Kamis, 20 Agustus 2009

Fanfic: Accidentally In Love (Chapter 4)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Four
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~

Accidentally In Love
~chapter Four~

“Tadaima~”, Opi melangkah masuk ke rumahnya. Terasa dingin. Tak ada Ibunya yang menjawab seperti biasanya.

Hari ini ia pulang lebih awal, biasanya ia pulang bersama – sama dengan keempat sahabatnya, tapi karena awalnya ia bermaksud latihan basket, ia pulang duluan, namun ternyata latihan tersebut batal sehingga ia terpaksa pulang sendirian.

Saat masuk, Opi sedikit heran, alunan piano pun tak terdengar dari ruang tengah, Opi merasa aneh. Apakah memang Inoo belum datang? Begitu pikirnya.
Opi masuk ke dapur, mencoba mencari sosok Ibunya, ternyata tidak ada.


Opi, Okaa-chan pergi ke Supermarket dengan Yuuri
Sudah ibu siapkan makan siang.


Ternyata Ibunya ke Supermarket, Opi agak sedikit lega, tiba – tiba saja terdengar hujan turun.

Opi berfikir, apakah ibuny dapat pulang sore ini? Ia pun bergegas ke ruang depan, Semua payung masih tersimpan rapi disitu. Berarti Okaa-chan dan Yuuri tidak bawa payung.
Huuft...ini artinya ia akan sendirian sampai mereka datang.

TING TONG....

Bel rumah berbunyi. Opi heran, bila itu Ibunya, pasti sudah masuk tanpa memencet bel terlebih dahulu.

Opi membuka pintu depan.

“Ano....gomen aku telat....hujan.”, jelasnya singkat.

Opi mematung.

Inoo berdiri tepat dihadapannya dalam keadaan basah kuyup.

Seakan baru sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah Opi, Inoo menatap Opi, “Gomen...aku kira...”

Opi masih terdiam.

“Dajoubu ka?”, tanya Inoo.

“Ahh....iyah...gomen...masuk saja. Okaa-chan dan Yuuri terjebak hujan di Supermarket. Jadi sepertinya akan lama...” jelas Opi.

“Sou ka...bolehkah aku menunggu disini saja?”, tanya Inoo.

Opi mengangguk. Inoo menuju ruang tengah, badannya masih basah kuyup, Opi bergegas mengambil handuk bersih.

“Ini...”, kata Opi menyodorkan handuk putih itu.

“Arigatou...”, katanya lalu mulai mengerikan diri.

‘Sial! Kenapa dalam keadaan basah kuyup ia tetap tampan!!”, rutuk Opi dalam hati.

“Ah...tunggu sebentar, aku ambilkan ocha hangat.”, kata Opi sambil berdiri menuju dapur.

Opi terus membatin, dipikirannya, kenapa juga dirinya harus doki – doki pada mahasiswa tingkat satu itu. Sebenarnya Inoo seumuran dengannya, seharusnya masih SMA. Tapi kata Okaa-chan, Inoo akselerasi setahun, sehingga sekarang ia sudah kuliah, jurusan arsitektur.

Dari ruang tengah terdengar alunan tuts piano. Itu Rainfall Prelude. Opi tahu karena Onii-chan dulu suka memainkannya ketika hujan turun.

“Ano...ini ochanya..”, kata Opi tak enak mengganggu Inoo.

Inoo berhenti, mengambil ocha yang disodorkan oleh Opi, “Arigatou..” katanya lalu menyesap Ocha tersebut.

Inoo meletakkan ocha di meja, kembali memainkan Raifall Prelude.

Opi yang berdiri di belakang Inoo tiba – tiba berkata, “Rainfall Prelude...”

“Shiteru?”, tanya Inoo lalu menggeser duduknya, memberi ruang untuk Opi duduk disebelahnya.

“Uun...Onii-chan sering memainkannya.”, jelas Opi yang kini sudah berada disebelah Inoo.

“Sou ka..."

“Inoo-san...”

“Terlalu formal. Panggil saja Kei.”, potong Inoo.

“Anoo..Kei...kenapa kau mengajar piano?”, pertanyaan ini memang selalu mengganggu pikirannya.

“Hmm...aku kuliah jurusan arsitektur. Kau tahu?”

Opi mengagguk.

“Itu pilihanku, Ayah menentang keras karena seharusnya aku kuliah bisnis seperti keinginannya...itu kenapa aku harus bekerja untuk kuliah ku...”, katanya lalu tersenyum. Pembicaraan itu berlangsung hingga Okaa-chan dan Yuri pulang.
---------------------

Sialnya Yabu hari itu. Tadi sebelum pulang sekolah, ia berniat untuk kabur dari piket seperti biasanya, tapi hari itu Hikaru kabur duluan dan entah siapa yang memberi tahu wali kelasnya, hari ini ia ketahuan akan kabur sehingga ia kini harus piket sendirian.

Ponsel birunya seketika berbunyi, tanda SMS masuk.

From: Taiyou
Subject: hehehe
Kali ini kau harus piket sendirian..jya ne~

Ternyata Taiyou yang memberi tahu wali kelasnya, sehingga ketika akan kabur, Pak Guru sudah menunggunya di depan pintu.

Miyuy yang hendak pulang bersama Din, ketika ia menangkap sosok Yabu yang sedang berada di kelas sendirian. Langkah Miyuy terhenti sejenak.

“Jadi...Miyuy!!kau tak mendengarkanku ya?”, seru Din yang menyadari Miyuy kini sudah ada di belakang.

“Dinchan....aku harus ke ruang klub!!”, serunya tiba – tiba.

“Kau bilang hari ini tak ada kegiatan klub?”, tanya Din heran.

Miyuy tampak bingung, “Itu...aku harus membereskan ruangan klub!!”, serunya cepat, tersenyum pada Din.

Din mengangkat bahu, “Ya sudah lah...aku pulang duluan ya..”, pamit Din pada Miyuy sambil melambaikan tangan.

Miyuy membalas lambaian tangan Din, setelah Din keluar dari lorong itu, Miyuy kembali memperhatikan sosok Yabu di dalam kelas, wajahnya tampak tidak senang.

Miyuy ingat ramalan yang ia baca semalam di Tobenaitori, “Besok adalah kesempatanmu...”,

Miyuy awalnya tak mengerti apa yang ramalan itu katakan, sekarang ia melihat Yabu dihadapannya. Mungkin inilah kesempatannya mendekati seorang Yabu.

Miyuy memperhatikan Yabu yang sedang menghapus papan tulis. Ia sendirian, memandang cemberut pada sebuah papan tulis.

Sore itu suasana sekolah sepi sekali, sehingga Miyuy sama sekali tak berani mengeluarkan suara sedikitpun.

“You’ve got mail~”, suara itu berasal dari ponsel Miyuy, memecah keheningan sekolah. Miyuy gelgapan mencari ponselnya, Yabu seketika menoleh, mendapati Miyuy dibelakang, dekat pintu.

Miyuy terdiam

Yabu terpaku

“Anoo...”

“Anoo..”, keduanya berbicara pada saat bersamaan.

“Apa yang kau lakukan?”, tanya Yabu.

Miyuy merasakan mukanya memerah, hal ini memalukan, tapi ia pun tak sanggup beranjak.

“Hmmm...aku...hanya....”, Miyuy tak sanggup meneruskan kata – katanya.

Yabu tersenyum, “Kau aneh sekali...”, komentar Yabu.

“Anoo..kau Kota-san kan?”, Miyuy akhirnya memberanikan diri bertanya.

Yabu kembali menoleh, mengangguk sekenanya.

“Kau ingat aku?”, tanya Miyuy berharap Yabu mengingat saat ia menyapa Miyuy pagi itu.

Yabu berfikir sebentar, memandang Miyuy dengan seksama.

Tiba – tiba Yabu mendekati Miyuy,“Morning, ma hun…”, Yabu pun tersenyum, “Maaf...hari itu aku kena dikerjai teman – temanku..”, ujar Yabu lalu kebali tersenyum.

“Sou kaa~ apa yang kau lakukan sore seperti ini?tadi kebetulan aku lewat dan menemukanmu disini.”, kata Miyuy sedikit berbohong.

“Piket...”, katanya sambil melangkah ke depan papan tulis.

Miyuy menyusul Yabu, mengambil satu lagi penghapus papan tulis yang ada disitu, membantu Yabu.

“Eh? Apa yang kau lakukan?”, tanya Yabu kaget.

Miyuy tersenyum, “Aku mau membantumu...”

Yabu tak menolak, “Miyuy ya??namamu Miyuy kan?”

Miyuy menoleh, mengagguk pelan.

Suasana kembali hening, hanya gerakan – gerakan keduanya menghapus papan tulis. Tiba – tiba saja diluar hujan turun deras.

“Yabai! Aku tak bawa payung!”, keluh Yabu, “Kau bawa payung?”, tanya Yabu pada Miyuy.
“Tidak...”, jawab Miyuy pelan.

“Hahaha...”, Yabu tertawa.

Miyuy bingung apa yang Yabu tertawakan.

Tangan Yabu bergerak, menyentuh pipi Miyuy, “Kurasa seharusnya kau menghapus papan tulis...bukan pipimu..”

Miyuy kaget.

“Gomen...hanya gerakan refleks...”, seru Yabu menarik kembali tangannya.

Miyuy hanya tertunduk, ia yakin wajahnya kini sudah semerah tomat.

“Kurasa kita harus diam di sekolah sampai hujan berhenti. Kau tak ingin hujan – hujanan kan?”, tanya Yabu pada Miyuy.

Miyuy menggeleng, masih menunduk.
-----------------------------

Daiki memasuki perpus dengan menenteng banyak buku. Ia bermaksud mengembalikan buku – buku yang ia pinjam kemarin untuk referensi tugasnya. Ketika ia menemukan sosok itu, sosok yang belakangan ini ia cari.

Nu merutuki diri sendiri, ia tak rela waktu pulangnya ini ia habiskan di perpus. Ini karena tugas tambahan yang Jun-sensei berikan akibat ia tertidur lagi di kelas.

“Dia sendiri yang mengajar terlalu membosankan...”, keluh Nu kesal.

Perpustakaan sudah sepi, hanya ada beberapa anak yang sedang mengerjakan tugas seperti dirinya, dan juga yang piket kelas.

“Tugas apa?”, tanya seseorang.

Nu mendongak, menatap orang yang tanpa alasan jelas mengajaknya berbicara.

Daiki tersenyum ketika Nu menatapnya.

“Sial! Kenapa ia tersenyum?”, rutuk Nu dalam hati.

“Hai Nuchan!! Tugas apa?”, tanyanya lagi sedikit berbisik.

Nu dengan malas menjentikkan jarinya pada tulisan ‘ENGLISH’.

“Sou da...kau dapat masalah dengan Jun-Sensei kah?”, tanya Daiki lagi. Lalu duduk di hadapan Nu.

Nu hanya diam, tidak memperdulikan Daiki yang terus memperhatikannya.

“Nuchan....”, panggil Daiki.

“Siapa yang mengizinkannya memanggilku Nuchan??!!”, rutuk Nu kesal.

“Nu...”, panggilan itu terpotong dengan tatapan Nu pada Daiki.

“Apa?!”, tanya Nu geram.

Daiki menunjuk pada tulisan Nuchan, “Ini salah ejaan...”, kata Daiki pelan.

Nu tampak malu, menunduk dan membenarkan tulisannya yang salah itu.

“Kenapa dia mengikuti ku??”, tanya Nu dalam hati ketika ia melihat Daiki di sampingnya.

“Hujan...”, kata Daiki seraya menatap langit.

Hujan memang sedikit deras, Nu sendiri tidak membawa payung, dan sepertinya begitu pula Daiki. Nu kaget sendiri kenapa sekarang mereka malah berada di halaman depan sekolah bersama – sama.

“Kau bawa payung?”, tanya Daiki pada Nu.

Nu menggeleng, “Rumahku dekat lagipula...tak perlu payung.”, jawab Nu.

“Sou da??bolehkah aku berteduh di rumahmu saja? Suasana sekolah tampak agak mengerikan.”, jelas Daiki.

Nu mengangkat bahunya, mencoba tak peduli, “terserah kau...”, kata Nu lalu berlari dibawah hujan.

Di depan apartemen kecil itu, Nu tak menyangka Daiki benar – benar mengikutinya.

“Kau tinggal sendirian?”, tanya Daiki sambil memperhatikan sekeliling apartemen itu.

Apartemen itu lumayan berantakan, sudah beberapa minggu ini Nu sama sekali tidak ingin membereskan apartemen yang baru – baru ini ia tempati setelah merengek memintanya pada kedua orang tuanya.

Berbagai poster band VK memenuhi dinding, CD dan DVD konser juga berantakan di depan sebuah TV beserta DVD Player.

Daiki memperhatikan sebuah poster besar bertuliskan Dir en Grey, tampaknya poster band tersebut mendominasi kamar kecil itu.

“Nuchan...”, panggil Daiki.

Nu datang sambil membawa dua gelas teh hangat.

“Apa?”, seru Nu sambil memberikan ocha hangat itu.

“Ah arigatou...maaf merepotkan...”, kata Daiki, “Ano...kau suka band ini?”

“Iya, suka sekali”

“Paling suka siapa?”

“Vokalisnya. Aku suka sekali..”, suara Nu agak bergetar. Tentu saja vokalis yang ia maksud adalah Kyo, mantan kekasihnya.
-----------------

Din berjalan sendirian. Melangkahkan kakinya ditengah jalanan ramai, sesekali matanya melirik pada etalase toko yang dilalui

“Kemana teman-temanmu?”

Suara itu, bukan lagi suara yang asing untuknya

“Yuya?”, Din mengerutkan dahinya ketika menoleh kebelakang, melihat orang yang menyapanya.

“Kenapa? Tak senang ya lihat aku?”

“Huh, kenapa aku harus senang melihatmu? Aah, teman-temanku sudah tak bisa pulang bersama, kenapa malah ada Yuya?”, sambil meneruskan langkahnya, Dinchan terus ngedumel

“Sudah, sudah...cerewet sekali, telingaku panas, nih…”

“Kalau tak mau dengar aku cerewet, kenapa mengikutiku?”

“Siapa yang mengikutimu, hah?”

Selalu, terjadi adu mulut diantara mereka. Din dan Yuya, padahal keduanya sudah terikat dalam perjodohan yang direncanakan orang tua mereka, tapi kedua sama sekali tak bisa akur.

“Ah, hujan”, Yuya spontan menarik tangan Din untuk berteduh didepan sebuah toko ketika hujan tiba-tiba turun dengan deras

“Yuya bawa sial. Begitu ada Yuya, langsung turun hujan deras…”, Din berkeluh

“Seenaknya saja, menuduh orang lain bawa sial. Kalau hujan, ya hujan saja!”, jawab Yuya dengan nada sedikit kesal

Din tak menjawab, hanya bibirnya yang sedikit mengerucut

Keduanya terdiam selama beberapa menit

“Hey, Dinchan…dulu kita sering main hujan-hujanan, kan …”

“Iya…”

“Kamu suka sekali menendang genangan air kearahku. Dasar jahil…”

“Hi hi hi”, Din terkikik kecil

“Tapi kamu tak mau aku membalas. Selalu saja mengadu pada nii-chan kalau aku balas menendang air kearahmu”

“Memangnya kenapa? Normal , kan , aku merasa kalau Jin bisa melindungiku…”

Yuya terdiam beberapa saat, “Manja”

“Kenapa harus protes kalau aku manja?”

“Karena itu menyebalkan”

“Apa masalahnya denganmu?!”, nada bicara Din mulai meninggi “Kamu yang menyebalkan. Kenapa Jin yang baik dan lembut bisa punya adik sepertimu? Dan sialnya, yang dijodohkan denganku itu kamu!”

‘Dijodohkan denganku, ternyata adalah sebuah kesialan untuk Dinchan’, pikir Yuya

“Cerewet!”, ujar Yuya singkat

“Kekanakan!”, balas Din

“Egois!”

“Keras kepala!

“Cengeng!”

“Sok tempting!”

“Temperamental!”

“Plagiator!”

“JANGAN SEBUT AKU SEPERTI ITU !!”, nada bicara Yuya membentak, membuat orang-orang disekeliling melihat kearah mereka

“Terserah!”, Din lari meninggalkan Yuya, menerobos hujan yang semakin lama semakin deras
Bertengkar dengan Yuya membuat mood Din benar-benar buruk. Ia tak peduli tubuhnya sekarang telah kuyup oleh guyuran hujan

Din hanya berjalan pelan tak tentu arah, keadaan hatinya terlalu buruk untuk dibawa pulang ke rumah

“Yuya bodoh. Kalau Jin, pasti tak akan membuat aku seperti ini”, gumam Din pelan, menendang krikil-krikil kecil sepanjang langkahnya

Tiba-tiba, sebuah payung plastik menghalangi butiran hujan jatuh mengenai tubuhnya

“Mungkin kamu kecewa, bukan Jin yang datang. Tapi melihatmu sendirian dalam guyuran hujan, pasti ini yang akan dilakukan oleh Jin, bukan?”, ucap seorang yang tak lain adalah Yuya
-----------------------------

Sore itu memang mendung, tapi Py masih di taman bermain, sibuk dengan sketsanya. Ia merasa mendapat ketenangan dan banyak inspirasi di taman ini. Bukan karena taman ini punya daya tarik, tapi karena seseorang yang sudah beberapa kali ia temui disini.

“Huaaaaa~”, teriak seseorang.

Py kenal suara itu

Py menoleh untuk melihat siapa yang datang

Ya itu dia

Sumber inspirasinya beberapa hari ini

“He? Py py!!”, teriaknya kencang.

Py mau tak mau tersenyum

Kali ini ia sendiri

“Kemana teman – temanmu?”, tanya Py akhirnya. Setelah teridam beberapa lama.

“Itu...mereka...ada urusan..”, jawabnya gugup.

Tentu saja bohong. Tadi setelah meninggalkan Yabu piket sendirian, ia buru – buru pamit pada Shoon dan Taiyou. Ia bilang ia ada urusan.

“Kau menggambar lagi? Bolehkah aku melihatnya?”

Py menutup buku sketsanya, “Jangan! Aku janji aku akan memperlihatkannya nanti.”

“Kapan?”, tanya cowok itu lagi.

“Nanti Hika...setelah semuanya selesai...”, jawab Py malu.

“Py...arigatou na...gomen aku tak sempat berterima kasih padamu.”

“He? Untuk apa?”, tanya Py bingung. Seingatnya ia tidak melakukan apa – apa untuk Hikaru.

“Chupa rasa cola...”, ujar Hika sambil mengeluarkan sebuah chupa. Kali ini rasanya strawberry.

“Eh?”

“Rasa cola nya habis...”, katanya lalu tersenyum, kini gigi gingsul Hika terlihat jelas di depan mata Py.

Dekat sekali

Karena Hikaru duduk bersebelahan dengannya.

Py hendak mengambil chupa itu ketika Hikaru menariknya kembali, “Hehehe...ini..”, sodornya kembali.

“Arigatou...”,Py mengambilnya dan tertunduk. Py memang pemalu, sekarang pun rasanya dia tak akan mampu berbicara lagi dengan Hikaru.

“Langitnya mendung yaaa~”, keluh Hikaru.

Py memandang Hikaru yang kini sedang menengadah, menatap langit yang memang gelap sekali.

“Py suka hujan atau cuaca cerah?”, tanya Hikaru penuh semangat.

“Cerah...rasanya energi kita tersedot jika mendung begini...”, jelas Py yang kini ikut menengadah.

Titik – titik air hujan hinggap di wajah mereka, semakin lama semakin deras. Hujan turun seketika itu juga.

Py dengan terburu – buru memasukkan buku sketsanya ke tas, hendak beranjak dari tempat itu.

“Ayo!!kita harus berteduh..”, ajak Py.

Tapi Hikaru malah membuka jas sekolahnya, mencoba menutupi mereka dengan jas tersebut.

Py kembali memandang Hikaru, kini mereka berdua di bangku taman, dengan jas sekolah di atas kepala mereka.

“Bagaimana? Aku seperti gentleman tidak?”

Mau tak mau Py tersenyum, “Kita basah kuyup.”, kata Py lagi.

“Kyaaa~ ayo lari!!”, teriak Hika sambil menarik tangan Py, “Kita harus berteduh!!”, serunya heboh.

Membuat Py tersenyum lebih lebar.
-------------------------

N.B: kyaaaaa~ maafkan untuk keterlambatan inih..*bow* saia berdua *baca: bunda n nuy* mengalami ngestag nerkepanjangan...maaf kalo gak memuaskan...COMMENTS ARE LOVE...
harap di komen...di komen...xD

^^

Kamis, 23 Juli 2009

[REPORT] bunda n opichi 3 days trip..hehehe..

yaaayyy!!!
tadaima~
din pulang...hehehe...setelah berkelana bahasanya bujug bersama opi dan keluarga...din kembali...dengen cerita tentang...perjalanan qta...ehehehe...

First day..200709...
Pagi - pagi buta, Q kebangun...tidur depan lappie yang Internet dan laptop masih menyala, kagak pake selimut, dengan baju tidur doank...bused!!dinginnnn!!saia buru - buru ngepost blog yang baru kelar...hahaha...
Udah gituh..Q menyadari 1 hal...Q lum beberes buat berangkat yang rencananya 4 hari ituh. Q langsung ke bawah....dengan tampang desperate kurang tidur, Q nanya ama mama,
"Ma....minta tas buat pergi"
"Loh?perginya bukannya ntar sore?"
"Gak ma...kata opi jadinya pagi sekarang."
"Ya udah itu pake tas c papa"
AKhirnya Q boyong tas c papa yang kayak koper ituh...untuk beres - beres, gak lupa...Q harus ngeburn DVD buat Lha...akhirnya ngeburn dulu.
Banyak banget yang rasanya harus dibawa, dan gak akan muat di tas itu...
hufft,,,
Q pikir ya udahlah...Q hampir marahan ama mamah tuh...cuma gara - gara Q geje juga..hahaha..

Jam 8, Opi jemput pake motor ke rumah. Akhirnya berangkat dengan 1 tas koper kecil, ama 1 tas jinjing. Hahaha,, Banyak juga bawaan Q.
Berangkat dari rumah novi sekitar jam 9an...langsung menuju Garut...ternyata ke Kawah Kamojang...


saia lebay...xD

Opichi dan semburan gas...*dikemplang*

narcism...xD

Setelah liat semburan gas yang luar biasa ituh...Qta akhirnnya pergi lagi. Menuju Tasikmalaya.
Waaaahh...perjalanannya jaaauuhh,,,nyampe sana udah sore. Akhirnya Qta solat maghrib dan Isya dulu di Masjid. Abis itu ke Rajapolah...beli ini - itu buat oleh - oleh...
hehehe..din sih cuma beli dikit, secara c mama juga gak minta di beliin apa - apa...^^
Ternyata udah malem banget, akhirnya kita nginep di hotel yang ada di Tasikmalaya...^^

Second day...210709...
Masih ngantuk, kurang tidur *baru tidur jam 12 malem*,, Qta berangkat menuju....gak tau...asli...ini perjalananannya serba surprise...hehehe..
di jalan...saia mabok...OMG...seumur - umur Q pergi udah nyampe Sumatera...ampe Pontianak, Bali...gak pernah mabok..kayaknya karena masuk angin dan kondisi badan emang gak fit.. akhirnya dikasih obat jamu gituh ama ibunya opi...arigatou...maaf saia merepotkan...xD
ternyata jalan menuju Cipatujah..eh...gak taunya gak jadi..belok lagih ke Pamijahan...judulnya serem.."wisata ziarah" hahaha...


Gerbang masuk ke tempat makam

Tapi ternyata lagi penuh...*baru nyadar itu Isra Mi'raj*
Jadi kita gak ampe makam, balik lagi menuju Cipatujah...
daaannn...
Terus sebelumnya qta makan ikan bakar dulu~
hunyu~ enaaakk!!!hehehe...
ikannya masih seger...dah gituh..nemu ikan gede bangeth..hahaha..


Qta nemuin pantai....pantai yang...KOSONG!!!!
gak ada orang!!serasa milik sendiri tu pantai...hehehe...
akhirnya maenan ama opi...tapi gak ampe basah - basahan...males ganti baju..hehehe


opichi kerudung terbang..hehehe
sendal ikut nampang...hahaha


Setelah itu...Qta ngelanjutin perjalanan...sekarang menuju daerah Ciamis
Q pikir bakalan berenti di Pangandaran, tapi ternyata gak....Qta cuma lewat ajah...abis itu karena dah malem, Qta nginep di Ciamis Kota...^^
Hotelnya antik bo~
hahaha...jaman Belanda gituh~ nginep disitu serasa di asrama..hahaha...


Opichi sakit~ huaaaa~~~ badannya panas coba??hmmm...
cepet sembuh ya opi...

Third day...220709..
Capeee~
tapi seru...hehehe...
Berangkat dari hotel, din kira bakalan ke Cirebon. Ternyata ke Waduk Darma di Kuningan.
Tempatnya sepi...dingin pulaaa!!!dingin banget!!!
Indah pemandangannya.
Sayangnya qta gak naek perahu, soalnya cuma berempat seh...katanya disitu rame kalo lagi sabtu ato minggu...^^

Waduk Darma...hehe

dingggiin!!bujug dah~xD


Gak lama, kita berangkat lagi, ternyata menuju Majalengka...disitu kita solat, dan makan ikan bakar lagi wkwkwk...enak kok..restaurantnya adem...saung - saung getoh...
banyak ikan koki tanaka lagih...hehehe...
kenyang~
xD
Setelah itu kita kembali jalan...ternyata menuju Sumedang...alhasil beli tahu deh...hehehe^^
abis itu pulang!!! tadaima~
mama!!ade pulaaannnggg!! *kangen mama* hehehe...
yosh!! cape tapi seneng deh~
Bapak - Ibunya Novi...arigatou....maaf din merepotkan...^^
Opichi~
ntar jalan - jalan lagih yuuukk!!! ntar gantian kau yang ikut ama keluarga ku...hehehe...^^

jya~ segini ajah ceritanya...
yow!!xD

^bunda dinchan^

Minggu, 12 Juli 2009

SHIGE b'day !?

YA ALLAH...



kemaren SHIGE ultah ya?
ampun dah

ko Q bisa lupa
*jyahh idola sendiri lupa ultahnya..*

hadoohhh

maafkan saya SHIGE...
nurul bener" lupa
*sibuk daftar ulang k unisba sih..*

생일 축하합니다 SHIGEAKI KATO

udah 22 tahun...
bulan depan kibum juga 22 tahun

lol


miyuy

Rabu, 08 Juli 2009

pic


lmao

Q cuma mau posting ni pic

gimana komen'y?
mau Q edit ni photo
bwat d masukin k blog

tapi gtw tar ni pic mw d jadiin pa'an


Minggu, 05 Juli 2009

kyaaaaaaa!!!!*histeris*

bunda kageeeetttt!!!!!
layout blog qta berubah lohhh...
berubaaahhh!!^^

siapa neh yang ngerubah???
uchulnaaa...
hehehe...^^

arigatou yang udah ganti.....pengumuman donk yang ganti layoutnya,,,
hehehe...
^^

^bunda dinchan^

Minggu, 28 Juni 2009

Fanfic : Married By Accident (Chap 1) *Repost*

wkwkwkwk..sebenernya ney fanfic dah ada di blog bunda...
tapi berhubung ini juga ada Opichinya...jadi bunda repost disini...okeh??!!
Comments are Love...^^

Title : Married By Accident
Chapter : One
Author : Tegoshi Din
Pairing : We’ll let you guess 0_<
Genre : Romance
Rating : G...nyantai ndak apa2nya//^^//
Starring : Takaki Yuya as Takaki Yuya/ Takaki-sama
Dinchan as dinchan
Inoo Kei as Inoo Kei / Inoo – sama
Opichi as Opichi
Rest Member of Hey!Say!BEST
Disclaimer : Dinchan and Opichi belongs to theirselves, Hey!Say!BEST belongs to Johnny’s Entertainment, and other characters belong to their selves. We don’t own them, just own the idea. Please don’t sue me, it’s just a story...so read it happily...comments are LOVE...

Married By Accident
---story 1---

Rambutnya berantakan, gaya jalannya sama sekali tidak menunjukkan dirinya perempuan, tas yang seharusnya ia pakai di tangan kanannya itu, dipakainya seperti sebuah tas ransel. Rok selututnya memang rapi, tapi kaos kakinya melorot sebelah, sungguh pemandangan yang tidak bagus.Padahal rambut panjang ikalnya itu cukup bagus bila ditata, tidak berantakan seperti itu.

“Dinchan...ohayou!!!” panggil seorang cewek dari arah belakang cewek tadi.

“Aaaa...opichi...ohayou....aku masih mengantuk.” Keluh cewek bernama Dinchan itu.

“Paling tidak sisirlah rambutmu...” protes Opichi.

“Hmm...kau tahu aku selalu rapi sebelum keluar dari rumah, tapi sepertinya aku memang harus seperti ini.” Katanya.

“Ya terserah kau lah! Sudah mengerjakan PR matematika?” tanya Opichi sambil mensejajarkan
langkahnya dnegan Dinchan yang tampak terburu – buru.

“Hmmm...kalau belum mengerjakannya, sudah pasti aku dibunuh orangtuaku!!!”

“Hahahhaa...” tawa Opichi meledak pagi itu.

---sementara itu di tempat lain---
“Ayah becanda kan??!!! Aku baru 18!!!” protes seorang cowok didepan Ayahnya.

“Tidak Yuya, ayah tidak bercanda....” wajah Ayahnya memang tidak sedang bercanda sam sekali.

“Tapi Ayah...”

“Ini tradisi Yuya!” potong Ayahnya, “Sekarang cepat pergi sekolah! Hari ini juga kau akan bertemu dia...” kata Ayahnya sembari melemparkan sebuah foto.

Cowok yang dipanggil Yuya itu memandangi foto yang dilemparkan Ayahnya,

“Tidak buruk...” pikirnya.

“Kaliannn??” Yuya kaget mendapati semua sahabatnya berada didepan rumahnya, berseragam sama dengannya.

“Yup!kita pindah juga...seperti yang kau tahu, kita tak pernah berpisah..” kata cowok yang paling tinggi dan paling kurus.

“Arigatou Yabu...”

“Ayo berangkat!” ajak Inoo pada yang lain.

Yuya,Yabu,Hikaru,Inoo dan Daiki adalah 5 sahabat kental yang tidak pernah berpisah sejak kecil. Mereka berlima adalah pewaris tunggal masing – masing perusahaan besar. Karena Ayah mereka juga bersahabat, maka tanpa disadari, mereka juga menjadi sahabat sejak kecil.


“Hoaaaaam...” mata Dinchan kembali tertutup.

PLAK!

“Itai!!!” seru Dinchan dan mendapati Opichi telah memukul kepalanya dnegan tangan kosong.

“Bangunlah! Masih pagi gini kau sudah tertidur lagi!!”

“Kau bawel sekali!” protes Dinchan.

“Tapi kau tahu gosip yang baru saja kudengar?”

“Apa?” tanya Dinchan masih dalam posisi bertelungkup tangan.

“Ada 5 pangeran yang akan datang kesini.”

“Hmm...tidak penting...” katanya lalu tertidur lagi.

“OHAYOU MINNA-SAN!!!” seru seseorang dari pintu kelas. Ternyata itu Takeda-Sensei, Dinchan pun berhasil bangun sepenuhnya.

“OHAYOU~” seru anak – anak.

“Hari ini Kita kedatangan 5 teman baru....”

Semua orang di kelas langsung saling berbisik, menebak – nebak siapa yang datang, sebagian meyakini itu adalah 5 pangeran seperti yang digosipkan.

“Baiklah...silahkan masuk...”

5 Orang masuk ke kelas, dan semuanya langsung terpana, mereka benar – benar Pangeran.

“Kota Yabu....18 tahun...Yoroshiku..” kata seorang cowok yang berperawakan paling tinggi dan kurus.

“Takaki Yuya...yoroshiku...” kali ini cowok dengan tatapan cool dan tampak sedikit angkuh.

“Yaotome Hikaru....” kata seorang cowok dengan gigi gingsul dan ceria.

“Arioka Daiki....17 tahun...Yoroshiku...” cowok ini chubby dan memang terlihat lebih pendek dari yang lain.

“Inoo Kei...panggil saja Kei.” Kata seorang cowok kurus dan sangat putih.

“Baiklah...silahkan duduk ditempat yang kosong saja...” kata Takeda-Sensei. Mereka pun menurut dan mencari tempat duduk kosong.

Dinchan tdak memperhatikan sepenuhnya, tapi ia cukup ngeh ketika seorang cowok menyapanya.

“Hai! Mohon Bantuannya ya?”

Dinchan menoleh sebentar, ia samar – samar ingat namanya.

“Yuya desu...” katanya sambil masih memasang tampang cool.

Dinchan mencibir dan mulai tertidur lagi. Sementara itu Yuya, malah sibuk melihat foto yang tadi pagi diberikan oleh Ayahnya.

“Tidak mungkin....” keluh Yuya pelan.


“Ini bencana.....” kata Yuya mengeluh saat makan siang.

“Hah? Apa maksudmu Yuya?” tanya Daiki heran.

“Haaaah...akhirnya aku berhasil menghindar dari cewek – cewek itu.” Kata Hikaru yang baru tiba dari toilet.

“Kau juga dikejar – kejar?” tanya Yabu.

“Hmmm...” jawab Hikaru.

“Bisakah kalian mendengarkan aku?” kata Yuya yang tampangnya sangat desperate sekarang.

“Maaf...apa yang kau maksud bencana?” tanya Yabu.

Yuya menutup mukanya, tampak menyesal dengan segala yang terjadi, “Dia mengerikan...”

“Siapa?” Inoo mulai tak sabar.

“Calon istriku....”

“HAAAAAAAHHHH???” Semuanya serempak berteriak kaget.


Te Be Ce aaaahhhh~
^^
Ayo comments yah minna...arigachu..

Senin, 22 Juni 2009

banner baru buat Inoo..

wahahahaha..emang gejeh banget saia..
jadi pas kemaren ngoprek lappie...
nemu foto2 HSJ...
da emang banyak...
udah gituh, kepikiran bikin banner buat ultah c inoo..
wakakak..
nih opichi...
saia buat khusus buat kau..hahaha..
baik kan saia??
^^

monggo di comment...

btw, din mau update rules:
- always cantumin nama di postingan yah...kecuali fic mungkin gak usah...
- comments are love..^^
- boleh ganti banner kalo emang pengen, tapi confirm dulu ma bunda...
- postingan boleh apa ajah...ngerepost dari blog sendiri juga boleh...
- ayo rame chatmix qta!!^^
- komplain langsung jja SMS bunda...ntar biar bunda benerin...

yaaaayyy!!!happy posting minna~ ayo donk...ramein blog qta....hehehe...

^bunda dini^

Selasa, 16 Juni 2009

[FANFIC] Cutie Creatures

Hahahahay
AIL masih ongoing
maap lama, saia ngestag
tapi saia bawa ini
masih ada nama" HSB nya juga, ko XDDD

jangan rajam saia XDDD




Title : Cutie Creatures

Author : Nu Niimura
Genre : Plotless
Rating : G
Disclaimer : I do own SAN XDDDD *ngarep*

“Nu, Daichan mana?”, tanya Din
“Ada, dirumah~”, jawab Nu santai sambil belay” pala SAN
“Ikh…yang disayang” kok cuman SAN, sih? Kan bunda kasiin Daichan ke Nu supaya disayang-sayang juga…”, kata Din
“Maap, deh…abis, SAN seduktip, sih…jadi aku pengennya ama dia terus…”, bales Nu sambil kissu-kissu SAN
“Eh? Kok di kissu-kissu?”
“Emangnya napa, Bunda? SAN sehat, kok. Ngiri, yah? Kissu-kissu aja Takaki nya…”
“…ng . .” , akirnya Din peluk Takaki, Takakinya cuman ngusel” manja di dada Din

“Emang Daichan ga pernah berantem ama SAN kalo dirumah, Nu?”, Opi nimbrung
“Engga. Ajaib, deh… Tapi aku belum kasi tau Hubby kalo Dai dai ada dirumah…”
“Jiah, pantes adem-adem aja”, ujar Opi
“Kalo Hubby tau, pasti Dai dai ga bole ada dirumah aku…”, NU berubah murung
“Aah...kenapa ga bilang dari awal?”, Din yang ngeliat Nu murung jadi terbawa
“Maap, aku juga ga inget kalo Hubby orangnya keak gitu. Akunya juga sih, maen bawa Dai dai gitu aja, imyut sih, masih kecil…”

“Yaudah, Daichan ama aku aja. Jadi bisa nemenin Kei dirumah. Kasian Kei, kalo aku lagi sibuk, dia cuman duduk mrengut deket piano. Padahal kan Kei selalu nemenin aku kalo Toma lagi pergi…”, tawar Opi sambil ngusap-ngusap sebelah tangan Kei ke pipinya



Tiba-tiba . . .

“Minna~ Yabu sakiiit”, Miyuy datang dengan berlinang air mata
“Kenapa?!”, ketiganya njawab berbarengan
“Ga tau. Tadi pagi pas aku bangun, Yabu udh ga sehat –hiks-“, jawap Miyuy masih sedikit sesenggukan

“Sekarang Yabunya mana?”, tanya Din
“Ada sama dokter…”
“Oh, bagus, deh…moga dia ga kenapa-kenapa…”, bales Din lagi sambil sesekali tepokin pundak Miyuy


Beberapa saat kemudian. Di ruang dokter

“Jadi Yabu saia kenapa, dok? –hiks-“, tanya Miyuy ke dokter yang barusan meriksa Yabu
“Ooh..ga ada yang parah, ko. Pencernaan nya sedikit bermasalah, bisa jadi karna salah makan…”, jawab dokternya disertai senyuman menenangkan bak Yamapi di dorama Code Blue. Tssah~
“Gitu ya, dok…”
“Ga usah khawatir, minum obat beberapa kali juga udah bisa sembuh, kok…”
“Aah, shimeta ne~ “, ujar Miyuy kontan meluk Yabu erat-erat


Setelah Miyuy ama Yabu keluar dari ruangan dokter

“Gimana, Yuy?”, tanya Opi khawatir, sementara Kei toel-toel tangan Yabu, malah keliatan manis
“Yabu ga pa pa kok, cuman salah makan…”, Miyuy udah bisa tenang,keliatan banget waktu ngusap-ngusap pala Yabu ke pipi, lovingly “..Yabu suka nakal, sih…waktu mau tidur aja, ada di pelukan aku, waktu aku bangun, entah dia udah ada dimana, grusak grusuk cari makanan sembarangan…”
“Set dah, Yabu kelaperan. Tapi sukur, deh kalo sakitnya Yabu ga parah”, gumam Din
Hape Nu tiba-tiba bunyi. Ada mail masup
“Eh?
Minna, kerumah aku, yuk? Hubby aku besok pulang, jadi sekalian Nov” bawa pulang Dai dai…”, tawar Nu
“Ayok, ayok…”, Miyuy yang pertama ngasi respon
“Beneran ga pa pa , Nu, Daichan dibawa sama Opi?”, kata Din
“Ya apa-apa, sih. Tapi mao gimana lagi, abisnya Dai dai ga bisa ada dirumah aku kalo Hubby pulang. Uuh…padahal Dai dai imyut kiyut kiyut…”, Nu keliatan sedih, bak mau ngelepasin anak yang baru hari pertama masup TK
“Tenang, Nu…Daichan bakalan aku rawat baek-baek, kalo pengen ketemu, maen aja kruma aku”, ujar Opi
“Iya, deh…”


Dirumah Niimura
Selama Din, Opi, Nu, Miyuy sibuk ngerumpi, Takaki, Kei, Yabu dibiarin maen bertiga

“(dalam bahasa mereka) Eh, maksutnya Daichan yang mau dibawa pulang ama majikan gw tuh dia?”, kata Kei sambil ngelirik seekor kitten item belang-belang yang lagi tidur dengan imyutnya diatas bantal
“Keaknya sih, iya…”, jawab Takaki barengan ama Yabu
“Jiah. Kalo majikan gw berpaling ama dia, gimana?”, kata Kei, si kucing berbulu warna gelap
“Itu sih, derita lo”, jawab Takaki cuek
“Ah, sial”, Kei mendengus

“ ‘ki, gw laper, nih…cari makanan, gih”, Yabu noel-noel Takaki
“Ogah. Kenapa harus gw yang cari? Lo aja, ‘no “, lempar ntu kucing berbulu honey blonde ke Kei
“Huh”, Kei ngambek
“Pake ngambek, pula. Okeh, okeh, gua yang cari makan”, kata Takaki akhirnya
Takaki puter otak. Dia inget kalo tadi pagi sebelum pergi dari rumah, Din sempet masukin Whiskas seplastik kecil kedalem tas *kucing yang pintar*
Kucing ramping dan elegan itu mulei deketin tas punyaan Din yang ditaro gitu aja dilante, nyium-nyium apakah ingetannya bener, di ntu tas disimpen Whiskas.
Aroma Whiskas rasa burger (authornya ngarang) kesukaan Takaki tercium jelas, bikin dia jadi kepengen ngiler.
Mayan lama Takaki bongkar-bongkar tas Din, tapi Whiskas rasa burger yang dicariin belom juga ketemu

“Apaan, nih?”, pikir Takaki bingung waktu nemuin benda bulet gepeng, punya gagang, ditengahnya ada wajah orang
Bingung. Takaki terus bercengkrama (idih, bahasanya =__= ) dengan benda asing itu, sampe lupa tujuan sebenernya

“Oi! Lama amat! Udah, blon?”, Yabu treak
Waktu Takaki nyadar, benda asing itu udah rusak tercabik-cabik dia punya cakar, wajah orangnya jadi udah nggak keliatan kalo tu wajah orang lagi

-Kriiiet- suara pintu dibuka

“Takaki, Kei, Yabu~ Kalian udah laper, blom? Makan yuuk?”, suara yang begitu dikenal Takaki, Din



“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….!!!!”
Din treak histeris

Opi, Nu, Miyuy, cepet-cepet lari ketembat bersumbernya suara

“Ada apa, Bunda?!!”

“UCHIWA GAMBAR AYAH…RUSAK. UDAH GA BERBENTUK!!”, Din murka
“…DASAR KUCING NAKAL!!!”

“Wwwrreong!”, Takaki dipukul Din sampe mental sekitar setengah meteran

“Kyaa…kasian, kenapa dipukul…?”, Miyuy treak pilu
“Mana, mana kucing nakal?”, Opi ngikut-ngikutan “…wah, uchiwa Tego yang limited edition, belinya susah, rebutan ama jutaan fans laen…”

Opi ngikutan, nendang Takaki sampe mental keluar jendela
Sebenernya, buat Opi, bodo amat kalo tu uchiwa gambar Tego rusak, tapi dianya keki aja ama tu kucing punyaan sohibnya yang entah kenapa saban liat ntu kucing, bikin dia jadi inget Jin Akanishi (apa hubungannya? O__o’). Puas hati Opi, bisa nendang Takaki sampe mental keloar jendela
(warning: ANAK BAIK, PENYAYANG BINATANG, JANGAN MENIRU ADEGAN BERBAHAYA INI!)

Din yang meratapi wajah Tego yang tercabik-cabik di uchiwa, ga nyadar kalo kucing kesayangannya sekarang udah entah pegimana nasibnya

Ga butuh waktu lama, Din udah duduk dipojokan, nelpon Tego sambil misuh-misuh geje
“Ayaaah…masa uchiwa gambar ayah . . . “


Sudahlah, lupakan sejenak. Kita beralih ke Takaki, si kucing malang, yang ternyata nasib malangnya

Di bawah jendela, SAN, puppy Yorkshire imyut punyaan Nu lagi dirayu-rayu ama Jin (bukan Akanishi =..=), Jack Russell punyaan tetangga
Ni anjing kecil tapi lincah (baca: Jack Russell) emang aneh, udah bulunya belang item sama blonde, ga isa bedain antara cewe ama cowo pula, dia lagi pedekatean ama SAN *author ngarang, ga bisa bayangin kalo Yorkshire kawin ama Jack Russell anaknya jadi keak apa ~__~*, tapi jangan salah, Jin bisa galak banget kalo ama yang ga dia suka


Brukk- Takaki jatuh diantara SAN dan Jin

“Grrr…”
Mendengar suara itu, perasaan Takaki jadi nggak enak


“LARIIIIIIII….!!”, Takaki ambil langkah seribu berasa dikejar ama anjing ga dikenal

Lari

Terus lari

Terus, terus lari


Takaki kecapean, baru berani memperlambat langkah waktu dipikirnya tu anjing udah kagak ngejar dia lagi



“Dimana ini?”, Takaki cengo. Mengo. Bengong




Sementara itu, kembali kerumah Niimura
“Manis, maap yah, tadi abang ngejar kucing dulu bentar. Abis kesel, sih…ganggu aja…”, Jin nempel-nempel ke SAN, genit
“Iyah, ga pa pa…”, jawab SAN sok malu-malu kucing (malu-malu anjing harusnya =w=)

Lupakan pasangan aneh itu =___=


Di dalam rumah

“Haai, Dai dai udah bangun, ya…”, Nu senyum-senyum “…Kyaaaa, imyutnyaaaa~”
Dai dai, si kitten imyut baru bangun, matanya masih ngerjap-ngerjap

“Iyaaah, imutnya…jadi inget waktu pertama liat Yabu di pet shop, masi kecil, imut, fragile. Waktu itu Kibum-oppa juga langsung setuju bawa Yabu pulang…”, ujar Miyuy

“Uuuh…”, berdua, mereka mengagumi keimyutan Daichan, kitten yang dikasiin Din buat Nu karna diantara mereka cuman Nu yang nggak punya kucing


“Oke, Nu. Bisa aku bawa pulang Daichan sekarang?”, kata Opi


Nu cuman ngangguk pasrah
Gitu juga waktu Opi mulei ngangkat Daichan. Abis mao gimana lagi, Kyo Niimura, lakinya, agak ‘gimanaaa getoh’ ama makluk yang namanya kucing =__=






“Dadah Dai dai…”, Nu sedih
“Myu~”, bales Daichan singkat, imyuuut banget T^T *author nulis sambil bayangin*

“Kita pulang dulu ya, Nu…”, kata Miyuy



Din juga mau pamitan, tapi mendadak nyadar sesuatu

“Eh? Takaki mana?”





Disuatu tempat yang entah jauh entah dimana

“Gw nyasaaaaaaaaaaar “, Takaki meratap, tapi hanya terdengar seperti sebuah eongan ditelinga beberapa orang yang melintas








(mungkin) TBC



komenin, yah XDD

Kamis, 04 Juni 2009

Fanfic : Accidentaly In Love (chap 3)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Three
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~

Accidentaly In Love
---chapter 3---

“Miyuy...apa maksudmu?”, tanya Din mulai tak sabar.

Bentakan Din sepertinya membawa Miyuy kembali ke masa sekarang, lalu menatap temannya satu persatu.

“Apakah benar dia?”, serunya masih sedikit tak percaya.

Opi mendahului langkah mereka, “Aku tak mengerti...terserah kau saja!”, katanya hendak meninggalkan Miyuy.

Din dan Py jadi ikutan akan meninggalkan Miyuy, tapi Miyuy berlari mengejar mereka,
“Chotttooo!!!!”

Semuanya berbalik, seakan meminta penjelasan terhadap sikap aneh Miyuy tadi.

“Jadi...aku....” Miyuy pun menceritakan perihal ramalan yang ia baca di situs tobenatori semalam, dan ia tak menyangka akan mendapatkan ramalan itu dengan tepat.

“Waaahh...kau masih sering membaca Tobenaitori?”, tanya Py takjub.

“Lalu kau percaya dengan hal ini?”, tanya Din agak sinis.

Miyuy tersenyum dengan cerah sekali, “Tentu saja...aku yakin Yabu Kota adalah jodohku....”
seru Miyuy dengan mata berbinar.

---------------------------

Bel sekolah berdentang 3 kali. Tandanya sudah saatnya para murid Keio High School masuk kelas. Semua orang sudah ditempat, tapi Nu tidak ada, ia belum datang. Din melirik bangku Nu, tak mungkin kan Nu patah hati lalu tidak masuk sekolah, setau Din, Nu adalah murid yang mementingkan sekolahnya.

BRAAAKK!!!

Pintu kelas terbuka tiba – tiba.Nu setengah berlari ke bangkunya sambil terengah – engah.

Opi melirik Nu, “Kau kemana saja?”

“Aku....”, Nu berhenti untuk mengambil nafas sejenak, “Tertidur di Bus...”, katanya lalu duduk dengan nafas masih terengah – engah.

Din tertawa tertahan, “Kau ini ada – ada saja!”

Pelajaran Bahasa Inggris memang pelajaran paling membosankan di kelas. Sebenarnya pelajaran ini harusnya cukup menarik, sayangnya Jun Sensei membawakannya dengan sangat membosankan.

Nu merasakan kepalanya sangat berat, semalam ia hanya tidur kurang dari dua jam karena merasa patah hati, ia mulai menonton semua DVD konser yang ia punya. Menangis semalaman karena mengenang Kyo.

“Hoaaaammm...”, Nu kembali menguap, kepalanya terantuk – antuk karena ia sangat mengantuk. Tak butuh lama, Nu pun merebahkan kepalanya di atas buku pelajaran.
Opi yang tepat berada di sebelah Nu menendang tulang kering Nu dengan sedikit keras.

“Itai~”, teriak Nu yang malah membuat seisi kelas menoleh padanya, termasuk Jun sensei.

“Ada masalah?”, tanya Sensei Jun sambil mendekati bangku Nu yang membuatnya bangun sepenuhnya.

Nu menggeleng, “Tidak sensei...” jawabnya gugup.

“Keluar! Berdiri di koridor!!” perintah Jun sensei.

“Tapi...aku....”, Nu hendak membantah.

“SEKARANG!!!”, perintah Jun sensei lagi.

Kini Nu tak punya keinginan untuk melawan Jun sensei, dan segera keluar, berdiri di koridor.
Suasana di koridor sangat sunyi, hanya sesekali terdengar perkataan dari Jun Sensei atau guru lain di kelas lain.

Rasa kantuk Nu kembali menyerang setelah selama beberapa menit suasana hening itu berada di sekitarnya. Nu mati – matian mencoba menahan rasa kantuknya, tapi ia mulai tak kuat.
BRAAAKKKK!!!

“Hiyaaaa!!!”, teriak seseorang saat tubuh Nu menghantam dirinya.

Nu bangun sepenuhnya

Tapi ia memejamkan mata

Tak lama, ia memberanikan diri membuka matanya, seorang cowok sedang mendekapnya, menahan jatuh tubuhnya.

“Daijoubu ka?”, tanya cowok itu.

Nu gelagapan dan segera melepaskan diri dari cowok yang tidak ia kenal itu. Disekelilingnya puluhan buku berhamburan, tampaknya cowok itu yang membawanya karena bebrapa menit kemudian cowok itu memunguti buku yang berserakan tersebut.

“Ano...”, Nu ikut berjongkok dan membantu cowok itu mengumpulkan buku – buku. Nu membaca di bukunya, 3A, itu sepertinya kelasnya.

Nu hanya mengenal sedikit sekali orang lain selain empat sahabat kentalnya. Nu bisa dibilang anti social, maka ia kadang tidak peduli dengan keadaan sekitar, terkadang ia hanya ingat nama atau bahkan hanya ingat wajahnya saja.

“Nu deshou?” tanya cowok itu, Nu mengagguk. Cowok itu tersenyum, tampak seperti sudah lama ia menunggu untuk hal ini, “Daiki Arioka desu...”

----------------------

Sudah sejak ia bertemu dengan Inoo, atau Kei biasanya Chii memanggilnya. Jam pulang sekolah setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at adalah waktu yang paling ia tunggu.

Pulang ke rumah, ia pasti menemukan sosok Inoo dibelakang piano, memainkan lagu – lagu indah dari tuts – tuts itu.

Tapi Opi hanya berani memandangi punggung Inoo, mengagguminya dari jauh. Ia sama sekali belum pernah mengobrol dengan Inoo.

“Tadaima~”, seru Opi dari pintu depan.

“Okaeri~”, seru ibunya dari dalam.

Suara piano itu

Pasti Inoo sedang memainkannya

Opi pun bergegas mendekati sumber suara, mendapati sosok Inoo sendirian, tanpa Chii seperti biasanya. Opi heran. Biasanya di ruangan itu praktis ada Chii dan Ibunya yang setia menemani Chii berlatih. Atau terkadang hanya Inoo dan Chii. Tak pernah Inoo seorang diri.

Opi terdiam di tempat, kakinya serasa mati rasa mendnegar alunan piano yang dimainkan Inoo. Sehingga tanpa sadar Opi pun memejamkan matanya, kebiasaan yang sering ia lakukan jika
Onii’chan memainkan pianonya.

“Ehm...mengintip itu bukan perbuatan yang baik.”, seru seseorang.

Opi tersadar, membelalakan matanya memandang Inoo yang ternyata sudah berbalik memandang Opi.

Dengan secepat kilat, Opi menghindar dari tempat itu dan merutuki diri sendiri.
------------------------

Tak ada hal yang paling buruk bagi Din selain berkunjung ke rumah Yuya. Sejak SMP, hal yang paling sering ia lakukan memang hal ini. Berdua dengan Takaki Yuya, cowok pilihan orang tuanya.

Din menatap sekeliling rumah Yuya yang begitu ia kenal. Di ruangan ini terdapat foto keluarga, Din pun tanpa sadar mengagumi satu sosok cinta pertamanya yang ada di foto itu.

“Fffuuuhhh!!!”, seseorang meniup telinga Din dengan sengaja, membuatnya sedikit terlonjak.

“Onii’chan!! Geli!!”, protes Din.

Cowok yang dipanggil Onii’chan itu tertawa renyah melihat ekspresi Din yang sangat kaget.

“Aku bawakan cemilan. Lagipula masa kau tidak tahu bahwa Yuya hari ini ada les?” tanyanya lalu menyomot salah satu cemilan itu.

Din mencibir, sejak kapan Din peduli akan jadwal les tunangannya itu.

“Tidak...Mama tidak memberitahukanku...”, elak Din lalu memandang cowok itu.

Cowok itu agak mirip dengan Yuya, walaupun tentu saja tidak mirip sepenuhnya. Gaya rambutnya sedikit mirip, namun cowok dihadapannya ini memiliki bibir tipis dan badan yang
lebih besar dari Yuya.

“Tunangan yang buruk!”, seru cowok itu lalu mengacak pelan rambut Din.

“Jinnn...berhenti menggoda tunangan adikmu itu.”, kata seorang wanita paruh baya dari
belakang punggung Jin, itu Okaa-chan.

“Iya nih!! Onii’chan menggangguku terus!”, protes Din.

Okaa-chan tersenyum, “Dinchan harusnya tidak usah datang hari ini, Yuya akan pulang agak malam.”

Din mengagguk, “Gomen ne Okaa-chan...Mama sama sekali tidak memberitahuku..”

“Ya sudah...kau pulang saja, biar Jin yang mengantarmu.”, kata Okaa-chan.

Jin berdiri, “Ayo adik ipar! Kita pulang saja!”, serunya sambil menawarkan tangannya untuk membantu Din bangkit dari duduknya.

Din menurut, ia pun berjalan dibelakang Jin, memandang punggung Jin yang bidang.

“Aku tak suka dipanggil adik ipar...”, bisik Din pelan. Tampaknya Jin tidak mendengarnya dengan jelas.

“Apa? Kau bilang apa tadi?”, tanya Jin.

“Apakah....apakah...”, Din menggantung kalimatnya, “Apakah aku masih bisa jadi pengantin Jin?”, tanya Din lirih.

Jin berbalik, memandang Din dengan seksama, “Tidak mungkin! Kau itu adik iparku...”, katanya seraya memukul pelan kepala Din.

Sementara itu dibalik tembok, Yuya terdiam mendengar perkataan Din. Tangan kanannya terkepal, “Jin! Awas kau!”, bisiknya. Yuya tak pernah semarah ini sebelumnya.

Ia selalu saja dibandingkan dengan kakak sulungnya itu, Yuya selalu dibilang mirip kakaknya, dibilang mengcopy kakaknya itu, makanya dia tak pernah betah sekolah di Horikoshi jika ia mau jujur. Sekolah itu juga adalah sekolah kakaknya dulu, semua orang tau legenda Jin, kakaknya yang dikenal sangat populer dan tampan.

Yuya tahu ia tak setampan kakaknya, tak sepopuler kakaknya, tapi mengapa harus Din ia rebut juga. Pada awal pertunangan dirinya dan Din, sebenarnya ia tahu, Din seharusnya ditunangkan dengan Jin, tapi Jin menolak, dengan alasan saat itu ia memang sedang kencan dengan seorang gadis. Jin menolak hingga kabur dari rumah, sejak saat itu ia ditunangkan dengan Din. Yuya tak menolak, karena dari hati kecilnya ia menyukai Din sejak kecil, sejak mereka sering bermain bertiga. Ia, Jin dan Din adalah teman sepermainan sejak kecil.

“Kau boleh rebut segalanya dariku, tapi tidak Din!”, bisiknya pada diri sendiri.
-----------------------

Py duduk di taman tempat terakhir kali ia bertemu Hikaru Yaotome, cowok urakan yang sempat memberinya Chupa. Sebenarnya beberapa kali ia berpapasan dengan Hikaru di sekolah, tapi ia sama sekali tak berani untuk menyapa atau berbicara dengan Hikaru di sekolah.

“Dia dimana ya?”, tanpa sadar Py menggumam seperti menunggu Hikaru disitu. Walaupun sebenarnya hati kecilnya tidak yakin bahwa Hikaru akan kembali ke taman itu hari ini.

Sebelah tangannya memegang Chupa rasa Cola yang ia beli tadi di kantin sekolah, awalnya Py akan menyerahkannya saat ia bertemu Hikaru di sekolah, tapi seperti biasa Py tidak berani bahkan untuk sekedar berbicara.

Hikaru adalah cowok yang selalu dikelilingi teman – temannya. Kota Yabu, Yamashita Shoon dan
Ayukawa Taiyou selalu berada disekitarnya sehingga Py sendiri susah untuk mendekati Hikaru, bahkan untuk sekedar memberi kata terima kasihnya.

“Huwaaaaaa!!!! Awaaaasss kaaaauuuuu!!!!”, teriak seseorang dari kejauhan.

Dengan gerakan refleks, Py menoleh dan mendapati empat orang cowok sedang berlari – lari berkejaran menuju tempat itu. Py takut ketahuan, ia tak pernah pandai berbicara dengan cowok seperti Din, maka ia pun langsung bersembunyi di belakang sebuah perosotan.

“Baka Yabu!!! Kau kalah lagi!!!”, teriak Shoon dengan tawa khasnya.

“Kuso!!! Kenapa sih kau selalu membuat permainan bodoh ini!!”, teriak Yabu pada Hikaru yang sedang ikut tertawa.

“Hahahaha...yang penting aku tak pernah kalah...hehe...hukuman!!! ayo hukum dia lagi!!”, teriak Hikaru senang.

Yabu cemberut, ia tak sudi mendapat hukuman aneh – aneh lagi dari teman – temannya itu.

“Hmmm...belikan kami juice!! Cepaaattt!!”, perintah Taiyou.

Shoon duduk di kursi taman, “Iya benar!! Kami tunggu disini!!”, lanjutnya.

Yabu pun dengan wajah tertunduk langsung pergi membelikan juice. Sedangkan Shoon dan
Taiyou duduk di bangku taman. Hikaru menunduk, memgang kedua lututnya karena kecapaian.
Ia melihat sesuat di bawah bangku taman, dengan gerakan cepat Hikaru mengambilnya.

Sebuah Chupa

Rasa Cola

Hikaru memandangnya, mengedarkan pandangannya ke sekitar taman bermain, ia yakin ia tahu siapa yang menjatuhkan ini.

“Hikaru, kau kenapa?” tanya Taiyou bingung dnegan perubahan sikap dari Hikaru yang tiba –
tiba.

Hikaru tampak kaget dan segera memasukan Chupa itu ke saku celananya, “Tidak apa – apa.” Jawabnya cepat, Hikaru menoleh ke belakang, medapati sosok Py yang sedang mengintip mereka lalu berbisik, “Arigatou...”, seraya tersenyum.

To Be Continue~

Comments are Love minna~
aneh ndak chapter yang ini??
xD
nuuuuyyyy!!!!
chapter 4 selanjutnya....hehehe