Title : Accidentaly In Love
Chapter : Seven
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them...Comments are LOVE minna~
Ketika Din membuka matanya di pagi hari, yang dilihatnya adalah wajah Yuya yang tengah tertidur. Din memejam dan kemudian membuka matanya kembali, beberapa kali ia mengusap matanya, pemandangan itu tetaplah sama, Yuya ada di tempat tidurnya
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!”, seisi rumah bisa mendengar teriakan Din
“Yu, yuya...ke, kenapa...”, ucap Din terbata, panik “..jangan bilang kalau Yuya sudah lakukan macam-macam !”, tanpa sadar tangannya menarik leher bajunya keatas.
“Hahahahhaha! Wajahmu, wajah panikmu, yang seperti itu lucu sekali!”, goda Yuya senang.
“Tenanglah...aku sudah minta izin oba-san untuk membawamu pergi keluar, tapi ternyata kamu masih tidur”, kata Yuya tenang.
“Kenapa harus sepagi ini, sih?”, rutuk Din kesal.
“Ah, cerewet...cepat madi lalu siap-siaplah!”, kata Yuya seraya menarik sedikit selimut yang Din kenakan.
“Apa? Ng, aku pilih tidur lagi..ini terlalu pagi...”, balas Din, kembali menenggelamkan kepalanya di bantal dan membungkus dirinya dengan selimut
“Kalau begitu, aku juga”, tanpa berpikir panjang, Yuya membuat dirinya sendiri begitu dekat dengan Din, meletakkan kepala di bantal yang sama, menarik sedikit dari selimut yang dipakai Din
Begitu dekat. Din -yang tentu saja belum benar bisa kembali tertidur-, apalagi diciumnya aroma khas Yuya yang well, sedikit mirip dengan Jin.
Din tak bisa membohongi dirinya sendiri dengan berpikir ia masih bisa tenang dengan posisi seperti itu, jantungnya berdetak semakin cepat,
‘Apakah wajahku memerah?’
‘Apakah dia memperhatikan wajahku yang tertidur?’
‘Apakah wajah baru bangun tidurku cukup kacau hingga dia bisa mengolokku seperti biasa?’
‘Dia hanya menggoda, jangan terpengaruh...seperti biasa...’, batin Din
“Aaah! Sudah, menjauh!”, Din seketika mendorong Yuya menjauh. Din tak lagi bisa menyembunyikan perasaannya, perasaan ingin berteriak ketika Yuya berada sedemikian dekat dengannya.
“Ha ha ha! Sudah bangun ya, Tuan Putri? Selamat pagi...”, ucap Yuya dengan memasang senyuman penuh kemenangan.
“Ok! Aku akan pergi denganmu...pervert!”, Din melempar bantal ke wajah Yuya sebelum berlari keluar dari kamarnya
--------------
“Ng, kenapa? Sejak tadi kamu lebih banyak diam?”, tanya Yuya pada Din ketika mereka baru saja turun dari bianglala.
‘Ini kan kencan pertama kita sebagai pasangan??’, batin Din.
“Aku..hanya belum terbiasa”, jawab Din pelan
“Hah? Apanya?”, tanya Takaki tak mengerti.
“Kita terbiasa main ke taman bermain seperti ini selalu pergi bertiga bersama Jin, kan...”, kata Din dan setelahnya menyesali apa yang dia katakan.
“Ohh~”, Yuya menarik tangan Din dan menggenggamnya, “Ada aku disini..apa tidak cukup?”, bisiknya, namun Din masih bisa mendengarnya.
----------------
“...hai, Nu desu...”
Sore itu Nu terbangun oleh getar dari ponselnya, panggilan dari nomor tak dikenal
“Nuchan~ bolehkah aku ke tempatmu sekarang?”, tanya seorang diseberang sana
“Ah, Arioka. Untuk apa datang ke tempatku?”, kali ini Nu benar – benar bangun sepenuhnya.
“Untuk menjemput Nuchan, kita akan pergi ke konser, kan?”, tanya Daiki.
‘Ah....konser Kyo...’, kata Nu dalam hati.
“Ng, ya. Tapi...”, Nu melirik jam kecil di meja dekat tempat tidurnya “..tapi ini jam 3 sore!”
“Nuchan suka vokalis bandnya, kan? Kalau begitu, kita harus dapat tempat di depan!”, seru Daiki bersemangat
“Ok, kamu boleh ketempatku”, jawab Nu akhirnya.
“Yaay! Kalau begitu, sekarang buka jendela kamarmu!”
Begitu Nu membuka jendela kamarnya, ia bisa melihat Daiki dibawah sana, tersenyum manis untuknya, dan melambai kecil ke arahnya.
“Nuchaaaannn~”, serunya ceria.
Nu menggelengkan kepalanya, terkadang saat melihat senyumnya, Nu pun tanpa sadar ikut tersenyum.
Konser-yang-disukai-Nuchan ternyata jauh berbeda dari yang dibayangkan Daiki, sangat berbeda dengan konser-konser live yang biasa dilihatnya.
Begitu bising, bahkan terkadang lagu yang dibawakan tak terasa seperti sebuah lagu untuknya, hanya teriakan-teriakan yang memekakan telinga dari sang vokalis. Membuatnya berpikir “Inikah orang yang sangat disukai Nuchan?”
Tapi audiens begitu menikmati, begitu bersemangat. Sesekali Daiki menatap Nu yang berdiri disampingnya, tersenyum lembut menatap keatas panggung.
Senyuman yang belum pernah dilihatnya.
“Aah, selesai...Nuchan suka konsernya?”, Daiki berusaha tersenyum, meskipun kepalanya terasa pusing ketika keluar dari hall area.
“Aku selalu suka...”, jawab Nu pelan.
“Tunggulah disini, aku akan cari minuman untuk kita!”, ucap Daiki dan segera berlari menginggalkan Nu.
“Eto...kenapa belum juga sampai ke tempat yang tadi?”, gumam Daiki. Dengan dua kaleng minuman dingin di tangannya, ia berusaha keras mengingat, jalan menuju tempat dimana Nu mengunggunya.
“Gawat, aku tersesat!”, semakin Daiki berjalan, tempat-tempat yang dilalui terasa semakin asing.
“Basement? Aah, aku benar tersesat. Aku akan hubungi Nuchan...”
Gerakan Daiki meraih ponsel terhenti, ketika ia mendengar suara yang dikenalnya.
“Aku tak bisa menerima alasan Kyo-san! Sejak kapan kita peduli tentang orang tua?!”
Itu suara Nu.
Daiki melihat Nu, berdebat dengan orang yang tak lain adalah vokalis dari band yang baru saja dilihatnya.
“Aku bukan pedofil”, jawab seorang yang dipanggil Nu dengan sebutan Kyo itu
“Dan aku bukan anak dibawah umur!”, seru Nu dengan nada sedikit membentak.
Daiki berusaha bersembunyi, melihat perdebatan Nu dan Kyo. Tapi tanpa sengaja, Daiki menjatuhkan kaleng minuman yang dipegangnya.
Suara itu tentu membuat Nu dan Kyo melihat kearahnya. Nu menghampirinya, meninggalkan Kyo “Ayo pulang, Daiki!”
Tak ada yang bisa dilalukan Daiki selain mengikuti langkah Nu.
“Tanpa sadar, Nuchan memanggil namaku...aku senang”, ujar Daiki, lirih
Selama perjalanan pulang, keduanya hanya terdiam. Daiki tahu, Nu ingin menangis, tapi tak ingin Daiki melihatnya, lagi.
“...Nuchan pernah mengenal Kyo-san?”, akhirnya Daiki memberanikan diri bertanya.
“Dia...pacarku...”, jawabnya sepelan mungkin.. “Setidaknya hingga beberapa waktu yang lalu...”
Daiki begitu terkejut, tak percaya. “Tapi, Nuchan dan Kyo-san...ng, terlihat...”, tambah Daiki, ragu.
“Dia meninggalkan aku”, sepenggal kata dari Nu membuat Daiki tak bisa meneruskan ucapnya
“Nuchan membencinya sekarang?”, tanya Daiki lagi.
“Aku tak akan pernah bisa...”, jawab Nu hampir menangis.
mendengar kata itu, membuat Daiki merasa sedikit iri.
“Kalau begitu...”, Daiki meraih jemari dingin Nu dengan tangannya “...sukai aku seperti Nuchan menyukainya...”, ucap Daiki.
Tatapan itu lagi, sorot mata Daiki yang begitu tegas. Membuatnya sesaat terlihat begitu dewasa.
Nu hanya menarik tangannya, “Aku tak bisa”
Kembali berjalan, Nu menyadari Daiki tak lagi berada disampingnya
“Arioka?”
Tak ada jawaban, dan ketika menoleh, Nu bisa melihat Daiki sudah tertinggal beberapa langkah darinya, duduk berjongkok di jalanan sepi
“Hh...”, menghela nafas, Nu berbalik, dan membawa kakinya melangkah kebelakang menuju Daiki.
“Jalanlah yang benar...”, perintah Nu.
Walaupun Nu tak tersenyum untuk Daiki, tapi Daiki bisa kembali tersenyum -setelah memasang wajah cemberut yang nampak begitu kekanakan-, ketika Nu mengulurkan tangan untuknya.
Tanpa ragu, Daiki meraih tangan Nu, menggenggamnya kemudian meneruskan langkah mereka yang sempat terhenti.
“Manja!”, ujar Nu singkat.
“Biarlah...asalkan manjanya hanya sama Nuchan...”, balas Daiki.
“Haaah?!”, tanpa sadar, senyum Nu sedikit mengembang, ia yakin wajahnya juga memerah saat ini.
---------------------------
“Ok, aku ambil yang ini”, ujar Py lirih pada dirinya sendiri menatap sebuah sketch book “Sekarang ke tempat manga...”, gumamnya pada diri sendiri.
Hari libur yang membosankan. Semua temannya tampak sibuk dengan urusan mereka masing – masing. Py akhirnya memutuskan untuk ke toko buku sendirian, paling tidak ia bisa mencari komik yang dia inginkan.
“Hikka...pasti lihat (shounen) JUMP, kan? Dasar laki-laki, membosankan aah, ayo keluar dari toko buku lalu hang out bersama kami...”
Langkah Py terhenti ketika mendengar seseorang menyebut nama itu. Py berusaha mengintip dari sela-sela lemari buku. Seorang berambut coklat terang itu, Hikaru yang dikenalnya. Dengan tiga orang lain, gadis - gadis yang juga dari sekolahnya. Seorang dari mereka, memeluk lengan Hikaru begitu erat, berbicara dengan nada manja.
“Memangnya Hikaru-kun pacarmu...?”, ucap Py lirih.
Tanpa mau mengaku pada dirinya sendiri, Py merasa sedikit kesal. Cemburu, mungkin.
Sementara Hikaru menanggapi ketiganya dengan tersenyum ramah. Menyenangkan, semua orang pantas menyukainya
“Oh ya, Hikaru-kun kan pacar mereka semua...”, kata Py lagi.
Tapi perasaan itu segera ditepisnya dan berjalan menjauh dari tempat Hikaru berdiri. Semakin menjauh.
Ketika Py sadar, ia sudah berada di tempat yang tak biasa untuknya. Diantara deretan buku-buku dengan judul yang benar-benar asing. Py hanya bisa berpura-pura memilih buku, menghindari tatapan aneh dari orang-orang disekelilingnya.
“Ushi no Koku Mairi? Bacaan yang bagus. Apa Pychan sedang membenci seseorang?”, kata seseorang dibelakangnya.
“Kyaaaaaaaa! Hikaru-kun!”, kontan Py menjerit kaget. Mendengar suara Hikaru, sekaligus menyadari buku apa yang tengah dipegangnya. Dan ketika itu pula wajahnya berubah memerah.
“Hmm? Aku, hanya...”, Py berusaha mencari kata-kata yang tepat tapi tak juga menemukannya.
“Salah ambil buku?”, potong Hikaru.
Hanya mengangguk malu, Py tak bisa menatap Hikaru.
“Ini, aku ambilkan untukmu. Semoga tidak salah lagi”, katanya lalu mengambil sebuah buku.
“Shu, Shugo Chara? A, arigato, Hikaru-kun”, ujar Py masih merasa deg – degan.
Tanpa Py sempat menduga, Hikaru memberikan salah satu buku yang memang akan diambilnya.
“Aku akan berikan buku ini, kalau Pychan mau menemaniku jalan-jalan. Bagaimana, hmm?”, tawar Hikaru.
“Demo...ano...”, jawap Py ragu.
“Aku juga tak akan beritahu siapapun kalau Pychan tertarik dengan Ushi no Koku Mairi...”, godanya, tersenyum memperlihatkan senyum khasnya.
“Aah! Ok, aku ikut!”, jawab Py akhirnya.
Sebenarnya, Py memang hanya ingin bersama Hikaru.
“Ahaha, terima kasih!”, kata Hikaru bersemangat.
Walaupun Py masih tak bisa menatap Hikaru, tapi ia bisa memastikan. Hikaru memasang senyumannya. Sebuah senyum yang begitu bersahabat, Py begitu menyukainya.
--------------
Miyuy kembali merapikan rambutnya, mengecek kembali apa make up nya tidak berlebihan.
Hari ini cukup istimewa. Ia akan berkencan dengan Yabu. Setidaknya itulah yang difikirkan Miyuy.
Semalam saja Miyuy tak bisa tidur hanya karena ajakan ini.
From: Yabu-kun
Subject: Malam~
Miyuy-chan...sedang apa?
Ada waktu besok?
Saat menerima email itu, Miyuy yang awalnya sudah ngantuk setengah mati karena soal Fisika yang harus ia selesaikan sebelum hari senin, tiba – tiba merasa tak mengantuk sama sekali.
To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku..berkutat dengan Fisika.
Yabu-kun sedang apa?
Eh? Besok? Aku tak akan kemana – mana..
Kenapa Yabu-kun?
From: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku sedang tiduran saja~
Miyuy-chan rajin ya..besok kan baru hari Sabtu..
Masih juga belajar?? :P
Kalau ada waktu..maukah nonton bersamaku?
“Kyaaaaaa~”, tanpa sadar Miyuy sedikit berteriak.
To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Aku benci menunda tugasku..:D
Eh?hmmm~
Boleh saja..aku juga tak punya rencana apapun kok..
From: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Baiklah...jangan tidur terlalu malam.
Besok kita bertemu di taman jam 11 ok?
Oyasumi Miyuy-chan~
---(image 19)---
Stars that always shining
Miyuy tersenyum melihat foto sebuah bintang bohongan yang terbuat dari kertas bersinar warna emas.
To: Yabu-kun
Subject: Re: Malam~
Ok desu~
Oyasumi...
Setelah email itu, Miyuy malah tak bisa memejamkan mata sama sekali. Namun ia juga tak mampu mengerjakan PR Fisika nya. Hatinya terlalu senang dengan apa yang akan terjadi.
Miyuy pun segera mengecek ramalannya di Tobenatori. Maka saat ini pun ia memakai warna keberuntungannya hari ini, Biru.
“Maaf aku agak terlambat...”, kata seseorang. Membuyarkan lamunan Miyuy.
Yabu berdiri dihadapannya, dengan senyumnya seperti biasa.
“Ah..tidak..aku yang terlalu cepat datang...”, jawab Miyuy.
“Ja...Ikou~”, ajak Yabu.
----------------------
From: Yuuri
Subject: (no subject)
Neechan~ sudah ketemu Inoochan, kah? >___<
Opi membuka layar ponselnya, sebuah email dari Yuuri.
To: Yuuri
Subject: Re: (no subject)
E?
Inoo-kun? -w -)7
Jawabnya pada Yuri
From: Yuuri
Subject: Re: (no subject)
Aku dan mama minta Inoochan bergabung
dengan kita untuk acara barbeque nanti,
jadi Inoochan bantu dengan ikut neechan
belanja ke super market >__<
Pesan dari Yuri itu membuat Opi sedikit terkejut, Inoo akan datang untuk belanja bersamanya.
BRAK !
Mendengar suara itu kontan Opi menutup layar ponselnya dan melihat ke tempat berasalnya suara.
“I, Inookun?”, ujarnya setengah berteriak.
Opi bisa jelas melihat, Inoo sedang membantu seorang ibu tak dikenal membereskan belanjaannya yang berantakan dilantai.
“Ah, terimakasih, nona”, ujar ibu tersebut pada Inoo.
Opi berusaha menahan tawa mendengar panggilan yang diberikan seorang tak dikenal itu pada Inoo, jelas ia salah mengira Inoo sebagai perempuan.
Sementara Inoo hanya membalas dengan senyuman, Opi juga melihatnya, begitu cantik, bukan mustahil orang akan mengira Inoo adalah perempuan.
Tak lama, kemudian Inoo berdiri menghampiri Opi
“Tertawakan aku, huh?”, lagi, Inoo memperlihatkan senyumannya, yang begitu Opi sukai.
“A, ah, tidak, tidak...”, Opi menggeleng, meencoba menyembunyikan wajahnya yang kini memerah.
Sesaat Inoo melirik tas belanja Opi, “Hmm, hampir semua yang diperlukan sudah diambil, tapi ada yang ketinggalan...”, kata Inoo.
“E? Padahal kupikir semuanya lengkap”, kata Opi yang yakin ia tak melewatkan satu pun barang yang di daftar oleh Ibunya.
“Paprika”, jawab Inoo sambil tersenyum.
“Ah! Padahal itu penting!”, Opi memukul keningnya sendiri “Ayo, cepat selesaikan dan pulang!”, tanpa sadar, Opi menarik tangan Inoo dan berjalan cepat ke stand sayuran.
“Kurasa yang ini bagus...”, ujar Inoo.
“Aku ambil...”, Saat itu, Opi baru menyadari kalau tangannya masih menggandeng tangan Inoo “Aah, gomen ne!”, segera Opi melepaskan genggaman tangannya dan memasukkan beberapa buah paprika kedalam tas belanjanya.
Dan Inoo hanya mengisyaratkan sebuah ‘Daijoubu dayou’ dengan senyumannya
-----------------
“Inookun, terimakasih sudah membantuku belanja...”, kata Opi lalu menatap Inoo yang tampak melamun.
“Tak apa, aku yang harusnya berterimakasih karna diundang di acara barbeque kalian”, jawabnya.
Keduanya, berjalan bersamaan dengan masing-masing membawa tas belanjaan.
“Hai nona-nona, nampaknya baru selesai belanja, bagaimana kalo main-main bersama kami, lebih menyenangkan...”, Seorang menepuk pundak Inoo, dua orang berandalan yang sama sekali tak terlihat seperti orang baik.
“Maaf, kami tak punya waktu untuk kalian”, Inoo menepis tangan itu dari pundaknya.
“Ah, laki-laki ya, membosankan!”, ucap seorang lain dari mereka, dengan tatapan meremehkan.
“Ayo Opi, kita harus cepat sampai rumahmu, obasan dan Yuuri sudah menunggu!”, Inoo mempercepat langkahnya dan diikuti dengan Opi.
Hanya tinggal beberapa blok lagi untuk sampai kerumah, keduanya kembali berjalan santai. Tapi bagaimanapun, suasana yang tidak enak memang terasa, tidak terlalu ada pembicaraan diantara mereka.
“Harusnya, saat berjalan bersama dengan membawa tas belanja seperti ini, akan dikira sebagai pasangan pengantin baru, kan”, goda Inoo lalu melirik pada Opi.
Kalimat yang diucapkan Inoo membuka wajah Opi memerah dan tak bisa menjawab.
“A, apa maksud Inookun?”, ujar Opi.
Perlahan, Opi bisa merasakan Inoo meraih tangannya -yang tak memegang tas belanja-, jemari lentik Inoo menyilang diantara jari-jarinya. Opi sama sekali tak bisa menatap wajah Inoo, tak ingin Inoo melihat wajahnya yang telah menjadi sangat merona.
“Dengan begini, kita pasangan pengantin baru. Tak akan ada yang akan memanggil kita dengan ‘nona-nona’ lagi...hee hee”, katanya tanpa melepaskan tangan Opi sedikitpun.
‘Walaupun itu hanya bohong, Inookun hanya tak suka dikira sebagai perempuan karna wajahnya yang cantik, tapi aku senang’, Pikir Opi yang berjalan dengan Inoo menggenggam tangannya. Terasa begitu nyaman, walaupun membuat jantungnya berdetak cepat tak beraturan.
“Mamaaa, Neechan dan Inoochan sudah sampai!”, seru Yuuri yang sejak tadi menunggu di depan pintu “I, Inoochan...”, Yuuri terbata mendapati Inoo yang masih memegang tangan kakaknya
“Ini, ini hanya...”, Inoo berusaha menjelaskan, tanpa melepaskan genggaman tangannya.
“Kyaaaaaaaaaaa”, Yuri berlari histeris kedalam rumah
Inoo dan Opi, keduanya hanya bisa tertawa, dengan wajah yang masih memerah.
“Inookun..”, panggil Opi pelan.
“Ya?”
“Sudah bisa dilepaskan...kita sudah di rumah..”, kata Opi lagi.
Inoo tampak kaget sendiri, lalu melepaskan tangannya, “Gomen ne Opichan..”
---------------------
“Filmnya seru ya Yabukun!!”, seru Miyuy setelah mereka keluar dari bioskop.
Sejujurnya, Yabu tak begitu suka film Astro Boy tadi. Tapi setidaknya melihat ekspresi wajah Miyuy sepanjang film tampaknya membuat hal di bioskop tadi menyenangkan.
“Ya...tentu saja..”, jawab Yabu tersenyum.
“Hmmm...Yabukun~”, panggil Miyuy ketika Yabu sudah duluan jalan didepannya.
“Ya?”, wajah Yabu berbalik, menatap Miyuy.
“Yabukun bilang ingin makan bento buatanku? Aku membawa bentou hari ini..”, katanya malu – malu.
“Benarkah?!! Ayo cari tempat untuk makan..”, putus Yabu lalu menggenggam tangan Miyuy.
Yabu membuka bungkusan bentou itu dengan antusias, “Uwaaa~ Sugooii~ terlihat enak..”, kata Yabu.
“Cobalah..”, ujar Miyuy memperhatikan wajah Yabu yang akan mulai makan.
“Itadakimaaaasssuu!!”, Yabu melahap sebuah tenpura.
“Dou?”, tanya Miyuy takut – takut.
Wajah Yabu mengekspresikan ada yang tidak beres dengan makanan itu.
“Eeehh??Kenapa Yabukun? Tidak enak ya?”, serunya panik. Sepertinya ia tak memasukkan sesuatu yang salah pada makanan itu.
Yabu tersenyum, “Hehehe...enak sekali kok~ ayo makan!!”
Miyuy memukul pelan bahu Yabu, “Tidak lucu...”
Yabu hanya tersenyum melihat wajah panik Miyuy.
“Ne Miyuy-chan...”, panggil Yabu.
Miyuy berhenti makan, memusatkan perhatiannya pada Yabu, “Ya?”.
“Kalau kau membuatkan aku bekal setiap hari..kau mau?”, tanyanya tiba – tiba.
“Memangnya aku petugas katering?”, ujar Miyuy yang kecewa dengan apa yang diucapkan Yabu. Ia pikir sesuatu yang lebih romantis akan dikatakannya.
“Buat bekal untuk pacar sendiri memangnya gak mau?”, tanya Yabu.
Sukses membuat Miyuy kembali berhenti dan menatap Yabu tak percaya, “Hah? Apa maksudmu?”, tanya Miyuy lagi.
Yabu berhenti makan, menatap Miyuy, “Iya...Miyuy mau jadi pacarku kan?”
“Eh??”, wajah Miyuy memerah. Ia tak sanggup menatap mata Yabu yang tepat berada dihadapannya. “Kenapa Yabukun?”, tanya Miyuy sedikit berbisik.
“Mochiron...Suki da yo~”, kata Yabu lagi, menggenggam tangan Miyuy.
Miyuy hanya sanggup mengangguk pelan.
-------------------
“Hikakun? Kita mau kemana?”, tanya Py mengikuti Hika dari belakang.
Sejak tadi jantungnya terasa dag-dig-dug tak beraturan.
“Beli takoyaki yuk!!”, ajak Hika lalu menarik tangan Py ke sebuah stand takoyaki.
Py sejak tadi hanya diam.
Wajahnya memerah dan sangat gugup di dekat Hikaru.
Hikaru ternyata membawa Py ke taman meereka biasa bertemu.
“eh? Kesini?”, tanya Py heran.
“Kau sih..dari tadi menunduk saja..hehehe.”, Hikaru terkekeh.”Tentu saja kalau kencan dengan Py, aku maunya kesini.”, kata Hikaru lagi.
“Eh?”, Py tak bisa menjawab apapun.
“Ayo makan takoyakinya sebelum jadi dingin...”, kata Hikaru meyodorkan sebuah takoyaki.
“Aku bisa makan sendiri..”, elak Py menolak. Karena Hikaru akan menyuapinya.
Hikaru tak bergeming, “Ayo..makan saja...”, katanya keras kepala.
Akhirnya Py memakan takoyaki yang disodorkan oleh Hikaru.
“Enak tidak?”, tanya Hikaru, “Pasti lebih enak buatanku ya?”, tanya Hikaru lagi.
Py tersenyum, tapi tak menjawab. Seperti biasa Py memang pemalu.
“Py..belepotan...”, kata Hikaru lalu menyeka mulut Py dengan tangannya.
“ehhh...”, Py kembali menghindar.
“Aku bohong....hehehehe...”m kata Hikaru tersenyum jahil.
“Hikakun...”, panggil Py.
“Ya?”
“Kenapa Hikakun malah jalan bersamaku? Bukannya tadi di toko buku Hikakun bersama banyak gadis? Tidak pergi sama mereka?”, tanya Py pelan.
“Hmmmm~ kurasa... aku lebih senang bersamamu daripada mereka..”, jawab Hikaru tegas.
“ Tapi kan aku...”
Hikaru berdiri dari bangku taman itu, lalu menggenggam tangan Py... “Kita kencan kan? Jadi biarkanlah seperti ini...ayo pulang!! Sudah sore..”, ujar Hikaru sambil menggandeng tangan Py.
Py hanya bisa menunduk malu. Memandang tangan Hikaru yang menggenggam tangannya.
--------------------
Sisa perjalanan mereka hari itu tampak sedikit terganggu karena Din sering sekali menyebutkan nama Jin. Walaupun tidak sengaja, memang itulah yang sedang ia pikirkan.
Yuya kesal setengah mati. Tapi tak bisa berbuat apapun selain berdamai dengan apa yang Din ucapkan.
“Sudah sampai...masuklah...sudah malam..”, kata Yuya saat mereka sudah pulang.
Ponsel Din bergetar, tanda email masuk. Din melirik sebentar pada ponselnya lalu tersenyum lembut.
“Siapa?”, tanya Yuya penasaran.
“Jin...dia mengucapkan selamat malam saja.”
“Kenapa kau masih berkirim email dengan Jin?!!”, seru Yuya.
“Memangnya kenapa?!”, nada suara Din mulai meninggi.
Yuya berdecak kesal, “Kau kan pacarku...”
“Lalu? Ada peraturannya aku tak boleh berkirim email dengan Jin?”, balas Din kesal.
Yuya kehilangan kata – kata apa yang harus ia ucapkan. Itu memang tak salah. Maksudnya Jin juga kan teman masa kecil Din, bahkan sudah dianggap saudara sendiri.
“Baiklah!! Terserah kau saja!! Aku akan pergi!!”, teriak Yuya berbalik.
“Pergilah!! Jin pasti tak akan melakukan ini kalau ia berkencan denganku!!”, balas Din kesal.
Langkah Yuya terhenti.
Yuya menatap Din.
“Apa?”, tanya Din innocent.
Tanpa aba – aba, wajah Yuya mendekat, mendaratkan sebuah kecupan.
Lagi.
Yuya selalu mencuri kesempatan. Tapi kali ini Din tidak menolak, bahkan tanpa ia sadari, matanya menutup dengan sendirinya.
“Bisakah mulut itu hanya menyebutkan namaku saja?”, kata Yuya menatap mata Din.
“Apa maksudmu?”, tanya Din bingung.
Yuya mendekap Din, “Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu melupakan Jin?”, bisiknya lirih.
Din sedikit terperanjat, namun rasanya kata – katanya pada Yuya itu memang sedikit keterlaluan. “Yuya?”, panggil Din lembut.
Yuya mendongak, wajahnya tepat dihadapan Din.
“Gomen na..bisakah kau memberiku waktu sedikit lagi?”, kata Din pelan.
Yuya hanya bisa menatap Din tak percaya. Seakan kata – kata itu sudah ia tunggu sejak lama.
------------
N.B: Maaph kepending lamaaaaaaaaa~ COMENTS ARE LOOOOVVVVEEEE~
Rabu, 21 April 2010
Senin, 15 Februari 2010
[SPAM] Obsessive Fangirl Writes for
HAPPY BIRTHDAY, KYO-SAN~

CRAZY FANGIRL SCREAMS FOR KYO o(>O<)o
bunda, nov", uyuy~
sebelum ny
ijinkan aku untuk menyepam XDDD
cuma iseng aja
karena hari ini 16 februari
yg tak lain adalah...ulang taun ny kyo-san tertjintah XDDD
yay
semakin tua aja si abang XPP
oh ya
specially bwt uyuy, maapkan aku ngeganti banner yabu = A =
ntar april tak ganti pake banner dai, deh ^ ,^
hunyuuu
tadi ny pen ngomen d myspace aja
tapi saia inget, kyo jarang banget ngubek" myspace TwT
jadi bikin sepaman di sini aja, deh~
uehehehehee
spicless ah
pokonya, i'll always wish the best for kyo
*jadi inget lagu ny epik high:
u r my star
i'm yer number one fan
baby please, take my hand XDD *
Rabu, 10 Februari 2010
[Fanfic] Accidentally In Love (chap 6)
Title : Accidentaly In Love
Chapter : Six
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~
Pagi itu, sama seperti hari yang lainnya di kelas 3B
“Anak-anak, hari ini akan ada seorang murid baru yang akan belajar bersama kalian di kelas ini....”
Hampir seisi kelas 3B merasa heran mendengar ucapan seorang guru di depan mereka. Seorang murid baru datang pada saat yang begitu tidak tepat, pertengahan semester.
“...Takaki, ayo masuk”
Seorang murid laki-laki melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas yang akan menjadi tempat baru untuknya belajar.
“Takaki Yuya desu. Dozo yoroshiku...”, murid baru itu membungkukkan badan setelah menuliskan namanya di papan tulis dan kemudian terseyum hingga membuat banyak murid perempuan ingin berteriak histeris saat itu juga
Tapi tentunya Din bukan salah satu dari mereka. Reaksinya begitu berbeda, sangat jelas Din terkejut. Takaki Yuya yang berdiri di depan kelas saat ini tak lain adalah Takaki Yuya yang begitu dikenalnya, yang hampir setiap waktu beradu mulut dengannya.
“Hmm...Takaki, duduklah di bangku kosong di sebelah Ishida”,
“Hai, arigatou...”, ucap Yuya sopan dan kemudian melangkah ke tempat yang ditunjukkan
Beberapa murid perempuan terlihat kecewa, menyesali kenapa didekat mereka tak ada tempat duduk kosong, sehingga murid baru tampan berambut coklat terang itu bisa duduk disamping mereka
“Dinchan...ayo pergi makan ke cafetaria “, ajak Py ketika jam istirahat tiba
“Ng, yah...pergilah duluan”, Din membiarkan Py pergi tanpa dirinya, sementara matanya secara diam-diam tertuju pada beberapa murid perempuan yang mengerumuni tempat duduk Yuya. Bertanya tentang berbagai macam hal, tentang sekolah sebelumnya, alamat email hingga menu bento favorit Yuya.
Setidaknya, tanpa Din mau mengakuinya, pemandangan itu membuatnya cemburu. Melihat Yuya yang cerewet dan keras kepala tiba-tiba menjadi populer di kelasnya dirasanya begitu menyebalkan
“Eto...Fujihara-san...”
“Panggil saja Chika”, potong seorang murid perempuan yang dipanggil Yuya dengan Fujihara itu
“Ne, Chika...boleh aku meminta sesuatu?”, tanya Yuya dengan tak lupa menyertakan senyumannya.
“Hai, hai! Sou desu”, jawabnya seketika.
“Apa?!”, Din hanya bisa terkaget sendirian. Fujihara Chika, teman yang duduk disampingnya, sekarang Yuya lah yang akan duduk ditempat itu.
“Hey, senang bertemu denganmu”, dalam waktu singkat, Yuya sudah berada ditempat duduk barunya, menyapa Din dengan senyuman penuh kemenangan
Namun Din berusaha tak menghiraukan dan kemudian pergi keluar dari kelas.
Seperti yang biasa dilakukannya, sepulang dari sekolah Din memilih untuk pergi kemanapun langkah membawa ketika moodnya tidak terlalu bagus. Sekalipun ia hanya seorang diri tanpa keempat orang temannya.
Sendirian, termenung menunggu kereta datang.
“Ternyata memang ini sudah jadi kebiasaanmu, pergi keluyuran sepulang sekolah...”
Kontan Din menoleh kearah datangnya suara yang tentu sudah begitu dikenalnya “Yuya! Kenapa...”
“Mengikutimu, huh?”, potongnya
“Apa lagi selain itu? Selesai hang out dengan fangirl-fangirl barumu?”, ucap Din dengan nada yang sama sekali tak ramah.
“Kamu...cemburu?”, tebak Yuya.
Din menghindari mata Yuya, menjawab dengan ketus, “Tak ada alasan untuk aku cemburu, aku hanya kesal! Bertemu Yuya di rumah pun sudah cukup menyebalkan, sekarang aku harus bertemu Yuya pula setiap hari disekolah. Ketika di stasiun kereta seperti ini pun, aku harus melihatmu...”, cerocos Din.
“Cerewet. Apa yang bisa kamu lakukan hanyalah mengeluh?”, balas Yuya kesal.
Din memulai kembali langkahnya, menjauh dari Yuya.
“Aku bukan mengeluh! Aku hanya ingin Yuya sadar kalau Yuya begitu menye....”,
Sebelum Din menyelesaikan ucapannya, Yuya telah menariknya kedalam pelukan dan mengecup bibir Din hingga ia berubah terkejut dan tak bisa berkata-kata. Din tak mampu bergerak, bibir Yuya yang kini menempel pada bibirnya membuatnya kaget dan ia tak pernah mengira dicium oleh Yuya terasa.. yah... Nyaman. Maksudnya, ini adalah ciuman pertamanya. Setelah berhasil menguasai dirinya, Din mendorong Yuya menjauh, setelah menyadari bahwa kereta yang ditunggunya telah berlalu.
“Apa-apaan itu?!”, ucap Din sedikit membentak, tapi sama sekali tak bisa menatap Yuya.
“Aku hanya tak mau kamu terus-terusan menyebutku menyebalkan...”, ujar Yuya sekenanya.
“Uh”, Din tak bisa menjawab, kembali berusaha melangkah meninggalkan Yuya dan menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.
“Dinchan, tunggu...”, Yuya kembali menarik tangan Din namun kali ini berhasil dilepaskan.
“Apa lagi kalau bukan menyebalkan, Yuya sudah membuatku ketinggalan kereta. Aku tak mau kalau harus menunggu lebih lama lagi bersama Yuya!”, langkah kaki Din bertambah cepat dan ia berlari sekalipun ia tahu Yuya mengikutinya
“Sekarang apa yang akan kamu lakukan?”, teriak Yuya dari kejauhan.
“Pulang! Jangan ikuti aku!”, bentak Din tak peduli.
“Bodoh, untuk pulang tentu harus menunggu kereta berikutnya!”, kata Yuya setelah berhasil menyusul Din dan menahan Din untuk tidak pergi.
“Aku akan jalan kaki!”, bentak Din lagi, keras kepala.
“Dari jarak sejauh ini, itu tak mungkin! Ayolah...kupikir kamu sudah cukup bodoh, tapi sekarang kamu membuatku sadar kalau ternyata kamu lebih bodoh dari yang aku pikirkan...”, ujar Yuya masih menahan lengan Din dengan kuat.
“Yuya yang bodoh! Bisa-bisanya menciumku seenaknya!”, balas Din kesal.
Din, sebagian dari dirinya merasakan sesal. Ciumannya dengan Yuya, first kiss nya, yang diimpikannya adalah sebuah kecupan manis dari Jin.
“E...ano...”, Yuya mencoba mencari kata yang pas untuk menutupi betapa dirinya juga malu. Itu juga ciuman pertamanya.
“Aku lelah...”, ucap Din disela helaan nafasnya. Ide bodoh untuk berjalan kaki sampai rumah benar dilakukannya.
“Salahmu sendiri!”, balas Yuya yang masih berjalan disamping Din.
“Salahmu”, Din sudah tak sanggup lagi banyak berbicara, kedua kakinya serasa akan mati rasa setelah berjalan cukup lama
Tak lama, lagi-lagi tindakan Yuya mengejutkan Din. Yuya berlutut di hadapannya, tapi membelakanginya.
“Apa sih Yuya? Kau menghalangi jalanku..”, protes Din.
“Naik...cepat...”, perintah Yuya.
Din mencoba menjauh, “Tidak...”, jawabnya pelan.
Yuya berlari dan kembali berlutut di depan Din, “Jangan keras kepala!! Aku tahu kau sudah sangat lelah...”
Din terdiam, hanya menatap punggung Yuya di hadapannya.
“Cepat Dinchan...aku tak mau kau pingsan di jalan..”, kata Yuya lagi.
Masih bingung, tapi kakinya juga sudah tak kuat berjalan. Akhirnya Din naik punggung itu, kelelahan mengalahkan gengsinya.
“Kita bisa berjalan seperti ini...”, ucap Yuya dan kembali meneruskan langkahnya
Tak ada yang bisa Din lakukan selain diam dan merangkul bahu Yuya erat. Dengan nuansa warna matahari yang akan terbenam, membuat Din merasakan perasan hangat ketika berada demikian dekat dengan Yuya hingga gurat senyuman kembali terlihat diwajahnya, dan bibirnya membisikkan sebuah kalimat dengan begitu lirih, Yuya mungkin tak akan mendengarnya.
“Arigatou....”
--------
~Flashback~
“Karna aku tak punya sebuah ashtraypun, sekarang aku membeli satu untuk Kyo-san”, ujar Nu sambil meletakkan plastik kecil diatas meja.
“Ne, arigatou”, Kyo tersenyum tipis dan kembali meletakkan sebatang Phillip Morris dibibirnya.
“Kata pemilik toko, itu hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi”, Nu menyandarkan kepalanya di lengan Kyo dan tersenyum lembut.
“Oh ya, aku juga punya sesuatu untukmu...”, ucap Kyo seraya menunjukkan sekeping CD, Nu sudah hafal betul, tak lain itu adalah CD game.
“Sudah kuduga”
“Temani aku”
“Aku malas, Kyo-san selalu lupa waktu”, jawab Nu cemberut, Nu tidak pernah suka bermain game.
“Sebentar...”, bujuk Kyo, Nu hanya menggeleng.
“Tiga jam saja...”, tawar Kyo
“Apanya yang sebentar?!”
“Kalau begitu, dua jam...?”
“Haah?!”
“Ok, satu jam?”
“Tidak...”
“Hh...setengah jam?”
“Ok...”
“Deal, tiga setengah jam!”
~Flashback end~
Melihat beberapa CD game yang masih berantakan di lantai, membuat Nu sesaat kembali teringat akan sepenggal kenangan bersama Kyo, seorang game freak. Bahkan hingga Kyo meninggalkannya, Nu masih tak suka bermain game.
“Nuchan....”, ucap Daiki membuyarkan lamunannya “..aku kurang mengerti bagian ini, bisa tolong jelaskan?”
Sesaat Nu terdiam
“Kenapa kamu terus mengikutiku?”, tanya Nu dingin.
Nu sendiri tak habis pikir, ini ketiga kalinya Dai datang ke apartemennya untuk alasan yang sama sekali tak masuk akal.
“Aku? Aku tak mengikuti Nuchan, aku kan sudah bilang, pinjam catatan Biologi milik Nuchan...”, sesaat Daiki memperlihatkan senyum innocent dan kemudian kembali menulis
“Kalau begitu, bawa dan pulanglah”, kata Nu sinis.
“Eh? Kalau dibawa pulang kan repot waktu kembalikan, mungkin aku akan lupa membawanya”, ujar Daiki.
Lagi – lagi alasan aneh.
“Pinjam saja catatan milik temanmu di kelas A”, balas Nu tak sabar.
“Aaaa..baiklah.... aku mengaku..aku pinjam catatan milik Nuchan karna ingin bersama Nuchan...”, aku Daiki
“Alasan apa itu? Carilah orang lain”, seperti biasa, Nu hanya menjawab dengan dingin, membuat Daiki terbelalak
“Tak bisa seperti itu, aku ingin bersama Nuchan..”, Daiki bagun dari posisi duduknya, mendekat kearah Nu, memegang kedua pergelangan tangannya sementara Nu hanya menatapnya dingin
“Tolong dengarkan aku, aku...”
---PRAANG !!---, suara itu mengagetkan keduanya
“Ma, maaf....biar aku bereskan...”, ucap Daiki dengan wajah menyesal, menatap sebuah ashtray porselen yang telah berubah menjadi kepingan karna tanpa sengaja Daiki mendorong meja dan membuat ashtraynya jatuh
Bahkan keadaan itu, juga mengingatkan Nu. Akan suatu ketika ia mendengar bunyi yang sama, ketika tanpa sengaja Kyo menjatuhkan ashtraynya dan tentu membuatnya hancur menjadi pecahan-pecahan. Ashtray pertama yang dibelinya untuk Kyo.
“Gomen ne.”, ucap Kyo.
“Daijoubu da yo”, ketika Kyo mengucapkan kata maaf, Nu masih bisa mengurai senyumnya, sekalipun terasa getir
Malam hampir berganti pagi, Nu sama sekali tak bisa terlelap meskipun matanya terpejam. Ia masih bisa mendengar suara pintu kamarnya dibuka --Kyo pulang begitu larut- juga masih bisa merasakan lengan itu memeluk dari balik tubuhnya setelah sebelumnya Kyo meletakkan sesuatu diatas meja kecil didekat tempat tidurnya.
“Ng, aku kira Kyo-san tak akan pulang...”, Nu berbalik dan ia bisa menatap wajah Kyo yang nampak begitu lelah
“...kau bilang, ashtraynya hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi, aku cari di internet lalu dapat yang mirip...”
“Arigatou...”, ucap Nu seraya mengembangkan sebuah senyuman, Kyo tak akan melihatnya, juga tak mendengar ucapan terimakasihnya –Kyo tertidur dengan begitu cepat.
“Pulanglah!!”, bentak Nu kesal.
“Tapi, aku...”
“Keluar, pergi!”, air mata Nu tertahan.
Daiki tak bisa lagi membantah, yang bisa dilakukannya hanyalah keluar. Meninggalkan Nu dengan perasaan bersalah.
‘...kau bilang, ashtraynya hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi, aku cari di internet lalu dapat yang mirip...’
Kenangan akan Kyo terus terlintas di pikiran Nu. Ashtray pertama yang dibelinya untuk Kyo, tak sengaja pecah.
Ashtray yang dibeli Kyo untuknya, sekarang berubah pula menjadi kepingan-kepingan.
“Maafkan aku, Kyo-san...”, kini air mata itu tak dapat lagi ia tahan.
----------------------
Sudah beberapa minggu ini sekolah itu terasa sedikit sibuk. Tentu saja karena festival sekolah akan segera datang. Semua kelas sibuk mempersiapkan apa yang akan mereka tampilkan di acara tahunan itu. Kelas 3 B sudah sepakat membuat Obake house untuk tahun ini, dengan Miyuy sebagai ketuanya.
From: Yabu-kun
Subject: kau kenapa?
Ne...Miyuy-chan...kenapa kau tak pernah membalas e-mailku?
Kau baik – baik saja kan?
Miyuy menutup flip ponselnya dengan malas. Entah e-mail keberapa dari Yabu, tak pernah ia balas lagi. Ia masih bingung dengan sikap Yabu yang bisa dengan cepat berubah pada saat itu.
“Miyuy...butuh bantuan??”, kata Py yang kini sudah berdiri di sebelahnya.
“Ah Py...hanya membuat property ini sedikit lagi.”, tunjuknya pada sebuah benda.
Opi datang juga ikut membantu mereka. Akhir – akhir ini Opi terlihat lebih murung daripada biasanya.
“Aku ikut juga ya...tak ada yang bisa kukerjakan...”, keluh Nuy beberapa menit setelahnya.
“Ne...lihat ini...”, seru Din tiba – tiba muncul, menunjukkan sebuah selebaran.
“Sakurazawa Ayame akan melakukan permainan solo piano?”, baca Py lambat – lambat. Yang lain hanya memperhatikan.
“Sakurazawa Ayame...sekretaris OSIS, kan ?”, tanya Miyuy.
Nu hanya terdiam, ia sama sekali tak mengenal siapa itu Sakurazawa Ayame.
“Un”, jawab Py singkat
“Permainan solo piano dari Sakurazawa ternyata jadi bagian dari festival sekolah tahun ini...”, tambah Miyuy menatap dengan sedikit takjub
“Membosankan”, sementara Opi hanya berucap lirih dan kemudian berlalu, meninggalkan keempat orang temannya.
“Opichi...”, seru Din, “Kenapa dia?”, tanya Din bingung.
Sementara itu Nu, Miyuy dan Py juga tak mengerti kenapa Opi kelihatan marah.
Opi baru saja tiba di rumah ketika ia mendengar suara Inoo di ruang tengah. Tak sepert sebelumnya, Opi memilih menghindar dari tempat itu. Ia tak pernah lagi menghampiri Inoo yang sedang mengajari Yuuri bermain piano.
“Saya mohon izin untuk sehari saja Chinen-san...”
“Memangnya ada acara apa Inoo-kun?”, suara Mama. Pikir Opi.
“2 hari lagi teman kecilku akan bermain piano di sebuah festival. Aku sudah janji untuk datang...”, jelas Inoo.
Opi menyesal mendengarnya, dan bergegas masuk kamar.
------------------
Taman itu tampak lengang. Hanya ada beberapa anak kecil yang masih bermain di bak pasir, ditemani ibu mereka yang menunggu di bangku.
Hikaru menaikkan alisnya, menghela nafas berat. Sudah beberapa minggu ini ia sama sekali tak bertemu Py. Di sekolah pun Py terkesan sangat menghindarinya. Sore ini ia ke taman itu untuk bertemu Py, dibuka tas sekolahnya, 3 buah chupa yang sengaja ia beli itu masih ada di tasnya, tanpa berani ia berikan pada Py karena Py selalu berada di sekitar teman – temannya, tak juga berani memandang dia sama sekali.
Hikaru mulai berfikir apakah kesalahannya? Kenapa Py marah padanya? Padahal ia tak merasa pernah melakukan kesalahan.
“Hoy!!!”, teriak seseorang dari belakang.
“Sial kau Yabu!! Kau mengaggetkan aku...”
“Jangan benyak melamun ah~”, seru Yabu ikut duduk di sebelah Hikaru.
“Sepertinya kau senang sekali datang kesini..”, tanya Yabu sambil memandang langit sore.
“Yah...hanya untuk sekedar lewat saja..”
“Alasan aneh..rumahmu itu berlawanan dengan arah taman ini, bodoh!!”, ejek Yabu.
Hikaru tak mau menjawab, hanya ikut memandangi langit sore itu.
Ponsel Yabu berbunyi, Yabu secara refleks membuka flip ponsel itu.
“Ah~ Ibu...kupikir siapa?”, keluh Yabu pelan.
“Kau sendiri..mengecheck ponselmu setiap waktu, apa sih yang kau tunggu?”, akhirnya Hikaru membalas.
Yabu menghela nafas, “Hanya e-mail penting...”
Tak lama mereka hanya larut dalam pikiran masing – masing.
------------------------
Festival sekolah dimulai. Suasananya begitu meriah, dari sehari sebelumnya semua sudah sibuk. Semua kelas berusaha menampilkan yang terbaik untuk ditampilkan di festival ini, karena akan ada pemilihan stand terbaik, berdasarkan pilihan pengunjung.
Festival ini terbuka untuk umum, sehingga suasana sekolah lebih ramai dari biasanya. Berbagai penampilan juga meramaikan panggung utama Festival itu.
Di halaman belakang sekolah. Nu bersembunyi, melarikan dari keramaian yang tak pernah disukainya. Saat yang lain tertawa dan bersorak gembira, bahkan ia sama sekali tak menikmatinya.
“Huwaaaa! Hantu!!”, seseorang menghampirinya dan kemudian berteriak ketakutan. Nu lupa, ia masih memakai make up dan pakaian menyeramkan yang dipakainya di rumah hantu kelas 3B.
“Ah, kamu”, sesaat Nu hanya menatap dan kembali mengalihkan pandangannya, “Untuk apa kesini? Bersenang-senang dengan teman-temanmu jauh lebih asyik, kan?”, tanyanya.
“Aku...melarikan diri, didandani seperti ini, apanya yang asyik?”, jawab orang itu yang tak lain adalah Daiki, menunjuk baju maid yang dikenakannya, juga renda-renda yang menghias kepalanya “...lalu Nuchan, kenapa ada disini?”, Daiki bertanya balik.
“Bisa mengenaliku?”, ujar Nu yang berdandan seperti hantu.
“Un”, Daiki mengangguk “..yang melihatku dengan tatapan seperti itu hanya Nuchan...”, Daiki beralih duduk disamping Nu
“Eh?”
“Tapi makeup Nuchan seram sekali...”, protes Daiki.
“Hmmm..ini kerjaan Dinchan.. ngomong – ngomong kamu...terlihat manis”, ucap Nu pelan.
“Nuchan jadi suka aku, kan? Suka, kan? Suka, kan?”, balas Daiki, memasang senyum manisnya.
“Tidak. Dan...tolong menjauh dariku”, jawab Nu dingin dan mendorong Daiki sedikit menjauh.
“Oh ya, aku hampir lupa...”, Daiki mengeluarkan sesuatu dari sakunya “...aku harap, ini bisa mengganti ashtray milik Nuchan yang pecah tempo hari...”
Nu hanya menatap Daiki dengan bingung.
“Tiket konser live Dir en Grey untuk dua orang. Pergi kesana bersamaku?”, tanya Daiki tersenyum lagi.
Tapi Nu tak bisa menjawab, hanya membelalakkan matanya, terkejut.
--------------
Py sedang istirahat, gilirannya sudah berakhir, kini ia hanya duduk di depan kelasnya, bingung mau kemana.
“Dinchan...”, panggil Py pada Din yang juga baru selesai membersihkan mukanya.
“Py!! Aku lapar..cari makan yuk~”, ajak Din merangkul tangan Py.
Py setuju, ia juga lapar. Mereka berjalan menyusuri tempat festival itu. Begitu banyak orang di situ. Din mengeluh kepanasan, menutupi mukanya dengan sebelah tangan.
“Ah!! Ada stand makanan!! Kesana yuk Py!”, tunjuk Din seraya menarik Py.
Itu adalah stand kelas 3C, disitu ada berbagai macam makanan khas festival. Seperti Okonomiyaki, Takoyaki, dll.
“Tunggu sebentar ya~ kalian harus sabar...”
Langkah Py tertahan, dihadapannya seorang Hikaru sedang melayani para pembeli yang mayoritas adalah wanita.
“Py..ayo..nanti antriannya lebih panjang lagi...”
Py menunduk. Sekilas ia merasakan pandangan Hikaru menuju ke arahnya. Py akhirnya mengikuti Din ikut mengantri.
“Sepertinya tidak akan kebagian deh...”, keluh Din setelah mengantri selama 5 menit.
Py menoleh, sejak tadi ia hanya melamun saja, “Mungkin...”, kata Py pelan.
“Kau kenapa Py-chan??”, Din mulai bingung dengan sikap Py.
Py menggeleng, “Tidak ada apa – apa.”, ia ingin cerita soal Hikaru, tapi tampaknya tidak disitu.
“Kenapa sih???kenapa Py-chan tampak bingung?”, Din masih mencoba memaksa Py bercerita.
“Hmmmm...”, Py menarik Din menjauh.
Sesaat Hikaru melirik ke arah Py yang keluar barisan mengantri dengan temannya. Hikaru menghela nafas tak percaya. Kenapa Py begitu menghindarinya?
-------------------
“Ini saatnya aku istirahat...”, kata Yabu menggeliatkan tubuhnya.
Yabu kebagian shift pagi, maka sekarang saatnya dia jalan – jalan.
“Ne...Yabu...kau curang!!”, keluh Hikaru yang tampak sangat sibuk.
Yabu terkekeh, “Salah sendiri kau ambil shift siang...tentu saja lebih ramai siang begini...”, ejek Hikaru.
“KAU!! Kau yang menyimpanku di shift siang, baka!!”, seru Hikaru tak rela.
Kembali terkekeh, “Karena kau populer, tentu saja sangat sayang kau disimpan di shift pagi...”, ejek Yabu lalu melambai penuh kemenangan pada Hikaru.
“Kau!!!Yabu!!!”, teriak Hikaru tak senang.
Yabu meninggalkan Hikaru dan beberapa temannya disana. Memang selain ia tak mau ambil shift siang yang lebih melelahkan, ia bermaksud ke stand kelas 3B. Katanya disana ada Obake House, dan Yabu juga ditantang oleh Shoon yang mengejeknya penakut.
“Kau yakin mau masuk kesana? Aku tak mau menggendongmu keluar karena kau pingsan...”, ejek Shoon menyebalkan.
“Lihat saja..aku ini tidak penakut..”, elak Yabu.
“Awas saja kalau kau menangis di dalam..”, balas Shoon.
“Jadi...kau mau ikut masuk atau tidak?”, tanya Yabu pada Shoon.
Shoon menggeleng, “Kau saja...kita lihat seberapa besar nyalimu.”, tantang Shoon.
“Kau takut ya?”, tanya Yabu.
“Tidaaakk~ ini terlalu biasa untukku.”, tolak Shoon.
Di depan Obake House itu sudah banyak yang mengantri, kebanyakan adalah pasangan.
“Kau masuk sendiri?”, tanya seorang siswi yang menjaga pintu masuk Obake Haouse ketika Yabu sudah ada di depan pintu.
Yabu mengangguk.
“Baiklah, silahkan masuk...”
Gelap dan memang sedikit mencekam. Yabu sampai saat ini hanya berjalan biasa. Obake house ini dibuat seperti maze, sehingga ia harus mencari jalan keluarnya. Tidak begitu besar sih, jadi ia masih sedikit tenang karena sampai saat ini belum ada yang mengganggunya. Teriakan silih berganti terdengar dari tempat lain, membuat Yabu sedikit merinding.
Yabu melangkah ke belokan sebelah kanan, ketika tanpa aba – aba seorang cewek menyeramkan muncul.
“Kyaaaaaa~”, teriak Yabu refleks.
“Yabu-kun?”
Eh? Suara itu...Yabu mengenali suara itu. Yabu segera menguasai diri dan menahan tangan ‘hantu’ wanita itu.
“Miyuy-chan?”, seru Yabu saat memandang wajah penuh make-up itu.
“Eh...Yabu-kun?”, Miyuy menyadari tangan Yabu masih menggenggam lengan kanannya, merasa beruntung makeup ini menutupi mukanya yang pasti sudah memerah.
“Kau kemana saja? Kenapa tak pernah membalas e-mailku lagi?”, tanya Yabu.
Miyuy menunduk, “Tidak apa – apa..aku sibuk..”, jawabnya tanpa berani melepaskan tangan Yabu.
“Kau marah padaku kah?”, tanya Yabu lagi.
“Tidak...buat apa aku marah?”, jawab Miyuy menggeleng pelan.
“Benarkah?”
Miyu hanya menunduk, tak berani menjawab.
“Ah iya Miyuy-chan..aku ingin mengatakan ini langsung, bento buatanmu enak...arigatou na~ kapan – kapan buatkan aku lagi ya?”, kata Yabu ceria, masih menggenggam tangan Miyuy.
“Eh? Kau memakannya?”
“Tentu saja...dan aku berharap Miyuy-chan membuatkannya lagi untukku...”
Miyuy tak percaya apa yang didengarnya. Terlebih lagi Yabu sama sekali tak melepaskan genggamannya, membuat Miyuy bingung harus melakukan apa.
“Ne...Miyuy...sudah saatnya bergantian denganku...”, kata seseorang dari belakangnya.
Ternyata itu Kaori yang memang akan berganti peran dengannya. Miyuy refleks melepaskan tangannya.
“Ah iya..aku ganti baju dulu.”, jawab Miyuy cepat.
Yabu kembali menarik Miyuy, “Jalan – jalan yuk...shiftku juga sudah selesai..”
Miyuy hanya mengagguk, “Sebentar...”
Yabu mengekor mengikuti Miyuy keluar dari Obake House itu.
From: Shoon
Subject: aku dijemput..
Pacarku datang...kau lama sekali tak keluar..
Aku pergi dulu...ku harap kau baik2 saja..
“Hahaha..Shoon bodoh itu pasti menganggap aku pingsan di dalam.”, seru Yabu.
“Eh?”
“Iya...dia sangka aku begitu penakut. Ah..Miyuy-chan!! Pertunjukkan piano sebentar lagi dimulai..kesana yuk~”, ajak Yabu.
Miyuy menatap punggung Yabu dengan hati berbunga. Mungkin saat itu, ia hanya malu pada teman – temannya, senyum Miyuy mengembang ketika Yabu kembali menarik tangannya.
“Yabu-kun...”, panggil Miyuy ketika mereka sudah sampai di depan panggung.
“Hmmm?”, jawab Yabu menoleh menatap Miyuy.
“Arigatou...”
----------------------
Opi mendribble lagi bola basketnya, merasa kesepian mungkin itu yang ia rasakan sekarang. Nu entah kemana, Py dan Din menghilang sesaat setelah shift mereka habis. Miyuy tadi saat ia tinggalkan masih di dalam Obake House, menunggu Kaori yang menggantikannya.
Panggung utama di festival itu pasti sedang mempertunjukkan seorang Sakurazawa Ayame yang akan bermain solo piano, dan Inoo pasti juga sedang berada di depan panggung itu. Menatap Aya-chan nya. Opi menyesali diri berfikir seperti itu tambah membuatnya sebal.
Dilemparkannya bola itu dengan sekuat tenaga sehingga bukannya masuk ke jaring, bola itu memantul jauh ke belakang Opi sendiri.
“Wow!! Kau bisa melukai orang kalau begitu Opi-chan...”
Opi berbalik, mendapati seorang Inoo menangkap bola basketnya itu.
“Ngapain kau disini?”, tanya Opi ketus.
Inoo mendribble bola itu mendekati ring, “Betsu ni...disana membosankan...”, jawab Inoo lalu melemparkan bola basket itu dengan mulus masuk ke ringnya.
Opi tak menjawab lagi, ia kembali merebut bola basket itu.
“Ne..kau sering pulang malam ya akhir – akhir ini..aku tak pernah melihatmu lagi di rumah...”, ujar Inoo lalu berlari mengambil bola yang lagi – lagi tak berhasil Opi masukkan.
“Hanya sibuk latihan...sebentar lagi turnamen dimulai..”, jelas Opi memandang Inoo dengan aneh.
Inoo mendribble bola memutari dirinya.
“Hmm..sokka...Ganbatte ne Opi-chan...”, katanya.
“Bukankah di panggung itu sedang ada recital piano..kenapa kau tidak kesana?”, akhirnya Opi memberanikan diri bertanya.
Inoo menghela nafas, “Tidak apa – apa..aku melihatmu pergi kesini..jadi yah...”
“Kudengar kau mengenal pemain piano itu...aku mendengarmu meminta izin pada Mama kemarin.”, kata Opi seraya merebut bola yang masih saja Inoo dribble tanpa tujuan.
“Aya-chan...yah..dia sudah seperti adikku sendiri.”
“Adik?”
“Iya...lagipula melihat seseorang begitu murung tadi...aku sedikit khawatir..”, jelas Inoo, mengambil kembali bola basket itu yang sedari tadi hanya Opi pegang saja.
“Kau mengkhawatirkan aku? Kenapa?”, tanya Opi heran.
“Tidak apa – apa...karena kupikir kau marah padaku. Sudah beberapa minggu ini kau tak pernah melihatku melatih Yuuri lagi.”
Muka Opi memerah, berharap hal itu tidak dilihat Inoo.
“Ne...kau ini berlebihan...”, Opi menunjukkan sedikit senyumnya.
Inoo masih mendribble bola basket itu berhenti, berdiri di depan Opi dengan senyum mengembang di bibirnya, “Akhirnya kau tersenyum juga...kurasa senyum lebih cocok buatmu..”, Kini wajah Inoo sudah sejajar dengan wajahnya, membuat Opi kaget.
Inoo berlari melewati Opi dan memasukkan bola basket itu ke ringnya.
“Inoo-kun!!”, teriak Opi, Inoo berbalik dari bawah ring basket itu, “Arigatou~!!!”, teriak Opi lalu kembali tersenyum.
----------------
Suasana sekolah masih ramai, walaupun sudah hampir jam 2 siang. Din kembali ke stand kelasnya, sendirian karena Py ingin melihat recital piano dari Sakurazawa Ayame itu. Din tak tertarik dan memilih kembali ke kelasnya.
Ternyata Py sedang jatuh cinta, dan merasa cintanya tak dibalas oleh pria yang disukainya. Din merasa sedikit mengerti apa yang ia rasakan soal itu. Bukankah cintanya sejak kecil pada Jin juga tidak dibalas? Begitu pikirnya.
“Kau kemana saja tuan putri?”, seru seseorang yang Din sudah hapal sekali suaranya.
“Bukan urusan Yuya...”, kata Din lalu duduk di sebuah bangku di depan kelasnya.
Yuya ikut duduk disebelahnya, menyodorkan sekaleng kopi dingin kesukaan Din. “Ini..tuan putri...”
“Yuya..berhenti memanggilku seperti itu..”, protes Din. Entah sejak kapan Yuya memutuskan memanggilnya seperti itu dan kini semua orang menyangka mereka benar – benar berpacaran.
Maksudnya, Yuya memang tunangannya walaupun tak ada yang tahu, tapi mereka kan tidak bisa disebut berpacaran juga.
“Kau haus kan? Ayo ambil..”, kata Yuya mengindahkan protesnya Din.
Din masih kesal tapi menyambut kopi dingin itu.
“Eh??? Jin??!!”, seru Yuya lalu berdiri. Kaget mendapati kakaknya itu datang.
Din menoleh lalu ikut berdiri. Yuya sendiri tak tahu kalau kakaknya akan datang. Lebih buruk, bersama kekasihnya, Naomi. Yuya sekilas melirik wajah Din yang masih kaget.
“Waaahh~ Obake house ya ini?”, seru Jin.
“Aniki..apa yang kau lakukan disini??”, tanya Yuya tak sabar.
Jin terkekeh, “Ayolah Yuya...dulu aku juga sekolah disini...Hisashiburi...sudah lama tidak menghadiri festival seperti ini.”
Din tak berani menunjukkan wajahnya, hanya berlindung dibalik badan Yuya.
“Dinchan...apa kabar adik kecilku?? Kenapa kau jarang sekali ke rumah?”, tanya Jin menyadari Din ada disitu dan mengacak pelan rambut Din.
“Jin yang tak pernah ada di rumah..”, elak Din.
Jin tertawa pelan, “Iya kau benar..sibuk sekali akhir – akhir ini.”, Jin mencubit pipi Din pelan, “Sudah lama aku tak menjahilimu...”
Din menepis tangan Jin, “Itai yo~”
“Kalau kau cemberut begitu wajahmu tampak lebih lucu..”, tawa Jin lagi. Kebiasaan Jin mengganggunya memang tak pernah hilang sejak mereka kecil.
“Jangan sentuh Dinchan..”, kata Yuya tiba – tiba.
Dengan kaget Jin menatap adiknya seksama, “Kau ini kenapa? Huh?”
“Aku...aku dan dia...”
“Kalian kenapa?”, tanya Jin bingung.
Din menyambar tangan Yuya, “Kami sudah resmi jadian..maksudnya... kita sudah memutuskan untuk benar – benar menerima perjodohan ini..”, wajah Din memerah, kaget dengan perkataannya sendiri.
“Oh...waaaahh~ maaf Yuya...kau cemburu?? Tidak tidak usah seperti itu.. Aku selalu menanggapnya adikku juga.”
“Hanya...yah...aku tak mau kau sembarangan menyentuhnya..ia milikku sekarang..”, kata Yuya lagi.
“Baiklah...gomen na...Dinchan...gomen na..”
“Jin...ayo masuk Obake house nya...”, keluh Naomi yang sejak tadi hanya berdiri di sebelah Jin.
Jin tersenyum pada kedua adiknya itu, “Omedetou ne...”, Jin menatap Naomi, “Iya cerewet..”
Jin berlalu, masuk ke dalam Obake House. Yuya berbalik, menatap Din takjub.
“Kau benar – benar mengatakannya?”, tanya Yuya.
Wajah Din memerah, melepaskan tangannya dan berusaha melarikan diri.
“Jawab aku bodoh!”, seru Yuya menarik lengan Din.
“Kalau kau anggap begitu...”, jawab Din masih menunduk, tak berani menatap Yuya.
----------------------
Atap itu tampak kosong. Hikaru melarikan diri sebentar, lagipula sudah hampir sore dan stand juga sudah tak seramai tadi siang hari.
Hikaru menggeliat, badannya begitu lelah. Ini ulah Yabu yang menyuruhnya jaga di shift siang. Hikaru mengambil botol minuman di tasnya, menghabiskan seluruh isinya lalu berbaring menatap langit yang sudah hampir sore itu.
“Lelahnyaaa~”, teriaknya pelan.
Tak lama, Hikaru mendengar seseorang sedang bergumam. Menyadari dirinya tak sendiri, Hikaru segera berdiri dan mencari sumber suara itu. Seseorang sedang menunduk, tampak sibuk dengan buku sketsa dan sebuah airphone terpasang di telinga gadis itu. Ia bergumam mengikuti lagu yang ia dengar sepertinya.
“Py-chan?”, sudah Hikaru duga itu memang Py.
Hikaru bergerak pelan, mencoba tidak mengeluarkan suara apapun. Py duduk dibalik sebuah tembok, dekat pintu masuk ke atap ini. Hikaru mengeluarkan sebuah bungkusan, membukanya lalu dengan sengaja menyodorkan bungkusan itu di depan wajah Py.
“Eh??!!”, Seru Py kaget dengan refleks membuka airphonenya.
“Takoyaki dari kelas 3C...dijamin enak dan murah...”, seru Hikaru dari pinggir tembok itu.
“Hika-kun??”, Py begitu kaget ia bisa bertemu Hika di atap ini.
Hika nyengir, memperlihatkan senyum khasnya, “Aku tak bisa memutuskan kau mau takoyaki atau okonomiyaki, tapi aku putuskan membawakanmu ini saja. Tadi kau tak jadi mengantri kan? Kenapa?”
Berarti tadi Hikaru memang memperhatikannya dan Din. Py tidak menjawab.
“Ne??ayo coba...kata orang – orang sih buatanku memang enak..”, kata Hikaru, “atau kau mau aku menyuapimu?”, tambahnya.
Sukses membuat wajah Py tambah memerah dan segera merebut bungkusan takoyaki itu.
“Hmmm..enak..”, kata Py setelah menelan satu takoyaki itu.
Hikaru tersenyum, “Anda mendapatkan bonus ini....”, serunya heboh menunjukkan 3 buah chupa rasa cola.
“Apa lagi ini?”
“Bonus karena senyummu begitu cantik hari ini..”, puji Hikaru.
Py terdiam tak berani menjawab apapun.
“Kau tahu Py-chan...taman itu tampak lebih sepi dari biasanya jika kau tak disana.”, jelas Hikaru sambil menyimpan 3 chupa itu di tangan Py.
“Eh? Apa maksud Hika-kun?”
“Bangku taman itu kehilangan senyummu...”
“Hah?”, Py masih tidak mengerti.
“Aku juga...”, kata Hikaru ikut mencomot satu takoyaki itu, “Yappari~ buatanku memang enak..hehehe..maaf sudah dingin ya..aku mencari Py-chan tapi tidak ketemu...”
Kini Py tak peduli, ia tak merasa Hikaru berbohong atau hanya memujinya saja. Paling tidak hanya dia yang Hikaru buatkan takoyaki bahkan ketika ia tidak memintanya. Hanya dia yang Hikaru belikan 3 buah chupa rasa cola kesukaanya, dengan sengaja membelikannya. Py merasa istimewa, ia berbeda dari gadis – gadis yang biasa berada di dekat Hikaru. Py tahu rasanya ini terlalu berlebihan, tapi berharap sekali lagi bukanlah suatu kesalahan.
“Hika-kun...arigatou..”
------------------
TBC~....
maap lama banget ngeupdatenya...hehehe
seperti biasa...COMMENTS is LOVEEEEE~
Chapter : Six
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~
Accidentally In Love
~chap 6~
Pagi itu, sama seperti hari yang lainnya di kelas 3B
“Anak-anak, hari ini akan ada seorang murid baru yang akan belajar bersama kalian di kelas ini....”
Hampir seisi kelas 3B merasa heran mendengar ucapan seorang guru di depan mereka. Seorang murid baru datang pada saat yang begitu tidak tepat, pertengahan semester.
“...Takaki, ayo masuk”
Seorang murid laki-laki melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas yang akan menjadi tempat baru untuknya belajar.
“Takaki Yuya desu. Dozo yoroshiku...”, murid baru itu membungkukkan badan setelah menuliskan namanya di papan tulis dan kemudian terseyum hingga membuat banyak murid perempuan ingin berteriak histeris saat itu juga
Tapi tentunya Din bukan salah satu dari mereka. Reaksinya begitu berbeda, sangat jelas Din terkejut. Takaki Yuya yang berdiri di depan kelas saat ini tak lain adalah Takaki Yuya yang begitu dikenalnya, yang hampir setiap waktu beradu mulut dengannya.
“Hmm...Takaki, duduklah di bangku kosong di sebelah Ishida”,
“Hai, arigatou...”, ucap Yuya sopan dan kemudian melangkah ke tempat yang ditunjukkan
Beberapa murid perempuan terlihat kecewa, menyesali kenapa didekat mereka tak ada tempat duduk kosong, sehingga murid baru tampan berambut coklat terang itu bisa duduk disamping mereka
“Dinchan...ayo pergi makan ke cafetaria “, ajak Py ketika jam istirahat tiba
“Ng, yah...pergilah duluan”, Din membiarkan Py pergi tanpa dirinya, sementara matanya secara diam-diam tertuju pada beberapa murid perempuan yang mengerumuni tempat duduk Yuya. Bertanya tentang berbagai macam hal, tentang sekolah sebelumnya, alamat email hingga menu bento favorit Yuya.
Setidaknya, tanpa Din mau mengakuinya, pemandangan itu membuatnya cemburu. Melihat Yuya yang cerewet dan keras kepala tiba-tiba menjadi populer di kelasnya dirasanya begitu menyebalkan
“Eto...Fujihara-san...”
“Panggil saja Chika”, potong seorang murid perempuan yang dipanggil Yuya dengan Fujihara itu
“Ne, Chika...boleh aku meminta sesuatu?”, tanya Yuya dengan tak lupa menyertakan senyumannya.
“Hai, hai! Sou desu”, jawabnya seketika.
“Apa?!”, Din hanya bisa terkaget sendirian. Fujihara Chika, teman yang duduk disampingnya, sekarang Yuya lah yang akan duduk ditempat itu.
“Hey, senang bertemu denganmu”, dalam waktu singkat, Yuya sudah berada ditempat duduk barunya, menyapa Din dengan senyuman penuh kemenangan
Namun Din berusaha tak menghiraukan dan kemudian pergi keluar dari kelas.
Seperti yang biasa dilakukannya, sepulang dari sekolah Din memilih untuk pergi kemanapun langkah membawa ketika moodnya tidak terlalu bagus. Sekalipun ia hanya seorang diri tanpa keempat orang temannya.
Sendirian, termenung menunggu kereta datang.
“Ternyata memang ini sudah jadi kebiasaanmu, pergi keluyuran sepulang sekolah...”
Kontan Din menoleh kearah datangnya suara yang tentu sudah begitu dikenalnya “Yuya! Kenapa...”
“Mengikutimu, huh?”, potongnya
“Apa lagi selain itu? Selesai hang out dengan fangirl-fangirl barumu?”, ucap Din dengan nada yang sama sekali tak ramah.
“Kamu...cemburu?”, tebak Yuya.
Din menghindari mata Yuya, menjawab dengan ketus, “Tak ada alasan untuk aku cemburu, aku hanya kesal! Bertemu Yuya di rumah pun sudah cukup menyebalkan, sekarang aku harus bertemu Yuya pula setiap hari disekolah. Ketika di stasiun kereta seperti ini pun, aku harus melihatmu...”, cerocos Din.
“Cerewet. Apa yang bisa kamu lakukan hanyalah mengeluh?”, balas Yuya kesal.
Din memulai kembali langkahnya, menjauh dari Yuya.
“Aku bukan mengeluh! Aku hanya ingin Yuya sadar kalau Yuya begitu menye....”,
Sebelum Din menyelesaikan ucapannya, Yuya telah menariknya kedalam pelukan dan mengecup bibir Din hingga ia berubah terkejut dan tak bisa berkata-kata. Din tak mampu bergerak, bibir Yuya yang kini menempel pada bibirnya membuatnya kaget dan ia tak pernah mengira dicium oleh Yuya terasa.. yah... Nyaman. Maksudnya, ini adalah ciuman pertamanya. Setelah berhasil menguasai dirinya, Din mendorong Yuya menjauh, setelah menyadari bahwa kereta yang ditunggunya telah berlalu.
“Apa-apaan itu?!”, ucap Din sedikit membentak, tapi sama sekali tak bisa menatap Yuya.
“Aku hanya tak mau kamu terus-terusan menyebutku menyebalkan...”, ujar Yuya sekenanya.
“Uh”, Din tak bisa menjawab, kembali berusaha melangkah meninggalkan Yuya dan menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.
“Dinchan, tunggu...”, Yuya kembali menarik tangan Din namun kali ini berhasil dilepaskan.
“Apa lagi kalau bukan menyebalkan, Yuya sudah membuatku ketinggalan kereta. Aku tak mau kalau harus menunggu lebih lama lagi bersama Yuya!”, langkah kaki Din bertambah cepat dan ia berlari sekalipun ia tahu Yuya mengikutinya
“Sekarang apa yang akan kamu lakukan?”, teriak Yuya dari kejauhan.
“Pulang! Jangan ikuti aku!”, bentak Din tak peduli.
“Bodoh, untuk pulang tentu harus menunggu kereta berikutnya!”, kata Yuya setelah berhasil menyusul Din dan menahan Din untuk tidak pergi.
“Aku akan jalan kaki!”, bentak Din lagi, keras kepala.
“Dari jarak sejauh ini, itu tak mungkin! Ayolah...kupikir kamu sudah cukup bodoh, tapi sekarang kamu membuatku sadar kalau ternyata kamu lebih bodoh dari yang aku pikirkan...”, ujar Yuya masih menahan lengan Din dengan kuat.
“Yuya yang bodoh! Bisa-bisanya menciumku seenaknya!”, balas Din kesal.
Din, sebagian dari dirinya merasakan sesal. Ciumannya dengan Yuya, first kiss nya, yang diimpikannya adalah sebuah kecupan manis dari Jin.
“E...ano...”, Yuya mencoba mencari kata yang pas untuk menutupi betapa dirinya juga malu. Itu juga ciuman pertamanya.
“Aku lelah...”, ucap Din disela helaan nafasnya. Ide bodoh untuk berjalan kaki sampai rumah benar dilakukannya.
“Salahmu sendiri!”, balas Yuya yang masih berjalan disamping Din.
“Salahmu”, Din sudah tak sanggup lagi banyak berbicara, kedua kakinya serasa akan mati rasa setelah berjalan cukup lama
Tak lama, lagi-lagi tindakan Yuya mengejutkan Din. Yuya berlutut di hadapannya, tapi membelakanginya.
“Apa sih Yuya? Kau menghalangi jalanku..”, protes Din.
“Naik...cepat...”, perintah Yuya.
Din mencoba menjauh, “Tidak...”, jawabnya pelan.
Yuya berlari dan kembali berlutut di depan Din, “Jangan keras kepala!! Aku tahu kau sudah sangat lelah...”
Din terdiam, hanya menatap punggung Yuya di hadapannya.
“Cepat Dinchan...aku tak mau kau pingsan di jalan..”, kata Yuya lagi.
Masih bingung, tapi kakinya juga sudah tak kuat berjalan. Akhirnya Din naik punggung itu, kelelahan mengalahkan gengsinya.
“Kita bisa berjalan seperti ini...”, ucap Yuya dan kembali meneruskan langkahnya
Tak ada yang bisa Din lakukan selain diam dan merangkul bahu Yuya erat. Dengan nuansa warna matahari yang akan terbenam, membuat Din merasakan perasan hangat ketika berada demikian dekat dengan Yuya hingga gurat senyuman kembali terlihat diwajahnya, dan bibirnya membisikkan sebuah kalimat dengan begitu lirih, Yuya mungkin tak akan mendengarnya.
“Arigatou....”
--------
~Flashback~
“Karna aku tak punya sebuah ashtraypun, sekarang aku membeli satu untuk Kyo-san”, ujar Nu sambil meletakkan plastik kecil diatas meja.
“Ne, arigatou”, Kyo tersenyum tipis dan kembali meletakkan sebatang Phillip Morris dibibirnya.
“Kata pemilik toko, itu hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi”, Nu menyandarkan kepalanya di lengan Kyo dan tersenyum lembut.
“Oh ya, aku juga punya sesuatu untukmu...”, ucap Kyo seraya menunjukkan sekeping CD, Nu sudah hafal betul, tak lain itu adalah CD game.
“Sudah kuduga”
“Temani aku”
“Aku malas, Kyo-san selalu lupa waktu”, jawab Nu cemberut, Nu tidak pernah suka bermain game.
“Sebentar...”, bujuk Kyo, Nu hanya menggeleng.
“Tiga jam saja...”, tawar Kyo
“Apanya yang sebentar?!”
“Kalau begitu, dua jam...?”
“Haah?!”
“Ok, satu jam?”
“Tidak...”
“Hh...setengah jam?”
“Ok...”
“Deal, tiga setengah jam!”
~Flashback end~
Melihat beberapa CD game yang masih berantakan di lantai, membuat Nu sesaat kembali teringat akan sepenggal kenangan bersama Kyo, seorang game freak. Bahkan hingga Kyo meninggalkannya, Nu masih tak suka bermain game.
“Nuchan....”, ucap Daiki membuyarkan lamunannya “..aku kurang mengerti bagian ini, bisa tolong jelaskan?”
Sesaat Nu terdiam
“Kenapa kamu terus mengikutiku?”, tanya Nu dingin.
Nu sendiri tak habis pikir, ini ketiga kalinya Dai datang ke apartemennya untuk alasan yang sama sekali tak masuk akal.
“Aku? Aku tak mengikuti Nuchan, aku kan sudah bilang, pinjam catatan Biologi milik Nuchan...”, sesaat Daiki memperlihatkan senyum innocent dan kemudian kembali menulis
“Kalau begitu, bawa dan pulanglah”, kata Nu sinis.
“Eh? Kalau dibawa pulang kan repot waktu kembalikan, mungkin aku akan lupa membawanya”, ujar Daiki.
Lagi – lagi alasan aneh.
“Pinjam saja catatan milik temanmu di kelas A”, balas Nu tak sabar.
“Aaaa..baiklah.... aku mengaku..aku pinjam catatan milik Nuchan karna ingin bersama Nuchan...”, aku Daiki
“Alasan apa itu? Carilah orang lain”, seperti biasa, Nu hanya menjawab dengan dingin, membuat Daiki terbelalak
“Tak bisa seperti itu, aku ingin bersama Nuchan..”, Daiki bagun dari posisi duduknya, mendekat kearah Nu, memegang kedua pergelangan tangannya sementara Nu hanya menatapnya dingin
“Tolong dengarkan aku, aku...”
---PRAANG !!---, suara itu mengagetkan keduanya
“Ma, maaf....biar aku bereskan...”, ucap Daiki dengan wajah menyesal, menatap sebuah ashtray porselen yang telah berubah menjadi kepingan karna tanpa sengaja Daiki mendorong meja dan membuat ashtraynya jatuh
Bahkan keadaan itu, juga mengingatkan Nu. Akan suatu ketika ia mendengar bunyi yang sama, ketika tanpa sengaja Kyo menjatuhkan ashtraynya dan tentu membuatnya hancur menjadi pecahan-pecahan. Ashtray pertama yang dibelinya untuk Kyo.
“Gomen ne.”, ucap Kyo.
“Daijoubu da yo”, ketika Kyo mengucapkan kata maaf, Nu masih bisa mengurai senyumnya, sekalipun terasa getir
Malam hampir berganti pagi, Nu sama sekali tak bisa terlelap meskipun matanya terpejam. Ia masih bisa mendengar suara pintu kamarnya dibuka --Kyo pulang begitu larut- juga masih bisa merasakan lengan itu memeluk dari balik tubuhnya setelah sebelumnya Kyo meletakkan sesuatu diatas meja kecil didekat tempat tidurnya.
“Ng, aku kira Kyo-san tak akan pulang...”, Nu berbalik dan ia bisa menatap wajah Kyo yang nampak begitu lelah
“...kau bilang, ashtraynya hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi, aku cari di internet lalu dapat yang mirip...”
“Arigatou...”, ucap Nu seraya mengembangkan sebuah senyuman, Kyo tak akan melihatnya, juga tak mendengar ucapan terimakasihnya –Kyo tertidur dengan begitu cepat.
“Pulanglah!!”, bentak Nu kesal.
“Tapi, aku...”
“Keluar, pergi!”, air mata Nu tertahan.
Daiki tak bisa lagi membantah, yang bisa dilakukannya hanyalah keluar. Meninggalkan Nu dengan perasaan bersalah.
‘...kau bilang, ashtraynya hanya tersisa satu di toko dan sulit untuk mencari yang seperti itu lagi, aku cari di internet lalu dapat yang mirip...’
Kenangan akan Kyo terus terlintas di pikiran Nu. Ashtray pertama yang dibelinya untuk Kyo, tak sengaja pecah.
Ashtray yang dibeli Kyo untuknya, sekarang berubah pula menjadi kepingan-kepingan.
“Maafkan aku, Kyo-san...”, kini air mata itu tak dapat lagi ia tahan.
----------------------
Sudah beberapa minggu ini sekolah itu terasa sedikit sibuk. Tentu saja karena festival sekolah akan segera datang. Semua kelas sibuk mempersiapkan apa yang akan mereka tampilkan di acara tahunan itu. Kelas 3 B sudah sepakat membuat Obake house untuk tahun ini, dengan Miyuy sebagai ketuanya.
From: Yabu-kun
Subject: kau kenapa?
Ne...Miyuy-chan...kenapa kau tak pernah membalas e-mailku?
Kau baik – baik saja kan?
Miyuy menutup flip ponselnya dengan malas. Entah e-mail keberapa dari Yabu, tak pernah ia balas lagi. Ia masih bingung dengan sikap Yabu yang bisa dengan cepat berubah pada saat itu.
“Miyuy...butuh bantuan??”, kata Py yang kini sudah berdiri di sebelahnya.
“Ah Py...hanya membuat property ini sedikit lagi.”, tunjuknya pada sebuah benda.
Opi datang juga ikut membantu mereka. Akhir – akhir ini Opi terlihat lebih murung daripada biasanya.
“Aku ikut juga ya...tak ada yang bisa kukerjakan...”, keluh Nuy beberapa menit setelahnya.
“Ne...lihat ini...”, seru Din tiba – tiba muncul, menunjukkan sebuah selebaran.
“Sakurazawa Ayame akan melakukan permainan solo piano?”, baca Py lambat – lambat. Yang lain hanya memperhatikan.
“Sakurazawa Ayame...sekretaris OSIS, kan ?”, tanya Miyuy.
Nu hanya terdiam, ia sama sekali tak mengenal siapa itu Sakurazawa Ayame.
“Un”, jawab Py singkat
“Permainan solo piano dari Sakurazawa ternyata jadi bagian dari festival sekolah tahun ini...”, tambah Miyuy menatap dengan sedikit takjub
“Membosankan”, sementara Opi hanya berucap lirih dan kemudian berlalu, meninggalkan keempat orang temannya.
“Opichi...”, seru Din, “Kenapa dia?”, tanya Din bingung.
Sementara itu Nu, Miyuy dan Py juga tak mengerti kenapa Opi kelihatan marah.
Opi baru saja tiba di rumah ketika ia mendengar suara Inoo di ruang tengah. Tak sepert sebelumnya, Opi memilih menghindar dari tempat itu. Ia tak pernah lagi menghampiri Inoo yang sedang mengajari Yuuri bermain piano.
“Saya mohon izin untuk sehari saja Chinen-san...”
“Memangnya ada acara apa Inoo-kun?”, suara Mama. Pikir Opi.
“2 hari lagi teman kecilku akan bermain piano di sebuah festival. Aku sudah janji untuk datang...”, jelas Inoo.
Opi menyesal mendengarnya, dan bergegas masuk kamar.
------------------
Taman itu tampak lengang. Hanya ada beberapa anak kecil yang masih bermain di bak pasir, ditemani ibu mereka yang menunggu di bangku.
Hikaru menaikkan alisnya, menghela nafas berat. Sudah beberapa minggu ini ia sama sekali tak bertemu Py. Di sekolah pun Py terkesan sangat menghindarinya. Sore ini ia ke taman itu untuk bertemu Py, dibuka tas sekolahnya, 3 buah chupa yang sengaja ia beli itu masih ada di tasnya, tanpa berani ia berikan pada Py karena Py selalu berada di sekitar teman – temannya, tak juga berani memandang dia sama sekali.
Hikaru mulai berfikir apakah kesalahannya? Kenapa Py marah padanya? Padahal ia tak merasa pernah melakukan kesalahan.
“Hoy!!!”, teriak seseorang dari belakang.
“Sial kau Yabu!! Kau mengaggetkan aku...”
“Jangan benyak melamun ah~”, seru Yabu ikut duduk di sebelah Hikaru.
“Sepertinya kau senang sekali datang kesini..”, tanya Yabu sambil memandang langit sore.
“Yah...hanya untuk sekedar lewat saja..”
“Alasan aneh..rumahmu itu berlawanan dengan arah taman ini, bodoh!!”, ejek Yabu.
Hikaru tak mau menjawab, hanya ikut memandangi langit sore itu.
Ponsel Yabu berbunyi, Yabu secara refleks membuka flip ponsel itu.
“Ah~ Ibu...kupikir siapa?”, keluh Yabu pelan.
“Kau sendiri..mengecheck ponselmu setiap waktu, apa sih yang kau tunggu?”, akhirnya Hikaru membalas.
Yabu menghela nafas, “Hanya e-mail penting...”
Tak lama mereka hanya larut dalam pikiran masing – masing.
------------------------
Festival sekolah dimulai. Suasananya begitu meriah, dari sehari sebelumnya semua sudah sibuk. Semua kelas berusaha menampilkan yang terbaik untuk ditampilkan di festival ini, karena akan ada pemilihan stand terbaik, berdasarkan pilihan pengunjung.
Festival ini terbuka untuk umum, sehingga suasana sekolah lebih ramai dari biasanya. Berbagai penampilan juga meramaikan panggung utama Festival itu.
Di halaman belakang sekolah. Nu bersembunyi, melarikan dari keramaian yang tak pernah disukainya. Saat yang lain tertawa dan bersorak gembira, bahkan ia sama sekali tak menikmatinya.
“Huwaaaa! Hantu!!”, seseorang menghampirinya dan kemudian berteriak ketakutan. Nu lupa, ia masih memakai make up dan pakaian menyeramkan yang dipakainya di rumah hantu kelas 3B.
“Ah, kamu”, sesaat Nu hanya menatap dan kembali mengalihkan pandangannya, “Untuk apa kesini? Bersenang-senang dengan teman-temanmu jauh lebih asyik, kan?”, tanyanya.
“Aku...melarikan diri, didandani seperti ini, apanya yang asyik?”, jawab orang itu yang tak lain adalah Daiki, menunjuk baju maid yang dikenakannya, juga renda-renda yang menghias kepalanya “...lalu Nuchan, kenapa ada disini?”, Daiki bertanya balik.
“Bisa mengenaliku?”, ujar Nu yang berdandan seperti hantu.
“Un”, Daiki mengangguk “..yang melihatku dengan tatapan seperti itu hanya Nuchan...”, Daiki beralih duduk disamping Nu
“Eh?”
“Tapi makeup Nuchan seram sekali...”, protes Daiki.
“Hmmm..ini kerjaan Dinchan.. ngomong – ngomong kamu...terlihat manis”, ucap Nu pelan.
“Nuchan jadi suka aku, kan? Suka, kan? Suka, kan?”, balas Daiki, memasang senyum manisnya.
“Tidak. Dan...tolong menjauh dariku”, jawab Nu dingin dan mendorong Daiki sedikit menjauh.
“Oh ya, aku hampir lupa...”, Daiki mengeluarkan sesuatu dari sakunya “...aku harap, ini bisa mengganti ashtray milik Nuchan yang pecah tempo hari...”
Nu hanya menatap Daiki dengan bingung.
“Tiket konser live Dir en Grey untuk dua orang. Pergi kesana bersamaku?”, tanya Daiki tersenyum lagi.
Tapi Nu tak bisa menjawab, hanya membelalakkan matanya, terkejut.
--------------
Py sedang istirahat, gilirannya sudah berakhir, kini ia hanya duduk di depan kelasnya, bingung mau kemana.
“Dinchan...”, panggil Py pada Din yang juga baru selesai membersihkan mukanya.
“Py!! Aku lapar..cari makan yuk~”, ajak Din merangkul tangan Py.
Py setuju, ia juga lapar. Mereka berjalan menyusuri tempat festival itu. Begitu banyak orang di situ. Din mengeluh kepanasan, menutupi mukanya dengan sebelah tangan.
“Ah!! Ada stand makanan!! Kesana yuk Py!”, tunjuk Din seraya menarik Py.
Itu adalah stand kelas 3C, disitu ada berbagai macam makanan khas festival. Seperti Okonomiyaki, Takoyaki, dll.
“Tunggu sebentar ya~ kalian harus sabar...”
Langkah Py tertahan, dihadapannya seorang Hikaru sedang melayani para pembeli yang mayoritas adalah wanita.
“Py..ayo..nanti antriannya lebih panjang lagi...”
Py menunduk. Sekilas ia merasakan pandangan Hikaru menuju ke arahnya. Py akhirnya mengikuti Din ikut mengantri.
“Sepertinya tidak akan kebagian deh...”, keluh Din setelah mengantri selama 5 menit.
Py menoleh, sejak tadi ia hanya melamun saja, “Mungkin...”, kata Py pelan.
“Kau kenapa Py-chan??”, Din mulai bingung dengan sikap Py.
Py menggeleng, “Tidak ada apa – apa.”, ia ingin cerita soal Hikaru, tapi tampaknya tidak disitu.
“Kenapa sih???kenapa Py-chan tampak bingung?”, Din masih mencoba memaksa Py bercerita.
“Hmmmm...”, Py menarik Din menjauh.
Sesaat Hikaru melirik ke arah Py yang keluar barisan mengantri dengan temannya. Hikaru menghela nafas tak percaya. Kenapa Py begitu menghindarinya?
-------------------
“Ini saatnya aku istirahat...”, kata Yabu menggeliatkan tubuhnya.
Yabu kebagian shift pagi, maka sekarang saatnya dia jalan – jalan.
“Ne...Yabu...kau curang!!”, keluh Hikaru yang tampak sangat sibuk.
Yabu terkekeh, “Salah sendiri kau ambil shift siang...tentu saja lebih ramai siang begini...”, ejek Hikaru.
“KAU!! Kau yang menyimpanku di shift siang, baka!!”, seru Hikaru tak rela.
Kembali terkekeh, “Karena kau populer, tentu saja sangat sayang kau disimpan di shift pagi...”, ejek Yabu lalu melambai penuh kemenangan pada Hikaru.
“Kau!!!Yabu!!!”, teriak Hikaru tak senang.
Yabu meninggalkan Hikaru dan beberapa temannya disana. Memang selain ia tak mau ambil shift siang yang lebih melelahkan, ia bermaksud ke stand kelas 3B. Katanya disana ada Obake House, dan Yabu juga ditantang oleh Shoon yang mengejeknya penakut.
“Kau yakin mau masuk kesana? Aku tak mau menggendongmu keluar karena kau pingsan...”, ejek Shoon menyebalkan.
“Lihat saja..aku ini tidak penakut..”, elak Yabu.
“Awas saja kalau kau menangis di dalam..”, balas Shoon.
“Jadi...kau mau ikut masuk atau tidak?”, tanya Yabu pada Shoon.
Shoon menggeleng, “Kau saja...kita lihat seberapa besar nyalimu.”, tantang Shoon.
“Kau takut ya?”, tanya Yabu.
“Tidaaakk~ ini terlalu biasa untukku.”, tolak Shoon.
Di depan Obake House itu sudah banyak yang mengantri, kebanyakan adalah pasangan.
“Kau masuk sendiri?”, tanya seorang siswi yang menjaga pintu masuk Obake Haouse ketika Yabu sudah ada di depan pintu.
Yabu mengangguk.
“Baiklah, silahkan masuk...”
Gelap dan memang sedikit mencekam. Yabu sampai saat ini hanya berjalan biasa. Obake house ini dibuat seperti maze, sehingga ia harus mencari jalan keluarnya. Tidak begitu besar sih, jadi ia masih sedikit tenang karena sampai saat ini belum ada yang mengganggunya. Teriakan silih berganti terdengar dari tempat lain, membuat Yabu sedikit merinding.
Yabu melangkah ke belokan sebelah kanan, ketika tanpa aba – aba seorang cewek menyeramkan muncul.
“Kyaaaaaa~”, teriak Yabu refleks.
“Yabu-kun?”
Eh? Suara itu...Yabu mengenali suara itu. Yabu segera menguasai diri dan menahan tangan ‘hantu’ wanita itu.
“Miyuy-chan?”, seru Yabu saat memandang wajah penuh make-up itu.
“Eh...Yabu-kun?”, Miyuy menyadari tangan Yabu masih menggenggam lengan kanannya, merasa beruntung makeup ini menutupi mukanya yang pasti sudah memerah.
“Kau kemana saja? Kenapa tak pernah membalas e-mailku lagi?”, tanya Yabu.
Miyuy menunduk, “Tidak apa – apa..aku sibuk..”, jawabnya tanpa berani melepaskan tangan Yabu.
“Kau marah padaku kah?”, tanya Yabu lagi.
“Tidak...buat apa aku marah?”, jawab Miyuy menggeleng pelan.
“Benarkah?”
Miyu hanya menunduk, tak berani menjawab.
“Ah iya Miyuy-chan..aku ingin mengatakan ini langsung, bento buatanmu enak...arigatou na~ kapan – kapan buatkan aku lagi ya?”, kata Yabu ceria, masih menggenggam tangan Miyuy.
“Eh? Kau memakannya?”
“Tentu saja...dan aku berharap Miyuy-chan membuatkannya lagi untukku...”
Miyuy tak percaya apa yang didengarnya. Terlebih lagi Yabu sama sekali tak melepaskan genggamannya, membuat Miyuy bingung harus melakukan apa.
“Ne...Miyuy...sudah saatnya bergantian denganku...”, kata seseorang dari belakangnya.
Ternyata itu Kaori yang memang akan berganti peran dengannya. Miyuy refleks melepaskan tangannya.
“Ah iya..aku ganti baju dulu.”, jawab Miyuy cepat.
Yabu kembali menarik Miyuy, “Jalan – jalan yuk...shiftku juga sudah selesai..”
Miyuy hanya mengagguk, “Sebentar...”
Yabu mengekor mengikuti Miyuy keluar dari Obake House itu.
From: Shoon
Subject: aku dijemput..
Pacarku datang...kau lama sekali tak keluar..
Aku pergi dulu...ku harap kau baik2 saja..
“Hahaha..Shoon bodoh itu pasti menganggap aku pingsan di dalam.”, seru Yabu.
“Eh?”
“Iya...dia sangka aku begitu penakut. Ah..Miyuy-chan!! Pertunjukkan piano sebentar lagi dimulai..kesana yuk~”, ajak Yabu.
Miyuy menatap punggung Yabu dengan hati berbunga. Mungkin saat itu, ia hanya malu pada teman – temannya, senyum Miyuy mengembang ketika Yabu kembali menarik tangannya.
“Yabu-kun...”, panggil Miyuy ketika mereka sudah sampai di depan panggung.
“Hmmm?”, jawab Yabu menoleh menatap Miyuy.
“Arigatou...”
----------------------
Opi mendribble lagi bola basketnya, merasa kesepian mungkin itu yang ia rasakan sekarang. Nu entah kemana, Py dan Din menghilang sesaat setelah shift mereka habis. Miyuy tadi saat ia tinggalkan masih di dalam Obake House, menunggu Kaori yang menggantikannya.
Panggung utama di festival itu pasti sedang mempertunjukkan seorang Sakurazawa Ayame yang akan bermain solo piano, dan Inoo pasti juga sedang berada di depan panggung itu. Menatap Aya-chan nya. Opi menyesali diri berfikir seperti itu tambah membuatnya sebal.
Dilemparkannya bola itu dengan sekuat tenaga sehingga bukannya masuk ke jaring, bola itu memantul jauh ke belakang Opi sendiri.
“Wow!! Kau bisa melukai orang kalau begitu Opi-chan...”
Opi berbalik, mendapati seorang Inoo menangkap bola basketnya itu.
“Ngapain kau disini?”, tanya Opi ketus.
Inoo mendribble bola itu mendekati ring, “Betsu ni...disana membosankan...”, jawab Inoo lalu melemparkan bola basket itu dengan mulus masuk ke ringnya.
Opi tak menjawab lagi, ia kembali merebut bola basket itu.
“Ne..kau sering pulang malam ya akhir – akhir ini..aku tak pernah melihatmu lagi di rumah...”, ujar Inoo lalu berlari mengambil bola yang lagi – lagi tak berhasil Opi masukkan.
“Hanya sibuk latihan...sebentar lagi turnamen dimulai..”, jelas Opi memandang Inoo dengan aneh.
Inoo mendribble bola memutari dirinya.
“Hmm..sokka...Ganbatte ne Opi-chan...”, katanya.
“Bukankah di panggung itu sedang ada recital piano..kenapa kau tidak kesana?”, akhirnya Opi memberanikan diri bertanya.
Inoo menghela nafas, “Tidak apa – apa..aku melihatmu pergi kesini..jadi yah...”
“Kudengar kau mengenal pemain piano itu...aku mendengarmu meminta izin pada Mama kemarin.”, kata Opi seraya merebut bola yang masih saja Inoo dribble tanpa tujuan.
“Aya-chan...yah..dia sudah seperti adikku sendiri.”
“Adik?”
“Iya...lagipula melihat seseorang begitu murung tadi...aku sedikit khawatir..”, jelas Inoo, mengambil kembali bola basket itu yang sedari tadi hanya Opi pegang saja.
“Kau mengkhawatirkan aku? Kenapa?”, tanya Opi heran.
“Tidak apa – apa...karena kupikir kau marah padaku. Sudah beberapa minggu ini kau tak pernah melihatku melatih Yuuri lagi.”
Muka Opi memerah, berharap hal itu tidak dilihat Inoo.
“Ne...kau ini berlebihan...”, Opi menunjukkan sedikit senyumnya.
Inoo masih mendribble bola basket itu berhenti, berdiri di depan Opi dengan senyum mengembang di bibirnya, “Akhirnya kau tersenyum juga...kurasa senyum lebih cocok buatmu..”, Kini wajah Inoo sudah sejajar dengan wajahnya, membuat Opi kaget.
Inoo berlari melewati Opi dan memasukkan bola basket itu ke ringnya.
“Inoo-kun!!”, teriak Opi, Inoo berbalik dari bawah ring basket itu, “Arigatou~!!!”, teriak Opi lalu kembali tersenyum.
----------------
Suasana sekolah masih ramai, walaupun sudah hampir jam 2 siang. Din kembali ke stand kelasnya, sendirian karena Py ingin melihat recital piano dari Sakurazawa Ayame itu. Din tak tertarik dan memilih kembali ke kelasnya.
Ternyata Py sedang jatuh cinta, dan merasa cintanya tak dibalas oleh pria yang disukainya. Din merasa sedikit mengerti apa yang ia rasakan soal itu. Bukankah cintanya sejak kecil pada Jin juga tidak dibalas? Begitu pikirnya.
“Kau kemana saja tuan putri?”, seru seseorang yang Din sudah hapal sekali suaranya.
“Bukan urusan Yuya...”, kata Din lalu duduk di sebuah bangku di depan kelasnya.
Yuya ikut duduk disebelahnya, menyodorkan sekaleng kopi dingin kesukaan Din. “Ini..tuan putri...”
“Yuya..berhenti memanggilku seperti itu..”, protes Din. Entah sejak kapan Yuya memutuskan memanggilnya seperti itu dan kini semua orang menyangka mereka benar – benar berpacaran.
Maksudnya, Yuya memang tunangannya walaupun tak ada yang tahu, tapi mereka kan tidak bisa disebut berpacaran juga.
“Kau haus kan? Ayo ambil..”, kata Yuya mengindahkan protesnya Din.
Din masih kesal tapi menyambut kopi dingin itu.
“Eh??? Jin??!!”, seru Yuya lalu berdiri. Kaget mendapati kakaknya itu datang.
Din menoleh lalu ikut berdiri. Yuya sendiri tak tahu kalau kakaknya akan datang. Lebih buruk, bersama kekasihnya, Naomi. Yuya sekilas melirik wajah Din yang masih kaget.
“Waaahh~ Obake house ya ini?”, seru Jin.
“Aniki..apa yang kau lakukan disini??”, tanya Yuya tak sabar.
Jin terkekeh, “Ayolah Yuya...dulu aku juga sekolah disini...Hisashiburi...sudah lama tidak menghadiri festival seperti ini.”
Din tak berani menunjukkan wajahnya, hanya berlindung dibalik badan Yuya.
“Dinchan...apa kabar adik kecilku?? Kenapa kau jarang sekali ke rumah?”, tanya Jin menyadari Din ada disitu dan mengacak pelan rambut Din.
“Jin yang tak pernah ada di rumah..”, elak Din.
Jin tertawa pelan, “Iya kau benar..sibuk sekali akhir – akhir ini.”, Jin mencubit pipi Din pelan, “Sudah lama aku tak menjahilimu...”
Din menepis tangan Jin, “Itai yo~”
“Kalau kau cemberut begitu wajahmu tampak lebih lucu..”, tawa Jin lagi. Kebiasaan Jin mengganggunya memang tak pernah hilang sejak mereka kecil.
“Jangan sentuh Dinchan..”, kata Yuya tiba – tiba.
Dengan kaget Jin menatap adiknya seksama, “Kau ini kenapa? Huh?”
“Aku...aku dan dia...”
“Kalian kenapa?”, tanya Jin bingung.
Din menyambar tangan Yuya, “Kami sudah resmi jadian..maksudnya... kita sudah memutuskan untuk benar – benar menerima perjodohan ini..”, wajah Din memerah, kaget dengan perkataannya sendiri.
“Oh...waaaahh~ maaf Yuya...kau cemburu?? Tidak tidak usah seperti itu.. Aku selalu menanggapnya adikku juga.”
“Hanya...yah...aku tak mau kau sembarangan menyentuhnya..ia milikku sekarang..”, kata Yuya lagi.
“Baiklah...gomen na...Dinchan...gomen na..”
“Jin...ayo masuk Obake house nya...”, keluh Naomi yang sejak tadi hanya berdiri di sebelah Jin.
Jin tersenyum pada kedua adiknya itu, “Omedetou ne...”, Jin menatap Naomi, “Iya cerewet..”
Jin berlalu, masuk ke dalam Obake House. Yuya berbalik, menatap Din takjub.
“Kau benar – benar mengatakannya?”, tanya Yuya.
Wajah Din memerah, melepaskan tangannya dan berusaha melarikan diri.
“Jawab aku bodoh!”, seru Yuya menarik lengan Din.
“Kalau kau anggap begitu...”, jawab Din masih menunduk, tak berani menatap Yuya.
----------------------
Atap itu tampak kosong. Hikaru melarikan diri sebentar, lagipula sudah hampir sore dan stand juga sudah tak seramai tadi siang hari.
Hikaru menggeliat, badannya begitu lelah. Ini ulah Yabu yang menyuruhnya jaga di shift siang. Hikaru mengambil botol minuman di tasnya, menghabiskan seluruh isinya lalu berbaring menatap langit yang sudah hampir sore itu.
“Lelahnyaaa~”, teriaknya pelan.
Tak lama, Hikaru mendengar seseorang sedang bergumam. Menyadari dirinya tak sendiri, Hikaru segera berdiri dan mencari sumber suara itu. Seseorang sedang menunduk, tampak sibuk dengan buku sketsa dan sebuah airphone terpasang di telinga gadis itu. Ia bergumam mengikuti lagu yang ia dengar sepertinya.
“Py-chan?”, sudah Hikaru duga itu memang Py.
Hikaru bergerak pelan, mencoba tidak mengeluarkan suara apapun. Py duduk dibalik sebuah tembok, dekat pintu masuk ke atap ini. Hikaru mengeluarkan sebuah bungkusan, membukanya lalu dengan sengaja menyodorkan bungkusan itu di depan wajah Py.
“Eh??!!”, Seru Py kaget dengan refleks membuka airphonenya.
“Takoyaki dari kelas 3C...dijamin enak dan murah...”, seru Hikaru dari pinggir tembok itu.
“Hika-kun??”, Py begitu kaget ia bisa bertemu Hika di atap ini.
Hika nyengir, memperlihatkan senyum khasnya, “Aku tak bisa memutuskan kau mau takoyaki atau okonomiyaki, tapi aku putuskan membawakanmu ini saja. Tadi kau tak jadi mengantri kan? Kenapa?”
Berarti tadi Hikaru memang memperhatikannya dan Din. Py tidak menjawab.
“Ne??ayo coba...kata orang – orang sih buatanku memang enak..”, kata Hikaru, “atau kau mau aku menyuapimu?”, tambahnya.
Sukses membuat wajah Py tambah memerah dan segera merebut bungkusan takoyaki itu.
“Hmmm..enak..”, kata Py setelah menelan satu takoyaki itu.
Hikaru tersenyum, “Anda mendapatkan bonus ini....”, serunya heboh menunjukkan 3 buah chupa rasa cola.
“Apa lagi ini?”
“Bonus karena senyummu begitu cantik hari ini..”, puji Hikaru.
Py terdiam tak berani menjawab apapun.
“Kau tahu Py-chan...taman itu tampak lebih sepi dari biasanya jika kau tak disana.”, jelas Hikaru sambil menyimpan 3 chupa itu di tangan Py.
“Eh? Apa maksud Hika-kun?”
“Bangku taman itu kehilangan senyummu...”
“Hah?”, Py masih tidak mengerti.
“Aku juga...”, kata Hikaru ikut mencomot satu takoyaki itu, “Yappari~ buatanku memang enak..hehehe..maaf sudah dingin ya..aku mencari Py-chan tapi tidak ketemu...”
Kini Py tak peduli, ia tak merasa Hikaru berbohong atau hanya memujinya saja. Paling tidak hanya dia yang Hikaru buatkan takoyaki bahkan ketika ia tidak memintanya. Hanya dia yang Hikaru belikan 3 buah chupa rasa cola kesukaanya, dengan sengaja membelikannya. Py merasa istimewa, ia berbeda dari gadis – gadis yang biasa berada di dekat Hikaru. Py tahu rasanya ini terlalu berlebihan, tapi berharap sekali lagi bukanlah suatu kesalahan.
“Hika-kun...arigatou..”
------------------
TBC~....
maap lama banget ngeupdatenya...hehehe
seperti biasa...COMMENTS is LOVEEEEE~
Minggu, 31 Januari 2010
[FANFIC] Yabu's Birthday PART 3 -FINAL-
Title : Undecided [PART 3]
Author : Nu Niimura
Genre : Romance, Angst...seterusnya, ada deh~~
Fandom : Hey! Say! Jump, Johnny’s Entertainment
Disclaimer : I dont own the chara nor the original idea
Tanpa kusadari, hari untuk konser telah datang. Aku begitu terkejut, ketika melihat tulisan yang terpampang HEY! SAY! JUMP SECRET CONCERT.
Apanya yang secret?! Apanya yang Hey! Say! JUMP ?! kesembilan member yang lain bahkan tak ada. Kenapa pihak agensi tak memberitahu fans? Fans tentu akan kecewa! Mereka ingin menyaksikan pertunjukan dari kami semua, kesepuluh member.
“Tak apa Yabu-kun. Berusahalah, aku yakin fans tak akan kecewa. Jangan lupa, kita masih punya banyak back-dancer, kau tak akan senidirian diatas panggung...”, balas seorang dari crew ketika aku bertanya tentang tagline konser kali ini
Sangat berbeda. Konser kali ini tidak dibuka oleh aksi beberapa dancer. Tapi akulah yang memulai. Juga berbeda, tak ada musik enerjik seperti biasa.
“Konser ini...”, ucapku terputus, berada sendirian diatas panggung, rasanya sangat berbeda. Arena ini terasa begitu luas
Aku berusaha melanjutkan ucapku “...hadiah untuk Ryutaro, Keito, Yuto, Yamada, Chinen, Daiki, Hikaru, ...Kei-chan, Hikaru...”
Ketika aku mendengar irama piano dengan tiba-tiba. Irama itu, biasa dimainkan Kei-chan. Aku tak mau mendengarnya lagi, karna membuatku ingin menangis mengingat Kei-chan. Namun nada itu terus mengalun, hingga pipiku basah karna air mata. Aku gagal, tak bisa menahan perasaanku. Fans akan kecewa.
“Bukan kau yang harus memberikan hadiah untuk kami, Yabu-kun...”
Suara itu, sudah tak asing untukku
“...tak mungkin...Hikaru-kun!”, seketika aku membalikan badan, Hikaru tersenyum
Ini tak mungkin
“..karna berulang tahun adalah Yabu-kun”, sambung Yuya
Hikaru, Yuya...dan aku segera mencari tahu siapakah yang memainkan piano sejak tadi
“Konser ini hadiah untuk Yabu-kun...”, ucap seorang dari balik piano, dan tersenyum lembut ketika aku menatapnya. Aku begitu merindukan senyuman itu.
“...Kei-chan...”
“OTANJOUBI OMEDETOU, YABU-KUN !!”, seru beberapa member lainnya
Juga LCD besar dibelakang kami, memperlihatkan tampilan yang tak kalah meriah, bertuliskan sama “Otanjoubi Omedetou, Yabu-kun !!”
Kei-chan menarik tangaku kembali ke tengah panggung, “A, apa ini semua ini mimpi?”, aku masih tak bisa percaya, teman-temanku yang katanya meninggal dalam kecelakaan pesawat, sekarang...
Hikaru menampar pipiku
“Itai!”, seruku, pipiku terasa sakit
Beberapa saat kemudian, teriakan dan tepuk tangan dari fans jelas terdengar. Kedelapan member yang lain bernyanyi ke depan panggung
Sementara aku dan Kei-chan di belakang mereka, Kei-chan yang masih memegang tanganku...
“Ada apa ini semuanya?”, tanyaku penuh kebingungan
“Sudah kubilang, ini hadian ulang tahun untuk Yabu-kun...”, jawab Kei-chan masih dengan memasang senyumannya
“K, kalian...kenapa...”
“Dengar, Ko-chan...kecelakaan itu hanya skenario. Minuman yang aku berikan pada Ko-chan saat di pesawat, itu mengandung obat tidur. Ini kerjasama, kami, pihak agensi, bahkan keluarga Ko-chan...”
Sesaat, aku tak bisa berkata-kata
“K, Kei-chan...aku tak ingin kehilanganmu lagi...
Anata ga suki desu !
I love you, I want you to be always by my side”, aku sendiri tak tahu mengapa, ucapanku bisa sedemikian lancar
Kei-chan tak menjawab, hanya tersenyum.
Dan Kei-chan mengecup bibirku lembut namun begitu cepat. Sekejap, hingga aku meragukan apakah itu adalah nyata.
Sebelum aku bereaksi, Kei-chan berlari kedepan panggung, bergabung dengan member yang lain untuk bernyanyi, begitu ceria.
Sementara itu, aku hanya bisa terdiam
-OWARI-
Comments are LOOOOOVEEEE, minna XDDD
Author : Nu Niimura
Genre : Romance, Angst...seterusnya, ada deh~~
Fandom : Hey! Say! Jump, Johnny’s Entertainment
Disclaimer : I dont own the chara nor the original idea
Tanpa kusadari, hari untuk konser telah datang. Aku begitu terkejut, ketika melihat tulisan yang terpampang HEY! SAY! JUMP SECRET CONCERT.
Apanya yang secret?! Apanya yang Hey! Say! JUMP ?! kesembilan member yang lain bahkan tak ada. Kenapa pihak agensi tak memberitahu fans? Fans tentu akan kecewa! Mereka ingin menyaksikan pertunjukan dari kami semua, kesepuluh member.
“Tak apa Yabu-kun. Berusahalah, aku yakin fans tak akan kecewa. Jangan lupa, kita masih punya banyak back-dancer, kau tak akan senidirian diatas panggung...”, balas seorang dari crew ketika aku bertanya tentang tagline konser kali ini
Sangat berbeda. Konser kali ini tidak dibuka oleh aksi beberapa dancer. Tapi akulah yang memulai. Juga berbeda, tak ada musik enerjik seperti biasa.
“Konser ini...”, ucapku terputus, berada sendirian diatas panggung, rasanya sangat berbeda. Arena ini terasa begitu luas
Aku berusaha melanjutkan ucapku “...hadiah untuk Ryutaro, Keito, Yuto, Yamada, Chinen, Daiki, Hikaru, ...Kei-chan, Hikaru...”
Ketika aku mendengar irama piano dengan tiba-tiba. Irama itu, biasa dimainkan Kei-chan. Aku tak mau mendengarnya lagi, karna membuatku ingin menangis mengingat Kei-chan. Namun nada itu terus mengalun, hingga pipiku basah karna air mata. Aku gagal, tak bisa menahan perasaanku. Fans akan kecewa.
“Bukan kau yang harus memberikan hadiah untuk kami, Yabu-kun...”
Suara itu, sudah tak asing untukku
“...tak mungkin...Hikaru-kun!”, seketika aku membalikan badan, Hikaru tersenyum
Ini tak mungkin
“..karna berulang tahun adalah Yabu-kun”, sambung Yuya
Hikaru, Yuya...dan aku segera mencari tahu siapakah yang memainkan piano sejak tadi
“Konser ini hadiah untuk Yabu-kun...”, ucap seorang dari balik piano, dan tersenyum lembut ketika aku menatapnya. Aku begitu merindukan senyuman itu.
“...Kei-chan...”
“OTANJOUBI OMEDETOU, YABU-KUN !!”, seru beberapa member lainnya
Juga LCD besar dibelakang kami, memperlihatkan tampilan yang tak kalah meriah, bertuliskan sama “Otanjoubi Omedetou, Yabu-kun !!”
Kei-chan menarik tangaku kembali ke tengah panggung, “A, apa ini semua ini mimpi?”, aku masih tak bisa percaya, teman-temanku yang katanya meninggal dalam kecelakaan pesawat, sekarang...
Hikaru menampar pipiku
“Itai!”, seruku, pipiku terasa sakit
Beberapa saat kemudian, teriakan dan tepuk tangan dari fans jelas terdengar. Kedelapan member yang lain bernyanyi ke depan panggung
Sementara aku dan Kei-chan di belakang mereka, Kei-chan yang masih memegang tanganku...
“Ada apa ini semuanya?”, tanyaku penuh kebingungan
“Sudah kubilang, ini hadian ulang tahun untuk Yabu-kun...”, jawab Kei-chan masih dengan memasang senyumannya
“K, kalian...kenapa...”
“Dengar, Ko-chan...kecelakaan itu hanya skenario. Minuman yang aku berikan pada Ko-chan saat di pesawat, itu mengandung obat tidur. Ini kerjasama, kami, pihak agensi, bahkan keluarga Ko-chan...”
Sesaat, aku tak bisa berkata-kata
“K, Kei-chan...aku tak ingin kehilanganmu lagi...
Anata ga suki desu !
I love you, I want you to be always by my side”, aku sendiri tak tahu mengapa, ucapanku bisa sedemikian lancar
Kei-chan tak menjawab, hanya tersenyum.
Dan Kei-chan mengecup bibirku lembut namun begitu cepat. Sekejap, hingga aku meragukan apakah itu adalah nyata.
Sebelum aku bereaksi, Kei-chan berlari kedepan panggung, bergabung dengan member yang lain untuk bernyanyi, begitu ceria.
Sementara itu, aku hanya bisa terdiam
-OWARI-
Comments are LOOOOOVEEEE, minna XDDD
[FANFIC] Yabu's Birthday PART 2
Title : Undecided [PART 2]
Author : Nu Niimura
Genre : Angst
Fandom : Hey! Say! Jump, Johnny’s Entertainment
Disclaimer : I dont own the chara nor the original idea
Apakah kami sudah sampai di Tokyo...?
Langit-langit berwarna putih yang kulihat saat aku membuka mata...
“Dimana ini?!”, aku terbangun dalam kebingunan, kepaku terasa sangat sakit hingga merasa sulit untuk bangun
Dan orang-orang berseragam putih ini...
Kei-chan?!
Aku melihat Kei-chan terbaring di tempat tidur yang berjarak tak jauh dari tempatku, tubuhnya tertutup oleh kain putih hingga aku hanya bisa melihat wajahnya.
Kenapa? Kenapa wajah berlumuran darah?
Kei-chan, ayo buka matamu!!!
“Dia sudah tidak tertolong...”, ucap seorang berseragam putih itu, menutup wajah Kei-chan dengan kain sama yang menutupi tubuhnya dan kemudian mendorong tempat tidur Kei-chan keluar ruangan
Apa-apaan ini ?!
Apa yang terjadi ?
Aku ingat, ketika berada di pesawat aku sempat tertidur. Saat ini aku pasti sedang bermimpi, lalu saat pesawat akan mendarat di Tokyo, crew akan membangunkanku. Kami semua akan pulang, dan aku mengungkapkan perasaanku pada Kei-chan.
Ya, seperti itu !
Aku tak bisa menghentikan langkahku untuk mengejar kemana orang-orang itu membawa Kei-chan. Dan ketika aku berada di pintu, seorang yang sudah sangat tak asing memelukku dengan tiba-tiba
“Kota...syukurlah, kau selamat!”
“O, oka-san?”, aku semakin merasa heran ketika oka-san memelukku erat dan tersedu. Juga oji-san, raut wajahnya sama sekali tak nampak gembira
“Kota...”, oka-san hanya terus menyebut namaku dalam isaknya
“Oka-san, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Kota...pesawat yang kalian tumpangi dari Hokkaido menuju Tokyo mengalami kecelakaan...seluruh crew...dan teman-temanmu...meninggal...”
Aku sama sekali tak percaya apa yang dikatakan oka-san. Sekalipun itu benar, tapi ini hanya ada dalam mimpiku.
“Daijoubu ne, Oka-san...nakanaide kudasai...(PS: bener ga sih bahasa japan ny? Saia ngasal, ini =___= ”
Perhatikanku kemudian tertuju pada suatu benda yang tergeletak di lantai, tak lain adalah sebuah digicam. Aku ingat betul, digicam yang dibawa Yuto.
Tampilannya sudah tak lagi seperti saat kulihat ketika Yuto meng-capture potret tersenyumnya bersama Kei-chan. Ketika aku memungutnya, kulihat digicam itu sudah banyak mengalami kerusakan di bagian luarnya, kotor, bekas seperti terbakar dan terlihat juga bercak darah
Satu persatu kuperhatikan file picture dalam digicam milik Yuto. Pada liburan ini, Yuto mengambil banyak sekali gambar. Ketika kami semua berangkat hingga saat berada di pesawat dalam perjalan pulang.
“Mimpi macam apa ini? Kenapa file dalam digicam ini sama persis dengan semua momen yang kami lalui saat liburan, bahkan aku dalam kehidupan nyatapun tak pernah melihat isi digicam Yuto...”
“Ne, Oka-san...shinpai wa nai yo. Beberapa saat lagi aku akan terbangun dari mimpi yang aneh ini, kami akan sampai di Tokyo dan beberapa dari foto ini akan muncul di blog milik Yuto”, ucapku tersenyum sembari menunjukkan digicam yang tengah kupegang
“Sadarlah, Kota. Ini bukan mimpi. Kecelakaan itu nyata dan kau satu-satunya yang selamat!”, nada bicara Oka-san sedikit meninggi
Tangisku mulai pecah, ketika aku mulai mempercayai perkataan Oka-san. Oka-san kembali memelukku, dari balik punggungnya, aku masih bisa melihat orang-orang itu membawa Kei-chan namun kemudian semakin menjauh dan tak lagi terlihat
“Kei-chaaaaaaaaaaaaaaaaan !”
~~~~
Berapa kalipun aku menampar pipiku sendiri, selalu terasa sakit. Kata orang, yang seperti ini bukanlah mimpi.
Televisi, aku menghindar untuk melihatnya, aku tak mau melihat berita tentang teman-temanku. Juga berita lain, koran, internet. Aku ingin sekali meyakini kalau ini semua hanya mimpi.
Kenapa peristiwa itu bisa terjadi, bahkan aku sendiri tak menyadari kalau pesawat yang kami tumpangi mengalami kecelakaan.
Setiap kali kulihat foto-foto yang diambil Yuto, aku masih merasa kalau peristiwa itu tak pernah terjadi. Diriku sendiri, hanya mengalami luka-luka kecil, rasanya tak mungkin bila teman-temanku sudah pergi.
Dan hingga aku tertidur di depan layar LCD komputerku, terbangun di keesokan harinya.
“05.45 am, masih terlalu pagi...aku akan meneruskan tidur. Jam 06.00 nanti Kei-chan akan mengirim pesan untukku...”
Nampaknya aku telah terbiasa dengan message alert tone ponselku yang selalu berbunyi pada pukul enam pagi, pesan dari Kei-chan.
Aku tak bisa kembali terlelap...
05.55, lima menit lagi poselku akan berbunyi
06.00, tak ada bunyi apapun
Mungkin hari ini sedikit terlambat, Kei-chan masih belum bangun
06.05, senyap
07.00, ponselku sama sekali tak berdering
09.10, ponselku berdering
Bukan dari Kei-chan, hanya seorang dari agensi yang menelfonku, menyampaikan pesan dari Johnny-san agar aku segera datang ke gedung agensi.
Jalanan terlihat normal. Orang-orang yang berjalan dalam kesibukan. Bahkan, di display beberapa toko, kalender Hey! Say! Jump masih terpampang, tak ketinggalan pemandangan gadis-gadis yang terlihat histeris. Dan di large view LCD (saia –yg katro ini- gatau apa namanya) beberapa gedung tinggi, masih terlihat klip promo kami, aku dan kesembilan temanku. Jelas sangat aneh untuk sebuah band yang baru saja kehilangan sembilan dari sepuluh membernya.
“Yabu-kun, aku turut prihatin dengan peristiwa yang menimpa member Jump. Tentunya ini merupakan pukulan besar pula bagi pihak agensi. Tapi, kami merahasiakan dari publik kalau kesembilan member Jump meninggal dalam kecelakaan pesawat...”, tutur Johnny-san dengan begitu hati-hati
Aku yang sekarang berada di ruangan pribadi Johnny-san hanya bisa terbelalak.
“...dan akan mengadakan konferensi pers pada saat yang tepat. Tentang konser Jump pada akhir bulan Januari ini, akan menjadi konser solo Kota Yabu”, paparnya
“Ta, tapi, Johnny-san...”
“Ganbarimasu, aku yakin Yabu-kun bisa. Anggap saja ini adalah hadiah untuk sembilan member Jump lainnya”, Johnny-san berusaha tersenyum
“Baiklah, saya mohon diri untuk ke toilet sebentar...”
Di kamar mandi gedung agensi, di ruangan kecil ini, kuharap tak akan ada yang mendengar tangisanku.
“...Hikaru, Daiki, Yuya, Yamada, Chinen, Yuto, Keito, Ryutaro...
Kei-chan...”
Tempat ini, mengantar ingatku pada Kei-chan. Akan suatu peristiwa tempo hari...
“Inoo-kun, sedang ketik apa? Kenapa harus ketik di kamar mandi?”, tanya Yama yang saat itu tak sengaja bersama Kei-chan di kamar mandi.
“Ini ucapan selamat ulang tahun untuk Ko-chan...”
Ketika mendengar namaku disebut, aku yang saat itu hendak memasuki kamar mandipun menahan langkah. Bersembunyi di balik pintu untuk menguping pembicaraan Kei-chan dan Yama
“Umm...kenapa kirim sekarang? Ulang tahun Yabu-kun kan masih lama, akhir bulan Januari”, tanya Yama lagi
“Tidak, tidak...pesannya akan terkirim pada hari ulang tahun Kei-chan nanti...”
“Hai, hai...wakarimasu!”
Sempat terlupa, sebentar lagi ulang tahunku yang ke-20. Aku tak akan menjadi teenager lagi. Ulang tahunku...tanpa teman-teman.
Bukankah seorang yang berulang tahun boleh meminta satu permohonan. Kalau begitu, aku akan memohon agar teman-temanku bisa kembali bersamaku.
...namun, aku tak terlalu bodoh untuk meyakini harapan itu akan terwujud...
Di studio tempat kami biasa latihan, aku sudah terbiasa datang lebih awal. Juga saat ini, perasaanku tetap sama seperti sebelumnya. Aku yang datang lebih awal karna pesan dari Kei-chan. Ketika aku bertanya “Kei-chan, apakah hari ini kita ada latihan jam 4 nanti?”, Kei-chan selalu menjawab “Ya”, sekalipun latihan adalah pukul 5.
Aku sendiri, aku yang datang lebih awal. Tak lama lagi Chinen dan Ryutaro akan datang bersamaan dan menyapa “Kami kira, kamilah yang akan datang paling awal...”
Keito yang memasuki ruangan dengan tas gitar di punggungnya. Yang lain pun menyusul dan kesepuluh dari kami berkumpul.
Tapi hari ini, sepi. Sekalipun beberapa trainer datang untuk melatihku mempersiapkan konser, aku masih merasa sepi. Ini tak mudah, aku bukanlah seorang solo-is.
Ketika istirahat, aku mulai memejamkan mataku, keceriaan teman-teman masih terasa di sekitar.
Yama akan memainkan cangkir di mulutnya
Daiki yang berang karna teman-teman yang lain mengganggunya ketika ia mencoba untuk tidur
Chinen akan mendekati Yuya dan berkata “Nii-chan, biarkan aku duduk di pangkuanmu...”, aku tertawa kecil, tanpa kami sadari Chinen sudah tumbuh besar
Dan Kei-chan...dia akan terus mencoba untuk bercanda denganku
Author : Nu Niimura
Genre : Angst
Fandom : Hey! Say! Jump, Johnny’s Entertainment
Disclaimer : I dont own the chara nor the original idea
Apakah kami sudah sampai di Tokyo...?
Langit-langit berwarna putih yang kulihat saat aku membuka mata...
“Dimana ini?!”, aku terbangun dalam kebingunan, kepaku terasa sangat sakit hingga merasa sulit untuk bangun
Dan orang-orang berseragam putih ini...
Kei-chan?!
Aku melihat Kei-chan terbaring di tempat tidur yang berjarak tak jauh dari tempatku, tubuhnya tertutup oleh kain putih hingga aku hanya bisa melihat wajahnya.
Kenapa? Kenapa wajah berlumuran darah?
Kei-chan, ayo buka matamu!!!
“Dia sudah tidak tertolong...”, ucap seorang berseragam putih itu, menutup wajah Kei-chan dengan kain sama yang menutupi tubuhnya dan kemudian mendorong tempat tidur Kei-chan keluar ruangan
Apa-apaan ini ?!
Apa yang terjadi ?
Aku ingat, ketika berada di pesawat aku sempat tertidur. Saat ini aku pasti sedang bermimpi, lalu saat pesawat akan mendarat di Tokyo, crew akan membangunkanku. Kami semua akan pulang, dan aku mengungkapkan perasaanku pada Kei-chan.
Ya, seperti itu !
Aku tak bisa menghentikan langkahku untuk mengejar kemana orang-orang itu membawa Kei-chan. Dan ketika aku berada di pintu, seorang yang sudah sangat tak asing memelukku dengan tiba-tiba
“Kota...syukurlah, kau selamat!”
“O, oka-san?”, aku semakin merasa heran ketika oka-san memelukku erat dan tersedu. Juga oji-san, raut wajahnya sama sekali tak nampak gembira
“Kota...”, oka-san hanya terus menyebut namaku dalam isaknya
“Oka-san, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Kota...pesawat yang kalian tumpangi dari Hokkaido menuju Tokyo mengalami kecelakaan...seluruh crew...dan teman-temanmu...meninggal...”
Aku sama sekali tak percaya apa yang dikatakan oka-san. Sekalipun itu benar, tapi ini hanya ada dalam mimpiku.
“Daijoubu ne, Oka-san...nakanaide kudasai...(PS: bener ga sih bahasa japan ny? Saia ngasal, ini =___= ”
Perhatikanku kemudian tertuju pada suatu benda yang tergeletak di lantai, tak lain adalah sebuah digicam. Aku ingat betul, digicam yang dibawa Yuto.
Tampilannya sudah tak lagi seperti saat kulihat ketika Yuto meng-capture potret tersenyumnya bersama Kei-chan. Ketika aku memungutnya, kulihat digicam itu sudah banyak mengalami kerusakan di bagian luarnya, kotor, bekas seperti terbakar dan terlihat juga bercak darah
Satu persatu kuperhatikan file picture dalam digicam milik Yuto. Pada liburan ini, Yuto mengambil banyak sekali gambar. Ketika kami semua berangkat hingga saat berada di pesawat dalam perjalan pulang.
“Mimpi macam apa ini? Kenapa file dalam digicam ini sama persis dengan semua momen yang kami lalui saat liburan, bahkan aku dalam kehidupan nyatapun tak pernah melihat isi digicam Yuto...”
“Ne, Oka-san...shinpai wa nai yo. Beberapa saat lagi aku akan terbangun dari mimpi yang aneh ini, kami akan sampai di Tokyo dan beberapa dari foto ini akan muncul di blog milik Yuto”, ucapku tersenyum sembari menunjukkan digicam yang tengah kupegang
“Sadarlah, Kota. Ini bukan mimpi. Kecelakaan itu nyata dan kau satu-satunya yang selamat!”, nada bicara Oka-san sedikit meninggi
Tangisku mulai pecah, ketika aku mulai mempercayai perkataan Oka-san. Oka-san kembali memelukku, dari balik punggungnya, aku masih bisa melihat orang-orang itu membawa Kei-chan namun kemudian semakin menjauh dan tak lagi terlihat
“Kei-chaaaaaaaaaaaaaaaaan !”
~~~~
Berapa kalipun aku menampar pipiku sendiri, selalu terasa sakit. Kata orang, yang seperti ini bukanlah mimpi.
Televisi, aku menghindar untuk melihatnya, aku tak mau melihat berita tentang teman-temanku. Juga berita lain, koran, internet. Aku ingin sekali meyakini kalau ini semua hanya mimpi.
Kenapa peristiwa itu bisa terjadi, bahkan aku sendiri tak menyadari kalau pesawat yang kami tumpangi mengalami kecelakaan.
Setiap kali kulihat foto-foto yang diambil Yuto, aku masih merasa kalau peristiwa itu tak pernah terjadi. Diriku sendiri, hanya mengalami luka-luka kecil, rasanya tak mungkin bila teman-temanku sudah pergi.
Dan hingga aku tertidur di depan layar LCD komputerku, terbangun di keesokan harinya.
“05.45 am, masih terlalu pagi...aku akan meneruskan tidur. Jam 06.00 nanti Kei-chan akan mengirim pesan untukku...”
Nampaknya aku telah terbiasa dengan message alert tone ponselku yang selalu berbunyi pada pukul enam pagi, pesan dari Kei-chan.
Aku tak bisa kembali terlelap...
05.55, lima menit lagi poselku akan berbunyi
06.00, tak ada bunyi apapun
Mungkin hari ini sedikit terlambat, Kei-chan masih belum bangun
06.05, senyap
07.00, ponselku sama sekali tak berdering
09.10, ponselku berdering
Bukan dari Kei-chan, hanya seorang dari agensi yang menelfonku, menyampaikan pesan dari Johnny-san agar aku segera datang ke gedung agensi.
Jalanan terlihat normal. Orang-orang yang berjalan dalam kesibukan. Bahkan, di display beberapa toko, kalender Hey! Say! Jump masih terpampang, tak ketinggalan pemandangan gadis-gadis yang terlihat histeris. Dan di large view LCD (saia –yg katro ini- gatau apa namanya) beberapa gedung tinggi, masih terlihat klip promo kami, aku dan kesembilan temanku. Jelas sangat aneh untuk sebuah band yang baru saja kehilangan sembilan dari sepuluh membernya.
“Yabu-kun, aku turut prihatin dengan peristiwa yang menimpa member Jump. Tentunya ini merupakan pukulan besar pula bagi pihak agensi. Tapi, kami merahasiakan dari publik kalau kesembilan member Jump meninggal dalam kecelakaan pesawat...”, tutur Johnny-san dengan begitu hati-hati
Aku yang sekarang berada di ruangan pribadi Johnny-san hanya bisa terbelalak.
“...dan akan mengadakan konferensi pers pada saat yang tepat. Tentang konser Jump pada akhir bulan Januari ini, akan menjadi konser solo Kota Yabu”, paparnya
“Ta, tapi, Johnny-san...”
“Ganbarimasu, aku yakin Yabu-kun bisa. Anggap saja ini adalah hadiah untuk sembilan member Jump lainnya”, Johnny-san berusaha tersenyum
“Baiklah, saya mohon diri untuk ke toilet sebentar...”
Di kamar mandi gedung agensi, di ruangan kecil ini, kuharap tak akan ada yang mendengar tangisanku.
“...Hikaru, Daiki, Yuya, Yamada, Chinen, Yuto, Keito, Ryutaro...
Kei-chan...”
Tempat ini, mengantar ingatku pada Kei-chan. Akan suatu peristiwa tempo hari...
“Inoo-kun, sedang ketik apa? Kenapa harus ketik di kamar mandi?”, tanya Yama yang saat itu tak sengaja bersama Kei-chan di kamar mandi.
“Ini ucapan selamat ulang tahun untuk Ko-chan...”
Ketika mendengar namaku disebut, aku yang saat itu hendak memasuki kamar mandipun menahan langkah. Bersembunyi di balik pintu untuk menguping pembicaraan Kei-chan dan Yama
“Umm...kenapa kirim sekarang? Ulang tahun Yabu-kun kan masih lama, akhir bulan Januari”, tanya Yama lagi
“Tidak, tidak...pesannya akan terkirim pada hari ulang tahun Kei-chan nanti...”
“Hai, hai...wakarimasu!”
Sempat terlupa, sebentar lagi ulang tahunku yang ke-20. Aku tak akan menjadi teenager lagi. Ulang tahunku...tanpa teman-teman.
Bukankah seorang yang berulang tahun boleh meminta satu permohonan. Kalau begitu, aku akan memohon agar teman-temanku bisa kembali bersamaku.
...namun, aku tak terlalu bodoh untuk meyakini harapan itu akan terwujud...
Di studio tempat kami biasa latihan, aku sudah terbiasa datang lebih awal. Juga saat ini, perasaanku tetap sama seperti sebelumnya. Aku yang datang lebih awal karna pesan dari Kei-chan. Ketika aku bertanya “Kei-chan, apakah hari ini kita ada latihan jam 4 nanti?”, Kei-chan selalu menjawab “Ya”, sekalipun latihan adalah pukul 5.
Aku sendiri, aku yang datang lebih awal. Tak lama lagi Chinen dan Ryutaro akan datang bersamaan dan menyapa “Kami kira, kamilah yang akan datang paling awal...”
Keito yang memasuki ruangan dengan tas gitar di punggungnya. Yang lain pun menyusul dan kesepuluh dari kami berkumpul.
Tapi hari ini, sepi. Sekalipun beberapa trainer datang untuk melatihku mempersiapkan konser, aku masih merasa sepi. Ini tak mudah, aku bukanlah seorang solo-is.
Ketika istirahat, aku mulai memejamkan mataku, keceriaan teman-teman masih terasa di sekitar.
Yama akan memainkan cangkir di mulutnya
Daiki yang berang karna teman-teman yang lain mengganggunya ketika ia mencoba untuk tidur
Chinen akan mendekati Yuya dan berkata “Nii-chan, biarkan aku duduk di pangkuanmu...”, aku tertawa kecil, tanpa kami sadari Chinen sudah tumbuh besar
Dan Kei-chan...dia akan terus mencoba untuk bercanda denganku
[FANFIC] Yabu's Birthday
Title : Undecided
Author : Nu Niimura
Genre : Romance, Angst...seterusnya, ada deh~~
Fandom : Hey! Say! Jump, Johnny’s Entertainment
Disclaimer : I dont own the chara nor the original idea
A/N : Thanks Ima who gave me some ideas XD just wanna wish Yabu a Happy Birthday ~(/> w<)/
Yabu’s POV
Yep, semuanya akan berjalan menyenangkan. Hari ini, aku dan teman-temanku, ng...bandmate ku, semua member Hey! Say! Jump akan terbang kembali ke Tokyo setelah liburan kami yang menyenangkan di Hokkaido.
Saat aku melangkahkan kaki kedalam pesawat, yang kulihat adalah Kei-chan, duduk tenang memandang keluar jendela. Sebuah pemandangan yang indah, aku ingin terus menatapnya.
Mungkin Kei-chan tak akan keberatan kalau aku duduk disampingnya selama perjalan, pikirku
“Inoo-kun, biarkan aku mengambil gambar, untuk entry di amebloku he he he
Ayo senyum...”
Tapi aku kalah cepat, Yuto lebih dahulu menempati kursi kosong disebelah Kei-chan, merangkul bahunya erat dan mereka berdua tersenyum kearah kamera
Yang kupikirkan hanya satu, Kei-chan nampak sangat manis. Tanpa aku sadari, aku sudah duduk diseberang tempat mereka duduk, Kei-chan dan Yuto
“Hmm...kau tidur, Hikaru-kun?”, tanyaku pada Hikaru yang menempati kursi disebelahku
Hikaru tak menjawab, posisi tidur yang aneh, dengan topi yang menutupi wajahnya
“Boo!!”, serunya, mengagetkanku
“Huwaaaaaaaaaaa!!”, bagaimana aku bisa tak terkejut, Hikaru-kun tiba-tiba mengagetkanku, dengan berpura-pura tidur dan memakai topeng (sangat) aneh yang dibelinya di tempat souvenir
“Aku berhasil! Yabu ketakutan! Ha ha ha ha !”, Hikaru terbahak, tak lama kemudian disusul dengan suara tawa anggota Jump lainnya
“Kenapa tertawa?! Aku bukan ketakutan, hanya terkejut karna topeng anehmu itu!”
“Ha ha ha ha”, Hikaru tak juga berhenti
Namun Kei-chan, dia hanya tersenyum, bersama Yuto. Keduanya sejak tadi asyik melihat file-file di digicam yang dipegang Yuto. Mungkin Yuto sempat mengambil beberapa gambar lagi bersama Kei-chan saat aku tak meperhatikan. Senyuman Kei-chan begitu manis, tapi entah kenapa aku tak bisa menyukai senyumnya saat itu, senyuman saat bersama orang lain.
Aku cemburu? Entahlah...
Kami sudah terbang cukup lama, semuanya berjalan lancar. Kei-chan masih saja bercanda dengan Yuto dan Hikaru masih berusaha mengusiliku. Member Jump yang lain pun asyik dengan yang mereka kerjakan. Yamada yang berlagak bak pramugari, bahkan Daiki yang memilih untuk tidur dengan earphone masih terpasang di kedua telinganya.
“Wanna taste some snack?”, Hikaru menyodorkan satu sack besar keripik kentang padaku
“Apa-apaan bahasamu itu, asal-asalan sekali...”, balasku
“Jangan begitu, aku hanya melatihmu kalau suatu hari kau duduk bersama orang amerika di pesawat”
“Kalau begitu, aku akan pilih tempat duduk bersama orang kansai saja...”
“Terserahlah...tak mau cicipi?”, tawar Hikaru
“Ngg...”, aku hanya menatap curiga, memikirkan kejahilan apa lagi yang akan dilakukan oleh Hikaru. Kupikir, saat ini mood jahilnya sedang tinggi “Tidak, terimakasih...”, ucapku akhirnya
Sesaat, kupikir Kei-chan melihat kearahku, tapi aku berusaha tak memperhatikannya
“Ko-chan...”, panggilnya
“Ng, hai?”, balasku
“Ano, Yuto-kun...bisakah kita bertukar tempat duduk sebentar?”, pinta Kei-chan pada Yuto
“Ah, sou desu...” dan mereka bertukar tempat duduk, hingga tempatku dan Kei-chan hanya terpisah oleh jalan diantara tempat duduk (bleh, gabisa nyusun bahasanya =_________= )
“Aku tak melihat melihat Ko-chan menikmati penerbangan seperti yang lainnya, Ko-chan tak akan mabuk udara, kan?”, tanya Kei-chan, sorot matanya begitu ramah dan bersahabat menatapku
“N, nan demo nai...”, aku tak tahu harus menjawab apa, tak mengira kalau sejak tadi dia memperhatikanku
“Ini, untuk Ko-chan, minumlah...”, tersenyum, Kei-chan memberikan sebuah cup minuman untukku
“Un, arigatou...”, ucapku ketika menerima pemberian dari Kei-chan
Setelah itu, Kei-chan memasang earphone ditelinganya, bersandar relax pada sandaran kursi pesawat, nampaknya ia hendak tidur
Sekali lagi, Kei-chan melihat kearahku sesaat dan tersenyum, aku hanya bisa membalas senyumannya. Aku mulai menyedot minuman yang diberikan Kei-chan ketika ia mulai menutup mata, begitu tenang.
“Anata ga suki desu...
..tottemo suki desu...”
Aku ingin menyampaikan perasaanku pada Kei-chan, memintanya untuk jadi milikku walaupun sepertinya itu mustahil. Aku akan memberi tahu Kei-chan, ketika kami sampai di Tokyo.
“Uhh...”, aku menahan untuk tidak tertawa, mentertawakan betapa konyolnya pemikiranku sendiri
“Kei-chan...aku menyukaimu...
sejak pertama kali aku melihatmu di JJ Express”
Semakin lama, mataku semakin terasa berat. Saat kulihat Kei-chan disampingku, Kei-chan masih memejamkan matanya, mungkin ia sudah terlelap. Bibirnya menampakkan sebuh senyuman kecil, sepertinya ia bermimpi indah
“Selamat tidur, Kei-chan...”
Author : Nu Niimura
Genre : Romance, Angst...seterusnya, ada deh~~
Fandom : Hey! Say! Jump, Johnny’s Entertainment
Disclaimer : I dont own the chara nor the original idea
A/N : Thanks Ima who gave me some ideas XD just wanna wish Yabu a Happy Birthday ~(/> w<)/
Yabu’s POV
Yep, semuanya akan berjalan menyenangkan. Hari ini, aku dan teman-temanku, ng...bandmate ku, semua member Hey! Say! Jump akan terbang kembali ke Tokyo setelah liburan kami yang menyenangkan di Hokkaido.
Saat aku melangkahkan kaki kedalam pesawat, yang kulihat adalah Kei-chan, duduk tenang memandang keluar jendela. Sebuah pemandangan yang indah, aku ingin terus menatapnya.
Mungkin Kei-chan tak akan keberatan kalau aku duduk disampingnya selama perjalan, pikirku
“Inoo-kun, biarkan aku mengambil gambar, untuk entry di amebloku he he he
Ayo senyum...”
Tapi aku kalah cepat, Yuto lebih dahulu menempati kursi kosong disebelah Kei-chan, merangkul bahunya erat dan mereka berdua tersenyum kearah kamera
Yang kupikirkan hanya satu, Kei-chan nampak sangat manis. Tanpa aku sadari, aku sudah duduk diseberang tempat mereka duduk, Kei-chan dan Yuto
“Hmm...kau tidur, Hikaru-kun?”, tanyaku pada Hikaru yang menempati kursi disebelahku
Hikaru tak menjawab, posisi tidur yang aneh, dengan topi yang menutupi wajahnya
“Boo!!”, serunya, mengagetkanku
“Huwaaaaaaaaaaa!!”, bagaimana aku bisa tak terkejut, Hikaru-kun tiba-tiba mengagetkanku, dengan berpura-pura tidur dan memakai topeng (sangat) aneh yang dibelinya di tempat souvenir
“Aku berhasil! Yabu ketakutan! Ha ha ha ha !”, Hikaru terbahak, tak lama kemudian disusul dengan suara tawa anggota Jump lainnya
“Kenapa tertawa?! Aku bukan ketakutan, hanya terkejut karna topeng anehmu itu!”
“Ha ha ha ha”, Hikaru tak juga berhenti
Namun Kei-chan, dia hanya tersenyum, bersama Yuto. Keduanya sejak tadi asyik melihat file-file di digicam yang dipegang Yuto. Mungkin Yuto sempat mengambil beberapa gambar lagi bersama Kei-chan saat aku tak meperhatikan. Senyuman Kei-chan begitu manis, tapi entah kenapa aku tak bisa menyukai senyumnya saat itu, senyuman saat bersama orang lain.
Aku cemburu? Entahlah...
Kami sudah terbang cukup lama, semuanya berjalan lancar. Kei-chan masih saja bercanda dengan Yuto dan Hikaru masih berusaha mengusiliku. Member Jump yang lain pun asyik dengan yang mereka kerjakan. Yamada yang berlagak bak pramugari, bahkan Daiki yang memilih untuk tidur dengan earphone masih terpasang di kedua telinganya.
“Wanna taste some snack?”, Hikaru menyodorkan satu sack besar keripik kentang padaku
“Apa-apaan bahasamu itu, asal-asalan sekali...”, balasku
“Jangan begitu, aku hanya melatihmu kalau suatu hari kau duduk bersama orang amerika di pesawat”
“Kalau begitu, aku akan pilih tempat duduk bersama orang kansai saja...”
“Terserahlah...tak mau cicipi?”, tawar Hikaru
“Ngg...”, aku hanya menatap curiga, memikirkan kejahilan apa lagi yang akan dilakukan oleh Hikaru. Kupikir, saat ini mood jahilnya sedang tinggi “Tidak, terimakasih...”, ucapku akhirnya
Sesaat, kupikir Kei-chan melihat kearahku, tapi aku berusaha tak memperhatikannya
“Ko-chan...”, panggilnya
“Ng, hai?”, balasku
“Ano, Yuto-kun...bisakah kita bertukar tempat duduk sebentar?”, pinta Kei-chan pada Yuto
“Ah, sou desu...” dan mereka bertukar tempat duduk, hingga tempatku dan Kei-chan hanya terpisah oleh jalan diantara tempat duduk (bleh, gabisa nyusun bahasanya =_________= )
“Aku tak melihat melihat Ko-chan menikmati penerbangan seperti yang lainnya, Ko-chan tak akan mabuk udara, kan?”, tanya Kei-chan, sorot matanya begitu ramah dan bersahabat menatapku
“N, nan demo nai...”, aku tak tahu harus menjawab apa, tak mengira kalau sejak tadi dia memperhatikanku
“Ini, untuk Ko-chan, minumlah...”, tersenyum, Kei-chan memberikan sebuah cup minuman untukku
“Un, arigatou...”, ucapku ketika menerima pemberian dari Kei-chan
Setelah itu, Kei-chan memasang earphone ditelinganya, bersandar relax pada sandaran kursi pesawat, nampaknya ia hendak tidur
Sekali lagi, Kei-chan melihat kearahku sesaat dan tersenyum, aku hanya bisa membalas senyumannya. Aku mulai menyedot minuman yang diberikan Kei-chan ketika ia mulai menutup mata, begitu tenang.
“Anata ga suki desu...
..tottemo suki desu...”
Aku ingin menyampaikan perasaanku pada Kei-chan, memintanya untuk jadi milikku walaupun sepertinya itu mustahil. Aku akan memberi tahu Kei-chan, ketika kami sampai di Tokyo.
“Uhh...”, aku menahan untuk tidak tertawa, mentertawakan betapa konyolnya pemikiranku sendiri
“Kei-chan...aku menyukaimu...
sejak pertama kali aku melihatmu di JJ Express”
Semakin lama, mataku semakin terasa berat. Saat kulihat Kei-chan disampingku, Kei-chan masih memejamkan matanya, mungkin ia sudah terlelap. Bibirnya menampakkan sebuh senyuman kecil, sepertinya ia bermimpi indah
“Selamat tidur, Kei-chan...”
happy b'day KOTA YABU

HAPPY B'DAY YABUCCHIE
lol
gak kerasa dia udah kepala 2
member yang lain masih kepala 1
*udah bisa di panggil om" donk..*
----------------------------------------------------------
btw,,
napa blog ni jadi bulukan???
*baru nyadar pas di kasih tau bunda,,
dan parah'y Q lupa email'y...*
hiksss
ayo isi yang rame nih blog'y
lol
gak kerasa dia udah kepala 2
member yang lain masih kepala 1
*udah bisa di panggil om" donk..*
----------------------------------------------------------
btw,,
napa blog ni jadi bulukan???
*baru nyadar pas di kasih tau bunda,,
dan parah'y Q lupa email'y...*
hiksss
ayo isi yang rame nih blog'y
Rabu, 02 Desember 2009
[Fanfic] Accidentally In Love (chapter 5)
Title : Accidentaly In Love
Chapter : Five
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~
“Ng, Arioka…”
“Daiki saja”, timpa Daiki sebelum Nu menyelesaikan kata-katanya
“Arioka”, ucap Nu dengan nada datar “..aku ingin mandi sebentar, kau boleh disini kalau masih ingin menunggu hujan reda”
“Iya, aku akan menunggu Nuchan disini. Boleh aku melihat-lihat koleksi DVD milik Nuchan ?”, tanya Daiki sambil tersenyum
“Terserah”, hanya sesaat Nu mengarahkan tatapan dinginnya pada Daiki dan kemudian meninggalkan kamarnya
Di kamar mandi itu. Tempat Nu biasa merendam tubuh lelahnya dalam sebuah bathtub kecil.
Sendirian
Kamar mandi yang sama, bathtub yang sama, suara gemericik air yang sama, dengan pemandangan sebuah tirai yang sama dan aroma sabun mandi yang juga sama…beberapa hari lalu, Nu masih menghabiskan waktu berendamnya bersama Kyo.
“Hh…”, Nu menghembuskan nafas berat, meyibakkan rambut ke belakang telinga kirinya
Piercing-piercing itu, sama dengan yang Kyo miliki
Dan sekarang, Nu hanya bisa merasakan dingin material bathtub mengenai punggungnya. Tak ada tubuh hangat Kyo tempat ia biasa bersandar. Nu merasa dadanya sesak, menyadari sekarang dirinya benar-benar sendirian.
“Kyo-san, sedang apa kau sekarang…? Aku harap kau tidak tertidur saat berendam di kamar mandi…”, Nu bergumam lirih seraya tangannya meraih sebuah kotak bertuliskan Phillip Morris yang berada tak jauh dari bathtub bersama sebuah pemantik kecil
Nu mengeluarkan sebatang isi kotak itu, meletakkan salah satu ujungnya dibibirnya dan menyalakan pematik di ujung lainnya.
Menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Aroma Phillip Morris, Nu sangat terbiasa, aroma itulah yang biasa dihirupnya ketika bersama dengan Kyo, kini berubah sangat menyesakkan.
“Uhuk, uhuk”, tak lama, perasaan tak enak itu menyerang Nu, kerongkongannya terasa sakit
“Kyo-san…”, Nu memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya. Rokok pertama yang dihisapnya, terasa sangat buruk.
Daiki menatap keluar jendela, hujan masih turun dengan sangat deras. “Nuchan lama…”, gumamnya ketika meletakkan kepalanya dibantal
“Tempat tidur Nuchan nyaman…”, Daiki merasakan semakin lama matanya semakin berat
Nu menemukan Daiki terlelap ditempat tidurnya. Sesaat tatapannya terpaku pada wajah tidur Daiki yang begitu inoccent dan kemudian membentangkan selimut untuk Daiki.
DVD bertuliskan “The Rose Trims Again” masih tergeletak di lantai, Nu kemudian mengambilnya dan memasukkan ke dalam player.
Langit diluar telah berubah gelap. Ketika Daiki membuka matanya, ia melihat Nu, duduk menatap layar tv. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dilihat oleh Nu, tapi yang bisa ia pastikan, bahwa Nu sedang terisak.
Daiki beranjak dari tempat tidur Nu, dirasakan ia sudah diselimuti, karena bdannya tak terasa dingin lagi.
“Nuchan...”, panggil Daiki pelan, namun Nu tidak bergeming, hanya menatap layar tv. “Doushita no?”, tanya Daiki lagi, kini ia duduk disebelah Nu yang berlinang air mata.
Nu menggeleng, ia benci dilihat orang lain ketika ia sedang menangis, “Sudahlah Arioka-san...aku tak apa – apa....”, seketika Nu menghapus air matanya dengan sembarangan.
“Kau tidak baik – baik saja...”, jawab Daiki kesal karena Nu masih ingin terlihat kuat.
“Aku baik – baik saja...”, bantah Nu.
“Kalau begitu tersenyum...bukankah kau tidak apa – apa?”
Nu tak mengerti kenapa cowok yang kini duduk disebelahnya itu selalu saja ikut campur urusannya. Nu menoleh untuk memarahi Daiki, saat yang sama Daiki menatap Nu, jarak mereka terlalu dekat. Tanpa aba – aba, Daiki menyentuhkan bibirnya pada bibir Nu, mengecupnya pelan.
Mata Nu masih terbelalak, akan apa yang dilakukan Daiki. Tapi hal itu, dan juga kata-kata Daiki tentang membuatnya tersenyum, justru membuatnya semakin ingin menangis.
“A, ah..Nuchan tidak suka, ya? Ma, maafkan aku, tapi tolong berhenti menangis…”, ucap Daiki dengan nada sedikit panik.
Tak juga Nu berhenti menangis. Karna dalam pikirnya, alasannya untuk tersenyum hanyalah Kyo.
-----------------
“Terima kasih”, ujar Din singkat ketika menerima secangkir coklat panas dari tangan Yuya
“Tak mau bilang terima kasih juga tak masalah”, Yuya duduk di sofa yang berhadapan dengan Din, sesekali menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk
“Uh, terserah, deh…”, Din yang merasa sedang malas berdebat menyeruput coklat yang ada di tangannya, perlahan
“Ng, Dinchan…ternyata kamu cocok juga pakai bajuku”, Yuya melirik kearah Din dengan disertai senyum yang sedikit mengejek
Memang, karna bajunya yang basah, Din terpaksa harus mengganti bajunya. Dan dengan terpaksa, ia harus memakai baju milik Yuya yang memiliki ukuran tak jauh dengan ukurannya
“Diam, orang bodoh tak berhak berkomentar”, Din cemberut
“Heeeeh!”, dengan cepat Yuya beralih duduk kesebelah Din “Apanyaaa?! Aku tak mau dikatai bodoh sama orang bodoh yang bisanya cuma bilang orang lain ‘bodoh’, tapi tak pernah menyadari kalau sebenarnya dirinya sendiri yang bodoh…!”, Yuya dengan gemas menggoyang handuk di kepala Din, cukup keras hingga membuat Din berontak
“Yuya bodoooooooooh! Coklatnya tumpah!!”
Kontan, Yuya merubah posisinya sedikit menjauh
“Lihat. Jadi ketahuan, kan…yang sebenarnya bodoh itu siapa?!”, Dinchan menatap Yuya dengan membelalakkan matanya, sambil menunjuk kaos putih milik Yuya yang dipakainya namun sekarang dengan keadaan berlumur noda coklat
“Ah, ma…”, ucap Yuya tercekat “Sudah, sudah, cepat bersihkan dirimu, karna mungkin akan jadi lengket…”
“Ugh…!”, ujar Din agak kesal dan melempar handuk yang barusn dipakainya tepat ke wajah Yuya kemudian meninggalkan Yuya menuju kamar mandi
“Ugh juga”, Yuya hanya terdiam, tak bisa membalas
Din berjalan menuju kamar mandi keluarga Takaki, melalui beberapa ruangan yang salah satu diantaranya adalah kamar Jin.
Perasaan Din berbunga, melihat pintu kamar Jin sedikit terbuka, menandakan Jin sedang ada di dalam.
Senyum simpul terkembang di wajah Din, melihat punggung Jin terlihat dari luar walaupun hanya samar.
“Jin, tolong dengarkan aku! Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sungguh-sungguh, sedangkan kau sama sekali tak mau memberiku kesempatan untuk menjelaskan!”
mata Din terbelalak, melihat seorang gadis seusia Jin beradu mulut dengan laki-laki yang disukainya itu
“Sudahlah, Naomi..aku hanya…”, Jin nampak enggan melanjutkan kata-katanya
Gadis yang disebut Naomi itu mendekat, begitu dekat dengan Jin “Gomen ne…”, seraya Naomi memberikan sebuah kecupan lembut di bibir Jin
“..aku hanya cemburu…”, dan Jin membalas ciuman Naomi, kemudian menarik gadis itu berbaring di tempat tidurnya
Din tak bisa menahan air matanya, namun hanya bisa menangis tanpa suara.
“Benar, jadi ketahuan yang bodoh itu siapa…”, dengan suara yang sepelan mungkin, Yuya perlahan menutup pintu kamar Jin dari belakang Din yang masih berdiri terpaku
Air mata Din terus mengalir, sama sekali tak bisa berbalik ke belakang
“Tak masalah, kok...kalau aku meminjamkan bahuku sebentar”
“Yuya bodoh, bahumu terlalu tinggi…”, Din berbalik, membenamkan wajahnya di dada Yuya, terisak
Perlahan, tangan Yuya mendekap tubuh Din yang tampak rapuh itu, seraya berbisik, “Sebodoh apapun aku, aku tak akan membuatmu menangis seperti ini…”, Yuya berucap lirih, bahkan mungkin Din tak akan bisa mendengarnya.
-----------------------
Miyuy sibuk dengan ponselnya seharian ini. Py hanya memperhatikannya dengan sedikit bingung.
“Miyuy..kau baik – baik saja?”, tanya Py ketika melihat Miyuy tersenyum sendirian.
Miyuy terhenyak, tak sangka Py memerhatikannya, “Ah...aku baik – baik saja..hehehe..”, serunya salting karena ketahuan Py.
“Tadi aku bertanya, kau mau ikut ke kantin tidak?”, tanya Py lagi.
“Gomen..aku tak mendengarnya...”, Miyuy tersenyum, “Kau duluan aja..ne? nanti aku nyusul..”, jawab Miyuy.
Py melangkah sendirian membawa buku sketsanya seperti biasa. Ia benci sendirian. Tapi Din tampak sedang bad mood, dan segera menghilang ke Perpus. Opi dan Nu jarang ke kantin, dan menuju taman ketika istirahat. Ia tak suka perasaan sendirian seperti ini.
“Py py!!!”, teriak seseorang dari belakang.
Py berbalik dan mendapati seorang Hikaru menyapanya dengan senyum lebarnya, gigi gingsulnya tampak pula.
“Hikaru-kun?”, seru Py kaget.
“Mau kemana nona semanis kau berjalan sendirian?”, godanya pada Py.
Wajah Py kontan memerah, “Kantin...”, jawab Py sedikit berbisik.
“Kau sendirian? Mana teman – temanmu?”, tanya Hikaru melihat sekeliling Py.
Py menggeleng, “Mereka sedang sibuk...Hikaru juga sendirian..ne?”
Hikaru tersenyum, “Mereka juga sedang sibuk. Sepertinya kita senasib...jadi..tuan putri...mau ke kantin bersamaku?”, tanya Hikaru ceria.
Py merasakan pipinya makin terbakar karena kata – kata Hikaru. Mereka pun ke kantin sekolah bersama. Hikaru memang teman yang menyenangkan. Py sendiri merasakan ia selalu senang jika berada dekat dengan Hikaru. Py tak cukup berpengalaman dengan cowok manapun. Sifat pemalunya membuat ia susah untuk bergaul dengan cowok. Tapi apakah Hikaru suka padanya? Kenapa Hikaru begitu manis padanya? Untuk berharap pun Py tidak berani.
--------------
Inoo melangkah gamang. Bingung karena dirinya sudah setahun tidak menginjak ke SMA. Rasanya asing walaupun seharusnya ia juga berada disini. Sayangnya ia sudah lulus tahun kemarin.
Sebuah bungkusan ada di tangannya. Sebuah sepatu basket, milik Opi. Inoo memang seharusnya tidak memberi les hari ini. Tapi karena ada urusan, Inoo ke rumah keluarga Opi, ternyata sepatu basket milik Opi tertinggal, dan ibunya meminta Inoo ke SMA untuk sekedar memberikan sepatu itu. Kebetulan apartemennya satu jalur dengan SMA tempat Opi sekolah.
Sekolah sudah lengang, tentu saja karena jam pulang sekolah sudah lewat. Inoo diberi nomer telepon Opi, ia mendialnya, tak lama telepon itu diangkat.
“Moshi – moshi?”, angkat Opi.
“Moshi – moshi..Opi-chan? Inoo desu...”, jelas Inoo.
“Eh?? Inoo?? Ada apa?”
“Kau dimana? Aku membawakan sepatu basketmu..tadi kau meminta Yuuri yang kesini kan? Kebetulan apartemenku searah dengan SMA mu..maka aku yang membawakannya.”, jelas Inoo panjang lebar.
Opi masih shock mendengar suara Inoo di ponselnya, segera tersadar ketika Nu menyenggol tangannya.
“Ah!! Sokka...kau tunggu di gym saja..aku segera kesana.”, Opi segera menutup teleponnya.
“Siapa?”, tanya Nu.
“Inoo Kei...aku harus ke gym!!”, seru Opi mengambil tasnya.
Nu hanya mengangkat bahu dan meninggalkan kelas.
Sementara itu Inoo sedikit kesulitan menemukan dimana Gym berada. Ia berjalan menyusuri koridor, pendengarannya menangkap melodi – melodi yang dirasanya sangat familiar. Inoo terus berjalan ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari ruang kesenian.
Melodi itu, permainan piano seorang siswi.
Tenang dan anggun.
Ketika melihat sosok itu dari belakang, Inoo segera dapat mengenali, lagu kesukaannya sejak ia bisa memainkan piano, dan juga pemain dari lagu itu.
Inoo terdiam sebentar, berusaha tak terlihat terlalu kaget, “Aya-chan?”, panggil Inoo lirih.
Gadis yang dipanggil Aya-chan itu tampaknya sadar bahwa ia sekarang tidak sendirian di ruangan itu, berbalik untuk melihat siapa yang datang.
“Eh?!! Kei-chaaaann?”, serunya takjub.
“Jadi...kenapa kau kesini? Mencariku? Hihihi..”, kikik Ayame ketika akhirnya Ayame mengantar Kei ke gym.
Inoo tertunduk, “Tidak..aku hanya mengantarkan sepatu basket ini...Aya-chan..genki da ne?”
Ayame mengangguk, “Un!! Genki desu!! Kei-chan wa? Suasana tempat les tidak semenyenangkan saat Kei-chan disana..”, jelas Ayame sambil cemberut.
Inoo menatap Ayame. Itu masih Ayame yang dulu, Ayame yang ia kenal. Ayame adalah teman les pianonya, tepatnya mereka seharusnya seangkatan. Namun seperti diketahui, Inoo mengikuti akselerasi. Inoo dan Ayame dulu selalu bersama. Ayame yang manja selalu dilindungi oleh Inoo.
“Aya-chan...masih les piano?”, tanya Inoo lagi.
Ayame beranjak dan mengambil sebuah bola basket, “Masih...kita akan adakan konser...Kei-chan ikut saja..aku selalu tak sinkron dengan pemain lain...partnerku yang terbaik hanya Kei-chan...”, kata Ayame lalu melemparkan bola basket itu, tapi ia bukan pro sehingga sama sekali tak menyentuh ringnya, “Itaai~”, keluh Ayame tiba - tiba.
Inoo secara refleks melemparkan bungkusan sepatu basket Opi dan berlari menuju Ayame.
“Daijoubu?”, tanya Inoo meraih tangan Ayame.
Ayame menggeleng, “Hanya sedikit terlipat tadi..hehehe, Kei-chan terlalu mengkhawatirkan aku..”, katanya lalu tersenyum.
Inoo mengacak pelan rambut Ayame, “Baka!! Tanganmu itu lebih berharga dari bola basket manapun..mengerti?!”
Ayame mengagguk, “Mengerti..aku mengerti Kei-chan...”
Inoo tersenyum, kembali memeriksa tangan Ayame.
Dada Opi terasa sesak. Oke...dia datang disaat yang tidak tepat. Opi tak akan se shock ini jika ia tak melihat senyum Inoo. Senyumnya berbeda dari biasanya. Dengan sekali lihat pun ia tahu, Ayame adalah orang yang berharga untuk Inoo. Mereka terlihat terlalu sempurna berdampingan. Tidak ada yang tidak kenal Sakurazawa Ayame. Cewek yang sekarang menjabat sekertaris OSIS itu dikenal sebagai pianis handal, dia juga kaya, cantik dan anggun.
‘Aya-chan? Kei-chan?’ mereka sudah dekat, itu pasti. Pandangan Inoo yang melindunginya, senyum hangatnya...bukan untuk dirinya. Dadanya seakan ingin meledak, untuk pertama kali ia merasa tak punya kekuatan apapun. Entah kenapa buatnya menangis itu ada dalam kamus seorang Opi.
“Sial!!”, bentaknya pelan pada dirinya sendiri, “Dia bukan siapa – siapaku!! Tapi kenapa rasanya tak rela melihatnya dengan orang lain..”, air matanya kembali mengalir.
--------------
From: Yabu-kun
Subject: Morning
Ohayou~ apakah aku mengganggumu terlalu pagi?
*laugh* hope you’ll ok...^^
To: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Ohayou~
Aku sudah bangun dari tadi Yabu-kun...
dan aku baik – baik saja...*smile*
ketemu di sekolah..ne?
From: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Yup..ketemu di sekolah...
Cuaca hari ini cerah sekali..
(image 12)
--kireii na sora—
To: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Gambar langit yang indah sekali..
Kau mengambilnya dari jendela kamarmu?
(image 13)
---sora from my window---
From: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Aku mengambilnya dari jendela kamarku..
*smile* aku akan membalasmu nanti...
Sepertinya ibuku sudah mulai cerewet,,
Ne?
Miyuy menutup slide Ponselnya. Tersenyum sendiri pada layar Ponselnya yang menunjukkan langit sore hari dari jendela kelas Yabu, foto itu Yabu kirimkan kemarin sore. Miyuy dan Yabu sudah sering saling mengirimkan mail sejak mereka terjebak di sekolah tempo hari. Sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat. Setidaknya itulah yang Miyuy rasakan.
Miyuy memantapkan langkahnya. Hari ini ia membawakan bekal untuk Yabu. Ini surprise, ia sendiri hanya ingin memperlihatkan hasil masakannya pada Yabu. Tapi Miyuy tak ingin pergi sendiri, ia melirik ke semua temannya yang sedang tidak bersemangat.
Din hanya tertunduk, menatap layar ponselnya dengan sedih. Nu sedikit terlihat bingung sejak kemarin. Bahkan seorang Opi matanya terlihat bengkak, apa ia menangis? Seorang Opi??!!
Miyuy menatap Py yang tampak sibuk dengan sketsanya.
“Py...maukah kau mengantarku?”, tanya Miyuy takut mengganggu Py yang sedang menggambar.
Py menatap Miyuy dan mengangguk, “Baiklah...”
“Mereka kenapa ya?”, tanya Miyuy pada Py.
Py menggeleng, “Aku tak tahu, kenapa mereka terlihat seperti habis menangis ya? Bahkan Opi juga begitu...”
Tak terasa mereka sudah ada di depan kelas Yabu. Py bingung kenapa mereka kesana.
“Miyuy...apa yang akan kita lakukan?”, tanya Py bingung.
Miyuy menunjukkan sebuah bungkusan bento yang cantik. “Aku mau memberikan ini..”, kata Miyuy tersipu.
“Untuk Kota-kun?”, tanya Py.
Miyuy mengagguk
“Wah....Miyuy ternyata sudah dekat dengan Kota-kun ya?”
“Begitulah..”, jawab Miyuy tersipu lagi.
Miyuy membuka slide Ponselnya.
To: Yabu-kun
Subject:
Yabu-kun..aku diluar kelasmu...
Bisakah keluar sebentar...
^^
Yabu kaget menerima pesan dari Miyuy. Apa yang Miyuy lakukan di luar kelasnya?
“Anou...Miyuy...Aku pergi ke toilet sebentar ya?”, pamit Py tiba – tiba.
Miyuy hanya mengagguk karena saat itu Yabu keluar dari kelasnya.
“Miyuy..doushita no?”, tanya Yabu bingung.
Miyuy menyerahkan kotak bento nya, “Ini...untuk Yabu-kun...”, ujarnya malu – malu.
Yabu tersenyum. Mengambil bungkusan di tangan Miyuy. “Arigatou na...Miyuy-chan...”, katanya lalu tersenyum.
Py baru saja keluar dari kamar mandi, ketika mendapati seorang Hikaru sedang di koridor.
Jantungnya seketika itu seakan berdetak lebih cepat.
“Betulkah nona manis? Hahahaha..”, tawa Hikaru begitu keras sehingga Py bisa mendengarnya.
Nona manis? Hmmm...Py memberanikan diri untuk mengintip sedikit apa yang terjadi. Hikaru memang populer diantara gadis – gadis, tapi Py tak menyangka Hikaru memang baik pada semua gadis. Lalu kenapa ia merasa special kemarin? Dia hanya berangan tentang Hikaru baik padanya, Hikaru menyukainya itu hanya ada dalam pikirannya.
Py seketika itu berlari ke atap sekolah, menangis tanpa suara, kecewa terhadap dirinya sendiri. Ia hanya terlalu banyak berkhayal, ia harusnya tidak berfikiran bahwa seorang Hikaru bisa menyukainya.
Terisak
Hatinya sakit tanpa ia sadari, ia benar – benar menyukai Hikaru.
Miyuy mengejar Py yang tadi berlari ke atap.
“Py...daijoubu?”
Py hanya terus terisak.
“Hahahaha....”, terdengar tawa dari beberapa orang.
Miyuy merapatkan diri dengan Py dibalik sebuah tembok, berharap tidak dilihat.
“Sudahlah Yabu..tak perlu menutupinya lagi...kau punya pacar kan?”, tanya seseorang.
Miyuy mendongak, dan menemukan Yabu, Hikaru, Taiyou dan Shoon disana.
“Benarkah?”, tanya Hikaru yang sejak tadi tidak ada di kelas.
“Iya benar..bahkan ia diberi bento...kau pacaran dengan Miyuy itu kan? Dia anak kelas B kan?”, kata Shoon tertawa.
“Chigau yo!!!”, bantah Yabu, “Aku tidak ada hubungan apa – apa dengan gadis itu!!”, katanya tersipu.
“Tapi kau suka padanya kan?”, tuduh Taiyou dengan sedikit memaksa.
“Chigau!! Aku tak menyukainya...”, bantah Yabu lagi.
Kini giliran Miyuy yang menangis. Entah apa yang Yabu pikirkan? Jadi ia hanya bermain – main dengan semua mail yang sudah dia kirimkan? Atau bagaimana? Miyuy bingung, dan memeluk Py yang juga masih terisak.
Siang itu begitu menyakitkan bagi mereka berdua.
TBC~
N.B: Saia dan anak saia kembaliiiiiiii~ wakakakak...gomen telat banget....qta berdua mengalami ke ngestagan *bahasa apa ini* tingkat tinggi...jadi males nulis...
ini sekalian ultah hika deh...
hika..otanjoobi omedetou~
hahahahaha...
^^
silahkan dibaca..semoga chap selanjutnya lancar, cuma berjarak seminggu ato 2 minggu...
~dinchan to nuchan ryori~
Chapter : Five
Author : Din Tegoshi & Nu Niimura
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Miyabu,HikkaPy,TakaDin,Inoopi,Dainu *XD* aneh bgdh…
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Jin belong to JE. I don’t own them...Comments are LOVE minna~
Accidentally In Love
~Chapter Five~
~Chapter Five~
“Ng, Arioka…”
“Daiki saja”, timpa Daiki sebelum Nu menyelesaikan kata-katanya
“Arioka”, ucap Nu dengan nada datar “..aku ingin mandi sebentar, kau boleh disini kalau masih ingin menunggu hujan reda”
“Iya, aku akan menunggu Nuchan disini. Boleh aku melihat-lihat koleksi DVD milik Nuchan ?”, tanya Daiki sambil tersenyum
“Terserah”, hanya sesaat Nu mengarahkan tatapan dinginnya pada Daiki dan kemudian meninggalkan kamarnya
Di kamar mandi itu. Tempat Nu biasa merendam tubuh lelahnya dalam sebuah bathtub kecil.
Sendirian
Kamar mandi yang sama, bathtub yang sama, suara gemericik air yang sama, dengan pemandangan sebuah tirai yang sama dan aroma sabun mandi yang juga sama…beberapa hari lalu, Nu masih menghabiskan waktu berendamnya bersama Kyo.
“Hh…”, Nu menghembuskan nafas berat, meyibakkan rambut ke belakang telinga kirinya
Piercing-piercing itu, sama dengan yang Kyo miliki
Dan sekarang, Nu hanya bisa merasakan dingin material bathtub mengenai punggungnya. Tak ada tubuh hangat Kyo tempat ia biasa bersandar. Nu merasa dadanya sesak, menyadari sekarang dirinya benar-benar sendirian.
“Kyo-san, sedang apa kau sekarang…? Aku harap kau tidak tertidur saat berendam di kamar mandi…”, Nu bergumam lirih seraya tangannya meraih sebuah kotak bertuliskan Phillip Morris yang berada tak jauh dari bathtub bersama sebuah pemantik kecil
Nu mengeluarkan sebatang isi kotak itu, meletakkan salah satu ujungnya dibibirnya dan menyalakan pematik di ujung lainnya.
Menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Aroma Phillip Morris, Nu sangat terbiasa, aroma itulah yang biasa dihirupnya ketika bersama dengan Kyo, kini berubah sangat menyesakkan.
“Uhuk, uhuk”, tak lama, perasaan tak enak itu menyerang Nu, kerongkongannya terasa sakit
“Kyo-san…”, Nu memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya. Rokok pertama yang dihisapnya, terasa sangat buruk.
Daiki menatap keluar jendela, hujan masih turun dengan sangat deras. “Nuchan lama…”, gumamnya ketika meletakkan kepalanya dibantal
“Tempat tidur Nuchan nyaman…”, Daiki merasakan semakin lama matanya semakin berat
Nu menemukan Daiki terlelap ditempat tidurnya. Sesaat tatapannya terpaku pada wajah tidur Daiki yang begitu inoccent dan kemudian membentangkan selimut untuk Daiki.
DVD bertuliskan “The Rose Trims Again” masih tergeletak di lantai, Nu kemudian mengambilnya dan memasukkan ke dalam player.
Langit diluar telah berubah gelap. Ketika Daiki membuka matanya, ia melihat Nu, duduk menatap layar tv. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dilihat oleh Nu, tapi yang bisa ia pastikan, bahwa Nu sedang terisak.
Daiki beranjak dari tempat tidur Nu, dirasakan ia sudah diselimuti, karena bdannya tak terasa dingin lagi.
“Nuchan...”, panggil Daiki pelan, namun Nu tidak bergeming, hanya menatap layar tv. “Doushita no?”, tanya Daiki lagi, kini ia duduk disebelah Nu yang berlinang air mata.
Nu menggeleng, ia benci dilihat orang lain ketika ia sedang menangis, “Sudahlah Arioka-san...aku tak apa – apa....”, seketika Nu menghapus air matanya dengan sembarangan.
“Kau tidak baik – baik saja...”, jawab Daiki kesal karena Nu masih ingin terlihat kuat.
“Aku baik – baik saja...”, bantah Nu.
“Kalau begitu tersenyum...bukankah kau tidak apa – apa?”
Nu tak mengerti kenapa cowok yang kini duduk disebelahnya itu selalu saja ikut campur urusannya. Nu menoleh untuk memarahi Daiki, saat yang sama Daiki menatap Nu, jarak mereka terlalu dekat. Tanpa aba – aba, Daiki menyentuhkan bibirnya pada bibir Nu, mengecupnya pelan.
Mata Nu masih terbelalak, akan apa yang dilakukan Daiki. Tapi hal itu, dan juga kata-kata Daiki tentang membuatnya tersenyum, justru membuatnya semakin ingin menangis.
“A, ah..Nuchan tidak suka, ya? Ma, maafkan aku, tapi tolong berhenti menangis…”, ucap Daiki dengan nada sedikit panik.
Tak juga Nu berhenti menangis. Karna dalam pikirnya, alasannya untuk tersenyum hanyalah Kyo.
-----------------
“Terima kasih”, ujar Din singkat ketika menerima secangkir coklat panas dari tangan Yuya
“Tak mau bilang terima kasih juga tak masalah”, Yuya duduk di sofa yang berhadapan dengan Din, sesekali menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk
“Uh, terserah, deh…”, Din yang merasa sedang malas berdebat menyeruput coklat yang ada di tangannya, perlahan
“Ng, Dinchan…ternyata kamu cocok juga pakai bajuku”, Yuya melirik kearah Din dengan disertai senyum yang sedikit mengejek
Memang, karna bajunya yang basah, Din terpaksa harus mengganti bajunya. Dan dengan terpaksa, ia harus memakai baju milik Yuya yang memiliki ukuran tak jauh dengan ukurannya
“Diam, orang bodoh tak berhak berkomentar”, Din cemberut
“Heeeeh!”, dengan cepat Yuya beralih duduk kesebelah Din “Apanyaaa?! Aku tak mau dikatai bodoh sama orang bodoh yang bisanya cuma bilang orang lain ‘bodoh’, tapi tak pernah menyadari kalau sebenarnya dirinya sendiri yang bodoh…!”, Yuya dengan gemas menggoyang handuk di kepala Din, cukup keras hingga membuat Din berontak
“Yuya bodoooooooooh! Coklatnya tumpah!!”
Kontan, Yuya merubah posisinya sedikit menjauh
“Lihat. Jadi ketahuan, kan…yang sebenarnya bodoh itu siapa?!”, Dinchan menatap Yuya dengan membelalakkan matanya, sambil menunjuk kaos putih milik Yuya yang dipakainya namun sekarang dengan keadaan berlumur noda coklat
“Ah, ma…”, ucap Yuya tercekat “Sudah, sudah, cepat bersihkan dirimu, karna mungkin akan jadi lengket…”
“Ugh…!”, ujar Din agak kesal dan melempar handuk yang barusn dipakainya tepat ke wajah Yuya kemudian meninggalkan Yuya menuju kamar mandi
“Ugh juga”, Yuya hanya terdiam, tak bisa membalas
Din berjalan menuju kamar mandi keluarga Takaki, melalui beberapa ruangan yang salah satu diantaranya adalah kamar Jin.
Perasaan Din berbunga, melihat pintu kamar Jin sedikit terbuka, menandakan Jin sedang ada di dalam.
Senyum simpul terkembang di wajah Din, melihat punggung Jin terlihat dari luar walaupun hanya samar.
“Jin, tolong dengarkan aku! Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sungguh-sungguh, sedangkan kau sama sekali tak mau memberiku kesempatan untuk menjelaskan!”
mata Din terbelalak, melihat seorang gadis seusia Jin beradu mulut dengan laki-laki yang disukainya itu
“Sudahlah, Naomi..aku hanya…”, Jin nampak enggan melanjutkan kata-katanya
Gadis yang disebut Naomi itu mendekat, begitu dekat dengan Jin “Gomen ne…”, seraya Naomi memberikan sebuah kecupan lembut di bibir Jin
“..aku hanya cemburu…”, dan Jin membalas ciuman Naomi, kemudian menarik gadis itu berbaring di tempat tidurnya
Din tak bisa menahan air matanya, namun hanya bisa menangis tanpa suara.
“Benar, jadi ketahuan yang bodoh itu siapa…”, dengan suara yang sepelan mungkin, Yuya perlahan menutup pintu kamar Jin dari belakang Din yang masih berdiri terpaku
Air mata Din terus mengalir, sama sekali tak bisa berbalik ke belakang
“Tak masalah, kok...kalau aku meminjamkan bahuku sebentar”
“Yuya bodoh, bahumu terlalu tinggi…”, Din berbalik, membenamkan wajahnya di dada Yuya, terisak
Perlahan, tangan Yuya mendekap tubuh Din yang tampak rapuh itu, seraya berbisik, “Sebodoh apapun aku, aku tak akan membuatmu menangis seperti ini…”, Yuya berucap lirih, bahkan mungkin Din tak akan bisa mendengarnya.
-----------------------
Miyuy sibuk dengan ponselnya seharian ini. Py hanya memperhatikannya dengan sedikit bingung.
“Miyuy..kau baik – baik saja?”, tanya Py ketika melihat Miyuy tersenyum sendirian.
Miyuy terhenyak, tak sangka Py memerhatikannya, “Ah...aku baik – baik saja..hehehe..”, serunya salting karena ketahuan Py.
“Tadi aku bertanya, kau mau ikut ke kantin tidak?”, tanya Py lagi.
“Gomen..aku tak mendengarnya...”, Miyuy tersenyum, “Kau duluan aja..ne? nanti aku nyusul..”, jawab Miyuy.
Py melangkah sendirian membawa buku sketsanya seperti biasa. Ia benci sendirian. Tapi Din tampak sedang bad mood, dan segera menghilang ke Perpus. Opi dan Nu jarang ke kantin, dan menuju taman ketika istirahat. Ia tak suka perasaan sendirian seperti ini.
“Py py!!!”, teriak seseorang dari belakang.
Py berbalik dan mendapati seorang Hikaru menyapanya dengan senyum lebarnya, gigi gingsulnya tampak pula.
“Hikaru-kun?”, seru Py kaget.
“Mau kemana nona semanis kau berjalan sendirian?”, godanya pada Py.
Wajah Py kontan memerah, “Kantin...”, jawab Py sedikit berbisik.
“Kau sendirian? Mana teman – temanmu?”, tanya Hikaru melihat sekeliling Py.
Py menggeleng, “Mereka sedang sibuk...Hikaru juga sendirian..ne?”
Hikaru tersenyum, “Mereka juga sedang sibuk. Sepertinya kita senasib...jadi..tuan putri...mau ke kantin bersamaku?”, tanya Hikaru ceria.
Py merasakan pipinya makin terbakar karena kata – kata Hikaru. Mereka pun ke kantin sekolah bersama. Hikaru memang teman yang menyenangkan. Py sendiri merasakan ia selalu senang jika berada dekat dengan Hikaru. Py tak cukup berpengalaman dengan cowok manapun. Sifat pemalunya membuat ia susah untuk bergaul dengan cowok. Tapi apakah Hikaru suka padanya? Kenapa Hikaru begitu manis padanya? Untuk berharap pun Py tidak berani.
--------------
Inoo melangkah gamang. Bingung karena dirinya sudah setahun tidak menginjak ke SMA. Rasanya asing walaupun seharusnya ia juga berada disini. Sayangnya ia sudah lulus tahun kemarin.
Sebuah bungkusan ada di tangannya. Sebuah sepatu basket, milik Opi. Inoo memang seharusnya tidak memberi les hari ini. Tapi karena ada urusan, Inoo ke rumah keluarga Opi, ternyata sepatu basket milik Opi tertinggal, dan ibunya meminta Inoo ke SMA untuk sekedar memberikan sepatu itu. Kebetulan apartemennya satu jalur dengan SMA tempat Opi sekolah.
Sekolah sudah lengang, tentu saja karena jam pulang sekolah sudah lewat. Inoo diberi nomer telepon Opi, ia mendialnya, tak lama telepon itu diangkat.
“Moshi – moshi?”, angkat Opi.
“Moshi – moshi..Opi-chan? Inoo desu...”, jelas Inoo.
“Eh?? Inoo?? Ada apa?”
“Kau dimana? Aku membawakan sepatu basketmu..tadi kau meminta Yuuri yang kesini kan? Kebetulan apartemenku searah dengan SMA mu..maka aku yang membawakannya.”, jelas Inoo panjang lebar.
Opi masih shock mendengar suara Inoo di ponselnya, segera tersadar ketika Nu menyenggol tangannya.
“Ah!! Sokka...kau tunggu di gym saja..aku segera kesana.”, Opi segera menutup teleponnya.
“Siapa?”, tanya Nu.
“Inoo Kei...aku harus ke gym!!”, seru Opi mengambil tasnya.
Nu hanya mengangkat bahu dan meninggalkan kelas.
Sementara itu Inoo sedikit kesulitan menemukan dimana Gym berada. Ia berjalan menyusuri koridor, pendengarannya menangkap melodi – melodi yang dirasanya sangat familiar. Inoo terus berjalan ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari ruang kesenian.
Melodi itu, permainan piano seorang siswi.
Tenang dan anggun.
Ketika melihat sosok itu dari belakang, Inoo segera dapat mengenali, lagu kesukaannya sejak ia bisa memainkan piano, dan juga pemain dari lagu itu.
Inoo terdiam sebentar, berusaha tak terlihat terlalu kaget, “Aya-chan?”, panggil Inoo lirih.
Gadis yang dipanggil Aya-chan itu tampaknya sadar bahwa ia sekarang tidak sendirian di ruangan itu, berbalik untuk melihat siapa yang datang.
“Eh?!! Kei-chaaaann?”, serunya takjub.
“Jadi...kenapa kau kesini? Mencariku? Hihihi..”, kikik Ayame ketika akhirnya Ayame mengantar Kei ke gym.
Inoo tertunduk, “Tidak..aku hanya mengantarkan sepatu basket ini...Aya-chan..genki da ne?”
Ayame mengangguk, “Un!! Genki desu!! Kei-chan wa? Suasana tempat les tidak semenyenangkan saat Kei-chan disana..”, jelas Ayame sambil cemberut.
Inoo menatap Ayame. Itu masih Ayame yang dulu, Ayame yang ia kenal. Ayame adalah teman les pianonya, tepatnya mereka seharusnya seangkatan. Namun seperti diketahui, Inoo mengikuti akselerasi. Inoo dan Ayame dulu selalu bersama. Ayame yang manja selalu dilindungi oleh Inoo.
“Aya-chan...masih les piano?”, tanya Inoo lagi.
Ayame beranjak dan mengambil sebuah bola basket, “Masih...kita akan adakan konser...Kei-chan ikut saja..aku selalu tak sinkron dengan pemain lain...partnerku yang terbaik hanya Kei-chan...”, kata Ayame lalu melemparkan bola basket itu, tapi ia bukan pro sehingga sama sekali tak menyentuh ringnya, “Itaai~”, keluh Ayame tiba - tiba.
Inoo secara refleks melemparkan bungkusan sepatu basket Opi dan berlari menuju Ayame.
“Daijoubu?”, tanya Inoo meraih tangan Ayame.
Ayame menggeleng, “Hanya sedikit terlipat tadi..hehehe, Kei-chan terlalu mengkhawatirkan aku..”, katanya lalu tersenyum.
Inoo mengacak pelan rambut Ayame, “Baka!! Tanganmu itu lebih berharga dari bola basket manapun..mengerti?!”
Ayame mengagguk, “Mengerti..aku mengerti Kei-chan...”
Inoo tersenyum, kembali memeriksa tangan Ayame.
Dada Opi terasa sesak. Oke...dia datang disaat yang tidak tepat. Opi tak akan se shock ini jika ia tak melihat senyum Inoo. Senyumnya berbeda dari biasanya. Dengan sekali lihat pun ia tahu, Ayame adalah orang yang berharga untuk Inoo. Mereka terlihat terlalu sempurna berdampingan. Tidak ada yang tidak kenal Sakurazawa Ayame. Cewek yang sekarang menjabat sekertaris OSIS itu dikenal sebagai pianis handal, dia juga kaya, cantik dan anggun.
‘Aya-chan? Kei-chan?’ mereka sudah dekat, itu pasti. Pandangan Inoo yang melindunginya, senyum hangatnya...bukan untuk dirinya. Dadanya seakan ingin meledak, untuk pertama kali ia merasa tak punya kekuatan apapun. Entah kenapa buatnya menangis itu ada dalam kamus seorang Opi.
“Sial!!”, bentaknya pelan pada dirinya sendiri, “Dia bukan siapa – siapaku!! Tapi kenapa rasanya tak rela melihatnya dengan orang lain..”, air matanya kembali mengalir.
--------------
From: Yabu-kun
Subject: Morning
Ohayou~ apakah aku mengganggumu terlalu pagi?
*laugh* hope you’ll ok...^^
To: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Ohayou~
Aku sudah bangun dari tadi Yabu-kun...
dan aku baik – baik saja...*smile*
ketemu di sekolah..ne?
From: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Yup..ketemu di sekolah...
Cuaca hari ini cerah sekali..
(image 12)
--kireii na sora—
To: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Gambar langit yang indah sekali..
Kau mengambilnya dari jendela kamarmu?
(image 13)
---sora from my window---
From: Yabu-kun
Subject: Re:Morning
Aku mengambilnya dari jendela kamarku..
*smile* aku akan membalasmu nanti...
Sepertinya ibuku sudah mulai cerewet,,
Ne?
Miyuy menutup slide Ponselnya. Tersenyum sendiri pada layar Ponselnya yang menunjukkan langit sore hari dari jendela kelas Yabu, foto itu Yabu kirimkan kemarin sore. Miyuy dan Yabu sudah sering saling mengirimkan mail sejak mereka terjebak di sekolah tempo hari. Sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat. Setidaknya itulah yang Miyuy rasakan.
Miyuy memantapkan langkahnya. Hari ini ia membawakan bekal untuk Yabu. Ini surprise, ia sendiri hanya ingin memperlihatkan hasil masakannya pada Yabu. Tapi Miyuy tak ingin pergi sendiri, ia melirik ke semua temannya yang sedang tidak bersemangat.
Din hanya tertunduk, menatap layar ponselnya dengan sedih. Nu sedikit terlihat bingung sejak kemarin. Bahkan seorang Opi matanya terlihat bengkak, apa ia menangis? Seorang Opi??!!
Miyuy menatap Py yang tampak sibuk dengan sketsanya.
“Py...maukah kau mengantarku?”, tanya Miyuy takut mengganggu Py yang sedang menggambar.
Py menatap Miyuy dan mengangguk, “Baiklah...”
“Mereka kenapa ya?”, tanya Miyuy pada Py.
Py menggeleng, “Aku tak tahu, kenapa mereka terlihat seperti habis menangis ya? Bahkan Opi juga begitu...”
Tak terasa mereka sudah ada di depan kelas Yabu. Py bingung kenapa mereka kesana.
“Miyuy...apa yang akan kita lakukan?”, tanya Py bingung.
Miyuy menunjukkan sebuah bungkusan bento yang cantik. “Aku mau memberikan ini..”, kata Miyuy tersipu.
“Untuk Kota-kun?”, tanya Py.
Miyuy mengagguk
“Wah....Miyuy ternyata sudah dekat dengan Kota-kun ya?”
“Begitulah..”, jawab Miyuy tersipu lagi.
Miyuy membuka slide Ponselnya.
To: Yabu-kun
Subject:
Yabu-kun..aku diluar kelasmu...
Bisakah keluar sebentar...
^^
Yabu kaget menerima pesan dari Miyuy. Apa yang Miyuy lakukan di luar kelasnya?
“Anou...Miyuy...Aku pergi ke toilet sebentar ya?”, pamit Py tiba – tiba.
Miyuy hanya mengagguk karena saat itu Yabu keluar dari kelasnya.
“Miyuy..doushita no?”, tanya Yabu bingung.
Miyuy menyerahkan kotak bento nya, “Ini...untuk Yabu-kun...”, ujarnya malu – malu.
Yabu tersenyum. Mengambil bungkusan di tangan Miyuy. “Arigatou na...Miyuy-chan...”, katanya lalu tersenyum.
Py baru saja keluar dari kamar mandi, ketika mendapati seorang Hikaru sedang di koridor.
Jantungnya seketika itu seakan berdetak lebih cepat.
“Betulkah nona manis? Hahahaha..”, tawa Hikaru begitu keras sehingga Py bisa mendengarnya.
Nona manis? Hmmm...Py memberanikan diri untuk mengintip sedikit apa yang terjadi. Hikaru memang populer diantara gadis – gadis, tapi Py tak menyangka Hikaru memang baik pada semua gadis. Lalu kenapa ia merasa special kemarin? Dia hanya berangan tentang Hikaru baik padanya, Hikaru menyukainya itu hanya ada dalam pikirannya.
Py seketika itu berlari ke atap sekolah, menangis tanpa suara, kecewa terhadap dirinya sendiri. Ia hanya terlalu banyak berkhayal, ia harusnya tidak berfikiran bahwa seorang Hikaru bisa menyukainya.
Terisak
Hatinya sakit tanpa ia sadari, ia benar – benar menyukai Hikaru.
Miyuy mengejar Py yang tadi berlari ke atap.
“Py...daijoubu?”
Py hanya terus terisak.
“Hahahaha....”, terdengar tawa dari beberapa orang.
Miyuy merapatkan diri dengan Py dibalik sebuah tembok, berharap tidak dilihat.
“Sudahlah Yabu..tak perlu menutupinya lagi...kau punya pacar kan?”, tanya seseorang.
Miyuy mendongak, dan menemukan Yabu, Hikaru, Taiyou dan Shoon disana.
“Benarkah?”, tanya Hikaru yang sejak tadi tidak ada di kelas.
“Iya benar..bahkan ia diberi bento...kau pacaran dengan Miyuy itu kan? Dia anak kelas B kan?”, kata Shoon tertawa.
“Chigau yo!!!”, bantah Yabu, “Aku tidak ada hubungan apa – apa dengan gadis itu!!”, katanya tersipu.
“Tapi kau suka padanya kan?”, tuduh Taiyou dengan sedikit memaksa.
“Chigau!! Aku tak menyukainya...”, bantah Yabu lagi.
Kini giliran Miyuy yang menangis. Entah apa yang Yabu pikirkan? Jadi ia hanya bermain – main dengan semua mail yang sudah dia kirimkan? Atau bagaimana? Miyuy bingung, dan memeluk Py yang juga masih terisak.
Siang itu begitu menyakitkan bagi mereka berdua.
TBC~
N.B: Saia dan anak saia kembaliiiiiiii~ wakakakak...gomen telat banget....qta berdua mengalami ke ngestagan *bahasa apa ini* tingkat tinggi...jadi males nulis...
ini sekalian ultah hika deh...
hika..otanjoobi omedetou~
hahahahaha...
^^
silahkan dibaca..semoga chap selanjutnya lancar, cuma berjarak seminggu ato 2 minggu...
~dinchan to nuchan ryori~
Langganan:
Postingan (Atom)