Title : Undecided
Author : Nu Niimura
Genre : Romance, Angst...seterusnya, ada deh~~
Fandom : Hey! Say! Jump, Johnny’s Entertainment
Disclaimer : I dont own the chara nor the original idea
A/N : Thanks Ima who gave me some ideas XD just wanna wish Yabu a Happy Birthday ~(/> w<)/
Yabu’s POV
Yep, semuanya akan berjalan menyenangkan. Hari ini, aku dan teman-temanku, ng...bandmate ku, semua member Hey! Say! Jump akan terbang kembali ke Tokyo setelah liburan kami yang menyenangkan di Hokkaido.
Saat aku melangkahkan kaki kedalam pesawat, yang kulihat adalah Kei-chan, duduk tenang memandang keluar jendela. Sebuah pemandangan yang indah, aku ingin terus menatapnya.
Mungkin Kei-chan tak akan keberatan kalau aku duduk disampingnya selama perjalan, pikirku
“Inoo-kun, biarkan aku mengambil gambar, untuk entry di amebloku he he he
Ayo senyum...”
Tapi aku kalah cepat, Yuto lebih dahulu menempati kursi kosong disebelah Kei-chan, merangkul bahunya erat dan mereka berdua tersenyum kearah kamera
Yang kupikirkan hanya satu, Kei-chan nampak sangat manis. Tanpa aku sadari, aku sudah duduk diseberang tempat mereka duduk, Kei-chan dan Yuto
“Hmm...kau tidur, Hikaru-kun?”, tanyaku pada Hikaru yang menempati kursi disebelahku
Hikaru tak menjawab, posisi tidur yang aneh, dengan topi yang menutupi wajahnya
“Boo!!”, serunya, mengagetkanku
“Huwaaaaaaaaaaa!!”, bagaimana aku bisa tak terkejut, Hikaru-kun tiba-tiba mengagetkanku, dengan berpura-pura tidur dan memakai topeng (sangat) aneh yang dibelinya di tempat souvenir
“Aku berhasil! Yabu ketakutan! Ha ha ha ha !”, Hikaru terbahak, tak lama kemudian disusul dengan suara tawa anggota Jump lainnya
“Kenapa tertawa?! Aku bukan ketakutan, hanya terkejut karna topeng anehmu itu!”
“Ha ha ha ha”, Hikaru tak juga berhenti
Namun Kei-chan, dia hanya tersenyum, bersama Yuto. Keduanya sejak tadi asyik melihat file-file di digicam yang dipegang Yuto. Mungkin Yuto sempat mengambil beberapa gambar lagi bersama Kei-chan saat aku tak meperhatikan. Senyuman Kei-chan begitu manis, tapi entah kenapa aku tak bisa menyukai senyumnya saat itu, senyuman saat bersama orang lain.
Aku cemburu? Entahlah...
Kami sudah terbang cukup lama, semuanya berjalan lancar. Kei-chan masih saja bercanda dengan Yuto dan Hikaru masih berusaha mengusiliku. Member Jump yang lain pun asyik dengan yang mereka kerjakan. Yamada yang berlagak bak pramugari, bahkan Daiki yang memilih untuk tidur dengan earphone masih terpasang di kedua telinganya.
“Wanna taste some snack?”, Hikaru menyodorkan satu sack besar keripik kentang padaku
“Apa-apaan bahasamu itu, asal-asalan sekali...”, balasku
“Jangan begitu, aku hanya melatihmu kalau suatu hari kau duduk bersama orang amerika di pesawat”
“Kalau begitu, aku akan pilih tempat duduk bersama orang kansai saja...”
“Terserahlah...tak mau cicipi?”, tawar Hikaru
“Ngg...”, aku hanya menatap curiga, memikirkan kejahilan apa lagi yang akan dilakukan oleh Hikaru. Kupikir, saat ini mood jahilnya sedang tinggi “Tidak, terimakasih...”, ucapku akhirnya
Sesaat, kupikir Kei-chan melihat kearahku, tapi aku berusaha tak memperhatikannya
“Ko-chan...”, panggilnya
“Ng, hai?”, balasku
“Ano, Yuto-kun...bisakah kita bertukar tempat duduk sebentar?”, pinta Kei-chan pada Yuto
“Ah, sou desu...” dan mereka bertukar tempat duduk, hingga tempatku dan Kei-chan hanya terpisah oleh jalan diantara tempat duduk (bleh, gabisa nyusun bahasanya =_________= )
“Aku tak melihat melihat Ko-chan menikmati penerbangan seperti yang lainnya, Ko-chan tak akan mabuk udara, kan?”, tanya Kei-chan, sorot matanya begitu ramah dan bersahabat menatapku
“N, nan demo nai...”, aku tak tahu harus menjawab apa, tak mengira kalau sejak tadi dia memperhatikanku
“Ini, untuk Ko-chan, minumlah...”, tersenyum, Kei-chan memberikan sebuah cup minuman untukku
“Un, arigatou...”, ucapku ketika menerima pemberian dari Kei-chan
Setelah itu, Kei-chan memasang earphone ditelinganya, bersandar relax pada sandaran kursi pesawat, nampaknya ia hendak tidur
Sekali lagi, Kei-chan melihat kearahku sesaat dan tersenyum, aku hanya bisa membalas senyumannya. Aku mulai menyedot minuman yang diberikan Kei-chan ketika ia mulai menutup mata, begitu tenang.
“Anata ga suki desu...
..tottemo suki desu...”
Aku ingin menyampaikan perasaanku pada Kei-chan, memintanya untuk jadi milikku walaupun sepertinya itu mustahil. Aku akan memberi tahu Kei-chan, ketika kami sampai di Tokyo.
“Uhh...”, aku menahan untuk tidak tertawa, mentertawakan betapa konyolnya pemikiranku sendiri
“Kei-chan...aku menyukaimu...
sejak pertama kali aku melihatmu di JJ Express”
Semakin lama, mataku semakin terasa berat. Saat kulihat Kei-chan disampingku, Kei-chan masih memejamkan matanya, mungkin ia sudah terlelap. Bibirnya menampakkan sebuh senyuman kecil, sepertinya ia bermimpi indah
“Selamat tidur, Kei-chan...”
Minggu, 31 Januari 2010
happy b'day KOTA YABU

HAPPY B'DAY YABUCCHIE
lol
gak kerasa dia udah kepala 2
member yang lain masih kepala 1
*udah bisa di panggil om" donk..*
----------------------------------------------------------
btw,,
napa blog ni jadi bulukan???
*baru nyadar pas di kasih tau bunda,,
dan parah'y Q lupa email'y...*
hiksss
ayo isi yang rame nih blog'y
lol
gak kerasa dia udah kepala 2
member yang lain masih kepala 1
*udah bisa di panggil om" donk..*
----------------------------------------------------------
btw,,
napa blog ni jadi bulukan???
*baru nyadar pas di kasih tau bunda,,
dan parah'y Q lupa email'y...*
hiksss
ayo isi yang rame nih blog'y
Rabu, 02 Desember 2009
[Fanfic] Accidentally In Love (chapter 5)
Title : Accidentaly In Love
Chapter : Five
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~
“Ng, Arioka…”
“Daiki saja”, timpa Daiki sebelum Nu menyelesaikan kata-katanya
“Arioka”, ucap Nu dengan nada datar “..aku ingin mandi sebentar, kau boleh disini kalau masih ingin menunggu hujan reda”
“Iya, aku akan menunggu Nuchan disini. Boleh aku melihat-lihat koleksi DVD milik Nuchan ?”, tanya Daiki sambil tersenyum
“Terserah”, hanya sesaat Nu mengarahkan tatapan dinginnya pada Daiki dan kemudian meninggalkan kamarnya
Di kamar mandi itu. Tempat Nu biasa merendam tubuh lelahnya dalam sebuah bathtub kecil.
Sendirian
Kamar mandi yang sama, bathtub yang sama, suara gemericik air yang sama, dengan pemandangan sebuah tirai yang sama dan aroma sabun mandi yang juga sama…beberapa hari lalu, Nu masih menghabiskan waktu berendamnya bersama Kyo.
“Hh…”, Nu menghembuskan nafas berat, meyibakkan rambut ke belakang telinga kirinya
Piercing-piercing itu, sama dengan yang Kyo miliki
Dan sekarang, Nu hanya bisa merasakan dingin material bathtub mengenai punggungnya. Tak ada tubuh hangat Kyo tempat ia biasa bersandar. Nu merasa dadanya sesak, menyadari sekarang dirinya benar-benar sendirian.
“Kyo-san, sedang apa kau sekarang…? Aku harap kau tidak tertidur saat berendam di kamar mandi…”, Nu bergumam lirih seraya tangannya meraih sebuah kotak bertuliskan Phillip Morris yang berada tak jauh dari bathtub bersama sebuah pemantik kecil
Nu mengeluarkan sebatang isi kotak itu, meletakkan salah satu ujungnya dibibirnya dan menyalakan pematik di ujung lainnya.
Menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Aroma Phillip Morris, Nu sangat terbiasa, aroma itulah yang biasa dihirupnya ketika bersama dengan Kyo, kini berubah sangat menyesakkan.
“Uhuk, uhuk”, tak lama, perasaan tak enak itu menyerang Nu, kerongkongannya terasa sakit
“Kyo-san…”, Nu memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya. Rokok pertama yang dihisapnya, terasa sangat buruk.
Daiki menatap keluar jendela, hujan masih turun dengan sangat deras. “Nuchan lama…”, gumamnya ketika meletakkan kepalanya dibantal
“Tempat tidur Nuchan nyaman…”, Daiki merasakan semakin lama matanya semakin berat
Nu menemukan Daiki terlelap ditempat tidurnya. Sesaat tatapannya terpaku pada wajah tidur Daiki yang begitu inoccent dan kemudian membentangkan selimut untuk Daiki.
DVD bertuliskan “The Rose Trims Again” masih tergeletak di lantai, Nu kemudian mengambilnya dan memasukkan ke dalam player.
Langit diluar telah berubah gelap. Ketika Daiki membuka matanya, ia melihat Nu, duduk menatap layar tv. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dilihat oleh Nu, tapi yang bisa ia pastikan, bahwa Nu sedang terisak.
Daiki beranjak dari tempat tidur Nu, dirasakan ia sudah diselimuti, karena bdannya tak terasa dingin lagi.
“Nuchan...”, panggil Daiki pelan, namun Nu tidak bergeming, hanya menatap layar tv. “Doushita no?”, tanya Daiki lagi, kini ia duduk disebelah Nu yang berlinang air mata.
Nu menggeleng, ia benci dilihat orang lain ketika ia sedang menangis, “Sudahlah Arioka-san...aku tak apa – apa....”, seketika Nu menghapus air matanya dengan sembarangan.
“Kau tidak baik – baik saja...”, jawab Daiki kesal karena Nu masih ingin terlihat kuat.
“Aku baik – baik saja...”, bantah Nu.
“Kalau begitu tersenyum...bukankah kau tidak apa – apa?”
Nu tak mengerti kenapa cowok yang kini duduk disebelahnya itu selalu saja ikut campur urusannya. Nu menoleh untuk memarahi Daiki, saat yang sama Daiki menatap Nu, jarak mereka terlalu dekat. Tanpa aba – aba, Daiki menyentuhkan bibirnya pada bibir Nu, mengecupnya pelan.
Mata Nu masih terbelalak, akan apa yang dilakukan Daiki. Tapi hal itu, dan juga kata-kata Daiki tentang membuatnya tersenyum, justru membuatnya semakin ingin menangis.
“A, ah..Nuchan tidak suka, ya? Ma, maafkan aku, tapi tolong berhenti menangis…”, ucap Daiki dengan nada sedikit panik.
Tak juga Nu berhenti menangis. Karna dalam pikirnya, alasannya untuk tersenyum hanyalah Kyo.
-----------------
“Terima kasih”, ujar Din singkat ketika menerima secangkir coklat panas dari tangan Yuya
“Tak mau bilang terima kasih juga tak masalah”, Yuya duduk di sofa yang berhadapan dengan Din, sesekali menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk
“Uh, terserah, deh…”, Din yang merasa sedang malas berdebat menyeruput coklat yang ada di tangannya, perlahan
“Ng, Dinchan…ternyata kamu cocok juga pakai bajuku”, Yuya melirik kearah Din dengan disertai senyum yang sedikit mengejek
Memang, karna bajunya yang basah, Din terpaksa harus mengganti bajunya. Dan dengan terpaksa, ia harus memakai baju milik Yuya yang memiliki ukuran tak jauh dengan ukurannya
“Diam, orang bodoh tak berhak berkomentar”, Din cemberut
“Heeeeh!”, dengan cepat Yuya beralih duduk kesebelah Din “Apanyaaa?! Aku tak mau dikatai bodoh sama orang bodoh yang bisanya cuma bilang orang lain ‘bodoh’, tapi tak pernah menyadari kalau sebenarnya dirinya sendiri yang bodoh…!”, Yuya dengan gemas menggoyang handuk di kepala Din, cukup keras hingga membuat Din berontak
“Yuya bodoooooooooh! Coklatnya tumpah!!”
Kontan, Yuya merubah posisinya sedikit menjauh
“Lihat. Jadi ketahuan, kan…yang sebenarnya bodoh itu siapa?!”, Dinchan menatap Yuya dengan membelalakkan matanya, sambil menunjuk kaos putih milik Yuya yang dipakainya namun sekarang dengan keadaan berlumur noda coklat
“Ah, ma…”, ucap Yuya tercekat “Sudah, sudah, cepat bersihkan dirimu, karna mungkin akan jadi lengket…”
“Ugh…!”, ujar Din agak kesal dan melempar handuk yang barusn dipakainya tepat ke wajah Yuya kemudian meninggalkan Yuya menuju kamar mandi
“Ugh juga”, Yuya hanya terdiam, tak bisa membalas
Din berjalan menuju kamar mandi keluarga Takaki, melalui beberapa ruangan yang salah satu diantaranya adalah kamar Jin.
Perasaan Din berbunga, melihat pintu kamar Jin sedikit terbuka, menandakan Jin sedang ada di dalam.
Senyum simpul terkembang di wajah Din, melihat punggung Jin terlihat dari luar walaupun hanya samar.
“Jin, tolong dengarkan aku! Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sungguh-sungguh, sedangkan kau sama sekali tak mau memberiku kesempatan untuk menjelaskan!”
mata Din terbelalak, melihat seorang gadis seusia Jin beradu mulut dengan laki-laki yang disukainya itu
“Sudahlah, Naomi..aku hanya…”, Jin nampak enggan melanjutkan kata-katanya
Gadis yang disebut Naomi itu mendekat, begitu dekat dengan Jin “Gomen ne…”, seraya Naomi memberikan sebuah kecupan lembut di bibir Jin
“..aku hanya cemburu…”, dan Jin membalas ciuman Naomi, kemudian menarik gadis itu berbaring di tempat tidurnya
Din tak bisa menahan air matanya, namun hanya bisa menangis tanpa suara.
“Benar, jadi ketahuan yang bodoh itu siapa…”, dengan suara yang sepelan mungkin, Yuya perlahan menutup pintu kamar Jin dari belakang Din yang masih berdiri terpaku
Air mata Din terus mengalir, sama sekali tak bisa berbalik ke belakang
“Tak masalah, kok...kalau aku meminjamkan bahuku sebentar”
“Yuya bodoh, bahumu terlalu tinggi…”, Din berbalik, membenamkan wajahnya di dada Yuya, terisak
Perlahan, tangan Yuya mendekap tubuh Din yang tampak rapuh itu, seraya berbisik, “Sebodoh apapun aku, aku tak akan membuatmu menangis seperti ini…”, Yuya berucap lirih, bahkan mungkin Din tak akan bisa mendengarnya.
-----------------------
Miyuy sibuk dengan ponselnya seharian ini. Py hanya memperhatikannya dengan sedikit bingung.
“Miyuy..kau baik – baik saja?”, tanya Py ketika melihat Miyuy tersenyum sendirian.
Miyuy terhenyak, tak sangka Py memerhatikannya, “Ah...aku baik – baik saja..hehehe..”, serunya salting karena ketahuan Py.
“Tadi aku bertanya, kau mau ikut ke kantin tidak?”, tanya Py lagi.
“Gomen..aku tak mendengarnya...”, Miyuy tersenyum, “Kau duluan aja..ne? nanti aku nyusul..”, jawab Miyuy.
Py melangkah sendirian membawa buku sketsanya seperti biasa. Ia benci sendirian. Tapi Din tampak sedang bad mood, dan segera menghilang ke Perpus. Opi dan Nu jarang ke kantin, dan menuju taman ketika istirahat. Ia tak suka perasaan sendirian seperti ini.
“Py py!!!”, teriak seseorang dari belakang.
Py berbalik dan mendapati seorang Hikaru menyapanya dengan senyum lebarnya, gigi gingsulnya tampak pula.
“Hikaru-kun?”, seru Py kaget.
“Mau kemana nona semanis kau berjalan sendirian?”, godanya pada Py.
Wajah Py kontan memerah, “Kantin...”, jawab Py sedikit berbisik.
“Kau sendirian? Mana teman – temanmu?”, tanya Hikaru melihat sekeliling Py.
Py menggeleng, “Mereka sedang sibuk...Hikaru juga sendirian..ne?”
Hikaru tersenyum, “Mereka juga sedang sibuk. Sepertinya kita senasib...jadi..tuan putri...mau ke kantin bersamaku?”, tanya Hikaru ceria.
Py merasakan pipinya makin terbakar karena kata – kata Hikaru. Mereka pun ke kantin sekolah bersama. Hikaru memang teman yang menyenangkan. Py sendiri merasakan ia selalu senang jika berada dekat dengan Hikaru. Py tak cukup berpengalaman dengan cowok manapun. Sifat pemalunya membuat ia susah untuk bergaul dengan cowok. Tapi apakah Hikaru suka padanya? Kenapa Hikaru begitu manis padanya? Untuk berharap pun Py tidak berani.
--------------
Inoo melangkah gamang. Bingung karena dirinya sudah setahun tidak menginjak ke SMA. Rasanya asing walaupun seharusnya ia juga berada disini. Sayangnya ia sudah lulus tahun kemarin.
Sebuah bungkusan ada di tangannya. Sebuah sepatu basket, milik Opi. Inoo memang seharusnya tidak memberi les hari ini. Tapi karena ada urusan, Inoo ke rumah keluarga Opi, ternyata sepatu basket milik Opi tertinggal, dan ibunya meminta Inoo ke SMA untuk sekedar memberikan sepatu itu. Kebetulan apartemennya satu jalur dengan SMA tempat Opi sekolah.
Sekolah sudah lengang, tentu saja karena jam pulang sekolah sudah lewat. Inoo diberi nomer telepon Opi, ia mendialnya, tak lama telepon itu diangkat.
“Moshi – moshi?”, angkat Opi.
“Moshi – moshi..Opi-chan? Inoo desu...”, jelas Inoo.
“Eh?? Inoo?? Ada apa?”
“Kau dimana? Aku membawakan sepatu basketmu..tadi kau meminta Yuuri yang kesini kan? Kebetulan apartemenku searah dengan SMA mu..maka aku yang membawakannya.”, jelas Inoo panjang lebar.
Opi masih shock mendengar suara Inoo di ponselnya, segera tersadar ketika Nu menyenggol tangannya.
“Ah!! Sokka...kau tunggu di gym saja..aku segera kesana.”, Opi segera menutup teleponnya.
“Siapa?”, tanya Nu.
“Inoo Kei...aku harus ke gym!!”, seru Opi mengambil tasnya.
Nu hanya mengangkat bahu dan meninggalkan kelas.
Sementara itu Inoo sedikit kesulitan menemukan dimana Gym berada. Ia berjalan menyusuri koridor, pendengarannya menangkap melodi – melodi yang dirasanya sangat familiar. Inoo terus berjalan ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari ruang kesenian.
Melodi itu, permainan piano seorang siswi.
Tenang dan anggun.
Ketika melihat sosok itu dari belakang, Inoo segera dapat mengenali, lagu kesukaannya sejak ia bisa memainkan piano, dan juga pemain dari lagu itu.
Inoo terdiam sebentar, berusaha tak terlihat terlalu kaget, “Aya-chan?”, panggil Inoo lirih.
Gadis yang dipanggil Aya-chan itu tampaknya sadar bahwa ia sekarang tidak sendirian di ruangan itu, berbalik untuk melihat siapa yang datang.
“Eh?!! Kei-chaaaann?”, serunya takjub.
“Jadi...kenapa kau kesini? Mencariku? Hihihi..”, kikik Ayame ketika akhirnya Ayame mengantar Kei ke gym.
Inoo tertunduk, “Tidak..aku hanya mengantarkan sepatu basket ini...Aya-chan..genki da ne?”
Ayame mengangguk, “Un!! Genki desu!! Kei-chan wa? Suasana tempat les tidak semenyenangkan saat Kei-chan disana..”, jelas Ayame sambil cemberut.
Inoo menatap Ayame. Itu masih Ayame yang dulu, Ayame yang ia kenal. Ayame adalah teman les pianonya, tepatnya mereka seharusnya seangkatan. Namun seperti diketahui, Inoo mengikuti akselerasi. Inoo dan Ayame dulu selalu bersama. Ayame yang manja selalu dilindungi oleh Inoo.
“Aya-chan...masih les piano?”, tanya Inoo lagi.
Ayame beranjak dan mengambil sebuah bola basket, “Masih...kita akan adakan konser...Kei-chan ikut saja..aku selalu tak sinkron dengan pemain lain...partnerku yang terbaik hanya Kei-chan...”, kata Ayame lalu melemparkan bola basket itu, tapi ia bukan pro sehingga sama sekali tak menyentuh ringnya, “Itaai~”, keluh Ayame tiba - tiba.
Inoo secara refleks melemparkan bungkusan sepatu basket Opi dan berlari menuju Ayame.
“Daijoubu?”, tanya Inoo meraih tangan Ayame.
Ayame menggeleng, “Hanya sedikit terlipat tadi..hehehe, Kei-chan terlalu mengkhawatirkan aku..”, katanya lalu tersenyum.
Inoo mengacak pelan rambut Ayame, “Baka!! Tanganmu itu lebih berharga dari bola basket manapun..mengerti?!”
Ayame mengagguk, “Mengerti..aku mengerti Kei-chan...”
Inoo tersenyum, kembali memeriksa tangan Ayame.
Dada Opi terasa sesak. Oke...dia datang disaat yang tidak tepat. Opi tak akan se shock ini jika ia tak melihat senyum Inoo. Senyumnya berbeda dari biasanya. Dengan sekali lihat pun ia tahu, Ayame adalah orang yang berharga untuk Inoo. Mereka terlihat terlalu sempurna berdampingan. Tidak ada yang tidak kenal Sakurazawa Ayame. Cewek yang sekarang menjabat sekertaris OSIS itu dikenal sebagai pianis handal, dia juga kaya, cantik dan anggun.
‘Aya-chan? Kei-chan?’ mereka sudah dekat, itu pasti. Pandangan Inoo yang melindunginya, senyum hangatnya...bukan untuk dirinya. Dadanya seakan ingin meledak, untuk pertama kali ia merasa tak punya kekuatan apapun. Entah kenapa buatnya menangis itu ada dalam kamus seorang Opi.
“Sial!!”, bentaknya pelan pada dirinya sendiri, “Dia bukan siapa – siapaku!! Tapi kenapa rasanya tak rela melihatnya dengan orang lain..”, air matanya kembali mengalir.
--------------
From: Yabu-kun
Subject: Morning
Ohayou~ apakah aku mengganggumu terlalu pagi?
*laugh* hope you’ll ok...^^
To: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Ohayou~
Aku sudah bangun dari tadi Yabu-kun...
dan aku baik – baik saja...*smile*
ketemu di sekolah..ne?
From: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Yup..ketemu di sekolah...
Cuaca hari ini cerah sekali..
(image 12)
--kireii na sora—
To: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Gambar langit yang indah sekali..
Kau mengambilnya dari jendela kamarmu?
(image 13)
---sora from my window---
From: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Aku mengambilnya dari jendela kamarku..
*smile* aku akan membalasmu nanti...
Sepertinya ibuku sudah mulai cerewet,,
Ne?
Miyuy menutup slide Ponselnya. Tersenyum sendiri pada layar Ponselnya yang menunjukkan langit sore hari dari jendela kelas Yabu, foto itu Yabu kirimkan kemarin sore. Miyuy dan Yabu sudah sering saling mengirimkan mail sejak mereka terjebak di sekolah tempo hari. Sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat. Setidaknya itulah yang Miyuy rasakan.
Miyuy memantapkan langkahnya. Hari ini ia membawakan bekal untuk Yabu. Ini surprise, ia sendiri hanya ingin memperlihatkan hasil masakannya pada Yabu. Tapi Miyuy tak ingin pergi sendiri, ia melirik ke semua temannya yang sedang tidak bersemangat.
Din hanya tertunduk, menatap layar ponselnya dengan sedih. Nu sedikit terlihat bingung sejak kemarin. Bahkan seorang Opi matanya terlihat bengkak, apa ia menangis? Seorang Opi??!!
Miyuy menatap Py yang tampak sibuk dengan sketsanya.
“Py...maukah kau mengantarku?”, tanya Miyuy takut mengganggu Py yang sedang menggambar.
Py menatap Miyuy dan mengangguk, “Baiklah...”
“Mereka kenapa ya?”, tanya Miyuy pada Py.
Py menggeleng, “Aku tak tahu, kenapa mereka terlihat seperti habis menangis ya? Bahkan Opi juga begitu...”
Tak terasa mereka sudah ada di depan kelas Yabu. Py bingung kenapa mereka kesana.
“Miyuy...apa yang akan kita lakukan?”, tanya Py bingung.
Miyuy menunjukkan sebuah bungkusan bento yang cantik. “Aku mau memberikan ini..”, kata Miyuy tersipu.
“Untuk Kota-kun?”, tanya Py.
Miyuy mengagguk
“Wah....Miyuy ternyata sudah dekat dengan Kota-kun ya?”
“Begitulah..”, jawab Miyuy tersipu lagi.
Miyuy membuka slide Ponselnya.
To: Yabu-kun
Subject:
Yabu-kun..aku diluar kelasmu...
Bisakah keluar sebentar...
^^
Yabu kaget menerima pesan dari Miyuy. Apa yang Miyuy lakukan di luar kelasnya?
“Anou...Miyuy...Aku pergi ke toilet sebentar ya?”, pamit Py tiba – tiba.
Miyuy hanya mengagguk karena saat itu Yabu keluar dari kelasnya.
“Miyuy..doushita no?”, tanya Yabu bingung.
Miyuy menyerahkan kotak bento nya, “Ini...untuk Yabu-kun...”, ujarnya malu – malu.
Yabu tersenyum. Mengambil bungkusan di tangan Miyuy. “Arigatou na...Miyuy-chan...”, katanya lalu tersenyum.
Py baru saja keluar dari kamar mandi, ketika mendapati seorang Hikaru sedang di koridor.
Jantungnya seketika itu seakan berdetak lebih cepat.
“Betulkah nona manis? Hahahaha..”, tawa Hikaru begitu keras sehingga Py bisa mendengarnya.
Nona manis? Hmmm...Py memberanikan diri untuk mengintip sedikit apa yang terjadi. Hikaru memang populer diantara gadis – gadis, tapi Py tak menyangka Hikaru memang baik pada semua gadis. Lalu kenapa ia merasa special kemarin? Dia hanya berangan tentang Hikaru baik padanya, Hikaru menyukainya itu hanya ada dalam pikirannya.
Py seketika itu berlari ke atap sekolah, menangis tanpa suara, kecewa terhadap dirinya sendiri. Ia hanya terlalu banyak berkhayal, ia harusnya tidak berfikiran bahwa seorang Hikaru bisa menyukainya.
Terisak
Hatinya sakit tanpa ia sadari, ia benar – benar menyukai Hikaru.
Miyuy mengejar Py yang tadi berlari ke atap.
“Py...daijoubu?”
Py hanya terus terisak.
“Hahahaha....”, terdengar tawa dari beberapa orang.
Miyuy merapatkan diri dengan Py dibalik sebuah tembok, berharap tidak dilihat.
“Sudahlah Yabu..tak perlu menutupinya lagi...kau punya pacar kan?”, tanya seseorang.
Miyuy mendongak, dan menemukan Yabu, Hikaru, Taiyou dan Shoon disana.
“Benarkah?”, tanya Hikaru yang sejak tadi tidak ada di kelas.
“Iya benar..bahkan ia diberi bento...kau pacaran dengan Miyuy itu kan? Dia anak kelas B kan?”, kata Shoon tertawa.
“Chigau yo!!!”, bantah Yabu, “Aku tidak ada hubungan apa – apa dengan gadis itu!!”, katanya tersipu.
“Tapi kau suka padanya kan?”, tuduh Taiyou dengan sedikit memaksa.
“Chigau!! Aku tak menyukainya...”, bantah Yabu lagi.
Kini giliran Miyuy yang menangis. Entah apa yang Yabu pikirkan? Jadi ia hanya bermain – main dengan semua mail yang sudah dia kirimkan? Atau bagaimana? Miyuy bingung, dan memeluk Py yang juga masih terisak.
Siang itu begitu menyakitkan bagi mereka berdua.
TBC~
N.B: Saia dan anak saia kembaliiiiiiii~ wakakakak...gomen telat banget....qta berdua mengalami ke ngestagan *bahasa apa ini* tingkat tinggi...jadi males nulis...
ini sekalian ultah hika deh...
hika..otanjoobi omedetou~
hahahahaha...
^^
silahkan dibaca..semoga chap selanjutnya lancar, cuma berjarak seminggu ato 2 minggu...
~dinchan to nuchan ryori~
Chapter : Five
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~
Accidentally In Love
~Chapter Five~
~Chapter Five~
“Ng, Arioka…”
“Daiki saja”, timpa Daiki sebelum Nu menyelesaikan kata-katanya
“Arioka”, ucap Nu dengan nada datar “..aku ingin mandi sebentar, kau boleh disini kalau masih ingin menunggu hujan reda”
“Iya, aku akan menunggu Nuchan disini. Boleh aku melihat-lihat koleksi DVD milik Nuchan ?”, tanya Daiki sambil tersenyum
“Terserah”, hanya sesaat Nu mengarahkan tatapan dinginnya pada Daiki dan kemudian meninggalkan kamarnya
Di kamar mandi itu. Tempat Nu biasa merendam tubuh lelahnya dalam sebuah bathtub kecil.
Sendirian
Kamar mandi yang sama, bathtub yang sama, suara gemericik air yang sama, dengan pemandangan sebuah tirai yang sama dan aroma sabun mandi yang juga sama…beberapa hari lalu, Nu masih menghabiskan waktu berendamnya bersama Kyo.
“Hh…”, Nu menghembuskan nafas berat, meyibakkan rambut ke belakang telinga kirinya
Piercing-piercing itu, sama dengan yang Kyo miliki
Dan sekarang, Nu hanya bisa merasakan dingin material bathtub mengenai punggungnya. Tak ada tubuh hangat Kyo tempat ia biasa bersandar. Nu merasa dadanya sesak, menyadari sekarang dirinya benar-benar sendirian.
“Kyo-san, sedang apa kau sekarang…? Aku harap kau tidak tertidur saat berendam di kamar mandi…”, Nu bergumam lirih seraya tangannya meraih sebuah kotak bertuliskan Phillip Morris yang berada tak jauh dari bathtub bersama sebuah pemantik kecil
Nu mengeluarkan sebatang isi kotak itu, meletakkan salah satu ujungnya dibibirnya dan menyalakan pematik di ujung lainnya.
Menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Aroma Phillip Morris, Nu sangat terbiasa, aroma itulah yang biasa dihirupnya ketika bersama dengan Kyo, kini berubah sangat menyesakkan.
“Uhuk, uhuk”, tak lama, perasaan tak enak itu menyerang Nu, kerongkongannya terasa sakit
“Kyo-san…”, Nu memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya. Rokok pertama yang dihisapnya, terasa sangat buruk.
Daiki menatap keluar jendela, hujan masih turun dengan sangat deras. “Nuchan lama…”, gumamnya ketika meletakkan kepalanya dibantal
“Tempat tidur Nuchan nyaman…”, Daiki merasakan semakin lama matanya semakin berat
Nu menemukan Daiki terlelap ditempat tidurnya. Sesaat tatapannya terpaku pada wajah tidur Daiki yang begitu inoccent dan kemudian membentangkan selimut untuk Daiki.
DVD bertuliskan “The Rose Trims Again” masih tergeletak di lantai, Nu kemudian mengambilnya dan memasukkan ke dalam player.
Langit diluar telah berubah gelap. Ketika Daiki membuka matanya, ia melihat Nu, duduk menatap layar tv. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dilihat oleh Nu, tapi yang bisa ia pastikan, bahwa Nu sedang terisak.
Daiki beranjak dari tempat tidur Nu, dirasakan ia sudah diselimuti, karena bdannya tak terasa dingin lagi.
“Nuchan...”, panggil Daiki pelan, namun Nu tidak bergeming, hanya menatap layar tv. “Doushita no?”, tanya Daiki lagi, kini ia duduk disebelah Nu yang berlinang air mata.
Nu menggeleng, ia benci dilihat orang lain ketika ia sedang menangis, “Sudahlah Arioka-san...aku tak apa – apa....”, seketika Nu menghapus air matanya dengan sembarangan.
“Kau tidak baik – baik saja...”, jawab Daiki kesal karena Nu masih ingin terlihat kuat.
“Aku baik – baik saja...”, bantah Nu.
“Kalau begitu tersenyum...bukankah kau tidak apa – apa?”
Nu tak mengerti kenapa cowok yang kini duduk disebelahnya itu selalu saja ikut campur urusannya. Nu menoleh untuk memarahi Daiki, saat yang sama Daiki menatap Nu, jarak mereka terlalu dekat. Tanpa aba – aba, Daiki menyentuhkan bibirnya pada bibir Nu, mengecupnya pelan.
Mata Nu masih terbelalak, akan apa yang dilakukan Daiki. Tapi hal itu, dan juga kata-kata Daiki tentang membuatnya tersenyum, justru membuatnya semakin ingin menangis.
“A, ah..Nuchan tidak suka, ya? Ma, maafkan aku, tapi tolong berhenti menangis…”, ucap Daiki dengan nada sedikit panik.
Tak juga Nu berhenti menangis. Karna dalam pikirnya, alasannya untuk tersenyum hanyalah Kyo.
-----------------
“Terima kasih”, ujar Din singkat ketika menerima secangkir coklat panas dari tangan Yuya
“Tak mau bilang terima kasih juga tak masalah”, Yuya duduk di sofa yang berhadapan dengan Din, sesekali menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk
“Uh, terserah, deh…”, Din yang merasa sedang malas berdebat menyeruput coklat yang ada di tangannya, perlahan
“Ng, Dinchan…ternyata kamu cocok juga pakai bajuku”, Yuya melirik kearah Din dengan disertai senyum yang sedikit mengejek
Memang, karna bajunya yang basah, Din terpaksa harus mengganti bajunya. Dan dengan terpaksa, ia harus memakai baju milik Yuya yang memiliki ukuran tak jauh dengan ukurannya
“Diam, orang bodoh tak berhak berkomentar”, Din cemberut
“Heeeeh!”, dengan cepat Yuya beralih duduk kesebelah Din “Apanyaaa?! Aku tak mau dikatai bodoh sama orang bodoh yang bisanya cuma bilang orang lain ‘bodoh’, tapi tak pernah menyadari kalau sebenarnya dirinya sendiri yang bodoh…!”, Yuya dengan gemas menggoyang handuk di kepala Din, cukup keras hingga membuat Din berontak
“Yuya bodoooooooooh! Coklatnya tumpah!!”
Kontan, Yuya merubah posisinya sedikit menjauh
“Lihat. Jadi ketahuan, kan…yang sebenarnya bodoh itu siapa?!”, Dinchan menatap Yuya dengan membelalakkan matanya, sambil menunjuk kaos putih milik Yuya yang dipakainya namun sekarang dengan keadaan berlumur noda coklat
“Ah, ma…”, ucap Yuya tercekat “Sudah, sudah, cepat bersihkan dirimu, karna mungkin akan jadi lengket…”
“Ugh…!”, ujar Din agak kesal dan melempar handuk yang barusn dipakainya tepat ke wajah Yuya kemudian meninggalkan Yuya menuju kamar mandi
“Ugh juga”, Yuya hanya terdiam, tak bisa membalas
Din berjalan menuju kamar mandi keluarga Takaki, melalui beberapa ruangan yang salah satu diantaranya adalah kamar Jin.
Perasaan Din berbunga, melihat pintu kamar Jin sedikit terbuka, menandakan Jin sedang ada di dalam.
Senyum simpul terkembang di wajah Din, melihat punggung Jin terlihat dari luar walaupun hanya samar.
“Jin, tolong dengarkan aku! Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sungguh-sungguh, sedangkan kau sama sekali tak mau memberiku kesempatan untuk menjelaskan!”
mata Din terbelalak, melihat seorang gadis seusia Jin beradu mulut dengan laki-laki yang disukainya itu
“Sudahlah, Naomi..aku hanya…”, Jin nampak enggan melanjutkan kata-katanya
Gadis yang disebut Naomi itu mendekat, begitu dekat dengan Jin “Gomen ne…”, seraya Naomi memberikan sebuah kecupan lembut di bibir Jin
“..aku hanya cemburu…”, dan Jin membalas ciuman Naomi, kemudian menarik gadis itu berbaring di tempat tidurnya
Din tak bisa menahan air matanya, namun hanya bisa menangis tanpa suara.
“Benar, jadi ketahuan yang bodoh itu siapa…”, dengan suara yang sepelan mungkin, Yuya perlahan menutup pintu kamar Jin dari belakang Din yang masih berdiri terpaku
Air mata Din terus mengalir, sama sekali tak bisa berbalik ke belakang
“Tak masalah, kok...kalau aku meminjamkan bahuku sebentar”
“Yuya bodoh, bahumu terlalu tinggi…”, Din berbalik, membenamkan wajahnya di dada Yuya, terisak
Perlahan, tangan Yuya mendekap tubuh Din yang tampak rapuh itu, seraya berbisik, “Sebodoh apapun aku, aku tak akan membuatmu menangis seperti ini…”, Yuya berucap lirih, bahkan mungkin Din tak akan bisa mendengarnya.
-----------------------
Miyuy sibuk dengan ponselnya seharian ini. Py hanya memperhatikannya dengan sedikit bingung.
“Miyuy..kau baik – baik saja?”, tanya Py ketika melihat Miyuy tersenyum sendirian.
Miyuy terhenyak, tak sangka Py memerhatikannya, “Ah...aku baik – baik saja..hehehe..”, serunya salting karena ketahuan Py.
“Tadi aku bertanya, kau mau ikut ke kantin tidak?”, tanya Py lagi.
“Gomen..aku tak mendengarnya...”, Miyuy tersenyum, “Kau duluan aja..ne? nanti aku nyusul..”, jawab Miyuy.
Py melangkah sendirian membawa buku sketsanya seperti biasa. Ia benci sendirian. Tapi Din tampak sedang bad mood, dan segera menghilang ke Perpus. Opi dan Nu jarang ke kantin, dan menuju taman ketika istirahat. Ia tak suka perasaan sendirian seperti ini.
“Py py!!!”, teriak seseorang dari belakang.
Py berbalik dan mendapati seorang Hikaru menyapanya dengan senyum lebarnya, gigi gingsulnya tampak pula.
“Hikaru-kun?”, seru Py kaget.
“Mau kemana nona semanis kau berjalan sendirian?”, godanya pada Py.
Wajah Py kontan memerah, “Kantin...”, jawab Py sedikit berbisik.
“Kau sendirian? Mana teman – temanmu?”, tanya Hikaru melihat sekeliling Py.
Py menggeleng, “Mereka sedang sibuk...Hikaru juga sendirian..ne?”
Hikaru tersenyum, “Mereka juga sedang sibuk. Sepertinya kita senasib...jadi..tuan putri...mau ke kantin bersamaku?”, tanya Hikaru ceria.
Py merasakan pipinya makin terbakar karena kata – kata Hikaru. Mereka pun ke kantin sekolah bersama. Hikaru memang teman yang menyenangkan. Py sendiri merasakan ia selalu senang jika berada dekat dengan Hikaru. Py tak cukup berpengalaman dengan cowok manapun. Sifat pemalunya membuat ia susah untuk bergaul dengan cowok. Tapi apakah Hikaru suka padanya? Kenapa Hikaru begitu manis padanya? Untuk berharap pun Py tidak berani.
--------------
Inoo melangkah gamang. Bingung karena dirinya sudah setahun tidak menginjak ke SMA. Rasanya asing walaupun seharusnya ia juga berada disini. Sayangnya ia sudah lulus tahun kemarin.
Sebuah bungkusan ada di tangannya. Sebuah sepatu basket, milik Opi. Inoo memang seharusnya tidak memberi les hari ini. Tapi karena ada urusan, Inoo ke rumah keluarga Opi, ternyata sepatu basket milik Opi tertinggal, dan ibunya meminta Inoo ke SMA untuk sekedar memberikan sepatu itu. Kebetulan apartemennya satu jalur dengan SMA tempat Opi sekolah.
Sekolah sudah lengang, tentu saja karena jam pulang sekolah sudah lewat. Inoo diberi nomer telepon Opi, ia mendialnya, tak lama telepon itu diangkat.
“Moshi – moshi?”, angkat Opi.
“Moshi – moshi..Opi-chan? Inoo desu...”, jelas Inoo.
“Eh?? Inoo?? Ada apa?”
“Kau dimana? Aku membawakan sepatu basketmu..tadi kau meminta Yuuri yang kesini kan? Kebetulan apartemenku searah dengan SMA mu..maka aku yang membawakannya.”, jelas Inoo panjang lebar.
Opi masih shock mendengar suara Inoo di ponselnya, segera tersadar ketika Nu menyenggol tangannya.
“Ah!! Sokka...kau tunggu di gym saja..aku segera kesana.”, Opi segera menutup teleponnya.
“Siapa?”, tanya Nu.
“Inoo Kei...aku harus ke gym!!”, seru Opi mengambil tasnya.
Nu hanya mengangkat bahu dan meninggalkan kelas.
Sementara itu Inoo sedikit kesulitan menemukan dimana Gym berada. Ia berjalan menyusuri koridor, pendengarannya menangkap melodi – melodi yang dirasanya sangat familiar. Inoo terus berjalan ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari ruang kesenian.
Melodi itu, permainan piano seorang siswi.
Tenang dan anggun.
Ketika melihat sosok itu dari belakang, Inoo segera dapat mengenali, lagu kesukaannya sejak ia bisa memainkan piano, dan juga pemain dari lagu itu.
Inoo terdiam sebentar, berusaha tak terlihat terlalu kaget, “Aya-chan?”, panggil Inoo lirih.
Gadis yang dipanggil Aya-chan itu tampaknya sadar bahwa ia sekarang tidak sendirian di ruangan itu, berbalik untuk melihat siapa yang datang.
“Eh?!! Kei-chaaaann?”, serunya takjub.
“Jadi...kenapa kau kesini? Mencariku? Hihihi..”, kikik Ayame ketika akhirnya Ayame mengantar Kei ke gym.
Inoo tertunduk, “Tidak..aku hanya mengantarkan sepatu basket ini...Aya-chan..genki da ne?”
Ayame mengangguk, “Un!! Genki desu!! Kei-chan wa? Suasana tempat les tidak semenyenangkan saat Kei-chan disana..”, jelas Ayame sambil cemberut.
Inoo menatap Ayame. Itu masih Ayame yang dulu, Ayame yang ia kenal. Ayame adalah teman les pianonya, tepatnya mereka seharusnya seangkatan. Namun seperti diketahui, Inoo mengikuti akselerasi. Inoo dan Ayame dulu selalu bersama. Ayame yang manja selalu dilindungi oleh Inoo.
“Aya-chan...masih les piano?”, tanya Inoo lagi.
Ayame beranjak dan mengambil sebuah bola basket, “Masih...kita akan adakan konser...Kei-chan ikut saja..aku selalu tak sinkron dengan pemain lain...partnerku yang terbaik hanya Kei-chan...”, kata Ayame lalu melemparkan bola basket itu, tapi ia bukan pro sehingga sama sekali tak menyentuh ringnya, “Itaai~”, keluh Ayame tiba - tiba.
Inoo secara refleks melemparkan bungkusan sepatu basket Opi dan berlari menuju Ayame.
“Daijoubu?”, tanya Inoo meraih tangan Ayame.
Ayame menggeleng, “Hanya sedikit terlipat tadi..hehehe, Kei-chan terlalu mengkhawatirkan aku..”, katanya lalu tersenyum.
Inoo mengacak pelan rambut Ayame, “Baka!! Tanganmu itu lebih berharga dari bola basket manapun..mengerti?!”
Ayame mengagguk, “Mengerti..aku mengerti Kei-chan...”
Inoo tersenyum, kembali memeriksa tangan Ayame.
Dada Opi terasa sesak. Oke...dia datang disaat yang tidak tepat. Opi tak akan se shock ini jika ia tak melihat senyum Inoo. Senyumnya berbeda dari biasanya. Dengan sekali lihat pun ia tahu, Ayame adalah orang yang berharga untuk Inoo. Mereka terlihat terlalu sempurna berdampingan. Tidak ada yang tidak kenal Sakurazawa Ayame. Cewek yang sekarang menjabat sekertaris OSIS itu dikenal sebagai pianis handal, dia juga kaya, cantik dan anggun.
‘Aya-chan? Kei-chan?’ mereka sudah dekat, itu pasti. Pandangan Inoo yang melindunginya, senyum hangatnya...bukan untuk dirinya. Dadanya seakan ingin meledak, untuk pertama kali ia merasa tak punya kekuatan apapun. Entah kenapa buatnya menangis itu ada dalam kamus seorang Opi.
“Sial!!”, bentaknya pelan pada dirinya sendiri, “Dia bukan siapa – siapaku!! Tapi kenapa rasanya tak rela melihatnya dengan orang lain..”, air matanya kembali mengalir.
--------------
From: Yabu-kun
Subject: Morning
Ohayou~ apakah aku mengganggumu terlalu pagi?
*laugh* hope you’ll ok...^^
To: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Ohayou~
Aku sudah bangun dari tadi Yabu-kun...
dan aku baik – baik saja...*smile*
ketemu di sekolah..ne?
From: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Yup..ketemu di sekolah...
Cuaca hari ini cerah sekali..
(image 12)
--kireii na sora—
To: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Gambar langit yang indah sekali..
Kau mengambilnya dari jendela kamarmu?
(image 13)
---sora from my window---
From: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Aku mengambilnya dari jendela kamarku..
*smile* aku akan membalasmu nanti...
Sepertinya ibuku sudah mulai cerewet,,
Ne?
Miyuy menutup slide Ponselnya. Tersenyum sendiri pada layar Ponselnya yang menunjukkan langit sore hari dari jendela kelas Yabu, foto itu Yabu kirimkan kemarin sore. Miyuy dan Yabu sudah sering saling mengirimkan mail sejak mereka terjebak di sekolah tempo hari. Sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat. Setidaknya itulah yang Miyuy rasakan.
Miyuy memantapkan langkahnya. Hari ini ia membawakan bekal untuk Yabu. Ini surprise, ia sendiri hanya ingin memperlihatkan hasil masakannya pada Yabu. Tapi Miyuy tak ingin pergi sendiri, ia melirik ke semua temannya yang sedang tidak bersemangat.
Din hanya tertunduk, menatap layar ponselnya dengan sedih. Nu sedikit terlihat bingung sejak kemarin. Bahkan seorang Opi matanya terlihat bengkak, apa ia menangis? Seorang Opi??!!
Miyuy menatap Py yang tampak sibuk dengan sketsanya.
“Py...maukah kau mengantarku?”, tanya Miyuy takut mengganggu Py yang sedang menggambar.
Py menatap Miyuy dan mengangguk, “Baiklah...”
“Mereka kenapa ya?”, tanya Miyuy pada Py.
Py menggeleng, “Aku tak tahu, kenapa mereka terlihat seperti habis menangis ya? Bahkan Opi juga begitu...”
Tak terasa mereka sudah ada di depan kelas Yabu. Py bingung kenapa mereka kesana.
“Miyuy...apa yang akan kita lakukan?”, tanya Py bingung.
Miyuy menunjukkan sebuah bungkusan bento yang cantik. “Aku mau memberikan ini..”, kata Miyuy tersipu.
“Untuk Kota-kun?”, tanya Py.
Miyuy mengagguk
“Wah....Miyuy ternyata sudah dekat dengan Kota-kun ya?”
“Begitulah..”, jawab Miyuy tersipu lagi.
Miyuy membuka slide Ponselnya.
To: Yabu-kun
Subject:
Yabu-kun..aku diluar kelasmu...
Bisakah keluar sebentar...
^^
Yabu kaget menerima pesan dari Miyuy. Apa yang Miyuy lakukan di luar kelasnya?
“Anou...Miyuy...Aku pergi ke toilet sebentar ya?”, pamit Py tiba – tiba.
Miyuy hanya mengagguk karena saat itu Yabu keluar dari kelasnya.
“Miyuy..doushita no?”, tanya Yabu bingung.
Miyuy menyerahkan kotak bento nya, “Ini...untuk Yabu-kun...”, ujarnya malu – malu.
Yabu tersenyum. Mengambil bungkusan di tangan Miyuy. “Arigatou na...Miyuy-chan...”, katanya lalu tersenyum.
Py baru saja keluar dari kamar mandi, ketika mendapati seorang Hikaru sedang di koridor.
Jantungnya seketika itu seakan berdetak lebih cepat.
“Betulkah nona manis? Hahahaha..”, tawa Hikaru begitu keras sehingga Py bisa mendengarnya.
Nona manis? Hmmm...Py memberanikan diri untuk mengintip sedikit apa yang terjadi. Hikaru memang populer diantara gadis – gadis, tapi Py tak menyangka Hikaru memang baik pada semua gadis. Lalu kenapa ia merasa special kemarin? Dia hanya berangan tentang Hikaru baik padanya, Hikaru menyukainya itu hanya ada dalam pikirannya.
Py seketika itu berlari ke atap sekolah, menangis tanpa suara, kecewa terhadap dirinya sendiri. Ia hanya terlalu banyak berkhayal, ia harusnya tidak berfikiran bahwa seorang Hikaru bisa menyukainya.
Terisak
Hatinya sakit tanpa ia sadari, ia benar – benar menyukai Hikaru.
Miyuy mengejar Py yang tadi berlari ke atap.
“Py...daijoubu?”
Py hanya terus terisak.
“Hahahaha....”, terdengar tawa dari beberapa orang.
Miyuy merapatkan diri dengan Py dibalik sebuah tembok, berharap tidak dilihat.
“Sudahlah Yabu..tak perlu menutupinya lagi...kau punya pacar kan?”, tanya seseorang.
Miyuy mendongak, dan menemukan Yabu, Hikaru, Taiyou dan Shoon disana.
“Benarkah?”, tanya Hikaru yang sejak tadi tidak ada di kelas.
“Iya benar..bahkan ia diberi bento...kau pacaran dengan Miyuy itu kan? Dia anak kelas B kan?”, kata Shoon tertawa.
“Chigau yo!!!”, bantah Yabu, “Aku tidak ada hubungan apa – apa dengan gadis itu!!”, katanya tersipu.
“Tapi kau suka padanya kan?”, tuduh Taiyou dengan sedikit memaksa.
“Chigau!! Aku tak menyukainya...”, bantah Yabu lagi.
Kini giliran Miyuy yang menangis. Entah apa yang Yabu pikirkan? Jadi ia hanya bermain – main dengan semua mail yang sudah dia kirimkan? Atau bagaimana? Miyuy bingung, dan memeluk Py yang juga masih terisak.
Siang itu begitu menyakitkan bagi mereka berdua.
TBC~
N.B: Saia dan anak saia kembaliiiiiiii~ wakakakak...gomen telat banget....qta berdua mengalami ke ngestagan *bahasa apa ini* tingkat tinggi...jadi males nulis...
ini sekalian ultah hika deh...
hika..otanjoobi omedetou~
hahahahaha...
^^
silahkan dibaca..semoga chap selanjutnya lancar, cuma berjarak seminggu ato 2 minggu...
~dinchan to nuchan ryori~
Senin, 14 September 2009
[FANFIC] Lucy -oneshoot-
nyahahahahaha
akir nya, saia muncul lagi di warung desperate housewives
mau post fanfic, ah XD
fanfic jyaniz seperti biasa XD
enjoy~
Title : Lucky –oneshoot-
Author : Nu Niimura
Genre : Fluff, a lil bit Shounen Ai *is Ramadhan now, yaoi is not allowed*
Pairing / Band : YabuxInoo / Hey! Say! JUMP
Fandom : Hey! Say JUMP, Johnny’s Entertainment
Rating : PG-13
Disclaimer : Kei Inoo and Kota Yabu belong to Johnny’s Entertainment. I don’t own them, but the ficcie is mine.
Warning : A lil bit Shounen Ai, pujian berlebihan terhadap makhluk sipit bernama Kei Inoo =____=
A/N : Another HSJ ficcie of mine. Tolong abaikan fakta kalo skolaan Yabu bukan di Horikoshi. Belakangan ini saia mikir kalo Inoo jadi semakin uke XD *lol*. Yang bilang Inoo gapantes maenan ama sport, angkat tangan ! *BGM: Sadie – CHILDREN OF DESPAIR*
Tahun ajaran baru. Bukan hanya berarti banyak siswa baru yang masuk ke sekolah untuk menggantikan siswa yang telah naik kelas, begitu juga dengan team basket SMA Horikoshi. Tahun ajaran baru di sekolah membuat mereka harus melakukan seleksi untuk anggota baru.
“Berikutnya”, seru Kota Yabu, kapten team basket SMA Horikoshi yang sudah sejak beberapa menit lalu menyaksikan perkenalan dari calon anggota baru team basket
“Inoo Kei desu. Aku akan bermain sebaik yang aku bisa. Mohon bimbingannya”
Yabu agak terheran melihat sosok ramah itu memperkenalkan diri dan sekarang membungkukkan badan di depannya
“Inoo-kun? Inoo-kun dari kelas 2A, kan?”, tanya Yabu dengan nada sedikit bingung
“Sou desu”, jawab Inoo dengan tak lupa menyertakan senyuman ramahnya
Yabu sama sekali tak menyangka, Inoo Kei akan mengajukan diri untuk bergabung kedalam tim basket sekolah, apalagi setelah ia duduk dibangku kelas 2, siswa kelas 2 yang mendaftar di tahun ajaran baru memang jarang terjadi di team nya.
Kei Inoo, tak ada satupun di Horikoshi yang tidak mengenalnya. Siswa teladan dari kelas 2A. Inoo yang jadi populer di sekolah bukan hanya karna wajahnya yang tampan, tapi juga karna otak nya yang cerdas. Lain hal nya dengan Yabu, kapten team basket sekolah dari kelas 2C yang tak kalah populer nya. Yabu memang cuek dan tidak memperhatikan Inoo, tapi tetap saja ia tahu beberapa hal tentang Inoo karna banyak siswi membicarakan Inoo. Yang Yabu tahu, Inoo pernah tergabung dalam klub musik sekolah dan mahir memainkan piano. Mau jujur ataupun tidak, permainan piano Inoo sempat memukau Yabu pada saat festival kebudayaan tahun lalu.
“Are, Inoo-kun, apa yang mendorongmu untuk bergabung dengan team basket?”
Dipikiran Yabu, Inoo adalah seorang kutu buku yang hanya biasa belajar atau bermain piano
“Aku ingin mencoba sesuatu yang baru diluar kebiasaanku. Apalagi melihat aksi Yabu-kun di kejuaraan Nasional tahun lalu, aku melihatnya sebagai hal yang hebat…”, jawab Inoo lancar
“O, oh…begitu”, mau diakui atau tidak, Yabu sedikit tersipu mendengar jawaban dari Inoo
Ya, tahun lalu team basket Horikoshi sempat menempati peringkat kedua di kejuaraan nasional. Kemampuan Yabu membuatnya langsung diterima sebagai anggota team inti sekalipun masih kelas 1 dan langsung dinobatkan sebagai kapten begitu naik ke kelas 2.
“Baiklah, Inoo-kun. Jangan berharap karna kau sudah kelas 2 dan juga siswa populer di Horikoshi, kami akan menerimamu dengan mudah. Tunjukkan permainanmu !”, seru Yabu seraya melempar bola basket kearah Inoo
Melihat Inoo bergerak lincah ditengah lapangan membuat Yabu terpukau. Selama ini Yabu yang selama ini melihat Inoo sebagai siswa yang hanya pintar dalam hal belajar, begitu terpukau melihat permainan basket Inoo. Drible nya memang sedikit kurang mantap, tapi tembakan-tembakannya dominan tepat. Baik rebound, slam dunk maupun three point.
~~~
“Ini”, Inoo menawarkan sebotol air mineral pada Yabu
“Terimakasih”, jawab Yabu menerima botol yang diberikan Inoo padanya
Sii__________________________________________ing
Selama beberapa menit kedua nya terdiam.
“Ng, Inoo-kun…bagaimana pendapatmu setelah beberapa minggu bergabung dengan team basket?”, akhirnya Yabu membuka pembicaraan diantara mereka
“Menyenangkan. Selama ini, aku hanya memandang kalian yang sedang latihan melalui jendela perpustakaan. Ternyata bermain dilapangan juga menyenangkan. Apalagi karna ada Yabu-kun. Yabu-kun kapten yang hebat…”, tanpa melihat kearah lawan bicaranya, Inoo yang sejak tadi duduk disamping Yabu terus bertutur lancar sembari tersenyum
Sesaat Yabu menolehkan kepalanya, menatap wajah Inoo yang tersenyum, begitu tenang dan ramah. Tanpa disadari, Yabu sudah tidak mendengarkan apa yang dikatakan Inoo
“Manis…”, ucap Yabu tanpa sadar
“Ng? Ada apa, Yabu-kun? Apanya yang manis?”, tanya Inoo, mengacaukan lamunan Yabu
“Eh! Ng, itu…minumannya manis. Pocary sweat rasanya manis”, Yabu sebisa mungkin mengeluarkan setiap kata yang terlintas dipikirannya
“Pocary sweat? Tapi kan kita hanya minum air mineral…”, Inoo terheran
“Ng, ya…aku tahu itu”, Yabu hanya bisa menundukkan kepalanya, memusatkan pandangan pada sepatu basket yang dipakainya. Semata hanya untuk menyembunyikan wajahnya yang mungkin sekarang sudah berubah merah karena malu
“Ha ha ha, Yabu-kun ada-ada saja”, Inoo tertawa, tanpa sadar Yabu berpikir Inoo akan terlihat lebih manis ketika tertawa seperti itu dan ia ingin melihatnya, namun menyadari bahwa mukanya sekarang memang sudah berubah merah, membuat Yabu terpaksa memilih untuk hanya melihat sepatu basketnya saja
“Sudah sore, aku mau pulang…”, ujar Yabu seraya bangkit dari duduknya dengan sebisa mungkin Inoo tak melihat wajahnya
“Yabu-kun, bisa kita pulang sama-sama?”, tanya Inoo
“Y, ya…cepat ganti bajumu”, jawab Yabu dan kemudian berjalan menuju ruang ganti team diikuti oleh Inoo
~~~
Yabu dan Inoo sudah ada di kereta. Tapi penuhnya kereta membuat mereka harus berdiri berdesakkan. Dan entah suatu kesialan atau keberuntungan untuk Yabu, ia harus berdiri tepat berhadapan dengan Inoo.
Sepanjang jalan, Yabu terus berusaha untuk melihat kearah lain selain Inoo, tapi tidak bisa karna kereta saat itu memang sedang penuh.
Beberapa kali, Yabu kembali mengamati wajah Inoo yang tampak sedikit lelah namun tetap terlihat manis.
“Huwaaa”, kereta mengerem, membuat penumpang yang berdiri sedikit terdorong, tak terkecuali Inoo, ia menabrak Yabu yang berdiri di depannya dengan sukses. Tinggi Inoo yang tidak terlampau jauh dari Yabu membuat mereka bertatapan dalam jarak yang sangat dekat
“Gomennasai…”, kata Inoo membetulkan posisi berdirinya
“Daijoubu dayou, memang sering terjadi”, Yabu sama sekali tak bisa melihat kearah Inoo
“Soshite, aku turun distasiun ini. Sampai jumpa, Yabu-kun…”, ujar Inoo bersiap mencari jalan keluar dari kereta
“Ya, sampai jumpa…”, balas Yabu sekenanya
“Ng, Inoo-kun…”, Yabu kembali memanggil Inoo ketika Inoo sudah sedikit menjauh darinya
“Ya?”, Inoo kembali menoleh
“Tidurlah yang cukup”
Dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pelipis matanya dan tentu saja dengan disertai senyuman khasnya, Inoo menjawab “Siap, kapten”
Wajah Yabu kembali memerah, ia sendiri tak tahu kenapa ia harus memanggil Inoo kembali dan mengucapkan kata-kata itu. Setidaknya, ia sekarang tak harus menyembunyikan wajahnya karna Inoo turun dari kereta.
Bahkan saat kereta kembali berjalan, Yabu masih terus termangu, tetap berdiri sekalipun bangku untuk duduk sudah lumayan kosong.
“Hah? Stasiun mana ini?”, Yabu tersadar ketika kereta kembali berhenti. Ternyata stasiun dimana ia harus turun sudah terlewat.
~~~
“Uughh…”, sejak beberapa jam lalu, Yabu berusaha keras menyelesaikan soal-soal matematika dihadapannya, tapi tak juga selesai karna konsentrasinya selalu terbelah pada Inoo yang sore tadi sukses membuatnya salah turun stasiun
Rrrrrrrr~
Ponsel Yabu bergetar. Sebuah panggilan masuk.
Inoo Kei calling…
Yabu sedikit tak percaya dengan apa yang ia baca di layar ponselnya
“Moshi moshi, Yabu desu”, jawab Yabu sebiasa mungkin
“Apa aku mengganggumu, Yabu-kun?”
“Ng, tidak…”, Yabu berbohong “Ada apa Inoo-kun?”
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang tak ada kerjaan, jadi ingin ngobrol dengan Yabu-kun…”
Yabu terdiam sesaat “Bagaimana dengan belajar? PR nya sudah selesai?”
“Sudah selesai sejak tadi, karna nya aku agak bosan…”
“Begitu ya…”
Keduanya terdiam selama beberapa menit
“Hi hi hi hi…”, Yabu bisa jelas mendengar suara Inoo yang terkikik diseberang sana
“Eh? Ada apa, Inoo-kun?”
“Tidak, tidak…tak ada apa-apa…”, jawab Inoo “Oh ya, besok hari valentine, bukan? Pasti Yabu-kun akan menghabiskan hari bersama pacar Yabu-kun, senangnya…”
“A, ah..aku tak punya pacar?”
“Uso~ Yabu-kun pasti bercanda…!”
“Uso jyanai yo”, jawab Yabu, beruntung ia tak harus menyembunyikan wajahnya yang malu-malu dari Inoo
“Tapi Yabu-kun pasti akan dapat banyak coklat, kan?”
“Pasti Inoo-kun juga…”
Obrolan telepon antara Yabu dan Inoo terus berjalan hingga malam semakin larut. Bahkan Yabu melupakan PR matematikanya.
~~~
Keesokan harinya, di sekolah
“Hh~”, Yabu menghembuskan nafas, menyandarkan punggung di pintu gudang peralatan olahraga yang dimasukinya
“Yabu-kun sering menghabiskan jam istirahat di gudang peralatan olahraga, ya?”, suara itu, suara yang sudah tak lagi asing
Dan tak lama kemudian, Yabu sudah bisa melihat sosok berwajah tenang itu tersenyum padanya, Inoo
“Inoo-kun?”, Yabu seakan tak percaya
Tujuannya bersembunyi diruang peralatan olahraga dari gadis-gadis yang histeris ingin memberinya coklat valentine malah membawanya berduaan dengan Inoo
“Mereka merepotkan”, ujar Yabu, duduk disamping Inoo yang sudah lebih dahulu duduk bersandar pada papan lompat
“Hi hi”, Inoo hanya terkikik “Tapi yabu-kun pasti sudah dapat banyak coklat di loker, kan?”
“Kamu juga, kan?”
“Tapi Yabu-kun pasti dapat lebih banyak…”
“Mana mungkin, kamu yang dapat lebih banyak…”
“Yabu-kun dapat lebih banyak”
“Bukan”
“Iya”
“Ha ha ha”, keduanya terbahak, menyadari konyolnya pembicaraan mereka
“Ng, Yabu-kun…aku punya ini, makanlah, Yabu-kun belum makan siang, kan?”, ujar Inoo mengeluarkan sebuah waffle coklat dari saku celananya
“E? Nani kore?”
“Anggap saja coklat valentine dariku untuk Yabu-kun…”
Wajah Yabu seketika kembali berubah memerah
“Ma, mana ada yang begitu, menerima coklat valentine dari sesama laki-laki!”
“Kalau begitu kita makan sama-sama…”, tanpa persetujuan Yabu, Inoo membelah dua waffle nya dan memberikan satu bagian pada Yabu
Walaupun dengan menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah, akhirnya Yabu memakan waffle pemberian Inoo. Ia merasa aneh, padahal selama ini, coklat valentine yang ia dapatkan sama sekali tak pernah dicicipi.
“Harusnya, waktu mau bersembunyi, kita bwa kotak bekal, ya…”, Inoo berujar tiba-tiba
“Ng, Inoo-kun…dibibirmu ada coklat…”
“Eh?”
Yabu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Inoo, dan dengan alasan itu, mendaratkan bibirnya dengan lembut di bibir Inoo.
“Ko-chan? Ko-chan?”
Yabu mendengar suara itu memanggil manggil namanya. Suara dari seorang yang biasa memanggilnya dengan sebutan itu
“Inoo-kun?! Maaf!!”, Yabu terbelalak, sangat kaget hingga dirinya terjatuh dari sofa tempat ia tidur
“Inoo-kun? Maaf?”, Inoo memiringkan kepalanya, bingung
“Eh? Kei-chan? Kita tidak sungguhan…ng…”
“Ah, aku tahu! Ko-chan, tadi kau tertidur lumayan lama, bahkan sempat mengigau dengan menyebut-nyebut ‘Inoo-kun’…”, Inoo menjelaskan
Dalam hatinya, Yabu berteriak. Namun, hanya bisa menyembunyikan wajah merahnya
“Ko-chan, kau memimpikan aku, ya?”, tanya Inoo dengan nada sedikit menggoda
“Tidak”, Yabu berbohong
“Bohong! Ayo ceritakan, ceritakan…”, Inoo menarik-narik lengan baju Yabu
“Tidak ada cerita…”, wajah Yabu menjadi semakin merah
“Ya sudah kalau begitu. Aku membangunkanmu karna fitting baju kita sudah hampir dimulai. Jadi, ayo…”, Inoo berdiri, mengulurkan sebelah tangannya pada Yabu yang masih terduduk di lantai. Tersenyum
Yabu selalu menyukai senyuman itu, seperti senyuman seorang Kei Inoo yang ramah dalam mimpinya. Selalu nampak manis dimata Yabu
“Andai saja Kei-chan perempuan…”, pikir Yabu “Tapi, dengan beginipun, aku bersyukur karna bisa memilikinya…
Sahabatku…”
“Apa ini?”, tanya Inoo sedikit heran ketika Yabu merangkul lehernya dari belakang
“Aku baru bangun dari tidur, kakiku masih agak lemah…”, jawab Yabu
“Banyak alasan…”, Inoo sedikit berkeluh, namun Yabu tahu, Inoo pasti tidak keberatan
“He he”
= OWARI =
comments are loooooooooooooveeeeeeeeeeee <3
akir nya, saia muncul lagi di warung desperate housewives
mau post fanfic, ah XD
fanfic jyaniz seperti biasa XD
enjoy~
Title : Lucky –oneshoot-
Author : Nu Niimura
Genre : Fluff, a lil bit Shounen Ai *is Ramadhan now, yaoi is not allowed*
Pairing / Band : YabuxInoo / Hey! Say! JUMP
Fandom : Hey! Say JUMP, Johnny’s Entertainment
Rating : PG-13
Disclaimer : Kei Inoo and Kota Yabu belong to Johnny’s Entertainment. I don’t own them, but the ficcie is mine.
Warning : A lil bit Shounen Ai, pujian berlebihan terhadap makhluk sipit bernama Kei Inoo =____=
A/N : Another HSJ ficcie of mine. Tolong abaikan fakta kalo skolaan Yabu bukan di Horikoshi. Belakangan ini saia mikir kalo Inoo jadi semakin uke XD *lol*. Yang bilang Inoo gapantes maenan ama sport, angkat tangan ! *BGM: Sadie – CHILDREN OF DESPAIR*
Tahun ajaran baru. Bukan hanya berarti banyak siswa baru yang masuk ke sekolah untuk menggantikan siswa yang telah naik kelas, begitu juga dengan team basket SMA Horikoshi. Tahun ajaran baru di sekolah membuat mereka harus melakukan seleksi untuk anggota baru.
“Berikutnya”, seru Kota Yabu, kapten team basket SMA Horikoshi yang sudah sejak beberapa menit lalu menyaksikan perkenalan dari calon anggota baru team basket
“Inoo Kei desu. Aku akan bermain sebaik yang aku bisa. Mohon bimbingannya”
Yabu agak terheran melihat sosok ramah itu memperkenalkan diri dan sekarang membungkukkan badan di depannya
“Inoo-kun? Inoo-kun dari kelas 2A, kan?”, tanya Yabu dengan nada sedikit bingung
“Sou desu”, jawab Inoo dengan tak lupa menyertakan senyuman ramahnya
Yabu sama sekali tak menyangka, Inoo Kei akan mengajukan diri untuk bergabung kedalam tim basket sekolah, apalagi setelah ia duduk dibangku kelas 2, siswa kelas 2 yang mendaftar di tahun ajaran baru memang jarang terjadi di team nya.
Kei Inoo, tak ada satupun di Horikoshi yang tidak mengenalnya. Siswa teladan dari kelas 2A. Inoo yang jadi populer di sekolah bukan hanya karna wajahnya yang tampan, tapi juga karna otak nya yang cerdas. Lain hal nya dengan Yabu, kapten team basket sekolah dari kelas 2C yang tak kalah populer nya. Yabu memang cuek dan tidak memperhatikan Inoo, tapi tetap saja ia tahu beberapa hal tentang Inoo karna banyak siswi membicarakan Inoo. Yang Yabu tahu, Inoo pernah tergabung dalam klub musik sekolah dan mahir memainkan piano. Mau jujur ataupun tidak, permainan piano Inoo sempat memukau Yabu pada saat festival kebudayaan tahun lalu.
“Are, Inoo-kun, apa yang mendorongmu untuk bergabung dengan team basket?”
Dipikiran Yabu, Inoo adalah seorang kutu buku yang hanya biasa belajar atau bermain piano
“Aku ingin mencoba sesuatu yang baru diluar kebiasaanku. Apalagi melihat aksi Yabu-kun di kejuaraan Nasional tahun lalu, aku melihatnya sebagai hal yang hebat…”, jawab Inoo lancar
“O, oh…begitu”, mau diakui atau tidak, Yabu sedikit tersipu mendengar jawaban dari Inoo
Ya, tahun lalu team basket Horikoshi sempat menempati peringkat kedua di kejuaraan nasional. Kemampuan Yabu membuatnya langsung diterima sebagai anggota team inti sekalipun masih kelas 1 dan langsung dinobatkan sebagai kapten begitu naik ke kelas 2.
“Baiklah, Inoo-kun. Jangan berharap karna kau sudah kelas 2 dan juga siswa populer di Horikoshi, kami akan menerimamu dengan mudah. Tunjukkan permainanmu !”, seru Yabu seraya melempar bola basket kearah Inoo
Melihat Inoo bergerak lincah ditengah lapangan membuat Yabu terpukau. Selama ini Yabu yang selama ini melihat Inoo sebagai siswa yang hanya pintar dalam hal belajar, begitu terpukau melihat permainan basket Inoo. Drible nya memang sedikit kurang mantap, tapi tembakan-tembakannya dominan tepat. Baik rebound, slam dunk maupun three point.
~~~
“Ini”, Inoo menawarkan sebotol air mineral pada Yabu
“Terimakasih”, jawab Yabu menerima botol yang diberikan Inoo padanya
Sii__________________________________________ing
Selama beberapa menit kedua nya terdiam.
“Ng, Inoo-kun…bagaimana pendapatmu setelah beberapa minggu bergabung dengan team basket?”, akhirnya Yabu membuka pembicaraan diantara mereka
“Menyenangkan. Selama ini, aku hanya memandang kalian yang sedang latihan melalui jendela perpustakaan. Ternyata bermain dilapangan juga menyenangkan. Apalagi karna ada Yabu-kun. Yabu-kun kapten yang hebat…”, tanpa melihat kearah lawan bicaranya, Inoo yang sejak tadi duduk disamping Yabu terus bertutur lancar sembari tersenyum
Sesaat Yabu menolehkan kepalanya, menatap wajah Inoo yang tersenyum, begitu tenang dan ramah. Tanpa disadari, Yabu sudah tidak mendengarkan apa yang dikatakan Inoo
“Manis…”, ucap Yabu tanpa sadar
“Ng? Ada apa, Yabu-kun? Apanya yang manis?”, tanya Inoo, mengacaukan lamunan Yabu
“Eh! Ng, itu…minumannya manis. Pocary sweat rasanya manis”, Yabu sebisa mungkin mengeluarkan setiap kata yang terlintas dipikirannya
“Pocary sweat? Tapi kan kita hanya minum air mineral…”, Inoo terheran
“Ng, ya…aku tahu itu”, Yabu hanya bisa menundukkan kepalanya, memusatkan pandangan pada sepatu basket yang dipakainya. Semata hanya untuk menyembunyikan wajahnya yang mungkin sekarang sudah berubah merah karena malu
“Ha ha ha, Yabu-kun ada-ada saja”, Inoo tertawa, tanpa sadar Yabu berpikir Inoo akan terlihat lebih manis ketika tertawa seperti itu dan ia ingin melihatnya, namun menyadari bahwa mukanya sekarang memang sudah berubah merah, membuat Yabu terpaksa memilih untuk hanya melihat sepatu basketnya saja
“Sudah sore, aku mau pulang…”, ujar Yabu seraya bangkit dari duduknya dengan sebisa mungkin Inoo tak melihat wajahnya
“Yabu-kun, bisa kita pulang sama-sama?”, tanya Inoo
“Y, ya…cepat ganti bajumu”, jawab Yabu dan kemudian berjalan menuju ruang ganti team diikuti oleh Inoo
~~~
Yabu dan Inoo sudah ada di kereta. Tapi penuhnya kereta membuat mereka harus berdiri berdesakkan. Dan entah suatu kesialan atau keberuntungan untuk Yabu, ia harus berdiri tepat berhadapan dengan Inoo.
Sepanjang jalan, Yabu terus berusaha untuk melihat kearah lain selain Inoo, tapi tidak bisa karna kereta saat itu memang sedang penuh.
Beberapa kali, Yabu kembali mengamati wajah Inoo yang tampak sedikit lelah namun tetap terlihat manis.
“Huwaaa”, kereta mengerem, membuat penumpang yang berdiri sedikit terdorong, tak terkecuali Inoo, ia menabrak Yabu yang berdiri di depannya dengan sukses. Tinggi Inoo yang tidak terlampau jauh dari Yabu membuat mereka bertatapan dalam jarak yang sangat dekat
“Gomennasai…”, kata Inoo membetulkan posisi berdirinya
“Daijoubu dayou, memang sering terjadi”, Yabu sama sekali tak bisa melihat kearah Inoo
“Soshite, aku turun distasiun ini. Sampai jumpa, Yabu-kun…”, ujar Inoo bersiap mencari jalan keluar dari kereta
“Ya, sampai jumpa…”, balas Yabu sekenanya
“Ng, Inoo-kun…”, Yabu kembali memanggil Inoo ketika Inoo sudah sedikit menjauh darinya
“Ya?”, Inoo kembali menoleh
“Tidurlah yang cukup”
Dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pelipis matanya dan tentu saja dengan disertai senyuman khasnya, Inoo menjawab “Siap, kapten”
Wajah Yabu kembali memerah, ia sendiri tak tahu kenapa ia harus memanggil Inoo kembali dan mengucapkan kata-kata itu. Setidaknya, ia sekarang tak harus menyembunyikan wajahnya karna Inoo turun dari kereta.
Bahkan saat kereta kembali berjalan, Yabu masih terus termangu, tetap berdiri sekalipun bangku untuk duduk sudah lumayan kosong.
“Hah? Stasiun mana ini?”, Yabu tersadar ketika kereta kembali berhenti. Ternyata stasiun dimana ia harus turun sudah terlewat.
~~~
“Uughh…”, sejak beberapa jam lalu, Yabu berusaha keras menyelesaikan soal-soal matematika dihadapannya, tapi tak juga selesai karna konsentrasinya selalu terbelah pada Inoo yang sore tadi sukses membuatnya salah turun stasiun
Rrrrrrrr~
Ponsel Yabu bergetar. Sebuah panggilan masuk.
Inoo Kei calling…
Yabu sedikit tak percaya dengan apa yang ia baca di layar ponselnya
“Moshi moshi, Yabu desu”, jawab Yabu sebiasa mungkin
“Apa aku mengganggumu, Yabu-kun?”
“Ng, tidak…”, Yabu berbohong “Ada apa Inoo-kun?”
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang tak ada kerjaan, jadi ingin ngobrol dengan Yabu-kun…”
Yabu terdiam sesaat “Bagaimana dengan belajar? PR nya sudah selesai?”
“Sudah selesai sejak tadi, karna nya aku agak bosan…”
“Begitu ya…”
Keduanya terdiam selama beberapa menit
“Hi hi hi hi…”, Yabu bisa jelas mendengar suara Inoo yang terkikik diseberang sana
“Eh? Ada apa, Inoo-kun?”
“Tidak, tidak…tak ada apa-apa…”, jawab Inoo “Oh ya, besok hari valentine, bukan? Pasti Yabu-kun akan menghabiskan hari bersama pacar Yabu-kun, senangnya…”
“A, ah..aku tak punya pacar?”
“Uso~ Yabu-kun pasti bercanda…!”
“Uso jyanai yo”, jawab Yabu, beruntung ia tak harus menyembunyikan wajahnya yang malu-malu dari Inoo
“Tapi Yabu-kun pasti akan dapat banyak coklat, kan?”
“Pasti Inoo-kun juga…”
Obrolan telepon antara Yabu dan Inoo terus berjalan hingga malam semakin larut. Bahkan Yabu melupakan PR matematikanya.
~~~
Keesokan harinya, di sekolah
“Hh~”, Yabu menghembuskan nafas, menyandarkan punggung di pintu gudang peralatan olahraga yang dimasukinya
“Yabu-kun sering menghabiskan jam istirahat di gudang peralatan olahraga, ya?”, suara itu, suara yang sudah tak lagi asing
Dan tak lama kemudian, Yabu sudah bisa melihat sosok berwajah tenang itu tersenyum padanya, Inoo
“Inoo-kun?”, Yabu seakan tak percaya
Tujuannya bersembunyi diruang peralatan olahraga dari gadis-gadis yang histeris ingin memberinya coklat valentine malah membawanya berduaan dengan Inoo
“Mereka merepotkan”, ujar Yabu, duduk disamping Inoo yang sudah lebih dahulu duduk bersandar pada papan lompat
“Hi hi”, Inoo hanya terkikik “Tapi yabu-kun pasti sudah dapat banyak coklat di loker, kan?”
“Kamu juga, kan?”
“Tapi Yabu-kun pasti dapat lebih banyak…”
“Mana mungkin, kamu yang dapat lebih banyak…”
“Yabu-kun dapat lebih banyak”
“Bukan”
“Iya”
“Ha ha ha”, keduanya terbahak, menyadari konyolnya pembicaraan mereka
“Ng, Yabu-kun…aku punya ini, makanlah, Yabu-kun belum makan siang, kan?”, ujar Inoo mengeluarkan sebuah waffle coklat dari saku celananya
“E? Nani kore?”
“Anggap saja coklat valentine dariku untuk Yabu-kun…”
Wajah Yabu seketika kembali berubah memerah
“Ma, mana ada yang begitu, menerima coklat valentine dari sesama laki-laki!”
“Kalau begitu kita makan sama-sama…”, tanpa persetujuan Yabu, Inoo membelah dua waffle nya dan memberikan satu bagian pada Yabu
Walaupun dengan menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah, akhirnya Yabu memakan waffle pemberian Inoo. Ia merasa aneh, padahal selama ini, coklat valentine yang ia dapatkan sama sekali tak pernah dicicipi.
“Harusnya, waktu mau bersembunyi, kita bwa kotak bekal, ya…”, Inoo berujar tiba-tiba
“Ng, Inoo-kun…dibibirmu ada coklat…”
“Eh?”
Yabu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Inoo, dan dengan alasan itu, mendaratkan bibirnya dengan lembut di bibir Inoo.
“Ko-chan? Ko-chan?”
Yabu mendengar suara itu memanggil manggil namanya. Suara dari seorang yang biasa memanggilnya dengan sebutan itu
“Inoo-kun?! Maaf!!”, Yabu terbelalak, sangat kaget hingga dirinya terjatuh dari sofa tempat ia tidur
“Inoo-kun? Maaf?”, Inoo memiringkan kepalanya, bingung
“Eh? Kei-chan? Kita tidak sungguhan…ng…”
“Ah, aku tahu! Ko-chan, tadi kau tertidur lumayan lama, bahkan sempat mengigau dengan menyebut-nyebut ‘Inoo-kun’…”, Inoo menjelaskan
Dalam hatinya, Yabu berteriak. Namun, hanya bisa menyembunyikan wajah merahnya
“Ko-chan, kau memimpikan aku, ya?”, tanya Inoo dengan nada sedikit menggoda
“Tidak”, Yabu berbohong
“Bohong! Ayo ceritakan, ceritakan…”, Inoo menarik-narik lengan baju Yabu
“Tidak ada cerita…”, wajah Yabu menjadi semakin merah
“Ya sudah kalau begitu. Aku membangunkanmu karna fitting baju kita sudah hampir dimulai. Jadi, ayo…”, Inoo berdiri, mengulurkan sebelah tangannya pada Yabu yang masih terduduk di lantai. Tersenyum
Yabu selalu menyukai senyuman itu, seperti senyuman seorang Kei Inoo yang ramah dalam mimpinya. Selalu nampak manis dimata Yabu
“Andai saja Kei-chan perempuan…”, pikir Yabu “Tapi, dengan beginipun, aku bersyukur karna bisa memilikinya…
Sahabatku…”
“Apa ini?”, tanya Inoo sedikit heran ketika Yabu merangkul lehernya dari belakang
“Aku baru bangun dari tidur, kakiku masih agak lemah…”, jawab Yabu
“Banyak alasan…”, Inoo sedikit berkeluh, namun Yabu tahu, Inoo pasti tidak keberatan
“He he”
= OWARI =
comments are loooooooooooooveeeeeeeeeeee <3
Kamis, 20 Agustus 2009
Fanfic: Accidentally In Love (Chapter 4)
Title : Accidentaly In Love
Chapter : Four
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~
“Tadaima~”, Opi melangkah masuk ke rumahnya. Terasa dingin. Tak ada Ibunya yang menjawab seperti biasanya.
Hari ini ia pulang lebih awal, biasanya ia pulang bersama – sama dengan keempat sahabatnya, tapi karena awalnya ia bermaksud latihan basket, ia pulang duluan, namun ternyata latihan tersebut batal sehingga ia terpaksa pulang sendirian.
Saat masuk, Opi sedikit heran, alunan piano pun tak terdengar dari ruang tengah, Opi merasa aneh. Apakah memang Inoo belum datang? Begitu pikirnya.
Opi masuk ke dapur, mencoba mencari sosok Ibunya, ternyata tidak ada.
Opi, Okaa-chan pergi ke Supermarket dengan Yuuri
Sudah ibu siapkan makan siang.
Ternyata Ibunya ke Supermarket, Opi agak sedikit lega, tiba – tiba saja terdengar hujan turun.
Opi berfikir, apakah ibuny dapat pulang sore ini? Ia pun bergegas ke ruang depan, Semua payung masih tersimpan rapi disitu. Berarti Okaa-chan dan Yuuri tidak bawa payung.
Huuft...ini artinya ia akan sendirian sampai mereka datang.
TING TONG....
Bel rumah berbunyi. Opi heran, bila itu Ibunya, pasti sudah masuk tanpa memencet bel terlebih dahulu.
Opi membuka pintu depan.
“Ano....gomen aku telat....hujan.”, jelasnya singkat.
Opi mematung.
Inoo berdiri tepat dihadapannya dalam keadaan basah kuyup.
Seakan baru sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah Opi, Inoo menatap Opi, “Gomen...aku kira...”
Opi masih terdiam.
“Dajoubu ka?”, tanya Inoo.
“Ahh....iyah...gomen...masuk saja. Okaa-chan dan Yuuri terjebak hujan di Supermarket. Jadi sepertinya akan lama...” jelas Opi.
“Sou ka...bolehkah aku menunggu disini saja?”, tanya Inoo.
Opi mengangguk. Inoo menuju ruang tengah, badannya masih basah kuyup, Opi bergegas mengambil handuk bersih.
“Ini...”, kata Opi menyodorkan handuk putih itu.
“Arigatou...”, katanya lalu mulai mengerikan diri.
‘Sial! Kenapa dalam keadaan basah kuyup ia tetap tampan!!”, rutuk Opi dalam hati.
“Ah...tunggu sebentar, aku ambilkan ocha hangat.”, kata Opi sambil berdiri menuju dapur.
Opi terus membatin, dipikirannya, kenapa juga dirinya harus doki – doki pada mahasiswa tingkat satu itu. Sebenarnya Inoo seumuran dengannya, seharusnya masih SMA. Tapi kata Okaa-chan, Inoo akselerasi setahun, sehingga sekarang ia sudah kuliah, jurusan arsitektur.
Dari ruang tengah terdengar alunan tuts piano. Itu Rainfall Prelude. Opi tahu karena Onii-chan dulu suka memainkannya ketika hujan turun.
“Ano...ini ochanya..”, kata Opi tak enak mengganggu Inoo.
Inoo berhenti, mengambil ocha yang disodorkan oleh Opi, “Arigatou..” katanya lalu menyesap Ocha tersebut.
Inoo meletakkan ocha di meja, kembali memainkan Raifall Prelude.
Opi yang berdiri di belakang Inoo tiba – tiba berkata, “Rainfall Prelude...”
“Shiteru?”, tanya Inoo lalu menggeser duduknya, memberi ruang untuk Opi duduk disebelahnya.
“Uun...Onii-chan sering memainkannya.”, jelas Opi yang kini sudah berada disebelah Inoo.
“Sou ka..."
“Inoo-san...”
“Terlalu formal. Panggil saja Kei.”, potong Inoo.
“Anoo..Kei...kenapa kau mengajar piano?”, pertanyaan ini memang selalu mengganggu pikirannya.
“Hmm...aku kuliah jurusan arsitektur. Kau tahu?”
Opi mengagguk.
“Itu pilihanku, Ayah menentang keras karena seharusnya aku kuliah bisnis seperti keinginannya...itu kenapa aku harus bekerja untuk kuliah ku...”, katanya lalu tersenyum. Pembicaraan itu berlangsung hingga Okaa-chan dan Yuri pulang.
---------------------
Sialnya Yabu hari itu. Tadi sebelum pulang sekolah, ia berniat untuk kabur dari piket seperti biasanya, tapi hari itu Hikaru kabur duluan dan entah siapa yang memberi tahu wali kelasnya, hari ini ia ketahuan akan kabur sehingga ia kini harus piket sendirian.
Ponsel birunya seketika berbunyi, tanda SMS masuk.
From: Taiyou
Subject: hehehe
Kali ini kau harus piket sendirian..jya ne~
Ternyata Taiyou yang memberi tahu wali kelasnya, sehingga ketika akan kabur, Pak Guru sudah menunggunya di depan pintu.
Miyuy yang hendak pulang bersama Din, ketika ia menangkap sosok Yabu yang sedang berada di kelas sendirian. Langkah Miyuy terhenti sejenak.
“Jadi...Miyuy!!kau tak mendengarkanku ya?”, seru Din yang menyadari Miyuy kini sudah ada di belakang.
“Dinchan....aku harus ke ruang klub!!”, serunya tiba – tiba.
“Kau bilang hari ini tak ada kegiatan klub?”, tanya Din heran.
Miyuy tampak bingung, “Itu...aku harus membereskan ruangan klub!!”, serunya cepat, tersenyum pada Din.
Din mengangkat bahu, “Ya sudah lah...aku pulang duluan ya..”, pamit Din pada Miyuy sambil melambaikan tangan.
Miyuy membalas lambaian tangan Din, setelah Din keluar dari lorong itu, Miyuy kembali memperhatikan sosok Yabu di dalam kelas, wajahnya tampak tidak senang.
Miyuy ingat ramalan yang ia baca semalam di Tobenaitori, “Besok adalah kesempatanmu...”,
Miyuy awalnya tak mengerti apa yang ramalan itu katakan, sekarang ia melihat Yabu dihadapannya. Mungkin inilah kesempatannya mendekati seorang Yabu.
Miyuy memperhatikan Yabu yang sedang menghapus papan tulis. Ia sendirian, memandang cemberut pada sebuah papan tulis.
Sore itu suasana sekolah sepi sekali, sehingga Miyuy sama sekali tak berani mengeluarkan suara sedikitpun.
“You’ve got mail~”, suara itu berasal dari ponsel Miyuy, memecah keheningan sekolah. Miyuy gelgapan mencari ponselnya, Yabu seketika menoleh, mendapati Miyuy dibelakang, dekat pintu.
Miyuy terdiam
Yabu terpaku
“Anoo...”
“Anoo..”, keduanya berbicara pada saat bersamaan.
“Apa yang kau lakukan?”, tanya Yabu.
Miyuy merasakan mukanya memerah, hal ini memalukan, tapi ia pun tak sanggup beranjak.
“Hmmm...aku...hanya....”, Miyuy tak sanggup meneruskan kata – katanya.
Yabu tersenyum, “Kau aneh sekali...”, komentar Yabu.
“Anoo..kau Kota-san kan?”, Miyuy akhirnya memberanikan diri bertanya.
Yabu kembali menoleh, mengangguk sekenanya.
“Kau ingat aku?”, tanya Miyuy berharap Yabu mengingat saat ia menyapa Miyuy pagi itu.
Yabu berfikir sebentar, memandang Miyuy dengan seksama.
Tiba – tiba Yabu mendekati Miyuy,“Morning, ma hun…”, Yabu pun tersenyum, “Maaf...hari itu aku kena dikerjai teman – temanku..”, ujar Yabu lalu kebali tersenyum.
“Sou kaa~ apa yang kau lakukan sore seperti ini?tadi kebetulan aku lewat dan menemukanmu disini.”, kata Miyuy sedikit berbohong.
“Piket...”, katanya sambil melangkah ke depan papan tulis.
Miyuy menyusul Yabu, mengambil satu lagi penghapus papan tulis yang ada disitu, membantu Yabu.
“Eh? Apa yang kau lakukan?”, tanya Yabu kaget.
Miyuy tersenyum, “Aku mau membantumu...”
Yabu tak menolak, “Miyuy ya??namamu Miyuy kan?”
Miyuy menoleh, mengagguk pelan.
Suasana kembali hening, hanya gerakan – gerakan keduanya menghapus papan tulis. Tiba – tiba saja diluar hujan turun deras.
“Yabai! Aku tak bawa payung!”, keluh Yabu, “Kau bawa payung?”, tanya Yabu pada Miyuy.
“Tidak...”, jawab Miyuy pelan.
“Hahaha...”, Yabu tertawa.
Miyuy bingung apa yang Yabu tertawakan.
Tangan Yabu bergerak, menyentuh pipi Miyuy, “Kurasa seharusnya kau menghapus papan tulis...bukan pipimu..”
Miyuy kaget.
“Gomen...hanya gerakan refleks...”, seru Yabu menarik kembali tangannya.
Miyuy hanya tertunduk, ia yakin wajahnya kini sudah semerah tomat.
“Kurasa kita harus diam di sekolah sampai hujan berhenti. Kau tak ingin hujan – hujanan kan?”, tanya Yabu pada Miyuy.
Miyuy menggeleng, masih menunduk.
-----------------------------
Daiki memasuki perpus dengan menenteng banyak buku. Ia bermaksud mengembalikan buku – buku yang ia pinjam kemarin untuk referensi tugasnya. Ketika ia menemukan sosok itu, sosok yang belakangan ini ia cari.
Nu merutuki diri sendiri, ia tak rela waktu pulangnya ini ia habiskan di perpus. Ini karena tugas tambahan yang Jun-sensei berikan akibat ia tertidur lagi di kelas.
“Dia sendiri yang mengajar terlalu membosankan...”, keluh Nu kesal.
Perpustakaan sudah sepi, hanya ada beberapa anak yang sedang mengerjakan tugas seperti dirinya, dan juga yang piket kelas.
“Tugas apa?”, tanya seseorang.
Nu mendongak, menatap orang yang tanpa alasan jelas mengajaknya berbicara.
Daiki tersenyum ketika Nu menatapnya.
“Sial! Kenapa ia tersenyum?”, rutuk Nu dalam hati.
“Hai Nuchan!! Tugas apa?”, tanyanya lagi sedikit berbisik.
Nu dengan malas menjentikkan jarinya pada tulisan ‘ENGLISH’.
“Sou da...kau dapat masalah dengan Jun-Sensei kah?”, tanya Daiki lagi. Lalu duduk di hadapan Nu.
Nu hanya diam, tidak memperdulikan Daiki yang terus memperhatikannya.
“Nuchan....”, panggil Daiki.
“Siapa yang mengizinkannya memanggilku Nuchan??!!”, rutuk Nu kesal.
“Nu...”, panggilan itu terpotong dengan tatapan Nu pada Daiki.
“Apa?!”, tanya Nu geram.
Daiki menunjuk pada tulisan Nuchan, “Ini salah ejaan...”, kata Daiki pelan.
Nu tampak malu, menunduk dan membenarkan tulisannya yang salah itu.
“Kenapa dia mengikuti ku??”, tanya Nu dalam hati ketika ia melihat Daiki di sampingnya.
“Hujan...”, kata Daiki seraya menatap langit.
Hujan memang sedikit deras, Nu sendiri tidak membawa payung, dan sepertinya begitu pula Daiki. Nu kaget sendiri kenapa sekarang mereka malah berada di halaman depan sekolah bersama – sama.
“Kau bawa payung?”, tanya Daiki pada Nu.
Nu menggeleng, “Rumahku dekat lagipula...tak perlu payung.”, jawab Nu.
“Sou da??bolehkah aku berteduh di rumahmu saja? Suasana sekolah tampak agak mengerikan.”, jelas Daiki.
Nu mengangkat bahunya, mencoba tak peduli, “terserah kau...”, kata Nu lalu berlari dibawah hujan.
Di depan apartemen kecil itu, Nu tak menyangka Daiki benar – benar mengikutinya.
“Kau tinggal sendirian?”, tanya Daiki sambil memperhatikan sekeliling apartemen itu.
Apartemen itu lumayan berantakan, sudah beberapa minggu ini Nu sama sekali tidak ingin membereskan apartemen yang baru – baru ini ia tempati setelah merengek memintanya pada kedua orang tuanya.
Berbagai poster band VK memenuhi dinding, CD dan DVD konser juga berantakan di depan sebuah TV beserta DVD Player.
Daiki memperhatikan sebuah poster besar bertuliskan Dir en Grey, tampaknya poster band tersebut mendominasi kamar kecil itu.
“Nuchan...”, panggil Daiki.
Nu datang sambil membawa dua gelas teh hangat.
“Apa?”, seru Nu sambil memberikan ocha hangat itu.
“Ah arigatou...maaf merepotkan...”, kata Daiki, “Ano...kau suka band ini?”
“Iya, suka sekali”
“Paling suka siapa?”
“Vokalisnya. Aku suka sekali..”, suara Nu agak bergetar. Tentu saja vokalis yang ia maksud adalah Kyo, mantan kekasihnya.
-----------------
Din berjalan sendirian. Melangkahkan kakinya ditengah jalanan ramai, sesekali matanya melirik pada etalase toko yang dilalui
“Kemana teman-temanmu?”
Suara itu, bukan lagi suara yang asing untuknya
“Yuya?”, Din mengerutkan dahinya ketika menoleh kebelakang, melihat orang yang menyapanya.
“Kenapa? Tak senang ya lihat aku?”
“Huh, kenapa aku harus senang melihatmu? Aah, teman-temanku sudah tak bisa pulang bersama, kenapa malah ada Yuya?”, sambil meneruskan langkahnya, Dinchan terus ngedumel
“Sudah, sudah...cerewet sekali, telingaku panas, nih…”
“Kalau tak mau dengar aku cerewet, kenapa mengikutiku?”
“Siapa yang mengikutimu, hah?”
Selalu, terjadi adu mulut diantara mereka. Din dan Yuya, padahal keduanya sudah terikat dalam perjodohan yang direncanakan orang tua mereka, tapi kedua sama sekali tak bisa akur.
“Ah, hujan”, Yuya spontan menarik tangan Din untuk berteduh didepan sebuah toko ketika hujan tiba-tiba turun dengan deras
“Yuya bawa sial. Begitu ada Yuya, langsung turun hujan deras…”, Din berkeluh
“Seenaknya saja, menuduh orang lain bawa sial. Kalau hujan, ya hujan saja!”, jawab Yuya dengan nada sedikit kesal
Din tak menjawab, hanya bibirnya yang sedikit mengerucut
Keduanya terdiam selama beberapa menit
“Hey, Dinchan…dulu kita sering main hujan-hujanan, kan …”
“Iya…”
“Kamu suka sekali menendang genangan air kearahku. Dasar jahil…”
“Hi hi hi”, Din terkikik kecil
“Tapi kamu tak mau aku membalas. Selalu saja mengadu pada nii-chan kalau aku balas menendang air kearahmu”
“Memangnya kenapa? Normal , kan , aku merasa kalau Jin bisa melindungiku…”
Yuya terdiam beberapa saat, “Manja”
“Kenapa harus protes kalau aku manja?”
“Karena itu menyebalkan”
“Apa masalahnya denganmu?!”, nada bicara Din mulai meninggi “Kamu yang menyebalkan. Kenapa Jin yang baik dan lembut bisa punya adik sepertimu? Dan sialnya, yang dijodohkan denganku itu kamu!”
‘Dijodohkan denganku, ternyata adalah sebuah kesialan untuk Dinchan’, pikir Yuya
“Cerewet!”, ujar Yuya singkat
“Kekanakan!”, balas Din
“Egois!”
“Keras kepala!
“Cengeng!”
“Sok tempting!”
“Temperamental!”
“Plagiator!”
“JANGAN SEBUT AKU SEPERTI ITU !!”, nada bicara Yuya membentak, membuat orang-orang disekeliling melihat kearah mereka
“Terserah!”, Din lari meninggalkan Yuya, menerobos hujan yang semakin lama semakin deras
Bertengkar dengan Yuya membuat mood Din benar-benar buruk. Ia tak peduli tubuhnya sekarang telah kuyup oleh guyuran hujan
Din hanya berjalan pelan tak tentu arah, keadaan hatinya terlalu buruk untuk dibawa pulang ke rumah
“Yuya bodoh. Kalau Jin, pasti tak akan membuat aku seperti ini”, gumam Din pelan, menendang krikil-krikil kecil sepanjang langkahnya
Tiba-tiba, sebuah payung plastik menghalangi butiran hujan jatuh mengenai tubuhnya
“Mungkin kamu kecewa, bukan Jin yang datang. Tapi melihatmu sendirian dalam guyuran hujan, pasti ini yang akan dilakukan oleh Jin, bukan?”, ucap seorang yang tak lain adalah Yuya
-----------------------------
Sore itu memang mendung, tapi Py masih di taman bermain, sibuk dengan sketsanya. Ia merasa mendapat ketenangan dan banyak inspirasi di taman ini. Bukan karena taman ini punya daya tarik, tapi karena seseorang yang sudah beberapa kali ia temui disini.
“Huaaaaa~”, teriak seseorang.
Py kenal suara itu
Py menoleh untuk melihat siapa yang datang
Ya itu dia
Sumber inspirasinya beberapa hari ini
“He? Py py!!”, teriaknya kencang.
Py mau tak mau tersenyum
Kali ini ia sendiri
“Kemana teman – temanmu?”, tanya Py akhirnya. Setelah teridam beberapa lama.
“Itu...mereka...ada urusan..”, jawabnya gugup.
Tentu saja bohong. Tadi setelah meninggalkan Yabu piket sendirian, ia buru – buru pamit pada Shoon dan Taiyou. Ia bilang ia ada urusan.
“Kau menggambar lagi? Bolehkah aku melihatnya?”
Py menutup buku sketsanya, “Jangan! Aku janji aku akan memperlihatkannya nanti.”
“Kapan?”, tanya cowok itu lagi.
“Nanti Hika...setelah semuanya selesai...”, jawab Py malu.
“Py...arigatou na...gomen aku tak sempat berterima kasih padamu.”
“He? Untuk apa?”, tanya Py bingung. Seingatnya ia tidak melakukan apa – apa untuk Hikaru.
“Chupa rasa cola...”, ujar Hika sambil mengeluarkan sebuah chupa. Kali ini rasanya strawberry.
“Eh?”
“Rasa cola nya habis...”, katanya lalu tersenyum, kini gigi gingsul Hika terlihat jelas di depan mata Py.
Dekat sekali
Karena Hikaru duduk bersebelahan dengannya.
Py hendak mengambil chupa itu ketika Hikaru menariknya kembali, “Hehehe...ini..”, sodornya kembali.
“Arigatou...”,Py mengambilnya dan tertunduk. Py memang pemalu, sekarang pun rasanya dia tak akan mampu berbicara lagi dengan Hikaru.
“Langitnya mendung yaaa~”, keluh Hikaru.
Py memandang Hikaru yang kini sedang menengadah, menatap langit yang memang gelap sekali.
“Py suka hujan atau cuaca cerah?”, tanya Hikaru penuh semangat.
“Cerah...rasanya energi kita tersedot jika mendung begini...”, jelas Py yang kini ikut menengadah.
Titik – titik air hujan hinggap di wajah mereka, semakin lama semakin deras. Hujan turun seketika itu juga.
Py dengan terburu – buru memasukkan buku sketsanya ke tas, hendak beranjak dari tempat itu.
“Ayo!!kita harus berteduh..”, ajak Py.
Tapi Hikaru malah membuka jas sekolahnya, mencoba menutupi mereka dengan jas tersebut.
Py kembali memandang Hikaru, kini mereka berdua di bangku taman, dengan jas sekolah di atas kepala mereka.
“Bagaimana? Aku seperti gentleman tidak?”
Mau tak mau Py tersenyum, “Kita basah kuyup.”, kata Py lagi.
“Kyaaa~ ayo lari!!”, teriak Hika sambil menarik tangan Py, “Kita harus berteduh!!”, serunya heboh.
Membuat Py tersenyum lebih lebar.
-------------------------
N.B: kyaaaaa~ maafkan untuk keterlambatan inih..*bow* saia berdua *baca: bunda n nuy* mengalami ngestag nerkepanjangan...maaf kalo gak memuaskan...COMMENTS ARE LOVE...
harap di komen...di komen...xD
^^
Chapter : Four
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~
Accidentally In Love
~chapter Four~
~chapter Four~
“Tadaima~”, Opi melangkah masuk ke rumahnya. Terasa dingin. Tak ada Ibunya yang menjawab seperti biasanya.
Hari ini ia pulang lebih awal, biasanya ia pulang bersama – sama dengan keempat sahabatnya, tapi karena awalnya ia bermaksud latihan basket, ia pulang duluan, namun ternyata latihan tersebut batal sehingga ia terpaksa pulang sendirian.
Saat masuk, Opi sedikit heran, alunan piano pun tak terdengar dari ruang tengah, Opi merasa aneh. Apakah memang Inoo belum datang? Begitu pikirnya.
Opi masuk ke dapur, mencoba mencari sosok Ibunya, ternyata tidak ada.
Opi, Okaa-chan pergi ke Supermarket dengan Yuuri
Sudah ibu siapkan makan siang.
Ternyata Ibunya ke Supermarket, Opi agak sedikit lega, tiba – tiba saja terdengar hujan turun.
Opi berfikir, apakah ibuny dapat pulang sore ini? Ia pun bergegas ke ruang depan, Semua payung masih tersimpan rapi disitu. Berarti Okaa-chan dan Yuuri tidak bawa payung.
Huuft...ini artinya ia akan sendirian sampai mereka datang.
TING TONG....
Bel rumah berbunyi. Opi heran, bila itu Ibunya, pasti sudah masuk tanpa memencet bel terlebih dahulu.
Opi membuka pintu depan.
“Ano....gomen aku telat....hujan.”, jelasnya singkat.
Opi mematung.
Inoo berdiri tepat dihadapannya dalam keadaan basah kuyup.
Seakan baru sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah Opi, Inoo menatap Opi, “Gomen...aku kira...”
Opi masih terdiam.
“Dajoubu ka?”, tanya Inoo.
“Ahh....iyah...gomen...masuk saja. Okaa-chan dan Yuuri terjebak hujan di Supermarket. Jadi sepertinya akan lama...” jelas Opi.
“Sou ka...bolehkah aku menunggu disini saja?”, tanya Inoo.
Opi mengangguk. Inoo menuju ruang tengah, badannya masih basah kuyup, Opi bergegas mengambil handuk bersih.
“Ini...”, kata Opi menyodorkan handuk putih itu.
“Arigatou...”, katanya lalu mulai mengerikan diri.
‘Sial! Kenapa dalam keadaan basah kuyup ia tetap tampan!!”, rutuk Opi dalam hati.
“Ah...tunggu sebentar, aku ambilkan ocha hangat.”, kata Opi sambil berdiri menuju dapur.
Opi terus membatin, dipikirannya, kenapa juga dirinya harus doki – doki pada mahasiswa tingkat satu itu. Sebenarnya Inoo seumuran dengannya, seharusnya masih SMA. Tapi kata Okaa-chan, Inoo akselerasi setahun, sehingga sekarang ia sudah kuliah, jurusan arsitektur.
Dari ruang tengah terdengar alunan tuts piano. Itu Rainfall Prelude. Opi tahu karena Onii-chan dulu suka memainkannya ketika hujan turun.
“Ano...ini ochanya..”, kata Opi tak enak mengganggu Inoo.
Inoo berhenti, mengambil ocha yang disodorkan oleh Opi, “Arigatou..” katanya lalu menyesap Ocha tersebut.
Inoo meletakkan ocha di meja, kembali memainkan Raifall Prelude.
Opi yang berdiri di belakang Inoo tiba – tiba berkata, “Rainfall Prelude...”
“Shiteru?”, tanya Inoo lalu menggeser duduknya, memberi ruang untuk Opi duduk disebelahnya.
“Uun...Onii-chan sering memainkannya.”, jelas Opi yang kini sudah berada disebelah Inoo.
“Sou ka..."
“Inoo-san...”
“Terlalu formal. Panggil saja Kei.”, potong Inoo.
“Anoo..Kei...kenapa kau mengajar piano?”, pertanyaan ini memang selalu mengganggu pikirannya.
“Hmm...aku kuliah jurusan arsitektur. Kau tahu?”
Opi mengagguk.
“Itu pilihanku, Ayah menentang keras karena seharusnya aku kuliah bisnis seperti keinginannya...itu kenapa aku harus bekerja untuk kuliah ku...”, katanya lalu tersenyum. Pembicaraan itu berlangsung hingga Okaa-chan dan Yuri pulang.
---------------------
Sialnya Yabu hari itu. Tadi sebelum pulang sekolah, ia berniat untuk kabur dari piket seperti biasanya, tapi hari itu Hikaru kabur duluan dan entah siapa yang memberi tahu wali kelasnya, hari ini ia ketahuan akan kabur sehingga ia kini harus piket sendirian.
Ponsel birunya seketika berbunyi, tanda SMS masuk.
From: Taiyou
Subject: hehehe
Kali ini kau harus piket sendirian..jya ne~
Ternyata Taiyou yang memberi tahu wali kelasnya, sehingga ketika akan kabur, Pak Guru sudah menunggunya di depan pintu.
Miyuy yang hendak pulang bersama Din, ketika ia menangkap sosok Yabu yang sedang berada di kelas sendirian. Langkah Miyuy terhenti sejenak.
“Jadi...Miyuy!!kau tak mendengarkanku ya?”, seru Din yang menyadari Miyuy kini sudah ada di belakang.
“Dinchan....aku harus ke ruang klub!!”, serunya tiba – tiba.
“Kau bilang hari ini tak ada kegiatan klub?”, tanya Din heran.
Miyuy tampak bingung, “Itu...aku harus membereskan ruangan klub!!”, serunya cepat, tersenyum pada Din.
Din mengangkat bahu, “Ya sudah lah...aku pulang duluan ya..”, pamit Din pada Miyuy sambil melambaikan tangan.
Miyuy membalas lambaian tangan Din, setelah Din keluar dari lorong itu, Miyuy kembali memperhatikan sosok Yabu di dalam kelas, wajahnya tampak tidak senang.
Miyuy ingat ramalan yang ia baca semalam di Tobenaitori, “Besok adalah kesempatanmu...”,
Miyuy awalnya tak mengerti apa yang ramalan itu katakan, sekarang ia melihat Yabu dihadapannya. Mungkin inilah kesempatannya mendekati seorang Yabu.
Miyuy memperhatikan Yabu yang sedang menghapus papan tulis. Ia sendirian, memandang cemberut pada sebuah papan tulis.
Sore itu suasana sekolah sepi sekali, sehingga Miyuy sama sekali tak berani mengeluarkan suara sedikitpun.
“You’ve got mail~”, suara itu berasal dari ponsel Miyuy, memecah keheningan sekolah. Miyuy gelgapan mencari ponselnya, Yabu seketika menoleh, mendapati Miyuy dibelakang, dekat pintu.
Miyuy terdiam
Yabu terpaku
“Anoo...”
“Anoo..”, keduanya berbicara pada saat bersamaan.
“Apa yang kau lakukan?”, tanya Yabu.
Miyuy merasakan mukanya memerah, hal ini memalukan, tapi ia pun tak sanggup beranjak.
“Hmmm...aku...hanya....”, Miyuy tak sanggup meneruskan kata – katanya.
Yabu tersenyum, “Kau aneh sekali...”, komentar Yabu.
“Anoo..kau Kota-san kan?”, Miyuy akhirnya memberanikan diri bertanya.
Yabu kembali menoleh, mengangguk sekenanya.
“Kau ingat aku?”, tanya Miyuy berharap Yabu mengingat saat ia menyapa Miyuy pagi itu.
Yabu berfikir sebentar, memandang Miyuy dengan seksama.
Tiba – tiba Yabu mendekati Miyuy,“Morning, ma hun…”, Yabu pun tersenyum, “Maaf...hari itu aku kena dikerjai teman – temanku..”, ujar Yabu lalu kebali tersenyum.
“Sou kaa~ apa yang kau lakukan sore seperti ini?tadi kebetulan aku lewat dan menemukanmu disini.”, kata Miyuy sedikit berbohong.
“Piket...”, katanya sambil melangkah ke depan papan tulis.
Miyuy menyusul Yabu, mengambil satu lagi penghapus papan tulis yang ada disitu, membantu Yabu.
“Eh? Apa yang kau lakukan?”, tanya Yabu kaget.
Miyuy tersenyum, “Aku mau membantumu...”
Yabu tak menolak, “Miyuy ya??namamu Miyuy kan?”
Miyuy menoleh, mengagguk pelan.
Suasana kembali hening, hanya gerakan – gerakan keduanya menghapus papan tulis. Tiba – tiba saja diluar hujan turun deras.
“Yabai! Aku tak bawa payung!”, keluh Yabu, “Kau bawa payung?”, tanya Yabu pada Miyuy.
“Tidak...”, jawab Miyuy pelan.
“Hahaha...”, Yabu tertawa.
Miyuy bingung apa yang Yabu tertawakan.
Tangan Yabu bergerak, menyentuh pipi Miyuy, “Kurasa seharusnya kau menghapus papan tulis...bukan pipimu..”
Miyuy kaget.
“Gomen...hanya gerakan refleks...”, seru Yabu menarik kembali tangannya.
Miyuy hanya tertunduk, ia yakin wajahnya kini sudah semerah tomat.
“Kurasa kita harus diam di sekolah sampai hujan berhenti. Kau tak ingin hujan – hujanan kan?”, tanya Yabu pada Miyuy.
Miyuy menggeleng, masih menunduk.
-----------------------------
Daiki memasuki perpus dengan menenteng banyak buku. Ia bermaksud mengembalikan buku – buku yang ia pinjam kemarin untuk referensi tugasnya. Ketika ia menemukan sosok itu, sosok yang belakangan ini ia cari.
Nu merutuki diri sendiri, ia tak rela waktu pulangnya ini ia habiskan di perpus. Ini karena tugas tambahan yang Jun-sensei berikan akibat ia tertidur lagi di kelas.
“Dia sendiri yang mengajar terlalu membosankan...”, keluh Nu kesal.
Perpustakaan sudah sepi, hanya ada beberapa anak yang sedang mengerjakan tugas seperti dirinya, dan juga yang piket kelas.
“Tugas apa?”, tanya seseorang.
Nu mendongak, menatap orang yang tanpa alasan jelas mengajaknya berbicara.
Daiki tersenyum ketika Nu menatapnya.
“Sial! Kenapa ia tersenyum?”, rutuk Nu dalam hati.
“Hai Nuchan!! Tugas apa?”, tanyanya lagi sedikit berbisik.
Nu dengan malas menjentikkan jarinya pada tulisan ‘ENGLISH’.
“Sou da...kau dapat masalah dengan Jun-Sensei kah?”, tanya Daiki lagi. Lalu duduk di hadapan Nu.
Nu hanya diam, tidak memperdulikan Daiki yang terus memperhatikannya.
“Nuchan....”, panggil Daiki.
“Siapa yang mengizinkannya memanggilku Nuchan??!!”, rutuk Nu kesal.
“Nu...”, panggilan itu terpotong dengan tatapan Nu pada Daiki.
“Apa?!”, tanya Nu geram.
Daiki menunjuk pada tulisan Nuchan, “Ini salah ejaan...”, kata Daiki pelan.
Nu tampak malu, menunduk dan membenarkan tulisannya yang salah itu.
“Kenapa dia mengikuti ku??”, tanya Nu dalam hati ketika ia melihat Daiki di sampingnya.
“Hujan...”, kata Daiki seraya menatap langit.
Hujan memang sedikit deras, Nu sendiri tidak membawa payung, dan sepertinya begitu pula Daiki. Nu kaget sendiri kenapa sekarang mereka malah berada di halaman depan sekolah bersama – sama.
“Kau bawa payung?”, tanya Daiki pada Nu.
Nu menggeleng, “Rumahku dekat lagipula...tak perlu payung.”, jawab Nu.
“Sou da??bolehkah aku berteduh di rumahmu saja? Suasana sekolah tampak agak mengerikan.”, jelas Daiki.
Nu mengangkat bahunya, mencoba tak peduli, “terserah kau...”, kata Nu lalu berlari dibawah hujan.
Di depan apartemen kecil itu, Nu tak menyangka Daiki benar – benar mengikutinya.
“Kau tinggal sendirian?”, tanya Daiki sambil memperhatikan sekeliling apartemen itu.
Apartemen itu lumayan berantakan, sudah beberapa minggu ini Nu sama sekali tidak ingin membereskan apartemen yang baru – baru ini ia tempati setelah merengek memintanya pada kedua orang tuanya.
Berbagai poster band VK memenuhi dinding, CD dan DVD konser juga berantakan di depan sebuah TV beserta DVD Player.
Daiki memperhatikan sebuah poster besar bertuliskan Dir en Grey, tampaknya poster band tersebut mendominasi kamar kecil itu.
“Nuchan...”, panggil Daiki.
Nu datang sambil membawa dua gelas teh hangat.
“Apa?”, seru Nu sambil memberikan ocha hangat itu.
“Ah arigatou...maaf merepotkan...”, kata Daiki, “Ano...kau suka band ini?”
“Iya, suka sekali”
“Paling suka siapa?”
“Vokalisnya. Aku suka sekali..”, suara Nu agak bergetar. Tentu saja vokalis yang ia maksud adalah Kyo, mantan kekasihnya.
-----------------
Din berjalan sendirian. Melangkahkan kakinya ditengah jalanan ramai, sesekali matanya melirik pada etalase toko yang dilalui
“Kemana teman-temanmu?”
Suara itu, bukan lagi suara yang asing untuknya
“Yuya?”, Din mengerutkan dahinya ketika menoleh kebelakang, melihat orang yang menyapanya.
“Kenapa? Tak senang ya lihat aku?”
“Huh, kenapa aku harus senang melihatmu? Aah, teman-temanku sudah tak bisa pulang bersama, kenapa malah ada Yuya?”, sambil meneruskan langkahnya, Dinchan terus ngedumel
“Sudah, sudah...cerewet sekali, telingaku panas, nih…”
“Kalau tak mau dengar aku cerewet, kenapa mengikutiku?”
“Siapa yang mengikutimu, hah?”
Selalu, terjadi adu mulut diantara mereka. Din dan Yuya, padahal keduanya sudah terikat dalam perjodohan yang direncanakan orang tua mereka, tapi kedua sama sekali tak bisa akur.
“Ah, hujan”, Yuya spontan menarik tangan Din untuk berteduh didepan sebuah toko ketika hujan tiba-tiba turun dengan deras
“Yuya bawa sial. Begitu ada Yuya, langsung turun hujan deras…”, Din berkeluh
“Seenaknya saja, menuduh orang lain bawa sial. Kalau hujan, ya hujan saja!”, jawab Yuya dengan nada sedikit kesal
Din tak menjawab, hanya bibirnya yang sedikit mengerucut
Keduanya terdiam selama beberapa menit
“Hey, Dinchan…dulu kita sering main hujan-hujanan, kan …”
“Iya…”
“Kamu suka sekali menendang genangan air kearahku. Dasar jahil…”
“Hi hi hi”, Din terkikik kecil
“Tapi kamu tak mau aku membalas. Selalu saja mengadu pada nii-chan kalau aku balas menendang air kearahmu”
“Memangnya kenapa? Normal , kan , aku merasa kalau Jin bisa melindungiku…”
Yuya terdiam beberapa saat, “Manja”
“Kenapa harus protes kalau aku manja?”
“Karena itu menyebalkan”
“Apa masalahnya denganmu?!”, nada bicara Din mulai meninggi “Kamu yang menyebalkan. Kenapa Jin yang baik dan lembut bisa punya adik sepertimu? Dan sialnya, yang dijodohkan denganku itu kamu!”
‘Dijodohkan denganku, ternyata adalah sebuah kesialan untuk Dinchan’, pikir Yuya
“Cerewet!”, ujar Yuya singkat
“Kekanakan!”, balas Din
“Egois!”
“Keras kepala!
“Cengeng!”
“Sok tempting!”
“Temperamental!”
“Plagiator!”
“JANGAN SEBUT AKU SEPERTI ITU !!”, nada bicara Yuya membentak, membuat orang-orang disekeliling melihat kearah mereka
“Terserah!”, Din lari meninggalkan Yuya, menerobos hujan yang semakin lama semakin deras
Bertengkar dengan Yuya membuat mood Din benar-benar buruk. Ia tak peduli tubuhnya sekarang telah kuyup oleh guyuran hujan
Din hanya berjalan pelan tak tentu arah, keadaan hatinya terlalu buruk untuk dibawa pulang ke rumah
“Yuya bodoh. Kalau Jin, pasti tak akan membuat aku seperti ini”, gumam Din pelan, menendang krikil-krikil kecil sepanjang langkahnya
Tiba-tiba, sebuah payung plastik menghalangi butiran hujan jatuh mengenai tubuhnya
“Mungkin kamu kecewa, bukan Jin yang datang. Tapi melihatmu sendirian dalam guyuran hujan, pasti ini yang akan dilakukan oleh Jin, bukan?”, ucap seorang yang tak lain adalah Yuya
-----------------------------
Sore itu memang mendung, tapi Py masih di taman bermain, sibuk dengan sketsanya. Ia merasa mendapat ketenangan dan banyak inspirasi di taman ini. Bukan karena taman ini punya daya tarik, tapi karena seseorang yang sudah beberapa kali ia temui disini.
“Huaaaaa~”, teriak seseorang.
Py kenal suara itu
Py menoleh untuk melihat siapa yang datang
Ya itu dia
Sumber inspirasinya beberapa hari ini
“He? Py py!!”, teriaknya kencang.
Py mau tak mau tersenyum
Kali ini ia sendiri
“Kemana teman – temanmu?”, tanya Py akhirnya. Setelah teridam beberapa lama.
“Itu...mereka...ada urusan..”, jawabnya gugup.
Tentu saja bohong. Tadi setelah meninggalkan Yabu piket sendirian, ia buru – buru pamit pada Shoon dan Taiyou. Ia bilang ia ada urusan.
“Kau menggambar lagi? Bolehkah aku melihatnya?”
Py menutup buku sketsanya, “Jangan! Aku janji aku akan memperlihatkannya nanti.”
“Kapan?”, tanya cowok itu lagi.
“Nanti Hika...setelah semuanya selesai...”, jawab Py malu.
“Py...arigatou na...gomen aku tak sempat berterima kasih padamu.”
“He? Untuk apa?”, tanya Py bingung. Seingatnya ia tidak melakukan apa – apa untuk Hikaru.
“Chupa rasa cola...”, ujar Hika sambil mengeluarkan sebuah chupa. Kali ini rasanya strawberry.
“Eh?”
“Rasa cola nya habis...”, katanya lalu tersenyum, kini gigi gingsul Hika terlihat jelas di depan mata Py.
Dekat sekali
Karena Hikaru duduk bersebelahan dengannya.
Py hendak mengambil chupa itu ketika Hikaru menariknya kembali, “Hehehe...ini..”, sodornya kembali.
“Arigatou...”,Py mengambilnya dan tertunduk. Py memang pemalu, sekarang pun rasanya dia tak akan mampu berbicara lagi dengan Hikaru.
“Langitnya mendung yaaa~”, keluh Hikaru.
Py memandang Hikaru yang kini sedang menengadah, menatap langit yang memang gelap sekali.
“Py suka hujan atau cuaca cerah?”, tanya Hikaru penuh semangat.
“Cerah...rasanya energi kita tersedot jika mendung begini...”, jelas Py yang kini ikut menengadah.
Titik – titik air hujan hinggap di wajah mereka, semakin lama semakin deras. Hujan turun seketika itu juga.
Py dengan terburu – buru memasukkan buku sketsanya ke tas, hendak beranjak dari tempat itu.
“Ayo!!kita harus berteduh..”, ajak Py.
Tapi Hikaru malah membuka jas sekolahnya, mencoba menutupi mereka dengan jas tersebut.
Py kembali memandang Hikaru, kini mereka berdua di bangku taman, dengan jas sekolah di atas kepala mereka.
“Bagaimana? Aku seperti gentleman tidak?”
Mau tak mau Py tersenyum, “Kita basah kuyup.”, kata Py lagi.
“Kyaaa~ ayo lari!!”, teriak Hika sambil menarik tangan Py, “Kita harus berteduh!!”, serunya heboh.
Membuat Py tersenyum lebih lebar.
-------------------------
N.B: kyaaaaa~ maafkan untuk keterlambatan inih..*bow* saia berdua *baca: bunda n nuy* mengalami ngestag nerkepanjangan...maaf kalo gak memuaskan...COMMENTS ARE LOVE...
harap di komen...di komen...xD
^^
Kamis, 23 Juli 2009
[REPORT] bunda n opichi 3 days trip..hehehe..
yaaayyy!!!
tadaima~
din pulang...hehehe...setelah berkelanabahasanya bujug bersama opi dan keluarga...din kembali...dengen cerita tentang...perjalanan qta...ehehehe...
First day..200709...
Pagi - pagi buta, Q kebangun...tidur depan lappie yang Internet dan laptop masih menyala, kagak pake selimut, dengan baju tidur doank...bused!!dinginnnn!!saia buru - buru ngepost blog yang baru kelar...hahaha...
Udah gituh..Q menyadari 1 hal...Q lum beberes buat berangkat yang rencananya 4 hari ituh. Q langsung ke bawah....dengan tampang desperate kurang tidur, Q nanya ama mama,
"Ma....minta tas buat pergi"
"Loh?perginya bukannya ntar sore?"
"Gak ma...kata opi jadinya pagi sekarang."
"Ya udah itu pake tas c papa"
AKhirnya Q boyong tas c papa yang kayak koper ituh...untuk beres - beres, gak lupa...Q harus ngeburn DVD buat Lha...akhirnya ngeburn dulu.
Banyak banget yang rasanya harus dibawa, dan gak akan muat di tas itu...
hufft,,,
Q pikir ya udahlah...Q hampir marahan ama mamah tuh...cuma gara - gara Q geje juga..hahaha..
Jam 8, Opi jemput pake motor ke rumah. Akhirnya berangkat dengan 1 tas koper kecil, ama 1 tas jinjing. Hahaha,, Banyak juga bawaan Q.
Berangkat dari rumah novi sekitar jam 9an...langsung menuju Garut...ternyata ke Kawah Kamojang...
Setelah liat semburan gas yang luar biasa ituh...Qta akhirnnya pergi lagi. Menuju Tasikmalaya.
Waaaahh...perjalanannya jaaauuhh,,,nyampe sana udah sore. Akhirnya Qta solat maghrib dan Isya dulu di Masjid. Abis itu ke Rajapolah...beli ini - itu buat oleh - oleh...
hehehe..din sih cuma beli dikit, secara c mama juga gak minta di beliin apa - apa...^^
Ternyata udah malem banget, akhirnya kita nginep di hotel yang ada di Tasikmalaya...^^
Second day...210709...
Masih ngantuk, kurang tidur *baru tidur jam 12 malem*,, Qta berangkat menuju....gak tau...asli...ini perjalananannya serba surprise...hehehe..
di jalan...saia mabok...OMG...seumur - umur Q pergi udah nyampe Sumatera...ampe Pontianak, Bali...gak pernah mabok..kayaknya karena masuk angin dan kondisi badan emang gak fit.. akhirnya dikasih obat jamu gituh ama ibunya opi...arigatou...maaf saia merepotkan...xD
ternyata jalan menuju Cipatujah..eh...gak taunya gak jadi..belok lagih ke Pamijahan...judulnya serem.."wisata ziarah" hahaha...
Jadi kita gak ampe makam, balik lagi menuju Cipatujah...
daaannn...
Terus sebelumnya qta makan ikan bakar dulu~
hunyu~ enaaakk!!!hehehe...
ikannya masih seger...dah gituh..nemu ikan gede bangeth..hahaha..

Qta nemuin pantai....pantai yang...KOSONG!!!!
gak ada orang!!serasa milik sendiri tu pantai...hehehe...
akhirnya maenan ama opi...tapi gak ampe basah - basahan...males ganti baju..hehehe
Setelah itu...Qta ngelanjutin perjalanan...sekarang menuju daerah Ciamis
Q pikir bakalan berenti di Pangandaran, tapi ternyata gak....Qta cuma lewat ajah...abis itu karena dah malem, Qta nginep di Ciamis Kota...^^
Hotelnya antik bo~
hahaha...jaman Belanda gituh~ nginep disitu serasa di asrama..hahaha...

Opichi sakit~ huaaaa~~~ badannya panas coba??hmmm...
cepet sembuh ya opi...
Third day...220709..
Capeee~
tapi seru...hehehe...
Berangkat dari hotel, din kira bakalan ke Cirebon. Ternyata ke Waduk Darma di Kuningan.
Tempatnya sepi...dingin pulaaa!!!dingin banget!!!
Indah pemandangannya.
Sayangnya qta gak naek perahu, soalnya cuma berempat seh...katanya disitu rame kalo lagi sabtu ato minggu...^^
Gak lama, kita berangkat lagi, ternyata menuju Majalengka...disitu kita solat, dan makan ikan bakarlagi wkwkwk...enak kok..restaurantnya adem...saung - saung getoh...
banyak ikan kokitanaka lagih...hehehe...
kenyang~
xD
Setelah itu kita kembali jalan...ternyata menuju Sumedang...alhasil beli tahu deh...hehehe^^
abis itu pulang!!! tadaima~
mama!!ade pulaaannnggg!! *kangen mama* hehehe...
yosh!! cape tapi seneng deh~
Bapak - Ibunya Novi...arigatou....maaf din merepotkan...^^
Opichi~
ntar jalan - jalan lagih yuuukk!!! ntar gantian kau yang ikut ama keluarga ku...hehehe...^^
jya~ segini ajah ceritanya...
yow!!xD
^bunda dinchan^
tadaima~
din pulang...hehehe...setelah berkelana
First day..200709...
Pagi - pagi buta, Q kebangun...tidur depan lappie yang Internet dan laptop masih menyala, kagak pake selimut, dengan baju tidur doank...bused!!dinginnnn!!saia buru - buru ngepost blog yang baru kelar...hahaha...
Udah gituh..Q menyadari 1 hal...Q lum beberes buat berangkat yang rencananya 4 hari ituh. Q langsung ke bawah....dengan tampang desperate kurang tidur, Q nanya ama mama,
"Ma....minta tas buat pergi"
"Loh?perginya bukannya ntar sore?"
"Gak ma...kata opi jadinya pagi sekarang."
"Ya udah itu pake tas c papa"
AKhirnya Q boyong tas c papa yang kayak koper ituh...untuk beres - beres, gak lupa...Q harus ngeburn DVD buat Lha...akhirnya ngeburn dulu.
Banyak banget yang rasanya harus dibawa, dan gak akan muat di tas itu...
hufft,,,
Q pikir ya udahlah...Q hampir marahan ama mamah tuh...cuma gara - gara Q geje juga..hahaha..
Jam 8, Opi jemput pake motor ke rumah. Akhirnya berangkat dengan 1 tas koper kecil, ama 1 tas jinjing. Hahaha,, Banyak juga bawaan Q.
Berangkat dari rumah novi sekitar jam 9an...langsung menuju Garut...ternyata ke Kawah Kamojang...
Setelah liat semburan gas yang luar biasa ituh...Qta akhirnnya pergi lagi. Menuju Tasikmalaya.
Waaaahh...perjalanannya jaaauuhh,,,nyampe sana udah sore. Akhirnya Qta solat maghrib dan Isya dulu di Masjid. Abis itu ke Rajapolah...beli ini - itu buat oleh - oleh...
hehehe..din sih cuma beli dikit, secara c mama juga gak minta di beliin apa - apa...^^
Ternyata udah malem banget, akhirnya kita nginep di hotel yang ada di Tasikmalaya...^^
Second day...210709...
Masih ngantuk, kurang tidur *baru tidur jam 12 malem*,, Qta berangkat menuju....gak tau...asli...ini perjalananannya serba surprise...hehehe..
di jalan...saia mabok...OMG...seumur - umur Q pergi udah nyampe Sumatera...ampe Pontianak, Bali...gak pernah mabok..kayaknya karena masuk angin dan kondisi badan emang gak fit.. akhirnya dikasih obat jamu gituh ama ibunya opi...arigatou...maaf saia merepotkan...xD
ternyata jalan menuju Cipatujah..eh...gak taunya gak jadi..belok lagih ke Pamijahan...judulnya serem.."wisata ziarah" hahaha...
Jadi kita gak ampe makam, balik lagi menuju Cipatujah...
daaannn...
Terus sebelumnya qta makan ikan bakar dulu~
hunyu~ enaaakk!!!hehehe...
ikannya masih seger...dah gituh..nemu ikan gede bangeth..hahaha..
Qta nemuin pantai....pantai yang...KOSONG!!!!
gak ada orang!!serasa milik sendiri tu pantai...hehehe...
akhirnya maenan ama opi...tapi gak ampe basah - basahan...males ganti baju..hehehe
Setelah itu...Qta ngelanjutin perjalanan...sekarang menuju daerah Ciamis
Q pikir bakalan berenti di Pangandaran, tapi ternyata gak....Qta cuma lewat ajah...abis itu karena dah malem, Qta nginep di Ciamis Kota...^^
Hotelnya antik bo~
hahaha...jaman Belanda gituh~ nginep disitu serasa di asrama..hahaha...
Opichi sakit~ huaaaa~~~ badannya panas coba??hmmm...
cepet sembuh ya opi...
Third day...220709..
Capeee~
tapi seru...hehehe...
Berangkat dari hotel, din kira bakalan ke Cirebon. Ternyata ke Waduk Darma di Kuningan.
Tempatnya sepi...dingin pulaaa!!!dingin banget!!!
Indah pemandangannya.
Sayangnya qta gak naek perahu, soalnya cuma berempat seh...katanya disitu rame kalo lagi sabtu ato minggu...^^
Gak lama, kita berangkat lagi, ternyata menuju Majalengka...disitu kita solat, dan makan ikan bakar
banyak ikan koki
kenyang~
xD
Setelah itu kita kembali jalan...ternyata menuju Sumedang...alhasil beli tahu deh...hehehe^^
abis itu pulang!!! tadaima~
mama!!ade pulaaannnggg!! *kangen mama* hehehe...
yosh!! cape tapi seneng deh~
Bapak - Ibunya Novi...arigatou....maaf din merepotkan...^^
Opichi~
ntar jalan - jalan lagih yuuukk!!! ntar gantian kau yang ikut ama keluarga ku...hehehe...^^
jya~ segini ajah ceritanya...
yow!!xD
^bunda dinchan^
Minggu, 12 Juli 2009
SHIGE b'day !?
YA ALLAH...
kemaren SHIGE ultah ya?
ampun dah
ko Q bisa lupa
*jyahh idola sendiri lupa ultahnya..*
hadoohhh
maafkan saya SHIGE...
nurul bener" lupa
*sibuk daftar ulang k unisba sih..*
생일 축하합니다 SHIGEAKI KATO
udah 22 tahun...
bulan depan kibum juga 22 tahun
kemaren SHIGE ultah ya?
ampun dah
ko Q bisa lupa
*jyahh idola sendiri lupa ultahnya..*
hadoohhh
maafkan saya SHIGE...
nurul bener" lupa
*sibuk daftar ulang k unisba sih..*
생일 축하합니다 SHIGEAKI KATO
udah 22 tahun...
bulan depan kibum juga 22 tahun
lol
miyuy
Rabu, 08 Juli 2009
pic
lmao
Q cuma mau posting ni pic
gimana komen'y?
mau Q edit ni photo
bwat d masukin k blog
tapi gtw tar ni pic mw d jadiin pa'an
Q cuma mau posting ni pic
gimana komen'y?
mau Q edit ni photo
bwat d masukin k blog
tapi gtw tar ni pic mw d jadiin pa'an
Minggu, 05 Juli 2009
kyaaaaaaa!!!!*histeris*
bunda kageeeetttt!!!!!
layout blog qta berubah lohhh...
berubaaahhh!!^^
siapa neh yang ngerubah???
uchulnaaa...
hehehe...^^
arigatou yang udah ganti.....pengumuman donk yang ganti layoutnya,,,
hehehe...
^^
^bunda dinchan^
layout blog qta berubah lohhh...
berubaaahhh!!^^
siapa neh yang ngerubah???
uchulnaaa...
hehehe...^^
arigatou yang udah ganti.....pengumuman donk yang ganti layoutnya,,,
hehehe...
^^
^bunda dinchan^
Langganan:
Postingan (Atom)
