Rabu, 01 Juni 2011

[Fanfic] Happiness (chap 1)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : One
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance and Friendship
Ratting    : G
Fandom    : JE
Starring    :
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Ikuta Rei (OC), Sakurai Rena (OC), Ohno Hiroki (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. collaboration neh~. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^
HAPPINESS
~ Chapter 1~

“Ah sebal..” gerutu Opi sambil mengayunkan tasnya dengan kasar. Wajahnya benar-benar menunjukkan kalau ia sedang bête. Bagaimana tidak bête kalau tugasnya selalu saja mendapatkan nilai yang tidak memuaskan dari dosennya? Padahal ia mengerjakannya dengan susah payah. Karena rasa kesalnya, ia berjalan dengan arah yang sembarangan. Tapi bukan berarti ia kehilangan arah.

Tiba-tiba ia berhenti berjalan lalu berbalik ke arah yang berlawanan dengan rute awal. “Mungkin lebih baik bertemu An-chan saja,” ucapnya kemudian.

Tak berapa lama Opi sudah sampai di bangunan yang terlihat ramai. Ramai oleh anak-anak dan para ibu yang menjemput. Tempat yang Opi datangi memang sebuah sekolah. Tepatnya taman kanak-kanak.

Opi mulai melewati gerbang sekolah. Tak jauh dari gerbang sudah terlihat macam-macam jenis permainan. Opi kadang berpikir, kalau dia masih kecil, pasti tempat ini menjadi surga untuknya karena banyak sekali permainan yang ia sukai dulu saat ia masih kecil.

“Konichiwa, Opi-chan!” sapa beberapa anak yang sedang bermain di tempat permainan. Dua dari anak-anak itu lalu menghampiri Opi dengan riang.

“Konichiwa!” balas Opi. “Kalian belum pulang?”

“Chika sedang menunggu Mama. Yang lain juga,” jawab Chika yang berambut panjang.

“Onee-chan, tadi kami menggambar loh! Kata Ninomiya-sensei gambaranku paling bagus.” Kini gadis kecil yang berjepit yang berceloteh.

“Oia? Nanti Onee-chan lihat gambaran Koharu-chan,ya!” ucap Opi sambil tersenyum.

“Aku juga! Aku juga!” anak-anak lain mulai menyerang Opi karena mereka pun tidak ingin kalah.

Opi lalu tertawa. Ia sangat senang dengan suasana seperti ini. Mendengar celotehan anak-anak yang masih polos menjadi hiburan yang paling menyenangkan untuknya. Ditambah ia memang tidak mempunyai adik di rumah.

Setelah berpamitan dengan anak-anak, Opi kembali menelusuri jalan ke arah tujuannya. Opi melihat tiap kelas sudah tidak banyak penghuninya. Karena memang jam sekarang sudah waktunya pulang. Hanya terlihat beberapa anak yang didampingi oleh gurunya sedang menunggu dijemput oleh orang tuanya.

“Konichiwa, Onee-chan!” tiba-tiba ada yang menyapanya lagi. Kali ini hanya seorang gadis kecil yang Opi kenal dengan nama Reina-chan.

“Konichiwa, Reina-chan! Sudah mau pulang?” balas Opi.

Reina mengangguk kecil. “Papa sudah menjemput.”

“Ah..souka. Hati-hati yah!” ucap Opi sambil melambaikan tangan. Reina membalas lambaian Opi sambil berlari kecil.

“Kawaii ne!!!” seru Opi senang kemudian ia lanjut berjalan.

Setelah melewati tiga kelas, Opi lalu berbelok di kelas yang keempat. Di sana sudah ada 2 orang laki-laki dewasa yang salah satunya sangat ia kenal.

“An-chan!” panggil Opi.

“Opi? Sedang apa di sini?” tanya laki-laki yang lebih pendek dari laki-laki yang satunya.

“Hanya mampir,” jawab Opi singkat.

Opi tidak banyak bicara karena ia sedang memperhatikan laki-laki yang lebih tinggi dari orang yang tadi bicara padanya. Penampilannya rapi dengan kemeja dan celana jeans yang dia pakai. Rambutnya yang hitam tertata sedikit berantakan walaupun tidak terlalu terlihat.

“Kanpeki~” gumam Opi lalu tersungging senyuman di bibirnya.

“Hai?”

“Ano hito wa~” Opi sedikit memancing pembicaraan. Mungkin saja ia dapat kesempatan seperti yang ia pikirkan.

“Ah~ Sho-kun, ini adikku, Opi. Dan Opi, ini Sho Sakurai, teman lamaku.”

“Ninomiya Opi desu,” ucap Opi.

“Sakurai Sho desu,” balas Sho. “Aku dan Kazu-san adalah teman lama.”

“Souka,” gumam Opi.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Masih ada pekerjaan,” kata Sho kemudian.

Setelah berpamitan dengan Opi dan Kazunari, Sho pergi meninggalkan kelas.

“Jadi...” Kazunari memulai pembicaraan. “Ada apa kamu datang ke sini?” tanyanya.

Seolah teringat yang sempat ia lupakan beberapa menit yang lalu, tiba-tiba ia meraih kursi kecil yang selalu digunakan oleh anak-anak lalu duduk dengan kasar.

“Tadi aku sedikit kesal dengan dosenku. Aku berpikir mungkin dengan bertemu An-chan aku bisa melupakannya,” jawab Opi ringan.

Kazunari memiringkan kepalanya. “Maksudmu kamu bisa melupakannya setelah menceritakan semuanya sambil marah-marah?”

“Bingo..ahahahahhaha..”

“Sial. Ayo pulang!” ajak Kazunari yang diikuti oleh anggukan Opi.

Ninomiya Kazunari. Kakak Opi satu-satunya ini adalah pemilik sekolah taman kanak-kanak ini. Kesukaannya pada anak-anak yang menginspirasinya untuk membentuk sekolah. Sekolah ini cukup terkenal karena sepertinya para ibu sangat penasaran dan tertarik dengan pemiliknya yang masih sangat muda. Tapi tentu saja kemajuan sekolahnya tak lepas dari kemampuan Kazunari untuk mengajar anak-anak.

“Oia, laki-laki yang tadi siang itu, apa benar teman lama An-chan?” tanya Opi saat mereka sedang makan malam.

“Sou desu. Nande?”

“Kok aku tidak pernah lihat? Teman SMP dan teman SMA An-chan aku kenal semua. Apa teman SD?”

Kazunari mengerutkan keningnya. Sepertinya ia mencium hal yang tidak beres. “Kamu tertarik pada Sho-kun?” tebaknya.

“He?” Opi terlihat gelagapan. “Bukan seperti itu. Aku hanya merasa pernah melihatnya. Rasanya tidak asing,” jelas Opi.

“Umm~..Sekarang pukul berapa?” tanya Kazunari membuat Opi tidak mengerti. Ini sangat jauh dari topik yang sedang mereka bicarakan.

Opi melihat jam dinding yang ada di sebelah kirinya. “Pukul 8.”

Kazunari lalu beranjak dari kursinya dan menyalakan televisi. “Maksudmu pernah lihat di sini?” tunjuk Kazunari pada televisi.

Opi terbelalak. Itu kan...Sakurai-san?

“Sakurai-san? Jadi dia pembawa berita?”

Kazunari lalu duduk kembali ke kursinya dan melanjutkan makan.

“Uumm~ sekitar 5 tahun dia menjadi pembawa berita. Aku sendiri tidak menyangka dia akan menjadi seperti sekarang. Padahal dulu dia terlihat seperti orang bodoh.”

“Pantas saja aku seperti pernah melihatnya,” ujar Opi. “Berarti dia pintar. Kakkoi ne!!” seru Opi.

Kazunari terlihat tidak terlalu peduli. Ia tetap melanjutkan makannya.

“Lalu ada urusan apa Sakurai-san ke sekolah An-chan?”

Kazunari lalu menatap Opi. “Menurutmu? Tentu saja menjemput anaknya.”

“Hah!!?? Sakurai-san sudah mempunyai anak?” seru Opi tidak percaya. “Siapa anaknya?”

“Reina-chan,” jawab Kazunari lagi membuat Opi patah hati hanya dalam beberapa jam.

----
“Papa!” panggil Reina pada Sho yang menggandeng tangannya. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Kepalanya tetap saja menunduk seperti memikirkan sesuatu.

“Papa!” panggil Reina sekali lagi dan tetap dengan hasil yang sama.

“Papa!!” panggil Reina pelan sambil menangis.

Sho terlonjak kaget melihat Reina yang sudah mulai menangis.”He? Doushite? Doushite?”

“Papa marah? Reina salah apa sama Papa?” isak Reina.

Sho lalu berlutut agar pandangannya sejajar dengan Reina. “Kenapa Reina bilang seperti itu?”


“Habis Papa tidak menjawab panggilan Reina. Jadi Reina pikir Papa marah,” ucap Reina sambil menghapus air mata dengan punggung tangannya.

Sho tersenyum. “Papa tidak marah. Gomen ne. Tadi Papa tidak mendengar panggilan Reina.”

“Jadi Papa tidak marah?” tanya Reina memastikan.

“Tentu saja,” ucap Sho sambil membelai kepala Reina. “Kita harus cepat pulang. Biar kita dapat memasak lalu makan. Reina sudah lapar kan?”

“Reina sudah lapar. Reina ingin makan omurice,” ucap Reina sangat bersemangat.

“Yosh!!!Ayo kita harus cepat pulang!”



“Tadaima~” ucap Sho lalu diikuti oleh Reina.

Tidak ada jawaban. Wajar saja karena mereka hanya tinggal berdua di apartemen yang lumayan besar itu.

Begitu mereka sampai, Sho lalu menuju dapurnya untuk membuat makanan. Sementara Reina pergi mandi karena seharian dia di luar rumah membuat badannya tidak nyaman. Sho mungkin beruntung karena Reina sangat mandiri untuk mengurusi dirinya sendiri, seperti mandi, menyiapkan alat makan atau membereskan tempat tidurnya. Walaupun sebelum tidur, Reina harus selalu ditemani hingga ia tertidur.

“Itadakimasu~” seru Reina yang sudah ada di depan meja makan. Dihadapannya sudah tersedia sepiring omurice yang baru saja dibuat oleh Sho.

“Bagaimana? Enak?” tanya Sho setelah Reina memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Oishii~” seru Reina senang. “Masakan Papa semakin hari semakin enak.”

Sho meringgis. Patut diakui kalau saat pertama kali ia dan Reina pindah ke apartemen ini, masakan Sho sangat jauh dari kata enak. Bahkan Reina sempat tidak mau makan karena masakan Sho yang beraneka rasa alias rasanya campur aduk. Sejak itu Sho membeli buku yang berisi resep makanan dan jika ada kesempatan atau hari libur ia akan mencoba mempraktekannya. Dan sekarang kemampuannya dalam memasak mengalami kemajuan.

Setelah selesai makan, Reina lalu duduk di sofa yang menghadap televisi. Wajahnya sangat serius padahal acara tv itu hanya menayangkan iklan saja. Melihat Reina, Sho yang sedang mencuci peralatan makan hanya tersenyum sekaligus gemas. Tapi tak berapa lama, saat Sho melihat kembali kegiatan Reina, ia meliat Reina sudah tertidur.

“Kalau tertidur seperti ini, kamu bisa sakit leher, Reina,” gumam Sho. Tentu saja tidak ada respon dari Reina karena Reina sudah terlelap.

Sho lalu mengangkat Reina dan memindahkannya ke kamar. Setelah menyelimuti dan mengecup kening Reina, Sho tiba-tiba mendengar Reina yang mengigau dan mengucapkan kata ‘Mama’ di tengah tidurnya.

Sho tersenyum sambil membelai rambut Reina dan kemudian menatap foto di sebelah ranjang. Itu adalah foto seorang wanita cantik berambut panjang yang sedang tersenyum.

“Yui, Reina sekarang semakin besar dan dia mulai memanggilmu,” gumam Sho sambil masih menampakkan senyumnya.

---------------------
“Tadaima!!”, Aiba melemparkan sepatunya begitu saja di depan pintu masuk apartemen yang cukup besar itu.

Aiba melirik jam dinding, sudah hampir pukul dua, wajar saja ia merasa sangat lelah. Bosnya selalu membuat dia naik darah karena permintaannya yang macam – macam. Jika tidak dituruti, tentu saja pekerjaannya sebagai fotografer bisa terancam.

Tidak ada jawaban dari dalam apartemen itu. Aiba melangkahkan kaki masuk, lalu membuka kamar tidur, Din dalam posisi di depan laptop, dengan wajah menunduk di kursi, terlihat sangat lelah juga.

“Dinchan…”, bisik Aiba pelan.

Kekasihnya itu pasti kecapean menunggunya. Ia lihat di dapur juga ada makanan yang masih belum tersentuh.

Aiba memapah Din dan merebahkannya di kasur, ia segera ganti baju dan berbaring di sebelah Din yang sudah terlelap.

“Gomen na… aku sibuk sekali akhir – akhir ini..” bisik Aiba lalu merengkuh Din dalam pelukannya.

Hubungannya dengan Din sudah berjalan hampir empat tahun. Sejak Din masih SMA, mereka sudah berpacaran. Perbedaan umur yang cukup jauh, sekitar 8 tahun tak membuat mereka ingin mengakhiri hubungan itu. Sejak setahun lalu Din memutuskan untuk tinggal bersamanya.

Tiba – tiba Aiba merasa Din bergerak, sepertinya ia terbangun.

“Masaki-kun..”, panggil Din yang masih setengah tertidur.

Aiba tak menjawab, kembali merengkuh Din dalam pelukannya, “Tadaima…”, bisik Aiba pelan.

Mata Din terbuka sepenuhnya, “Okaeri..”, jawab Din lalu balas memeluk Aiba.

“Gomen na…. Dinchan… aku tak bermaksud untuk pulang telat setiap hari…”, jelas Aiba dengan nada sangat menyesal.

Ia begitu mencintai Din, kalau tidak, tak mungkin ia berani ambil resiko untuk tinggal bersama Din.

“Hmmm~ daijoubu… hari Senin minggu depan milik aku ya…”, kata Din lagi, itu berarti Din ingin berkencan hari itu.

“Wakatta… sekarang tidurlah..”, kata Aiba mengiyakan.

Kebetulan ia hanya libur hari Senin. Din tak punya hari libur, tapi sepertinya tak ada event apapun hari senin hingga Din bisa mengajaknya berkencan.

Aiba menyelimuti dirinya dan Din, bersyukur ia punya kekasih yang masih bisa memaafkannya walaupun sudah sering ia mengecewakan Din.

“Jangan banyak bergerak… nanti kau bisa ku serang…”, bisik Aiba pada Din yang sejak tadi bergerak berusaha melepaskan pelukan Aiba.

“Huwaaa~”, seru Din.

“Hahaha…”, Aiba menarik Din agar diam, “Tidur… kau butuh tidur..”, bisik Aiba lagi sambil mengunci tubuh Din yang akhirnya menyerah dan tidur di pelukan Aiba malam itu.



----------------------------

Sekali lagi Din melihat PDA di tangannya, lalu beralih pada ponselnya.

“Angkat dong~”, keluh Din yang berada di dalam mobil bersama Aiba, kekasihnya.

“Kenapa sayang?”, tanya Aiba yang berada di belakang kemudi.

“Jun belum bangun sepertinya…ck~”, keluh Din masih menempelkan ponsel di telinganya.

“Jadi kita ke apartemen Jun?”, tanya Aiba lagi.

Din mengangguk sambil kembali mengecek ulang jadwal hari ini.

“Masaki-kun.. aku bisa pulang larut nih… ada acara tengah malam..”, kata Din sebelum Aiba meninggalkan tempat itu.

“Wakatta… aku juga pulang larut kok.. hati – hati ya..”, seru Aiba sambil berlalu dengan mobil sportnya itu.

Din tak punya banyak waktu, segera berlari menuju lift dan beranjak ke apartemen milik Jun.

“JUNNN!!!”, seru Din setelah masuk memakai kunci cadangan yang ia punya.

Di hadapannya sekarang adalah Matsumoto Jun, actor terkenal yang sekarang sedang naik daun. Popularitasnya karena membintangi banyak film dan dorama membuatnya jadi actor yang diperhitungkan di Jepang saat ini.

“Jun!!!”, seru Din terus mencoba membangunkan actor bebal yang sepertinya semalam kembali mabuk.

Jun menggeliat, bangun dari tidurnya.

“Ah… cuma Dinchan..”, kata Jun kembali menarik selimutnya.

Din bergerak ke tirai lalu membukanya, “Bangun atau aku terpaksa menyeretmu!!”, seru Din mulai tak sabar.

Akhirnya Jun bangun, dengan mata setengah tertutup ia duduk di ranjang king size itu, hanya dengan boxer saja, buat penggemar Jun mungkin pemandangan itu bisa membuat pingsan atau bahkan mimisan. Tapi tidak buat Din, sebagai salah satu manajer Jun, ia malah ingin melempar Jun ke kamar mandi.

“Ohayou Dinchan..”, sapa Jun mengucek matanya lalu menguap.

“Kau cuma punya waktu sepuluh menit. Aku siapkan sarapan, sekarang cepat siap – siap..”, kata Din tegas sambil menarik Jun dari ranjangnya.

“Wakatta… manajer-san..”, jawanya ogah – ogahan.

Din mencibir, “Aku belum jadi manajermu..”, tegur Din lalu keluar menuju dapur apartemen itu.

Din memang hanya asisten manajer Jun. Itulah kenapa Din yang selalu di daulat untuk menemani aktor itu kemanapun Jun pergi. Sementara manajer Jun sibuk mengurusi kontrak milik Jun, Din di tugasi mengontrol semua kegiatan serta jadwal Jun.

Sekitar lima belas menit kemudian mereka sudah berada di jalan, dengan Din dibalik kemudi karena keadaan Jun yang sedikit masih hangover  tak mungkin mengemudi.

“Kau tahu… harusnya kau tahu hari ini kau harus berangkat pagi, jadi berhenti minum – minum terlalu banyak…”, keluh Din.

“Wakatta… habis semalam kau pulang duluan kan..”, balas Jun manyun.

Din menoleh dan mencibir pada Jun, “Aku tak hanya mnegurusi kau saja..”, kata Din lagi.

“Tau… kau juga harus mengurus pacarmu kan?”.

Din tak menjawab, meneruskan perjalanan itu.


“Siang ini kau gym kan?”, tanya Din memegang PDA yang sudah berisi penuh jadwal milik Jun hingga akhir tahun ini.

Jun mengangguk – angguk. Mereka di lokasi syuting, dan sedang istirahat sebelum Jun harus ke Gym.

“Baiklah… aku punya waktu dua jam..”, gumam Din.

“Kau mau kemana? Tidak ikut Gym?”, tanya Jun.

Din menggeleng, “Tidak bisa… aku harus ke rumah kakak ku..”, jawab Din.

“Ayo!”, ajak Din sambil membawa tas milik Jun.

“Huaaa~ aku malas… boleh ke rumahmu saja tidak?”, tanya Jun lagi dengan manja.

“Tidak! Kau sudah janji dengan personal trainermu… aku tak mau lagi di complain oleh manajermu karena kau sakit… menegrti?”, sahut Din cepat sambil masuk ke mobil.

“Huuummm~ wakatta…”, jawab Jun.

Setelah mengantar Jun ke Gym, Din segera meluncur ke rumah kakaknya. Ikuta Rei, kakak perempuannya yang kini sudah bergati nama menjadi Ohno Rei, setelah menikah kakaknya itu memutuskan jadi ibu rumah tangga saja.

“Ojamashimasu…”, teriak Din di pintu sesaat setelah sampai.

“Eh… Dinchan… masuk…”, sambut seorang pria.

“Satoshi-nii tidak kerja?”, tanya Din heran melihat kakak iparnya itu di rumah.

“Aku melakukan proyekku di rumah…”, jawabnya terlihat capek sekali.

Kakak iparnya, Satoshi Ohno adalah seorang seniman dan designer untuk beberapa produk. Dia kadang membawa pekerjaan ke rumah, karena kantor creative design nya adalah miliknya. Jadi, ia tak perlu terus ke kantornya.

“Sou…”, Din masuk setelah membuka sepatu bootnya. Terkadang hanya jadi seorang asisten manajer saja dirinya harus berdandan modis, mengimbangi Jun yang terus menempel padanya sepanjang hari.

“Iya tuh… dan dia menyuruhku ikut bekerja…”, kata kakaknya dari ruang tengah.

“Hahaha~”, Din hanya tertawa melihat pasangan ini.

“Ini kak… pesananmu..”, kata Din memberikan sebuah bungkusan berisi tas bermerek.

“Huwaaa~ arigatou ne Dinchan..”, kata kakaknya sambil mengambil tas itu.

“Rei… kau sudah banyak punya tas..”, tegur Satoshi.

“Tapi ini kan dari Paris… aku kan ingin..”, kata Rei lagi.

Din baru saja mengantar Jun selama tiga hari ke Paris, sehingga Rei meminta Din membelikannya tas bermerek.

“Dasar kau!”, kata Satoshi tapi tersenyum ketika istrinya itu mencoba sambil mematut dirinya di cermin.

“Kau cantik… sudahlah.. ayo bantu aku lagi..”, kata Satoshi.

Rei manyun, “Lihat Dinchan… jangan sampai kau dapat suami seperti dia… kalau tidak menggambar, kerjaannya hanya memancing, bahkan tidak bisa member istrinya pujian…”, keluh Rei pada Din.

“Hahahhaa… iya kakak ipar.. kau harusnya memuji istrimu..”, tegur Din.

“Berhenti mengadu pada adikmu…”, kata Satoshi lagi.

“Ah!! Yabai!! Sudah jam segini… aku harus menjemput Hiroki!!”, kata Rei tiba – tiba sambil emlihat ke jam dinding.

“Aku saja yang menjemput Hiroki…”, tawar Din.

“Tolong ya Dinchan… lagipula Hiro mengeluh karena kau jarang sekali ke sini..”, kata Rei lagi.

“Un… wakatta..”

Din memutuskan untuk berjalan kaki menuju sebuah sekolah TK di sekitar situ. Selain cukup dekat, ia ingin berjalan kaki. Sulit ia lakukan jika sedang bersama Jun.

Ternyata sesampainya disana, sekolah itu masih terlihat sepi. Sepertinya belum waktu mereka untuk pulang. Din memerhatikan sekelilingnya, sebagian orang tua juga sudah datang seperti dia. Tempat ini sebenarnya cukup membuatnya trauma. Bagaimana ia harus menunggu seseorang menjemputnya hingga larut malam. Ayah Ibunya yang sibuk, dan pada malam hari akhirnya yang menjemputnya adalah Rei, atau kakak cowoknya, Toma, yang sekarang di luar negeri.

Orang tuanya tidak pernah ada di rumah, TK adalah tempat mereka meninggalkan anak bungsunya untuk diurus oleh pihak TK. Mereka tak pernah datang pada acara apapun, Din memandang suasana TK yang buatnya tak pernah terasa menyenangkan.

“Eh?! Sakurai-san!!”, sapa Din pada newscaster yang pernah ia temui sekali saat mengantar Jun ke sebuah stasiun TV.

Sho memandang Din sedikit aneh, “Maaf?”

“Aku Ikuta Din… ingat? Kita pernah bertemu sebelumnya..”, kata Din lagi.

“Ah!! Manajernya Jun ya?”, seru Sho akhirnya mengingat Din.

Din mengagguk, “Aku asistennya…”, ralatnya.

“Sou.. sou… menjemput juga?”, tanya Sho ramah.

“Anak kakakku…kau juga?”

“Un… anakku sekolah disini juga..”, jawab Sho lagi.

‘Oh… jadi dia sudah punya anak..’, batin Din tak menyangka karena seorang seperti Sho sudah menikah dan punya anak.

Din hanya mengagguk – angguk mengerti. Tak lama bel sekolah itu berbunyi, semua kelas terbuka dengan guru – guru mereka di pintu, mengantar mereka pulang dengan wajah – wajah ramah.

“Hiro!!”, panggil Din pada seorang anak kecil yang celingukan, sepertinya mencari seseorang.

“Dinchaaaannn!!”, panggil Hiroki menghambur pada Din.

“Kaa-chan mana?”, tanya Hiroki bingung.

“Aku kan ingin menjemput Hiro… ne??”, kata Din sambil berjongkok mengacak rambut Hiro pelan.

“Papa!!”, seorang anak kecil lain menghampiri Sho.

‘wah~ anaknya cantik sekali..’, batin Din lagi.

“Reina-chan?”, kata Hiroki pada Reina.

“Ini Papaku…”, seru Reina pada Hiroki, sambil menggandeng tangan Sho erat.

“Ohno Hiroki desu…”, sapa Hiroki dengan sopan.

Din tersenyum melihat Hiroki bersikap sopan seperti itu.

“Ini tanteku…”

Din mengetuk pelan kepala Hiroki, “Jangan sebut aku tante..”, tegur Din tak rela.

“Hahahaha…”, Sho tertawa.

“Ayo pulang…”, ajak Din pada Hiroki.

“Dadah Reina-chaaann!! Sampai jumpa besok!!”, seru Hiroki melambai pada Reina.

“Oh… jadi Reina-chan itu pacarmu ya?”, tanya Din di sepanjang perjalanan menuju rumah.

“Bukan Dinchan!! Bukann!!”.

“Ayo mengaku saja…”, goda Din lagi.



“Kau telat sepuluh menit…”, kata Jun sambil melipat tangannya di dada.

“Gomen na… jalanan penuh… aku sudah mencoba untuk cepat… lagipula setelah ini kan hanya pemotretan, dan itu masih…”, Din mengambil PDA nya, “sejam lagi… tak usah mendramatisir..”, kata Din lagi.

“Hahaha~ iya… iya… aku tahu..”, kata Jun sambil berlalu dari lobby tempat Gym itu, menuju lift.

“Pemotretan plus wawancara, lalu malam hari kau harus tampil di acara tengah malam.. yosh!”, kata Din mengecek lagi jadwal Jun.

Jun menarik tasnya yang dipegang oleh Din, karena Din terlihat repot dengan berbagai macam barang yang ia bawa.

“Kau sudah terlihat repot tanpa tasku..”, ujar Jun cuek.

Ia membawa PDA, dua ponsel, kostum Jun untuk nanti malam yang baru saja ia ambil, serta tas miliknya dan sebuah jaket milik Jun.

“Hehehe~”.

“Hehehe jyanai..”, kata Jun lalu masuk ke lift, diikuti Din, “Kau tak perlu pakai celana sependek itu, dan sepatu boot juga kan?”, kata Jun memerhatikan dandanan Din.

“Berisik…”, kata Din sibuk dengan ponselnya yang kini berdering.


From : Masaki-kun :)
Subject : Tonight
Mala mini aku jemput ya sayang~
Aku pulang tengah malam…
Aku akan ke tempat kau..
Love you~


Din tersenyum melihat e-mail itu. Sudah lama Aiba tidak menjemputnya, lagipula akhir – akhir ini hubungan mereka sedikit terasa hambar karena kurangnya komunikasi antara mereka berdua.


To : Masaki-kun
Subject : Re:Tonight
Wakatta honey-kun~
^^
Jangan lupa makan siang ya..
Love you too~


“Pasti e-mail dari Aiba ya..”, kata Jun memerhatikan ekspresi wajah Din.

“Kalau iya memang kenapa?”, tanya Din.

“Tidak apa – apa..”, kata Jun sambil keluar dari lift.

Din baru sadar mereka sudah sampai di basement.

“Jadi malam ini kau juga pulang cepat?”, tanya Jun yang kini berada di balik kemudi, ia yang akan membawa mobilnya.

“Tidak akan ikut after party sepertinya..”, kata Din menjawab sambil masih fokus pada ponselnya.

“Membosankan…”, keluh Jun.

“Apanya?”

“Kalau tak ada kau jadi membosankan tau!”, keluhnya lagi.

Din hanya mengerling berusaha tak mendengar Jun.

--------
TBC~
baru prolog kawan2!!karena kita lagi gila ARASHI!!hahaha :P

[Fanfic] You Just Have To Know *Little Secret side story*

Title        : You Just Have to Know (Little Secret side story)
Type          : Oneshot, SongFic
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Totally Romance XP
Ratting    : PG menyerempet ke NC… hahahaha~
Fandom    : JE
Starring    : Yamashita Tomohisa (NEWS), Ikuta Din (OC), Yamashita Opi (OC), Ikuta Toma (JE), dan selentingan orang pada lewat
Disclaimer    : I don’t own all character here. YamaPi and Toma are belongs to JE, Din and Opi is OC. Kalo nanya kenapa pairing YamaPi itu Din, tanyakan pada Opi yeee~ *kabur*. Saia hanya ingin bikin side story… no offense… OK??hehehe~Silahkan baca Little Secret punya Opi Yamashita kalo mau tau cerita awalnya~ hehehehe

COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

YOU JUST HAVE TO KNOW

No way, I’ve realized that I’ve been looking at you
It won’t do even if I hate it, stop it, or hide it
It can’t go on like this


Suara langkah kaki terdengar menuju je bawah. Aku menoleh sesaat untuk melihat siapa yang turun. Posisiku berada di ruang keluarga, duduk tak ada kerjaan siang ini, menonton hal – hal yang tidak penting.

“Hi Nii-chan…”, panggilnya sambil menghampiriku, membawa segelas jus jeruk.

“Untukku?”, tanyaku pada gadis berambut panjang di hadapanku.

Ia menggeleng, mencibir ke arahku, “Enak saja…”, katanya lalu duduk di sampingku.

Gadis ini bukan adikku. Ia sahabat adikku sejak kecil. Praktis aku sering sekali melihat dia di sekitarku. Bahkan ia sudah menganggapku kakaknya sendiri.

“Nii-chan nonton apa sih?”, katanya penasaran melihat ke arah TV yang sejak tadi hanya kupindah – pindahkan channelnya.

“Tak ada yang menarik~ aku harus segera mendapatkan pekerjaan… kalau tidak aku bisa mati bosan..”, keluhku padanya.

Aku baru saja lulus kuliah dari Meiji University, jurusan bisnis. Tapi hingga sekarang aku belum menemukan perkerjaan yang tepat untukku.

“Baito saja..”, ungkapnya enteng.

Aku mencubit pipinya pelan, “Aku cepat bosan…”, kataku lagi.

Ia meraih tanganku, memukulnya pelan, “Ih!! Sakit tau!!”, protesnya lagi.

“Hehehe..”

“Dinchaaann!!”, panggil Opi dari kamarnya.

“Iyaaaa!! Sebentaaaarr!!”, jawab Din lalu melihatku, “dadah Tomo-Nii!!”.

Aku tersenyum saat ia berlalu dari hadapanku. Entah sejak kapan aku memperhatikan dia, melihatnya sebagai orang yang lebih dari sekedar sahabat adikku.


I will confess that I’ve fallen for you
You’re everywhere in my dream


Langkahku terhenti saat ku melihat Din menangis di pundak Opi. Aku sudah mendengarnya. Ia putus dari pria yang lebih muda darinya. Siapa itu namanya? Kenapa tega – tega nya dia membuat Din menangis seperti itu?

Huufft~

If Only You’re Mine…

Aku gak mungkin bikin kamu nangis kayak gitu. Aku punya percaya diri soal itu. Tak lama akhirnya tangisnya berhenti. Walaupun terlihat cuek, aku tahu Din cukup sensitif untuk hal – hal seperti cinta dan persahabatan.

“Nii-chan… pergi!! Pergi!! Urusan cewek!!”, kata Opi sambil mendorongku dari ruang makan itu.

“Cowok yang buat ceweknya nangis itu gak bener – bener sayang sama ceweknya..”, ujarku sambil lalu.

“Ih Nii-chaaann!! Pergi sana!!”, kata Opi lagi.

Hampir tiga jam lamanya Din berada di kamar Opi. Aku kadang heran, apa sih yang mereka bicarakan? Tapi aku berusaha tak penasaran, walaupun berkali – kali aku tak sengaja ingin ke atas dan mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Aku pulang ya Opichi…”, kata Din di depan, aku mendengarnya.

“Iya… kau jangan sedih terus. Hati – hati ya!!”, seru Opi.

Aku bergegas keluar rumah, mengikuti Din.

“Hey!”, panggilku pada Din.

Ia menoleh, “Nii-chan? Ada apa?”, tanyanya heran.

“Maaf kata – kataku tadi.. aku tak bermaksud menjelek – jelekkan pacarmu..”, kataku yang memang sejak tadi merasa tak enak karena perkataaan ku.

Din menggeleng sambil tersenyum, “Daijoubu Nii-chan…”

“Sou… aku tebus kesalahanku ya?”, tawarku.

“Eh?? tak usah…”, tolaknya, “Aku tak merasa itu salah kok..”

“Tak apa – apa.. minggu depan aku jemput ya…”, seruku sambil memberikan sekaleng jus padanya.

“Nii-chan!!”, panggilnya ketika aku menjauh.

Aku berbalik dan tersenyum padanya, “Jam sepuluh!!”.


I know that it doesn’t make any sense but I love you
I like this sensation, you know how I feel even if we were to fight everyday


‘Ikuta’

Aku memencet bel rumah itu, tak lama sosok pria keluar dari rumah itu.

“Tomooo!!”, sapanya sambil menghambur ke arahku.

“Stop Toma!! Ini tak bagus dilihat… lagipula.. kau sudah pulang?”, tanyaku heran melihatnya ada di Jepang.

“Hanya ambil bahan skripsi. Besok juga aku kembali ke sana…”, katanya.

Ikuta Toma, kakak dari Din adalah teman masa kecilku. Empat tahun lalu ia pergi ke Eropa untuk melanjutkan studinya.

“Kau mau bertemu aku? Atau adikku?”, Toma memandangku jail.

Ia memang tahu soal perasaanku yang kupendam sejak lama.

“Urusai yo omae!!”, kataku sambil mencoba menyembunyikan wajah maluku.

“Maaf lama…”, kata Din dari belakang tubuh Toma.

Sial~

Kenapa hari ini ia berdandan sangat manis? Hufft~

“Aku bawa adikmu ya Toma…”, kataku lalu menatap Din.

“Hati – hati.. awas lecet!!”, seru Toma sambil melambai padaku dan Din.

“Nii-chan… kita mau kemana sih?”, tanya Din bingung.

Aku membawanya ke bioskop. Ini memang hanya alasan agar aku bisa bertemu dengannya hari ini. Lagipula, sejak aku dengar dia putus, aku merasa ini kesempatanku untuk mendekatinya.

“Mau nonton apa?”, tanyaku, ia terlihat canggung dan gugup.

“Hmmm~ apa ya?”, ia menatap display judul film dengan wajah bingung.

Akhirnya setelah itu, aku yang memutuskan film apa yang akan di tonton. Kami membeli popcorn, lalu duduk menunggu film di putar.

“Kau kenapa?”, tanyaku.

Melihatnya gugup seperti ini, seperti bukan dirinya. Ia selalu bisa membawa diri di hadapanku. Maksudnya, kita kan sudah bersama sejak kecil, harusnya ia tak perlu se gugup ini.

“Aku gugup… ini kan pertama kali Tomo-Nii mengajakku nonton.. berdua pula..”, katanya terbata – bata.

“Ya ampun Din… kau kan sudah sering bertemu aku..”, kataku enteng.

“Tetap saja…”, katanya sambil takut – takut melihatku.

Aku menyentuh kepalanya pelan, “Santai saja… ne?”.

Ia akhirnya mengangguk dan tersenyum lembut. Apa Opi akan marah jika aku mengencani sahabatnya ya?


You always want it your way but I can accept anything from you, only you~
I’m lonely, my heart’s crazy for you and and you’re the only one I see~


“Sankyu nii-chan!! Hari ini benar – benar menyenangkan..”, kata Din tersenyum memandangku.

Setelah nonton, kita makan dan beli es krim. Aku hanya mengikuti apa yang ia mau hari ini. Jujur saja aku juga bahagia hari ini.

“Sama – sama…”, jawabku.

Aku memandanginya lama. Ia disebelahku, kami berdua menunggu bis datang di sebuah halte.

“Ada yang salah?”, tanyanya mulai mengecek dandanannya.

“Tidak…”, kataku meraih tangannya.

“Nii-chan?”

Entah dari mana asalnya keberanian itu. Aku menyentuhkan bibirku pada bibirnya. Ia terdiam, aku bisa merasakan tubuhnya terlonjak kaget karena gerakanku yang tiba – tiba. Dan tanpa menjelaskan apapun, aku menarik pinggangnya, memeluknya dengan tangan kananku, sedangkan tangan kiriku merengkuh wajahnya, meneruskan ciuman itu.


No way, I’ve realized that I’ve been looking at you
It won’t do even if I hate it, stop it, or hide it
It can’t go on like this


To : Dinchan
Subject : Gomen
Gomen na… aku terlalu spontan tadi..
Gomen…


Aku sedikit menyesal karena menciumnya tanpa penjelasan apapun. Ia pasti bingung, sedikit kesal mungkin padaku. Aaaarrgghh! Aku ingin menyalahkan pada sikap spontanku yang kadang berlebihan.
Tak lama, sebuah balasan datang.


From : Dinchan
Subject : Re:Gomen
Tidak apa – apa Nii-chan…
Aku hanya sedikit kaget…
Maaf Nii-chan…
Aku…
Kembali pada Keito hari ini…
Tadinya aku ingin menceritakannya..
Tapi..
Maaf…


Ponsel malang ini sukses hancur berkeping – keping setelah aku membaca mail itu. Aku kembali harus menelan kekecewaan.


Beberapa bulan ini aku jarang melihat Din di rumah. Selain mungkin karena ada aku di rumah, seorang anak teman ayahku, Kei Inoo juga ada di rumah. Sepertinya Opi dan Din sering bertemu hanya di sekolah saja.

Aku menghela nafas berat. Memang tak ada yang tahu kejadian antara aku dan Din malam itu. Tapi aku juga belum sempat meminta maaf soal itu. Din sepertinya juga enggan membicarakannya dengan Opi karena ini menyangkut kakaknya. Selain itu akhir – akhir ini Opi terlihat sedang ada masalah, mungkin karena itu juga Din tak menceritakannya.

Jika ia sudah cerita, sudah pasti aku kena tendang dan kena amarah Opi soal Din.

Tapi hari ini aku melihatnya ada di rumah.

“Dinchan?”, tanyaku kaget saat aku masuk dapur berniat mengambil sekaleng bir untuk menemaniku main game. Hari libur memang paling enak untuk bersantai.

“Nii-chan!!” serunya kaget, hampir menjatuhkan piring yang ia pegang. Aku mencegahnya jatuh.

“Hati – hati…”, kataku pelan.

Ia membenarkan letak piring itu, lalu tersenyum canggung, “Maaf Nii-chan..”

“Tak usah minta maaf.. mau ke atas?”, tanyaku.

Ia mengangguk, dalam diam mengambil beberapa potong kue, “Kita mau belajar…”, jawabnya pelan.

“Hmmm.. sou da ne…”, ujarku tak kalah canggung.

“Kudengar dari Opichi… Nii-chan sudah bekerja? Omedetou ne..”, ucapnya.

Aku mengangguk, “Arigatou..hehehe…”

Memang sejak sebulan lalu aku diterima kerja di sebuah perusahaan.

“Masa cuma omedetou?”, aku berniat menjahilinya siang ini.

“Eh?”

Aku menyodorkan pipiku padanya.

Tak sangka, Din mencium pipiku pelan, dan cepat. Setelahnya ia berlalu meninggalkanku dalam ke kagetan. Apa itu artinya ia memang tidak marah padaku?


I will confess that I’ve fallen for you
You’re everywhere in my dream
I know that it doesn’t make any sense but I love you


“Ojamashimasu…”, suara yang begitu kukenal.

“Din?”, aku agak heran ia datang, padahal Opi sedang tidak ada di rumah.

Opi sibuk dengan Kei sepertinya. Aku juga tak bisa ikut campur urusan mereka saat ini. Walaupun aku tak tahu Opi kenapa, yang jelas setidaknya Opi tak semurung kemarin – kemarin.

“Ada apa?”, tanyaku.

Ia duduk di ruang tengah bersamaku, Ayah tentu saja belum pulang.

“Opichi gak bilang kalau hari ini dia gak ada di rumah..”, katanya kesal.

“Kau tak tahu ia pergi?”, sepertinya sedikit tak mungkin, mengingat keduanya selalu berkomunikasi lewat ponsel.

“Tadi aku lupa bawa ponselku ke tempat les..”, katanya lagi.

Baiklah, dengan begini memang terdengar meyakinkan.

“Aku mau mengembalikan buku ini padanya..”, katanya sambil mengeluarkan sebuah buku tebal. Tak usah ditanya, pasti sebuah novel.

“Sou..baiklah… aku akan memberikannya padanya..”, kataku mengambil novel itu.

Ia terlihat enggan beranjak, matanya bergerak – gerak canggung dan terlihat resah. Namun ia beranjak, aku bermaksud mengantarnya ke depan, jadi aku juga ikut beranjak. Tapi tak lama…

“Tomo-Nii..”, ia berhenti tiba – tiba membuatku kaget.

Secara tiba – tiba ia berbalik dan mencium pipiku.

“Eh??”, ucapku kaget, dan dengan refleks menahan tangannya.

Ia tak bicara apapun, tubuhnya tiba – tiba memelukku. Aku membalas pelukannya, dadaku bergemuruh karena rasanya bahagia sekali ia bisa memelukku seperti ini.

Aku mengendurkan pelukanku, memandang wajahnya, “Ada apa?”

“Aku… boleh menciummu?”

Tentu saja setelahnya aku tak menjawab pertanyaannya, bibirku menginvasi bibirnya, aku menciumnya tanpa pikir panjang. Kami masih berciuman hingga aku menarik tubuhnya sehingga kini ia kugendong, kulakukan agar wajah kami sejajar. Tak butuh waktu lama lidahku kini ikut ambil bagian. Ia terlihat kaget, namun menerimanya dengan malu – malu. Tubuhku kini terhempas ke sofa, kami berdua masih saja tak mau saling melepaskan ciuman ini.

“You’ve got mail!”, ponselku berbunyi benar – benar pada saat yang tidak tepat.

Kami berhenti dengan posisi Din masih berada di pangkuanku.

“Chotto…”, kataku pelan.


From : Opi
Subject : (no subject)
Aku berada di toko 24 jam dekat rumah..
Kau mau kubelikan sesuatu?


“Opi sebentar lagi pulang…”, kataku tanpa menggubris mail itu.

“Eh… kalau gitu aku pulang saja..”, katanya sambil melepaskan diri dari tubuhku.

Aku memeluknya lagi, tak rela ia pergi.

“Arigatou…”, kataku pelan.

Ia membalas pelukanku, “Nii-chan..”

“Jangan panggil aku Nii-chan…”, ujarku lembut.

“Tomo….”, Ia menggantung kalimatnya, memandnag aku, “kun??”.

Aku mencium puncak kepalanya, aku yakin aku orang paling bahagia hari ini.


When I’m with you, I don’t mind being nervous
I may be a little hasty, but you’re the only one who can tell me what to do~
I guess my heart was stolen before I knew it and I’m missing you all day long~


To : Dinchan
Subject : (no subject)
Ohayou~
Sedang sekolah?
Aku rindu padamu…
:-*


Ya. Aku sudah kerja, tapi malah mengirim mail dengan isi sangat kekanak – kanakan. Kadang cinta bisa membuatmu jadi sedikit aneh kan? Hahaha.

Sejak hari itu kami sering sekali berkirim mail. Walaupun kami sebenarnya belum resmi berpacaran, tapi dengan ciuman itu, aku yakin Din mengerti semua isi hatiku.

“Hei!”, sapa seseorang di punggungku.

“Ampun deh Keii!! Jangan ngagetin gitu..”, kataku sambil refleks menutup ponselku.

“Kau…. Jatuh cinta ya?”, tanyanya sambil berdiri di hadapanku, membawa segelas kopi ditangannya.

“Tidak..”, elakku malas.

“Ayolah Pi… jangan bohong padaku… hanya orang jatuh cinta yang bisa memandang ponselnya sambil senyum – senyum gak jelas kayak tadi…”, jelas Keii masih menggodaku.

Aku mengangkat bahu. Teman sekantorku ini, Koyama Keiichiro, adalah temanku di kampus dulu. Ia memang agak usil padaku.

“Lain kali kenalkan padaku ya…”, katanya lalu beranjak dari hadapanku.

“Tak akan!!!”, seruku setelah ia menjauh.


From : Dinchan
Subject : re: (no subject)
Iya.. aku lagi di sekolah…
Huss~
Kerja yang benar sana.. :)
:P


To : Dinchan
Subject : re:re: (no subject)
Sudah kuputuskan…
Kencan kita hari minggu…
:)


From: Dinchan
Subject : re:re:re: (no subject)
Tomo…
Aku ujian hari senin… :(
Aku gak bisa…


Aku mengutuk orang yang mebuat jadwal ujian hari senin. Gara – gara nya aku tak bisa kencan dengan Din.

To : Dinchan
Subject : re:re:re:re: (no subject)
Kencan sambil belajar?
Dou?
Aku akan ke rumahmu..
Ok?


From : Dinchan
Subject : Ok
(Image)


Din mengirimkan fotonya sedang memberikan signal “Ok” dengan tangannya. Aku tertawa melihatnya, dengan begini aku bisa menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat, karena aku merasa Din memberikan semangat baru.


No way, I’ve realized that I’ve been looking at you
It won’t do even if I hate it, stop it, or hide it
It can’t go on like this
I will confess that I’ve fallen for you
You’re everywhere in my dream
I know that it doesn’t make any sense but I love you


“Tomo…yamete…”, bisiknya ketika tanganku mulai masuk ke kaos hitam yang ia pakai, sedangkan mulutku masih sibuk di lehernya.

Aku tak menggubris perkataannya, meneruskan apa yang kukerjakan. Kami berada di rumah Din. Sebenarnya ada Ibu Din di bawah, tapi entah dengan alasan apa aku ingin memberi tanda bahwa ia milikku. Aku tak siap jika ia diambil orang lain.

Tangan Din terus menolak tubuhku, mencoba mendorongku menjauh dari dirinya.

“Tomo… jangan…”, aku berhenti ketika kulihat ia menangis.

Aku menjauh. Bodoh sekali rasanya. Apa aku mulai kehilangan akal sehatku?

“Gomen…”, kataku pelan.

Din terlihat cukup ketakutan denganku, tapi ia menghampiriku.

“Gomen Tomo-kun.. aku… aku…”, ia menggenggam tanganku, mengisyaratkan ia menyesal menolakku.

“Tidak… aku yang salah… maaf Dinchan.. aku tak akan seperti ini lagi…”, kataku sambil meraih tubuhnya yang masih bergetar ke dalam pelukanku.

“Tomo-kun…maaf..”, bisiknya lagi.

Aku menggeleng, “Iiya.. Dinchan… izinkan aku menjagamu mulai sekarang…”

“Eh?”

“Kau mau jadi pacarku kan?”, tanyaku lagi.

Ia mengangguk dan memelukku erat.


Everything’s so different, it’s too different~
I think I am falling in love, be my baby, be my baby~
From head to toe we have nothing in common
Now I wanna know more about you, be my baby, be my baby~


“Nii-chan!! Jadi kau berpacaran dengan Din?? Kok gak bilang – bilang aku??!!”, Din sepertinya sudah menceritakan apa yang terjadi dua hari lalu pada Opi.

“Hehehe..”, jawabku sekenanya.

Opi menghampiriku, mencubit pipiku dengan keras.

“Itttaaaiii!!”, seruku sambil meraih pipinya juga.

Kami berdua meringis sama – sama kesakitan karena pipi kami dicubit satu sama lain.

“Kau kakakku, tapi kalau kau berani menyakiti Din, aku akan membunuhmu!!”, seru Opi sambil duduk di sebelahku.

Aku tertawa, “Tak akan.. aku tak akan menyakitinya…”

“Janji?”, tanyanya lagi, memastikan.

“Janji…”, kataku mantap.

“Awas kau… aku memperhatikanmu Nii-chan…”, katanya sambil menggerakkan dua jarinya, telunjuk dan jari tengahnya di depan matanya dan mataku, sepertinya berkata ‘I’ll watch you!!’

“Iya… aku juga tak bisa memaafkan diriku jika aku menyakitinya..”, ucapku pelan.


No way, I’ve realized that I’ve been looking at you
I’m happy whenever I say your name or look into your eyes


“Omedetou!!”, seruku menyambut Din yang hari ini lulus dari SMA.

Ia menghambur ke pelukanku, mengambil buket bunga yang aku bawa.

“Mana Opi?”, tanyaku tak melihat sosok Opi dibelakang Din.

“Hmmm~ dia ada urusan… dengan.. Kei-chan..”, bisiknya.

“Eh?? Kei-chan?? Kenapa Kei-chan??!!”, seruku sedikit marah.

Din menempatkan jari telunjukunya di bibirku, “Stop!! Jangan begitu Tomo-kun… aku malah berharap mereka bahagia juga… ne?”, katanya sambil tersenyum.

“Baiklah…”, jawabku walaupun sedikit tidak rela.

Sudah setahun sejak kami menjadi pasangan. Setiap harinya aku selalu bersyukur Din lah yang menjadi pacarku. Ia mungkin memang sangat muda, ia mungkin tak lebih dari seorang murid SMA, tapi aku merasa sangat bahagia jika bersamanya.

“Aku diterima di Meiji loh!!”, katanya sambil mengeluarkan sebuah surat ketika kita sudah berada di rumah Din.

“Uwaaa~ omedetou!! Kau merahasiakan ini ya?”, seruku padanya.

Ia mengangguk, “Ini surprise…”

“Literature..”, bacaku pelan, lalu mataku beralih memandangnya, “Omedetou…”, kataku lembut sambil memeluknya.

“Arigatou..ini juga berkat Tomo-kun..”, katanya.

Aku menariknya duduk di bawah ranjang miliknya, ia bersender padaku. Sedangkan aku memeluk dari belakang, ini terasa begitu nyaman.

Ia mendongak melihatku, aku mencium dahinya dengan lembut.

“Tomo-kun…”, panggilnya.

“Ya?”

“Masa cuma omedetou?”

Katanya sambil melepaskan diri dariku, lalu berbalik menatapku, memejamkan matanya.

“Hahaha.. apa ini?”, tanyaku pura – pura tak tahu.

Ia menggembungkan pipinya kesal, “Huu~ Tomo jahat..”, umpatnya pelan.

Aku meraih kedua pipinya dengan tanganku, lalu bibir kami bersentuhan. Aku menciumnya tanpa ragu lagi. Ia milikku, dan kuharap akan selalu jadi milikku.


That will do and I want you too
Please say that we’re alike
Wherever I see, you are the only one in my eyes
I know that it doesn’t make any sense, but I love you


(YounHa – Can’t Believe It)
===========
OWARIIIII!!
Hahahhaa…
Sungguh geje…
Harusnya judunya “Apa yang Opi tak tahu dibelakangnya”
Hahahhahaha…
Peace ah…
:P

Sabtu, 21 Mei 2011

[Fanfic] Little Secret (chap 5) ~end~

Title : Little Secret
Chapter : 5
Author : Opi Yamashita
Genre : Romance mungkin #plakk
Rating : PG
Cast : Kei Inoo (HSJ), Sakurai Sho (Arashi), Yamashita Tomohisa (NewS), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC) dan selentingan orang numpang lewat
Disc : Kei Inoo, Sho Sakurai dan Yamashita Tomohisa itu kepunyaan Okaa-san dan Otou-san serta JE. Opi Yamashita dan Ikuta Din itu OC saia. tehehehhee....ada yang udah nagih jd lngsng post ajah...itung" pengen cepet beres.. soalnya bakal ada proyek baruuuuuu #lirik Din

Douzou~



Sudah 20 menit Opi menatap isi bukunya. Tadi ia bermaksud untuk membaca karena pelajaran berikutnya akan ada tes sejarah. Tapi Opi kesal karena sejak tadi ia tidak dapat berkonsentrasi. Pikirannya masih melayang tentang kejadian tadi malam. Setiap ia mengingat hal itu, wajah Opi terasa panas.



“Haaah~ ternyata tidak bisa,” desah Opi menyerah.



“Apa yang tidak bisa?” tanya Din yang sudah berdiri di hadapan Opi.



“Din? Sedang apa di kelasku?”



Opi kaget Din ada di kelasnya. Opi dan Din memang tidak sekelas. Mereka hanya sempat sekelas ketika kelas 1.



“Aku hanya ingin bilang kalau Tomo memintamu membeli bahan-bahan untuk makan malam nanti,” jelas Din sambil menunjukkan daftar belanjaan.



“Kenapa Onii-chan tidak bilang langsung saja?” Opi lalu memeriksa keitai-nya. Mungkin saja keitai-nya lowbat. Tapi setelah dilihat, baterai nya masih penuh.



“Oh..itu karena tadi aku sedang berkirim e-mail. Jadi sekalian saja.”



“Hah? Berkirim e-mail? Sejak kapan hubungan kalian sedekat itu?” tanya Opi kaget. Ia sama sekali tidak tahu kalau sahabatnya berkirim e-mail dengan kakaknya.



“Tomo tidak pernah cerita? Sudah lama. Sebelum aku putus dengan Keito. Lalu....”



“Lalu?” potong Opi.



“Lalu..dua hari yang lalu..kami pacaran,” lanjut Din pelan.



Opi memalingkan kepalanya kesal. “Cih..jadi kalian tidak pernah cerita padaku? Menyebalkan sekali.”



“Gomen ne..aku takut kau marah. Makanya tidak pernah cerita. Gomenasai,” Din mengatupkan tangannya tanda memohon.



“Aku tidak marah. Aku hanya kesal kalian tidak pernah cerita. Aku pikir kau hanya sekedar tertarik saja,” ralat Opi.



“Jadi kau tidak marah?” Din memastikan.



“Mana mungkin aku marah. Aku senang kalau kau dan Onii-chan senang.”



Din tersenyum lebar. “Sankyuu..” lalu mendaratkan kecupan di pipi Opi.



Opi terbelalak kaget.”Apa-apaan kau? Itu menjijikan tahu..”



“Hee hee..” Din tertawa lebar.”Lalu tadi kau kenapa? Daijoubu ka?” lanjut Din.



“Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan, tapi...”



Opi sengaja menggantungkan pembicaraan karena tiba-tiba ada yang melanjutkan.



“Ikuta Din, apa kau tidak mendengar bel? Cepat kembali ke kelasmu!” perintah Gin-sensei yang sudah ada di depan kelas. Opi dan teman-teman sekelasnya tertawa melihat wajah Din yang sudah memerah.



“Opi...kenapa tidak bilang?” protes Din berbisik.



“Itu hukuman karena kau sudah merahasiakan hubunganmu dengan Onii-chan,” jawab Opi sambil tertawa.



Din cemberut. Ia tidak tahu akan dikerjai oleh sahabatnya sendiri. Akhirnya Din keluar kelas sambil menunduk meminta maaf dan keluar menuju kelasnya dengan menampakkan wajah sangat malu.



----



Opi melirik jam tangannya. Sudah pukul 8 malam saat ia keluar dari wilayah sekolahnya.



Opi menghembuskan nafasnya dengan berat. ”Hari ini juga tidak ada,” gumamnya.



Sudah 2 minggu terakhir ini Kei yang biasanya menjemputnya tidak menampakkan diri sama sekali. Di rumah ia hanya bertemu dengan Kei pada pagi hari. Itu pun hanya sebentar. Bahkan saat pertandingan kemarin, Kei tidak menontonnya.



Sikap Kei sedikit berubah sejak peristiwa Kei menciumnya. Hal itu sedikit membuat Opi lega karena ia belum bisa menjawab apapun tentang perasaan Kei. Ia pasti akan kebingungan jika tiba-tiba Kei ada dihadapannya lalu meminta jawabannya. Tapi ada juga perasaan kesepian. Ingin rasanya peristiwa itu tidak pernah terjadi.



“Kalau kau berjalan sambil menunduk seperti itu, kau bisa menabrak tiang.”



Suara itu muncul dari seseorang di belakangnya. Opi menoleh untuk mengetahui siapa yang berbicara.



“Kei?”



Opi tidak mengira kalau orang itu adalah Kei. Baru saja ia memikirkan kalau tiba-tiba Kei ada dihadapannya. Dan sepertinya pemikirannya menjadi kenyataan.



“Tadi aku ke sekolahmu. Tapi temanmu bilang kau sudah pulang. Jadi aku menyusul,” jelas Kei tanpa ditanya.



Opi hanya mengangguk.



Selama perjalanan menuju halte, baik Opi maupun Kei tidak berkata apapun.



“Ano...” Kei akhirnya berbicara.



Opi masih juga bergeming.



“Tentang malam itu....”



Hanya bercanda saja, batin Opi berharap itu yang akan dikatakan oleh Kei seperti saat dia melakukannya pertama kali 11 tahun yang lalu.



“Malam itu....aku serius,” lanjut Kei.



Opi menoleh ke arah Kei dengan cepat karena kelanjutannya tidak sesuai dengan harapannya.



“Demo....doushite?”



“Kamu tahu, saat kamu menangis 8 tahun yang lalu. Saat mamamu meninggal. Lalu saat kamu menangis karena putus

dengan Sakurai-san. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu agar kamu tenang. Apapun itu. Walaupun sikapku menyebalkan. Asal membuatmu tenang dan senang. Aku ingin melakukan semuanya.”



Ucapan Kei benar-benar membuat Opi tidak dapat berkata apa-apa. Ini diluar dugaannya. Ia tak menyangka Kei akan mengucapkan hal-hal yang......menenangkan.



“Tapi..aku masih.....”



“Aku tahu,” potong Kei.”Tidak semudah itu kamu melupakan Sakurai-san. Aku akan menunggu.”





Opi lalu terdiam. Seperti yang dikatakan Kei, ia memang belum bisa melupakan Sho. Tapi mendengar Kei mengucapkan kata-kata itu membuat ia senang.



“Kei..” panggil Opi.



“Hmm?”



“Arigatou..”



Kei tersenyum. Senyum yang paling Opi sukai.



Opi lalu memeluk Kei. Kei sedikit kaget tapi kemudian membalas memeluk Opi. Ia tahu perjuangannya belum selesai. Tetapi asal ia dapat melihat Opi senang, ia akan terus menunggu. Walaupun membutuhkan waktu yang lama. Dan bagi Opi ini mungkin akan menjadi awal yang baru untuknya. Ada baiknya melupakan Sho dan masa lalunya. Meskipun ia sendiri tidak yakin karena ia terlalu menyayangi Sho. Tapi dari lubuk hatinya, ia senang karena ada Kei di sampingnya.

Dengan masih tersenyum, Opi kembali bergumam, “Arigatou, Kei.”



----



1 tahun kemudian



“Opi, lihat sini!” pinta Din sambil mengarahkan kameranya. Opi sadar akan dipotret lalu tersenyum.



“Din, kemana saja? Tadi aku mencarimu,” Opi lalu menghampiri Din.



Din hanya tersenyum malu. “Aku tadi bersama Tomo,” katanya kemudian.



“Ah..Onii-chan? Beruntung sekali...”



Hari ini tepat hari kelulusan Opi dan Din. Setelah 3 tahun melewati berbagai hal, akhirnya mereka terlepas dari masa SMA mereka.



“Kita pasti akan merindukan suasana seperti ini,” kata Opi.



Din mengangguk. “Banyak sekali yang kita lewati.”



“Un~ seperti Keito kan?” goda Opi diiringi tertawa puas.



“Kau juga. 1 tahun yang lalu. Tentang Sho-sensei,” balas Din.



Opi tiba-tiba terdiam. Din benar. Satu tahun yang lalu adalah saat yang paling berkesan untuknya. Dimulai dengan Opi yang berpacaran dengan Sho, lalu kencan dan pada akhirnya mereka harus berpisah.



“Kau benar,” gumam Opi. “Haaa~ kenapa tiba-tiba aku merindukannya yah?” sahut Opi.



“Kau jangan lupa. Ada yang sedang menunggumu,” lanjut Din.



Opi mendesah panjang. “Jangan ingatkan itu. Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”



Bersamaan dengan ucapannya, Din lalu memanggil Opi dengan tidak sabar.



“Opi...Opi..” panggil Din.



“Doushita no?”



“Sore wa...”



Opi melihat ke arah yang ditunjuk Din, dan di sana sudah berdiri Kei.



“Kei?”



Kei menyadari Opi melihatnya. Lalu ia berjalan menghampiri mereka berdua.



“Omedetou~” ucap Kei begitu sudah di hadapan Opi dan Din.



“Arigatou,” balas Opi yang lalu diikuti oleh Din.



“Ano~ sepertinya aku harus pergi. Tomo menungguku,” ujar Din. “Ja ne~.”



Opi bergumam kesal. Ia tahu Din pasti sengaja meninggalkannya dan Kei.



Selepas kepergian Din, Opi dan Kei masing-masing masih diam.



“Ikko~,” ajak Kei seraya menarik tangan Opi.



“Eh? Kemana?” tanya Opi.



Kei tidak menjawab. Ia hanya berjalan dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Opi. Opi sebenarnya

bingung, kenapa dia mau saja mengikuti Kei? Padahal ia tidak tahu akan dibawa kemana dia oleh Kei.



“Ah...Ini kan....”



Opi tahu jalan ini. Ia sangat mengenal jalan ini. Karena ini jalan menuju makam mamanya.



“Kei....” panggil Opi.



Kei tidak menggubis panggilan Opi. Ia lalu berlutut di hadapan makam dan mengatupkan kedua tangannya. Kepalanya tertunduk lalu diam.



“Apa yang kita lakukan di sini?” tanya Opi begitu Kei berdiri kembali.



“Mengunjungi mamamu,” jawab Kei singkat.



Opi semakin tidak mengerti.



“Kamu tahu, apa yang aku lakukan tadi?” tanya Kei.



Opi menggeleng tanda tidak tahu.



Kei tersenyum. “Aku bilang pada mamamu, kalau aku akan menjagamu. Aku akan melanjutkan tugas Tomo Onii-san. Aku

akan membuatmu bahagia.”



Opi tertegun. Ia tidak mengira Kei akan memikirkan hal sedetail itu.



“Kei...”



“Apa kamu keberatan kalau aku......”



“Tidak,” potong Opi.



“He?”



Opi lalu berlutut menghadap makam mamanya.



“Aku tidak keberatan kamu menjagaku. Aku juga tidak keberatan kamu melindungiku,” jawab Opi.



Kei seakan tidak percaya dengan pendengarannya.”Apakah kamu....sudah bisa melihatku?”



“Melihatmu?” tanya Opi tidak mengerti.



“Selama ini kamu hanya mengingat tentang Sakurai-san. Dan aku sudah tidak punya kesempatan.”



“Ma~” Opi memiringkan kepalanya.”Ya begitulah”.



Kei tersenyum lalu menggenggam tangan Opi.



“Ah~” seru Opi seperti teringat sesuatu. “Mungkin kita jangan dulu memberitahu Onii-chan.”



“Doushite?”



“Onii-chan tidak akan suka ini. Karena dulu ia berharap kita tidak berpacaran,” jelas Opi.



“Jadi....ini rahasia?” tanya Kei.



Opi mengangguk.



“Lagi?” tanya Kei lagi.



“Lagi?” Opi kembali bertanya.



“Bukankah waktu berpacaran dengan Sakurai-san, kalian juga merahasiakannya?”



“Ah...kau benar.”



“Tidak masalah,” kata Kei kemudian.”Asalkan kau bersamaku.”



Opi mengangguk lalu tersenyum lebar. ”Kaerimasho~.Aku sudah lapar.”



~FIN~

Akhirnya...

gaje kan terakhirnya?

sebenernya sih pngn ada kelajutannya. tapi klo pada pengen...

jadi komen ajah...

klo mau ada lanjutannya ato ga..

klo engga sampe di sini ajah yah...



ahahahaha...

Minggu, 15 Mei 2011

[Fanfic] Little Secret (chap 4)

Title : Little Secret

Chapter : 4

Author : Opi Yamashita

Genre : Romance mungkin #plakk

Rating : PG

Cast : Kei Inoo (HSJ), Sho Sakurai (Arashi), Yamashita Tomohisa (NewS), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC) dan selentingan orang numpang lewat

Disc : Kei Inoo, Sho Sakurai dan Yamashita Tomohisa itu kepunyaan Okaa-san dan Otou-san serta JE. Opi Yamashita dan Ikuta Din itu OC saia.

Ahahaha...cepet yah? ini untuk menghilangkan stress gr" mau UTS. #bukannya belajar malah ngpost penpik...

nikmati saja. Douzo~



Opi masih bersikap sama sejak ia kembali dari sekolah. Wajahnya murung. Suara yang biasanya membuat seisi rumah ramai, tidak ada sedikitpun Papa, Tomohisa dan Kei dengar. Rasa cemas dan ingin tahu memenuhi pikiran mereka. Tapi mereka ragu untuk hanya menanyakan keadaan Opi, setelah melihat Opi yang sangat tidak baik-baik saja.

Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya mereka sepakat Kei yang akan mencoba berbicara dengan Opi. Walapun sebenarnya mereka tidak yakin benar.



“Opi?” panggil Kei pelan sambil membuka pintu dengan hati-hati.



Opi yang meringkuk di kursinya, tidak menjawab apapun. Bahkan menoleh pun tidak.



Kei duduk di tempat tidur yang jarak nya tidak begitu jauh dengan kursi tempat Opi duduk.”Apa yang terjadi?” tanyanya kemudian.



Opi kembali diam. Tatapannya masih sama seperti tadi. Hanya lurus ke arah luar jendela.



“Baik kalau kamu tidak mau menjawab pertanyaanku. Tapi kamu tidak bisa membiarkan Paman dan Tomo Onii-san seperti ini. Mereka mengkhawatirkanmu,” ucap Kei sedikit tidak sabar.



Bukannya menjawab, Opi hanya bangun dari duduknya lalu membaringkan dirinya di atas kasur dengan posisi membelakangi Kei.



Kei pasrah. Dia sudah merasa seperti berbicara dengan patung. Akhirnya Kei keluar dari kamar Opi karena usaha apapun akan sia-sia saja.



“Bagaimana?” cecar Tomohisa tidak sabar.



Kei hanya mengangkat bahunya dan setelahnya terlihat wajah kecewa dari Tomohisa dan Papa. Semuanya, terutama Tomohisa sangat cemas dengan keadaan Opi karena terakhir kali dia seperti ini adalah saat Mama mereka meninggal dan Tomohisa tidak mau keadaan Opi yang dulu terulang lagi sekarang.



---



Din melirik Opi yang sedang membaca Myojo yang baru saja ia beli. Sebelah tangannya menopang dagu dan tangannya yang lain membalik-balikkan halaman majalah. Opi terlihat biasa-biasa saja. Padahal kemarin malam Opi baru saja meneleponnya sambil menangis karena sudah putus dengan Sho. Tapi apakah ia benar-benar baik-baik saja?



“Opi,” panggil Din sedikir ragu.



“Mm..” gumam Opi tanpa mengalihkan perhatiannya pada isi dari majalah.



“Aku dengar kamu tidak jadi diskorsing. Omedetou!!” seru Din riang –yang dipaksakan-.



“Sankyuu~,” balas Opi masih belum mengalihkan pandangannya.



“Ini kabar bagus. Bagaimana kalau kita merayakannya hari ini?”



“Gomen, din. Hari ini aku ada latihan,” tolak Opi.



“Aah~..souka..”



Din sedikit sedih karena ajakannya ditolak oleh Opi. Tapi dia lebih sedih melihat Opi yang tidak bersemangat. Opi yang cerewet, tidak mau diam, dan berteriak kesal tiba-tiba, seolah tergantikan dengan orang lain yang sering murung, lemas dan kerjaannya hanya melamun. Walaupun Din kadang selalu protes dengan Opi yang terlalu bersemangat, tapi Din merindukan Opi yang dulu.



Hari pertandingan datang. Opi sudah memakai baju seragamanya dibalut dengan jaket. Tapi dia masih belum mau masuk ke tempat pertandingan. Dia masih teringat dengan pertemuannya dengan Sho tadi.



-flashback-



Opi bergegas menemui Sho begitu dia mendapat e-mail bahwa Sho sedang menunggunya di luar lapangan. Memang Opi yang memutuskan hubungan mereka, tapi entah kenapa dia sangat merindukan Sho.



“Aku akan pergi sekarang,” kata Sho begitu mereka berdua duduk di salah satu bangku panjang yang tersedia.



Opi mengepal kedua tangannya di sisi kakinya. Dia tahu saat ini akan datang. Ia mencoba untuk menahan agar tidak menangis.



“Jaga kesehatanmu,” Sho berhenti sejenak seperti menahan sesuatu. ”dan jangan terlalu memaksakan diri untuk latihan,” lanjutnya.



Opi masih diam. Ia takut kalau dia berbicara, air matanya akan tumpah.



“Hubungan kita memang singkat, tapi aku senang bisa mengenalmu,”gumam Sho lalu menggenggam tangan Opi.



Bertepatan dengan tangannya digenggam, air mata Opi jatuh. Dia sudah tidak bisa menahan lagi.



Sho sadar Opi menangis. Tangannya lalu meraih kepala Opi dan memeluknya erat. Sangat erat hingga Sho tidak sanggup untuk melepasnya.



“Semua akan baik-baik saja. Kita bisa melewatinya. Aku harap kamu janji kalau kamu akan baik-baik saja,” ucap Sho. Opi masih diam walaupun ia mendengar suara Sho dengat jelas di samping kepalanya.



“Opi? kamu janji?” Sho mengulang pertanyaan. Ia tidak akan tenang jika Opi belum mengucapkannya.



Opi mengangguk.”Aku janji,” jawab Opi di tengah isakannya.



Opi mempererat pelukkannya. Dia tidak akan pernah merasakan pelukan hangat ini lagi. Dia tidak merasakan genggaman

tangannya lagi. Dan yang Opi sesalkan, dia tidak akan pernah melihat lagi senyuman Sho lagi.



-----



Kei berlari terburu-buru. Sejak Opi pergi karena mendapat sebuah e-mail, dia belum kembali. Padahal pertandingan akan segera mulai. Tapi yang Kei cemaskan bukan pertandingannya, melainkan keadaan Opi.



Kei terus berlari sampai matanya menangkap seorang gadis sedang duduk di bangku panjang dengan kepala tertunduk.



“Opi,” gumam Kei lega.



Hati Kei sakit melihat Opi seperti ini. Wajah yang biasanya ceria, kini terlihat murung. Mulut yang tidak mau diam karena banyak bicara, kini menjadi pendiam. Aura bersemangat yang membuat orang-orang kerepotan, kini lemah tidak

berdaya. Apa yang harus dia lakukan untuk mengembalikan semuanya?



“Opi,” panggil Kei lembut.



Opi mendongak. Matanya yang sembab karena menangis membuatnya sulit untuk melihat dengan jelas.



“Kei?”



“Kamu habis menangis? Doushita no?” tanya Kei cemasa seraya duduk di samping Opi.



Opi menggeleng. Dia sedang tidak mau menceritakan apapun.



Kei menghela hapas. “Daijoubu...kalau tidak mau cerita. Tapi sekarang semua sedang menunggumu. Pertandingan akan dimulai,” kata Kei lembut.



Opi mengangguk.



Kei sedikit lega melihat reaksi Opi. Dia lalu bangun untuk kembali ke lapangan. Tapi Kei terduduk kembali karena dia merasa bajunya ditarik dan ternyata Opi yang menariknya.



“Tadi sensei ke sini,” Opi mulai bercerita.



Kei mengerutkan keningnya.



“Sensei ke sini untuk mengucapkan selamat tinggal,” lanjut Opi.



Opi berhenti.



“Dia sudah pergi hiks..” Opi mulai menangis lagi.



Entah pikiran dari mana, Kei memeluk Opi. Dia tidak bermaksud buruk. Dia hanya berharap dapat menenangkan Opi walaupun hanya sebuah pelukan seperti ini. Sedangkan Opi, dia kembali menangis. Dia pun berharap dengan menangis ia dapat melupakan semuanya.



----



1 bulan kemudian....

Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Tapi di rumah keluarga Yamashita sudah terjadi perang yang siap memporak porandakan rumah. Semua dimulai karena Kei yang membuat ulah dan mengakibatkan Opi mengamuk.



“KEI!!!!!!!Keluar kamu!” teriak Opi sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.



“Aku tidak mau. Kalau aku keluar, kau pasti akan melemparku dengan panci,” jawab Kei di balik pintu kamar mandi.



“AKU MEMANG AKAN MELEMPARMU DENGAN PANCI!!!!!!!” teriak Opi makin keras.



“Opi!! Ribut sekali sih. Ini masih pagi, “ omel Tomohisa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Terlihat dari

wajahnya sepertinya dia baru bangun dan kekurangan jam tidur.



Opi cemberut.”Kei curang. Aku yang akan mandi duluan tapi dia langsung masuk tidak mengantri,” gerutu Opi kesal.



“Ya sudah. Tunggu saja sampai Kei keluar,” sahut Tomohisa acuh tak acuh.



“Tapi kan aku ada latihan pagi. Aku bisa telat,” protes Opi.



Tomohisa tidak membalas karena ia kembali meringkuk di sofa untuk tidur.



“AGGHHHHH~!!!!” teriak Opi. Tapi kali dia teriak di atap sekolah ditemani Din.



Din memukul pelan kepala Opi. “Jangan berteriak!” bentak Din.



“Ittai~,”keluh Opi.”Habis Kei menyebalkan,” gerutunya.



“Aku pikir setelah kalian berbaikan, kalian tidak akan ribut lagi seperti ini. Tapi ternyata aku salah,” kata Din sambil mengutak atik keitai-nya.



“Ini karena Kei yang memulai,” balas Opi bersikeras.”Ngomong-ngomong, sedang apa kamu? Sibuk sekali,” tanya Opi yang melihat sahabatnya terus-terusan sibuk dengan keitai-nya.



Din hanya tersenyum kecil.



“Keito yah?” tebak Opi.



“Ah~” seru Din seperti ingat sesuatu.”Aku lupa bilang. Sebenarnya aku dan Keito sudah putus,” jelasnya.



“Hah? Putus?”



Din mengangguk.”Pacaran dengan yang lebih muda, membuat aku seperti anak kecil.”



Opi tertawa.”Bukankah itu bagus? Kau jadi terlihat awet muda.”



Din cemberut.



“Jadi kau sedang sibuk dengan siapa sekarang?” tanya Opi lagi.



“Hmmm~. Hi-mi-tsu ahahaha...”



Kini Opi yang cemberut.”Kau sekarang sama menyebalkannya seperti Kei.”



Sudah sebulan sejak kepergian Sho. Kehidupan Opi sudah kembali seperti semula. Wajahnya yang murung, kini sudah kembali ceria. Bahkan Opi yang cerewet sekarang muncul lagi. Membuat telinga orang-orang kepanasan.



“Aku senang kamu sudah kembali seperti dulu,” ucap Din.



Opi tersenyum lebar.”Karena aku sudah janji dengan Sho.”



Hingga sekarang pun Opi masih merindukan Sho. Tapi itu masa lalunya. Dia sudah memutuskan untuk menganggap Sho hanya sebagai kenangan di kehidupannya saja. Saat ini ia hanya membutuhkan waktu untuk kembali menata hidupnya.



Ia tahu ini sulit. Tapi janjinya pada Sho yang membuat ia kuat dan yakin keadaannya akan baik-baik saja.



-----



“Oke. Sudah beres,” gumam Opi sambil melihat hasil pekerjaannya yang sudah selesai. Hari ini Opi mendapat giliran piket.

Semua teman-teman yang mendapat giliran piket yang sama dengannya sudah pulang karena ia datang terlambat. Jadi Opi mengerjakan sisa pekerjaan yang belum dikerjakan.



Suasana sekolah sudah sangat sepi. Wajar saja karena sekarang sudah sangat sore. Semua murid sudah pulang kecuali yang mengikuti klub baseball karena mereka sedang bermain di lapangan.



Opi menatap orang-orang yang sedang bermain di sana. Suasana sore seperti ini selalu mengingatkannya pada Sho. Biasanya setelah pulang sekolah, Opi akan berlari menuju lapangan basket untuk menemui Sho. Di sana mereka akan melepaskan rasa rindu mereka dengan bercanda atau hanya mengobrol. Kalau mengingat masa-masa itu, Opi hanya dapat tersenyum.



“Hmmm~” desah Opi sambil meregangkan tangannya.”Lebih baik aku pulang,” gumamnya.



Opi menyambar tasnya lalu melenggang pergi.



“Aah~ tsukareta!!!” seru Opi saat melewati lapangan yang sedang digunakan oleh klub baseball dengan santai. Kaget dengan suara yang mendadak muncul, hampir semua anggota klub menoleh ke arah Opi karena merasa suara itu sangat menganggu mereka.



“Ah~ gomennasai,” ucap Opi lalu jalan cepat-cepat agar dia tidak tambah mempermalukan dirinya sendiri dan agar dirinya dapat segera pulang lalu makan.



Selagi ia berjalan, Opi mendadak menyipitkan matanya, memastikan ada orang yang dia kenal di gerbang sana.



“Kei? Sedang apa di sini?” tanya Opi mengagetkan Kei.



“Kamu sudah pulang? Lama sekali sih,” gerutu Kei.



Opi memiringkan kepalanya.”Aku harus piket tadi,” jelas Opi. “Tapi kenapa kamu marah? Aku kan tidak memintamu menjemputku.”



Kei tidak mengacuhkannya. Ia lalu pergi.



“Dasar aneh. Sudah marah-marah, sekarang pergi begitu saja,” gumam Opi pelan lalu berjalan cepat agar langkahnya sejajar dengan Kei.



Kei maupun Opi sama-sama tidak memulai pembicaraan. Yang terdengar saat ini hanya suara kendaraan yang lalu lalang di jalanan. Opi sedikit heran dengan sikap Kei yang sedikit berubah. Menjadi agak menyebalkan. Semua yang Kei lakukan sama sekali tidak ia mengerti. Seperti sore ini Kei yang menjemputnya, suatu hal yang jarang Kei lakukan.



Sampai rumah pun Kei langsung masuk kamarnya setelah menjawab sapaan Tomohisa.



“Ada apa dengan Kei?” tanya Tomohisa pada Opi.



Opi tidak langsung menjawab karena mulutnya penuh dengan kue yang baru saja Tomohisa buat.



“Opi?” panggil Tomohisa.



“Tunggu sebentar. Aku kan harus menelan dulu,” gerutu Opi. “Kenapa dengan Kei, aku sendiri tidak tahu. Onii-chan saja

heran,apalagi aku. Tiba-tiba dia menjemputku. Itu lebih aneh,” lanjut Opi.



“Itu memang aneh. Oia, sebelum kamu mandi, aku ingin bertanya sesuatu.”



Opi berhenti melangkahkan kaki nya yang sudah terlanjur naik ke anak tangga.



“Waktu itu...sikapmu aneh..apa karena laki-laki yang bernama Sho Sakurai?” tanya Tomohisa hati-hati.



Opi sebenarnya kaget dengan pertanyaan kakaknya itu. Karena setahunya, yang mengetahui hal ini hanya segelintir orang. Kemungkinannya kecil kalau Tomohisa tahu hal ini. Tapi ia berusaha tenang menanggapinya.



“Onii-chan tahu dari mana tentang laki-laki yang bernama Sho Sakurai?”



“Itu tidak penting. Aku hanya ingin tahu benar atau tidak?”



Opi mengangguk pelan.”tapi itu sudah berlalu. Aku sudah putus.”



“Lalu, sekarang kamu pacaran dengan Kei?” tanya Tomohisa lagi.



“Hah? Aku pacaran dengan Kei? Kenapa Onii-chan berpikiran aku berpacaran dengan dia?”



Opi tidak habis pikir kakaknya itu menganggap yang aneh-aneh tentang hubungannya dengan Kei.



“Aku lihat sikap Kei berubah. Apalagi kalau berurusan denganmu. Walaupun hingga sekarang kalian masih bertengkar,tapi setelah itu kalian baikan lagi. Kalau dulu mana mungkin seperti itu,”jelas Tomohisa.



“Hontou? Apa hubunganku dengan Kei seburuk itu?” Opi justru bertanya kembali.



“Setidaknya itu yang aku lihat.”



“Hingga saat ini aku tidak pernah terpikirkan untuk pacaran dengan Kei.”



Ya. Opi hanya dapat menjawab seperti itu karena walaupun hubungannya dengan Kei jauh lebih baik, tapi untuk pacaran Opi sendiri tidak tahu. Hatinya belum sembuh untuk berpacaran lagi.



“Bagus kalau begitu,” timpal Tomohisa lega.



“Loh? Ada apa?”



Alih-alih menjawab pertanyaan Opi, Tomohisa hanya melengos pergi ke dapur untuk meneruskan pekerjaannya.



Hari-hari pun berlalu. Hubungan Opi dan Kei menjadi semakin dekat. Hampir setiap hari Kei menjemput Opi walaupun dia pulang hingga pukul 9 malam karena harus latihan basket. Kegiatan rutinitas Opi setiap minggu seperti berbelanja pun kini dilakukan berdua dengan Kei. Bahkan jalan-jalan di hari libur pun sudah sangat sering mereka lakukan.



Din yang mengetahui semuanya, merasakan ada hal yang aneh pada sahabatnya itu. Apa dia sudah benar-benar melupakan Sho?



“Hari ini apa kegiatanmu?” tanya Din pada Opi yang dihadapannya. Hari ini Din memang sengaja mengajaknya ke café langganan mereka.



“Hmm..lari pagi, latihan basket dan belanja.”



“Dengan Kei?”



Opi mengangguk sambil menghisap minumannya.



“Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan.”



Opi mengerutkan keningnya mendengar ucapan Din.



“Akhir-akhir ini kamu dan Kei semakin dekat saja. Kalian pacaran?” tanya Din  to the point.



Opi menyipitkan matanya. ”Sepertinya aku sudah pernah mendengar kata-kata itu.”



“Jadi?”



Opi kini menggaruk-garuk kepalanya.”Sudah aku bilang aku tidak berpacaran dengan Kei,” jawab Opi.



“Aku tidak percaya,” ujar Din merasa tidak puas dengan jawaban Opi.



“Terserah deh..”



Din mencibir pada Opi dengan kesal. Sebenarnya ia sendiri tahu kalau Opi belum ada hubungan apapun dengan Kei.

Hanya saja ia penasaran dengan perasaan Opi yang sebenarnya.



“Sudah jangan cemberut. Nanti Keito kabur loh!” ancam Opi sedikit menggoda Din.



“Hah? Kenapa Keito?” seru Din bingung.



“Kau pikir aku tidak tahu?? Kamu masih saja pergi berdua dengan dia kan?” tebak Opi.



“Kapan aku pergi berdua dengan Keito? Aku pergi karena dia bilang ingin bicara denganku. Ternyata dia hanya ingin mempermainkan aku,” jelas Din kesal.



“Souka,” balas Opi. Opi sebenarnya penasaran dengan laki-laki yang hampir setiap hari membuat Din tersenyum setiap ia membaca e-mail. Kalau bukan Keito, lalu siapa?



---



Opi merebahkan tubuhnya di kursi malas yang berada di balkon. Makan malam hari ini sungguh membuat Opi kelimpungan karena Tomohisa dan Papanya membuat makanan special. Momen ini sangat jarang terjadi sehingga Opi tidak memberi batas dan akibatnya Opi terlalu sulit untuk berdiri karena kekenyangan.



Perlahan Opi memejamkan matanya. Merasakan angin yang menyapu wajahnya. Angin malam ini sangat menyejukkan sehingga membuat Opi ingin terlelap.



“Are? Kau sudah tidur?” suara itu suara Kei. Dengan reflex Opi membuka matanya kembali.



“Iie. Ada apa?” tanya Opi seraya bangun dari kursi.



“Ini.” Kei menyodorkan sepiring kecil apel yang sudah dibelah menjadi 4 bagian.”Dari Onii-san.”



“Arigatou.” Opi lalu melahap satu apel.



 “Malam ini langitnya cerah yah,” ujar Kei sambil menengadahkan wajahnya menghadap langit. Opi berbalik mengikuti Kei

untuk menghadap langit juga.



“Un~ kau benar,” jawab Opi sambil melahap apel yang kedua.



Lalu keduanya terdiam. Yang terdengar sekarang hanya suara kunyahan Opi yang sedang memakan apelnya.



“Ah~” seru Kei seolah teringat sesuatu. ”kapan pertandinganmu selanjutnya?” tanya Kei.



“Dua minggu lagi. Lawannya lebih berat dari sebelumnya. Aku jadi gugup,” ujar Opi lalu mengambil apel yang ketiga.



“Aku yakin kau pasti bisa. Kau kan sudah berlatih keras.”



Opi tersenyum mendengar kata-kata Kei. “Arigatou. Ganbarimasu~.”



Kei ikut tersenyum melihat Opi yang terlihat bersemangat.



“Karena sudah menyemangatiku, aku beri kau satu apel.” Opi menyerahkan satu apel yang tersisa di piringnya. Dengan

senang hati Kei mengambil lalu memasukannya ke dalam mulut.



“Oishii~” seru Kei.



“Aku akan mengembalikan piringnya. Kau tetap di sini?” tanya Kei.



Opi mengangguk.



Kei tidak segera membalikkan badannya dan mengembalikkan piring seperti yang ia katakan. Sejenak ia menatap wajah Opi yang menghadap langit. Entah karena suasana yang tepat atau Kei sudah menemukan keberanian, ia perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Opi. Opi yang sadar ada sesuatu mendekati wajahnya, kaget karena tiba-tiba bibirnya sudah menempel di bibir Kei. Kejadian itu begitu singkat dan sangat tiba-tiba. Perlahan Kei melepaskan bibirnya dari bibir Opi dan menatap mata Opi dalam. Opi yang masih kebingungan hanya dapat ikut menatap mata Kei juga.



“Suki da yo,” ucap Kei kemudian.



“Hah?” Opi bingung harus menjawab apa.



“Bagaimana perasaanmu?” tanya Kei lagi.



Belum sempat Opi menjawab, tiba-tiba Tomohisa memanggil dari tangga.



“Kei, ada telepon dari Mama-mu,” teriak Tomohisa.



Tanpa berkata apapun lagi, Kei pergi meninggalkan Opi yang masih terlihat kebingungan.



Perlahan Opi menyentuh bibir dengan jarinya. Sangat berbeda dengan saat mereka pertama kali melakukannya. Untuk kali ini yang Opi rasakan adalah jantungnya berdegup kencang dan rasanya seperti.....



“Apel?”



TBC~





aneh? saia juga aneh knp bs bikin yang kyk gn?

klo aneh ga usah dibaca...

klo suka di-like..

klo ada saran dan kritik di komen ajah...

jangan lupa komen...

#kabur ke slide farmakologi dan MAI

[Fanfic] Little Secret (chap 3)

 Title : Little Secret

Chapter : 3

Author : Opi Yamashita

Genre : Romance mungkin #plakk

Rating : PG

Cast : Kei Inoo (HSJ), Sho Sakurai (Arashi), Yamashita Tomohisa (NewS), Daiki Arioka (HSJ), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC) dan selentingan orang numpang lewat

Disc : Kei Inoo, Sho Sakurai dan Yamashita Tomohisa itu kepunyaan Okaa-san dan Otou-san serta JE. Opi Yamashita dan Ikuta Din itu OC saia.

Gomenasai~ lama banget ampe 4 bulan ahahha...karena kesalahan bukan pada author tapi pada laptop nya...

yah nikmati saja.maaph klo ada kurang" nya...

Douzo~



Sudah 2 bulan sejak kedatangan Kei di rumah Opi. Hingga sekarang Opi masih belum terbiasa dengan kehadiran Kei di tengah-tengah keluarganya. Selain karena hubungan mereka yang tidak rukun, Opi juga merasa sikap Kei semakin hari semakin menyebalkan. Dari masalah berebut kamar mandi, makanan saat makan malam ataupun televisi. Ada saja sikap Kei yang membuatnya kesal. Tetapi yang paling membuat Opi kesal adalah Kei sudah merebut perhatian kakak satu-satunya, Tomohisa.



Seperti saat ini. Dengan terpaksa Opi harus pergi berbelanja dengan Kei karena persediaan makanan di rumah hampir habis. Sebenarnya sudah tugas Opi untuk berbelanja sesuai yang diperintahkan oleh Tomohisa. Tetapi tiba-tiba Kei menawarkan diri untuk menemani Opi. Bertolak belakang dengan keinginan Opi untuk menolak, Tomohisa malah mengizinkan Kei dengan senang hati. Alhasil sekarang mereka berjalan berdampingan menuju supermarket.



“pantas saja langit mendung, “ sahut Kei yang direspon Opi dengan menolehkan kepalanya.



“wajahmu kusut sekali. Cemberut seperti itu,” lanjut Kei.



Opi tidak peduli dengan kata-kata Kei. Dia terus berjalan tanpa berkata apa pun.



“Chotto~” Kei menarik tangan Opi dengan tidak sabar.



Opi menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba lalu menolehkan kembali kepalanya di hadapan Kei.



“sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya Kei agak sinis.



Opi tidak menjawab. Ia pun tidak tahu kapan ia akan berhenti bersikap memusuhi seperti ini.



Kei tidak sabar menunggu Opi yang hanya diam saja. Ia genggam erat bahu Opi agar Opi menghadap ke arahnya.

“apa kamu belum memaafkan aku?” tanya Kei lagi.



“apa perlu aku menjawab?” Opi kembali bertanya.



Kali ini Kei yang tidak menjawab. Siapapun pasti akan kesal dan menjadi kenangan yang tidak terlupakan jika mendapat ‘kejutan’ seperti itu. Apalagi untuk anak perempuan.



Opi berbalik, dengan otomatis genggaman Kei terlepas.”Lebih baik kita cepat berbelanja. Sepertinya akan hujan,” sahut Opi.



Kei tidak membalas. Ia hanya mengikuti Opi.



“Gomen,” ucap Kei dengan suara pelan dan hanya dia yang dapat mendengarnya.



----



Opi merutuki dirinya sendiri. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu pada Kei. Kejadian 11 tahun yang lalu itu memang membuatnya kesal. Tapi bukan berarti dia harus mengingat itu terus. Karena kebodohannya –menurut Opi-, dia sama sekali tidak berkonsentrasi berbelanja. Banyak sekali bahan-bahan yang tidak dibeli. Dan pada akhirnya Opi diomeli Tomohisa.



“AGGGHHHHH~” teriak Opi kesal di keitai-nya yang terhubung dengan Din.



“Jangan berteriak di telepon, mengerti?” bentak Din kesal.



“Gomen..aku hanya sedang kesal.”



Begitu selesai diomeli Tomohisa, Opi lalu menelepon sahabatnya dan menceritakan semuanya. Ia tidak tahu harus kemana lagi menumpahkan kekesalannya.



“kalau kamu tahu itu salah, kenapa kamu tidak segera memaafkannya?” lanjut Din.



Opi menghembuskan nafasnya.”Kamu tahu gengsi? Itu yang aku rasakan tadi siang,” jawab Opi.



“Sampai kapan kamu akan gengsi seperti itu? Kalau kamu seperti ini, tidak adil untuk Kei.”



Opi menimang-nimang jawaban Din. Ada benarnya juga.



“Mungkin sudah saatnya aku berhenti berperang dengannya,” jawab Opi pasrah.



Opi turun ke dapur sambil memijit-mijit keningnya. Kepalanya tiba-tiba pusing karena Din yang bercerita panjang lebar tentang ia rujuk dengan Keito. Opi sudah memperkirakan ini akan terjadi. Tapi tetap saja cerita Din membuatnya pening.



Opi mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas lalu meminumnya. Tiba-tiba dari arah kamar sebelah kamar Tomohisa, terdengar suara dentingan piano.



Satu nada



Dua nada



Tiga nada



Dari dentingan itu, lalu terdengar rangkaian melodi yang ia kenal. Lagu ini sering ia dengar saat ia masih kecil. Saat Mamanya masih ada.



Opi menghampiri sumber suara itu. Dia berjalan pelan menuju ruang yang sudah sangat ia hapal. Ruangan tempat keberadaan piano itu.



Biasanya dia hanya dapat melihat sosok wanita anggun yang ada di depan grand piano putih itu. Sambil bernyanyi riang, wanita itu terus memainkan piano mengiringi celotehan anak-anaknya. Sesekali tertawa gembira seolah menemukan puncak kebahagiaannya.



Tapi yang Opi tangkap sekarang oleh matanya, hanya sesosok laki-laki bertubuh kurus yang sedang memainkan piano. Jari lentiknya begitu lihai saat berpindah dari satu tuts ke tuts yang lain seolah laki-laki itu sudah sering memainkannya. Opi kembali tersadar karena sosok itu adalah Kei Inoo.



“Sedang apa kau di sini?” tanya Opi sedikit menahan perasaan yang menyesakkan.



Kei terkesiap karena menyadari dirinya tidak sendiri lagi di ruangan itu.



“Gomen ne,,memainkan piano-mu tanpa izin,”Kei lalu berdiri.



“Ini bukan piano-ku, kau tahu? Ini piano Mama,” ralat Opi pelan seolah mengenang sesuatu.



Kei tersenyum mengerti maksud Opi.”Aku tahu.”



“Kamu masih ingat lagu itu?” tanya Opi seraya duduk di kursi yang sama di samping Kei yang menghadap tuts piano.



“Itu lagu pertamaku. Tentu saja aku ingat. Mama-mu yang mengajarkan,” jawab Kei.



“Dulu Mama selalu memainkannya untukku dan Onii-chan,” kenang Opi.”dan sudah lama sekali aku tidak mendengarnya.”



“Kamu bisa memintaku memainkannya semaumu,” tawar Kei tersenyum.



Opi terenyak. Opi baru sadar kalau ia begitu menyukai senyum Kei yang seperti itu.



“Un~. Karena kamu sudah membuatku senang, aku akan memaafkanmu tentang 11 tahun yang lalu,” kata Opi.



“Hontou ni?” tanya Kei memastikan.



Opi mengangguk. “Aku juga sudah capek bertengkar terus denganmu. Apalagi membayangkan kamu masih lama tinggal di sini. Aku bisa menganggap rumahku sendiri adalah neraka,” lanjut Opi sambil menekan beberapa tuts piano secara acak. Melodi yang tertangkap oleh telinga Kei benar-benar berantakan.



Kei tertawa. “Jadi sekarang kita baikan?” tanya Kei.



Opi mengangguk lagi. Beban yang selama ini begitu menganggunya, akhirnya hilang seperti menguap tak berbekas.



“kalau begitu, kita bermain piano bersama. Tanda kita sudah berbaikan,” ajak Kei.



“Kamu meledekku? Kamu kan tahu aku paling tidak bisa bermain piano.”



Kei tertawa kembali. “Sini aku ajari.”



Kei meraih kedua tangan Opi lalu meletakkan tangannya di atas tangan Opi. Tangan Kei menggerak-gerakkan tangan Opi di atas tuts piano hingga membentuk melodi yang indah. Opi tertawa karena merasa dirinya menjadi boneka. Tapi dia tidak merasa marah atau kesal. Ia justru senang sekali karena Kei mengajari lagu kesukaannya dan ini pertama kalinya ia dan Kei dapat bercakap dengan suasana yang sangat menyenangkan.

Untuk pertama kalinya sejak Kei datang ke rumahnya, Opi dapat bersemangat di pagi hari. Ia tidak perlu lagi bersusah payah memasang tampang bête di hadapan Kei karena kini Kei sudah bukan musuhnya lagi.



“Ohayou~!” sapa Opi begitu turun dari kamarnya menuju ruang makan. Di sana ia dapat melihat Papanya, Tomohisa dan Kei.



“Ohayou~!” balas semuanya.



Opi melihat Kei yang duduk di hadapannya. Kei yang menyadari dirinya di perhatikan, lalu tersenyum pada Opi.



Senyum itu......



Sejak kemarin entah kenapa Opi menyadari dirinya suka dengan senyum Kei. Begitu menenangkan.



Tanpa banyak berpikir, Opi membalas senyuman Kei yang memunculkan tanda tanya besar di kepala Tomohisa melihat ada hubungan aneh di antara adiknya dan Kei.



Karena hubungan Kei dan Opi yang membaik, mereka dapat berangkat sekolah bersama dengan tenang. Biasanya di tengah-tengah perjalanan, mereka akan melontarkan ucapan pedas atau saling meledek satu sama lain. Tapi pagi ini tidak ada ledekan sedikit pun yang keluar dari mulut mereka.



Sebelum menuju sekolahnya, Kei mengantar Opi terlebih dahulu. Kebetulan arah sekolah mereka sama dan sekolah Opi memiliki jarak yang lebih dekat dibandingkan dengan sekolah Kei. Begitu sampai di depan gerbang sekolah, tidak disangka

Opi disambut Din yang tergesa-gesa menghampirinya dengan wajah cemas.



“Opi~ gawat,” kata Din. Nafasnya yang tidak beraturan membuatnya sulit mendengar jelas apa yang dikatakan sahabatnya.



“Ada apa?”



“Sekolah sudah tahu hubunganmu dengan Sho-sensei,” jelas Din cepat.



Perkataan Din membuat Opi kaget. Tanpa peduli dengan keberadaan Kei, Opi lalu berlari ke dalam sekolah menuju ruang kepala sekolah.



Seperti yang dikatakan oleh Din, kepala sekolah sudah tahu tentang hubungannya dan Sho. Buktinya terlihat dari beberapa foto mereka saat kencan beberapa waktu lalu. Sepertinya ada orang yang mereka kenal tanpa sengaja memergoki.



Opi tidak berbicara apapun karena bukti itu benar-benar tidak bisa membuatnya mengelak. Orang yang ada di dalam foto itu memang dirinya.



“Jadi kalian mengakui kalau yang ada di dalam foto ini adalah kalian berdua?” tanya kepala sekolah dengan nada memojokkan.



Opi menunduk. Dia tidak dapat membalas apapun.



“Benar. Itu kami,” jawab Sho membuat Opi mengangkat kepalanya.



“Sensei...” gumam Opi.



“Kalian sudah melanggar peraturan sekolah. Sebagai hukumannya, Yamashita..” panggil kepala sekolah pada Opi. “Kamu saya skorsing tidak boleh mengikuti pertandinga basket untuk 4 pertandingan mendatang,” lanjutnya.



“Chotto~ itu tidak adil,” sergah Sho tidak menerima.”Dia sudah berlatih keras untuk menghadapi pertandingan. Menurut saya ini tidak adil.”



“Dan anda akan saya skorsing tidak mengajar kecuali untuk melatih basket. Beruntung anda sangat bagus melatih tim basket kami. Jadi saya beri keringanan,” lanjut kepala sekolah tidak peduli dengan protes dari Sho.



“Saya mengerti. Kalau begitu kami permisi,” ucap Opi lalu pergi keluar ruangan dan diikuti oleh Sho.



Opi tertunduk pasrah. Sebenarnya ia masih beruntung hanya di skorsing tidak ikut pertandingan, bukan skorsing tidak sekolah. Tapi menurutnya, pertandingan sama pentingnya.



Tiba-tiba Sho melingkarkan tangannya di kepala Opi dan menyenderkan kepala Opi di dadanya. Dengan sikap Sho yang tiba-tiba, mendadak air mata Opi meleleh.



“Daijoubu. Semua akan baik-baik saja,” ucap Sho walaupun ia pun tidak yakin dengan ucapannya.



Opi hanya mengangguk. Sekarang yang dapat ia lakukan hanya mempercayai kata-kata Sho.



----



Pertandingan basket tinggal 7 hari lagi. Harusnya Opi sedang berlatih sekarang. Tapi karena skorsing, sekarang Opi terdampar di jembatan dekat sekolahnya. Kasus terbongkarnya rahasia hubungan Opi dan Sho, membuatnya tidak betah di sekolah. Banyak murid-murid lain yang ketika bertemu dengannya menatap dengan tatapan tidak percaya, prihatin, bahkan benci. Itu wajar karena Sho sangat populer di sekolahnya.



Tapi dari sekian banyak yang membencinya, Opi masih beruntung karena teman-teman setimnya, teman-teman sekelasnya, dan sebagian teman-temannya yang lain masih mendukungnya. Dan yang lebih membuatnya lega, ia masih mempunyai Din di sampingnya.



“Ini,” Din menghampiri Opi sambil menyodorkan sekaleng minuman.



“arigatou,” ucap Opi seraya mengambil minuman dari tangan Din.



“Hah~” desah Din. “Aku tidak menyangka secepat ini akan terbongkar,” lanjutnya sambil meneguk minumannya.



Opi ikut meneguk minumannya. Tapi lalu ia diam.



“Ayolah...ganbatte ne!” seru Din terdengar sumbang sambil menepuk punggung Opi.



Opi hanya tersenyum kecut karena ia tidak tahu sampai kapan ia bisa berjuang.



Sudah 5 hari sejak Opi dan Sho dipanggil oleh kepala sekolah. Kehebohan tentang mereka perlahan-lahan memudar. Sikap teman-temannya mulai normal. Tapi sikap Sho malah sedikit berubah. Saat di sekolah, pacaranya itu sama sekali tidak menyapa. Meskipun saat sekolah berakhir, Sho sering meneleponnya sekedar untuk menanyakan keadaan.



Pagi ini, begitu Opi tiba di sekolah, kabar mengejutkan datang dari teman-teman timnya. Kepala sekolah memanggilnya kembali ke ruangannya. Opi berharap ini merupakan kabar yang baik.



Satu jam berlalu. Sae, Haru, Chie dan Kaori yang merupakan teman setim Opi menunggu di luar ruangan. Sekali-sekali mereka mengintip di lubang kunci pintu ruangan. Tapi yang mereka lihat hanya punggung Opi yang tenang. Tanda-tanda

Opi akan keluar belum terlihat.



Setelah menunggu lagi 15 menit, akhirnya Opi keluar ruangan dengan wajah yang susah untuk ditebak.



“Bagaimana?” tanya Chie menatap Opi tidak sabar.



Opi menarik napasnya lalu menghembuskan kembali.



“Opi, ayo ceritakan!” perintah Sae yang sama-sama tidak sabar seperti Chie.



“Aku...” Opi berhenti. ”Aku boleh ikut pertandingan,” lanjutnya.



“Hontou ni?” tanya mereka hampir berbarengan.



Opi mengangguk yakin.



“Yahoo~,” seru Chie yang lalu ditutup mulutnya oleh yang lain karena mereka sadar masih ada di depan ruangan kepala sekolah.



Selagi teman-temannya kegirangan, Opi meronggoh keitainya dan langsung menghubungkan dengan seseorang.



“Sho-sensei?” panggil Opi setelah terhubung. “Aku..ingin bicara setelah pulang sekolah.”



-----



“Ada apa?” tanya Sho.



Kini mereka berdua sudah berada di taman.



“Oia, aku dengar kamu diijinkan untuk mengikuti pertandingan. Aku lega mendengarnya,” lanjut Sho senang. Tadi siang dia memang baru mendengarnya dari teman-teman Opi.



“Sho-sensei,” gumam Opi.



“Mmm?” Sho menoleh masih mengembangkan senyumnya.



“Apa lebih baik kita putus saja?” tanya Opi.



Sho terbelalak kaget. Senyumnya pun luntur seketika.“Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba bilang seperti itu?”



“Tidak tiba-tiba. Aku sudah memikirkannya sejak kemarin. Tapi aku semakin yakin saat aku mendengar Sensei akan pindah,” jelas Opi.



Sho diam. Dia tidak tahu kalau Opi akan mengetahui berita ini dengan sendirinya.



“Kenapa Sensei tidak pernah cerita?” tanya Opi.



“Aku tidak cerita karena aku bermaksud menolaknya.”



Opi mengerutkan keningnya.”Menolak? Sensei akan menolak? Sensei akan menjadi asisten pelatih tim di Amerika lalu sensei menolaknya?”



“Aku tidak mau meninggalkanmu,” ucap Sho lirih.



“Ini yang aku takutkan. Aku tidak suka seperti ini. Makanya......aku ingin mengakhiri semuanya,” kata Opi pelan.



“Ini tidak menyelesaikan masalah kita,” sergah Sho tidak menerima.



Opi mendengus pasrah. “Kalau kau punya usul lain yang lebih baik, aku siap mendengar.”



Sho diam. Dia pun merasa ini tawaran yang bagus. Sudah menjadi impiannya untuk menjadi bagian dari tim besar setelah impiannya menjadi pemain basket kandas karena cedera. Tapi kalau ia harus meninggalkan Opi, rasanya dia tidak sanggup.



“Sepertinya tidak ada lagi jalan keluar. Urusanku sudah selesai. Aku permisi,” Opi membungkukkan badannya sedikit sebelum berlalu meninggalkan Sho yang masih tertunduk.



TBC~



astaga~ kena racun apa q bikin fanfic kek begini????

maaph klo tidak sesuai dengan bayangan ahahahha...

nama nya juga imajinasi...

#plakk

komen yah~