu berbaring menatap langit yang sudah hampir sore itu.
“Lelahnyaaa~”, teriaknya pelan.
Tak lama, Hikaru mendengar seseorang sedang bergumam. Menyadari dirinya tak sendiri, Hikaru segera berdiri dan mencari sumber suara itu. Seseorang sedang menunduk, tampak sibuk dengan buku sketsa dan sebuah airphone terpasang di telinga gadis itu. Ia bergumam mengikuti lagu yang ia dengar sepertinya.
“Py-chan?”, sudah Hikaru duga itu memang Py.
Hikaru bergerak pelan, mencoba tidak mengeluarkan suara apapun. Py duduk dibalik sebuah tembok, dekat pintu masuk ke atap ini. Hikaru mengeluarkan sebuah bungkusan, membukanya lalu dengan sengaja menyodorkan bungkusan itu di depan wajah Py.
“Eh??!!”, Seru Py kaget dengan refleks membuka airphonenya.
“Takoyaki dari kelas 3C...dijamin enak dan murah...”, seru Hikaru dari pinggir tembok itu.
“Hika-kun??”, Py begitu kaget ia bisa bertemu Hika di atap ini.
Hika nyengir, memperlihatkan senyum khasnya, “Aku tak bisa memutuskan kau mau takoyaki atau okonomiyaki, tapi aku putuskan membawakanmu ini saja. Tadi kau tak jadi mengantri kan? Kenapa?”
Berarti tadi Hikaru memang memperhatikannya dan Din. Py tidak menjawab.
“Ne??ayo coba...kata orang – orang sih buatanku memang enak..”, kata Hikaru, “atau kau mau aku menyuapimu?”, tambahnya.
Sukses membuat wajah Py tambah memerah dan segera merebut bungkusan takoyaki itu.
“Hmmm..enak..”, kata Py setelah menelan satu takoyaki itu.
Hikaru tersenyum, “Anda mendapatkan bonus ini....”, serunya heboh menunjukkan 3 buah chupa rasa cola.
“Apa lagi ini?”
“Bonus karena senyummu begitu cantik hari ini..”, puji Hikaru.
Py terdiam tak berani menjawab apapun.
“Kau tahu Py-chan...taman itu tampak lebih sepi dari biasanya jika kau tak disana.”, jelas Hikaru sambil menyimpan 3 chupa itu di tangan Py.
“Eh? Apa maksud Hika-kun?”
“Bangku taman itu kehilangan senyummu...”
“Hah?”, Py masih tidak mengerti.
“Aku juga...”, kata Hikaru ikut mencomot satu takoyaki itu, “Yappari~ buatanku memang enak..hehehe..maaf sudah dingin ya..aku mencari Py-chan tapi tidak ketemu...”
Kini Py tak peduli, ia tak merasa Hikaru berbohong atau hanya memujinya saja. Paling tidak hanya dia yang Hikaru buatkan takoyaki bahkan ketika ia tidak memintanya. Hanya dia yang Hikaru belikan 3 buah chupa rasa cola kesukaanya, dengan sengaja membelikannya. Py merasa istimewa, ia berbeda dari gadis – gadis yang biasa berada di dekat Hikaru. Py tahu rasanya ini terlalu berlebihan, tapi berharap sekali lagi bukanlah suatu kesalahan.
“Hika-kun...arigatou..”
------------------
TBC~....
maap lama banget ngeupdatenya...hehehe
seperti biasa...COMMENTS is LOVEEEEE~
Chapter : Six
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~
Accidentally In Love
~chap 6~
Pagi itu, sama seperti hari yang lainnya di kelas 3B
“Anak-anak, hari ini akan ada seorang murid baru yang akan belajar bersama kalian di kelas ini....”
Hampir seisi kelas 3B merasa heran mendengar ucapan seorang guru di depan mereka. Seorang murid baru datang pada saat yang begitu tidak tepat, pertengahan semester.
“...Takaki, ayo masuk”
Seorang murid laki-laki melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas yang akan menjadi tempat baru untuknya belajar.
“Takaki Yuya desu. Dozo yoroshiku...”, murid baru itu membungkukkan badan setelah menuliskan namanya di papan tulis dan kemudian terseyum hingga membuat banyak murid perempuan ingin berteriak histeris saat itu juga
Tapi tentunya Din bukan salah satu dari mereka. Reaksinya begitu berbeda, sangat jelas Din terkejut. Takaki Yuya yang berdiri di depan kelas saat ini tak lain adalah Takaki Yuya yang begitu dikenalnya, yang hampir setiap waktu beradu mulut dengannya.
“Hmm...Takaki, duduklah di bangku kosong di sebelah Ishida”,
“Hai, arigatou...”, ucap Yuya sopan dan kemudian melangkah ke tempat yang ditunjukkan
Beberapa murid perempuan terlihat kecewa, menyesali kenapa didekat mereka tak ada tempat duduk kosong, sehingga murid baru tampan berambut coklat terang itu bisa duduk disamping mereka
“Dinchan...ayo pergi makan ke cafetaria “, ajak Py ketika jam istirahat tiba
“Ng, yah...pergilah duluan”, Din membiarkan Py pergi tanpa dirinya, sementara matanya secara diam-diam tertuju pada beberapa murid perempuan yang mengerumuni tempat duduk Yuya. Bertanya tentang berbagai macam hal, tentang sekolah sebelumnya, alamat email hingga menu bento favorit Yuya.
Setidaknya, tanpa Din mau mengakuinya, pemandangan itu membuatnya cemburu. Melihat Yuya yang cerewet dan keras kepala tiba-tiba menjadi populer di kelasnya dirasanya begitu menyebalkan
“Eto...Fujihara-san...”
“Panggil saja Chika”, potong seorang murid perempuan yang dipanggil Yuya dengan Fujihara itu
“Ne, Chika...boleh aku meminta sesuatu?”, tanya Yuya dengan tak lupa menyertakan senyumannya.
“Hai, hai! Sou desu”, jawabnya seketika.
“Apa?!”, Din hanya bisa terkaget sendirian. Fujihara Chika, teman yang duduk disampingnya, sekarang Yuya lah yang akan duduk ditempat itu.
“Hey, senang bertemu denganmu”, dalam waktu singkat, Yuya sudah berada ditempat duduk barunya, menyapa Din dengan senyuman penuh kemenangan
Namun Din berusaha tak menghiraukan dan kemudian pergi keluar dari kelas.
Seperti yang biasa dilakukannya, sepulang dari sekolah Din memilih untuk pergi kemanapun langkah membawa ketika moodnya tidak terlalu bagus. Sekalipun ia hanya seorang diri tanpa keempat orang temannya.
Sendirian, termenung menunggu kereta datang.
“Ternyata memang ini sudah jadi kebiasaanmu, pergi keluyuran sepulang sekolah...”
Kontan Din menoleh kearah datangnya suara yang tentu sudah begitu dikenalnya “Yuya! Kenapa...”
“Mengikutimu, huh?”, potongnya
“Apa lagi selain itu? Selesai hang out dengan fangirl-fangirl barumu?”, ucap Din dengan nada yang sama sekali tak ramah.
“Kamu...cemburu?”, tebak Yuya.
Din menghindari mata Yuya, menjawab dengan ketus, “Tak ada alasan untuk aku cemburu, aku hanya kesal! Bertemu Yuya di rumah pun sudah cukup menyebalkan, sekarang aku harus bertemu Yuya pula setiap hari disekolah. Ketika di stasiun kereta seperti ini pun, aku harus melihatmu...”, cerocos Din.
“Cerewet. Apa yang bisa kamu lakukan hanyalah mengeluh?”, balas Yuya kesal.
Din memulai kembali langkahnya, menjauh dari Yuya.
“Aku bukan mengeluh! Aku hanya ingin Yuya sadar kalau Yuya begitu menye....”,
Sebelum Din menyelesaikan ucapannya, Yuya telah menariknya kedalam pelukan dan mengecup bibir Din hingga ia berubah terkejut dan tak bisa berkata-kata. Din tak mampu bergerak, bibir Yuya yang kini menempel pada bibirnya membuatnya kaget dan ia tak pernah mengira dicium oleh Yuya terasa.. yah... Nyaman. Maksudnya, ini adalah ciuman pertamanya. Setelah berhasil menguasai dirinya, Din mendorong Yuya menjauh, setelah menyadari bahwa kereta yang ditunggunya telah berlalu.
“Apa-apaan itu?!”, ucap Din sedikit membentak, tapi sama sekali tak bisa menatap Yuya.
“Aku hanya tak mau kamu terus-terusan menyebutku menyebalkan...”, ujar Yuya sekenanya.
“Uh”, Din tak bisa menjawab, kembali berusaha melangkah meninggalkan Yuya dan menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.
“Dinchan, tunggu...”, Yuya kembali menarik tangan Din namun kali ini berhasil dilepaskan.
“Apa lagi kalau bukan menyebalkan, Yuya sudah membuatku ketinggalan kereta. Aku tak mau kalau harus menunggu lebih lama lagi bersama Yuya!”, langkah kaki Din bertambah cepat dan ia berlari sekalipun ia tahu Yuya mengikutinya
“Sekarang apa yang akan kamu lakukan?”, teriak Yuya dari kejauhan.
“Pulang! Jangan ikuti aku!”, bentak Din tak peduli.
“Bodoh, untuk pulang tentu harus menunggu kereta berikutnya!”, kata Yuya setelah berhasil menyusul Din dan menahan Din untuk tidak pergi.
“Aku akan jalan kaki!”, bentak Din lagi, keras kepala.
“Dari jarak sejauh ini, itu tak mungkin! Ayolah...kupikir kamu sudah cukup bodoh, tapi sekarang kamu membuatku sadar kalau ternyata kamu lebih bodoh dari yang aku pikirkan...”, ujar Yuya masih menahan lengan Din dengan kuat.
“Yuya yang bodoh! Bisa-bisanya menciumku seenaknya!”, balas Din kesal.
Din, sebagian dari dirinya merasakan sesal. Ciumannya dengan Yuya, first kiss nya, yang diimpikannya adalah sebuah kecupan manis dari Jin.
“E...ano...”, Yuya mencoba mencari kata yang pas untuk menutupi betapa dirinya juga malu. Itu juga ciuman pertamanya.
“Aku lelah...”, ucap Din disela helaan nafasnya. Ide bodoh untuk berjalan kaki sampai rumah benar dilakukannya.
“Salahmu sendiri!”, balas Yuya yang masih berjalan disamping Din.
“Salahmu”, Din sudah tak sanggup lagi banyak berbicara, kedua kakinya serasa akan mati rasa setelah berjalan cukup lama
Tak lama, lagi-lagi tindakan Yuya mengejutkan Din. Yuya berlutut di hadapannya, tapi membelakanginya.
“Apa sih Yuya? Kau menghalangi jalanku..”, protes Din.
“Naik...cepat...”, perintah Yuya.
Din mencoba menjauh, “Tidak...”, jawabnya pelan.
Yuya berlari dan kembali berlutut di depan Din, “Jangan keras kepala!! Aku tahu kau sudah sangat lelah...”
Din terdiam, hanya menatap punggung Yuya di hadapannya.
“Cepat Dinchan...aku tak mau kau pingsan di jalan..”, kata Yuya lagi.
Masih bingung, tapi kakinya juga sudah tak kuat berjalan. Akhirnya Din naik punggung itu, kelelahan mengalahkan gengsinya.
“Kita bisa berjalan seperti ini...”, ucap Yuya dan kembali meneruskan langkahnya
Tak ada yang bisa Din lakukan selain diam dan merangkul bahu Yuya erat. Dengan nuansa warna matahari yang akan terbenam, membuat Din merasakan perasan hangat ketika berada demikian dekat dengan Yuya hingga gurat senyuman kembali terlihat diwajahnya, dan bibirnya membisikkan sebuah kalimat dengan begitu lirih, Yuya mungkin tak akan mendengarnya.
“Arigatou....”
--------
~Flashback~
“Karna aku tak punya sebuah ashtraypun, sekarang aku membeli satu untuk Kyo-san”, ujar Nu sambil meletakkan plastik kecil diatas meja.
“Ne, arigatou”, Kyo tersenyum tipis dan kembali meletakkan sebatang Phillip Morris dibibirnya.
“Kata pemilik toko, itu hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi”, Nu menyandarkan kepalanya di lengan Kyo dan tersenyum lembut.
“Oh ya, aku juga punya sesuatu untukmu...”, ucap Kyo seraya menunjukkan sekeping CD, Nu sudah hafal betul, tak lain itu adalah CD game.
“Sudah kuduga”
“Temani aku”
“Aku malas, Kyo-san selalu lupa waktu”, jawab Nu cemberut, Nu tidak pernah suka bermain game.
“Sebentar...”, bujuk Kyo, Nu hanya menggeleng.
“Tiga jam saja...”, tawar Kyo
“Apanya yang sebentar?!”
“Kalau begitu, dua jam...?”
“Haah?!”
“Ok, satu jam?”
“Tidak...”
“Hh...setengah jam?”
“Ok...”
“Deal, tiga setengah jam!”
~Flashback end~
Melihat beberapa CD game yang masih berantakan di lantai, membuat Nu sesaat kembali teringat akan sepenggal kenangan bersama Kyo, seorang game freak. Bahkan hingga Kyo meninggalkannya, Nu masih tak suka bermain game.
“Nuchan....”, ucap Daiki membuyarkan lamunannya “..aku kurang mengerti bagian ini, bisa tolong jelaskan?”
Sesaat Nu terdiam
“Kenapa kamu terus mengikutiku?”, tanya Nu dingin.
Nu sendiri tak habis pikir, ini ketiga kalinya Dai datang ke apartemennya untuk alasan yang sama sekali tak masuk akal.
“Aku? Aku tak mengikuti Nuchan, aku kan sudah bilang, pinjam catatan Biologi milik Nuchan...”, sesaat Daiki memperlihatkan senyum innocent dan kemudian kembali menulis
“Kalau begitu, bawa dan pulanglah”, kata Nu sinis.
“Eh? Kalau dibawa pulang kan repot waktu kembalikan, mungkin aku akan lupa membawanya”, ujar Daiki.
Lagi – lagi alasan aneh.
“Pinjam saja catatan milik temanmu di kelas A”, balas Nu tak sabar.
“Aaaa..baiklah.... aku mengaku..aku pinjam catatan milik Nuchan karna ingin bersama Nuchan...”, aku Daiki
“Alasan apa itu? Carilah orang lain”, seperti biasa, Nu hanya menjawab dengan dingin, membuat Daiki terbelalak
“Tak bisa seperti itu, aku ingin bersama Nuchan..”, Daiki bagun dari posisi duduknya, mendekat kearah Nu, memegang kedua pergelangan tangannya sementara Nu hanya menatapnya dingin
“Tolong dengarkan aku, aku...”
---PRAANG !!---, suara itu mengagetkan keduanya
“Ma, maaf....biar aku bereskan...”, ucap Daiki dengan wajah menyesal, menatap sebuah ashtray porselen yang telah berubah menjadi kepingan karna tanpa sengaja Daiki mendorong meja dan membuat ashtraynya jatuh
Bahkan keadaan itu, juga mengingatkan Nu. Akan suatu ketika ia mendengar bunyi yang sama, ketika tanpa sengaja Kyo menjatuhkan ashtraynya dan tentu membuatnya hancur menjadi pecahan-pecahan. Ashtray pertama yang dibelinya untuk Kyo.
“Gomen ne.”, ucap Kyo.
“Daijoubu da yo”, ketika Kyo mengucapkan kata maaf, Nu masih bisa mengurai senyumnya, sekalipun terasa getir
Malam hampir berganti pagi, Nu sama sekali tak bisa terlelap meskipun matanya terpejam. Ia masih bisa mendengar suara pintu kamarnya dibuka --Kyo pulang begitu larut- juga masih bisa merasakan lengan itu memeluk dari balik tubuhnya setelah sebelumnya Kyo meletakkan sesuatu diatas meja kecil didekat tempat tidurnya.
“Ng, aku kira Kyo-san tak akan pulang...”, Nu berbalik dan ia bisa menatap wajah Kyo yang nampak begitu lelah
“...kau bilang, ashtraynya hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi, aku cari di internet lalu dapat yang mirip...”
“Arigatou...”, ucap Nu seraya mengembangkan sebuah senyuman, Kyo tak akan melihatnya, juga tak mendengar ucapan terimakasihnya –Kyo tertidur dengan begitu cepat.
“Pulanglah!!”, bentak Nu kesal.
“Tapi, aku...”
“Keluar, pergi!”, air mata Nu tertahan.
Daiki tak bisa lagi membantah, yang bisa dilakukannya hanyalah keluar. Meninggalkan Nu dengan perasaan bersalah.
‘...kau bilang, ashtraynya hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi, aku cari di internet lalu dapat yang mirip...’
Kenangan akan Kyo terus terlintas di pikiran Nu. Ashtray pertama yang dibelinya untuk Kyo, tak sengaja pecah.
Ashtray yang dibeli Kyo untuknya, sekarang berubah pula menjadi kepingan-kepingan.
“Maafkan aku, Kyo-san...”, kini air mata itu tak dapat lagi ia tahan.
----------------------
Sudah beberapa minggu ini sekolah itu terasa sedikit sibuk. Tentu saja karena festival sekolah akan segera datang. Semua kelas sibuk mempersiapkan apa yang akan mereka tampilkan di acara tahunan itu. Kelas 3 B sudah sepakat membuat Obake house untuk tahun ini, dengan Miyuy sebagai ketuanya.
From: Yabu-kun
Subject: kau kenapa?
Ne...Miyuy-chan...kenapa kau tak pernah membalas e-mailku?
Kau baik – baik saja kan?
Miyuy menutup flip ponselnya dengan malas. Entah e-mail keberapa dari Yabu, tak pernah ia balas lagi. Ia masih bingung dengan sikap Yabu yang bisa dengan cepat berubah pada saat itu.
“Miyuy...butuh bantuan??”, kata Py yang kini sudah berdiri di sebelahnya.
“Ah Py...hanya membuat property ini sedikit lagi.”, tunjuknya pada sebuah benda.
Opi datang juga ikut membantu mereka. Akhir – akhir ini Opi terlihat lebih murung daripada biasanya.
“Aku ikut juga ya...tak ada yang bisa kukerjakan...”, keluh Nuy beberapa menit setelahnya.
“Ne...lihat ini...”, seru Din tiba – tiba muncul, menunjukkan sebuah selebaran.
“Sakurazawa Ayame akan melakukan permainan solo piano?”, baca Py lambat – lambat. Yang lain hanya memperhatikan.
“Sakurazawa Ayame...sekretaris OSIS, kan ?”, tanya Miyuy.
Nu hanya terdiam, ia sama sekali tak mengenal siapa itu Sakurazawa Ayame.
“Un”, jawab Py singkat
“Permainan solo piano dari Sakurazawa ternyata jadi bagian dari festival sekolah tahun ini...”, tambah Miyuy menatap dengan sedikit takjub
“Membosankan”, sementara Opi hanya berucap lirih dan kemudian berlalu, meninggalkan keempat orang temannya.
“Opichi...”, seru Din, “Kenapa dia?”, tanya Din bingung.
Sementara itu Nu, Miyuy dan Py juga tak mengerti kenapa Opi kelihatan marah.
Opi baru saja tiba di rumah ketika ia mendengar suara Inoo di ruang tengah. Tak sepert sebelumnya, Opi memilih menghindar dari tempat itu. Ia tak pernah lagi menghampiri Inoo yang sedang mengajari Yuuri bermain piano.
“Saya mohon izin untuk sehari saja Chinen-san...”
“Memangnya ada acara apa Inoo-kun?”, suara Mama. Pikir Opi.
“2 hari lagi teman kecilku akan bermain piano di sebuah festival. Aku sudah janji untuk datang...”, jelas Inoo.
Opi menyesal mendengarnya, dan bergegas masuk kamar.
------------------
Taman itu tampak lengang. Hanya ada beberapa anak kecil yang masih bermain di bak pasir, ditemani ibu mereka yang menunggu di bangku.
Hikaru menaikkan alisnya, menghela nafas berat. Sudah beberapa minggu ini ia sama sekali tak bertemu Py. Di sekolah pun Py terkesan sangat menghindarinya. Sore ini ia ke taman itu untuk bertemu Py, dibuka tas sekolahnya, 3 buah chupa yang sengaja ia beli itu masih ada di tasnya, tanpa berani ia berikan pada Py karena Py selalu berada di sekitar teman – temannya, tak juga berani memandang dia sama sekali.
Hikaru mulai berfikir apakah kesalahannya? Kenapa Py marah padanya? Padahal ia tak merasa pernah melakukan kesalahan.
“Hoy!!!”, teriak seseorang dari belakang.
“Sial kau Yabu!! Kau mengaggetkan aku...”
“Jangan benyak melamun ah~”, seru Yabu ikut duduk di sebelah Hikaru.
“Sepertinya kau senang sekali datang kesini..”, tanya Yabu sambil memandang langit sore.
“Yah...hanya untuk sekedar lewat saja..”
“Alasan aneh..rumahmu itu berlawanan dengan arah taman ini, bodoh!!”, ejek Yabu.
Hikaru tak mau menjawab, hanya ikut memandangi langit sore itu.
Ponsel Yabu berbunyi, Yabu secara refleks membuka flip ponsel itu.
“Ah~ Ibu...kupikir siapa?”, keluh Yabu pelan.
“Kau sendiri..mengecheck ponselmu setiap waktu, apa sih yang kau tunggu?”, akhirnya Hikaru membalas.
Yabu menghela nafas, “Hanya e-mail penting...”
Tak lama mereka hanya larut dalam pikiran masing – masing.
------------------------
Festival sekolah dimulai. Suasananya begitu meriah, dari sehari sebelumnya semua sudah sibuk. Semua kelas berusaha menampilkan yang terbaik untuk ditampilkan di festival ini, karena akan ada pemilihan stand terbaik, berdasarkan pilihan pengunjung.
Festival ini terbuka untuk umum, sehingga suasana sekolah lebih ramai dari biasanya. Berbagai penampilan juga meramaikan panggung utama Festival itu.
Di halaman belakang sekolah. Nu bersembunyi, melarikan dari keramaian yang tak pernah disukainya. Saat yang lain tertawa dan bersorak gembira, bahkan ia sama sekali tak menikmatinya.
“Huwaaaa! Hantu!!”, seseorang menghampirinya dan kemudian berteriak ketakutan. Nu lupa, ia masih memakai make up dan pakaian menyeramkan yang dipakainya di rumah hantu kelas 3B.
“Ah, kamu”, sesaat Nu hanya menatap dan kembali mengalihkan pandangannya, “Untuk apa kesini? Bersenang-senang dengan teman-temanmu jauh lebih asyik, kan?”, tanyanya.
“Aku...melarikan diri, didandani seperti ini, apanya yang asyik?”, jawab orang itu yang tak lain adalah Daiki, menunjuk baju maid yang dikenakannya, juga renda-renda yang menghias kepalanya “...lalu Nuchan, kenapa ada disini?”, Daiki bertanya balik.
“Bisa mengenaliku?”, ujar Nu yang berdandan seperti hantu.
“Un”, Daiki mengangguk “..yang melihatku dengan tatapan seperti itu hanya Nuchan...”, Daiki beralih duduk disamping Nu
“Eh?”
“Tapi makeup Nuchan seram sekali...”, protes Daiki.
“Hmmm..ini kerjaan Dinchan.. ngomong – ngomong kamu...terlihat manis”, ucap Nu pelan.
“Nuchan jadi suka aku, kan? Suka, kan? Suka, kan?”, balas Daiki, memasang senyum manisnya.
“Tidak. Dan...tolong menjauh dariku”, jawab Nu dingin dan mendorong Daiki sedikit menjauh.
“Oh ya, aku hampir lupa...”, Daiki mengeluarkan sesuatu dari sakunya “...aku harap, ini bisa mengganti ashtray milik Nuchan yang pecah tempo hari...”
Nu hanya menatap Daiki dengan bingung.
“Tiket konser live Dir en Grey untuk dua orang. Pergi kesana bersamaku?”, tanya Daiki tersenyum lagi.
Tapi Nu tak bisa menjawab, hanya membelalakkan matanya, terkejut.
--------------
Py sedang istirahat, gilirannya sudah berakhir, kini ia hanya duduk di depan kelasnya, bingung mau kemana.
“Dinchan...”, panggil Py pada Din yang juga baru selesai membersihkan mukanya.
“Py!! Aku lapar..cari makan yuk~”, ajak Din merangkul tangan Py.
Py setuju, ia juga lapar. Mereka berjalan menyusuri tempat festival itu. Begitu banyak orang di situ. Din mengeluh kepanasan, menutupi mukanya dengan sebelah tangan.
“Ah!! Ada stand makanan!! Kesana yuk Py!”, tunjuk Din seraya menarik Py.
Itu adalah stand kelas 3C, disitu ada berbagai macam makanan khas festival. Seperti Okonomiyaki, Takoyaki, dll.
“Tunggu sebentar ya~ kalian harus sabar...”
Langkah Py tertahan, dihadapannya seorang Hikaru sedang melayani para pembeli yang mayoritas adalah wanita.
“Py..ayo..nanti antriannya lebih panjang lagi...”
Py menunduk. Sekilas ia merasakan pandangan Hikaru menuju ke arahnya. Py akhirnya mengikuti Din ikut mengantri.
“Sepertinya tidak akan kebagian deh...”, keluh Din setelah mengantri selama 5 menit.
Py menoleh, sejak tadi ia hanya melamun saja, “Mungkin...”, kata Py pelan.
“Kau kenapa Py-chan??”, Din mulai bingung dengan sikap Py.
Py menggeleng, “Tidak ada apa – apa.”, ia ingin cerita soal Hikaru, tapi tampaknya tidak disitu.
“Kenapa sih???kenapa Py-chan tampak bingung?”, Din masih mencoba memaksa Py bercerita.
“Hmmmm...”, Py menarik Din menjauh.
Sesaat Hikaru melirik ke arah Py yang keluar barisan mengantri dengan temannya. Hikaru menghela nafas tak percaya. Kenapa Py begitu menghindarinya?
-------------------
“Ini saatnya aku istirahat...”, kata Yabu menggeliatkan tubuhnya.
Yabu kebagian shift pagi, maka sekarang saatnya dia jalan – jalan.
“Ne...Yabu...kau curang!!”, keluh Hikaru yang tampak sangat sibuk.
Yabu terkekeh, “Salah sendiri kau ambil shift siang...tentu saja lebih ramai siang begini...”, ejek Hikaru.
“KAU!! Kau yang menyimpanku di shift siang, baka!!”, seru Hikaru tak rela.
Kembali terkekeh, “Karena kau populer, tentu saja sangat sayang kau disimpan di shift pagi...”, ejek Yabu lalu melambai penuh kemenangan pada Hikaru.
“Kau!!!Yabu!!!”, teriak Hikaru tak senang.
Yabu meninggalkan Hikaru dan beberapa temannya disana. Memang selain ia tak mau ambil shift siang yang lebih melelahkan, ia bermaksud ke stand kelas 3B. Katanya disana ada Obake House, dan Yabu juga ditantang oleh Shoon yang mengejeknya penakut.
“Kau yakin mau masuk kesana? Aku tak mau menggendongmu keluar karena kau pingsan...”, ejek Shoon menyebalkan.
“Lihat saja..aku ini tidak penakut..”, elak Yabu.
“Awas saja kalau kau menangis di dalam..”, balas Shoon.
“Jadi...kau mau ikut masuk atau tidak?”, tanya Yabu pada Shoon.
Shoon menggeleng, “Kau saja...kita lihat seberapa besar nyalimu.”, tantang Shoon.
“Kau takut ya?”, tanya Yabu.
“Tidaaakk~ ini terlalu biasa untukku.”, tolak Shoon.
Di depan Obake House itu sudah banyak yang mengantri, kebanyakan adalah pasangan.
“Kau masuk sendiri?”, tanya seorang siswi yang menjaga pintu masuk Obake Haouse ketika Yabu sudah ada di depan pintu.
Yabu mengangguk.
“Baiklah, silahkan masuk...”
Gelap dan memang sedikit mencekam. Yabu sampai saat ini hanya berjalan biasa. Obake house ini dibuat seperti maze, sehingga ia harus mencari jalan keluarnya. Tidak begitu besar sih, jadi ia masih sedikit tenang karena sampai saat ini belum ada yang mengganggunya. Teriakan silih berganti terdengar dari tempat lain, membuat Yabu sedikit merinding.
Yabu melangkah ke belokan sebelah kanan, ketika tanpa aba – aba seorang cewek menyeramkan muncul.
“Kyaaaaaa~”, teriak Yabu refleks.
“Yabu-kun?”
Eh? Suara itu...Yabu mengenali suara itu. Yabu segera menguasai diri dan menahan tangan ‘hantu’ wanita itu.
“Miyuy-chan?”, seru Yabu saat memandang wajah penuh make-up itu.
“Eh...Yabu-kun?”, Miyuy menyadari tangan Yabu masih menggenggam lengan kanannya, merasa beruntung makeup ini menutupi mukanya yang pasti sudah memerah.
“Kau kemana saja? Kenapa tak pernah membalas e-mailku lagi?”, tanya Yabu.
Miyuy menunduk, “Tidak apa – apa..aku sibuk..”, jawabnya tanpa berani melepaskan tangan Yabu.
“Kau marah padaku kah?”, tanya Yabu lagi.
“Tidak...buat apa aku marah?”, jawab Miyuy menggeleng pelan.
“Benarkah?”
Miyu hanya menunduk, tak berani menjawab.
“Ah iya Miyuy-chan..aku ingin mengatakan ini langsung, bento buatanmu enak...arigatou na~ kapan – kapan buatkan aku lagi ya?”, kata Yabu ceria, masih menggenggam tangan Miyuy.
“Eh? Kau memakannya?”
“Tentu saja...dan aku berharap Miyuy-chan membuatkannya lagi untukku...”
Miyuy tak percaya apa yang didengarnya. Terlebih lagi Yabu sama sekali tak melepaskan genggamannya, membuat Miyuy bingung harus melakukan apa.
“Ne...Miyuy...sudah saatnya bergantian denganku...”, kata seseorang dari belakangnya.
Ternyata itu Kaori yang memang akan berganti peran dengannya. Miyuy refleks melepaskan tangannya.
“Ah iya..aku ganti baju dulu.”, jawab Miyuy cepat.
Yabu kembali menarik Miyuy, “Jalan – jalan yuk...shiftku juga sudah selesai..”
Miyuy hanya mengagguk, “Sebentar...”
Yabu mengekor mengikuti Miyuy keluar dari Obake House itu.
From: Shoon
Subject: aku dijemput..
Pacarku datang...kau lama sekali tak keluar..
Aku pergi dulu...ku harap kau baik2 saja..
“Hahaha..Shoon bodoh itu pasti menganggap aku pingsan di dalam.”, seru Yabu.
“Eh?”
“Iya...dia sangka aku begitu penakut. Ah..Miyuy-chan!! Pertunjukkan piano sebentar lagi dimulai..kesana yuk~”, ajak Yabu.
Miyuy menatap punggung Yabu dengan hati berbunga. Mungkin saat itu, ia hanya malu pada teman – temannya, senyum Miyuy mengembang ketika Yabu kembali menarik tangannya.
“Yabu-kun...”, panggil Miyuy ketika mereka sudah sampai di depan panggung.
“Hmmm?”, jawab Yabu menoleh menatap Miyuy.
“Arigatou...”
----------------------
Opi mendribble lagi bola basketnya, merasa kesepian mungkin itu yang ia rasakan sekarang. Nu entah kemana, Py dan Din menghilang sesaat setelah shift mereka habis. Miyuy tadi saat ia tinggalkan masih di dalam Obake House, menunggu Kaori yang menggantikannya.
Panggung utama di festival itu pasti sedang mempertunjukkan seorang Sakurazawa Ayame yang akan bermain solo piano, dan Inoo pasti juga sedang berada di depan panggung itu. Menatap Aya-chan nya. Opi menyesali diri berfikir seperti itu tambah membuatnya sebal.
Dilemparkannya bola itu dengan sekuat tenaga sehingga bukannya masuk ke jaring, bola itu memantul jauh ke belakang Opi sendiri.
“Wow!! Kau bisa melukai orang kalau begitu Opi-chan...”
Opi berbalik, mendapati seorang Inoo menangkap bola basketnya itu.
“Ngapain kau disini?”, tanya Opi ketus.
Inoo mendribble bola itu mendekati ring, “Betsu ni...disana membosankan...”, jawab Inoo lalu melemparkan bola basket itu dengan mulus masuk ke ringnya.
Opi tak menjawab lagi, ia kembali merebut bola basket itu.
“Ne..kau sering pulang malam ya akhir – akhir ini..aku tak pernah melihatmu lagi di rumah...”, ujar Inoo lalu berlari mengambil bola yang lagi – lagi tak berhasil Opi masukkan.
“Hanya sibuk latihan...sebentar lagi turnamen dimulai..”, jelas Opi memandang Inoo dengan aneh.
Inoo mendribble bola memutari dirinya.
“Hmm..sokka...Ganbatte ne Opi-chan...”, katanya.
“Bukankah di panggung itu sedang ada recital piano..kenapa kau tidak kesana?”, akhirnya Opi memberanikan diri bertanya.
Inoo menghela nafas, “Tidak apa – apa..aku melihatmu pergi kesini..jadi yah...”
“Kudengar kau mengenal pemain piano itu...aku mendengarmu meminta izin pada Mama kemarin.”, kata Opi seraya merebut bola yang masih saja Inoo dribble tanpa tujuan.
“Aya-chan...yah..dia sudah seperti adikku sendiri.”
“Adik?”
“Iya...lagipula melihat seseorang begitu murung tadi...aku sedikit khawatir..”, jelas Inoo, mengambil kembali bola basket itu yang sedari tadi hanya Opi pegang saja.
“Kau mengkhawatirkan aku? Kenapa?”, tanya Opi heran.
“Tidak apa – apa...karena kupikir kau marah padaku. Sudah beberapa minggu ini kau tak pernah melihatku melatih Yuuri lagi.”
Muka Opi memerah, berharap hal itu tidak dilihat Inoo.
“Ne...kau ini berlebihan...”, Opi menunjukkan sedikit senyumnya.
Inoo masih mendribble bola basket itu berhenti, berdiri di depan Opi dengan senyum mengembang di bibirnya, “Akhirnya kau tersenyum juga...kurasa senyum lebih cocok buatmu..”, Kini wajah Inoo sudah sejajar dengan wajahnya, membuat Opi kaget.
Inoo berlari melewati Opi dan memasukkan bola basket itu ke ringnya.
“Inoo-kun!!”, teriak Opi, Inoo berbalik dari bawah ring basket itu, “Arigatou~!!!”, teriak Opi lalu kembali tersenyum.
----------------
Suasana sekolah masih ramai, walaupun sudah hampir jam 2 siang. Din kembali ke stand kelasnya, sendirian karena Py ingin melihat recital piano dari Sakurazawa Ayame itu. Din tak tertarik dan memilih kembali ke kelasnya.
Ternyata Py sedang jatuh cinta, dan merasa cintanya tak dibalas oleh pria yang disukainya. Din merasa sedikit mengerti apa yang ia rasakan soal itu. Bukankah cintanya sejak kecil pada Jin juga tidak dibalas? Begitu pikirnya.
“Kau kemana saja tuan putri?”, seru seseorang yang Din sudah hapal sekali suaranya.
“Bukan urusan Yuya...”, kata Din lalu duduk di sebuah bangku di depan kelasnya.
Yuya ikut duduk disebelahnya, menyodorkan sekaleng kopi dingin kesukaan Din. “Ini..tuan putri...”
“Yuya..berhenti memanggilku seperti itu..”, protes Din. Entah sejak kapan Yuya memutuskan memanggilnya seperti itu dan kini semua orang menyangka mereka benar – benar berpacaran.
Maksudnya, Yuya memang tunangannya walaupun tak ada yang tahu, tapi mereka kan tidak bisa disebut berpacaran juga.
“Kau haus kan? Ayo ambil..”, kata Yuya mengindahkan protesnya Din.
Din masih kesal tapi menyambut kopi dingin itu.
“Eh??? Jin??!!”, seru Yuya lalu berdiri. Kaget mendapati kakaknya itu datang.
Din menoleh lalu ikut berdiri. Yuya sendiri tak tahu kalau kakaknya akan datang. Lebih buruk, bersama kekasihnya, Naomi. Yuya sekilas melirik wajah Din yang masih kaget.
“Waaahh~ Obake house ya ini?”, seru Jin.
“Aniki..apa yang kau lakukan disini??”, tanya Yuya tak sabar.
Jin terkekeh, “Ayolah Yuya...dulu aku juga sekolah disini...Hisashiburi...sudah lama tidak menghadiri festival seperti ini.”
Din tak berani menunjukkan wajahnya, hanya berlindung dibalik badan Yuya.
“Dinchan...apa kabar adik kecilku?? Kenapa kau jarang sekali ke rumah?”, tanya Jin menyadari Din ada disitu dan mengacak pelan rambut Din.
“Jin yang tak pernah ada di rumah..”, elak Din.
Jin tertawa pelan, “Iya kau benar..sibuk sekali akhir – akhir ini.”, Jin mencubit pipi Din pelan, “Sudah lama aku tak menjahilimu...”
Din menepis tangan Jin, “Itai yo~”
“Kalau kau cemberut begitu wajahmu tampak lebih lucu..”, tawa Jin lagi. Kebiasaan Jin mengganggunya memang tak pernah hilang sejak mereka kecil.
“Jangan sentuh Dinchan..”, kata Yuya tiba – tiba.
Dengan kaget Jin menatap adiknya seksama, “Kau ini kenapa? Huh?”
“Aku...aku dan dia...”
“Kalian kenapa?”, tanya Jin bingung.
Din menyambar tangan Yuya, “Kami sudah resmi jadian..maksudnya... kita sudah memutuskan untuk benar – benar menerima perjodohan ini..”, wajah Din memerah, kaget dengan perkataannya sendiri.
“Oh...waaaahh~ maaf Yuya...kau cemburu?? Tidak tidak usah seperti itu.. Aku selalu menanggapnya adikku juga.”
“Hanya...yah...aku tak mau kau sembarangan menyentuhnya..ia milikku sekarang..”, kata Yuya lagi.
“Baiklah...gomen na...Dinchan...gomen na..”
“Jin...ayo masuk Obake house nya...”, keluh Naomi yang sejak tadi hanya berdiri di sebelah Jin.
Jin tersenyum pada kedua adiknya itu, “Omedetou ne...”, Jin menatap Naomi, “Iya cerewet..”
Jin berlalu, masuk ke dalam Obake House. Yuya berbalik, menatap Din takjub.
“Kau benar – benar mengatakannya?”, tanya Yuya.
Wajah Din memerah, melepaskan tangannya dan berusaha melarikan diri.
“Jawab aku bodoh!”, seru Yuya menarik lengan Din.
“Kalau kau anggap begitu...”, jawab Din masih menunduk, tak berani menatap Yuya.
----------------------
Atap itu tampak kosong. Hikaru melarikan diri sebentar, lagipula sudah hampir sore dan stand juga sudah tak seramai tadi siang hari.
Hikaru menggeliat, badannya begitu lelah. Ini ulah Yabu yang menyuruhnya jaga di shift siang. Hikaru mengambil botol minuman di tasnya, menghabiskan seluruh isinya lalu berbaring menatap langit yang sudah hampir sore itu.
“Lelahnyaaa~”, teriaknya pelan.
Tak lama, Hikaru mendengar seseorang sedang bergumam. Menyadari dirinya tak sendiri, Hikaru segera berdiri dan mencari sumber suara itu. Seseorang sedang menunduk, tampak sibuk dengan buku sketsa dan sebuah airphone terpasang di telinga gadis itu. Ia bergumam mengikuti lagu yang ia dengar sepertinya.
“Py-chan?”, sudah Hikaru duga itu memang Py.
Hikaru bergerak pelan, mencoba tidak mengeluarkan suara apapun. Py duduk dibalik sebuah tembok, dekat pintu masuk ke atap ini. Hikaru mengeluarkan sebuah bungkusan, membukanya lalu dengan sengaja menyodorkan bungkusan itu di depan wajah Py.
“Eh??!!”, Seru Py kaget dengan refleks membuka airphonenya.
“Takoyaki dari kelas 3C...dijamin enak dan murah...”, seru Hikaru dari pinggir tembok itu.
“Hika-kun??”, Py begitu kaget ia bisa bertemu Hika di atap ini.
Hika nyengir, memperlihatkan senyum khasnya, “Aku tak bisa memutuskan kau mau takoyaki atau okonomiyaki, tapi aku putuskan membawakanmu ini saja. Tadi kau tak jadi mengantri kan? Kenapa?”
Berarti tadi Hikaru memang memperhatikannya dan Din. Py tidak menjawab.
“Ne??ayo coba...kata orang – orang sih buatanku memang enak..”, kata Hikaru, “atau kau mau aku menyuapimu?”, tambahnya.
Sukses membuat wajah Py tambah memerah dan segera merebut bungkusan takoyaki itu.
“Hmmm..enak..”, kata Py setelah menelan satu takoyaki itu.
Hikaru tersenyum, “Anda mendapatkan bonus ini....”, serunya heboh menunjukkan 3 buah chupa rasa cola.
“Apa lagi ini?”
“Bonus karena senyummu begitu cantik hari ini..”, puji Hikaru.
Py terdiam tak berani menjawab apapun.
“Kau tahu Py-chan...taman itu tampak lebih sepi dari biasanya jika kau tak disana.”, jelas Hikaru sambil menyimpan 3 chupa itu di tangan Py.
“Eh? Apa maksud Hika-kun?”
“Bangku taman itu kehilangan senyummu...”
“Hah?”, Py masih tidak mengerti.
“Aku juga...”, kata Hikaru ikut mencomot satu takoyaki itu, “Yappari~ buatanku memang enak..hehehe..maaf sudah dingin ya..aku mencari Py-chan tapi tidak ketemu...”
Kini Py tak peduli, ia tak merasa Hikaru berbohong atau hanya memujinya saja. Paling tidak hanya dia yang Hikaru buatkan takoyaki bahkan ketika ia tidak memintanya. Hanya dia yang Hikaru belikan 3 buah chupa rasa cola kesukaanya, dengan sengaja membelikannya. Py merasa istimewa, ia berbeda dari gadis – gadis yang biasa berada di dekat Hikaru. Py tahu rasanya ini terlalu berlebihan, tapi berharap sekali lagi bukanlah suatu kesalahan.
“Hika-kun...arigatou..”
------------------
TBC~....
maap lama banget ngeupdatenya...hehehe
seperti biasa...COMMENTS is LOVEEEEE~
Langganan:
Postingan (Atom)